Beranda / Romansa / CINTA DAN BENCI / Bagian 5 : Pria Itu

Share

Bagian 5 : Pria Itu

Penulis: leecu
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-03 22:32:59

"I-iya halo, saya Zavira Anantha, umur saya 30 tahun," ucapnya menjabat tangan editor Lily bernama Abima. Ia benar-benar tidak menatap sama sekali pada pria di samping Abima.

"Nah kalau ini teman saya Nathaniel Hawthorne, dia agak pendiem jadi tolong maklum," kata Abima dengan ramah, meski begitu Zavira tidak melirik sedikit pun pada Nathaniel.

Ia tahu yang ia lakukan salah dan semakin ketahuan bahwa dirinya wanita waktu itu. Akan tetapi, Zavira tidak berani untuk menatap pria itu sehingga memilih membuang muka.

"Pesen aja makanannya, biar saya yang bayar," suruh Abima diangguki Lily, tanpa menolak wanita itu memesan steak untuk dirinya serta Zavira.

Peka akan situasi sahabatnya, Lily sesekali menjawab dan memberitahu informasi tentang Zavira pada Abima. Nathaniel yang sedari tadi diam, ia terus menatap menusuk pada wanita yang duduk di depannya, Zavira.

Zavira begitu tertekan, ia bisa merasakan tatapan menusuk dari Nathaniel, dirinya hanya bisa menunduk serta sesekali menatap Lily juga Abima.

"Supaya nyaman, gimana kalo pendekatan dulu," ujar Abima membuat Lily mendengarnya heran. Melihat ekspresi bingung dari Lily, Abima menjelaskan untuk membiarkan Zavira dan Nathaniel berduaan.

"Ta-tapi Kak, nanti yang ada malah canggung," tolak Lily mencoba mencegah Abima yang sudah beranjak dari tempat duduknya. Pria itu bahkan menarik paksa tangan Lily yang tak berdaya terseret begitu saja.

Sebelum pergi, Abima menepuk pundak Nathaniel dua kali dan setelahnya ia pergi dengan tangan kanan menarik tangan Lily.

Wanita itu tetap bersikeras tidak ingin meninggalkan Zavira bersama Nathaniel membuat Abima kesulitan. "Mau nurut atau saya gendong kamu?"

Lily terkejut mendengar itu memilih tidak memaksa Abima dan mengikutinya pergi ke lantai bawah. Sesekali ia mendumel ketika merasakan pergelangan tangannya sakit.

"Zavira." Panggilan singkat dengan nada dingin membuat wanita itu terkejut tetapi ia bahkan tidak mendongak dan terus menundukkan kepala.

"Kamu pikir wajah saya di lantai?" tanyanya dengan nada tidak suka, dia melipatkan kedua tangan di dada, menunggu Zavira agar menatapnya.

Zavira menghela napas, ia lalu menatap Nathaniel dengan ragu, "j-jadi mau bicarain apa ya?" Setelah mengajukkan pertanyaan itu, Zavira kembali menunduk.

Nathaniel terkekeh, bagi Zavira, kekehan itu terdengar menyeramkan. Andai saja jika ia tidak di-blacklist, ia akan kabur saat ini juga dan mencari pekerjaan lain.

"Saya tidak mau kerja sama jika kamu terus menghindari tatapan saya," ucap Nathaniel begitu tegas penuh ancaman membuat Zavira menatap dengan tatapan memelas.

"Untuk kejadian waktu itu--" ucapan Nathaniel terpotong cepat oleh Zavira.

"Lupain aja Pak, saya gak akan minta tanggung jawab apapun karena ini semua salah saya." Nathaniel mendengar itu menggeram kesal, awalnya ia ingin Zavira melupakannya dan fokus pada naskah yang nanti akan dikerjakan.

Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, Zavira menyuruh Nathaniel melupakannya membuat ia tidak suka. Tidak seharusnya penolakan itu keluar dari mulut Zavira, yang seharusnya berkata seperti itu adalah dirinya.

Nathaniel membatalkan niatnya untuk membuat Zavira melupakan hal lalu. Ia akan melakukan sesuatu agar Zavira setidaknya sengsara.

"Obrolan kita sampai sini saja, besok Saya ingin jika kamu mengerjakan naskah didampingi saya," ucap Nathaniel dengan cepat segera berdiri dari duduknya, ia berlalu pergi meninggalkan Zavira tanpa basa-basi.

Zavira menatap cengo pada punggung Nathaniel. Tebakannya, ia merasa Nathaniel akan selalu bersikap seenaknya. Ia harap dirinya sabar untuk hal yang akan terjadi di masa depan.

Notifikasi pesan berbunyi bersamaan dengan perginya Nathaniel. Pesan itu di kirim oleh Lily juga nomor tidak dikenal.

Pesan dari Lily menanyakan keadaan Zavira. Ia segera menjawab juga bertanya di mana Lily berada dan dengan cepat mendapat jawaban bahwa Lily sedang di tempat lain, jauh dari restoran tadi.

Membuka room chat nomor tak dikenal, Zavira membaca pesan bahwa itu dari Nathaniel, dia hanya mengirim pesan singkat mengenai namanya. "Gitu doang?" Zavira mendumel saat menyimpan nomor tersebut, ia memberi nama atas dasar rasa kesalnya, 'Editor Nathanielđź–•' dengan jari tengah di akhir nama.

Menatap pada meja yang masih penuh dengan makanan utuh. Zavira tidak memiliki nafsu makan dan pergi begitu saja meninggalkan restoran sepi pengunjung karena sebelumnya entah Abima atau Nathaniel memesan seluruh restoran ini.

Keluar menuju parkiran, ia melihat mobil sedan hitam terparkir sembarang menutupi jalannya, ia mendumel sembari mencari keberadaan si pemilik.

Seorang pria paruh baya berbadan kurus menghampirinya dan meminta maaf karena sudah menghalangi jalannya. Zavira yang merasa tidak enak tersenyum memaafkan. Dari pakaian pria itu nampaknya dia supir dari pemilik mobil ini.

Meski begitu, apa alasannya dia memarkirkan mobil sembarang? Sungguh tidak ada kerjaan! Pikir Zavira lalu masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya keluar dari area restoran.

Dari kaca spion, ia melihat pria berbadan besar menatap ke mobilnya. Zavira mengernyitkan keningnya heran, pria berbeda dari pria paruh baya yang kurus tadi. Pria itu terus menatap ke arah mobilnya hingga berbelok ke arah kiri hilang dari pandangannya.

"Haa, gila! Kok natapnya lama banget?" tanyanya pada diri sendiri, sungguh ia sedikit takut karena akhir-akhir ini ia merasa seseorang sedang memperhatikannya.

Ketika sampai di rumah, ia memarkirkan mobil, halaman rumahnya tidak di batasi pagar atau tembok pemisah dari rumah satunya ke rumah lain. Perumahan yang ia tempati memiliki aturan untuk tidak memakai pagar pembatas.

Keamanannya terjaga ketat, sudah puluhan tahun perumahan ini berdiri dengan aman tanpa kerusuhan. Meski sesekali sempat ada peristiwa menghebohkan, contohnya pencuri atau seseorang yang hampir saja membakar setengah perumahan ini.

Rumah yang Zavira tempati berada di ujung, cukup sepi karena sebagian para penghuninya pekerjaan kantoran yang sangat sibuk hingga tak sempat untuk bercengkrama dengan tetangga.

"Eh Vira, ke mana aja? Kok Tante baru lihat kamu?" tanya wanita paruh baya bertanya dari teras rumahnya, ia duduk sendirian di kursi roda, tersenyum menatap Zavira.

Zavira membalas senyuman dan sedikit membungkuk lalu berkata, "halo Tante, aku sedikit ada masalah jadi ya akhir-akhir ini ngurung diri di rumah."

Tante bernama Irna menatapnya dengan khawatir, selama ini ia membantu keperluan Zavira sejak kedua orang tuanya meninggal, ia bahkan merawat dan menganggapnya sebagai anak kandung.

Zavira menghampiri Irna yang meminta kemari, wanita itu ingin memeluk Zavira yang ia rasa sedang menghadapi hal berat.

"Kenapa gak bilang sama Tante? Padahal Tante ingin bantu kamu apapun keadaannya," ucapnya mengelus kepala Zavira ketika ia memeluk tubuh si empu.

Air mata Zavira berlinang, ia rasanya merindukan sosok kedua orang tuanya. Pelukan hangat ketika ia sedang sedih. Hatinya melebur ketika Irna semakin mengeratkan pelukannya.

Wanita paruh baya itu merasakan tubuh Zavira bergetar dengan suara isak tangis yang tertahan. Ia terus mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja serta mengelus belakang kepalanya.

"Ma," panggilan dari pria yang merupakan anak tunggal Irna, ia keluar di saat tidak pas membuat keadaan menjadi canggung.

Bab terkait

  • CINTA DAN BENCI   Bagian 6 : Teman Masa Kecil

    Fabian Reith, pria yang sudah lama tidak ia lihat sejak 5 tahun lalu karena pria itu berkuliah di luar negeri. Anak sulung Irna yang selama ini menjadi teman masa kecil Zavira.Fabian menatap Zavira yang menyembunyikan wajahnya seperti anak kecil dipelukan ibunya. Hal ini membuat ia teringat hal lalu saat keduanya masih remaja."Ka-kalau gitu Tante, aku mau ke rumah dulu," ucap Zavira gugup dan terburu-buru, ia menyembunyikan wajahnya agar tidak melihat Fabian yang terus menatapnya.Irna terkekeh melihat tingkah Zavira, ia meminta Fabian untuk menemani Zavira sembari memberikan beberapa makanan agar suasana hatinya membaik."Tapi Bian malu Ma," ujar Fabian, ia belum siap jika mengobrol berduaan dengan Zavira. Dulu ia sempat menyukai temannya itu. Hingga sampai saat ini, Fabian masih menyukainya."Kamu tuh udah 30 tahun umurnya, masak gitu aja malu sih? Cepet ambil kue di kulkas terus kasih ke Vira, jangan malu-malu, kasihan dia selama ini gak ada temennya," omel Irna membuat Fabian ma

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-20
  • CINTA DAN BENCI   Bagian 7 : Editor Baru

    "Apa?!" Zavira menyentakkan nadanya ketika mendengar bahwa Nathaniel sudah berada di depan pintu rumahnya. Begitu terburu-buru ia turun dari kasur serta berlari untuk membuka pintu. Nampak Nathaniel dengan kaos putih serta celana panjang biru tua, pria itu menatap dingin pada Zavira. "Jam segini kamu baru bangun?" tanya Nathaniel sembari mematikan sambungan telepon. Zavira menatap jam pada ponselnya, jam menunjukkan pukul 8 lewat 30 menit. "Masuk dulu," ucapnya diangguki Nathaniel yang segera duduk ketika sampai di sofa ruang tamu. "Mau m--" "Nggak, langsung aja buka laptopnya, saya gak mau buang waktu," potongnya membuat Zavira cemberut kesal. Tanpa mengomel ia segera mengambil laptop yang ada di kamarnya lalu kembali ke ruang tamu, ia memilih duduk di lantai beralas karpet bulu. Laptopnya ia taruh di meja serta Nathaniel duduk di sofa sebelah kanannya. "Jadi … Aku harus apa?" tanya Zavira dengan kepala melihat ke arah belakang. Nathaniel yang sedari tadi menatap Zavira, ia te

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-21
  • CINTA DAN BENCI   Bagian 8 : What Are We?

    "Aku malu!" Zavira menutup wajahnya yang memerah. Sementara Lily duduk di depannya, ia telah mendengar ocehan dari Zavira yang mengatakan bahwa dirinya ketahuan oleh Nathaniel akan novelnya. Lily penasaran, jika dia ganti ide, akan menceritakan tentang apa? Ia pun bertanya, "Jadi mau nulis cerita baru apa nih?" Zavira menggelengkan kepalanya, "gak tahu, aku nulis apa dong?" ia malah bertanya balik dengan bibir di kerucutkan. Lily menghela napas, "udah novel awal aja, daripada pusing cari ide baru," saran Lily membuat Zavira menggelengkan kepala cepat. "Gak bisa, gak bisaaaa, ahk aku malu banget bayangin nulis adegan ini itu di depan dia, apalagi dia selalu pengen lihat aku nulis cerita secara langsung," ocehnya dengan kesal. Nathaniel terlalu semena-mena, suatu saat nanti ia akan merobohkan es batu itu! Lihat saja! "Emang ada ide kalo buat cerita baru? Padahal udah seru lho cerita itu, sayang banget diganti," ujarnya dengan tak rela. Menurutnya ide cerita tersebut cukup seru mesk

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-22
  • CINTA DAN BENCI   Bagian 1 : Perselingkuhan

    "Kamu dipecat!" ucap Presdir perusahaan pada sekretaris di depannya. Dia melempar surat pemecatan pada Zavira yang kini berdiri di depan meja kantornya. "Ta-tapi Pak, kenapa?" tanya Zavira dengan panik, tangannya gemetar ketika memegang surat pemecatannya dengan mata memanas. "Akhir-akhir ini kerjamu kurang optimal, tidak ada alasan lagi,” ungkapnya, tatapan pria berumur 45 tahun itu begitu menusuk, ia menatap Zavira yang kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Pergi dari sini! Dan bereskan barang-barangmu!" lanjutnya dengan nada penuh penekanan. Begitu jelas ia melihat tubuh mungil wanita itu gemetar. Zavira mengangguk, tenggorokannya perih, ia pamit dangan suara kecil yang begitu jelas menahan isak tangisnya. "Sa-saya permisi, terima kasih banyak untuk semua kebaikan Anda." Pria bernama Andra yang merupakan Presdir perusahaannya memejamkan mata sejenak lalu membuang muka. Ia menghela napas berat ketika mendengar suara Zavira yang pamit serta berterima kasih lalu mentup p

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-03
  • CINTA DAN BENCI   Bagian 2 : Move On

    Pinntu rumah terbuka ketika sebelumnya terdengar suara motor diparkiran, Zavira berlari ke arah sahabatnya dengan dramatis ia berteriak, "HUWAAA LILY." Lily menghela napas, melepaskan pelukan Zavira yang menyesakkan, ia membawa kantung plastik putih berisi martabak keju kesukaan sahabatnya ini. "Sorry ya, aku baru datang sekarang." Zavira memanyunkan bibirnya lalu menggelengkan kepala, "gak apa-apa." Ia lalu mengambil satu potong martabak, begitu lahap ia makan dalam dua gigitan. Lily tersenyum tipis, ia menatap sekitar rumah Zavira yang nampak bersih daripada sebelumnya. "Rapi amat rumah kamu, tumben." "Aku dipecat, terus yang kamu tahu, aku putus, jadi yaa gini, gak ada kerjaan." Zavira mengangkat kedua bahunya. Meski rumah yang Lily lihat rapi, tampak jelas raut wajah si pemilik begitu kusut. "Terus gimana? Katanya kamu kirim CV ke beberapa website perusahaan." Lily kini mengambil potongan martabak untuknya, menyandarkan kepala pada sofa. Zavira menghela napas berat. "Ga

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-03
  • CINTA DAN BENCI   Bagian 3 : Malam Panas

    "Aah Vira, Lily, kalian ke mana aja?" tanya bartender yang sudah lama bekerja di bar ini. Dulu dia begitu akrab dengan keduanya yang selalu mampir. Keduanya melambaikan tangan dengan senyuman ceria. "Biasa gue sibuk kerja Ren," jawab Lily yang menyebut akrab nama bartender itu. Reno lalu menatap wajah Zavira yang begitu kusut meski ditutupi senyuman manisnya. "Nah, kayaknya ke sini ada masalah, boleh dong manis cerita," ujar Reno sembari mengelap gelas yang akan ia sediakan untuk kedua temannya. Zavira lalu duduk di kursi tinggi, terdapat meja bar di depannya serta buku berisi banyak menu minuman ber-alkohol. "Haaah … Aku baru putus sama pacar, aku juga dipecat dari kerjaan," jelas Zavira tanpa merasa malu, ia lalu mengambil gelas kecil berisi air putih yang Reno siapkan. Reno menatap prihatin, "mau kerja di sini gak? Tenang aja, aku kenal deket sama managernya, gak perlu hal ribet langsung kerja besok boleh," ucapnya begitu manis membuat Zavira berbinar-binar, ia lalu menatap

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-03
  • CINTA DAN BENCI   Bagian 4 : Menjadi Penulis

    Pada akhir pekan, Zavira serta Lily berada di bar. Zavira yang beberapa hari kemarin ingin melamar kerja di bar ini pun ditolak, meski begitu ia memilih tidak bertanya karena terlalu muak. Tidak benci, Zavira merasa malas untuk menanggapi hal ini. Selagi dirinya memiliki uang cukup banyak, ia tidak akan mengemis pekerjaan dan tidak akan bertanya apa alasannya. Awalnya begitu, hingga ketika ia berbincang dengan Lily, pikirannya berubah. "Btw, kamu gak nanya kenapa kamu ditolak kerja di sini juga?" tanya Lily seraya memainkan cangkir kecil berisi alkohol yang terisi setengahnya. "Nggak, kalo emang aku lagi boke bener-bener butuh kerjaan, nanti aku tanya kenapa aku ditolak mulu," jawab Zavira membuat Lily heran. "Lah aneh, kenapa gak sekarang coba?" Lily menangkup dagunya dengan telapak tangan kanan. "Tanya gitu ya?" kini Zavira menimbang saran dari Lily, ia lalu melihat Reno dan beralih menatap Lily seakan meminta jawaban. Lily melihat itu mengangguk serta berkata, "tanya aja, dari

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-03

Bab terbaru

  • CINTA DAN BENCI   Bagian 8 : What Are We?

    "Aku malu!" Zavira menutup wajahnya yang memerah. Sementara Lily duduk di depannya, ia telah mendengar ocehan dari Zavira yang mengatakan bahwa dirinya ketahuan oleh Nathaniel akan novelnya. Lily penasaran, jika dia ganti ide, akan menceritakan tentang apa? Ia pun bertanya, "Jadi mau nulis cerita baru apa nih?" Zavira menggelengkan kepalanya, "gak tahu, aku nulis apa dong?" ia malah bertanya balik dengan bibir di kerucutkan. Lily menghela napas, "udah novel awal aja, daripada pusing cari ide baru," saran Lily membuat Zavira menggelengkan kepala cepat. "Gak bisa, gak bisaaaa, ahk aku malu banget bayangin nulis adegan ini itu di depan dia, apalagi dia selalu pengen lihat aku nulis cerita secara langsung," ocehnya dengan kesal. Nathaniel terlalu semena-mena, suatu saat nanti ia akan merobohkan es batu itu! Lihat saja! "Emang ada ide kalo buat cerita baru? Padahal udah seru lho cerita itu, sayang banget diganti," ujarnya dengan tak rela. Menurutnya ide cerita tersebut cukup seru mesk

  • CINTA DAN BENCI   Bagian 7 : Editor Baru

    "Apa?!" Zavira menyentakkan nadanya ketika mendengar bahwa Nathaniel sudah berada di depan pintu rumahnya. Begitu terburu-buru ia turun dari kasur serta berlari untuk membuka pintu. Nampak Nathaniel dengan kaos putih serta celana panjang biru tua, pria itu menatap dingin pada Zavira. "Jam segini kamu baru bangun?" tanya Nathaniel sembari mematikan sambungan telepon. Zavira menatap jam pada ponselnya, jam menunjukkan pukul 8 lewat 30 menit. "Masuk dulu," ucapnya diangguki Nathaniel yang segera duduk ketika sampai di sofa ruang tamu. "Mau m--" "Nggak, langsung aja buka laptopnya, saya gak mau buang waktu," potongnya membuat Zavira cemberut kesal. Tanpa mengomel ia segera mengambil laptop yang ada di kamarnya lalu kembali ke ruang tamu, ia memilih duduk di lantai beralas karpet bulu. Laptopnya ia taruh di meja serta Nathaniel duduk di sofa sebelah kanannya. "Jadi … Aku harus apa?" tanya Zavira dengan kepala melihat ke arah belakang. Nathaniel yang sedari tadi menatap Zavira, ia te

  • CINTA DAN BENCI   Bagian 6 : Teman Masa Kecil

    Fabian Reith, pria yang sudah lama tidak ia lihat sejak 5 tahun lalu karena pria itu berkuliah di luar negeri. Anak sulung Irna yang selama ini menjadi teman masa kecil Zavira.Fabian menatap Zavira yang menyembunyikan wajahnya seperti anak kecil dipelukan ibunya. Hal ini membuat ia teringat hal lalu saat keduanya masih remaja."Ka-kalau gitu Tante, aku mau ke rumah dulu," ucap Zavira gugup dan terburu-buru, ia menyembunyikan wajahnya agar tidak melihat Fabian yang terus menatapnya.Irna terkekeh melihat tingkah Zavira, ia meminta Fabian untuk menemani Zavira sembari memberikan beberapa makanan agar suasana hatinya membaik."Tapi Bian malu Ma," ujar Fabian, ia belum siap jika mengobrol berduaan dengan Zavira. Dulu ia sempat menyukai temannya itu. Hingga sampai saat ini, Fabian masih menyukainya."Kamu tuh udah 30 tahun umurnya, masak gitu aja malu sih? Cepet ambil kue di kulkas terus kasih ke Vira, jangan malu-malu, kasihan dia selama ini gak ada temennya," omel Irna membuat Fabian ma

  • CINTA DAN BENCI   Bagian 5 : Pria Itu

    "I-iya halo, saya Zavira Anantha, umur saya 30 tahun," ucapnya menjabat tangan editor Lily bernama Abima. Ia benar-benar tidak menatap sama sekali pada pria di samping Abima. "Nah kalau ini teman saya Nathaniel Hawthorne, dia agak pendiem jadi tolong maklum," kata Abima dengan ramah, meski begitu Zavira tidak melirik sedikit pun pada Nathaniel. Ia tahu yang ia lakukan salah dan semakin ketahuan bahwa dirinya wanita waktu itu. Akan tetapi, Zavira tidak berani untuk menatap pria itu sehingga memilih membuang muka. "Pesen aja makanannya, biar saya yang bayar," suruh Abima diangguki Lily, tanpa menolak wanita itu memesan steak untuk dirinya serta Zavira. Peka akan situasi sahabatnya, Lily sesekali menjawab dan memberitahu informasi tentang Zavira pada Abima. Nathaniel yang sedari tadi diam, ia terus menatap menusuk pada wanita yang duduk di depannya, Zavira. Zavira begitu tertekan, ia bisa merasakan tatapan menusuk dari Nathaniel, dirinya hanya bisa menunduk serta sesekali menatap Lil

  • CINTA DAN BENCI   Bagian 4 : Menjadi Penulis

    Pada akhir pekan, Zavira serta Lily berada di bar. Zavira yang beberapa hari kemarin ingin melamar kerja di bar ini pun ditolak, meski begitu ia memilih tidak bertanya karena terlalu muak. Tidak benci, Zavira merasa malas untuk menanggapi hal ini. Selagi dirinya memiliki uang cukup banyak, ia tidak akan mengemis pekerjaan dan tidak akan bertanya apa alasannya. Awalnya begitu, hingga ketika ia berbincang dengan Lily, pikirannya berubah. "Btw, kamu gak nanya kenapa kamu ditolak kerja di sini juga?" tanya Lily seraya memainkan cangkir kecil berisi alkohol yang terisi setengahnya. "Nggak, kalo emang aku lagi boke bener-bener butuh kerjaan, nanti aku tanya kenapa aku ditolak mulu," jawab Zavira membuat Lily heran. "Lah aneh, kenapa gak sekarang coba?" Lily menangkup dagunya dengan telapak tangan kanan. "Tanya gitu ya?" kini Zavira menimbang saran dari Lily, ia lalu melihat Reno dan beralih menatap Lily seakan meminta jawaban. Lily melihat itu mengangguk serta berkata, "tanya aja, dari

  • CINTA DAN BENCI   Bagian 3 : Malam Panas

    "Aah Vira, Lily, kalian ke mana aja?" tanya bartender yang sudah lama bekerja di bar ini. Dulu dia begitu akrab dengan keduanya yang selalu mampir. Keduanya melambaikan tangan dengan senyuman ceria. "Biasa gue sibuk kerja Ren," jawab Lily yang menyebut akrab nama bartender itu. Reno lalu menatap wajah Zavira yang begitu kusut meski ditutupi senyuman manisnya. "Nah, kayaknya ke sini ada masalah, boleh dong manis cerita," ujar Reno sembari mengelap gelas yang akan ia sediakan untuk kedua temannya. Zavira lalu duduk di kursi tinggi, terdapat meja bar di depannya serta buku berisi banyak menu minuman ber-alkohol. "Haaah … Aku baru putus sama pacar, aku juga dipecat dari kerjaan," jelas Zavira tanpa merasa malu, ia lalu mengambil gelas kecil berisi air putih yang Reno siapkan. Reno menatap prihatin, "mau kerja di sini gak? Tenang aja, aku kenal deket sama managernya, gak perlu hal ribet langsung kerja besok boleh," ucapnya begitu manis membuat Zavira berbinar-binar, ia lalu menatap

  • CINTA DAN BENCI   Bagian 2 : Move On

    Pinntu rumah terbuka ketika sebelumnya terdengar suara motor diparkiran, Zavira berlari ke arah sahabatnya dengan dramatis ia berteriak, "HUWAAA LILY." Lily menghela napas, melepaskan pelukan Zavira yang menyesakkan, ia membawa kantung plastik putih berisi martabak keju kesukaan sahabatnya ini. "Sorry ya, aku baru datang sekarang." Zavira memanyunkan bibirnya lalu menggelengkan kepala, "gak apa-apa." Ia lalu mengambil satu potong martabak, begitu lahap ia makan dalam dua gigitan. Lily tersenyum tipis, ia menatap sekitar rumah Zavira yang nampak bersih daripada sebelumnya. "Rapi amat rumah kamu, tumben." "Aku dipecat, terus yang kamu tahu, aku putus, jadi yaa gini, gak ada kerjaan." Zavira mengangkat kedua bahunya. Meski rumah yang Lily lihat rapi, tampak jelas raut wajah si pemilik begitu kusut. "Terus gimana? Katanya kamu kirim CV ke beberapa website perusahaan." Lily kini mengambil potongan martabak untuknya, menyandarkan kepala pada sofa. Zavira menghela napas berat. "Ga

  • CINTA DAN BENCI   Bagian 1 : Perselingkuhan

    "Kamu dipecat!" ucap Presdir perusahaan pada sekretaris di depannya. Dia melempar surat pemecatan pada Zavira yang kini berdiri di depan meja kantornya. "Ta-tapi Pak, kenapa?" tanya Zavira dengan panik, tangannya gemetar ketika memegang surat pemecatannya dengan mata memanas. "Akhir-akhir ini kerjamu kurang optimal, tidak ada alasan lagi,” ungkapnya, tatapan pria berumur 45 tahun itu begitu menusuk, ia menatap Zavira yang kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Pergi dari sini! Dan bereskan barang-barangmu!" lanjutnya dengan nada penuh penekanan. Begitu jelas ia melihat tubuh mungil wanita itu gemetar. Zavira mengangguk, tenggorokannya perih, ia pamit dangan suara kecil yang begitu jelas menahan isak tangisnya. "Sa-saya permisi, terima kasih banyak untuk semua kebaikan Anda." Pria bernama Andra yang merupakan Presdir perusahaannya memejamkan mata sejenak lalu membuang muka. Ia menghela napas berat ketika mendengar suara Zavira yang pamit serta berterima kasih lalu mentup p

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status