Share

Bukan Wanita Impian Suamiku
Bukan Wanita Impian Suamiku
Penulis: Astika Buana

Bab 1. Papa Sudah Mati

Penulis: Astika Buana
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-29 19:42:56

“Bagiku Papa sudah mati! Aku tidak mau kenal lagi dengan Papa!” 

Mataku seketika membola mendengar teriakan anak lelakiku. Tadi, ada nomor tak dikenal yang mengirimkan foto suamiku sedang bermesraan dengan seorang wanita padanya. Meski tidak terlalu jelas, tapi itu bukan diriku. Dia pun memberitahukannya padaku dalam keadaan emosi.

“Daniel, tidak boleh berkata seperti itu!” tegurku pada akhirnya meski sama sakitnya. 

“Kenapa, Ma? Orang seperti dia, tidak pantas dipanggil papa!” 

Ucapan yang keluar dari bibir gemetar itu terdengar sinis. 

Rahang mengetat dan mata mulai menyiratkan amarah. Anak lelakiku yang mulai beranjak remaja itu mengepalkan tangan dengan keras.

Aku mengusap kasar wajah ini sambil memejamkan mata, berharap yang terjadi hanyalah mimpi. 

Aku tahu bagaimana perasaannya saat ini.  Terlebih, untuk Daniel yang selama ini mengagung-agungkan papanya–hatinya pasti patah untuk kali pertama. 

Baginya, Mas Ammar adalah segalanya. Dia selalu membanggakan papanya, terlebih dengan pekerjaan suamiku sebagai fotografer yang membuatnya kagum. Tidak hanya itu, kekaguman kepada Mas Ammar berlipat dengan hobi yang ditekuninya sama, karate dan sepak bola.

Sebagai ibu, yang aku bisa sekarang, hanyalah meraih tangannya dan mengusap pelan–berharap dia supaya tenang dan meredakan amarahnya. 

“Daniel, Sayang. Bisa jadi ini hanya editan,” ucapku lembut, “Mama akan suruh orang untuk me–”

“Ma! Daniel bukan anak kecil lagi. Fotonya tidak hanya satu! Semua menunjukkan Papa yang menjijikkan!” potongnya sambil berteriak. 

Bibirnya masih bergetar. 

Seakan menahan amarah luar biasa, anak itu menggenggam erat ponselnya yang aku serahkan.

“Daniel. Dengar Mama dulu, Sayang,” pintaku dengan menghela napas, “Tenang dulu.” 

Sebenarnya, saat mengatakannya, aku pun tengah berusaha menenangkan hati ini. Kalau aku tidak bisa meyakinkan diriku sendiri, bagaimana dengan Daniel? 

“Terserah! Daniel sudah kirim semua foto ini ke hape Mama. Daniel tidak bodoh, dan tahu ini foto asli,” ucapnya terdengar lelah.

Aku pun terdiam.

Sebenarnya, awal ditunjukkan foto itu, hati ini hancur seketika seketika. 

Antara logika dan hati mulai tidak sejalan. 

Hati ini percaya dengan bukti yang dibawa anakku.

Namun, logika menentang. 

Di zaman sekarang, bisa jadi seseorang berupaya menjatuhkan orang lain dengan foto yang direkayasa. Orang yang berbeda tempat saja, bisa terlihat bersama. Oleh karena itu, aku tidak mempercayai penglihatan ini. 

Tidak mungkin Mas Ammar, suamiku, bertindak rendah seperti foto-foto ini. Dia begitu sempurna sebagai suami dan seorang kekasih.

Ini pasti fitnah!

“Hapus foto di hp-mu,” ucapku akhirnya, “biar Mama saja yang simpan dan tanyakan pada papa.”

“Kenapa, Ma?” Dia melontarkan pertanyaan dengan memicingkan mata. 

Aku memejamkan mata sejenak.

Foto-foto itu begitu vulgar untuk anak seusia Daniel yang lima belas tahun. Mempertontonkan kemesraan laki-laki dan wanita yang memagut bibir si wanita dengan rakus, ini tak pantas untuk dilihat anakku.

Melihat gelagat Daniel yang enggan, aku lantas mengulurkan tangan untuk meraih ponselnya.  Namun, dia berkelit dan menjauh.

“Mama sepertinya terlalu dibutakan oleh Papa. Terserah Mama! Tapi … jangan harap Daniel aku  memaafkan dia!” teriak Daniel sambil mengacungkan telunjuk.

Daniel bergegas pergi. 

Tidak memedulikan panggilanku, anak itu meninggalkan rumah seiring raungan sepeda motor yang meninggalkan asap putih.

Aku mengerti anakku itu membawa hati yang tertoreh karena kelakuan Papanya. 

Seakan patah hati, anak tunggalku itu terlihat menitikkan air mata. 

Kaki ini yang mengejar Daniel, lemas seketika. Aku terduduk tak berdaya di teras depan.

Sungguh, aku tidak pernah menyangka ini terjadi pada keluargaku. 

Mas Ammar suamiku yang menjadi panutan kami, ternyata tidak sebaik dalam pikiran. 

Foto itu terlihat jelas apa yang diperbuat oleh laki-laki yang sudah menjadi teman hidupku selama 17 tahun.

Tidak pernah sedikitpun, aku mendapatkan tanda-tanda penghianatan darinya. 

Kami melakukan aktivitas seperti biasa, baik dalam bekerja, keluarga, bahkan hubungan suami istri.

Aku yang seorang arsitek, aktif dalam menjalankan perusahaanku, begitu juga Mas Ammar yang menjalankan studio sesuai keahliannya di bidang fotografi. 

Kami terbiasa berdiskusi dalam banyak hal seperti biasa, dan sikapnya pun tidak ada yang berubah. Ia tetap manis dan bersikap romantis di setiap kesempatan.

Bahkan, baru tiga hari yang lalu kami merayakan ulang tahun perkawinan. Bunga yang dia bawa pun masih segar berada di vas bunga menghiasi meja rias.

“Terima kasih atas cintamu selama ini,  Aida Sayang. I love you forever,” bisiknya saat mengejutkan aku dengan rangkaian bunga mawar merah. Tidak hanya itu, dia menghiasi leher ini dengan kalung bermata berlian.

“Kamu akan selalu bersinar di hatiku seperti dia,” ucapnya sembari menunjuk liontin yang gemerlap.

Tangannya pun sempat menyelusup di sela kancing kemejaku. Bahkan, tanpa mempedulikan masih di kantor tempatku bekerja, kami mereguk indahnya cinta dengan menuntaskan hasrat. 

Memang aku akui, dia seakan tidak pernah surut untuk melakukannya, tapi aku pun selalu mengimbangi dan tidak pernah terlontar keluhan darinya.

Aku merasa membuatnya selalu ‘kenyang.’ 

Terbukti, sikapnya yang manis dengan kata-kata yang puitis, dan perlakuannya yang nakal tidak pernah surut semenjak pernikahan kami. Tidak pernah terbersit akan akhirnya seperti ini.

'Ya, Allah … apa mungkin aku begitu bebal dengan gelagat yang sempat dia tunjukkan?’

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Jack Daniel
aku di keluarkan
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 2. Dia

    “Suamimu itu helpfull pada semua orang. Setiap perempuan dibantu dan disenyumin. Orang bisa salah sangka, lo.”Laila, teman sekerjaku, saat itu mengingatkan. Namun, aku hanya tersenyum menanggapinya.Mas Ammar adalah sosok yang sempurna sebagai laki-laki. Penampilannya yang memanjakan mata setiap perempuan, ditambah senyuman yang selalu menghias wajahnya yang manis. Begitu juga, sikapnya yang ramah dan siap membantu siapapun. Tapi, aku yakin itu hanya bentuk keramahan.“Dia memang begitu, dari dulu. Makanya aku suka dia. Habisnya dia baik banget. Beda sama aku yang tersenyum sama orang saja susah. Dia seperti penyempurna bagiku, La,” ucapku memberikan alasan.Perbedaan kepribadian antara aku dan suamiku memang bertolak belakang. Mas Ammar begitu terbuka dan mudah bergaul dengan semua orang. Sedangkan aku, melakukan seperti dia justru merasa menyiksa. Aku tidak bisa mengobrol dan menyebarkan senyuman tanpa alasan. Tidak bisa saja, walaupun dipaksa.Kenyamananku ada di depan meja kerj

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 3. Beruntun

    “Ba-bagaimana keadaannya?” tanyaku dengan tidak sabar. Kepala ini langsung dipenuhi prasangka buruk. Kecelakaan menyebabkan banyak kemungkinan, bahkan kematian. Apalagi, Daniel tadi menggunakan sepeda motor dengan kondisi emosi yang tidak stabil.Satu masalah belum selesai, sudah muncul kembali kabar yang lebih parah lagi. Aku seperti mendapat serangan dari segala arah. Badan ini seakan dihantam godam sampai luluh lantak dan tidak berasa lagi.Kaki ini sudah tidak kuat lagi menopang bobot badanku, hingga aku luruh ke lantai.“Tenang, Bu. Saudara Daniel dalam keadaan selamat. Namun, kami mengharapkan kedatangan ibu sekarang untuk persetujuan operasi anak ibu.”“Ba-baik. Saya segera ke sana. Tolong lakukan segera yang terbaik untuk anak saya. Berapapun biayanya!” seruku dengan bibir bergetar.“Kami akan usahakan yang terbaik. Terima kasih. Selamat Siang,” ucapnya setelah memberikan alamat yang harus aku tuju.Layar ponsel menggelap seiring dengan gelapnya otak ini. Aku seperti kosong

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 4. Kalau Boleh Memilih

    Aku segera menaruh ponsel di bangku dengan layar tertelungkup. Saat ini, aku belum siap menghadapinya. Perasaan marah dan benci kepadanya, bercampur dengan kekhawatiran dan ketakutan dengan apa yang terjadi pada Daniel.Lebih baik aku abaikan dia, demi kewarasanku sekarang.“Aida!”Aku yang sedang terpekur meratapi masalah ini begitu terkejut. Laila, perempuan itu tampak berlari sembari menunjukkan raut wajah kecemasan. Dia langsung memelukku sembari mengusap lembut punggung ini.“Sabar, ya. Daniel pasti baik-baik saja. Tadi, aku telpon rumah dan dikasih tahu Bik Yanti,” ucapnya kemudian mendudukkan aku kembali.Dia mengedarkan pandangan seakan mencari sesuatu. “Pak Ammar mana?”Aku menjawabnya dengan menggelengkan kepala.“Kamu belum menghubunginya?” ucapnya kemudian mengeluarkan ponsel dari tas, “Oke, aku akan hubungi dia.”“Jangan, Laila,” ucapku cepat sembari menangkup tangannya yang memegang ponsel.“Kenapa?” tanyanya dengan penuh keheranan.Serta-merta, aku menceritakan apa y

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 5. Kenapa?

    Aku menatap pria di hadapanku ini kesal.Mungkin, dokter ini tidak memiliki anak, sehingga tidak bisa merasakan keadaanku sekarang. Daniel anak tunggalku mengalami kecelakaan dan diharuskan pasrah di meja operasi. Memang proses pertolongannya dinyatakan berhasil, tetapi … apa aku tidak boleh merasa khawatir dan menungguinya?“Putra Ibu, tindakannya sudah berhasil dan sekarang tinggal menunggu sadar saja. Lebih baik, bersabar sekaligus memulihkan diri,” ucap pria itu tegas.“Tidak ada yang dilakukan sebelum pasien sadar. Jadi, tolong biarkan kami petugas medis yang merawatnya. Lebih baik Ibu kembali istirahat atau berdoa, daripada mengganggu.”Meski ucapannya benar, entah mengapa tanganku sudah terkepal. Tadi, aku dikatakan merepotkan, sekarang justru dikatakan sebagai pengganggu. Sumpah serapah mulai memenuhi mulut untuk dokter yang namanya Burhan ini. Seperti tidak merasa bersalah, dia yang sudah mematik amarahku justru pergi begitu saja.“Aida. Benar yang diucapkan Pak Dokter

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 6. Jawaban

    “Ini semua gara-gara kamu,” ucapku dengan nada yang datar. Aku tidak mampu berteriak atau melayangkan hujatan. Energiku sudah habis seakan terkuras tandas.Dia mengusap kasar wajahnya, kemudian meraih tangan ini. Suamiku itu lalu menatapku seakan meminta maaf.“Maafkan aku, Aida. Memang ini salahku,” ucapnya, seketika hatiku bersorak sekaligus berdarah. Ck! Laki-laki ini ternyata dengan gentle mengakui kesalahannya. Aku pikir dia akan berkelit dengan sejuta alasan.“Aku membiarkan Daniel dengan hobinya. Bukannya melarang, aku justru membelikan sepeda motor untuknya. Maaf aku tidak mengindahkan laranganmu. Ini karena aku sayang kepada Daniel. Tidak suka melihatnya kecewa karena keinginannya tidak terpenuhi,“ ucapnya menambah keterangan, dengan memberikan tatapan sendu.Aku memejamkan mata. Memang, Mas Ammar begitu memanjakan Daniel. Apa yang diminta dan disukai, pasti dibelikan. Dia memang ayah yang baik untuk Daniel. Tetapi, itu yang dulu kupermasalahkan sebelum foto-foto itu muncu

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 7. Daniel

    Mas Ammar sedikit terperanjat. Namun, pria itu dengan cepat mengendalikan ekspresinya.“Kamu dan Daniel adalah cahaya yang menerangi kehidupanku. Aku menyayangi kalian. Tidak mungkin aku rela berbuat rendah yang berakibat kehilangan penerangku. Itu sama saja merugi. Iya, kan?” Suamiku itu lalu menatapku penuh cinta lalu mendudukkan diri di pinggir ranjang. Tak lama, ia meraih kepalaku untuk bersandar di lengannya.Meski hatiku merasa ada sesuatu yang salah, tetapi tubuhku secara otomatis bergerak, seolah tidak mampu melakukan penolakan.“Maaf.” “Iya. Tidak apa-apa. Ini menunjukkan kalau aku begitu berharga bagimu. Selama ini, aku tidak pernah dicemburui aku. Sampai-sampai muncul kekhawatiran kalau sudah tidak dicintai lagi oleh istriku ini. Ternyata dugaanku keliru,” ucapnya sambil mengusap kepalaku dengan lembut.Mendengar nama anakku disebut, seketika aku merasa air dingin mengguyur kepalaku. Daniel tampak membenci ayahnya. Lantas, bagaimana memberi penjelasan kepada Daniel? Di

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 8. Kesal

    “Ke-kenapa? Aku tidak mau! Aku tidak mau!” teriaknya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Anakku itu bahkan mengacungkan tangan, menunjukkan penolakan saat Mas Ammar mulai melangkah. “Mas. Tolong.” Segera aku beranjak, mencegah langkahnya. Tubuh suamiku yang menjulang itu, segera aku dorong keluar. “Aku--” “Stop!” desisku memotong ucapannya. Mataku menyorot tajam ke arahnya. Tidak peduli ucapannya, aku tetap mendorongnya melewati pintu kamar. Aku mendengus kesal. Apa yang aku katakan tadi ternyata tidak didengar. Harus menggunakan bahasa apa supaya dia mengerti? “Aida, aku ingin bertemu Daniel. A-aku tidak sabar ingin mengetahui keadaannya.” Sorot matanya menunjukkan keengganan. Dia masih bersikukuh dengan niatnya. “Mas Ammar. Ini bukan masalah kamu atau aku. Apalagi, hanya ingin memuaskan perasaan penasaran. Ini masalah kesehatan Daniel.” “Tapi, Ai. Aku--” “Untuk apa Mas Ammar masuk ke dalam kamar? Apa Mas hanya ingin menambah sakit Daniel?! Tidak cukupkan Mas Ammar menyaki

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 9. Tersenyum

    Mata ini menatap laki-laki di depanku tanpa kedip. Yang aku lihat bibirnya bergerak-gerak tanpa mendengar suara yang diucapkan. Indra pendengaranku seakan dilumpuhkan karena penolakan hati yang enggan menambah rasa sakit. Ucapannya yang sempat tertangkap begitu menggores hati ini."Anda ini seorang ibu yang mengutamakan kesembuhan putranya, kan? Namun, kenapa Anda tidak mencegah sesuatu yang membuat pasien tertekan?” Ucapan ini terngiang di telinga, menandakan dia mempertanyakan aku sebagai seorang ibu. Jiwa dan raga ini seakan dihantam dari segala arah. Semua menyerangku secara bersamaan, sampai-sampai aku ingin menyerah. Dan, menyatakan kalau aku kalah. Namun, apakah itu menjadi sebuah jawaban? Atau, hanya menambah beban? Menyatakan kalau aku hanya wanita yang tidak diperhitungkan?“Terima kasih atas penjelasannya, Dok,” ucapku kemudian beranjak.Tidak peduli dengan dia yang masih berucap, entah itu apa. Aku hanya ingin secepatnya pergi dari ruangan dokter yang tidak memberika

Bab terbaru

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 107. Merah Muda - TAMAT

    Sorot mata yang terkesan menghakimi, semakin mengukuhkan dia sebagai laki-laki yang menyebalkan. Apa urusannya aku akan pergi dengan siapa? Laki-laki atau perempuan bukankah itu hak aku sepenuhnya? Walaupun aku berkencan dengan laki-laki pun, dia tidak ada hak melarangku. Memang dia siapa? Aku menarik satu sudut bibir ke atas. Mulut ingin menumpahan sumpah serapah, tapi tertelan kembali mengingat dia pandai membalikkan kata-kata. Percuma! “Maaf. Saya sudah selesai,” ucapku seraya meletakkan napkin dan beranjak berdiri. Badan yang sudah berbalik arah, urung bergerak. Tangan kiri ini merasakan genggaman erat. “Ka-kamu mau kemana?” “Kembali ke kamar,” jawabku dengan memasang ekspresi datar. Walaupun di dada ini sudah penuh dengan segala rasa yang campur aduk. Di sudut sana, hati ini menyayangkan kenapa pertemuan ini berakhir dengan kesal? Setitik harapan ada romansa indah benar-benar terkubur dalam. “Terus aku?” Matanya mengerjap menatapku. Seperti anak kecil yang enggan ditinggal

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 106. Lelaki di Sebelahku

    “Ini semuanya Daniel yang bikin,” seru anak lelakiku sembari menyodorkan dua piring di depanku dan di depan lelaki yang duduk di sebelahku. Wafel dengan taburan buah segar dan kacang-kacangan.“Ini untuk, Om?”“Yes! Spesial untuk Mama dan Om Dokter,” jawabnya, kemudian beranjak pergi. Sepertinya dia mengambil sarapan yang untuk dirinya.Mulai duduk sampai sekarang, diri ini seperti beku. Aku diam membeku dan tidak menyapanya. Berjubal pertanyaan, tapi semua seperti tertelan kembali. Dari tadi, Daniel lah yang mendominasi. Anakku itu tidak henti menceritakan keseruan di kota ini.Tertinggal kami berdua terdiam seperti orang asing yang duduk berjajar. Sarapan yang disajikan Daniel yang seharusnya menggugah selera, ini tidak mampu membangkitkan rasa lapar yang tadi sempat mendera.“Gimana kabarmu?” Suara bariton memecah keheningan. Aku menghela napas. Begini rasanya saat merasa asing dengan orang yang dulu sempat dekat.“Baik. Kamu?”Terdengar suara helaan napas darinya. Satu, dua, tiga,

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 105. Goyah?

    “Maafkan aku. Aku tidak amanah,” jawab Laila“Dia?”Dari layar ponsel, terlihat Laila mengangguk. “Pak Burhan tidak percaya dengan apa yang aku ucapan. Dan sepertinya dia mencarimu di apartemen. Dia tahu kalau kamu dan Daniel bepergian jauh.”Aku menghela napas. Ini yang sebelumnya aku takutkan. Mas Burhan bukan laki-laki tidak panjang akal. Dia begitu akrab dengan semua satpam apartemen tempatku tinggal, pasti ada maksud di belakangnya. Pasti dia tahu ini dari mereka yang sudah menjadi informannya.Pantas saja, dia sering membawakan sesuatu buat mereka.“Terus?”“Ya aku tetap bungkam tentang keberadaanmu. Tapi ….”“Tapi kenapa?” tanyaku penasaran. Kekawatiran menyergap. Sudah ada dibayanganku dia berlaku kasar pada Laila. “Aku terpaksa memberikan nomor telponmu.” Mata Laila mengerjap tersirat kekawatiran.Aku tersenyum lebar. “Oalah. Ternyata hanya itu? Tak apa, aku tinggal matikan ponsel. Atau aku tidak jawab panggilannya. Beres, kan? Tidak apa-apa, yang penting kamu aman.”“Semog

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 104. Keliling

    “Aku mempunyai tanggung jawab untuk mengantarmu. Jadi tidak usah sungkan menerima tawaranku ini,” ucap Candra sebelum memaparkan fasilitas paket tour yang sudah dipesan Laila.Selain hunian yang nyaman, dia menjelaskan kemana saja tujuan yang menjadi pilihan.“Khusus kamu, semua yang ada didaftar bisa kita kunjungi secara bertahap.”“Hmm?”“Ini karena kita dari satu negara asal,” ungkapnya sambil tersenyum.Aku akhirnya menyetujui niat baiknya. Apalagi Daniel kembali meninggalkan aku sendirian. Dia memilih menerima ajakan Steven-anak pemilik gedung hotel ini untuk berkunjung ke rumahnya.Awal hari, aku sudah siap. Riasan sederhana dan memakai baju tebal. Itu pun ditambah mantel berbulu untuk mengusir udara yang masih belum bersahabat dengan tubuh ini.“Mama pakai ini. Aku tidak pakai,” ucap Daniel sambil memasangkan syal miliknya. Kain tebal berwarna putih bercorak kotak-kotak hitam sudah terpasang manis di leherku. “Tapi jangan ilang,” serunya lagi setelah menunjukkan jempolnya.“Iya

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 103. Mengobrol

    POV. Aida Kalau orang lain berlibur ke luar negeri akan dihabiskan dengan berkeliling kota, aku justru kebalikannya. Diriku lebih memilih hari kemerdekaan dengan cara bergelung dalam selimut. Sudah hampir sepekan, tapi aku cukup puas menikmati indahnya hujan salju dari balik jendela.Daniel?Anakku itu seperti bertemu teman bermain. Dia sudah tidak membutuhkan ibunya, dan justru menghabiskan hari dengan Candra.“Mas Candra itu orang baik, Ai. Dia juga penyayang, aku kenal benar siapa dia,” ungkap Laila.“Tapi aku merepotkan dia, La. Apalagi Daniel. Anak itu seperti nyamuk mengintili dia kemana pun pergi. Bahkan saat Candra kerja pun dia ikut serta.”“Santuy aja. Mas Candra malah seneng, kok.” Ucapan Laila membuat kekawatiranku terkikis. Yang dikatakan senada dengan yang diungkapkan Candra sendiri. Katanya, bertemu dengan Daniel menjadi obat rindu dengan para keponakan yang seumur dengan anakku.Begitu juga Daniel. Dia memilih ikut Candra saat aku tawari untuk ikut city tour yang diad

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 102. Awal Langkah Baru

    Kalau tidak terpisah jarak, pasti Laila aku cubit. Sahabat sekaligus rekan kerjaku itu dengan leluasa mentertawakan kebodohanku. Bahkan tidak segan dia melontarkan ledekan. “Awas kamu Laila. Kamu akan tahu akibatnya saat aku pulang nanti.” Dia tertawa. “Siapa takut? Aku tahu akibatnya oleh-oleh souvenir dari sana. Aku harap sih, membawa Mas Candra pulang,” celetuknya dengan senyum masih lebar. Lontaran godaan tidak terhenti. Seperti tukang promosi, Laila menjabarkan siapa saudara jauhnya itu. Bagaimana kesuksesan dia dan apa saja sifatnya. Dari kedekatannya dengan anakku walaupun belum lama kenal, mencerminkan dia orang yang ramah dan penyayang. “Daniel mana? Dia pasti sudah tepar, ya?” “TIdak. Dia justru sudah pergi main dengan Candra.” “Tuh, kan. Baru kenal saja sudah menunjukkan dia bapak yang baik.” “Laila!” sahutku. Allih-alih berhenti, dia justru berbicara terus. “Keluarga Mas Candra itu orangnya baik dan penyayang. Kalau kamu jadi menantunya pasti disayang.” “Ngawur!”

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 101. Teman Main Daniel

    Aku mengeratkan genggaman pada pergelangan tangan Daniel. Sama denganku, anakku ini terlihat kaget mendengar ucapan lelaki ini. Dari awal persiapan, aku selalu mengatakan ada Tante Candra-saudara Tante Laila-yang akan menemani kami. Bodohnya aku tidak bertanya lebih lanjut kepada Laila siapa sebenarnya saudara yang menjadi tour guide kami. Siapa sangka nama Candra Lukita bukanlah perempuan, tapi justru laki-laki. “Ma-maaf. Saya pikir….” “Santuy, ajah. Aku panggil kamu Aida, ya? Kita mungkin tidak seumuran, tapi di negara ini tidak memandang seseorang dari umur.” Dalam hati aku mencembik. Tidak usah bilang umur. Tanpa dibilang pun aku tahu lelaki ini jauh lebih muda dariku. Tubuhnya aja yang menjulang yang memanipulasi usianya. “Iya, silakan. Tapi sekali lagi minta maaf, ya. Laila juga tidak mengatakan kalau anda laki-laki. Saya juga tidak bertanya,” sahutku memberi alasan. Dia menunjukkan senyuman pemakluman. Jujur aku malu, kok bisanya aku tidak seteliti ini. Sampai jenis kela

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 100. Melarikan Diri

    Kata-kata bernada kompromi bergumul di kepala. Menjadikan apa yang terjadi adalah suatu yang bisa dimaklumi. Kami yang sama-sama dewasa yang tentunya mempunyai kebutuhan hasrat dan itu hal biasa. Terlebih bagi dua insan yang saling jatuh cinta. ‘Huft! Pembelaan mencari pembenaran,’ bisik sudut hatiku sebelah sana. Namun, bukankah kedewasaan dan rasa cinta seharusnya menempatkan seseorang untuk dijaga? Bukan untuk dijadikan obyek pelampiasan hasrat semata. Cinta yang agung hanya tersekat selembar rambut dengan nafsu. Dan, yang terjadi sudah hal demikian. Sepanjang jalan menuju pulang, kami hanya terdiam. Tidak ada kata sepatahpun setelah dia mengatakan maaf. “Aida. Maafkan aku. A-aku sangat merindukan kamu dan mendapati kamu seperti sekarang menjadikan aku tidak mampu mengendalikan diri,” ucapnya dengan suara parau. “Kamu membuatku gila, Aida,” gumamnya sambil meraup kasar wajahnya. Tanganku mencengkeram jaket yang sudah aku eratkan. Begitu juga bawahan baju tidur yang tidak cu

  • Bukan Wanita Impian Suamiku   Bab 99. Datang Kembali

    Kata orang, semakin kita meniatkan sesuatu, semakin godaan akan datang. Aku mengurus semua untuk kepergianku, mulai dari administrasi, sampai izin ke sekolah Daniel. Tentu saja ini dirahasiakan dari Mas Burhan.Dia hanya tahu, ketidak aktifanku di kantor karena untuk pemulihan. Itu juga karena Laila yang memberitahu dia.“Aku mendukung, kok,” ucapnya melalui sambungan telpon.“Benar? Kamu tidak merasa rugi karena aku meninggalkan proyek?” tanyaku sarkas. Setahuku dari dulu dia selalu mengatakan hal yang menyangkut untung dan rugi. Terlebih tentang kehadiranku.Dia tidak tersinggung, justru suara tawa terdengar.“Kamu ingat saja. Itu kan supaya kamu tidak mewakilkan kehadiranmu.”Aku mendengkus. “Huh, bilang saja tidak mau rugi.”“Iya, lah. Rugi kalau aku datang dan gagal bertemu dengan orang yang aku inginkan,” sahutnya memantik diri ini mengernyitkan dahi.Di setiap percakapan, selalu saja ucapan rayuan menyoal. Dasar laki-laki playboy. Mungkin ini satu alasan dia tidak kunjung mempu

DMCA.com Protection Status