Sudah hampir larut malam Fandi belum juga pulang membuat Hasna cemas. Ponselnya juga sulit dihubungi. Ingin menyusulnya tapi kemana? Ia juga tidak tahu rumah mertuanya. Sementara itu diseberang jalan ada sepasang mata yang tengah mengawasi rumah petak mereka.
"Iya, juragan. Siap!" Seru lelaki dibalik mobil jeep itu menjawab telepon bosnya dan berlalu. Juragan Sardi masih belum terima atas pernikahan Hasna dengan Fandi. Ia merasa harga dirinya di injak- injak baru kali ini ada yang menolaknya. Juragan Sardi menyuruh anak buahnya untuk mengikuti kemana Hasna pergi dan mencari tahu siapa Fandi sebenarnya.
"Kau harus jadi milikku Hasna!" geramnya kemudian terkekeh sendiri.
Hasna yang lelah menunggu Fandi akhirnya tertidur.
Tok tok tok!
Kedua matanya mengerjap pelan. Terdengar suara dibaik pintu memanggil namanya berulang-ulang. Gegas ia membuka pintu nampak senyumnya mengembang menampakan wajahnya yang manis. Dikecupnya kening sang isteri. Mata Hasna terbelalak melihat langit terlihat terang.
"Ma'af semalam aku tidak bisa pulang," jawab Fandi menyesal.
"Harusnya beri kabar bang," ucap Hasna memasang wajah cemberut.
"Iya, ma'af lupa. Semalam mami meminta tidur di kamarku. Ah, seperti anak bayi saja aku."
Hasna tersenyum kemudian bertanya, "Bagaimana caranya sekarang bisa lolos dari mami."
"Aku berusaha menyakinkannya, tentunya meminta pembelaan papi juga bahwa aku ingin mandiri seperti yang papi inginkan. Papi meminta aku mengelola perusahaan, tapi aku tolak. Aku akan mencari pekerjaan sendiri." Terang Fandi membuat Hasna mengerutkan dahi. Baginya di jaman sekarang ini mencari pekerjaan sulit, apalagi jika belum berpengalaman sama sekali. Namun apapun itu ia tetap menghargai keputusan suaminya.
"Aku tahu sayang, mencari pekerjaan itu susah, jika aku menuruti papi bekerja di kantornya. Aku takut hubungan kita akan terbongkar. Aku belum siap semuanya. Aku harus benar-benar meyakinkan mereka dahulu untuk bisa menerimamu." Hasna menghela napas ia pun tidak mau jika mertuanya memisahkan hubungan mereka.
"Yasudah, aku mandi dulu, bang," ujar Hasna berlalu seraya mengambil handuk.
"Ikut, bareng,yuk, aku juga ingin mandi lagi." Bola mata indah itu terbalalak, "tidak!" serunya. Namun Fandi segera menggendongnya bukan ke kamar mandi melainkan ke kasur.
"Kita belum melakukan malam pertama, kan?" ucap Fandi mengedipkan sebelah mata. Semenjak di rumah paman Edi mereka belum melakukannya.
"Aku belum mandi," ucap Hasna masih dalam pelukan Fandi meskipun ini bukan malam pertama baginya, tetapi baru kali ini ia sangat bahagia bersama dengan lelaki yang dicintainya.
"Nanti saja kita mandi bareng." Tak selang berapa lama kain yang menutupi tubuh mereka berjatuhan satu persatu.
Drrt drtt …
Diraihnya ponsel dengan malas, seketika membuatnya panik membaca isi pesan.
["Fan, sebentar lagi mamih sampai. Kamu disana kan?]
Baru saja ia akan menikmati surga dunia bersama wanita yang dicintainya, gegas bangkit dari ranjang. Diraihnya celana yang berserakan dilantai.
"Ada apa?”
Sambil membenarkan selimut wanita itu bertanya dengan raut wajah kesal. Aktivitas mereka di ranjang baru saja dimulai.
"Mami, akan kesini bagaimana ini?
Jari jemari lelaki itu terasa dingin. Otaknya tak mampu lagi berjalan karena kepanikannya. Tak abis pikir kenapa mamihnya akan datang tiba-tiba begini.
"Tenang bang, duduk dulu,” ucap Hasna dengan hati kecewa.
"Bagaimana aku bisa tenang, kamu tahu sendiri hubungan kita ini.." ucapannya terpotong. "Ah.. sudahlah lebih baik aku mandi dulu,” lanjutannya lagi seraya mengambil pakaiannya dalam lemari.
"Cepat pakai bajumu dan bereskan semua barang-barangmu, sembunyikan semuanya. Jangan sampai ada yang terlihat mencurigakan.”
"Bang, mamih telepon!”
Seru Hasna yang tengah sibuk membereskan kembali pakaiannya dalam kardus. Padahal baru semalam ia masukan lemari plastik. Antara ragu dan penasaran wanita itu ingin mengangkat. Baru saja tangannya mengarah ke ponsel, dengan secepat kilat disambar Fandy.
"Hallo Fan, kenapa lama sekali kamu angkat. Bolehkan mami mampir sebentar saja." Suara dari seberang telepon terdengar lembut.
“Mih, halo mih!”
Tut! Tut!tut!
Belum sempat Fandi menjawab sambungan sudah terputus. Sementara itu Hasna segera mempercepat membereskan semua barangnya, ia masukan kedalam kardus. Beruntung tidak terlalu banyak barang milik wanita itu.
“Sudah semua bang, taruh sebelah mana?” tanya Hasna menunjuk beberapa kardus yang sudah dikemas rapi.
“Didalam lemari saja atau di pojokan itu?”
tunjuk Fandi dengan tangan gemetar. “Ayo Na, lekas pergi dari sini,” ucapnya kemudian.
“Aku kemana ya, bang?” pertanyaan wanita itu tak dijawab, Fandi tengah sibuk dengan ponselnya.
“Hasna, jemuran!” Seru Fandi sambil menunjuk pakaian Hasna yang menggantung. Hampir saja ia kelupaan hal sekecil itu bisa membuat Yulia curiga. Cucian Hasna semalam masih lembab, tapi mau tak mau harus ia turunkan. Hasna gegas memindahkan jemurannya di kontrakan samping. Beruntung kontrakan sebelah masih kosong. Ia pun berpikir, ‘Apa aku bersembunyi saja di kontrakan kosong ini.’ Hatinya terasa sesak sampai kapan harus menyembunyikan dari mertua. Ia pun seorang wanita ingin akrab dengan mertua seperti wanita lainnya.
“Ngapain mbak, penghuni baru kontrkan sebelah ya? Kok jemuran dipindah.” Sapaan wanita bertubuh semampai membuat langkah Hasna menoleh pintu yang hendak ditutup dibuka kembali.
“Eh, nggak ada apa-apa, mau liat-liat saja. Bersih disini tidak terlalu kotor, nama saya Hasna baru pindahan kemarin sore," ucap Hasna tersenyum ramah.
“Oh, Hasna, nama saya Rima. Kontrakan saya yang paling ujung itu." Tunjuk Rima, "Ngomong-ngomong neng asli mana?” tanya Rima dan duduk di teras.
“Saya dari Sukabumi kalau bang Fandi asli Jakarta." Mbak Rima yang diharapkan segera berlalu justru duduk dan mengajaknya mengobrol. Hasna menanggapu dengan gelisah tak enak harus mengusirnya. Selang tak berapa lama bu Haji pemilik kontrakan datang membawa beberapa bingkisan. Ia meminta bantuan Rima untuk membagikannya. Bu Haji ikut dalam obrolan mereka. Ada saja jika yang diobrolkan jika para perempuan sudah berkumpul. Hasna yang sedari tadi gelisa hanya menanggapinya malas, pikirannya tak fokus.
“Oh, iya, neng Hasna belum ngasih foto kopi buku nikah kan?” tanya bu Haji mengingatkan.
“Eh,i_ya belum,” tutur Hasna terbata. Diremasnya tangan yang sedari tadi terasa dingin. Mertua yang akan datang membuatnya semakin gelisah, ditambah pertanyaan apa ini. Kenapa mengontrak saja ribet haruskah ada bukti buku nikah segala. Tentu saja protes tersebut hanya dalam hatinya.
“Masih sibuk beres-beres bu Haji jadi belum sempat,” sambung Rima ikut menimbrung.
“Iya, kemarin suami saya sudah minta ke Fandi katanya nanti. Kalo sudah ada nanti segera kasih kesaya ya? Bukannya kami gak percaya kalau sudah menikah. Peraturan kontrakan di sini dari dulu seperti itu jika sudah menikah ngumpulin foto buku nikah. Sekedar syarat saja buat laporan RT kalau ada apa-apa,” ungkap bu Haji memberi tahu.
“Tahu gak? Neng Hasna. Dulu itu ada pasangan muda yang mengaku sudah menikah. Eh, gak taunya malah kumpul kebo. Waktu itu rame banget loh hampir saja mau di arak satu kampung sini.”
Cerita Rima menggebu menurutnya seorang yang berzina membuat tetangga kanan kiri sebanyak 40 rumah akan kena imbasnya. Hasna semakin gugup beberapa kali menoleh ke pintu gerbang. ‘kenapa ini emak-emak malah ngobrol disini.” Hatinya bermonolog.
"Hasna!" teriak Fandi dari dalam membuat mereka yang sedang mengobrol menoleh. Hasna semakin gelisah, pandangannya menatap ke seberang jalan.
"Hasna!" teriak Fandi dari dalam membuat mereka yang sedang mengobrol menoleh. Hasna semakin gelisah, pandangannya menatap ke seberang jalan. Mobil SUV hitam itu berhenti sejenak kemudian melaju kembali. Hasna menghela napas lega, ternyata seorang laki-laki keluar dari mobil itu membeli minuman di sebuah warung dan mobil kembali melaju. Ya, jelas dia bukan ibu mertuanya."Neng, ibu pulang dulu ya.""Saya juga, itu suamimu sudah manggil." Rima dan bu haji undur diri, mereka merasa tak enak karena panggilan Fandi tadi. Keduanya pun segera berlalu. Begitu pun Hasna gegas ia masuk menemui panggilan suaminya.Baru saja Hasna masuk dan menutup pintu, Fandi langsung menyerbunya, memeluk erat wanita itu."Ada apa, bang?" Dahi Hasna berkerut dalam di
Banyak pertanyaan dalam benak Hasna. Bukankah malam pertama menjadi keinginan setiap lelaki. Sebaliknya menjadi momok menakutkan bagi wanita. Namun ada apa dengan suaminya kini, apakah ia yang terlalu agresif? Tapi bukankah suaminya juga menginginkan? Ataukah lelaki disampingnya itu punya masalah kesehatan? Hasna menggelengkan kepala mencoba berpikir positif. 'Ini pasti yang pertama baginya, ah.. dasar anak manja. Sepolos itukah kamu. Belum rela melepas keperjakaannya.' Batin Hasna seraya mengulum senyum. Malam itu mereka habiskan dengan tidur saling membelakangi.Sementara itu, Yulia nampak kecewa apartemen itu kosong tidak ada Fandi disana. Ditelepon pun putranya tak memberi tahu kediamannya sekarang ini. Yulia sengaja menemui Fandi karena ada maksud tertentu. Ia ingin memberikan kartu kredit baru untuk putranya. Ia tahu Surya telah memblokir kartu kredit Fandi beserta menghentikan transferan uang jajan
"Benarkah begitu, apa disana terjadi sesuatu dengan Fandi?" cecar Surya. Deg.. Bagaimana ini? Andre bagai makan buah simalakama, apa yang harus dikatakan? "Eehh … em …" Andre menjawab gugup sembari berpikir apa yang harus di katakannya. Kedua tangan dan kakinya terasa dingin. "Hallo, Andre!" bentak Surya dari seberang telepon membuat Andre semakin gemetar. "Ti-tidak ada apa-apa, Om. Kami baik-baik saja. Maksud Om terjadi sesuatu bagaimana?" tanya Andre pura-pura. "Baiklah jika begitu. Om, percaya sama kamu. Aku hanya berharap jangan ada yang kau tutupi dari kami. Apapun perbuatan Fandi di luar sana yang menurutmu kurang pantas, bicarakanlah dengan kami. Fandi akhir-akhir ini sulit di atur. Om, sangat percaya
"Siapa mereka?" Hasna mencoba mengingat-ngingat dua orang itu. Sepertinya ia mengenal kedua orang itu. Namun tidak terlalu jelas, wajah mereka tertutup helm rapat, ia hanya merasa mengenalnya dari postur tubuh mereka. Salah satu dari mereka berbadan besar dan satunya lagi kurus tinggi dan keduanya memakai jaket hitam dan bercelana jeans sobek bagian lutut. Segera ditepisnya pikiran negatifnya itu. "Ah, mungkin saja orang sini, tapi kenapa berbadan besar itu sepertinya menunjuk-nunjuk Fandi dan kemudian mengikutinya? dan sudah sejak subuh motor mereka juga sudah ada diujung jalan."Hasna hanya berdo'a, semoga tidak terjadi apa-apa dengan suaminya.Setelah beberapa menit, Fandi sampai ditempat yang sudah dijanjikan oleh Andre. Cafe tempat biaaa mereka nongkrong, tidak jauh dari kantor Andre. Pemuda itu segera menuju meja dimana seorang pemuda duduk seorang
"Aku pengennya sekarang, obat lelah biar tidur kita tambah nyenyak." Fandi mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum seraya membuka pakaiannya. Hasna hanya pasrah apa yang akan dilakukan suaminya."Paling juga gagal lagi, lelaki itu hanya bisa mendekatinya saja. Tidak berani mencampurinya," batin Hasna, maka ia membiarkan tangan suaminya berkelana kemana-mana dan mencium setiap inci tubuh indah miliknya. Hasna mulai mendesah menikmati, tapi tiba-tiba Fandi terbangun dan berlalu ke dapur. Hasna hanya tersenyum melihat tingkah suaminya. Ia sudah tahu lelaki itu pasti belum berani melakukannya.Sementara Fandi di dapur membuat teh hangat untuk Hasna."Ma'afkan aku, sayang," ucapnya lirih seraya mengeluarkan satu butir pil dari plastik kecil dan mencampurinya ke dalam teh hangat yang akan ia berikan untuk sang ist
Fandi menyusuri gang kecil menuju lapangan yang lebih luas dimana mobilnya terparkir. Gang kecil itu hanya bisa dilalui satu motor sehingga terpaksa semalam mobil itu diparkir lumayan jauh dari rumahnya.Sesampainya di lapangan kedua mata Fandi terbelalak, pupilnya seperti akan keluar. Kedua tangannya mengepal erat terlihat otot-otot kekarnya keluar, setelah melihat dimana mobil itu berada."Citra!" Wanita yang dipanggilnya menoleh, segera tangannya menepis pada dua pria berbadan besar tanda ia menyuruhnya segera pergi."Owh, jadi kamu yang mengikutiku. Mereka orang-orang suruhanmu?" tanya Fandi marah. Citra bergeming bingung apa yang dituduhkan Fandi padanya."Jawab, Cit! Mengakulah!" gertak Fandi mulai meninggi suaranya.
Mendengar jawaban Yulia dan Surya membuat Fandi bingung dengan apa yang terjadi, dahinya mengeryit dalam. Jika bukan mereka atau Citra, lalu siapa yang selama ini menguntitnya hingga ia terpaksa harus pindah. Namun pada akhirnya ia hanya berpikir positif saja. Mungkinkah hanya persasann ia saja? Dering ponsel Fandi di dalam kantong celana jeansnay terdengar nyaring menyadarkan lamunan sesaat. Setelah dilihat siapa sang penelpon ternyata Hasna. Ia mematikan panggilan dari istrinya. "Mih, Pih, aku pamit dulu. Jangan khawatir aku baik-baik saja. Pasti aku akan sering main-main kesini. Jika mami kangen panggil saja, aku yang akan datang. Mami tak perlu mencariku." Setelah mengucapkan pamit Fandi mengecup tangan Surya dan Yulia dengan takzim. Yulia sedikit kecewa ingin protes baru saja mereka bertemu dan harus ditingg
Sudah hampir sebulan Fandi juga masih belum juga bekerja. Kesehariannya hanya bermain game online. Hasna mulai gemas dengan suaminya. Bukannya keluar mencari pekerjaan melainkan hanya dirumah saja."Bang, tabungan semakin menipis. Bukannya kamu sudah janji akan mencari pekerjaan, kalau di rumah terus bagaimana bisa dapat kerja," keluh Hasna sembari tangannya dengan cekatan melipat pakaian yang berserakan di lantai."Hmm.." jawab lelaki yang tengah asyik bermain game diponselnya."Bang!" panggil Hasna lagi merasa ucapannya tak didengarnya, geram sendiri melihat tingkah suaminya yang nampak acuh.Pasalnya keuangan mereka benar-benar semakin menipis dengan pengeluaran sehari-hari tanpa pemasukan. Diam-diam juga Hasna mencari pekerjaan, bertanya-tanya sekiranya a
"Batalkan saja. Bilang saja sudah tidak menerima karyawan baru untuk di bagian mana pun." Meskipun ragu akan keputusannya, lelaki paruh baya itu berbicara dengan tegas. "Tapi, pak hari ini …"Belum selesai berbicara sambungan telepon sudah diputus secara sepihak. Itulah kebiasaan Surya selalu memutuskan sambungan secara sepihak. Rencana Surya gagal,terpatahkan oleh pendapat istrinya. Surya bekerja sama dengan Andre agar Fandi memulai semuanya dari nol. Meskipun anak sendiri, ia ingin Fandi bekerja dengan sungguh-sungguh. Dimulai dari jabatan yang dianggap sebagian orang rendah. Karena Fandi anak lelaki satu-satunya, lelaki paruh baya itu ingin menguji mentalnya. "Tidak! Aku tidak terima Fandi harus menjadi pelayan di kantor kita sendiri. Seharusnya dia yang jadi Bosnya." Yulia murka mengetahui rencana suaminya. "Batalkan, pih!" protesnya lagi.Tatapannya tajam mengarah ke Surya. Tidak habis pikir bagaimana mungkin suaminya merencanakan sesuatu di belakangnya. Beruntung ia sendir
Setelah menemukan yang dicari Fandi segera ke arah dapur dan mengeluarkan butiran dalam kemasan plastik itu. Perlahan ia masukan ke dalam gelas kaca."Kenapa obat itu dicampurkan pada minuman itu? Apa obat itu sebenarnya untukku?" Hasna hanya membatin melihat apa yang dilakukan Fandi dari balik gorden yang menjadi pembatas antara ruang tidur dan dapur. "Sebenarnya obat apa itu? Ada rahasia apa? Berbagai pertanyaan dalam benak Hasna. Memang kemasan obat itu kosong tak ada tulisan atau petunjuk pemakaian apapun. Hanya ada beberapa butir dalam plastik kecil itu. "Ehem..!"Sengaja Hasna mengeluarkan suaranya keras. Kemudian ia berjalan perlahan menghampiri Fandi yang berdiri terpaku. Tanpa sengaja lelaki itu menjatuhkan obat dalam genggaman tangannya. Tampak raut wajahnya putih memucat, tangannya bergetar. "Apa ini?" Hasna bertanya seraya membungkuk mengambil sesuatu yang terjatuh di lantai. "Emm.. itu.. itu." Lidah Fandi terasa kelu untuk menjelaskannya. "Ku mohon, jangan salah paham
Perdebatan yang terjadi dengan suaminya, membuat Hasna menjadi malas melakukan apapun. Apalagi melihat sarapan sudah susah payah dibuat tidak tersentuh sama sekali oleh Fandi. Niatnya akan memasak menjadi urung.Rebahan di depan televisi yang menyala tapi entah pikirannya kemana. Karena bosan juga hanya berguling di lantai, akhirnya Hasna memutuskan untuk merapikan dan membereskan rumah mungil itu. Dimulai dari kamar mandi, ia sikat bersih dan wangi. Dilanjutkan merapikan dapur yang hanya ada kompor satu tungku di atas meja.Setelah itu ruang tengah, dimana terdapat kasur lantai tempat mereka tidur, dan ruang depan yang hanya ada televisi dan kulkas. Semua ruangan ia sapu bersih dan di pel. Sampai akhirnya tertuju pada lemari pakaian yang pintunya sedikit terbuka karena tadi Fandi mengambil jaket sebelum pergi.
"Hush, jangan kenceng-kenceng nanti orangnya dengar, loh! Tak baik juga ngomongin orang," potong bu Sri pemilik warung seraya mengacungkan jari telunjuknya menutup mulutnya sendiri. Spontan membuat ibu-ibu yang sedang bergosip terdiam sesaat dan saling melirik satu sama lain. Baru sadar jika Hasna belum dari tempat mereka berkumpul membicarakannya.Demi tidak ingin mendengar pembicaraan yang tidak mengenakan tentang dirinya, kaki jenjang Hasna mengurai langkah lebar-lebar. Ia berjalan cepat meninggalkan orang-orang yang sedang asyik membicarakan tentang dirinya. Hatinya begitu kesal dengan sikap mereka, baru sebulan tinggal daerah sini sudah menjadi pembicaraan umum. Apakah kebiasan warga sini senang bergosip? Pikirnya dan berlalu. Ingin segera ia cepat sampai ke rumah.Sesampainya di rumah, terlihat Fandi masih asyik dengan ponsel dalam genggamanny
Sudah hampir sebulan Fandi juga masih belum juga bekerja. Kesehariannya hanya bermain game online. Hasna mulai gemas dengan suaminya. Bukannya keluar mencari pekerjaan melainkan hanya dirumah saja."Bang, tabungan semakin menipis. Bukannya kamu sudah janji akan mencari pekerjaan, kalau di rumah terus bagaimana bisa dapat kerja," keluh Hasna sembari tangannya dengan cekatan melipat pakaian yang berserakan di lantai."Hmm.." jawab lelaki yang tengah asyik bermain game diponselnya."Bang!" panggil Hasna lagi merasa ucapannya tak didengarnya, geram sendiri melihat tingkah suaminya yang nampak acuh.Pasalnya keuangan mereka benar-benar semakin menipis dengan pengeluaran sehari-hari tanpa pemasukan. Diam-diam juga Hasna mencari pekerjaan, bertanya-tanya sekiranya a
Mendengar jawaban Yulia dan Surya membuat Fandi bingung dengan apa yang terjadi, dahinya mengeryit dalam. Jika bukan mereka atau Citra, lalu siapa yang selama ini menguntitnya hingga ia terpaksa harus pindah. Namun pada akhirnya ia hanya berpikir positif saja. Mungkinkah hanya persasann ia saja? Dering ponsel Fandi di dalam kantong celana jeansnay terdengar nyaring menyadarkan lamunan sesaat. Setelah dilihat siapa sang penelpon ternyata Hasna. Ia mematikan panggilan dari istrinya. "Mih, Pih, aku pamit dulu. Jangan khawatir aku baik-baik saja. Pasti aku akan sering main-main kesini. Jika mami kangen panggil saja, aku yang akan datang. Mami tak perlu mencariku." Setelah mengucapkan pamit Fandi mengecup tangan Surya dan Yulia dengan takzim. Yulia sedikit kecewa ingin protes baru saja mereka bertemu dan harus ditingg
Fandi menyusuri gang kecil menuju lapangan yang lebih luas dimana mobilnya terparkir. Gang kecil itu hanya bisa dilalui satu motor sehingga terpaksa semalam mobil itu diparkir lumayan jauh dari rumahnya.Sesampainya di lapangan kedua mata Fandi terbelalak, pupilnya seperti akan keluar. Kedua tangannya mengepal erat terlihat otot-otot kekarnya keluar, setelah melihat dimana mobil itu berada."Citra!" Wanita yang dipanggilnya menoleh, segera tangannya menepis pada dua pria berbadan besar tanda ia menyuruhnya segera pergi."Owh, jadi kamu yang mengikutiku. Mereka orang-orang suruhanmu?" tanya Fandi marah. Citra bergeming bingung apa yang dituduhkan Fandi padanya."Jawab, Cit! Mengakulah!" gertak Fandi mulai meninggi suaranya.
"Aku pengennya sekarang, obat lelah biar tidur kita tambah nyenyak." Fandi mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum seraya membuka pakaiannya. Hasna hanya pasrah apa yang akan dilakukan suaminya."Paling juga gagal lagi, lelaki itu hanya bisa mendekatinya saja. Tidak berani mencampurinya," batin Hasna, maka ia membiarkan tangan suaminya berkelana kemana-mana dan mencium setiap inci tubuh indah miliknya. Hasna mulai mendesah menikmati, tapi tiba-tiba Fandi terbangun dan berlalu ke dapur. Hasna hanya tersenyum melihat tingkah suaminya. Ia sudah tahu lelaki itu pasti belum berani melakukannya.Sementara Fandi di dapur membuat teh hangat untuk Hasna."Ma'afkan aku, sayang," ucapnya lirih seraya mengeluarkan satu butir pil dari plastik kecil dan mencampurinya ke dalam teh hangat yang akan ia berikan untuk sang ist
"Siapa mereka?" Hasna mencoba mengingat-ngingat dua orang itu. Sepertinya ia mengenal kedua orang itu. Namun tidak terlalu jelas, wajah mereka tertutup helm rapat, ia hanya merasa mengenalnya dari postur tubuh mereka. Salah satu dari mereka berbadan besar dan satunya lagi kurus tinggi dan keduanya memakai jaket hitam dan bercelana jeans sobek bagian lutut. Segera ditepisnya pikiran negatifnya itu. "Ah, mungkin saja orang sini, tapi kenapa berbadan besar itu sepertinya menunjuk-nunjuk Fandi dan kemudian mengikutinya? dan sudah sejak subuh motor mereka juga sudah ada diujung jalan."Hasna hanya berdo'a, semoga tidak terjadi apa-apa dengan suaminya.Setelah beberapa menit, Fandi sampai ditempat yang sudah dijanjikan oleh Andre. Cafe tempat biaaa mereka nongkrong, tidak jauh dari kantor Andre. Pemuda itu segera menuju meja dimana seorang pemuda duduk seorang