Hari ini adalah hari terkstream bagi Helix. Berulang kali ia mencoba mengatur nafas demi mencapai ketenangan. Jantungnya tak berhenti berdegup dengan kencangnya. Sesekali ia mengusap telapak tangannya yang basah di celana.
Sembari berjalan menuju sang wanita impiannya itu, sesekali ia mengelus dadanya yang bidang sambil terus mencoba berlaku santai walau sesungguhnya itu sulit.
“Lea, aku mencintaimu” akhirnya perasaan itu tersampaikan juga. Perasaan yang selama ini ia pendam begitu lama.
Helix telah jatuh cinta. Cinta yang bermula dari pandangan pertama dengan seorang wanita yang dilihatnya di depan sebuah minimarket 2 tahun lalu. Saat itu rambut indah sang wanita tertiup angin sehingga menutupi raut wajahnya yang kala itu sedang melamun sambil meminum segelas kopi racikan. Terlihatlah kecantikkan sang wanita dengan leganya oleh Helix kala dia menyapu rambut dengan jemarinya yang lentik.
Saat itu Helix masih dalam tahap mengagumi saja. Namun, kekagumannya kali ini membuat Helix selalu memikirkan wajah wanita itu. Bahkan sebelum ia terlelap tidur di malam hari, ia selalu berharap akan adanya suatu keajaiban yang dapat mempertemukan mereka lagi di suatu hari nanti.
Helix adalah seorang seniman lukis. Ia telah memiliki beberapa karya yang diakui oleh banyak orang. Dengan kelebihannya ini pula, ia menyentuh canvas miliknya dengan goresan-goresan indah penuh cinta dan menghasilkan wajah cantik sang wanita. Helix sengaja melukis wajah sang wanita yang dikagumi itu dengan tujuan agar ingatannya tak hilang dimakan oleh waktu.
Hari demi hari ia lewati tanpa mencoba membuka hati pada wanita lain yang ia temui. Semua semata-mata karena ia masih tetap berharap bisa bertemu dengan sang pujaan hati. Kali ini perasaannya cukup dalam walau hanya dengan memandang sekian detik saja.
Helix berjuang mencari tahu tentang keberadaan wanita itu. Hampir setiap hari ia menghampiri mini market tersebut hanya demi menemukan keajaiban. Helix juga mencoba memamerkan foto lukisan gambar wajah cantik wanita itu pada petugas mini market, namun tetap tidak ada hasilnya.
Dua tahun pun berlalu. Waktu yang cukup untuk dihabiskan Helix mencari sesuatu yang seperti tidak akan ada ujungnya. Masih juga dengan keadaan yang sama, ia menghampiri setiap sudut taman kota. Menatap setiap gadis yang ada disana. Berjalan menyusuri setiap restoran atau rumah makan di perkotaan. Sampai akhirnya ia mulai merasa lelah dan jenuh.
Hingga suatu pagi yang cerah, Helix mencoba melangkahkan kakinya masuk ke sebuah perusahaan yang kebetulan sedang mencari staff entertainment. Saat itu niatnya memang melamar pekerjaan, akibat rasa jenuhnya menggambar setiap hari. Dia ingin mencoba pengalaman baru diluar hobinya yang sebenarnya juga menghasilkan uang yang lumayan.
Saat Helix memasukki lobby, tepat di balik meja receptionis ada seorang wanita cantik nan anggun yang dengan sigap mengacupkan tangan dengan senyum yang begitu indah. Kala itu jantung Helix berdetup dengan begitu kerasnya.
Wanita yang kini berada di depannya itu adalah orang yang selama ini ia cari. Ini sebuah takdir, ucapnya di dalam hati. Helix memandang name tag yang tergantung pada saku seragam reception cantik itu dan akhirnya ia pun tau siapa namanya. Wailea Rose, ya itu namanya. Nama yang cantik hingga mampu menghipnotis Helix saat itu.
“Apa kamu sudah gila, Hel?” jawab Lea. Wailea begitu kaget mendengar pernyataan dari rekan kerjanya itu.
“Aku serius. Sudah tidak bisa dibendung lagi. Perasaan ini terlalu dalam untuk kamu” Helix memegang bahu Wailea dengan sangat erat. Wailea yang tadinya sedang duduk di meja makan, seketika itu juga bangkit berdiri dan menjauhi Helix.
“Sejak awal kita berteman, kamu sudah tau kalau aku sudah punya suami. Keakraban kita terjalin semata-mata kamu temanku dan kita satu tempat kerja” Wailea menarik nafas yang dalam dan kembali melanjutkan kalimatnya. “Aku pikir selama ini kamu tulus berteman denganku, tetapi aku salah” sambil menangis, Wailea menjauh meninggalkan Helix yang saat itu juga sedang berada di meja makan kantin. Hati Helaix kembali morat-marit. Seolah-olah ada sebuah batu raksasa mengenai tepat di dadanya. Kata suami yang ia dengar langsung dari bibir Wailea membuatnya merasa pedih. Helix memang sudah tahu tentang kenyataan itu, bahkan satu hari setelah Helix diterima bekerja di perusahaan Sumber Cahaya. Waktu itu ada salah satu staff yang memanggil Wailea dengan sebutan pengantin baru. Ya, Wailea memang sudah menikah. Namun, pernikahannya baru seumur jagung. Saat itulah perasaan Helix berkecamuk dan dilema. Satu sisi ia ingin mundur, tetapi di sisi lain hati kecilnya malah menahannya untuk tetap d
Sesampainya Wailea di kantor, terlihat di atas meja reception sudah berdiri sebuah kotak makan berwarna merah jambu. Isinya ternyata seporsi nasi goreng dihiasi dengan taburan bawang goreng dan irisan sosis sapi. Kelihatannya lezat, pikirnya sambil mengendus aroma dari celah-celah tutup kotak makan itu. Terlintas dalam benaknya jika makanan itu berasal dari Helix, lalu dengan cepat ia kembali menaruh kotak itu di atas meja. “Jangan lupa dimakan” kata Helix yang tiba-tiba sudah berada di samping Wailea. Wajah Wailea berubah muram, terlihat begitu kesal. Dia mendorong kotak nasi kearah Helix tanpa memandangnya. “Bawa saja! Aku tidak mau” tegas Wailea. “Kamu menghindariku ?” tanya Helix. “Tolong jauhi aku. Aku ini sudah punya suami” mata Wailea mulai berkaca-kaca. Hatinya terasa berat menjauhi Helix. Banyak hal yang membuat Wailea merasa berat menjauhi Helix. Wailea merasa sudah terlalu banyak menyusahkan atau pun berutang budi kepada Hel
“Untuk apa kamu memakan dua menu sekaligus? Tidak baik untuk dietmu” dengan suara tawa kecil helix menutup telepon. Wailea yang masih kesal tidak punya pilihan lain selain memakan nasi goreng buatan Helix. Keraguan hatinya untuk memakan nasi goreng itu pun sirna, ketika suapan pertama mendarat di lidahnya. Wahhh ini enak sekali, katanya dalam hati. Kini tak segan ia menyuapi nasi goreng itu ke dalam mulutnya dengan begitu cepat. Saat ia sedang menikmati makanannya, terlihat segerombolan orang di arah luar dipimpin oleh sang presdir berjalan mendekat ke arah Lobby. Wailea yang panik segera mencari tissue dengan niat untuk membuang yang ada di dalam mulutnya karena belum sempat dikunyah dan ditelan. “Merunduk!” Helix menekan bahu Wailea dan membiarkannya bersembunyi di bawah meja. “Selamat siang pak” Helix menjamu para tamu. “Tolong antarkan mereka ke ruang meeting, saya mau ke ruang kerja saya dulu mengambil beberapa dokumen” perintah san
Disisi lain, Helix yang sedari tadi fokus dengan ponsel di tangannya mulai merasa curiga dengan titik keberadaan Wailea. Ya, Helix memang sengaja memasang GPS ponsel Wailea pada ponselnya. Dengan tujuan agar ia selalu tahu dimanapun keberadaan Wailea. Dari sejak pesan Helix telah diterima Wailea, saat itulah Helix sudah memantau titik keberadaan Wailea. Tanpa berfikir panjang, Helix segera meninggalkan ruang meeting dan mencari titik keberadaan Wailea. Saat Helix sampai, dilihatlah taksi itu. Tak segan Helix memecahkan kaca yang membuat serpihan kaca itu mengenai si sopir taksi. Sopir taksi itu pun terbelalak dan dengan segera membuka kunci. Helix yang geram, menarik sopir taksi itu keluar dari mobil dan kemudian memukulnya tanpa ampun. Wailea berlari keluar dari mobil dan memeluk Helix. Ia mencoba menahan Helix agar jangan sampai Helix membunuh orang itu. Disaat Helix berhenti memukulnya, si sopir taksi langsung mengambil kesempatan untuk melarikan diri. Helix
"Maaf Lea, tapi mau bagaimana lagi kalau sudah tugas" jawab Rezo. "Tapi besok ulang tahunku" Wailea mengingatkan. "Kita masih bisa rayakan di ulang tahun berikutnya dan berikutnya lagi kan?" kata Rezo mencoba menenangkan istrinya. Keesokkan harinya, Wailea sudah bangun dan mempercantik dirinya. Ia berharap untuk sempat menghantarkan Rezo ke bandara. "Aku ikut mengantarmu ya" Wailea meminta dengan penuh senyuman. "Aku bawa mobil dan akan ku parkir di bandara. Jadi kamu tidak usah mengantarku" jawaban Rezo cukup mematahkan semangat Wailea. Dengan kehampaan hati, Wailea mengantarkan Rezo memasukki mobilnya. Wailea masih terus menunggu ucapan selamat dari suaminya itu. Namun, hingga sampai Rezo pergi, tak ada satu kalimat apapun yang ia ucapkan. Jangankan mengucapkan selamat ulang tahun, memuji dirinya yang sudah cantik saja tidak. Mungkin dia benar-benar sibuk, pikirnya dalam hati. *** "Happy birthday cantik" Helix mengham
Helix saat itu hanya tersenyum bangga melihat Wailea yang memiliki hati yang begitu baik. Sejauh Wailea tahu perasaan Helix, tak ada sekalipun ia memanfaatkan situasi. Bahkan Wailea selalu sungkan ketika hanya Helix yang bisa menolongnya dalam situasi apapun. "Oke, kalau kamu merasa berat. Ada satu cara untuk membalasnya" kata Helix sambil tersenyum jahat. Wailea mulai curiga akan kalimat yang akan dilontarkan Helix. "Ahh... Sudahlah, percuma bicara sama kamu" kata Wailea. "Wanita ini sungguh membuatku gemas. Aku belum selesai bicara" sahut Helix. "Aku tahu mau mu. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa membalas perasaanmu" tegas Wailea. "Mbak receptionist, jangan keGR-an. Cara membalasnya cukup dengan mentraktirku saja di restoran enak langganan kita" kata Helix sambil tertawa mengejek. Wailea tersipu malu mendengarnya. Wajahnya memerah. Untuk menutupi rasa malunya, ia pun berpura-pura menatap layar komputer seolah-olah sibuk.
Lenny kembali menjelaskan pada Wailea apa yang sebenarnya ia tahu. Rezo memang mengajukan ijin di kantor untuk pergi ke luar kota, tepatnya Sumatera tempat dimana ibu Wailea tinggal. Alasan Rezo adalah untuk berlibur bersama keluarga untuk merayakan ulang tahun Wailea.Mendengar semuanya seperti sangat aneh, Wailea mencoba untuk berfikir positif. Wailea meyakini dirinya jika sang suami sengaja membohonginya dan seolah tidak ingat akan hari ulang tahunnya agar semua rencana untuk memberikan kejutan padanya tidak gagal. Mungkin saja Rezo hendak mengajak mama untuk datang ke Jakarta, pikirnya dalam hati.Setelah berbincang dengan Lenny, Wailea pun kembali ke dalam restoran melanjutkan makan siangnya yang tertunda.“Kamu kenal Lenny, Hel?” tanya Wailea sambil mengunyah makanan di mulutnya. Helix pun tersedak. Hampir saja makanan di mulutnya lompat keluar mengenai wajah Wailea. Wailea menepuk punggung Helix, mencoba membantunya mengeluarkan makanan
“Terima kasih, ma. Suara mama kenapa lemas sekali? Mama sakit?” tanya Wailea khawatir. Suara lembut dari seberang telepon adalah suara dari seseorang yang amat Wailea cintai. Dia adalah Weni, ibu kandung Wailea. Weni bagaikan batu karang di tepi pantai. Beribu kali dihantam gelombang tetapi tetap berdiri dengan tegar. “Biasa, Lea. Kurang enak badan” sahut Weni. “Mama sudah ke dokter?” tanya Wailea lagi dengan suara yang mulai panik. “Sudah sayang, jangan khawatir ya. Rezo mana, Lea?” tanya Weni. Wailea tersentak, dia terdiam sejenak. Mengapa mama bertanya soal Rezo, tanyanya dalam hati. Hal ini cukup membuat Wailea lemas hingga membuatnya duduk di sofa merahnya. Tanpa Wailea sadari, dia melamun cukup lama. Weni yang menunggu jawaban Wailea sempat memanggilnya beberapa kali hingga akhirnya Wailea tersadar dari lamunannya. “Oh, Rezo masih lembur, ma” suara Wailea terdengar sedikit bergetar. Ia terpaksa harus membohongi orang tuanya karen
Dengan situasi ini membuat Helix yakin untuk menceritakan semuanya. Helix pun mulai menceritakan awal mula dirinya bertemu dengan Wailea. Melihat Wailea kala itu membuatnya berani untuk jatuh cinta lagi usai tersakiti oleh mantannya itu. Helix pun menceritakan usahanya untuk mencari Wailea bertahun-tahun lamanya, hingga akhirnya bisa bertemu Wailea namun ternyata dia sudah berstatus istri orang. Helix mengatakan jika dia melihat kejanggalan antara Rezo dan Wailea, ditambah beberapa kejadian aneh yang menimpa Wailea, inilah yang membuatnya berkomitmen untuk tetap menjaga Wailea hingga saatnya nanti Rezo bisa menjadi orang yang Wailea paling andalkan, saat itulah Helix akan menjauhi Wailea. Mendengar semua perjuangan dan usaha Helix untuk melindungi Wailea membuat Ruben tak mampu berkata-kata. Dia menyesal telah memukul Helix tanpa tahu ternyata orang yang dia pukul adalah orang yang selama ini menjaga menantunya. Lixy pun sangat terharu mendengar perjuangan anaknya. Begitu tulus dan s
Lea menjelaskan dengan sangat tulus jika awalnya dia berfikir jika Rezo dan dirinya akan sama-sama belajar mencintai, semua ini sebelum Wailea tahu jika ternyata Rezo masih memiliki hubungan dengan masa lalunya yang belum pernah berakhir. Sampai akhirnya disaat dia tahu, dia memutuskan untuk tetap bertahan demi kebahagiaan ibu dan juga ayah mertuanya. Wailea tetap berusaha untuk mempertahankan pernikahannya yang sebenarnya mustahil. Mendengar semua penjelasan Wailea ini seolah menyanyat hati Ruben dan juga Weni yang masih mendengarkan percakapan mereka dari kejauhan. Ruben dan Weni pun lemas dan merasa menjadi orang tua yang sangat buruk."Papa jangan sedih lagi ya. Semua ini hasil dari keputusan Lea yang harus Lea terima. Namun pada akhirnya Lea datang kesini itu memang karena batas kemampuan hati Lea sudah diujung. Ini juga keputusan yang Lea ambil. Papa jangan merasa bersalah, karena semua ini bukan salah papa atau siapapun." Wailea mencoba menenangkan Ruben.------Pagi hari yang
"Aku minta maaf sebesar-besarnya padamu Weni. Aku pun menyesali apa yang telah dilakukan Rezo." kata Ruben memohon maaf kepada Weni. Ruben memang sungguh menyesali untuk itu. Semuanya ini membuatnya merasa gagal menjadi seorang ayah, ayah mertua dan juga seorang sahabat bagi Weni."Bukan hanya dijaman dulu ya, Ben. Bahkan setelah berpuluh-puluh tahun pun kamu masih hebat dalam menyakiti perasaan orang" kata Lixy dengan sangat ketus. Perkataan ini membuat semua terheran dan bingung, apakah maksudnya?"Aku minta maaf untuk apapun yang kulakukan dahulu padamu Lixy dan apapun yang terjadi kini pada kamu Weni. Hanya itu yang bisa kuucapkan, tidak ada yang bisa kukatakan lagi selain maaf" kata Ruben dengan penyesalan yang mendalam.Keheningan terasa begitu mengcekam saat ini. Situasi sulit dan pelik yang bahkan tiada satupun bisa mengubahnya. Kebingungan dan pertanyaan yang semakin banyak terus menghantui masing-masing pribadi. Tetapi Weni sadar jika dia adalah sebagai tuan rumah yang sehar
Senja yang indah, dihiasi dengan suara burung yang saling bersahutan. Weni dan Lixy terlihat sibuk sedari tadi setelah mereka sampai di rumah. Wailea yang sudah mendapatkan penanganan dari rumah sakit pun kini sedang beristirahat di dalam kamar Weni.Hari mulai gelap, Wailea pun terbangun dan beranjak dari kasur menuju ruang tamu. Terlihat Weni dan Lixy yang sedang asik menata makanan diatas meja. Wailea berjalan perlahan dan menggapai Weni. Dia memeluknya begitu erat dari belakang. Weni tersenyum dan menghentikan aktifitasnya itu.Setelah puas, Wailea pun melepaskan pelukannya dan Weni berbalik menghadap Wailea. "Apakah tidurmu nyenyak, nak?" tanya Weni sembari mengusap lembut pipi Wailea. Lixy hanya tersenyum melihat keromantisan antara ibu dan anak di depannya itu sambil terus menata piring pada posisi meja masing-masing."Lea pikir Lea hanya bermimpi sedang berada di rumah mama" sahut Wailea melow."Kamu tidak bermimpi nak. Sekarang kamu duduk dan kita makan ya. Kamu tunggu disini
Pertemuan Weni dan Lixy bermula dari ketidaksengajaan. Setelah bertahun-tahun tahun lamanya mereka tidak saling tahu kabar masing-masing, akhirnya takdir mempertemukan mereka berdua.Kira-kira satu bulan yang lalu, ketika itu Weni sedang berbelanja kebutuhan rumah tangga di salah satu toko grosir terbesar di daerah rumahnya itu. Dari kejauhan Weni merasa tidak asing saat melihat wanita yang jaraknya sekitar lima meter di depannya itu, yang tengah memegang botol minuman soda sambil terlihat mencari-cari harga pada rak di depannya. Dengan segera Weni mendorong kereta belanjanya mendekati wanita yang dia curigai adalah Lixy. Saat dia sampai tepat di samping wanita itu, suara gemetar terdengar saat dia memanggil nama sang wanita "Lixyyy!!" Disaat itu juga Lixy terkejut bak mendapat undian kemenangan. Tangisan yang tidak bisa terbendung lagi disaat mereka memeluk satu sama lain. Suasana dipenuhi keharuan dan tangisan bahagia. Pertemanan yang sudah cukup lama dan akrab ini sudah tercipta da
Suasana mencekam terjadi di kantor polisi. Satu demi satu pertanyaan berikan oleh pihak kepolisian dengan tujuan agar setidaknya mendapat titik terang dalam kasus ini. Helix menjelaskan dengan sangat lugas kejadian yang dia tahu berdasarkan info yang dia dapatkan dari Luna. Ditengah ketegangan, ponsel Helix terus bergetar tanpa henti. Dua puluh dua kali panggilan tak terjawab dari sang ibunda yang membuatnya tak nyaman sedari tadi.Setelah akhirnya menyelesaikan proses bersama dengan pihak kepolisian, Ruben dan Helix kembali ke parkiran. Saat memasuki mobil, Helix sambil membuka notif ponselnya dan melihat puluhan panggilan tak terjawab itu lalu disambung dengan membuka pesan suara dari sang ibu."Heelllllllll, kenapa sih gak angkat-angkat, mama mau cerita looh" teriak sang ibu kesal. Dengan tenang Helix langsung menghubungi sang ibu. "Halo ma, ada apa?""Mama sudah kirimkan alamat mama saat ini, kamu harus datang segera ya" kata sang ibu bersemangat."Mama sakit? Mama kenapa?" tany
Setelah dua jam menunggu dan berbincang-bincang dengan Luna, Helix semakin gelisah karena Wailea tidak juga kembali. Helix pun bertanya pada Luna "apa Wailea ada cerita tentang rencananya?""Mbak Wailea bilang jika dirinya ingin pergi ke rumah ibunya" jawab Luna. Helix segera mengambil ponsel di saku celana dan kemudian membuka aplikasi tiket pesawat. Dilihatnya memang ada jadwal penerbangan satu jam lalu menuju Sumatra. Jika benar demikian, berarti Wailea sudah berada di dalam pesawat saat ini. Satu sisi Helix merasa lega karena Wailea mengambil keputusan yang tepat, tetapi disisi lain kekhawatiran hatinya masih tetap menyelimuti, karena Wailea harus berpergian seorang diri dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.Karena yakin jika Wailea memang sudah di dalam pesawat, Helix pun bergegas pergi dari rumah Luna menuju kantor. Dia ingin bertemu dengan Robin sembari menunggu kabar dari Wailea. Dia berharap Wailea akan menghubunginya ketika sampai di Sumatra.Ketika sampai di kantor, He
"Saya rasa istri bapak takut saat mendengar suara anda, makanya dia pergi dari sini tanpa membawa barang" ujar Luna saat Helix hendak menduduki kursi plastik merah di teras rumah Luna. Helix terheran, mengapa bisa wanita di hadapannya itu berfikir jika dia adalah suami dari Wailea. Helix pun bertanya-tanya siapakah wanita ini, karena baru pertama kalinya dia melihat Luna. "Saya ini resepsionis hotel di Bali yang berhasil anda buat kehilangan pekerjaan. Pantas saja anda tega kepada orang lain, kepada istri anda sendiri saja anda teganya bukan main" sahut Luna kesal. Helix semakin bingung dibuatnya. "Dari tadi saya perhatikan ucapan anda melantur tidak ada arahnya. Kenapa anda pikir saya ini suami Wailea?" tanya Helix penasaran. "Kalau anda bukan suaminya, lalu kenapa foto anda ada di dompetnya?" tegas Luna. Helix terdiam dan berfikir. "Saya tidak sengaja melihat foto anda di dompet mbak Wailea. Foto 3x4 sih, tapi sangat jelas kalau itu foto anda" lanjut Luna. Ingin rasanya Helix
Setelah selesai diobati, Wailea berjalan menuju toko disebelah klinik. Dia membeli sebuah topi dan masker. Tujuannya agar perban dikepala tidak terlihat dan wajahnya pun tidak terlihat karena ditutupi masker. Setelah itu kembali Wailea mencari taksi dan melanjutkan perjalanannya menuju bandara. Seolah sudah di lancarkan jalannya, disaat Wailea sampai dia pun langsung mendapatkan penerbangan tepat pada waktunya. Dia segera mengurus tiket dan lain sebagainya. Beberapa jam kemudian Wailea telah tiba di Sumatra. Tak sabar rasa hati ingin bertemu sang ibu dan memeluknya erat. Dia sudah membayangkan untuk menceritakan semua yang telah dialaminya selama ini. Setelah menggunakan kendaraan umum, Wailea pun sampai di halaman rumah sang ibu. Tangisan tak mampu lagi ditahan olehnya, dia segera berlari menuju pintu utama. Tooookkk... Tokk... Tokkk.. Suara ketukan pintu yang sangat lembut. Seseorang dari dalam rumah membukakan pintu. Wailea terkejut saat melihat seseorang yang tidak dia kenal be