Padahal mereka sudah setiap hari melakukan pemanasan, tapi kenapa Nayra masih tegang begini?Mungkin faktor ketidak siapan sementara gadis itu tidak punya keberanian menolaknya, yang membuatnya merasakan demikian.Bahkan sudah sejak tadi berulang kali mencuci tangannya di wastafel tapi belum juga beranjak.“Nay?” panggilan Devran dari luar pintu kamar mandi.“I-iya, Mas. Sebentar!” teriak balik Nayra.Dia tadi beralasan mau mandi dulu biar tubuhnya tidak lengket. Sekarang Pria itu sudah berteriak menunggunya. Pasti merasa Nayra kelamaan.Nayra menghela napas panjang lalu memantapkan tekadnya untuk melangkah keluar.Melihat gadis itu keluar kamar mandi hanya melilitkan kain pantai di tubuhnya, Devran yang sudah menyiapkan dirinya dalam kondisi optimal, kini meneguk salivanya.Nayra cantik sekali. Ibarat buah, Nayra sedang ranum-ranumnya. Tubuhnya bugar dan berisi di proporsi yang pas. Kulitnya putih, kencang dan terawat dengan baik.Dan yang pasti, Devran tidak pernah memahami mengapa
“Om mau ngurus apa? Kok ada namaku?” Nayra langsung menanyakan hal itu pada Musa.“Ah, itu Mbak. Perkara Ibu dan saudara tiri, Mbak. Mereka sekarang kan harus menjalani sidang di pengadilan.”“Oh?” Nayra baru tahu kalau dua wanita itu benar-benar harus menghadapi jalur hukum saat ini. “Lalu bagaimana, Om?” Nayra jadi penasaran.“Tenang saja, Mbak. Mas Devran akan mengurus semuanya. Nanti kalau sudah selesai akan saya kasih tahu kok keputusannya. Termasuk tentang rumah dan beberapa aset keluarga mbak yang diakui wanita itu.”Nayra jadi resah membahas lagi tentang dua wanita itu. Sekarang dia sudah hidup tenang. Dia tidak ingin apapun lagi.Kalau pun dua wanita itu mau menguasai harta keluarganya, biar saja mereka ambil.Nayra cemas, suatu saat mereka masih akan tetap mengusiknya kalau harta itu diambilnya.“Kalau mereka mau menguasai, biar mereka ambil saja, Om. Saya tidak masalah kok. Dari pada malah tidak kelar-kelar urusan saya dengan mereka.”Musa yang mendengarnya mengherankan ba
“Kesehatan Nyonya Renata mulai menurun, jadi tuan membawanya ke rumah.” Musa menceritakan tentang kabar keluarga di Jakarta pada Devran.“Nenek sakit?” Devran terkejut. Sudah lama juga dia tidak mengunjungi neneknya yang memilih tinggal di Edinburgh karena makam sang kakek juga ada di kota itu. “Benar, Mas. Nyonya Tamara juga sudah menanyakan padaku tentang pekerjaan Mas di sini. Sudah saya sampaikan akan segera selesai.”Devran menghela napas. Padahal beberapa waktu yang lalu dia sudah mulai jemu tinggal di kota kecil ini. Jauh dari bandara dan juga mall besar. Sudah pengen kelarin proyeknya saja dan balik ke Jakarta lagi.Tapi, entah mengapa sekarang perasaannya berat sekali harus balik ke kota yang setahun lalu sudah menjadi saksi berakhirnya kisah cintanya itu.“Kenapa, Mas?” Musa bertanya karena melihat wajah gelisah sang tuan muda.“Tidak apa, Om.” Devran tak mengakui apapun.“Bukankah sebelum ini Mas sering protes ingin segera balik ke Jakarta?” Mussa mengingatkan. Dia pas
Pangilan itu tidak berhenti. Tidak mungkin juga Nayra merijeknya atau malah mengangkatnya. Biar nanti Devran saja yang melakukannya. Karenanya dia melangkah ke kamar untuk memberi tahu Devran. “Mas ada telpon?” ujar Nayra pada Devran yang sedang memakai kausnya seusai membersihkan diri.“Mana?” tanyanya yang tak melihat Nayra membawa ponselnya.“Oh, aku akan ambilkan.”Baru Nayra kembali keluar untu mengambil ponsel Devran. Dengan cepat balik lagi ke kamar.Melihat layar yang menampangkan nama mamanya, Devran melirik Nayra yang masih di tempat. “Aku angkat panggilan, dulu,” tukas Devran.Nayra hanya mengangguk namun tak beranjak.“Aku harus angkat panggilan dulu, Nay. Keluarlah dulu!” Devran kembali mengingatkan Nayra. Membuat gadis itu tersentak. “Oh. Iya, Mas. Maaf!”Nayra baru menyadari Devran belum mau dia mengetahui banyak hal tentang urusannya. Padahal tadinya dia juga ingin sedikit tahu tentang keluarga pria itu dari obrolannya dengan sang mama.“Oh. Apa aku terlalu ke
Nayra tak mengerti. Dicium pria ini begini saja sudah menghilangkan perasaan sebalnya.Dia jadi lupa kalau tadi sudah menyepakati tidak mau disentuh Devran. Sekarang malah mengeliat sembari ta berhenti mendesah ah ih uh saja.“Enggak mau?” Devran bertanya seolah meledeknya.“Jangan ssekarang. Baru selesai makan, Mas.” Nayra beralasan.“oke, kau mau jalan-jalan dulu?” Devran menawarkan.“Enggak, Mas. Di rumah saja lihat TV. Musim hujan takut nanti kehujanan.”“Kan naik mobil?” kumat lagi kan lola gadis ini.“Eh, iya. Maksudnya nanti pas keluarnya...”Devran tak mau kembali berdebat dan merusak suasana lagi. Jadi mending menyumpal mulut Nayra dengan bibirnya saja. Nayra jadi terhanyut. Dia bahkan mulai memberikan balasan ciuaman pada Devran. “Nay, sekarang saja, ya? Sudah keras, nih!” bisik Devran.Nayra juga sudah pengen. Karenanya dia tak menolak ketika Devran menggendongnya ke kamar dan melakukan olahraga malam di sana.Maunya tadi Devran menggarap Nayra di dapur atau di sofa
‘Aku balik ke Jakarta dulu, Nenekku kritis!’Nayra melihat pesan dari Devran di ponselnya setelah dia bangun dan tidak mendapati pria itu di sampingnya.“Kenapa tidak membangunkanku?” gumam Nayra sedih.Semalam mereka masih begitu mesra dan intim, tiba-tiba paginya ditinggal begitu saja.Kenapa tidak membangunkannya, berpamitan sebagaimana mestinya dan baru balik ke Jakarta?Ada rasa kehilangan yang dirasanya seolah Devran tidak akan balik dan meninggalkannya begitu saja di sini. Nayra di serang rasa takut dan cemas.Dilihatnya lagi waktu pesan itu dikirim, itu dini hari pukul 03.00. Dia mencoba menghubungi Devran. Namun ponselnya tidak aktif. Apa masih di perjalanan?Sepanjang hari dengan pikiran yang tidak tenang, sebuah ketukan pintu terdengar.Deg!Jantungnya berdegup lagi. Kalau tidak ada Devran rasanya dia kembali diserang rasa takut. Bagaimana kalau ada orang-orang yang masih ada hubungan dengan ibu tirinya dan berusaha ingin mengganggunya?“Mbak?” suara itu menggugah Nayra.Na
“Om aku ziarah ke makam orang tuaku dulu, ya?” Nayra meminta Musa mengantar ke makam ayah bundanya.Mereka akan berangkat ke Jakarta dengan penerbangan malam ini. Jadi Nayra masih punya waktu untuk sekedar berpamitan di makam kedua orang tuanya.Sayangnya makam mereka tidak satu tempat. Sintiya yang punya kuasa saat itu untuk memberikan mandat agar ayah Nayra tidak dimakamkan di samping makan bundanya. Dengan alasan bahwa itu pesan dari ayahnya sebelum meninggal.Rasanya wanita itu sungguh tamak. Bahkan sudah meninggalpun masih juga membuat ayah dan bundanya terpisah. Padahal, toh dia tidak mencintainya. Hanya mengincar hartanya semata.Mengingat itu hati Nayra tak berhenti sakit hati.Hanya saja Mbok Mun dan Pak Parmin waktu itu menegarkannya agar mau mengikhlaskan saja. Biar proses pemakaman sang ayah berjalan cepat dan sebagaimana mestinya. Tidak terhambat hanya karena perdebatan wanita yang egois itu.Kasihan saja kalau dikematiannya sanga ayah malah tidak tenang jalannya menuju
“Apa saja kerjaan Mas Devran di Jakarta?” Nayra begelanyut manja di samping tubuh Devran sembari mengelus dada bidangnya.Dia suka sekali melihat Devran bertelanjang dada. Menampakkan perut roti sobek dan dada bidangnya.Dulu dia hanya bisa mengagumi bentukan body seperti ini di idol k-pop yang sering di tontonya di TV. Sekarang siapa sangka ternyata bisa memilikinya.Andai masih punya kontak teman-teman SMA-nya, Nayra akan memamerkan suaminya ini pada mereka.“Mas, kok gak dijawab?” Nayra menciumi wajah Devran agar pria ini mau menyahutinya. Devran pelit sekali menjelaskan sesuatu padanya. Hanya menurut kalau pas di beginikan.“Enggak usah tanya, dijawabpun kamu enggak bakal ngerti!” ujar Devran sembari memejamkan matanya.“Ish, masih jutek saja nih, orang!” Nayra mencubit perut pria itu dengan sebal karena jurusnya ternyata tidak berhasil.Devran membuka matanya dan menatap Nayra lalu menarik tubuh ramping itu di pinggangnya. Membuat gadis itu duduk mengangkangi pinggang Devran.“M
“Dengar, Sayang. Sebenarnya perusahaan itu dulunya adalah perusahaan Tuan Dekka, ayah dari Ludwig. Dia saudara dari Tuan Emeraldo. Seharusnya setelah Tuan Dekka meninggal, perusahaan itu menjadi hak sepenuhnya Ludwig. Hanya saja Ludwig difitnah sudah membunuh Tuan Dekka, hingga dia dipenjara dan kehilangan hak warisnya. Otomatis perusahan itu diambil alih Tuan Emeraldo sebagai saudara laki-laki Tuan Dekka.”Devran mengernyitkan dahinya mendengar kata demi kata sang mama yang menjelaskan tentang siapa itu Ludwig.“Jadi, Ludwig itu sepupu papa?” Devran menyederhanakan informasi yang didengarnya.“Benar. Dia kembali untuk menuntut haknya.”Namun sejauh ini, Devran masih belum bisa menerima banyak hal. Mengapa justru sang mama lebih membela pria itu daripada papanya? “Oke, pria yang selama ini bersama mama itu adalah sepupu papa. Lantas, mengapa mama lebih membela pria itu?”Devra tadinya mau menambahi kenapa demi sepupu papanya itu mamanya sampai menikung semua aset yang ada di perusa
“Ma, kenapa tidak ikut saja sih?” Nayra membujuk Farah .Nayra tahu sedikit hal bahwa sang mama masih belum mau pergi ke Jakarta. Dia punya kenangan yang menyedihkan di kota itu dan belum menyiapkan mentalnya untuk kembali ke kota itu. Farah baru merasa nyaman kembali ke Indonesia dengan tinggal di kota kelahirannya ini. jadi masih belum mau pergi-pergi dulu. “Nantilah mama akan datang ke Jakarta. Tapi tidak sekarang, Nay. Kau segera persiapkan diri untuk ikut suamimu ke Jakarta.”Farah tidak akan seterusnya menghindari kota itu. Tapi hanya perlu menyiapkan mentalnya saja. Bagaimanapun putrinya masih harus berkuliah dan juga menemani sang suami di Jakarta. Suatu saat dia pun harus datang mengunjungi mereka.Nayra menyiapkan barang-barang Devran karena harus segera ke Bandara, sedangkan sejak tadi Devran tak berhenti menghubungi banyak orang. Selesai menutup panggilan yang satu, balik menghubungi yang lain, bagitu berakhir disambung dapat panggilan lagi. Entah ada urusan segentin
“Ada apa, Ma?” Devran mengangkat panggilan dari Tamara dengan sedikit malas.Setelah beberapa hari ini Tamara tidak mengusiknya, tiba-tiba kali ini menghubunginya, Devran sepertinya harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan wanita ini kembali membuatnya harus bersabar.“Sedang apa kau di sana?” di kata pertama Tamara sudah terdengar kesal.“Aku bersama Nayra, Ma.” Devran jujur. Mamanya itu pasti sudah tahu. Ada pria yang akan selalu menuruti apapun keingintahuannya. “Cepat balik, perusahaan sedang membutuhkanmu.” Tamara mendesak.Baru beberapa hari yang lalu papanya mengatakan semua baik-baik saja. Lalu untuk apa mamanya malah mendesaknya balik ke Jakarta?Devran menghela napas lelah. Apa lagi yang diinginkan mamanya ini?“Aku masih ada urusan, Ma. ada proyek di Kota Diraja yang harus aku resmikan minggu depan. Aku akan datang setelah itu.”“Devran, aku bilang cepat balik dan jangan membantahku!” Tamara sampai meninggikan suaranya sebagai tanda bahwa ini sesuatu yang tak bisa di
“Ah, Mas?”Nayra menjambaki rambut kepala Devran yang terus menyerusuk di dadanya mencari kenyamanan diri. Tapi pria ini bukannya berhenti justru semakin bersemangat hingga seperti biasa Nayra menjerit-jerit dan menggelinjang. Tampaknya dia suka sekali mendengar Nayra mengeluarkan suara mesra itu di bawah kuasanya.Ciumannya tak cukup lagi di bibir, leher, dan dada. Tapi dengan nakalnya malah melorot semakin ke bawah.Nayra hampir meledak dibuai kelakuan pria ini. Tapi Devran mana mau melepasnya begitu saja kalau tidak sampai serak tenggorokan Nayra karena desahan jeritan manjalitanya.Beberapa gaya mereka coba eksplor, dari dengan berdiri, duduk, nungging, atau tiduran. Di bathtub, di meja, di sofa dan berakhir di tempat tidur, semuanya mereka lakukan dengan sama—sama bergairah dan menyenangkan.Hingga Nayra lemas, belum bisa mengimbangi tenaga pria ini yang sungguh bak kuda yang tak habis-habis. Tubuh Nayra kini jadi seperti jeli yang hanya bisa terkulai di tempat tidur karena
“Aku hanya mau sambang kantor cabang sebentar, Nay.”Devran mencoba melepas pelukan Nayra karena tidak membiarkannya bangkit dari tempat tidur mereka.“Katanya ke sini karena aku, kok masih kerja?” dengan manja Nayra masih menahan Devran. Seperti bocah kecil yang takut ditinggal emaknya.Devran terkekeh. Lalu dengan lembut mengelus punggung Nayra dan menciumi puncak kepalanya. Mereka beberapa hari ini selalu lengket berdua. Tahu Devran bilang mau menyempatkan ke kantor perusahaannya yang ada di kota ini, Nayra jadi sedikit bete.“Semalam masih belum puas, nyonya? Nanti deh aku puasin lagi sampai lemas. Sekarang aku kerja dulu ya...” bisik pria itu.Nayra langsung mendongak menatap Devran seolah menyangkal dia merajuk karena minta dikelonin pria ini. “Aku enggak minta begituan?”“Oh, yah?” Tatapan Devran tidak percaya.“Mas Devran tahu enggak kenapa aku tidak suka Mas Devran ke kantor? Itu karena aku ingat, dulu Mas Devran suka sekali peluk-peluk cewek di ruangan Mas Devran. Sekarang
“Apa kau yang mengancamnya hingga harus meninggalkanku?” Tidak tahan Alana langsung mengintrogasi Tamara.“Siapa yang kau bicarakan?” Tamara menatap suaminya itu dengan heran. Walau dengan cepat otaknya menyambungkan bahwa Alana sedang membahas tentang istri ke duanya.Tamara juga sudah diberitahu Ludwig, bahwa Alana pergi ke Eropa beberapa bulan kemarin untuk mencari wanita itu. “Aku yakin kau bukan orang yang tidak tahu siapa yang aku maksudkan, Tamara.”Tamara justru tertawa kecil, melihat pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu kini menatapnya dengan menahan geram dan rasa penasaran yang tinggi.Itu sungguh membuat Alana tersinggung.“Sekretaris cantikmu yang kau nikahi waktu itu kah yang kau maksud?” tanya Tamara.Alana merasa tak perlu menyahuti pertanyaan itu.“Bagaimana aku bisa mengancamnya, Alan? Dia sudah meninggal, kan?” dengan santainya Tamara mengingatkan hal itu.Alana juga sudah mencari tahu informasi itu bertahun-tahun sejak wanita itu meninggalkannya. Hingg
“Kau sudah makan?” Tamara menyambut suaminya itu sembari memeluk dan mencium kedua pipinya.“Sudah tadi sama mama.” Alana duduk di sofa dengan wajah yang tidak bersemangat.“Ada apa?” Tamara tak menyukai ekspresi wajah suaminya itu. Sudah merasai sendiri bahwa pria itu tidak enak hati padanya. Bisa jadi Renata sudah mengadu yang bukan-bukan.“Jangan protes kenapa aku tidak di rumah keluarga. Mamamu itu mengusirku dari rumahnya.”Jangan-jangan kehadiran Alana di butiknya kali ini ingin membahas dirinya yang tidak tinggal di rumah keluarga sekedar menemani sang mertua yang baru sembuh dari sakit.“Biar bagaimana, apa yang kau lakukan tetaplah salah, Tamara. Kita sudah tua, malu sama usia kita yang sudah pantas punya cucu. Sikapmu masih seperti menantu yang baru bergabung dengan keluarga suaminya.” Alana sekalian mengingatkan istrinya itu.Sejak dulu hingga hampir 30 tahun mereka berumah tangga, masih juga konflik antara istri dan mamanya itu belum juga berubah.“Di matamu aku tidak
“Dari Devran?” tanya Renata pada sang putra.Mereka minum teh bersama di teras rumah menikmati kebersamaan di waktu yang singkat ini.“Benar, Ma.”“Kukira Nayra sibuk sehingga jarang datang ke rumah, ternyata dia selalu bermasalah dengan Tamara.”Renata juga baru tahu hal ini. Dia penasaran dengan apa yang terjadi dalam rumah tangga cucunya. Jadi meminta Musa yang baru datang untuk mencarikan informasi. Dirinya sama sekali tidak tahu apa-apa.Yang mengejutkannya, kasus pembulian viral itu, yang menyeret nama mantan kekasih Devran, ternyata korbannya adalahh Nayra.Renata ikut geram melihat video yang viral itu. Walau wajah Nayra disamarkan, entah bagaimana Renata bisa mengenali gestur tubuh gadis malang itu. Lalu diperkuat oleh informasi yang baru di dapat Musa tentang kebenarannya. Musa tentu dengan mudah mengetahuinya dari Yas. Anak muda itu juga adalah anak buahnya sebelum ini. Dia juga secara rahasia diberi tahu Yas bahwa semua kejadian ini atas inisiatif sang nyonya besar, Tamar
Di dalam kamar yang dulu difungsikan sebagai ruang kerjanya, Devran menerima pesan dari Musa dan Yas.Pesan dari Musa memintanya menghubungi papanya yang baru datang, sementara pesan dari Yas menyampaikan tentang Akte pernikahan mereka yang sudah diambilnya.Kemarin saat bertelponan dengan Nayra yang meminta maaf dan berterima kasih padanya dengan perasaan yang manis, Devran jadi merindukan istrinya dan tak menunda untuk pergi ke Kota tempat istrinya berada. Padahal hari itu papanya juga akan datang. Jadi mereka belum sempat bertemu.Sekarang Devran sedang menghubunginya. “Halo, Pa!”“Dev? Kau tidak di Jakarta?” suara papanya terdengar.“Maaf, Pa. Devran ke Kota Diraja sebentar. Nayra ada di sini sudah seminggu yang lalu.”“Kenapa? Kalian bermasalah?”Alana masih dengan perhatiannya menanyakan apakah putranya itu punya masalah? Mungkin karena itu, Devran lebih bisa menurut pada sang papa daripada mamanya yang bahkan jarang memperhatikan hal kecil begini. “Ada sedikitlah, Pa. Its o