Acara pesta ulang tahun yang diadakan oleh Amanda untuk anaknya yang bernama Evelyn telah berakhir. Para undangan satu persatu pulang meninggalkan tempat tersebut. Tersisa hanya Alice, Sabrina, dan Nicholas.
Amanda mendekati ketiga sahabat dari anaknya, Evelyn. Amanda tersenyum sumringah menatap ketiganya.
"Terima kasih, kalian sudah datang ke acara ini. Hanya sebuah acara pesta ulang tahun kecil-kecilan, tapi ini mungkin akan sangat berarti untuk Evelyn," terlihat sangat jelas mata Amanda berkaca-kaca.
"Sama-sama, Aunty. Kami pun sangat senang bisa berada disini, terlebih berada di sekitar Evelyn," ujar Alice. Amanda terlihat sangat bahagia. Ternyata di lingkungan Eve yang baru, Eve di kelilingi orang-orang yang sangat peduli dengannya.
Amanda menatap Nicholas, wanita itu terlihat sangat asing dengan wajah anak laki-laki itu. Nicholas menunduk dan tersenyum.
"Ini siapa?" Amanda menanyakan pada Alice.
"Nicholas, Aunty. Panggil saja Nicky. Saya baru saja pindah." Nicky tampak menjelaskan pada Amanda.
"Oh, benarkah?" kata Amanda. Namun, tak lama setelah itu mereka dikejutkan dengan datangnya seorang pria.
"Eveee!! Evelyn!!!" teriaknya menggelegar. Amanda menoleh dan mendapatkan mantan suaminya, Anthony mendekatinya.
"Di mana anakku?!" tanyanya dengan membawa sebuah kotak besar.
"A-ada di dalam—"
"Evelyn!!" dia berteriak kencang sekali lagi. Evelyn yang tiba-tiba muncul dari samping rumah hanya menatap pria itu dengan tatapan dingin dan datar.
Anthony yang menyadari kedatangan putrinya langsung menebarkan senyuman dan melangkah mendekatinya.
"Selamat ulang tahun, sayang!" Anthony melangkah mendekati Evelyn. Justru Evelyn malah melangkah mundur menjauh.
"Stoop!!" teriak Evelyn. "Jangan melangkah lagi. Lebih baik anda pergi dari sini!" pekik Evelyn.
"Ayah datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun dan memberimu hadiah," jelas Anthony.
"Aku tidak butuh apa-apa dari anda!" teriak Evelyn, lalu dia masuk ke dalam rumah.
Ketika Anthony akan menyusulnya masuk ke dalam, Amanda segera mencegahnya. Wanita itu melarang mantan suaminya masuk ke dalam rumah, karena akan semakin memperkeruh suasana, terlebih lagi Ibunya atau nenek Evelyn.
"Anthony, tunggu! Lebih baik kau jangan menyusulnya ke dalam!" cegah Amanda.
"Tapi aku ini adalah Ayahnya, dan aku ingin mengucapkan sweet seventeen-nya dan memberikan kado ini untuknya!" kekeh Anthony.
"Anthony!!!" teriak Amanda kesal. Wanita itu menahan tangan mantan suaminya.
"Tolong, jangan buat kekacauan disini!" lanjutnya.
"Ayah—lebih baik urungkan niat Ayah itu, karena Eve benar-benar sudah membenci Ayah!" Elying memberanikan diri untuk berbicara. Anthony tampak menghela napas kasar.
"Baiklah, aku titip ini untuk Evelyn!" Anthony menyerahkan sebuah kotak pada Amanda. Setelah itu, dia pamit pergi meninggalkan rumah mantan mertuanya, Pamela.
"Aunty, kami bertiga juga akan pamit pulang," ucap Alice.
"Oh—maaf ya, Anak-anak. Suasana menjadi tidak enak. Kalian tidak pamit dulu pada Evelyn?"
"Kami rasa tidak perlu, Aunty. Suasana hati Evelyn mungkin sedang tidak enak. Besok pun, kami masih bertemu di sekolah," kata Nicholas ramah.
"Terima kasih sebelumnya, ya!"
"Kami pamit dulu, Aunty—kak Elying!" ucap mereka bertiga serempak.
"Hati-hati dijalan!" balas Amanda. Matanya terus menatap ketiga remaja yang akan beranjak dewasa.
Amanda tersenyum, dia merasa bahwa Evelyn mempunyai banyak teman-teman yang care dan mengasihinya. Amanda mengajak Elying untuk masuk ke dalam rumah dan melihat Evelyn duduk menatap ke arah jendela.
"Eve ...." panggilnya melangkah mendekati Evelyn. "Kau dapat hadiah dari Ayahmu!" Amanda memberikan hadiah itu pada Evelyn. Namun, Evelyn langsung membantingnya dan menginjak-injak hadiah dari Ayahnya. Evelyn terlihat sangat kesal dan marah, hingga special gift dari Ayahnya hancur. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci kamar tersebut. Gejolak hati yang tak bisa dibendung lagi. Kali ini Eve benar-benar sangat marah.
Evelyn terdiam dan duduk menyandar pada lemari kayu. Dia begitu sangat tidak suka jika pria itu datang dan menunjukkan mukanya pada dirinya. Mood Evelyn langsung berubah, dia tak menghiraukan panggilan dari sang Ibu atau Kakaknya. Evelyn mendongak ke atas menatap langit-langit kamarnya, dia berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh mengalir. Akan tetapi usayanya gagal, buliran bening itu lolos mengalir dengan sukses tanpa hambatan. Evelyn terlihat terisak menangis, bahunya bergejolak hebat.
Sesaat tangannya menyentuh sesuatu di dalam saku celana yang dia pakai. Eve mengeluarkan sebuah benda yang mengganjal. Eve mencermati benda tersebut, lalu dia tersenyum kaku. Sebuah benda kecil yang mungil dan manis itu adalah gift special dari Nicholas. Eve teringat dengan ucapan Nicholas untuk membukanya nanti. Kini Eve merasa bahwa sekarang ini saatnya membuka gift tersebut. Entah kenapa setiap Eve melihat benda itu, hatinya terasa nyaman. Memang setelah mengenal Nicholas, Eve merasa sangat nyaman dan tentram berada di samping Nicholas. Jemari tangannya membuka pelan bungkusan kecil itu, hatinya begitu sangat senang dan penasaran dengan isi bungkusan dengan dominan warna merah muda.
Evelyn teringat ucapan Nicholas yang mengatakan, kau harus memakai benda tersebut. Ya, Kata-kata itu semakin membuat Eve penasaran. Dengan cekatan, dia membukanya. Setelah terbuka, mata Eve membulat sempurna. Evelyn benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia melihat sebuah benda yang berkilau di hadapannya. Eve tak menyangka, jika Nicholas akan memberinya kado sebuah benda yang memang sangat Eve inginkan untuk saat ini. Ya, benda yang berkilau itu adalah special gift dari Nicholas, sebuah kalung titanium dengan liontin dolphin.
Senyuman Eve mengembang di bibirnya, segala keluh kesah, kekesalan, emosi, dan amarah yang dia rasakan langsung hilang begitu saja ketika melihat benda tersebut. Untuk sesaat, Eve lupa akan amarahnya pada Anthony, Ayahnya. Eve segera berdiri dari duduknya, dia memutarkan badan, dan menghadap ke arah cermin di depannya. Seulas senyum kembali terukir. Dia kembali teringat kata-kata Nicky yang terucap ketika acara party ulang tahunnya tadi.
Evelyn mengalungkan liontin itu ke lehernya yang jenjang. Dia segera mengaitkan liontin tersebut. Kini liontin dengan bandul dolphin tersebut terpasang sempurna di leher Evelyn.
"Cantik dan manis," beonya pelan menatap bayangannya yang memantul di cermin. Tak henti-hentinya Eve menatap kalung tersebut, tangannya terus memegang bandulan kalung.
"Dari mana Nicky tahu kalau aku sangat menyukai dolphin?" lirihnya tak percaya.
"Apa Nicky bisa membaca pikiranku?" imbuhnya. Eve terlihat mengobrol sendiri dengan bayangannya di kaca.
Eve terlihat sangat girang, dia menari-nari dan memutar-mutar di depan cermin. Tak henti-hentinya dia tersenyum.
"Besok aku harus berterima kasih pada Nicholas!" gumamnya. Evelyn bergerak menuju ranjangnya, lalu dia hembaskan tubuhnya di atas ranjang.
"Kenapa aku begitu tenang ketika mengingat Nicky? Aku bahkan sangat nyaman berada di sampingnya. Apalagi setiap berada di dekatnya, aku bisa melupakan segala kekesalanku," ucapnya menatap langit-langit kamar.
"Aku bahkan tidak bisa menjawab pertanyaanku sendiri!"
__***__
Evelyn melangkah lesu menyusuri trotoar. Hari itu masih pagi, baru sekitar jam 6 pagi, tapi Evelyn sudah tampak tak semangat dan terlihat tidak bersemangat. Dalam hati dia terus menerus mengomel-ngomel. Hingga akhirnya dia menabrak seseorang dijalan.
"Awww!!" pekiknya.
"Kalau jalan itu mata lihat ke depan, bukan menunduk, semua orang jadi kau hormati!"
"Lagi pula kenapa kau berhenti di tengah jalan!" Evelyn ketus.
"Tengah jalan? Ini pinggir jalan. Itu di depan zebra-cross, tempat pejalan kaki menyeberang!"
Evelyn memiringkan kepalanya, menghindari tubuh yang sedang berdiri di depannya, lalu dia mendongak ke atas menatap rambu lalu lintas.
"Oppz—sorry!" cicitnya.
Saat lampu merah menyala, dengan reflek anak laki-laki itu menarik tangan Evelyn dan segera membawanya untuk menyeberang. Evelyn menurut saja saat tangannya ditarik olehnya. Setelah sampai di seberang jalan, Evelyn langsung menarik tangannya sendiri dari genggaman tangannya.
"Terima kasih, tapi maaf!" ucapnya.
"Sudahlah, ayo!" ajak Nicholas menarik tangan Evelyn kembali. Mereka berdua berjalan beriringan dengan tangan masih bergenggaman.
"Kita berjalan tidak harus seperti ini 'kan?" Evelyn mulai memaksa melepaskan genggaman tangannya ketika sampai di depan gerbang sekolah. Namun, Nicholas tak merespon ucapan Evelyn.
Evelyn kembali melepas tangannya dengan paksa, dan akhirnya genggaman tangan itu lepas. Mereka berdua berpisah karena masuk ke kelas masing-masing. Ya, kedekatan mereka berdua terbilang sangat singkat. Evelyn dan Nicholas tak butuh waktu lama untuk dekat, karena itulah banyak para murid cewek yang iri pada Evelyn, termasuk dia.
Singkat cerita, istirahat siang berbunyi. Semua murid berhamburan keluar, ada yang ke kantin, ada yang sekedar duduk di bangku depan kelas, ada yang membaca buku di taman, dan ada yang tetap tinggal di dalam kelas. Istirahat siang itu, Evelyn hanya duduk di dalam kelas. Walaupun Alice dan Sabrina sudah merayu-rayu dia untuk ke kantin, akan tetapi sepertinya Evelyn memang sedang dalam keadaan badmood.
Disaat kedua sahabat Evelyn bersusah payah merayu Evelyn, tampak Nicholas berjalan dengan kalemnya masuk ke dalam kelas Evelyn. Hal ini membuat para murid cewek yang berada di dalam kelas tampak histeris.
Sejak Nicholas resmi menjadi murid Kingston Senior High School, dia sudah mencuri banyak perhatian para murid-murid, terutama murid cewek. Nicholas memang hampir sempurna.
Sorot mata Nicky, langsung tertuju pada Evelyn yang sedang bermalas-malasan. Dia meletakkan kepalanya di atas meja. Nicky langsung duduk di bangku depan Evelyn. Alice dan Sabrina hanya diam dan menggeser tubuh mereka. Sedikit gerakan meja ketika Nicky duduk, membuat Evelyn berdecak kesal.
"Aku bilang tidak ingin ke mana-mana, jadi kalian pergi saja sendiri ke kantin!" gerutu Evelyn.
Nicky tersenyum mendengar itu, lalu jemarinya menggetok meja berulang kali. Akan tetapi Evelyn belum bereaksi, dia hanya menghela napas kasar. Nicholas kembali menggetok meja dengan penuh irama.
"Sudah aku bilang, aku sedang tidak ingin ke mana-mana!" Evelyn mengangkat kepalanya dan langsung mendapat tatapan lembut dari Nicholas.
"Ni-Nicky!"
Nicholas menaikkan alis sebelah kanan. Terukir senyuman manis di bibirnya dengan lesung pipi yang menambah kesempurnaannya.
"Apa kau sakit?" tanya Nicky. Evelyn menggeleng. "Lalu?" sambungnya.
"Aku sedang ingin sendiri!" jawab Evelyn.
"Karena Ayahmu?!" Nicholas menebak-nebak. Evelyn langsung terdiam.
Tebakan Nicholas ternyata benar. Mungkin gara-gara kejadian waktu acara pesta ulang tahunnya kemarin yang di akhir acara sang Ayah datang untuk memberi ucapan dan sebuah kado. Namun, ternyata justru Evelyn tidak menyukai jika sang Ayah datang ke acaranya.
Disini perhatian Nicholas terlihat sangat jelas pada Evelyn, sehingga membuat para murid yang melihatnya iri, terutama murid cewek. Ada yang tidak suka dengan kedekatan mereka, tapi justru sebagian mendukung keduanya.
Perhatian Nicholas terlihat sangat berbeda, dia seperti mencurahkan kasih sayangnya pada Evelyn. Keduanya memang tidak ada hubungan apa-apa. Namun, mereka seperti sudah menjalin sebuah hubungan.
Kedekatan Evelyn dan Nicholas menjadi gosip dikalangan para murid cewek. Nicholas memang belum lama pindah, tapi dia sudah langsung terlihat akrab dengan Evelyn. Hal ini membuat iri dan dengki dalam hati seseorang. Bahkan setiap dia melihat kedekatan dan keakraban Eve dan Nicky, tak sadar dia mengepalkan kedua tangannya.
"Lihat saja. Apa yang akan aku lakukan padamu, Eve!"
__***__
Bel pulang tanda jam belajar telah berakhir. Memasuki musim panas, siang itu tampak sangat terik. Evelyn berjalan sambil sesekali mengusap peluh yang menetes. Dia berjalan sendirian menyusuri jalanan kota, lalu dia berhenti disebuah toko ice cream. Evelyn mendorong pintu kaca dan masuk ke dalam, terasa sangat berbeda dia rasakan. Rasa dingin langsung menyusup menembus seragam sekolahnya. Rasa dahaga kian menyerangnya, Eve segera memesan ice cream favoritnya dan langsung memilih duduk di kursi paling pojok berhadapan dengan kaca dengan pemandangan jalanan luar. Sembari menunggu pesanan ice cream datang, Eve mengeluarkan ponselnya dan bermain dengan benda pipih tersebut.
Seseorang mendekati Evelyn dengan membawa dua cup ice cream. Dia langsung duduk di samping Evelyn.
"Ini ice cream-mu!"
"Terima kasih!" Evelyn menoleh dan dia mendapatkan Nicholas dengan senyum manis yang mengembang.
"Kenapa bengong?" ucapan Nicky membuyarkan lamunan Eve.
"Ti-tidak!" jawabnya gugup.
"Kalau begitu, makanlah. Jangan sampai meleleh," sambungnya.
Evelyn dan Nicholas terlibat dalam percakapan yang tidak sengaja mereka buat. Saat itu juga mereka saling mengenal lebih dekat. Mungkin karena mereka mempunyai latar belakang keluarga yang sama menjadikan Nicholas memahami keadaan Evelyn. Terlebih Nicholas adalah anak semata wayang yang mungkin dia merasa sangat kesepian, sedangkan Evelyn bisa dibilang keluarganya berpecah belah. Dia lebih memilih tinggal bersama dengan Neneknya. Elying, sang kakak dia tetap tinggal bersama dengan Ibunya.
Nicholas sendiri tinggal bersama dengan Ibunya. Sejak berpisah dengan Ayahnya, sang Ibu menjadi seorang single-parents. Tak ada keinginan untuk menikah lagi.
Nicholas James tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, dewasa, dan bertanggung jawab. Meskipun dia baru berusia 18 tahun. Evelyn baru menyadari jika Nicky ternyata bernasib sama dengan dirinya, tapi Nicholas terlihat cuek dan dingin walaupun kadang dia juga bersikap hangat. Evelyn memang sempat merasakan frustasi, akan tetapi dia berusaha untuk menutupinya. Ada kalanya Eve ingin lari dari semua masalah hidup. Satu hal yang sampai saat ini tetap sama adalah kebenciannya terhadap sang Ayah. Namun, lewat Nicholas-lah, Eve menjadi sedikit lebih terbuka. Dia menceritakan segala keluh kesannya, dan Nicky pun menjadi pendengar setia.
Percakapan keduanya dilihat seseorang dari seberang jalan. Rasa iri itu kembali datang ketika melihat Eve dan Nicky terlibat obrolan yang cukup serius.
“Aku akan membuat perhitungan denganmu!”
Siapa yang iri dengan kedekatan Eve dan Nicky?? Apakah dia orang terdekat Eve?
To Be Continue … See ya on next chapter.
Mohon dukungannya ya, Kak. Vote dan krisarnya ♡´・ᴗ・`♡
Terima kasih.
Evelyn melangkah lesu menyusuri trotoar. Hari itu masih pagi, baru sekitar jam 6 pagi, tapi Evelyn sudah tampak tak semangat dan terlihat tidak bersemangat. Dalam hati dia terus menerus mengomel-ngomel. Hingga akhirnya dia menabrak seseorang dijalan. "Awww!!" pekiknya. "Kalau jalan itu mata lihat ke depan, bukan menunduk, semua orang jadi kau hormati!" "Lagi pula kenapa kau berhenti di tengah jalan!" Evelyn ketus. "Tengah jalan? Ini pinggir jalan. Itu di depan zebra-cross, tempat pejalan kaki menyeberang!" Evelyn memiringkan kepalanya, menghindari tubuh yang sedang berdiri di depannya, lalu dia mendongak ke atas menatap rambu lalu lintas. "Oppz—sorry!" cicitnya. Saat lampu merah menyala, dengan reflek anak laki-laki itu menarik tangan Evelyn dan segera membawanya untuk menyeberang. Evelyn menurut saja saat tangannya ditarik olehnya. Setelah
Evelyn merenung duduk di sisi ranjang. Dia memegang kalung yang melingkar manis di lehernya. Kalung silver berliontin lumba-lumba itu terlihat sangat cocok terpasang di lehernya. "Cantik!" celetuk Evelyn. Senyuman mengembang di bibirnya. Namun, setelah itu mendadak sirna. Kembali dia teringat wajah pria brengsek itu. Evelyn mendongak, menatap jam yang menempel di dinding kamarnya. Hari sudah mulai beranjak senja. Tak lama setelah itu, terdengar sebuah teriakan memanggil namanya. "Eveeee!" "Yaaa!" "Ayo makan!" Evelyn melangkah mendekati pintu kamarnya. Namun, dia urungkan niatnya. Tangannya yang terulur, kembali dia tarik. Bukan tak mau bergabung untuk makan malam, tapi karena Evelyn mendengar ada suara pria brengsek itu. "Kenapa dia ada disini? Apa Ibu yang mengundangnya?" Eve melangkah kembali duduk di sisi ranjang. Dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan pria itu. Eve menghembaskan tubuhnya. Dia
Rumah pohon yang ada di pohon tak jauh dari rumahnya. Rumah yang dulu dibuat oleh Nicholas dan Ayahnya. Rumah itu selalu dipakai oleh Nicholas untuk menyendiri. Kini Nicholas membawa Evelyn ke rumah pohon favoritnya. Evelyn terlihat sangat senang berada di sana. Dia begitu sangat betah sampai dia ketiduran di rumah pohon itu. Ketika Evelyn tertidur, Nicholas tampak memandangi wajahnya dengan seksama. Nicholas begitu menikmati keindahan paras Eve, dia tertegun melihatnya. Saat Eve menggeliat pelan, Nicholas tampak gelagapan. Eve merubah posisi tidurnya. Dia sepertinya sedang mencari posisi tempat yang nyaman. Seharusnya sudah nyaman, karena Nicky menaruh karpet dengan bulu halus serta ada kasur lipat, bahkan selimut tebal. Apa dia akan tidur terus? Padahal hari sudah mulai sore. Bagaimana kalau sampai orang rumah khawatir mencarinya, batin Nicky. Nicky berusaha memban
Evelyn berdiri tepat di sebuah rumah pohon. Hari itu memang dia berniat untuk menginap di rumah pohon milik Nicholas. Sebenarnya apa yang terjadi pada Evelyn? Beberapa jam sebelumnya. Evelyn yang baru pulang dari sekolah berdiri mematung ketika melihat sebuah mobil hitam terparkir di depan rumah neneknya. Eve sudah bisa menduga bahwa itu adalah mobil milik ayahnya. Evelyn memutuskan untuk masuk ke dalam rumah neneknya, dia tampak cuek ketika melihat ayahnya berdiri menyambutnya dan hendak memeluk dirinya. Namun, Eve langsung menepisnya. Evelyn langsung masuk ke dalam kamarnya. Namun, Anthony mengejarnya. Pria itu terus mengetuk pintu kamar Eve, hingga Eve membukanya, tapi dia langsung melangkah meninggalkan Anthony dengan sebuah tas di tangannya. Dia langsung berlari keluar dari rumahnya tanpa berpamitan dengan neneknya. Satu tujuan yang dituju Eve adalah rumah pohon milik Nicholas. Itulah tempat
Amanda terlihat sibuk dengan tumpukan berkas di mejanya. Wanita itu sekarang menjadi tulang punggung keluarganya. Amanda. Amanda melirik jam tangannya. Jarum jam bergerak pelan menunjukkan pukul 12 siang. "Amanda ...," panggil Richie. Amanda pun bangkit dari duduknya. "Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" "Kita makan siang dulu!" ucap Richie tanpa basa-basi. "Kita?" ujar Amanda kaget. "Saya tidak paham apa maksud bapak?" "Kita ... ya kita berdua. Memang siapa lagi?" Richie membenarkan dasinya. "Pak Richie 'kan bisa makan siang bersama dengan yang lain." Amanda mencoba menolaknya. "Tidak!" tolak Richie, "aku inginnya makan siang denganmu. Jadi bereskan semua file mu itu. Kau bisa mengerjakannya setelah makan siang." "Ta-tapi, pak." "Tidak ada penolakan!"
Amanda tampak duduk di sebuah halte dekat kantornya. Hari itu memang Amanda tidak membawa mobil. Wanita itu tampak sedang menunggu taksi. Beberapa saat setelah itu, sebuah mobil berhenti tepat di depan Amanda. Saat kaca itu turun, tampaklah wajah tampan Richie dari dalam. Pria itu tersenyum sangat manis. "Masuklah, aku akan mengantarmu pulang ke rumah," tawar Richie. 'Tidak pak, terima kasih. Saya akan menunggu taksi saja," tolak Amanda. "Kau tahu tidak, jika sebentar lagi akan turun hujan. Akan lebih susah lagi jika tidak ada taksi atau bus yang lewat." Richie membuka pintu dari dalam, lalu menyuruh Amanda untuk masuk ke dalam. Rintik hujan akhirnya turun, hal itu membuat Amanda dengan terpaksa masuk ke dalam mobil. "Nah, betul 'kan hujan turun," kata Richie sambil melongokkan kepalanya. "Pasang seatbell mu."
Nicholas melipat setelan baju olahraganya dan memasukkan ke dalam tas. Nicky juga memasukkan buku-bukunya yang ada di atas meja, lalu dia melirik jam yang melingkar ditangannya. Senyuman mengembang menghiasi bibir dan lesung pipi pun terlihat. Nicky meraih tas punggungnya. Baru akan melangkah keluar dari kelasnya, tiba-tiba seseorang memanggilnya. "Nicky!" panggil Irene. Nicky pun menoleh kearahnya. "Ada apa?" balasnya. "Bisakah menolongku untuk mengangkat tumpukan matras ini ke gudang olahraga. Aku tidak kuat membawa semuanya." Irene beralasan. Nicky pun melangkah mendekati Irene dan melihat tumpukan matras di lantai. "Oke. Aku akan mengangkat sebagiannya dan sebagian lagi kau yang bawa. Bagaimana?" tawar Nicholas pada Irene. "Baiklah, dari pada tidak sama sekali dan aku bisa kena marah pak Richard," kata Irene. Lantas Nicky mengambil beberapa matras dan membawanya
Evelyn akhirnya diselamatkan oleh Nicholas. Terlambat sedikit saja nyawa Evelyn pasti sudah melayang. Nicholas pun membawa Evelyn ke ruang perawatan. Ryan dan beberapa guru datang ke laboratorium, mereka segera memadamkan api. Beruntung api belum terlalu besar dan belum menjalar kemana-mana, tapi kalau terus dibiarkan akan sangat berbahaya. Api bisa saja melahap habis gedung sekolah tersebut. Semua pasti akan menunduh Evelyn pelakunya karena Evelyn satu-satunya orang yang berada di laboratorium tersebut. "Kenapa ini bisa terjadi?" kata pak Steven selaku kepala sekolah SMA Kingston. Pak Steven dan Bu Claire menatap Ryan. "Kau tadi ke sini bersama dengan siapa?" tanya pak Steven. "Ni-Nicholas, pak," jawab Ryan. "Lalu dimana dia sekarang?" timpal bu Claire. "Mungkin sedang berada di ruang perawatan, karena tadi Nicky berusaha menolong