Cittt
Rem berdecit. Jhon menghentikan mobil tepat di depan teras kediaman Lousion.
Aleta bergegas keluar. Ia berlari sedari menuruni mobil sampai tiba di kamar.
Pintu kamarnya terdengar dibanting. Seketika Beni, anjing kesayangan Lousion mengerjap bangun. Anjing itu menggonggong.
Lantas, Aleta membuka pintu kamarnya kembali. Ia melempar bantal ke arah Beni."Anjing sialan! Suaramu benar-benar menusuk telinga ku!" maki Aleta.
Biarpun Beni hanya seekor anjing. Beni dapat menangkap ekspresi kemarahan wajah Aleta. Anjing itu langsung diam. Wajahnya mengkerut. Ia meloncat turun serta berlari menaiki anak tangga.
"Lapor sana! Lapor dengan ayah mu!" geram Aleta sembari membanting pintu.
Dan kali ini yang terkejut bukan Beni, melainkan Katy. Kucing kesayangan Aleta sekaligus musuh bebuyutan Beni.
Katy melompat dari tempat tidur Aleta. Kemudian Aleta tangkap dengan gemas.
"Oh, sayang ku." Aleta mencium gemas pipi Katy. Ia usap-usap bul
Lalu, didapatinya Aleta tengah mendorong tubuh seorang wanita ke permukaan tembok. Ia mengarahkan pisau cincin miliknya pada leher wanita tersebut. Sekali jurus mata tajam pisau akan menyayat kulit lehernya.Tidak ada perlawanan apapun, yang dilakukan wanita tersebut. Ia diam, ketakutan.Jangankan melawan Aleta. Melihat tatapan Aleta saja, ia bisa kencing berdiri."Aleta! Kau mau apa?" Tanya Jhon, mendekat dengan hati-hati. Takut kalau-kalau Aleta nekat."Stop! Berhenti di sana!" Teriak Aleta."Ok tapi lepaskan wanita itu,"
Kemudian barisan di belakang Aleta membrondong masuk. Namun, mereka tetap tidak berani mendahului Aleta atau gadis itu akan mengeluarkan jurus andalan.GrrrRahang Aleta mengeras. Ia menarik kursi di antara Jhon dan Mini. Lantas, menghempas kasar bokongnya dibarengi melempar tas ke dada Jhon.Jhon agak terkejut. Untunglah ia cepat menangkap. "Oh, hai," sapa Jhon. Aleta balas menyerongkan bibir dengan endusan sebal."Hay, Aleta," sapa Mini juga.Aleta membuang wajah. Ia menggosok-gosok ujung hidungnya. Tanpa basa-basi, Aleta menyambar piring makanan di hadapan Jhon.Gadis itu merampas pisah dan garp
Dilumatnya bibir Aleta. Rasanya manis dan lembut. Siapapun pasti akan dibuat ketagihan. Seperti Jhon.Dan kenyataannya hanya Jhon seorang, yang berhasil mengambil semua itu. Sebuah keberuntungan memang.Aleta membelalak. Ia berontak. Ia mendorong kasar dada bidang Jhon, tetapi Jhon gencar menekan tubuhnya.Dalam hati Aleta berkata, "Bajingan!"Lumatan Jhon beralih ke bibir atas gadis itu. Ia isap seolah bibir Aleta adalah mie ayam.Sembari meronta. Sesekali mata Aleta me
Kedua peluru itu mulai berdekatan, berdekatan, dan dalam jarak satu inci mereka saling melewati.Sigap Jhon menyamping. Membiarkan peluru itu menerjang tiang penyangga gedung kampus. Sementara peluru darinya berhasil menggoreskan luka di lengan pria pengintai itu.Darah segar merembas keluar melalui serat pakaian pria itu. Ia melirik lengannya. "Bajingan!"Secepat kilat, Jhon menekan lengannya yang terluka. Darah segar si pengintai keluar semakin deras."Ash." Jelas ia kesakitan.
Bibir Aleta mengembang. Bola matanya bergerak ke atas. Tidak salah lagi. Pasti gadis itu sedang memikirkan sebuah ide."Hum, aku sudah lama tidak mengunjungi arena tarung bebas milik ayah Beni.""Your mean, your father?""Siapa lagi ayah Beni? Aku? Ck, tidak sudi," jawabnya merotasikan mata.Jhon mengulas senyum. Ia suka cara Aleta merotasikan mata. "Dan kau ingin datang ke sana?""Tentu saja, dan lagi biasanya Sky suka ikut serta. Kau bisa mengambil kesempatan ini," sar
"Tidak semudah itu, Sky!"Sudut bibir Sky terangkat sinis. Seseorang sejenis dirinya mana mau dikalahkan oleh Jhon, yang ja anggap pria rendahan dan antah berantah."Jangan harap bisa lolos dariku, Jhon Christy." Tekan Sky kemudian melingkarkan kaki kanannya ke kaki kiri Jhon. Dari gerakan itu, Sky mendorong bagian belakang lutut Jhon. Membuat kaki Jhon bertekuk sehingga posisi tubuhnya sedikit membungkuk dan Sky memelintir tangan pria itu ke belakang juga.KrekkkSaking kuatnya pelintiran tangan Sky. Tulang sendi Jhon seolah akan patah. Pria itu meringis keci
"Bodoh!" Hardik Lousion. "Bagaimana bisa kau kalah dari seorang darah asing seperti keparat itu, hah?" Lanjutnya, menyudutkan Sky.Sky hanya mampu tertunduk. Jangankan menatap, membalas hardikan sang ayah pun ia tidak berani meskipun dalam hatinya ia ingin sekali melawan pria berdarah Rusia murni itu.Lousion mengusap kasar rambutnya ke belakang. Dan ia melihat bingkai foto mendiang sang istri. Di dalam foto tatapan mendiang istrinya persis seperti tatapan Aleta. Namun, mendiang istri memiliki sedikit kehangatan untuk Lousion sehingga pria itu masih amat sangat mencintai istrinya hingga detik ini."Lihat, kau lihat, wanita yang telah berbaik hati me
"Akh!"Sebuah benda berat seakan menghantam kepala Aleta. Pening menjalari otak berisi rencana pembunuhan itu. Langkahnya terhenti. Ia berdiri memukul-mukul kepalanya."Hei, ada apa?" Tanya Jhon, lembut tapi khawatir. Jhon tarik tangan Aleta. "Jangan dipukul begitu, kau bisa gila dan saat kau gila dunia akan damai.""Damn!" Umpat Aleta disertai mata melotot."Bercanda, mana mungkin dunia damai, yang ada malah kacau balau termasuk dunia ku."Receh sekali gombalan Jhon. Setidaknya mampu mengukir senyum tipis pada wajah Aleta. Meskipun senyum itu cepat menghilang karena sakit mendera bagai ditusuk.
Dorrr!Tarr!Peluru berdesing. Kaca belakang mobil Jhon pecah. Meski serpihan kaca tidak lari ke depan tapi Jhon reflek melindungi Aleta dengan satu tangannya, sedang tangan lain tetap memegang kendali setir."Kamu tidak terluka, hah?" Jhon bertanya khawatir.Aleta melihat ke depan. "Fokus saja ke depan! Biar aku yang menghadapi mereka!"Jhon tak yakin tapi dia tahu Aleta tak bisa diremehkan. "Jika merasa tak aman, kamu harus segera sembunyi!"Aleta seolah tak menghiraukan. Gadis yang beberapa jam lalu mengucapkan janji suci pernikahan di hadapan Pendeta, Jhon dan banyak orang itu, kini mengeluarkan senjata api dari saku jok lalu berpindah ke belakang walau sulit sekalipun."Dua mobil!" seru Aleta.Jhon melirik kaca spion. Dia yakin mobil paling depan ditumpangi Sky dan Markus, sedang mobil di belakangnya mungkin anak buah Sky.Dorrr!Tak mau kalah, melalui celah pecahan kaca mobil, Aleta menembakkan senjata apinya.Tarrr!Bidikkan Aleta berhasil menembus kaca mobil depan mobil yang d
Waktu bergulir.Jhon berhasil membujuk Ibunya segera pergi dari acara pernikahan anak temannya itu usai dirinya berbohong jadi tak sabar ingin menikah juga.Ibunya sangat senang, hingga sepulang dari sana mereka langsung mampir ke kantor catatan sipil guna mendaftarkan pernikahan Jhon bersama Aleta minggu depan.Lebih bagus lagi, Jhon berhasil merayu Ibunya tidak pergi ke pasar karena jika wanita itu sudah pergi ke pasar maka kaki Jhon bisa dibuat bergetar saking lelahnya berkeliling.Sekarang mereka berada di rumah.Ibunya Jhon menikmati secangkir teh di lantai dua yang berhadapan dengan bukit-bukit, sedang Jhon bersama Aleta berhadap-hadapan secara serius."Mereka dalam perjalanan ke sini," ungkap Jhon sungguh-sungguh.Aleta mengangguk tak kalah serius. "Lalu bagaimana?""Kedatangan mereka pasti akan membuat kekacauan," tebak Jhon, "jadi kita harus pergi dari sini setelah menikah nanti."Aleta mengangguk sekali lagi. "Setuju!""Kamu punya tempat rekomendasi?""Moskow," jawab Aleta m
Aleta dan Jhon duduk berdampingan di salah satu kursi tamu.Kebingungan tampak jelas di mata Aleta, sedang di mata Jhon hanya ada perasaan campur aduk yang bisa saja membuatnya mencekik siapapun.Ibu pria itu tidak duduk bersama mereka tapi bergabung dengan Ibu-ibu lain untuk bergosip dan tertawa renyah tanpa beban."Bisa-bisanya anak sebesar diriku dibawa kondangan!" geram Jhon tertahan.Aleta menoleh bertanya. "Kondangan itu apa?""Mendatangi hajat orang lain. Contohnya seperti ini. Kita datang sebagai tamu yang menyaksikan pernikahan mereka," jawab Jhon.Aleta manggut-manggut. "Kalau begitu, aku juga pernah kondangan.""Kapan?" tanya Jhon balik."Sudah lama, jauh dari Moskow.""Apa seperti ini?" tanya Jhon lagi.Aleta mengedarkan pandangan lalu menggeleng samar. "Tidak ada pisang sebanyak itu."Jhon mengarahkan pandangannya pada pisang dua tundun yang menempel pada tiang-tiang akses masuk Pendopo."Tidak ada tumpukan makanan yang berjajar seperti itu, tidak ada toples cemilan dan a
Hap!Tangan Jhon sigap menangkap. Dan tak mau menunggu celurit lain datang, Jhon langsung melarikan diri ke kamarnya.Brak!Tepat setelah pintu tertutup, ujung celurit berhasil menembus pintu kayu kamar Jhon dan itu hampir saja mengenai kakinya kalau dia tidak segera melompat."Ya Tuhan, baru ditinggal beberapa bulan bar-barnya semakin mengerikan!""Jhon! Keluar!" teriak Ibunya.Jhon berlari melompati tempat tidur lalu buru-buru membuka lemari. Dia menggeledah seluruh isinya sampai menemukan set pakaian anti benda tajam yang dulu digunakan sebagai perlindungan ekstra.Sekarang set pakaian itu kembali dipakai lantas Jhon membuka pintu kamar sebelum pintunya rusak akibat serangan Ibunya."Cukup!" teriak Jhon setengah emosi, "pintu kamarku bisa ganti tujuh kali nanti!"Ibunya masih berdiri di tempat. Dengan seringai lebar, dia mengisyaratkan Jhon naik maka Jhon pun mengikuti."Lumayan," ucap Ibunya sambil memperhatikan Jhon dari ujung ke ujung."Di sana aku bekerja sebagai Bodyguard. Har
Jhon menarik Ibunya masuk. Sambil sesekali melihat ke luar, pria itu memprotes wanita tersebut. "Apa-apaan Ibu ini!"Ibunya menanggapi dengan santai. "Aleta bilang kalian sudah tidur bersama, tentu menikah cepat adalah jalan terbaik."Jhon melotot ternganga. Pria itu tak menyangka Aleta bisa berkata terang-terangan seperti yang diakui Ibunya."Gadis itu tidak bohong, bukan? Kamu dan dia sudah …" Ibunya sengaja menggantung kalimat sambil mengisyaratkan sesuatu.Karena sudah terlanjur diketahui, Jhon pun tak mengelak meski sebenarnya sangat malu. "Iy–a, itu ben–ar tapi pernikahan kita tidak bisa secepat itu, Ibu!"Ibunya menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri. "Tidak bisa, Jhon! Kamu sudah merenggut kesuciannya jadi kamu harus sesegera mungkin menikahi Aleta.""Bu!""Ingat, Jhon! Kamu ini tinggal di Indonesia. Adatmu disini jangan disamakan dengan negara di luaran sana!" Marah Ibunya. "Masih syukur Ibu tidak memukulmu!"Jhon tahu maksud ibunya namun dia tetap tak bisa menerima
Lima jam berselang."Sudah hampir lima jam tapi Ibumu belum datang," keluh Aleta, "apakah rumahmu sejauh Arab Saudi, hah?"Jhon mendaratkan telunjuknya ke permukaan bibir gadis itu. Dan pacarnya yang bar-bar langsung membuka mulut menggigit ujung jarinya."Awh!" pekik Jhon refleks."Kalau masih lama, aku ingin tidur saja." Kesal Aleta.Jhon melirik jam tangannya pelan. Waktu menunjukkan pukul tiga sore, dan seakan sudah tahu sebentar lagi Ibunya datang, pria itu langsung mengemas barang sekaligus mengambil fasilitas hotel yang boleh dibawa pulang."Apa-apaan ini?" Protes Aleta padahal dia sudah siap tidur.Jhon menjawab santai. "Siapkan dirimu, sebentar lagi Ibuku sampai."Aleta melotot kesal luar biasa. "Ya Tuhan!"Drrr! Ponsel Jhon bergetar. Setelah membaca isi pesan, pria itu tanpa komando menggandeng tangan Aleta serta membawanya keluar.Aleta pasrah mengikuti. Dan begitu mereka sampai di pelataran parkir hotel, Aleta dibuat membatu karena rupanya mobil yang digunakan Ibunya Jhon
"Indonesia," ulang Aleta dengan mata menerawang."Efek obat pemberian Ayahmu seharusnya sudah hilang. Apa sekarang kamu mengingat setiap momen di sana?" tanya Jhon serius.Aleta mengedikkan bahu secara malas. "Aku malas mengingatnya kecuali ..." Dengan kalimat menggantung, gadis itu menatap dan membelai wajah Jhon begitu lembut."Tentang pertemuan kita," sambung Jhon disertai seulas senyum.Aleta balas tersenyum, tetapi kali ini senyumannya benar-benar terlihat tulus. "Asal bersamamu, kemanapun aku tidak masalah."Bunga-bunga bagai bermekaran di hati Jhon. Sudut bibirnya terangkat tinggi, dan sekali lagi dia merangkul Aleta penuh cinta.Kemudian hari berganti.Persiapan keberangkatan Jhon dan Aleta ke Indonesia telah siap keseluruhan. Guna mempermudah pelarian mereka bila mana musuh tiba-tiba menyergap, mereka sengaja tidak membawa banyak barang.Pada pukul sepuluh malam, mereka akhirnya memasuki pesawat dan duduk saling bersebelahan. Tak kurang dari sepuluh menit, pesawat terbang men
Cittt!Aleta menghentikan laju mobilnya tepat di depan kantor agen bodyguard milik Romis.Berhubung sudah lewat dari pukul sebelas malam, suasana kantor telah begitu sepi bak tak berpenghuni. Hanya saja, akses utama masuk masih bisa dibuka dan sekarang Aleta melewatinya dengan langkah lebar.Ceklek! Byur!Gadis itu membuka pintu ruangan Romis tanpa aba-aba. Alhasil Romis yang tengah menyeruput kopi sembari menatap laptop, pun seketika menyemburkan kopinya."Kamu …" Penampilan Aleta sungguh jauh berbeda dari kali terakhir dia meninggalkan ruangan Romis, terutama pada bagian belahan pahanya yang nyaris menyentuh pinggul. "Mengambil pakaian di bak sampah mana kamu sampai robek-robek seperti itu?"Aleta tak memperdulikan pertanyaan Romis. Gadis itu membuka genggaman tangannya, sehingga tampak robekan dari gaunnya yang sudah berlumuran darah serta mengeluarkan bau anyir.Perasaan Romis mendadak tak enak. Jakunnya naik turun, ancang-ancang mengambil posisi melarikan diri.Seraya tersenyum
Beberapa detik setelah Haiden keluar, Aleta langsung menghampiri sasarannya!Aleta duduk menyilangkan kaki. Berkat belahan rok yang tinggi, paha mulus gadis itu terekspos di mata sasaran tersebut.Gluk! Sasarannya menelan ludah diikuti jakunnya yang naik turun seakan menahan dahaga.Aleta memanfaatkan hal ini dengan menatap sasarannya penuh gairah. "Izinkan aku bermain, Tuan!"Gluk! Sasarannya menelan ludah sekali lagi lalu mempersilahkan Aleta ikut andil dalam permainan casino mereka. "Silahkan."Aleta lekas meletakkan uangnya di atas meja.Lantaran nominalnya terlalu kecil di mata para pemain casino kelas kakap ini, nominal itu menjadi bahan lelucon mereka. "Nona! Kalau tidak punya uang tidak perlu bertaruh!""Ha ha ha, cantik tapi miskin!""Terlalu sedikit tapi kalau disandingkan dengan tubuhmu mungkin akan seimbang!"Rasanya, Aleta ingin menembak mulut mereka atau merobeknya menjadi tujuh bagian. Hanya saja, sekarang dia masih harus berakting terlihat lembut, anggun dan menggiu