Tanganku bergetar sembari menggenggam ponselku dengan erat. Mataku berair selagi terus menatap judul sebuah artikel yang sedang menjadi trending topic di berbagai platform media sosial.
SHANE ANDROMEDA TERTANGKAP KAMERA SEDANG MENGHABISKAN LIBURAN BERSAMA MANTAN KEKASIHNYA DI SEOUL. Aku tahu Shane tidak pernah mencintaiku dan aku tidak menyalahkannya akan hal itu. Kami berdua dijodohkan oleh kedua orang tua kami. Shane sudah berusaha selama dua tahun untuk menghindari perjodohan itu, tetapi titah kedua orang tuanya adalah mutlak. Meski Shane telah sukses mendirikan perusahaan real estate-nya sendiri, tapi modal terbesarnya berasal dari grup milik ayahnya sehingga mau tak mau, ia akan terus hidup di bawah naungan orang tuanya. Aku sendiri masih berusia delapan belas tahun ketika kami akhirnya dinikahkan tahun lalu. Yah, aku baru saja lulus dari SMA. Bagi orang tuaku, usiaku sudah mencapai angka legal untuk menikah. Meski mereka adalah konglomerat dengan latar belakang modern, tapi kedua orang tuaku cukup konservatif dalam hal pernikahan. Mereka khawatir karena aku adalah anak tunggal dan berjenis kelamin perempuan sehingga dianggap tidak akan mampu meneruskan bisnis keluarga. "Nikah muda itu gak masalah asalkan usiamu sudah legal dan secara ekonomi sudah mapan. Shane itu satu-satunya laki-laki mapan yang usianya sudah cukup matang, tapi tidak ketuaan untuk kamu. Soal cinta, itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Mama dan Papa juga dulu menikah tanpa cinta kok. Buktinya kami langgeng sampai sekarang." Rasanya aku ingin tertawa ketika mengingat perkataan mama kala itu. Acuan mereka hanyalah karena baik ekonomiku maupun ekonomi Shane sudah lebih dari cukup untuk membina rumah tangga tanpa mempertimbangkan kesiapan mental kami, terutama aku. Barangkali usia Shane memang sudah layak untuk menikah. Dia berusia 29 tahun ketika kami menikah tahun lalu. Sedangkan aku, aku baru saja lulus SMA dan belum siap secara mental. Ketika teman-teman seusiaku sibuk mempersiapkan masa depan mereka dengan belajar demi kampus impian, aku malah mengenakan gaun pengantin dan menikah dengan pria yang praktisnya adalah orang asing bagiku. Orang tuaku percaya bahwa Shane bisa mengurusiku dengan baik. Sejak kecil, semua kegiatanku terstruktur dan terjadwal dengan baik. Aku tidak pernah melakukan hal lain selain belajar akademik dan melatih bakat. Semua kebutuhanku mulai dari makan hingga pakaian diurus oleh para pelayan yang dibayar mahal oleh kedua orang tuaku. Sesuai dugaan orang tuaku, memang benar Shane mengurusiku dengan baik. Bahkan, aku tidak merasa seperti seorang istri melainkan hanya anak kecil yang dirawat oleh Shane. Shane tidak ramah padaku sejak awal kami bertemu hingga menikah. Kami bahkan hampir tidak pernah berbicara satu sama lain kecuali untuk hal-hal mendesak. Sepertinya Shane hanya merawatku sebagai bentuk tanggung jawab, tanpa melibatkan perasaan sedikitpun. Aku bukannya tidak pernah berusaha mendekatkan diri padanya selama setahun belakangan. Aku selalu menunggunya ketika pulang kerja, aku selalu berusaha mengajaknya mengobrol, akan tetapi semuanya sia-sia. Hingga akhirnya Shane jenuh dengan segala usahaku. Suatu malam, ia mengajakku berbicara. Ia menceritakan padaku bahwa sebelum menikahiku, ia memiliki kekasih. Wanita itu bernama Erina. Mereka sudah berpacaran sejak kelas tiga SMA. Satu-satunya alasan kenapa Shane tidak bisa menikahi Erina adalah karena Erina bukan berasal dari keluarga konglomerat. Kedua orang tua Shane menolak Erina. Bagi mereka, Shane yang merupakan anak tunggal adalah satu-satunya harapan. Pernikahan Shane harus membawa benefit untuk keluarga mereka. Dan akulah yang dipilih oleh kedua orang tua Shane. Seorang putri tunggal dari pengusaha yang mereka anggap selevel dengan keluarga mereka. Dengan tujuan yang sama yaitu mendapatkan kekaguman publik dan menyatukan kekayaan, orang tua kami sepakat untuk menikahkan kami. Wanita yang ada di artikel itu--meski bagian wajahnya dibuat buram--aku tahu dia adalah Erina. Shane seharusnya sedang melakukan perjalanan bisnis ke Korea. Aku tidak tahu kenapa dia malah bertemu Erina di sana. Meski di hati Shane selalu ada Erina dan barangkali mereka memang menjalin hubungan di belakangku, tapi Shane tidak seharusnya seterang-terangan ini. Dia tahu betapa terkenalnya dirinya dan berita tentang dirinya adalah yang paling ditunggu-tunggu. Selain itu, bukankah seharusnya dia tahu orang tuanya akan bereaksi seperti apa akan kabar ini? Tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggu hingga Shane kembali. Aku tidak akan menghubunginya. Kami sama sekali tidak pernah bertukar pesan maupun menelepon bahkan ketika Shane sedang berada di tempat yang jauh. Aku merasa terlalu asing dengan hal-hal semacam itu karena bahkan saat bersama di penthouse ini, kami hampir tidak pernah berinteraksi.Dua hari sejak berita itu viral dimana-mana, akhirnya Shane pulang. Aku sedang duduk menonton televisi di ruang depan ketika mendengar suara pintu terbuka. Shane muncul dengan menyeret koper hitamnya. Ia selalu terlihat tampan luar biasa meski saat ini ada gurat lelah di wajahnya. Tanpa memedulikan kehadiranku, Shane berderap ke kamarnya. Sebelum ia sempat menggapai kenop pintu kamarnya, aku berdiri dan memanggil namanya. "Mas Shane." Gerakan Shane terhenti. Aku mendengar helaan nafas lelah darinya sebelum ia akhirnya berbalik dan menatapku. Ia tak mengucapkan apapun. Hanya berdiri diam dan menatapku tanpa ekspresi. "Kamu gak punya penjelasan apapun untuk aku?" tanyaku seraya berjalan ke arahnya. Shane menurunkan pandangannya untuk melihatku. Sementara aku mendongak untuk mempertemukan mata kami. Tinggi Shane mencapai 188 sentimeter. Dengan postur setinggi itu, kepalaku hanya mencapai dadanya, hampir perutnya malah. "Penjelasan apa yang kamu inginkan?" Aku menatapnya taj
Keesokan pagi, aku bangun dengan pening luar biasa. Semalaman aku menangis karena kesal. Aku tidak tahu apa yang membuatku seperti ini. Selama ini aku tahu Shane selalu mencintai Erina, tapi pria itu seolah sudah menyerah akan cintanya pada Erina. Aku tidak peduli pada siapa hati Shane dilabuhkan, asalkan ia berada di sini bersamaku. Perlahan, aku bangun dari ranjang dan berjalan keluar kamar. Aku melirik ke arah ruang gym yang pintunya dibiarkan terbuka. Shane sedang berada di sana, berkutat dengan barbelnya. Shane adalah pecinta body building. Dia hampir tidak pernah melewatkan olahraga di pagi hari. Dia seorang morning person. Selalu bangun pagi kemudian jogging di sekitar wilayah apartemen kami. Jika dia tidak sempat jogging, maka dia akan menambah waktu di ruang gym pribadinya seperti yang sekarang sedang ia lakukan. Tadi malam adalah pertama kalinya kami bertengkar hebat. Biasanya kami tidak pernah saling peduli. Namun entah kenapa aku benar-benar tidak terima dengan kenya
Shane segera menyeka dagunya kemudian menyodorkan tangannya padaku. "Siniin ponselnya." "Mami, Mas Shane mau ngomong lagi," ucapku seraya mengembalikan ponsel itu pada Shane. Rahang Shane menegang pertanda ia benar-benar sedang kesal. "Mami udah janji untuk gak memaksakan aku dan Melody untuk punya anak sampai kami siap. Itu syarat dari aku sebelum aku menyetujui perjodohan ini." "Iya, iya. Mami tahu. Tapi kan ini udah setahun, Shane. Lagian juga dengan punya anak, kamu pasti bakal lebih bahagia." Shane mengurut keningnya. "Cukup, Mi. Aku mau lanjutin sarapan. Aku sudah nurutin Mami dan Papi untuk menikah dengan pilihan kalian. Aku harap kalian juga tidak mengingkari kesepakatan kita di awal." Aku hanya terdiam sampai Shane memutuskan sambungan. Setiap kali Shane membicarakan pernikahan kami, rasanya menyakitkan. Padahal aku sendiripun dipaksa dalam perjodohan ini. Seharusnya aku bereaksi sama seperti Shane. Makin ke sini, aku merasa ada yang salah dengan diriku. Tidak. Ak
Sudah tiga hari semenjak perdebatan pagi itu, aku tidak menyentuh makanan yang dimasakkan Shane. Tiap kali aku lapar, aku akan pergi keluar dan makan di restoran terdekat. Kalau aku sedang tidak ingin keluar, aku akan berusaha memasak dengan bantuan tutorial di Youtube atau TikTok. Di hari pertama dan kedua, Shane tampak tidak peduli. Sampai akhirnya di hari ketiga, ia mulai jengah dengan sikapku. Tiap kali ia berangkat kerja, aku sengaja masih mengurung diri di kamar. Sarapan yang ia masakkan tidak kusentuh sama sekali. Makan siang dan makan malam yang ia pesankan di restoran mahal kemudian dikirim ke penthouse kami juga tidak pernah kumakan. Semua makanan itu hanya kuletakkan di meja makan. Aku sedang duduk di ruang tengah dengan kamera yang tersorot padaku ketika Shane pulang kerja. Hari ini beberapa barang yang kupesan baru saja tiba. Seperti biasa, aku akan merekam ketika aku membongkar paket-paket yang semua isinya adalah mainan-mainan viral. Biasanya Shane hanya akan mele
Aku melirik Shane yang juga sedang menatapku. Kami sama-sama fokus mendengarkan suara mama di sambungan. "Kalian sudah menikah satu tahun, tapi Melody belum juga hamil. Sebenarnya ada masalah apa? Kalian sudah pernah memeriksakan diri ke dokter, belum?" Aku memilin-milin ujung gaun selututku. Bingung hendak menjawab apa. Shane berdehem sebelum akhirnya buka suara. "Ma, Melody masih sangat muda. Mungkin memang belum waktunya." Mama berdecak. "Melody sudah dewasa, Shane. Justru karena dia masih muda, seharusnya dia masih sangat subur. Terus terang, mama dan papa serta orang tuamu mulai khawatir dengan pernikahan kalian terutama setelah artikel itu tersebar. Apa kalian benar-benar menjalankan rumah tangga selayaknya suami istri?" Nafasku mulai memburu. Sejak kecil, aku terkadang membohongi mama untuk menyelematkan diri ketika aku melakukan kesalahan. Tetapi kebohongan yang kulakukan hanyalah kebohongan-kebohongan kecil seperti berpura-pura sakit ketika lelah dengan semua les atau me
Beberapa hari belakangan, Shane terlihat sangat tertekan dan murung. Itu pasti karena tuntutan orang tua kami. Shane tidak pernah seperti ini jika hanya karena masalah pekerjaan. Shane yang aslinya selalu irit bicara di rumah, kini hampir tidak pernah mengeluarkan suara.Malam ini aku tidur lebih awal. Shane belum pulang saat aku sudah tertidur. Harus kuakui, tuntutan orang tua kami benar-benar membebaniku juga. Aku selalu mengalihkan pikiranku dengan belajar memasak dan bersih-bersih penthouse ini ketika Shane sedang tidak ada. Dapur menjadi bak kapal pecah setiap kali aku selesai melakukan eksperimen. Karena sibur membersihkan banyak hal, aku jadi kelelahan dan lebih mudah tidur.Di tengah malam, aku terbangun. Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua lewat lima belas menit. Kerongkonganku terasa kering sehingga aku memutuskan untuk pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih.Saat aku hendak melintasi ruang tengah, kulihat Shane masih terjaga. Pria itu duduk di ruang
Begitu memasuki kamar Shane, ia mempersilahkan aku untuk duduk di ranjangnya. Aku duduk di tepi ranjang yang merupakan spring bed berukuran king size. Aku memijat-mijat jemariku yang terasa dingin saking gugupnya. "Aku ke kamar mandi dulu," ucap Shane yang kuangguki. Sembari menunggu Shane, aku menarik nafas dalam-dalam. Aku meyakinkan diriku bahwa seperti inilah seharusnya suami istri. Aku tidak tahu akan seperti apa ke depannya. Apakah yang akan kami lakukan ini akan membuka kesempatan untuk rumah tangga kami agar menjadi lebih baik, atau malah menyakiti salah satu dari kami pada akhirnya. Apapun itu, aku harus mencobanya. Semua kemungkinan sudah kupikirkan masak-masak, berikut rencana-rencana yang telah kususun. Beberapa menit kemudian, Shane melangkah keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan celana piyama sementara tubuh bagian atasnya terekspos. Aku selalu menyimpan kekaguman pada tubuh atletis Shane. Dada dan pundaknya lebar dan tegap. Di perutnya terdapat otot-otot
Malam ini, untuk pertama kalinya aku dan Shane melakukan aktivitas layaknya suami istri pada umumnya. Shane menyentuhku dengan hati-hati, gerakannya terasa canggung malah. Sementara aku, aku hanya mengikuti arahan Shane hingga akhirnya kami selesai pada pukul empat dini hari. Aku terlalu lelah untuk sekadar bergerak sehingga Shane berinisiatif membersihkan tubuhku menggunakan handuk dan air hangat. Setelah itu, ia juga membersihkan dirinya di kamar mandi kemudian kembali ke ranjang. Shane memastikan tubuhku tertutup selimut sebelum akhirnya berbaring di sampingku. Aku tidur menyamping membelakangi Shane. Suasana begitu canggung meski beberapa saat lalu kami begitu intim dan terus menyerukan nama satu sama lain selama penyatuan kami. Aku tahu kami tidak benar-benar bercinta, melainkan hanya melakukan kewajiban kami dalam pernikahan ini. Aku mencoba memejamkan mata. Rasanya begitu lelah, tapi aku tidak bisa tidur. Barangkali karena ini pertama kalinya aku tidur bersama Shane. "Uda
Begitu Shane melangkah masuk ke ruang pemeriksaan, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Melody. Ia lalu menatap kedua polisi yang tadi menyambutnya."Mana istri saya?" tanyanya bingung.Kedua polisi itu saling pandang sejenak. "Lah tadi duduk di sini," ucap Rizal sembari menunjuk bangku kosong yang tadi diduduki oleh Melody.Adrian mendengus. "Sebentar, Pak Shane. Saya cek CCTV dulu."Shane mengangkat tangannya. "Tidak perlu," ucapnya seraya berjalan ke salah satu meja.Kedua polisi itu saling tatap heran ketika Shane berjongkok di salah satu meja. Kini mereka tahu alasannya. Rupanya Melody bersembunyi di sana.Shane menghela nafas ketika mendapati Melody meringkuk di bawah meja. Matanya sembap karena menangis. Wajahnya dipenuhi bintik-bintik merah yang Shane kenali sebagai bekas treatment."Aku... bakal perbaiki mobil kamu," cicit Melody.Shane menggeleng tak habis pikir kemudian menarik tangan Melody agar dia keluar dari kolong meja. Ia memeriksa seluruh tubuh Melody
Aku meringis ketika menatap pantulan wajahku di cermin. Bekas-bekas suntikan kini terlihat seperti bentolan-bentolan kecil kemerahan. "Beauty is pain... beauty is pain..." gumamku meyakinkan diri. Dita tersenyum padaku. "Gak lama kok itu bekasnya. Palingan juga gak sampai seminggu udah glowing lagi." Aku mengangguk. Benar-benar Shane dan Erina. Bisa-bisanya mereka membuatku harus menjalani treatment kulit seperti ini karena stress berlebihan. Setelah semuanya selesai, aku melakukan pembayaran. Sejenak, aku bingung ketika membuka dompetku. Seharusnya aku bisa saja menggunakan kartu kredit milikku sendiri, tapi tagihannya akan masuk ke papa. Tidak ingin menimbulkan kecurigaan, aku memutuskan untuk menggunakan kartu kredit pemberian Shane. Dia pasti masih di ruang rapat. Shane adalah tipe orang yang sangat disiplin mengenai pekerjaan. Kecil kemungkinan dia akan memeriksa email-nya. Akhirnya aku menyodorkan kartu pemberian Shane untuk membayar semua tagihan. Usai membayar, aku m
Shane lebih banyak diam sepanjang memimpin rapat. Padahal biasanya dia sangat aktif mengkritisi tiap-tiap laporan yang disusun semua divisi. Pun ketika ketua divisi pengembangan sedang menyampaikan rencana kerja mereka, Shane hanya sedikit berkomentar. "Divisi inti nih. Fokus dikit kek," bisik Yogas--kakak sepupu Shane yang menjabat sebagai COO di perusahaan. "Mereka baru sampai tahap riset lokasi. Gak ada yang perlu dikritiki," respon Shane seadanya. Yogas berdecak. "Ada apa sih? Balitamu tantrum lagi?" Sejak Shane dijodohkan dengan Melody, Yogas tidak pernah berhenti menggoda Shane. Yogas bahkan blak-blakan kalau Shane lebih cocok menjadi ayahnya Melody dibandingkan suaminya. Bukan karena Shane terlihat tua, melainkan karena Shane jadi lebih sering memikirkan soal rumah. Seolah-olah ia sedang meninggalkan anak kecil di sana. Shane hanya melempar tatapan sebal pada Yogas kemudian ia kembali menatap laptopnya sembari memutar-mutar pensil. "Makanya. Punya anak gih cepat biar M
Keesokan pagi, aku bangun lebih awal dari biasanya. Aku menyingkap selimut lalu bangkit dari tempat tidur. Aku berjalan gontai ke kamar mandi lalu membasuh wajahku. Kutatap pantulan diriku pada cermin lebar di hadapanku. Wajahku masih sedikit pucat. Kulitku juga tidak secerah biasanya, melainkan terlihat kusam. Rambut hitam panjangku juga tidak berkilau lagi, efek selama pemulihan di rumah sakit, aku hampir tidak bisa merawat diriku dengan maksimal. Shane membantu, tetapi tidak maksimal karena aku tidak nyaman disentuh olehnya terlalu banyak. Membantuku keramas dan memakaikan conditioner saja sudah cukup. Karena sudah merasa jauh lebih baik, kuputuskan hari ini aku akan pergi melakukan beberapa perawatan tubuh dan rambut. Sepertinya area mataku membutuhkan perawatan eye firming. Aku bisa melihat mata panda yang mulai muncul di area bawah mataku dikarenakan sering menangis dan kurang tidur belakangan ini. Bagiku tidak adil jika aku harus mengorbankan kulit mudaku karena masalah ru
Shane menatapku tak percaya. "Are you out of your mind, Melody? Itu anak aku juga," ujarnya terluka. (tr: kamu sudah gila?) Aku tersenyum meremehkan. "Oh, ternyata peduli ya? Kupikir kamu pedulinya cuma tentang Erina." Shane berdiri dari duduknya. "Kita baru saja kehilangan anak, Mel. Gak seharusnya kamu malah membahas topik itu lagi." Setelah berucap demikian, Shane berbalik dan meninggalkan ruang rawat inapku. Aku menghembuskan nafas berat dan menatap langit-langit kamar rumah sakit. Tidak ada yang bisa diperbaiki di antara kami. Tidak ada kesempatan untuk pernikahan di ujung tanduk ini. Sekarang setiap kali melihat Shane, yang kuingat hanyalah semua kekecewaan terhadap pernikahan kami. Aku memejamkan mata, berusaha untuk tidur. Rasa sakit masih terasa di tubuhku, tapi aku tidak begitu memedulikan hal itu lagi. Rasa sesak di hatiku lah yang lebih mendominasi. Aku sadar bahwa kelalaianku menjadi salah satu penyebab aku kehilangan anakku. Aku menyalahkan Shane karena ingin m
Begitu Shane pulang, aku langsung berdiri. Satu-satunya hal yang membuatku belum angkat kaki dari penthouse ini adalah karena Shane masih selalu pulang ke rumah. Dia tidak pernah menginap di luar yang menandakan dia tidak berhubungan sejauh itu dengan Erina. Entahlah. Dia sendiri juga tidak pernah menjelaskan apapun dan menenangkanku dengan baik. Shane berdecak ketika melihat wajah kesalku. "Apa lagi? Bukannya kita lagi dalam masa proses cerai? Kenapa masih harus nunjukin wajah begitu?" "Proses perceraian kita belum tuntas seratus persen, Shane. Bisa gak di akhir pernikahan ini, kamu kasih aku ketenangan sekali aja?" "Mau kamu apa sih? Kita sudah bercerai. Apa lagi masalahnya." "Status kamu masih suamiku, Mas! Dan dengan kamu selalu memamerkan Erina di sekitarmu." Shane menyugar rambutnya dengan wajah frustasi. "Again? Apa lagi kali ini? Karena foto saat main golf? Aku bawa beberapa manajer, Melody." Aku mengangguk. "Itu dia. Semua yang kamu bawa adalah orang-orang dengan
Shane bukan selebritis maupun artis, tetapi ia sangat terkenal semenjak usianya masih remaja. Kala itu ia mulai aktif mengikuti ayahnya ke manapun ayahnya pergi dalam kegiatan-kegiatan entah itu yang bersangkutan dengan perusahaan maupun kegiatan amal. Papinya Shane adalah pemilik perusahaan yang bergerak di bidang food and beverage. Banyak produk perusahaan mereka yang terkenal di negara kami sehingga papinya sangat terkenal. Itulah sebabnya ketika papinya mulai memperkenalkan Shane pada publik, publik dibuat gempar oleh ketampanan Shane. Kala itu Shane masih berusia tujuh belas tahun. Samar-samar jika kuingat, aku sempat melihat wajah Shane beberapa kali terpampang di televisi. Usiaku waktu itu masih enam tahun, jadi aku tidak mengingat banyak. Meski dia tampan dan kaya raya, tapi aku tidak menggilai Shane terutama di awal perjodohan kami. Aku justru kesal karena dipaksa menikah di usia muda. Jika soal harta, orang tuaku juga memilikinya dalam jumlah besar. Dan soal ketampanan,
Aku menggedor keras pintu kamar Shane. Tak perlu waktu lama hingga Shane membuka pintu dengan raut heran. "Kamu apa-apaan sih?" "Kamu yang apa-apaan!" seruku marah. Shane membasahi bibir bawahnya dan menghindari tatapanku. "Ada apa lagi?" tanyanya dengan nada lelah. "Erina kembali ke sini dan kerja di perusahaan kamu?" Shane menyugar rambutnya. "Dia mendaftar melalui rekruitmen perusahaan. HRD perusahaan menganggap dia capable, ya jelas diterima." Aku mendorong dadanya. "Kamu udah gila ya, Shane? Dia itu mantan kamu! Kamu benar-benar gak menghargain aku ya?" "Aku harus profesional jika menyangkut perusahaan." "Profesional?" tanyaku tersenyum remeh. Aku bertolak pinggang. "Kamu pikir aku bego? Setelah kita setuju untuk mulai program anak, kamu tiba-tiba jadi sangat sibuk di perusahaan. Ternyata bukan sibuk. Cuma jadi lebih betah aja karena ada Erina rupanya di sana." Shane mendengus. "Kita sepakat untuk punya anak karena tuntutan orang tua kita. Bukan berarti kamu jad
Malam ini, untuk pertama kalinya aku dan Shane melakukan aktivitas layaknya suami istri pada umumnya. Shane menyentuhku dengan hati-hati, gerakannya terasa canggung malah. Sementara aku, aku hanya mengikuti arahan Shane hingga akhirnya kami selesai pada pukul empat dini hari. Aku terlalu lelah untuk sekadar bergerak sehingga Shane berinisiatif membersihkan tubuhku menggunakan handuk dan air hangat. Setelah itu, ia juga membersihkan dirinya di kamar mandi kemudian kembali ke ranjang. Shane memastikan tubuhku tertutup selimut sebelum akhirnya berbaring di sampingku. Aku tidur menyamping membelakangi Shane. Suasana begitu canggung meski beberapa saat lalu kami begitu intim dan terus menyerukan nama satu sama lain selama penyatuan kami. Aku tahu kami tidak benar-benar bercinta, melainkan hanya melakukan kewajiban kami dalam pernikahan ini. Aku mencoba memejamkan mata. Rasanya begitu lelah, tapi aku tidak bisa tidur. Barangkali karena ini pertama kalinya aku tidur bersama Shane. "Uda