"Aku ingin kau berbagi rahim denganku!" pinta Shella tegas.
Tubuh Aletta sedikit terhuyung ke belakang, kain lap yang ada digenggamannya pun terjatuh. Selama 4 tahun terakhir ini hidup Aletta bergantung pada Nyonya Risma dan Shella. Namun, gadis malang itu bukan sekadar ongkang ongkang kaki saja di rumah mewah berlantai dua tersebut.Setiap hari Aletta harus melakukan semua pekerjaan rumah dengan baik. Ya, tak jauh berbeda dengan pembantu, bekerja hanya dibayar makan dan tumpangan tidur."A ... ku tidak mau," tolak Aletta dengan rasa ketakutan.Nyonya Risma seketika murka mendapat penolakan dari anak tirinya, ia menarik kasar rambut Aletta tanpa kasihan. Tak hanya itu saja, Nyonya Risma juga menampar keras pipi Aletta hingga meninggalkan bekas kemerahan pada wajahnya."Ampunnnn, Ma. Sakitttt," mohon Aletta dengan air mata yang mengalir deras.Di usia Aletta yang sudah menginjak 21 tahun, tak pernah gadis itu merasakan kebahagian. Kehidupannya selalu bergulat dengan kesedihan dan penderitaan. Sejak kecil ia tak pernah merasakan kasih sayang sosok seorang ibu lantaran Ibunya meninggal tepat setelah ia dilahirkan.Ayahnya menikah lagi dengan Nyonya Risma, saat Aletta berusia 16 tahun. Namun, takdir seolah sedang mempermainkan dirinya, Ayahnya meninggal 1 tahun setelah menikah, dan sekarang Aletta tinggal bersama Mama dan Kakak tirinya, di rumah Nyonya Risma."Harusnya kau itu bersyukur masih kami tampung di sini, jika tidak kau bisa menjadi gembel jalanan," seru Nyonya Risma penuh penekanan. Kembali Nyonya Risma melanjutkan perkataannya, "Harusnya sejak dulu aku membuangmu! Ayahmu mati hanya meninggalkan hutang padaku. Kau tahu itu, hah?!""Tapi aku mohon jangan memintaku berbagi rahim dengan Mbak Shella, Ma. Aku mau melakukan apapun asal jangan itu," ucap Aletta memelas."Apa kau bilang?" tanya Nyonya Risma yang semakin geram pada Anak tirinya. Namun, tiba-tiba ide jahat terlintas di benaknya, "Bagaimana jika aku menjadikan kau pelac*r saja.""Tidak, Ma. Jangan!" sela Aletta cepat."Jadi maumu apa? Hah!" pekik Shella yang mulai tersulut emosi."Sudahlah, Ma, kita jadikan dia pelac*r saja! Jika dia tidak mau berbagi rahim denganku," ujar Shella menatap lekat manik hitam keabuan Mamanya"Tidak, Shella. Keluarga Bayu sangat kaya dan jika kau berhasil melahirkan penerus untuknya, maka hidup kita akan kaya selamanya."Tujuan Nyonya Risma menikahkan putrinya dengan keluarga Bayu Adhitama, tentu demi harta. Karena Bayu adalah anak tunggal dari pemilik Perusahaan Adhitama group. Perusahaan terbesar di Kota Jakarta, dan keluarga yang disegani banyak orang karena kepiawaiannya dalam dunia bisnis.Kesempatan emas ini tak ingin disia-siakan oleh Nyonya Risma. Ia tahu jika Shella sudah di vonis mandul oleh Dokter. Namun, keluarga Bayu tidak mengerti akan rahasia besar itu."Pokoknya kita tetap harus memaksa Aletta agar mau berbagi rahim denganmu," ucap Nyonya Risma menyeringai. Di dalam benaknya ia mulai merancang hal-hal buruk untuk Aletta."Tolong jangan, Ma!" Untuk kesekian kalinya Aletta memohon seraya menyatukan telapak tangannya."Dasar wanita tidak tahu diri, harusnya kau itu membalas budi kepada kami yang sudah berbaik hati menampungmu," seru Shella menatap nyalang Aletta."Haruskah dengan cara seperti ini aku membalas budi terhadap kalian? Kita ini keluarga, Mbak," kata Aletta.Nyonya Risma kembali mencengkram dagu Aletta hingga gadis itu mengeryit kesakitan."Jika menyangkut uang, maka tidak peduli hubungan keluarga atau bukan. Paham!!" desis Nyonya Risma menekan setiap katanya. Tak lama ia melepaskan tangannya, melihat Aletta yang kesulitan bernapas."Sebaiknya terima saja nasibmu yang buruk ini," cemooh Shella dengan gelak tawa merendahkan.Aletta semakin ketakutan melihat seringai jahat dari wajah Nyonya Risma. Pikirannya mulai bergulat memikirkan cara untuk pergi dari rumah terkutuk itu. Ya, akan lebih baik jika ia pergi dan hidup sebatang kara di luar sana, daripada memiliki keluarga. Namun, tak memiliki kebahagiaan dan kebebasan."A ... ku akan pergi saja dari rumah ini, agar tidak menjadi beban kalian," ujar Aletta menutupi degup jantungnya yang tak beraturan."Permisi, assalamualaikum," pamit Aletta berbalik badan hendak menuju kamarnya, mengemasi pakaiannya di sana.Namun tak disangka. Nyonya Risma dan Shella justru menghadang langkah Aletta."Enak saja mau pergi begitu saja. Kau harus membayar atas kebaikan kami sama kamu selama ini," seru Nyonya Risma dengan melipat kedua tangan di dada."Aku akan membayarnya nanti, Ma. Jika aku sudah mendapat pekerjaan," sahut Aletta."Aku tidak butuh uangmu, tapi ... rahimmu!" bantah Shella tegas."Ayo Shella, kita ikat dan kurung gadis ini sampai rencana kita berhasil!" perintah Nyonya Risma kepada anaknya."Tidak! Jangan lakukan itu padaku!" Aletta memberontak keras agar tangannya terlepas dari cengkraman Mama dan Kakak tirinya."Cepat Shella kamu ambil tali di dapur!""Siap, Ma." Shella bergegas berlari menuju dapur.Sedangkan Nyonya Risma masih mencengkram kuat pergelangan tangan Aletta. Rupanya tenaga Nyonya Risma tak kuat menahan Aletta yang semakin brutal memberontak."Lepas!!!" Aletta mendorong tubuh Nyonya Risma, hingga wanita setengah baya itu jatuh terduduk.Ada rasa tidak tega melihat Mamanya mengernyit kesakitan. Namun, Aletta enggan membantu karena harus segera kabur dari sana."Satpam!! Satpam!!" teriak Nyonya Risma memanggil satpam rumahnya.Aletta urung melangkah keluar karena pasti akan berpapasan dengan satpam tersebut, dan berakhir tertangkap lagi. Ia berlari ke lantai atas untuk bersembunyi."Iya, Nyonya," seru seorang pria berkulit sawo matang dengan napas tersengal."Tutup semua akses rumah ini dan temukan keberadaan Aletta sekarang juga. Cepat!!" perintah tegas Nyonya Risma.Meski satpam itu tidak paham dengan situasi yang ada, namun ia segera melakukan perintah sang majikan."Ada apa ini, Ma. Kemana Aletta?" Shella juga tampak bingung, saat kembali yang ia dapati hanya ada Mamanya terduduk di lantai."Aletta lari ke lantai atas, cepat bantu mama berdiri dan kita cari gadis sialan itu!" Tampak Nyonya Risma memegangi pinggangnya yang terasa sakit akibat terbentur lantai tadi."Memang dasar anak sial, awas jika bertemu nanti," geram Nyonya Risma mengepalkan kedua tangan.Shella, Nyonya Risma serta satpam rumahnya itu pun mulai berpencar mencari keberadaan Aletta. Setiap sudut rumah itu mereka jelajahi satu per satu."Kalian cari setiap ruangan dan jangan ada yang terlewatkan!" titah Nyonya Risma dengan wajah datar.Kemungkinan untuk Aletta bisa kabur sungguh kecil. Rumah mewah itu di kelilingi oleh tembok yang tinggi kokoh, tidak mungkin juga untuk Aletta kabur dengan memanjat tembok atau gerbang depan. Itu sungguh mustahil untuk ia lakukan."Semua ruangan sudah saya periksa dan tidak ada Non Aletta, Nyonya" ujar Pak Satpam memberitahu."Cuma kamar Mama yang belum di geledah," timpal Shella tiba-tiba."Ayo kita periksa!" ajak Nyonya Risma. Namun, tidak dengan Satpam itu, "Eh, Bahar, kamu tunggu saja di luar untuk jaga-jaga! Jangan ikutan masuk. Nanti barang-barang saya hilang lagi," celetuk Nyonya Risma dengan pandangan tak suka pada satpam tersebut.'Ya Tuhan lindungi aku,' doa Aletta di hati, ia menekuk kedua lututnya dengan jantung berdebar-debar dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan."Sepertinya tidak ada di sini, Ma," ucap Shella, sesaat setelah mereka menggeledah kamar Nyonya Risma."Ya sudah, ayo keluar!" seru Nyonya Risma berlalu keluar bersama Shella.Aletta masih di dalam lemari besar, bersembunyi di antara rentetan baju yang tergantung rapi. Gadis itu mulai bernapas lega saat mendengar suara derap kaki yang semakin jauh dari tempatnya saat ini. Perlahan secara mengendap-endap ia membuka pintu lemari itu.Ia melongokkan kepalanya dari balik lemari, pandangannya begitu awas mengamati sekitar. Menyadari keadaan sudah aman, bergegas Aletta keluar dari persembunyiannya. Bagaimanapun ia harus bisa pergi secepat mungkin dari sana.Masa depan Aletta masih sangat jauh, tidak mungkin ia mengorbankan begitu saja masa depannya demi keluarga yang kejam dan serakah. Sedangkan di luar sana ada secercah harapan indah yang sedang menantinya, meski harus berjuang keras hidup terluntang-lantung tak tentu arah.Aletta berjalan mengendap-endap lewat belakang. Namun, Aletta mera
"Non, ini makanannya. Bibi letakkan di sini ya!" ujar Bik Lasmi seraya meletakkan nampan berisi makanan untuk Aletta."Non Aletta, harus makan agar tidak sakit." Bik Lasmi masih bersikeras membujuk Aletta."Bibi tahu ini sangat berat untuk, Non Aletta jalani. Maaf jika bibi tidak bisa banyak membantu," kata Bik Lasmi dengan nada penuh empati. Melihat keadaan Aletta yang menyedihkan mengingatkan Lasmi pada anaknya di kampung."Kenapa, Bibi menyelamatkan aku waktu itu? Harusnya biarkan aku mati, Bik," lirih Aletta dengan pandangan kosong ke depan. Seperti layaknya tak memiliki semangat dalam hidup."Sadarlah, Non! Walau dunia seakan tak adil jangan pernah berpikir untuk bunuh diri." Bik Lasmi menasehati Aletta agar tidak larut dalam keterpurukan.Hening.Bibir Aletta terkatup rapat, tubuhnya sudah tidak memiliki daya melawan. Pergelangan tangan kanannya masih dibalut dengan perban, hasil dari aksinya yang hendak bunuh diri dua hari lalu. Namun gagal lantaran Bik Lasmi datang tepat waktu
Tujuh bulan kemudian ...."Aku ada kunjungan ke Eropa bersama Papa, jaga dirimu baik-baik beserta calon anak kita," ucap Bayu Adhitama yang melirik Shella dari pantulan cermin.Kemudian ia berbalik badan, sesaat setelah selesai merapikan penampilannya. Tubuh kekarnya dibalut dengan setelan jas berwarna senada, hidungnya mancung dan tak terlalu besar, bentuk alis yang hitam lebat, serta memiliki bola mata hitam kecoklatan, yang dapat menghipnotis banyak wanita jika lama memandangi wajah tampannya. Sayang, bibirnya selalu terkatup rapat semenjak menikahi Shella. 2 tahun mereka menjalani biduk rumah tangga, tetapi hubungan itu terasa hambar tidak seperti pengantin baru pada umumnya.Sudah tampan dan kaya, tetapi sial karena menikahi wanita licik, matre seperti Shella. Jika bukan karena permintaan terakhir sang ibu mungkin Bayu tidak akan sudi menikahi Shella yang sangat jauh dari kriterianya. Perjodohan itu benar benar membuat hidup Bayu suram. Tidak ada cinta yang tertanam di hati Bayu,
Pagi ini Nyonya Risma begitu antusias mempersiapkan segala keperluan untuk operasi caesar yang dijalani oleh Aletta. Demi menjaga keamanan, Nyonya Risma bahkan menyewa dua bodyguard untuk berjaga di depan ruang operasi.Kondisi Aletta makin mengkhawatirkan rasa tertekan di bawah ancaman Nyonya Risma, juga kehamilan yang ia tidak inginkan sama sekali membuatnya depresi dan bersedih. Inilah yang menyebabkan kehamilan Aletta terganggu, ditambah kondisi fisiknya yang lemah. Dokter Tika menyarankan agar Aletta melahirkan prematur. Semua telah dipersiapkan dengan sangat matang oleh Dokter Tika setelah mendapat persetujuan dari Nyonya Risma dan Shella.Shella tidak berhenti mondar-mandir sejak tadi, hatinya begitu gelisah menunggu detik-detik kelahiran bayi Aletta. Otaknya pun berputar keras untuk merangkai penjelasan apa yang tepat untuk suaminya ketika datang nanti tentang bayinya yang tiba-tiba saja lahir."Ya ampun, Shella. Mama tambah pusing lihat kamu mondar-mandir gitu," gerutu Nyony
Kicauan burung yang saling bersahutan menggema di kediaman Nyonya Risma. Dedaunan meliuk-liuk mengikuti hembusan angin, gumpalan awan hitam mulai membentuk garis-garis di atas sana. Keadaan tampak gelap meski hari baru menunjukkan pukul 06.00, pagi.Nyonya Risma beranjak dari tempat tidurnya, langkahnya ringan menapaki lantai. Ia menuju dapur untuk mencari keberadaan pembantunya."Lasmi!" Nyonya Risma berdiri di ambang pintu dengan gaya angkuh menatap Bik Lasmi."Iya, Nyonya. Ada yang bisa dibantu?" tanya Bik Lasmi membungkuk rendah."Cepat keluar dan belikan kebutuhan yang ada di catatan ini!" Nyonya Risma dengan tidak berperasaan melempar secarik kertas yang berisi daftar belanjaan yang harus di beli oleh Bik Lasmi. Kemudian melempar beberapa lembar uang merah itu."Baik, Nyonya," lirih Bik Lasmi seraya memunguti lembar demi lembar uang yang berserahkan di lantai.Melihat cuaca yang tidak mendukung tentu Bik Lasmi siaga membawa payung sekadar berjaga-jaga. Entah mengapa perasaan Bik
"Pergi!!" usir Aletta histeris. Tubuhnya tak dapat menutupi rasa takut yang mendera, keringat sebiji jagung telah bercucuran dari balik wajahnya yang pucat. Penampilan Aletta sangat berantakan saat ini.Lelaki asing yang masih dalam pengaruh alkohol tersebut tak mengindahkan teriakkan Aletta, ia justru semakin bergairah memandangi lekuk tubuh gadis muda di depannya. Suasana yang tampak sepi memudahkan aksi lelaki tersebut.Sekuat tenaga Aletta beringsut mundur, menyeret kakinya yang terasa berat untuk di gerakkan."Layani abang, Sinta." Lelaki itu mengira jika yang dilihatnya saat ini adalah mendiang istrinya, bukan Aletta."Tolong!!" Aletta hendak berbalik dan menutup pintu, tetapi tangan lelaki itu lebih cepat dari perlawanan Aletta.Aletta memberontak untuk dilepaskan, takkala wajah lelaki itu sejengkal hendak menyerang bibir, serta leher jenjang Aletta yang tampak menggoda. Tanpa diduga, seseorang tiba-tiba menarik kuat lelaki itu dan mendorongnya sekuat tenaga, hingga lelaki ters
"Pergi!!" usir Aletta histeris. Tubuhnya tak dapat menutupi rasa takut yang mendera, keringat sebiji jagung telah bercucuran dari balik wajahnya yang pucat. Penampilan Aletta sangat berantakan saat ini.Lelaki asing yang masih dalam pengaruh alkohol tersebut tak mengindahkan teriakkan Aletta, ia justru semakin bergairah memandangi lekuk tubuh gadis muda di depannya. Suasana yang tampak sepi memudahkan aksi lelaki tersebut.Sekuat tenaga Aletta beringsut mundur, menyeret kakinya yang terasa berat untuk di gerakkan."Layani abang, Sinta." Lelaki itu mengira jika yang dilihatnya saat ini adalah mendiang istrinya, bukan Aletta."Tolong!!" Aletta hendak berbalik dan menutup pintu, tetapi tangan lelaki itu lebih cepat dari perlawanan Aletta.Aletta memberontak untuk dilepaskan, takkala wajah lelaki itu sejengkal hendak menyerang bibir, serta leher jenjang Aletta yang tampak menggoda. Tanpa diduga, seseorang tiba-tiba menarik kuat lelaki itu dan mendorongnya sekuat tenaga, hingga lelaki ters
Kicauan burung yang saling bersahutan menggema di kediaman Nyonya Risma. Dedaunan meliuk-liuk mengikuti hembusan angin, gumpalan awan hitam mulai membentuk garis-garis di atas sana. Keadaan tampak gelap meski hari baru menunjukkan pukul 06.00, pagi.Nyonya Risma beranjak dari tempat tidurnya, langkahnya ringan menapaki lantai. Ia menuju dapur untuk mencari keberadaan pembantunya."Lasmi!" Nyonya Risma berdiri di ambang pintu dengan gaya angkuh menatap Bik Lasmi."Iya, Nyonya. Ada yang bisa dibantu?" tanya Bik Lasmi membungkuk rendah."Cepat keluar dan belikan kebutuhan yang ada di catatan ini!" Nyonya Risma dengan tidak berperasaan melempar secarik kertas yang berisi daftar belanjaan yang harus di beli oleh Bik Lasmi. Kemudian melempar beberapa lembar uang merah itu."Baik, Nyonya," lirih Bik Lasmi seraya memunguti lembar demi lembar uang yang berserahkan di lantai.Melihat cuaca yang tidak mendukung tentu Bik Lasmi siaga membawa payung sekadar berjaga-jaga. Entah mengapa perasaan Bik
Pagi ini Nyonya Risma begitu antusias mempersiapkan segala keperluan untuk operasi caesar yang dijalani oleh Aletta. Demi menjaga keamanan, Nyonya Risma bahkan menyewa dua bodyguard untuk berjaga di depan ruang operasi.Kondisi Aletta makin mengkhawatirkan rasa tertekan di bawah ancaman Nyonya Risma, juga kehamilan yang ia tidak inginkan sama sekali membuatnya depresi dan bersedih. Inilah yang menyebabkan kehamilan Aletta terganggu, ditambah kondisi fisiknya yang lemah. Dokter Tika menyarankan agar Aletta melahirkan prematur. Semua telah dipersiapkan dengan sangat matang oleh Dokter Tika setelah mendapat persetujuan dari Nyonya Risma dan Shella.Shella tidak berhenti mondar-mandir sejak tadi, hatinya begitu gelisah menunggu detik-detik kelahiran bayi Aletta. Otaknya pun berputar keras untuk merangkai penjelasan apa yang tepat untuk suaminya ketika datang nanti tentang bayinya yang tiba-tiba saja lahir."Ya ampun, Shella. Mama tambah pusing lihat kamu mondar-mandir gitu," gerutu Nyony
Tujuh bulan kemudian ...."Aku ada kunjungan ke Eropa bersama Papa, jaga dirimu baik-baik beserta calon anak kita," ucap Bayu Adhitama yang melirik Shella dari pantulan cermin.Kemudian ia berbalik badan, sesaat setelah selesai merapikan penampilannya. Tubuh kekarnya dibalut dengan setelan jas berwarna senada, hidungnya mancung dan tak terlalu besar, bentuk alis yang hitam lebat, serta memiliki bola mata hitam kecoklatan, yang dapat menghipnotis banyak wanita jika lama memandangi wajah tampannya. Sayang, bibirnya selalu terkatup rapat semenjak menikahi Shella. 2 tahun mereka menjalani biduk rumah tangga, tetapi hubungan itu terasa hambar tidak seperti pengantin baru pada umumnya.Sudah tampan dan kaya, tetapi sial karena menikahi wanita licik, matre seperti Shella. Jika bukan karena permintaan terakhir sang ibu mungkin Bayu tidak akan sudi menikahi Shella yang sangat jauh dari kriterianya. Perjodohan itu benar benar membuat hidup Bayu suram. Tidak ada cinta yang tertanam di hati Bayu,
"Non, ini makanannya. Bibi letakkan di sini ya!" ujar Bik Lasmi seraya meletakkan nampan berisi makanan untuk Aletta."Non Aletta, harus makan agar tidak sakit." Bik Lasmi masih bersikeras membujuk Aletta."Bibi tahu ini sangat berat untuk, Non Aletta jalani. Maaf jika bibi tidak bisa banyak membantu," kata Bik Lasmi dengan nada penuh empati. Melihat keadaan Aletta yang menyedihkan mengingatkan Lasmi pada anaknya di kampung."Kenapa, Bibi menyelamatkan aku waktu itu? Harusnya biarkan aku mati, Bik," lirih Aletta dengan pandangan kosong ke depan. Seperti layaknya tak memiliki semangat dalam hidup."Sadarlah, Non! Walau dunia seakan tak adil jangan pernah berpikir untuk bunuh diri." Bik Lasmi menasehati Aletta agar tidak larut dalam keterpurukan.Hening.Bibir Aletta terkatup rapat, tubuhnya sudah tidak memiliki daya melawan. Pergelangan tangan kanannya masih dibalut dengan perban, hasil dari aksinya yang hendak bunuh diri dua hari lalu. Namun gagal lantaran Bik Lasmi datang tepat waktu
"Sepertinya tidak ada di sini, Ma," ucap Shella, sesaat setelah mereka menggeledah kamar Nyonya Risma."Ya sudah, ayo keluar!" seru Nyonya Risma berlalu keluar bersama Shella.Aletta masih di dalam lemari besar, bersembunyi di antara rentetan baju yang tergantung rapi. Gadis itu mulai bernapas lega saat mendengar suara derap kaki yang semakin jauh dari tempatnya saat ini. Perlahan secara mengendap-endap ia membuka pintu lemari itu.Ia melongokkan kepalanya dari balik lemari, pandangannya begitu awas mengamati sekitar. Menyadari keadaan sudah aman, bergegas Aletta keluar dari persembunyiannya. Bagaimanapun ia harus bisa pergi secepat mungkin dari sana.Masa depan Aletta masih sangat jauh, tidak mungkin ia mengorbankan begitu saja masa depannya demi keluarga yang kejam dan serakah. Sedangkan di luar sana ada secercah harapan indah yang sedang menantinya, meski harus berjuang keras hidup terluntang-lantung tak tentu arah.Aletta berjalan mengendap-endap lewat belakang. Namun, Aletta mera
"Aku ingin kau berbagi rahim denganku!" pinta Shella tegas.Tubuh Aletta sedikit terhuyung ke belakang, kain lap yang ada digenggamannya pun terjatuh. Selama 4 tahun terakhir ini hidup Aletta bergantung pada Nyonya Risma dan Shella. Namun, gadis malang itu bukan sekadar ongkang ongkang kaki saja di rumah mewah berlantai dua tersebut.Setiap hari Aletta harus melakukan semua pekerjaan rumah dengan baik. Ya, tak jauh berbeda dengan pembantu, bekerja hanya dibayar makan dan tumpangan tidur."A ... ku tidak mau," tolak Aletta dengan rasa ketakutan.Nyonya Risma seketika murka mendapat penolakan dari anak tirinya, ia menarik kasar rambut Aletta tanpa kasihan. Tak hanya itu saja, Nyonya Risma juga menampar keras pipi Aletta hingga meninggalkan bekas kemerahan pada wajahnya."Ampunnnn, Ma. Sakitttt," mohon Aletta dengan air mata yang mengalir deras.Di usia Aletta yang sudah menginjak 21 tahun, tak pernah gadis itu merasakan kebahagian. Kehidupannya selalu bergulat dengan kesedihan dan pende