“Kalau begitu aku ajak kamu bulan madu, mau?” tanya Vikram.Viza menegang mendengar pertanyaan suaminya. Berani-beraninya Vikram bertanya begitu di depan ibu. Bikin salah tingkah saja.Fairuz mengulum senyum, melirik Viza yang menunduk dengan muka merona.“Ya sudah, sana gih kalau kalian mau dua-duaan. Ibu mau istirahat dulu.” Faitu, melenggang pergi dengan senyum yang lebar.Sunyi.Viza membisu. Gara-gara pembicaraan mengenai bulan madu, ia jadi salah tingkah. Grogi. Lalu sekarang mereka harus berbuat apa? Diam-diaman?Vikram tersenyum menatap istrinya yang hanya diam menunduk saja. Usia mereka terpaut cukup jauh. Beda sepuluh tahun. Wajar jika keduanya memiliki jauh perbedaan sikap. Vikram terlihat santai sekali dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan adegan dewasa, sedangkan Viza yang masih dua puluh satu tahun dan belum genap dua puluh dua tahun itu tentu canggung dan tak biasa. “Mas Vikram kok pulang cepat? Ini kan masih jam tiga. Jam kantor belum selesai. Biasanya pulang
Ya ampun, untung saja mereka berada di ruangan bawah tanah, jadi teriakan Viza tak terdengar siapa pun kecuali mereka berdua saja. Bisa-bisanya Viza berteriak terus di tengah keadaan ini. Padahal tadi Vikram sudah membaca basmallah lengkap dengan doanya, kok malah istrinya teriak-teriak begitu?Vikram hendak memulai lagi."Aaaaa...."Lagi-lagi Viza berteriak.Vikram tersenyum. “Kalau kamu teriak lagi, aku akan menggigitmu.”Viza membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangan. “Jangan teriak ya!” lembut Vikram.Viza tak menjawab. Ia bahkan tak yakin apakah mulutnya bisa terhindar dari teriakan atau tidak. “Ini harus dibiasakan ya!” Vikram berbisik. “Kamu akan menjadi istri seutuhnya untukku.”Vikram mesti mengajak Viza mengobrol di tengah situasi menegangkan, namun juga sangat manis. “Aaaa…. mmmpth.”Jeritan Viza kali ini langsung terhenti saat Vikram membungkam dengan mulutnya. Ini memang sulit bagi Viza, namun Vikram berhasil menenangkan gadis itu, mereka memadu kasih dalam balu
Tentu saja itu bukan sembarang tuduhan, mereka menyaksikan bagaimana Mulan menyelinap masuk menggunakan seragam OB dibantu oleh Runa melalui rekaman cctv.Runa menunduk cemas. “Kalau kau hamil anaknya Leo, maka mintalah Leo bertanggung jawab, bukan malah minta pada pemilik perusahaan ini. Kau pikir pemilik perusahaan ini bernama Leo?” ledek salah seorang keamanan.“Kau mempermalukan dirimu sendiri dengan menyebut Leo sebagai owner di sini. Lagi pula, mana mungkin owner bersedia menyentuh perempuan selevel OB.”“Ha haa haaa…”Ledekan terus membahana.Ada banyak orang yang menyaksikan kejadian itu. Mereka mengerumuni demi bisa menyaksikan dua perempuan yang sedang dipermalukan.“Pakai segala mau tes DNA, pakai pengumuman pula di depan para pejabat tinggi perusahaan. Memalukan sekali!”“Kalau mau mengumumkan anakmu hamil di luar nikah, jangan di acara penting seperti tadi, di pasar sana! Paling diketawain orang!”“Pasti mereka ini korban dari kibulan orang nih, ada yang namanya Leo ngak
Vikram berjalan dengan langkah lebar menyusul Leo. Sedangkan langkah kaki Leo kecil, kalah cepat oleh kaki Vikram yang jenjang. Dalam hitungan detik, Vikram berhasil menyusul supirnya itu.Baju belakang Leo ditarik oleh Vikram.Bugh! Punggung Leo membentur dinding sesaat setelah didorong.Plak!Kertas dilempar oleh Vikram ke wajah Leo.“Diam-diam rupanya kau membantu perekonomian Runa! Kau tahu kalau tujuanku selama ini adalah untuk menghancurkan mereka yang sudah menyakiti Bu Fairuz dan Viza. Kau yang selama ini ada di pihakku, malah sekarang mendukung mereka! Ini sama saja kau bertentangan denganku,” geram Vikram menunjuk kertas yang baru saja dia lempar ke lantai.Leo menatap struk. Ah ya ampun, dia lupa membuang struk itu. Kenapa dia harus menyimpannya? Kenapa tidak dibuang saja? Dimana pula kertas itu terjatuh? Struk menunjukkan nominal g4ji miliknya yang ditransfer kepada Runa. Nominalnya juga tidak sedikit, hampir seluruh gajinya dikirim untuk Runa.“Apa yang ada di pikiran
“Mas, kasian Leo.” Viza meraih lengan suaminya. Tatapan Vikram tertuju ke lengan yang dipegangi istrinya. Oh ya ampun, ia padahal tak ingin memberi kesempatan pada orang yang dianggap berkhianat, tapi entah kenapa suara Viza mampu membuaynya luluh. “Baiklah, Leo. Kau selamat. Setir mobilnya sekarang! Kita ke mall.” Vikram melempar kunci lalu melenggang. Spontan Leo menangkap kunci. Untung ia tangkas hingga kunci tepat sasaran. Leo bangkit, menghampiri Viza. “Makasih banyak, Mbak.” “Tolong, apa pun yang menjado kehendak Mas Vikram supaya dituruti. Jangan ulang lagi! Kepercayaan itu sulit dibangun!” ucap Viza. “Baik, Mbak. Insyaa Allah.” Leo beranjak keluar dan membukakan pintu mobil untuk Vikram dan Viza. *** “Ini mau?” Vikram mengambil salah satu tas dari tempatnya, mengangkat untuk dipetlihatkan kepada Viza. Pandangan Viza terpaku pada tas cantik yang ia pun tak tahu harganya berapa. Kemudian, tatapan Viza mengedar pada seisi toko. Semua tas yang terpajang di dalam kaca tam
“Baiklah, kalau kamu tidak mau beli tas, kita beli jam tangan saja ya?” tawar Vikram. “Enggak mau. Lain kali saja.”Vikram menghela napas. Ia memahami sikap Viza yang enggan membeli barang mahal karena belum terbiasa, pasti rasanya mubajir.Uang segitu hanya dihabiskan untuk beli barang mahal, kalau dipakai untuk memberi makan orang, pasti sudah bisa membuat perut ratusan orang menjadi kenyang.Ini juga sama seperti pemikiran Vikram dulu. Iya, itu dulu.“Ayo keluar, Mas!” Viza menarik lengan Vikram keluar toko.Sebenarnya Vikram bisa saja menolak tarikan Viza. Mudah saja baginya menyentak lengan Viza yang tenaganya tak ada apa-apa dibanding dirinya. Tapi ini bukan soal tenaga, ini soal hati. Vikram selalu saja mengalah pada wanita ini.Vikram menurut saja digandeng Viza menuju ke eskalator. Biarlah perjalanannya keliling mall sia-sia, yang penting bisa dapet gandengan dari tangan istri. Jarang-jarang bisa digandeng begini oleh Viza. Pada akhirnya mereka menuju ke restoran setelah m
“Nanti aku mau beli jam tangan,” sambung Viza.Lagi-lagi Vikram tersenyum. “Aku ke toilet dulu.”Vikram meninggalkan meja, melangkah pergi.“Rasanya nggak masuk akal. Vikram kerap berbagi hartanya ke orang yang nggak mampu, tapi kok dia malah makin kay4.” Mones tersenyum. “Ya nggak hatus smsua hartanya dikasih ke orang kan? Dia juga berhak membahagiakan istrinya dengan menggunakan sebagian hartanya. Dia bukan orang tamak kok. Dia selalu bersyukur setiap kali mendapat rejeki dengan berbahai cara.”“Mungkin sikapku tadi sudah membuat Mas Vikram jadi nggak nyaman. Dia merasa kalau aku menganggapnya boros dan nggak mau berbagi. Sampai-sampai Mas Vikram membuktikan hal ini ke aku.” Viza menatap sayu.“Nggak gitu juga, Viza. Vikram hanya ingin menunjukkan ke kamu kegiatan apa saja yang sudah dia lakukan, sehingga kami nyaman saat belanja dengan nominal besar.”Viza mengangguk paham. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Tentang surat kaleng itu.“Mones, aku melihatmu sebagai orang baik, aku mau ta
“Kalau begitu biar aku sampaikan ke Vikram biar supaya ambil tindakan,” ucap Mones. “Nggak usah. Aku tahu pelakunya orang-orang terdekat, kok.” “Tapi belum tahu kan?” “Sebentar lagi tahu,” sahut Viza. “Kamu benar, hanya orang terdekat Vikram yang tahu masalah ini dan berkhianat. Tapi ingat, bukan cuma aku orang terdekat Vikram. Ada Leo, Mbok Parmi, juga para asisten rumah tangga lainnya. Kemudian Bu Fairuz. Mereka semua tahu permasalahan di hidup Vikram.” “Mereka nggak punya nyali besar untuk hal ini. Mereka hanya orang kecil. Apa lagi ibu. Ibu nggak akan menghancurkan kebahagiaan anaknya.” “Jadi kamu masih curiga sama aku?” tanya Mones. “Kamu suka sama Mas Vikram kan?” Viza menatap tegas. Muka Mones tampak berubah, sedikit gusar, kikuk. Tatapan matanya tak pasti. “Aku tahu kamu suka sama Mas Vikram.” Viza menegaskan lagi. “Atas dasar apa kamu bilang begitu?” Mones mengusap hidung, meneguk minum. Jelas terlihat dia salah tingkah dan bingung menentukan sikap. “Kita sama-sama
“Rejeki itu Allah hadirkan nggak hanya melalui tangan Vikram saja, ada banyak cara untuk kamu bisa bertahan hidup tanpa melibatkan Vikram maupun Viza,” sahut Fairuz. “Aku hanya tidak ingin berurusan dengan keluarga Bu Mulan lagi. Hubungan yang tidak baik maka lebih baik disudahi atau dijauhi, ini sama dengan menjauhi mudharat. Jadi inilah keputusanku!” Vikram lalu melenggang pergi. “Mbak Viza, kamu nggak kasian sama Bapak? Bapak lagi sakit. Ibu dan bapak nggak punya rumah hingga menumpang di rumahnya Mas Leo. Kami bahkan sekarang nggak punya penghasilan. Aku pun sedang hamil. Tolong bantu kami!” Runa memohon pada Viza, takut hidupnya akana sengsara jika tanpa pendapatan. “Mbak Viza diam-diam bisa kirimin aku uang, tolonglah Mbak. Bantu bapak berobat juga.” “Aku taat sama suamiku. Aku nggak berani berkhianat di belakangnya,” sahut Viza. “Mbak, tapi keadaan kami benar-benar down.” Wajah Runa memelas. “Kamu punya suami yang sempurna secara fisik, dia juga sehat walafiat. Insyaa
Viza ikutan membaca tulisan itu. (Teruntuk Viza tersayang, Saat kamu membaca tulisan ini, mungkin aku sudah tiada. Atau mungkin aku telah celaka dan dalam keadaan kritis. Atau bisa saja baik-baik saja. Kemungkinan buruk itu bisa saja terjadi padaku saat aku menabrak suamimu, biarkan dia m4ti. Aku pun tak masalah jka harus meregang nyaw4 untuk kematirn Vikram. Jika bukan aku yang memilikimu, maka orang lain pun tidak boleh. Sudah sangat lama aku rencanakan kematiannya, biarlah aku ikut m4ti jika memang dikehendaki m4ti. Viza, aku sudah sangat lama memendam rasa cintaku kepadamu. Bagaimana mungkin aku merelakanmu dimiliki lelaki lain? Hidupmu hanyalah untukku. Itulah cita-citaku selama ini. Surat kaleng itu kiriman dariku. Tujuanku hanya satu, memberikan kebahagiaan untukmu. Leo telah memberikan informasi akurat untukku bisa menuliskan surat itu. Tentu saja dengan bertukar keuntungan. Aku ijinkan Leo menikahi wanita yang diam-diam dia cintai, yaitu Runa. Aku pun mendapatkan keuntun
“Mas Vikram!” Viza menghambur dan memeluk erat suaminya. Tangisnya kembali pecah.Tubuhnya gemetar hebat dalam pelukan sang suami. Ia tak menyangka masih bisa bertemu dengan Vikram setelah mengira sang suami tak akan pernah kembali lagi.Dan kini, Viza bahkan masih bisa memegang suaminya, memeluk pria itu dengan erat.Tak lama Viza merasakan elusan di punggungnya. Deraian air mata Viza semakin deras merasakan elusan lembut itu. Artinya sang suami masih mau menerimanya dengan baik.“Mas, kupikir kita nggak akan ketemu lagi. Kupikir kamu pergi meninggalkan aku. Kamu udah janji mau menjagaku. Aku nggak mau kamu pergi. Kamu harus tepati janjiku.” Viza sesenggukan.“Tidak. Aku tidak pergi. Aku di sini,” lembut Vikram.Hati Viza basah mendengar suara lembut itu.“Mas Vikram masih sayang sama aku kan?” tanya Viza.Tak menjawab, Vikram malah mengerang. “Aaargggkh….”Viza mengernyit. Ia melepas pelukan dan memundurkan wajah, menatap sang suami bingung. “Sakit? Mana yang sakit?”“Punggung dan
Viza memegang kepalanya, jantungnya berdetak sangat kencang. Takut sekali. Kemungkinan buruk itu sudah bertengger di kepala Viza. Tangannya gemetar saat menggeser tombol hijau. “Ha haloo…” Suara Viza lirih. “Nyonya, sebaiknya Anda segera ke rumah sakit sekarang. Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik, tapi….” Mendengar kalimat yang diucapkan dokter, Viza sudah tahu sambungannya. Dia menjauhkan hp dari telinga. Menurunkan benda pipih itu ke bawah. Ia tak perlu mendengar sambungan kalimat dari dokter. Dengan langkah gemetar, Viza menuju ke kamar yang dituju. Tubuhnya mendadak terasa dingin. Ia menerobos masuk ke kamar sesaat setelah mendorong pintu. Suster menutup bagian wajah pasien dengan kain. Dokter melepas handscoon dan bersiap hendak keluar kamar. Dokter menunjuk Viza dan berkata, “Anda…” “Istri korban,” lirih Viza menatap sayu. “Maaf, kami sudah melakukan semaksimal mungkin, tapi sudah terlalu jauh dari kata selamat. Nyawa suami Anda tidak bisa diselamatkan. Tuhan b
“Semua kesalahan masih bisa dimaafkan.” Fairuz berusaha menenangkan putrinya. “Vikram memang kecewa berat sama kamu, tapi pasti dia akan kembali kepadamu. Jangan khawatir ya. Ibu tahu kok bagaimana Vikram. Dia anak yang baik.” “Bagaimana kalau Mas Vikram membatalkan pesta pernikahan kami? Dia pasti nggak peduli meskipun uang milyaran yang dia gunakan untuk pesta pernikahan terbuang sia-sia.” “Nanti bisa kamu bicarakan baik-baik dengannya. Kalau hati Vikram sudah lega, dia pasti bisa diajak bicara secara dewasa kok. Ini hanya karena dia lagi emosi aja.” Viza menghela napas. “Sebenarnya, yang paling aku takutkan itu satu hal, bagaimana kalau rasa sayangnya ke aku jadi hilang gara-gara ini?” “Nggak semudah itu.” Fairuz mengusap punggung tangan putrinya dengan senyum. Perkataan Fairuz berhasil mengurangi sedikit kecemasan Viza. Meski itu hanyalah kata-kata sekedar menghibur saja, atau memang sungguhan pendapat Fairuz benar, yang jelas Viza merasa mendapat support. Brrrt brrrrt…
Cekrek cekrek. Kilatan kamera memotret wajahnya dari berbagai sisi dan berbagai gaya pula. Bibir dibikin manyun, dibikin tersenyum, jari membingkai wajah, dan berbagai macam gaya. Viza memilih beberapa gambar dan mengirimkannya ke nomer Vikram. Tak mengapa nakal sedikit sama suami. Halal. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Caption di gambar juga dibikin nakal. ‘Mas gk pingin ketemu nih?’ ‘Aku salah, tapi aku kangen. Gimana dong?’ ‘Maafin aku ya, sayang. Pulang dong. Mau peluk.’ ‘Kalau Mas Vikram di sini, aku lepas semuanya deh.’ Pesan terkirim. Centang dua. Tapi tidak dilihat juga. Lama menunggu, bolak balik mengecek, tetap saja tidak dibaca. Duh, kok jadi cemas ya? *** Viza menggeliat di atas kasur empuk. Kasur ini memang nyaman sekali. Bikin betah berguling bebas di sini. Eh, tunggu dulu. Kok Viza sudah berada di atas kasur? Seingatnya, tadi malam ia ketiduran di kursi dekat jendela. Lalu siapa yang mengangkat badannya ke kasur dan bahkan menyelimuti dengan bed co
Gubrak! Viza tersungkur setelah tersandung. Duh, Vikram kali ini lengah, dia tidak menangkap badan Viza. Entah pria itu sedang tidak sigap, atau memang dia sengaja tak mau menangkap badan Viza. Dada Viza yang masih dalam masa perkembangan itu sakit sekali. Kalau suami marah, efeknya Viza jatuh sendiri, bangkit pun sendiri. Tanpa bantuan. Eh, Viza melihat tangan terjulur ke depan wajahnya. Pandangan Viza naik dari telapak tangan menuju ke wajah. Wajah datar Vikram dingin sekali. Viza tersenyum menyambut tangan suaminya. “Terima kasih, Mas.” Meski dibantu dengan muma dingin, namun Viza tetap menunjukkan sikap manis. Viza sedang berusaha melukuhkan hati suaminya, maka jangan putus asa. “Diamlah supaya tidak terjatuh!” titah Vikram kemudian melenggang keluar rumah. Pria itu masih terluhat dingin. “Mas…… Tunggu….!” Viza mengejar Vikram. “Aku minta maaf. Plis, jangan marah! Mas, aku sayang kamu.” Vikram masuk ke mobil. Senyum Viza perlahan lenyap menatap mobil yang kemudian
Hening.Beberapa detik benar-benar sunyi.Lalu terdengar suara sepatu melangkah mendekat. Vikram berada tepat di belakang Viza.Caruk leher Viza sempurna meremang. Ia kemudian bangkit berdiri, memutar badan hingga menghadap dengan Vikram. Mereka bertukar pandang.Wajah Vikram tak seperti biasanya. Pria yang selalu terlihat manis dan hangat, kini dingin. Tatapannya pun dingin.“Mas, aku…”“Aku bahkan telah membatalkan meeting dengan dua klien besar untuk makan malam kita di restoran kemarin,” potong Vikram datar. Viza semakin merasa bersalah. Aduh, bagaimana ini? Vikram pasti merasa sangat kecewa. Begitu banyak hal besar telah dia korbankan demi hal kecil bersama dengan keluarga kecilnya, tapi istrinya ini malah memporak-porandakannya.Demi apa Vikram melakukan hal itu? Tentu demi rasa sayangnya pada Viza. Huh, kenapa Viza bisa termakan ucapan si pengirim surat kaleng itu?“Maaf, aku sudah mengacaukan semuanya.” Viza berucap lirih.“Tidak ada bulan madu ke Mesir, tidak ada pesta.”“Ta
“Ucapanku ini berlaku jika memang tuduhanmu benar, tapi kenyataannya tuduhanmu ini keliru. Kamu salah paham, Viza.” “Kalau begitu jelaskan dan luruskan dimana letak kesalahpahamanku supaya aku mengerti.” Mones mengusap air mata, tangisnya sudah terhenti. Ia menarik napas untuk menenangkan diri. “Memang benar aku mencintai Vikram sejak lama, aku menyimpan perasaan itu, aku memendamnya karena takut persahabatan kami akan rusak oleh perasaan yang nggak seharusnya. Juga karena aku takut dia akan menjauhiku saat tahu aku mencintainya,” jelas Mones. “Setahuku, Vikram hanya mencintaimu. Dia nggak pernah mencintaiku. Bahkan setelah dia mendengar pengakuanku di restoran waktu itu, bahwa aku mencintainya, responnya sangat datar. Dia bilang supaya aku profesional kerja. Sebab dia sudah beristri.” “Lalu, kartu undangan itu apa?” Viza menunjuk kartu undangan di tangan Mones. “Ini?” Mones mengangkat kartu itu. “Ini adalah salah satu bentuk dan caraku menuangkan rasa cintaku ke Vikram. Ini car