Setelah Benteng Selatan
Fajar menyingsing ketika Alvaro dan timnya meninggalkan Benteng Selatan. Johan kini menjadi tawanan mereka, diikat di bagian belakang kendaraan mereka yang melaju cepat menuju tempat persembunyian baru. Meskipun Johan telah dilumpuhkan, kata-kata terakhirnya terus menghantui Alvaro.“Dia akan datang untukmu…”
Alvaro berusaha menyatukan potongan-potongan informasi yang dia miliki. Kata-kata Johan tentang pengkhianat dalam keluarganya membuatnya gelisah, tetapi ia tahu bahwa pertanyaan itu tidak bisa dijawab segera.
“Apa rencana kita sekarang?” tanya Karin sambil memeriksa senjata yang mulai kehabisan amunisi.
“Kita interogasi Johan,” jawab Alvaro singkat. “Dia tahu lebih banyak dari yang dia katakan. Aku tidak akan berhenti sampai aku mendapatkan semuanya.”
Ricardo mengangguk setuju. “Tapi kita harus hati-hati. Johan itu licik. Dia bis
Keputusan yang BeratMalam itu, Alvaro duduk sendirian di sudut ruangan, memandangi nama pamannya yang tertulis di dokumen. Pikirannya penuh dengan pertanyaan.“Kenapa dia melakukannya?” gumamnya pelan.Karin mendekatinya dengan hati-hati. “Alvaro, kita perlu membicarakan ini.”Alvaro menoleh, wajahnya tegang. “Apa yang harus kita bicarakan? Pamanku, orang yang aku percayai, adalah bagian dari ini semua. Dia mengkhianati keluargaku. Mengkhianati aku!”Karin menghela napas. “Aku tahu ini berat. Tapi kita tidak bisa terburu-buru. Kita butuh lebih banyak bukti sebelum mengambil langkah selanjutnya.”Ricardo, meskipun terluka, ikut memberikan pendapatnya. “Karin benar. Kalau kita langsung menyerang, kita bisa membuat semuanya lebih buruk. Kita harus memainkan permainan ini dengan cerdas.”Alvaro terdiam. Ia tahu mereka benar, tetapi emosinya sulit dikendal
Ketegangan di UdaraMalam itu begitu sunyi, namun ketegangan terasa menyesakkan. Alvaro berdiri di depan jendela besar persembunyian mereka, memandangi bulan purnama yang memancarkan cahaya redup di langit gelap. Dalam benaknya, ia terus memutar rencana yang akan segera mereka jalankan.“Sudah yakin dengan keputusan ini?” tanya Karin sambil menghampiri, membawa dua cangkir kopi.“Tidak ada jalan kembali,” jawab Alvaro. “Malam ini, semuanya harus selesai.”Karin menatapnya dengan mata penuh kekhawatiran. “Aku tahu kau ingin mengungkap kebenaran. Tapi bagaimana jika—”“Tidak ada ‘jika’, Karin,” potong Alvaro tegas. “Mereka telah menghancurkan hidupku. Malam ini, aku akan memastikan mereka membayar.”Ricardo dan Victor bergabung ke ruang utama, membawa denah villa yang telah mereka susun bersama. Leo mengikuti dari belakang, membawa catatan kecil yang penuh dengan informasi penting.“Kita hanya punya satu kesempatan,” kata Ricardo sambil menunjukkan rute penyusupan. “Jika mereka tahu kit
Luka yang Masih TerbukaHujan deras mengguyur villa malam itu, membasuh darah dan keringat yang baru saja mengisi ruangan. Suara petir yang menggelegar seakan menjadi latar bagi perasaan Alvaro yang penuh dengan kemarahan dan kekecewaan. Ia terduduk di lantai, menatap kosong ke arah tubuh pamannya yang tergeletak. Kata-kata terakhir pria itu terus terngiang di telinganya seperti gema yang tidak kunjung hilang."Ayahku? Bagaimana bisa?" gumamnya, hampir tidak terdengar di tengah hujan deras. Tangannya gemetar, masih memegang pistol yang dingin dan berat.Karin mendekati Alvaro dengan hati-hati. Wanita itu tahu bahwa ini adalah momen rapuh baginya. Ia berlutut di sampingnya, menempatkan tangannya di pundaknya. "Alvaro," katanya dengan lembut. "Kita harus pergi sekarang. Mereka pasti akan datang untuk mencari kita."Namun, Alvaro tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya, matanya memandang kosong ke arah jendela besar di ujung ruangan. I
Kabur dengan Harga MahalMalam terasa seperti tak berujung saat Alvaro dan kelompoknya berhasil melarikan diri dari markas ayahnya. Namun, meskipun mereka membawa bukti yang cukup untuk menjatuhkan pria itu, suasana di antara mereka penuh dengan ketegangan.Ricardo, yang masih terluka akibat insiden sebelumnya, mengamati layar laptopnya dengan penuh konsentrasi. “Kita sudah jauh dari markas, tapi mereka pasti akan mengejar kita.”Alvaro menatap ke luar jendela mobil yang melaju kencang. Pikirannya dipenuhi berbagai skenario tentang siapa yang mungkin telah berkhianat dalam kelompok mereka.Karin duduk di samping Alvaro, mencoba menyeka darah di lengan Ricardo dengan kain. “Kita butuh tempat aman untuk beristirahat. Kalau terus seperti ini, kita tidak akan bertahan.”Alvaro mengangguk. “Kita harus mengatur ulang rencana. Dan aku harus tahu siapa di antara kita yang masih bermain dua sisi.”
Gudang yang sebelumnya menjadi tempat perlindungan kini hanya tinggal kenangan. Dengan segala kekacauan dan pengkhianatan yang mereka alami, Alvaro tahu bahwa mereka harus lebih berhati-hati dari sebelumnya.“Semua ini belum berakhir,” kata Alvaro kepada timnya. “Ayahku masih mengendalikan permainan. Selama dia bebas, kita tidak akan pernah aman.”Ricardo, meskipun terluka, masih menunjukkan semangatnya. “Kita punya senjata terbesar: bukti. Sekarang, yang perlu kita lakukan hanyalah memastikan semuanya sampai ke tangan yang tepat.”Namun, Nadia memotong. “Tidak semudah itu. Ayahmu memiliki koneksi luas, Alvaro. Bahkan jika kita membawa bukti ini ke pihak berwenang, tidak ada jaminan mereka akan bertindak.”Karin menatap Nadia dengan penuh keyakinan. “Maka kita harus menciptakan tekanan. Bukan hanya menyerahkan bukti, tetapi membuatnya menjadi perhatian publik.”Alvaro mengangguk. “Ki
Alvaro duduk di sebuah ruangan kecil dengan lampu yang redup. Mereka berhasil melarikan diri dari gedung Antonio, tetapi situasi masih jauh dari kata aman. Karin, Ricardo, dan Nadia bergantian menjaga pintu sementara Ricardo memeriksa data yang berhasil mereka selamatkan.“Rekaman itu memang membuat Antonio tertangkap,” kata Ricardo dengan suara pelan. “Tapi jaringan yang dia bangun masih ada, dan mereka tidak akan tinggal diam.”Karin mendekati Alvaro, menyodorkan secangkir kopi. “Kau harus istirahat, Alvaro. Kita semua tahu ini belum selesai, tapi kau butuh energi untuk langkah berikutnya.”Alvaro mengangguk pelan. “Aku hanya tidak bisa berhenti memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Setiap langkah kita akan diikuti oleh mereka. Bahkan sekarang, aku merasa seperti kita sedang diawasi.”Nadia, yang baru saja masuk dengan peta dan beberapa dokumen di tangannya, menyela pembicaraan. “Kita perlu m
Malam itu, Selena mulai merasa ada yang aneh. Tim Alvaro tampak tenang meskipun situasi di luar semakin tegang. Alvaro, Nadia, Ricardo, Karin, dan Emilio tampak sibuk mempersiapkan sesuatu yang Selena tidak tahu apa itu.“Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?” tanya Selena kepada Ricardo, berusaha mencari tahu.Ricardo hanya tersenyum. “Kita sedang memastikan bahwa semua berjalan lancar.”Di tempat lain, Bayangan menginstruksikan timnya untuk menyerang markas Alvaro. Dia berpikir bahwa Selena telah memberikan cukup informasi untuk memastikan keberhasilan serangan itu. Namun, Bayangan tidak tahu bahwa informasi tersebut telah dimanipulasi.Ketika tim penyerang mendekati markas, mereka disambut oleh jebakan yang telah dipasang oleh Nadia dan Karin. Gas pembius dilepaskan ke udara, melumpuhkan sebagian besar penyerang sebelum mereka sempat memasuki markas.“Kerja bagus, Nadia,” kata Karin sambil tersenyum.&
Meskipun Bayangan telah dikalahkan dan markasnya dihancurkan, Alvaro tahu bahwa perang belum berakhir. Ricardo menemukan petunjuk baru dalam sistem Bayangan yang mengarah ke jaringan lebih besar di balik organisasi itu.“Ada seseorang yang lebih besar dari Bayangan,” kata Ricardo saat mempresentasikan temuannya. “Orang ini dikenal sebagai ‘Sang Pengendali.’ Dia yang memberi perintah kepada Bayangan.”“Jadi, kita baru saja menjatuhkan pion,” kata Nadia dengan nada skeptis.Alvaro mengangguk. “Dan sekarang kita harus menemukan raja di balik semua ini.”Petunjuk Ricardo membawa mereka ke sebuah lokasi misterius di Asia Timur, tempat operasi besar Sang Pengendali diyakini berada. Namun, perjalanan ini penuh risiko. Mereka harus menyusup ke sebuah kota yang dikontrol ketat oleh jaringan kriminal internasional.Selena merasa gugup tetapi juga bersemangat. Setelah pembuktian dirinya di misi
Alvaro berdiri diam di tengah gudang tua yang kini sunyi mencekam. Tubuh Harsono tergeletak tak berdaya di lantai beton yang dingin, darah mengalir dari luka di wajahnya yang memar dan bengkak. Napasnya lemah, nyaris tak terdengar. Di sekitar mereka, sisa-sisa pertarungan berserakan: pecahan kaca, senjata yang terjatuh, dan bayangan masa lalu yang menghantui Alvaro tanpa henti. Ricardo, Selena, dan Carlos berdiri tak jauh dari sana, wajah mereka dipenuhi kepedihan dan kekecewaan. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Alvaro, teman yang dulu mereka kenal, telah berubah menjadi seseorang yang begitu asing—penuh kebencian dan dendam. Mereka tak lagi mengenali sosok yang berdiri di hadapan mereka. “Sudah cukup, Alvaro,” suara Ricardo pecah dalam keheningan, suaranya penuh rasa sakit. “Kau sudah membalas dendammu. Harsono sudah hancur... Apa lagi yang kau inginkan?” Alvaro menoleh perlahan, menatap Ricardo dengan mata tajam yang dipenuhi kekosongan. “Keadilan... untuk
Gudang tua itu berdiri sunyi di tengah kawasan industri yang ditinggalkan, dikelilingi oleh puing-puing bangunan yang runtuh dan jalanan berdebu. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma karat dan kelembaban yang menusuk hidung. Di dalam gedung yang gelap dan dingin itu, Alvaro berdiri tegak, menatap Harsono yang terpojok di sudut ruangan. Wajah Harsono memucat. Tubuh tuanya bergetar dalam ketakutan yang tak mampu ia sembunyikan. Mata Alvaro menyala dengan api kebencian yang begitu dalam, mencerminkan amarah yang telah terpendam sejak masa kecilnya yang hancur. Malam ini adalah akhir dari semua dendam yang telah membayangi hidupnya. Malam ini, semuanya akan berakhir. “A-Alvaro...” Suara Harsono gemetar, penuh rasa takut. “K-kita bisa bicarakan ini...” “Bicara?” Alvaro menyeringai sinis, langkah kakinya mantap mendekat. “Apa kau pernah membiarkanku bicara saat kau menculikku? Saat kau membuangku seperti sampah tanpa peduli apa yang terjadi padaku?” Harsono menelan ludah, keringat
Hujan mengguyur kota dengan deras, menambah kelam suasana malam itu. Petir menyambar, menampakkan bayangan gedung megah milik Harsono yang berdiri kokoh di puncak bukit. Dari kejauhan, Alvaro memandangi tempat itu dengan tatapan tajam, wajahnya tak menunjukkan emosi sedikit pun. “Aku sudah sampai di sini... Setelah bertahun-tahun hidup dalam bayangan, saatnya menunjukkan siapa aku sebenarnya,” gumam Alvaro pelan. Langkah kakinya mantap saat dia mendekati gerbang utama. Dengan gerakan cepat, ia melumpuhkan penjaga tanpa suara. Tubuh-tubuh tak berdaya jatuh ke tanah sementara Alvaro terus melangkah, tatapannya lurus ke arah pintu masuk utama. Suara alarm berbunyi nyaring. Harsono sudah menunggunya. Di dalam ruang kerjanya yang mewah, Harsono berdiri menghadap jendela besar. Dia tahu bahwa orang yang menyerang jaringannya selama ini akhirnya datang untuk menemuinya. Dengan tenang, ia menyesap anggur merah dari gelas kristal di tangannya. Langkah kaki terdengar mendekat. Harsono berb
Alvaro berdiri di atas atap gedung tua, menatap hiruk-pikuk kota di bawahnya. Lampu-lampu kota bersinar terang, namun hatinya dipenuhi kegelapan yang pekat. Udara malam berhembus dingin, menggoyangkan ujung jaket hitam yang dikenakannya. Tatapannya tajam dan penuh perhitungan. Dia tahu betul bahwa langkah pertama dalam rencananya adalah menghancurkan jaringan bisnis Harsono. Tapi dia tidak bisa melakukannya sendiri. Untuk itu, dia membutuhkan informasi yang akurat dan bantuan dari orang-orang yang tahu betul kelemahan lawannya. Alvaro mengingat wajah-wajah yang dulu pernah berdiri di sisinya—Ricardo, Selena, dan Carlos. Mereka bertiga pernah menjadi sahabatnya, rekan yang dia percayai sepenuh hati. Namun ketika dia kembali sebagai Alvaro yang berbeda, mereka menolaknya, menganggapnya sebagai musuh. “Itu bukan salah mereka,” pikir Alvaro dalam hati. “Mereka tidak tahu apa yang sudah kulalui... apa yang harus kualami sendirian.” Namun, Alvaro juga tahu bahwa untuk mencapai tujuannya
Alvaro berlari menembus gelapnya malam, nafasnya memburu. Suara langkah kaki terdengar memburu dari arah belakang, menggema di sepanjang lorong sempit yang berliku. Ricardo, Selena, dan Carlos masih mengejarnya dengan gigih, tidak rela melepaskannya begitu saja. Dia menyelinap masuk ke dalam gang sempit, tubuhnya menyatu dengan bayang-bayang gedung tua yang reyot. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, namun wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi gentar sedikit pun. Di balik matanya, pikiran bergerak cepat, mencari cara untuk menghilang dari kejaran mereka. “Aku tidak akan berhenti sampai kau tertangkap, Alvaro!” teriak Ricardo dengan napas tersengal. Selena dan Carlos berusaha mengepungnya dari dua arah. Mereka tahu betul kemampuan Alvaro dalam melarikan diri, dan tidak ingin memberinya celah sedikit pun. Namun Alvaro sudah memperhitungkan semuanya. Dengan gesit, dia melompat ke atas tumpukan kotak kayu dan naik ke atap bangunan rendah di sampingnya. Dari sana, dia melompat ke ata
Sunyi yang mencekam masih menggantung di udara setelah Ricardo, Selena, dan Carlos menyadari kenyataan pahit itu—ada pengkhianat di antara mereka.Mata mereka saling bertautan, masing-masing mencoba membaca pikiran satu sama lain, mencari tanda-tanda kebohongan.Carlos, yang masih berlumuran darah dan lemah karena luka-lukanya, menarik napas berat. “Kita tidak bisa membiarkan paranoia menghancurkan kita dari dalam.”“Tapi kita juga tidak bisa membiarkan pengkhianat tetap bersama kita,” kata Selena tajam.Ricardo menghela napas. “Tidak ada gunanya saling menuduh tanpa bukti. Yang terpenting sekarang, kita harus keluar dari sini sebelum lebih banyak orang Konstantin datang.”Namun, sebe
Ricardo memacu truk di jalanan bersalju yang mulai tertutup kabut. Roda-roda besar kendaraan itu sesekali tergelincir di atas permukaan licin, tetapi dia tetap mengendalikannya dengan tenang. Di belakang mereka, dua mobil hitam dengan sirene pelan mulai mengejar.“Konstantin pasti tahu kita kabur dengan truk ini,” kata Selena sambil mengamati jalan di belakang melalui jendela kecil di ruang kargo. “Mereka tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja.”Carlos duduk di atas salah satu peti amunisi sambil merakit senapan serbu. “Bagus. Itu artinya kita bisa menyerang sebelum mereka sempat menyusun rencana baru.”Alvaro yang berdiri di sampingnya mendesah. “Kau benar-benar menikmati ini, ya?”Carlos menyeringai. “Bukankah
Van tua yang dikendarai Carlos melaju dengan kecepatan penuh, membelah jalanan Moskow yang masih sepi di pagi buta. Di belakang mereka, dua SUV hitam dengan logo organisasi Konstantin terpampang jelas di sisi pintunya terus mengejar, disertai suara sirene polisi yang seolah menggema dari segala arah.Ricardo memeriksa peluru di magazinnya. "Kita tidak akan bisa kabur hanya dengan kecepatan. Mereka punya kendaraan yang lebih baik!"Selena sudah membuka jendela samping, mengangkat senapan serbunya. "Maka kita harus membuatnya lebih adil."BRAK!Tembakan pertama dari musuh menghantam bagian belakang van, membuat kaca pecah dan serpihan logam beterbangan ke dalam."Kita tidak bisa hanya menghindar!" ujar Alvaro, yang mulai bersiap dengan pistol di tan
Truk yang mereka tumpangi melaju melewati jalanan Moskow yang dingin. Dari sela-sela peti kargo, Alvaro mengintip keluar. Lampu-lampu jalan berpendar di malam yang gelap, dan sesekali mobil patroli melintas, membuat mereka semua semakin waspada.“Kita akan kemana sekarang?” bisik Selena.Carlos, yang duduk di sebelahnya, menatap peta yang telah direkam dalam ingatannya. “Kita harus menemukan transportasi lain. Truk ini hanya membawa kita keluar dari bandara, tapi kita tidak bisa terus bersembunyi di dalamnya.”Ricardo, yang duduk di dekat pintu belakang, melirik arlojinya. “Kita bisa lompat keluar saat truk ini berhenti di lampu merah atau perbatasan distrik.”Benar saja, setelah beberapa menit, truk mulai melambat di sebuah persimpangan. Ricardo mengisyaratkan kepada yang lain, dan tanpa suara mereka menyelinap keluar, menyelinap ke gang sempit di dekatnya.Namun, mereka tidak menyadari satu hal—mereka telah diawasi sejak awal.Seorang pria berjas hitam di seberang jalan mengangkat t