Share

Bab 134

Penulis: Levin Sergio
Lantaran sudah punya mobil sendiri, Nathan juga tidak akan merepotkan Emilia lagi.

Setelah masuk ke dalam mobil, Nathan menginjak pedal gas dan langsung menuju ke Departemen Proyek Gluton.

Emilia menatap mobil Porsche yang dengan cepat menghilang dari pandangannya. Saking kesalnya, dia sampai menghentakkan kaki.

Setelah mereka putus, Nathan makin tidak peduli dengannya.

Nathan kini mengendarai mobil mewah. Pria itu juga dipromosikan sebagai wakil kepala Rumah Sakit Perdana. Bima Nugroho, orang paling kaya di Beluno, juga menyukainya. Dia mempercayakan tugas-tugas penting dan memberikan posisi pimpinan departemen Grup Nugroho pada Nathan ....

Jika status-status itu digabung semuanya, Nathan sepertinya juga tidak jauh berbeda dengan Emilia, CEO Grup Sebastian.

"Apa aku sungguh sudah salah menilai Nathan?"

Suasana hati Emilia terasa rumit. Dia bergumam pada dirinya sendiri.

Namun tak lama kemudian, dia merasa dirinya sudah berpikir terlalu jauh.

Segala yang dimiliki Nathan sekarang dipero
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 135

    Nathan berkata dengan nada datar, "Aku hanya nggak ingin orang-orang nggak berguna ikut campur dalam kerja sama kita. Bu Emilia, jangan lupa bahwa setengah dari kekuatan pengambilan keputusan proyek ini masih ada di tanganku."Tamara dan Ken sangat kesal, tetapi mereka tidak berani mengatakan apa-apa. Keduanya hanya bisa memendam amarah dalam hati.Tamara dan Ken tentu ingin mengandalkan Emilia yang cakap untuk menghasilkan uang dari proyek tersebut.Namun jika Nathan tidak setuju, mereka terpaksa harus meninggalkan tempat itu dengan patuh.Emilia berkata dengan serius, "Jangan khawatir, Pak Nathan. Ibu dan adikku nggak akan menyalahgunakan proyek Gluton. Aku pasti akan memisahkan masalah kerjaan dengan masalah pribadi!""Tapi pemikiran dan sikap Pak Nathan sungguh mengagumkan."Selesai berbicara, Emilia pun berjalan memasuki kantor proyek sambil memasang ekspresi dingin.Tamara tersenyum bangga dan berkata, "Nathan, Emilia adalah putriku kesayanganku dan dia juga kakak kandungnya Ken.

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 136

    Pak Henry yang duduk bersandar di sofa tersenyum sinis. "Memandang kamu itu adiknya Bu Emilia, aku nggak akan perhitungan denganmu.""Tapi anak muda, aku ingin menasihatimu. Jangan menilai orang dari penampilannya. Kamu kira dari mana datangnya kepercayaan diriku untuk bersikap sombong seperti ini?"Tamara membela putranya. "Bukankah hanya seorang CEO kaya baru? Apa hebatnya?"Pak Henry mendengus dingin. "Wanita tua, kamu juga suka memandang rendah orang lain, 'kan? Haha. Kamu bisa tanyakan kehebatanku pada Bu Emilia.""Tanpa aku, proyek Gluton kalian nggak mungkin bisa berhasil."Tamara dan Ken dipenuhi dengan kebencian. Mereka sangat tidak puas.Sebelum menunggu keduanya berbicara, Emilia sudah menegurnya. "Bu, kalian sungguh ingin mengacaukan masalah?""Untuk proyek Gluton, hanya Grup Makarim yang punya material berkualitas terjamin. Atau apa kalian bisa mencari pemasok material baru untukku?"Tamara dan putranya tidak berani berbicara lagi. Mereka hanya berdiri di samping dengan ke

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 137

    "Pak Henry, apa kamu nggak merasa permintaanmu terlalu banyak?"Emilia mengucapkan kata-kata itu sambil menggertakkan giginya.Henry ini benar-benar menguji batas kesabarannya.Pak Henry tersenyum dan berkata dengan tenang, "Bu Emilia, jangan marah dulu. Dengarkan aku. Wanita cantik sepertimu akan segera menjadi wanita Tuan Edward. Jujur saja, aku merasa nggak enak.""Apa di antara kalian ada yang bisa membayangkan bagaimana rasanya merindukan sesuatu, tapi nggak bisa mendapatkannya? Hanya bisa memandangnya, tapi nggak bisa menikmati rasanya?"Ken berkata dengan nada tidak sabar, "Pak Henry, langsung katakan saja apa yang kamu inginkan. Jangan omong kosong. Kecuali Tuan Edward, nggak ada pria lain yang pantas untuk kakakku.""Aku juga berpikir demikian. Bu Emilia dan Tuan Edward itu pasangan serasi!" ucap Pak Henry sambil tertawa."Jadi, aku nggak berani minta yang lain lagi. Aku hanya punya satu permintaan kecil. Aku ingin Bu Emilia menyilangkan tangan untuk bertukar gelas dan minum a

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 138

    Emilia hanya merasakan perasaan tidak berdaya dalam hatinya.Saat menghadapi gangster seperti itu, identitasnya sebagai CEO Grup Sebastian juga tidak akan berguna.Namun, jika meminta Emilia langsung menelepon Edward, dia juga tidak mau.Emilia tidak ingin membuat dirinya tampak tidak berguna dan terus-terusan meminta bantuan Tuan Edward dalam segala hal.Namun, ibu dan adiknya dipukul di hadapannya. Apalagi, kerja sama mereka juga tidak berhasil.Bisa dikatakan, Grup Sebastian sudah kehilangan segalanya, tetapi tidak mendapatkan hal yang baik.Tepat di saat Pak Henry sampai di depan pintu.Nathan yang dari tadi tidak berbicara pun menghentikannya."Pak Henry memukul orang dan pergi begitu saja, bukankah ini keterlaluan?"Pak Henry mendongak dan berkata dengan bibir mengerucut, "Dari mana asal bajingan ini? Kalau nggak mau mati, aku sarankan sebaiknya kamu keluar saja dari sini."Nathan berkata dengan nada datar, "Aku orang yang bertanggung jawab dalam proyek ini. Kamu boleh nggak beke

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 139

    Mulut dan hidung Pak Henry langsung menyemburkan darah. Kepalanya terasa berdengung dan pusing. Tamparan Nathan barusan sudah hampir mengambil separuh nyawanya.Diikuti bunyi keras, Nathan menendangnya lagi dan membuat tubuh Pak Henry, yang beratnya lebih dari 100 kg terjatuh ke bawah.Nathan menginjak dada Pak Henry, lalu menatapnya dan berkata, "Pak Henry nggak suka bicara baik-baik, 'kan? Kalau begitu, mari ubah cara kita berbicara.""Sekarang, Pak Henry, apa kamu mau minta maaf dan bayar biaya pengobatan?"Pak Henry menatap Nathan dengan ngeri. Serangkaian pukulan barusan langsung menghilangkan kesombongan dan perilaku mendominasinya."Ja, jangan ... jangan pukul aku lagi. Aku akan minta maaf dan beri kompensasi padamu. Aku akan menuruti perkataanmu!"Pak Henry sudah hampir menangis saat ini.Dia telah berpura-pura hebat selama bertahun-tahun ini dan juga pernah bertemu dengan lawan tangguh.Namun, hanya segelintir yang seperti Nathan, yang mampu mengalahkannya dan membuatnya kemba

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 140

    Wajah Tamara berubah gelap. Dia pun berkata dengan marah, "Siapa yang memintamu menegakkan keadilan untuk kami? Jangan kira dirimu sangat hebat. Kalau Tuan Edward yang ada di sini, dia masih bisa melakukannya."Ken berkata dengan sok tahu, "Benar sekali. Kalau saja, kakak iparku ada di sini, Pak Henry ini pasti nggak berani macam-macam."Tamara dan Ken sangat tidak senang. Orang yang menginjak mereka malah ditangani oleh Nathan.Bukankah ini membuat mereka tampak sangat tidak berguna?Emilia tidak tahan lagi dan berkata dengan marah, "Bu, bisakah Ibu diam?""Nathan-lah yang membantu kita menegakkan keadilan dalam masalah ini. Jadi, jangan disangkal lagi.""Selain itu, ini semua berkat Nathan, masalah pasokan material Grup Makarim baru bisa terselesaikan dengan sempurna."Berbicara sampai di sini, Emilia menatap Nathan dengan ekspresi rumit. "Nathan, aku nggak peduli kamu menerimanya atau nggak, tapi aku tetap ingin mengucapkan terima kasih padamu.""Kalau bukan bantuanmu tadi, ibuku da

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 141

    "Aku berbaik hati mengingatkanmu. Kalau nggak mau dengar, silakan abaikan saja. Aku paham kamu mungkin nggak bisa menghubungi Tuan Bima. Itu sebabnya, kamu sengaja bilang nggak butuh bantuannya.""Tapi jangan khawatir. Kamu juga sudah menolongku sekali. Kalau Pak Henry datang mencari masalah, meski aku nggak bisa minta bantuan Tuan Bima untuk mewakilimu berbicara, aku juga akan membelamu."Nathan terkekeh. "Nggak perlu. Lebih baik kamu urus masalah Grup Sebastian kalian saja."Tamara mendengus dingin. "Grup Sebastian kami kian berkembang pesat, masalah apa yang mungkin terjadi? Jangan sembarangan membuat rumor."Nathan tersenyum sinis dan berkata, "Kudengar putra sulung Keluarga Hitam terlilit utang dan nggak mampu menghidupi dirinya sendiri lagi. Aku khawatir investasi Grup Sebastian akan sia-sia. Kalau aku jadi kamu, aku akan segera mengambil kembali uang itu sekarang dan berusaha meminimalkan kerugian."Tamara sama sekali tidak memercayainya. "Omong kosong! Nathan, bilang saja kamu

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 142

    Waldi berkata dengan ekspresi dingin, "Master Satya, jujur saja, orang yang menargetkan titik fatal putraku adalah bocah bernama Nathan."Master Satya mengerutkan kening dan berkata, "Seorang bocah? Mustahil.""Mana mungkin bocah yang masih muda bisa mempraktikkan teknik penekanan titik akupunktur dan penyegelan meridian hingga bisa membuat kondisi putramu separah ini?"Waldi berkata dengan getir, "Master mungkin nggak percaya dengan apa yang aku katakan. Titik fatal putraku memang ditekan oleh bocah bernama Nathan itu.""Bocah itu bukan hanya menekan titik fatal putraku, tapi dia juga melumpuhkan salah satu anak buah terampilku. Aku pasti nggak akan melepaskannya begitu saja."Saat ini, Liam menyela dan bertanya, "Tuan Waldi, apa Nathan yang kamu bicarakan ini dokter muda dari Rumah Sakit Perdana?"Waldi agak terkejut. "Benar! Kenapa? Tuan Liam juga mengenalnya?"Wajah Liam berubah gelap. Dia pun berkata dengan nada datar, "Aku tahu. Mana mungkin aku nggak tahu? Saat ini, putri kesaya

Bab terbaru

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 232

    Salah satu pengawal bertanya dengan gemetar, "Tu ... Tuan Edward, apa yang harus kita lakukan?""Bocah itu menakutkan sekali. Dia bahkan menghancurkan dada Master Emir. Kalau dia mengejar kita, bukankah kita ... kita juga akan celaka?"Edward berteriak, "Sekelompok pengecut yang takut mati!""Lihat betapa pengecutnya kalian! Lebih baik Keluarga Halim memelihara anjing daripada kalian."Para pengawal itu marah, tetapi tidak berani mengatakan apa pun. Mereka hanya bisa diam-diam mencibir dalam hati.'Bukankah orang yang lebih takut mati itu Tuan Edward sendiri?'"Bawa aku untuk mengobati lukaku dulu. Setelah itu, baru pergi mencari ayahku."Tatapan mata Tuan Edward tampak begitu tajam. Dia mengatupkan giginya rapat-rapat. "Nathan, kamu tunggu saja. Pokoknya, salah satu dari kita pasti akan mati dan orang itu adalah kamu!"Di Rumah Sakit Perdana.Tamara menarik Emilia dan berbisik di telinganya, "Emilia, kesempatan Keluarga Sebastian kita sudah datang."Emilia bertanya dengan bingung, "Bu

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 231

    Dua pengawal Keluarga Halim bergegas maju dan dengan susah payah memapahnya."Master Emir, kamu ...."Edward tercengang. Dia sama sekali tidak menyangka akan berakhir seperti ini.Sebelum kehilangan kesadarannya, Emir masih sempat berpesan dengan pasrah, "Tuan Edward, cepat kabur."Seakan-akan kehilangan penyelamatnya, putra sulung Keluarga Halim langsung mengaum histeris.Wajah Nathan tampak dingin. Dia tidak mengejarnya.Serangan lutut yang barusan dia luncurkan itu telah menghancurkan meridian Emir.Sekalipun bisa bertahan hidup, Emir juga hanya bisa menjadi orang yang tidak berguna.Butuh waktu lama bagi Edward untuk tersadar kembali. "Apa yang kalian lakukan di sana? Huh? Semuanya pecundang. Cepat bawa aku pergi!"Memandang para pengawal yang tertegun, Tuan Edward langsung meraung frustrasi.Para pengawalnya baru terhenyak dan bersiap membawanya kabur dari tempat ini.Nathan berkata dengan nada datar, "Kalau kalian nggak ingin mati, tinggalkan pecundang itu di sini."Para pengawal

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 230

    Tindakan Nathan cepat dan tegas. Gerakannya juga sangat tajam.Seketika membuat Emilia, Tiara, dan yang lainnya tercengang.Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Nathan masih berani menyerang Edward. Padahal, dia ditemani oleh Master Emir hari ini.Yang lebih mengejutkan mereka lagi, bukankah Edward juga termasuk tuan muda terkenal di Beluno dan punya keterampilan bela diri yang cukup sempurna?Kenapa begitu jatuh di tangan Nathan, Edward malah seperti orang lemah dan justru dipukul secara habis-habisan? Sampai-sampai tidak bisa bangkit lagi hanya karena sentuhan ringan.Ada nyala api membara yang muncul di mata Emir."Nak, nyalinya besar juga.""Beraninya kamu menyerang orang di hadapanku. Jangan harap kamu bisa lolos hidup-hidup."Nathan melambaikan tangan ke arahnya. "Jangan omong kosong lagi. Cepatlah kalau kamu mau bertindak.""Selesai bertindak, aku masih harus memeriksa pasien lainnya."Kesabaran Master Emir seakan-akan diuji. Dia sudah hampir mengamuk. "Dasar bocah kurang aj

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 229

    "Tapi yang kulakukan untukmu kali ini sudah cukup untuk membalas semua pengorbananmu."Nathan mengerutkan kening dan berkata, "Jadi sampai sekarang, kamu masih berpikir untuk perhitungan denganku? Kamu juga berusaha keras untuk memastikan bahwa kamu dan Grup Sebastian nggak berutang apa pun padaku lagi?"Emilia memalingkan wajahnya dan berkata dengan keras kepala, "Ya, aku nggak ingin berutang padamu."Nathan tersenyum sinis. "Kamu nggak berutang apa pun padaku. Minggirlah. Bukankah Tuan Edward sangat sombong? Bukankah dia ingin mengendalikanku? Aku akan beri dia kesempatan."Emilia tertegun sejenak. Kemudian, dia memarahi pria itu. "Nathan, kamu tahu apa yang kamu lakukan?""Mundur. Edward ditemani oleh master dari Keluarga Halim. Kalau kamu terus keras kepala seperti ini, percuma saja aku kompromi dengan Edward barusan."Nathan mendorong Emilia dan berkata dengan nada datar, "Pertama, aku sama sekali nggak butuh kamu membantuku berkompromi.""Kedua, Tuan Edward sedang pamer di wilaya

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 228

    Emilia berkata dengan kaku, "Maaf, aku nggak butuh semua itu. Aku sudah bilang tadi malam, hubungan kita sudah berakhir."'Dasar wanita nggak tahu berterima kasih!'Edward diam-diam memaki Emilia dalam hatinya, tetapi wajahnya masih tetap tersenyum. "Aku tahu kamu masih marah.""Aku nggak minta kamu memaafkanku sekarang. Tapi Emilia, perasaanku padamu nggak pernah berubah. Aku akan datang ke kediaman Sebastian setiap hari untuk mengakui kesalahanku sampai kamu memaafkanku."Emilia berkata dengan nada jijik, "Edward, tahukah kamu pemikiranmu itu terlalu kekanak-kanakan?""Sudah kubilang, kamu nggak perlu mengakui kesalahanmu. Mulai sekarang, kita juga nggak perlu saling berhubungan lagi. Itu lebih baik daripada apa pun."Tamara juga ikut memarahi. "Edward, jangan ganggu putriku lagi. Bagaimanapun juga, kamu itu putra sulung Keluarga Halim. Jangan jadi orang yang nggak tahu malu."Wajah Edward tampak geram. Dia ingin menghampiri Tamara dan menghajar wanita tua itu.Namun, dia menarik nap

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 227

    Thomas juga bukan orang yang bisa ditekan oleh Tiara dan juga Regina.Edward sangat senang dan berkata dengan nada datar, "Tiara, kamu pasti nggak sangka kalau aku akan mampu menekan Nathan dan memberinya pelajaran, 'kan?""Selama ini, kamu dan Regina, dua wanita paling cantik di Beluno, selalu bergaul dengan bocah itu.""Sebagai seorang kakak, entah sudah berapa kali aku memperingatkanmu. Tapi kalian keras kepala dan nggak mau dengar nasihatku.""Begini saja. Kamu panggil Nathan ke sini, lalu suruh dia berlutut dan jilat jari kakiku. Kalau aku puas, mungkin aku akan pertimbangkan untuk melepaskan nyawanya untuk sementara waktu."Melihat senyum puas Edward, Tiara merasa jijik dan juga ilfil."Edward, bagaimanapun juga, kamu termasuk tuan muda paling berbakat di Beluno dan berasal dari keluarga bangsawan.""Tapi selama ini, kamulah yang terus-terusan mencari masalah dengan Nathan. Lantaran nggak bisa mengalahkan Nathan, sekarang kamu minta para master keluargamu untuk datang membantumu.

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 226

    "Emilia, aku datang menjengukmu, juga Bibi, dan Ken.""Tadi malam aku memang agak impulsif. Aku juga kehilangan akal sehat. Bisakah kamu memaafkanku?"Begitu Edward sampai, dia langsung memperlihatkan sikap rendah hati, seolah-olah dia itu pria yang berperilaku baik dan berhati hangat.Tamara mendengus dingin. "Maaf, kami nggak menerima permintaan maafmu. Keluarlah dari sini."Edward sama sekali tidak peduli. Dia sudah menebak bahwa Tamara akan bersikap seperti itu.Pria itu melihat sekeliling dan mendapati Emilia tidak ada di sana, jadi dia langsung bertanya, "Di mana Emilia? Dia pergi ke mana?"Tamara tersenyum sinis. "Ke mana dia pergi? Tentu saja menjauh dari pria berengsek sepertimu.""Edward, lebih baik kamu menyerah saja. Nggak ada seorang pun anggota Keluarga Sebastian yang bisa memaafkan kelakuanmu tadi malam.""Asal kamu tahu saja, Emilia sudah balikan sama Nathan. Sekarang, mereka berdua mungkin lagi bermesraan."Wajah Edward tiba-tiba berubah muram. Tatapannya seolah ingin

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 225

    "Kebetulan kakekku punya buku kedokteran yang nggak begitu dia pahami, jadi dia ingin kamu membantunya."Nathan tersenyum dan berkata, "Nggak masalah. Asal ada waktu, aku pasti akan pergi mengunjungi Pak Willy."Ada dua lesung pipit yang muncul di wajah cantik perawat itu. Dia pun melangkah pergi dengan gembira.Emilia yang berdiri di samping menyaksikan pemandangan ini dengan tatapan tidak senang."Nathan, perawat kecil ini dari Keluarga Setiawan, keluarga terpandang di Beluno, 'kan?" tanya Emilia.Nathan tidak tahu terlalu banyak tentang latar belakang Keluarga Setiawan, keluarganya Adel, jadi pria itu pun menjawab, "Aku kurang tahu."Emilia tersenyum pahit dan berkata, "Nggak perlu pura-pura lagi. Tatapan matanya yang penuh kekaguman itu sudah begitu jelas. Dia sepertinya tergila-gila padamu.""Haha. Sejak berpisah denganku, hubungan asmaramu cukup mulus juga. Sebelumnya ada Nona Regina, kemudian Nona Tiara dari Keluarga Wijaya.""Sekarang bertambah satu Adel lagi. Nathan, sepertiny

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 224

    Rumah Sakit Perdana.Begitu Nathan masuk ke dalam ruangannya, Tiara bergegas menghampiri dan berkata dengan ekspresi aneh, "Nathan, mantanmu dan keluarganya berada di rumah sakit kita."Nathan terkejut dan bertanya, "Apa terjadi sesuatu pada mereka?"Tiara cemberut dan berkata, "Sepertinya kamu masih punya perasaan terhadap Emilia. Kamu masih peduli padanya, 'kan?""Bukan seperti yang kamu bayangkan. Aku hanya merasa aneh," ucap Nathan tak berdaya.Tiara mendengus dan berkata, "Emilia baik-baik saja, tapi ibunya, si wanita tua galak itu, dan juga adik laki-lakinya, Ken, hampir dipukul sampai mati.""Aku lihat kondisi Emilia tampak kacau, wajahnya juga pucat, dan kebingungan. Bukankah kalian berdua kenal? Lebih baik kamu pergi lihat sendiri saja."Nathan tersenyum dan berkata, "Lantas, kenapa kamu barusan sepertinya nggak ingin aku pergi melihatnya?"Tiara membusungkan dadanya dan berkata dengan arogan, "Memang benar. Aku nggak ingin kamu terjerat dengan Emilia lagi.""Tapi bagaimanapun

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status