Kaki Yasmin yang hendak pergi ke kamar istirahat berhenti dan dia mematung. Wajahnya memucat dan bahkan napasnya menjadi berat."Kemarin kita sudah seharian bersama di Kota Greya. Hari ini kamu mencariku lagi. Kalau kita keseringan bersama, kita akan ketahuan oleh Yasmin." Suara Irene terdengar cemas. "Daniel, aku tahu ini membuatmu sangat sedih. Kamu harus selalu bertahan untuk anak-anak dan berpura-pura menjadi ayah yang penyayang dengan Yasmin. Aku juga sangat sedih. Hari itu seharusnya aku nggak memaksamu menikahi Yasmin. Jadi, sekarang aku menyetujui cara yang kamu ungkit sebelumnya. Menceraikan Yasmin ketika saat yang tepat sudah datang. Yang terpenting adalah aku terlalu mencintaimu dan nggak bisa hidup tanpamu. Yasmin pasti nggak akan berebutan denganku. Bagaimanapun juga, dia nggak akan berakhir dengan baik karena kamu nggak mencintainya ...."Yasmin melangkah mundur dan matanya berkaca-kaca.Dia tidak bisa mendengarkannya lagi. Dia mengambil kotak makan di meja kopi, kemudian
"Nyonya, Anda nggak akan memberi tahu orang lain, 'kan? Atau Tuan Daniel nggak akan memaafkan saya," ucap Susan.Meskipun Yasmin merasa jantungnya sudah mau terbelah dua, dia tetap memikirkan keamanan Susan. Dia berkata, "Aku nggak akan memberi tahu siapa-siapa. Ada begitu banyak orang di Taman Royal. Selain kamu, nggak ada yang pernah memberitahuku ini. Terima kasih.""Saya juga nggak berani mengatakannya. Tapi, saya nggak bisa melihat Nyonya ditindas, makanya saya mengatakannya." Susan berkata, "Saya nggak mengerti. Tuan Daniel jelas-jelas mencintai Nona Irene, tapi kenapa dia masih ingin menikahi Nyonya? Dia melukai dua orang!"Yasmin melihat ke kejauhan dengan sedih.Kenapa Daniel mau menikahinya?Dia mendengar dengan jelas di kantor kalau Daniel dipaksa oleh Irene untuk menikahinya.Dari awal, dia mengira setidaknya Daniel melakukannya untuk anak-anak. Ternyata bukan ....Pernikahannya adalah sebuah anugerah dan dapat diambil kembali kapan saja ....Susan bertanya dengan khawatir,
Muka Yasmin dan Julia muncul di video, kemudian kepala Julian dan Julius berdempet untuk memanggil Papa.Pemandangan itu membuat mata Daniel menjadi sedikit gelap.Ketika Yasmin melihat Daniel, dia tahu kalau Daniel sedang di kantor dari latar belakangnya.Kemudian, dia mengingat hal Daniel dan Irene di kamar istirahat. Rasa sakit muncul di hatinya.Irene sudah pergi pada saat ini, 'kan? Kalau tidak, Daniel tidak akan meneleponnya."Papa, kami dan Mama sedang menangkap kupu-kupu," kata Julian dengan penuh semangat.Julia berkata, "Aku dan Mama sedang memfoto kupu-kupu.""Ada banyak sekali kupu-kupu dan sangat cantik," ucap Julius.Tiga anak kecil bercerita tentang kesenangan mereka. Mereka terus berbicara."Kirim kasih aku setelah kalian memfoto kupu-kupu. Jangan mengambil ponsel Mama," ujar Daniel."Oke!" sahut anak-anak dengan riang. Mereka segera mencari Tony untuk meminta ponsel.Di video tinggal Daniel dan Yasmin yang saling bertatapan.Yasmin tidak tahu harus mengatakan apa karen
Daniel baru menjadi mengerikan kalau ada hal yang berkaitan dengan Irene.Setelah anak-anak bermain beberapa menit di tempat tidur, mereka mulai menguap. Setelah itu, mereka ketiduran.Yasmin tidur bersama mereka.Saat dia bangun, anak-anak sudah menjadi Daniel dan dia berada di dalam pelukan Daniel.Entah kapan Daniel pulang.Yasmin melihat mata Daniel tertutup dan mengira dia sedang tidur, jadi dia mencoba bangun dari pelukan Daniel.Hanya saja, dia baru saja bergerak, lalu tangan di sekitar lengannya mengerat."Jangan bergerak."Yasmin berkata, "Aku sudah nggak mau tidur.""Bukankah sudah kubilang jangan tidur dengan anak-anak. Ini hukuman." Daniel sudah tertidur, tapi dia terbangun begitu Yasmin bergerak.Yasmin diam saja. Dia tidak mengerti kenapa Daniel ingin begitu perhitungan ...."Apa yang sedang kamu pikirkan?" Daniel memegang dagu Yasmin, lalu mengangkatnya agar Yasmin menatapnya.Tatapan itu langsung membuat waktu berhenti.Kepala Yasmin terasa kosong. Dia menggelengkan kep
Pupil mata Yasmin bergerak dan dia menggigit bibirnya. Dia tidak mau berbicara.Kemudian, dia mendengar suara tawa Daniel.Dia melihat Daniel dengan bingung. "Ng ... nggak boleh ketawa.""Aku nggak ketawa.""Ada ....""Apa kamu melihatnya?" ejek Daniel."Aku mendengarnya ...." Yasmin tiba-tiba merasa tidak yakin.Karena Daniel adalah orang yang tidak akan menunjukkan ekspresinya dengan mudah. Seharusnya Daniel tidak akan tertawa padanya.Daniel mengusap air mata Yasmin. Wajah Yasmin bahkan tidak sebesar telapak tangan Daniel. Yasmin tampak sedih dan kasihan, itu membuat hati Daniel perih."Aku nggak pergi. Aku pergi mengambil makanan untukmu."Mata Yasmin tertuju pada meja samping tempat tidur. Dia melihat ada sebuah mangkuk di sana.Kalau tebakannya tidak salah, itu sarang burung.Sore hari, selain kue, dia harus memakan sarang burung."Apa kamu sudah menaruh gula?" bisik Yasmin.Daniel mengambil mangkuk tersebut, kemudian dia menyuap Yasmin. "Cobalah."Yasmin memakannya. Manis. "Kamu
Awalnya, Winston melihat seorang wanita turun. Kemudian, Evan turun dari mobil.Saat Winston melihat Evan, dia makin menyembunyikan tubuhnya sehingga hanya tersisa matanya.Itu benar-benar dia!"Yasmin." Lauren berjalan ke depan Yasmin.Yasmin melihatnya dan tahu kalau ini adalah Lauren. "Lauren." Kemudian, dia menoleh ke Evan yang berjalan ke arahnya. "Paman."Kemarin Lauren baru tahu Yasmin hilang ingatannya setelah mengalami kecelakaan mobil. Dan Evan yang memberitahunya. Maka itu, dia buru-buru kemari."Yasmin, apa kamu mengingatku?" tanya Lauren.Yasmin tahu kecelakaan mobilnya bukan sebuah rahasia. Dia menjawab, "Maaf, aku sudah melupakan semua ingatan lamaku. Karena kamu dan Paman ada di buku kontakku, aku bertanya pada Mike.""Yasmin, kamu nggak usah meminta maaf pada kami. Aku yang salah karena selama ini aku nggak menghubungimu. Seharusnya aku lebih cepat datang untuk melihatmu." Lauren tampak sangat bersalah.Dia bekerja di Grup Samson untuk mencari rahasia Evan yang tak dik
Ekspresi Evan tidak membaik setelah mendengar penjelasan Lauren.Dia mengira Lauren pasti bisa hamil tanpa alat kontrasepsi.Lauren mencoba berkata, "Kak Gilbert, apa kamu bisa meminta orang membelikanku pembalut? Aku nggak membawanya."Evan berbalik dengan ekspresi masam.Lauren mendengar suara pintu di luar ditutup, kemudian Lauren segera menutup pintu kacanya.Dia tidak bisa membiarkan Evan tahu kalau sebenarnya dia ada meminum obat kontrasepsi.Waktu itu dia membeli dua macam obat kontrasepsi untuk berjaga-jaga.Satu adalah obat kontrasepsi dalam botol vitamin yang ditemukan oleh Evan, sedangkan yang satu lagi disembunyikan di lemarinya.Evan pasti tidak menduga itu.Kalau tidak, dengan pengekangan Evan tanpa akhir, Lauren pasti akan hamil.Dia tidak bisa melakukan apa-apa dengan kehamilan pertamanya. Untuk kedua kalinya, dia bisa mencegahnya.Evan bukan orang normal. Bagaimana dia bisa melahirkan anak orang tidak normal? Itu hanya akan menjadi sebuah tragedi.Pintu kaca buram terb
Yasmin menjawab, "Aku nggak tahu.""Aku mendengar rekan kerjaku pernah pergi ke rumah Tuan Daniel untuk kasus ini. Ini karena waktu itu Evan yang tersangka berada di sana. Setelah itu, mereka kembali tanpa hasil."Yasmin tidak tahu tentang hal ini. "Kalian mencurigai pamanku yang membunuh mereka?""Evan Samson adalah pamanmu?" Tatapan mata Winston menjadi tajam."Iya. Pamanku nggak mungkin melakukan hal seperti itu," ujar Yasmin.Winston berpikir Yasmin benar-benar tidak mengenal pamannya. Evan pasti menyembunyikan banyak rahasia besar."Kedua orang yang meninggal itu pernah berkonflik dengan Evan sebelumnya, lalu mereka pergi ke motel dan jantung serta ginjal mereka dicabut.""Itu nggak membuktikan kalau pamanku yang melakukannya, 'kan?"Winston berkata, "Itu hanya penyelidikan rutin."Yasmin merasa kalau itu sangat normal."Aku mengingat kamu bilang kamu amnesia, 'kan?" tanya Winston."Iya. Aku mengalami kecelakaan mobil. Ingatanku sampai sekarang belum pulih," kata Yasmin.Winston m
"Kenapa kamu banyak bertanya? Lanjut awasi dia."Setelah panggilan dimatikan, Susan tampak tidak senang. "Apaan, sih? Nanti setelah aku menjadi Nyonya Guntur, aku mau melihat apa kamu masih berani memerintahku?"Yasmin sedang bekerja dengan serius di kantor ketika dia mendengar suara ketukan pintu.Intan masuk, lalu berkata, "Bu Yasmin, apa Anda ingin memakan kue?"Yasmin mengangkat kepalanya, lalu dia melihat ada jus, kue dan aneka kacang-kacangan kesukaannya.Dia langsung tahu kalau itu bukan kue yang dibeli di luar."Kamu yang membuatnya?" tanya Yasmin."Bukan. Orang dari Taman Royal yang mengantarnya. Mereka bilang mereka langsung mengantarnya setelah ini selesai dibuat." Intan berkata, "Tuan Daniel sangat baik pada Anda. Ketika makanan ini dibawa ke sini, resepsionis sangat iri."Yasmin mengalihkan pandangannya dan lanjut melihat laptop di depannya.Intan merasa sedikit canggung melihat Yasmin tidak membalasnya dan bahkan menunjukkan sedikit pun ekspresi, jadi dia berinisiatif kel
Yasmin tidak menyangka reaksi Daniel akan sebesar ini."Kemari. Buat aku tenang." Daniel duduk di tempat tidur, lalu memiringkan kepala sambil menatap Yasmin.Yasmin mengerti apa maksud Daniel. Wajahnya pun memucat. "Nggak bisa ....""Kenapa nggak bisa? Apa alasannya?""Dokter Helen sudah bilang aku harus beristirahat selama seminggu," kata Yasmin."Lima hari sudah berlalu. Itu sudah cukup."Yasmin menggelengkan kepalanya dengan panik sambil melangkah mundur. "Nggak bisa. Aku nggak sanggup ....""Kamu nggak sanggup atau nggak mau?""Tung ... tunggu beberapa hari lagi, ya?""Sekarang! Sini!"Yasmin sudah mau gila. Kenapa Daniel harus begini kejam?Apa Daniel tidak tahu kalau lukanya belum sembuh?Dulu Daniel masih bisa bertahan, sekarang dia sudah tidak bisa bertahan sama sekali. Kenapa?Apakah perbuatan Yasmin sudah membuatnya marah? Namun, itu hanya hal sepele!"Apa kamu nggak mendengarku?""Kamu tenangkan dirimu sendiri! Aku nggak mau!" Yasmin tidak hanya tidak menuruti Daniel, melai
Yasmin menatap Susan. "Aku barusan mau masuk. Kamu sedang bertugas?""Iya. Setelah Tuan Daniel keluar dari ruang kerja, dia kembali ke kamar," kata Susan."Jam berapa dia kembali ke kamar?" Yasmin membuka pintu kamar, lalu melangkah masuk."Jam delapan."Yasmin berpikir berarti Daniel sudah menunggu satu jam lebih.Yasmin memberanikan diri dan masuk.Susan melihat pintu ditutup, kemudian rasa hormat di sorot matanya menghilang.Dia bisa melihat kalau hubungan Daniel dan Yasmin sedang tidak baik.Kalau tidak, kenapa Yasmin berdiri di depan pintu begitu lama dan tidak masuk? Dia juga terlihat gugup.Setelah Yasmin memasuki kamar tidur, dia melihat Daniel sedang duduk di sofa dan telah mengenakan piama. Jelas kalau Daniel sudah selesai mandi.Satu tangan memegang kening dan kedua matanya terpejam. Daniel seolah-olah tidak tahu kalau Yasmin sudah masuk kamar.Yasmin berjalan mendekat. "Tidurlah di ranjang."Daniel membuka mata dan menunjukkan matanya yang jernih. Dia tidak terlihat mengant
Sekujur tubuh Daniel penuh dengan aura menyeramkan. "Jadi, kamu ingin mencari pria lain?""Aku sudah menjawabmu, nggak." Yasmin merasa pria ini sangat posesif sehingga sudah tidak bisa ditolong. Pada saat ini, suasana berubah menjadi makin mengerikan. "Aku sudah bilang aku nggak sengaja berpapasan dengannya di rumah sakit. Apa yang harus kulakukan baru kamu memercayaiku?"Daniel menatap Yasmin lekat-lekat.Yasmin bahkan merasa bulu kuduknya berdiri.Daniel tidak menjadi tenang karena penjelasannya. Aura mengerikannya masih menyebar ke sekeliling.Saat Yasmin merasa jantungnya berdetak dengan cepat dan hampir kehabisan oksigen, dia mendengar suara sinis Daniel berkata, "Pergi temani anak-anak bermain bola."Setelah Yasmin mendengar itu, bulu matanya bergetar dan tubuhnya menjadi rileks.Kemudian, tangannya dipegang yang membuat Yasmin terkejut dan tanpa sadar ingin menariknya.Namun, dia tidak berhasil.Daniel sangat kuat. Ketika dia memegang tangan Yasmin, selama dia tidak ingin melepa
Julius sudah memakannya, tapi dia tidak pergi dan lanjut berdiri di sana. Kemudian, dia bertanya, "Mama, apa terjadi sesuatu di sekolah Papi?"Yasmin tercengang. Setelah Julius bertanya itu, Julian juga berjalan mendekat. Tiga pasang mata tertuju pada Yasmin dan menunggunya menjawab.Meskipun mereka baru berusia dua tahun, mereka dapat bermain laptop dan ponsel. Selain itu, mereka pintar dan dapat mengetahuinya dengan mudah."Sedang ada sedikit masalah, tapi Pak Raymond akan menanganinya. Kalian nggak perlu khawatir." Yasmin tidak menyembunyikannya dari mereka. Karena ada masalah, maka mereka harus berkomunikasi."Internet mengatakan masalahnya sangat serius. Keracunan makanan, 'kan? Apa ada yang meninggal?" tanya Julian."Di sana ada banyak kakak-kakak yang kami kenal ...." Julia tampak cemas."Mama sudah pergi ke rumah sakit hari ini. Dokter bilang kondisi mereka sudah stabil," kata Yasmin."Apa Papi baik-baik saja?" tanya Julius."Ya," jawab Yasmin."Bagaimana kamu bisa tahu?" Suara
"Aku sudah menonton video kecelakaan mobilnya. Itu sebuah kecelakaan.""Baik, itu kecelakaan. Kalau begitu, aku mau bertanya padamu lagi. Bagaimana dengan keracunan makanan di sekolah?" tanya Irene. Melihat Yasmin diam saja, ekspresi Irene pun menjadi licik. "Ada beberapa hal yang kamu nggak tahu, tapi aku tahu. Bisa jadi ... ini ada hubungannya dengan Daniel?""Nggak mungkin!" Yasmin langsung membantah. "Daniel nggak mungkin melakukan itu.""Kenapa nggak mungkin? Dia adalah kekasih lamamu dan Daniel nggak menyukainya!" hasut Irene. "Selain itu, situasi di internet makin intens sekarang. Aku nggak percaya nggak ada yang menghasut mereka.""Orang-orang zaman sekarang suka menjatuhkan orang," kata Yasmin dengan ekspresi sinis.Irene tertawa. "Kamu benar-benar polos. Kalau kamu bersikeras ingin berpikir seperti itu, boleh juga, sih. Sepertinya kamu bersikeras yakin kalau nggak ada apa-apa di antaraku dan Daniel. Pada akhirnya, kamu melihat kami berciuman."Yasmin berdiri di sana dengan ta
"Aku datang untuk mencari direktur rumah sakit," kata Raymond."Apa kamu sudah tahu bagaimana anak-anak bisa keracunan makanan?" tanya Yasmin."Katanya sayuran yang dikirim tercemar. Itu adalah kecelakaan," kata Raymond.Raymond tidak menyembunyikannya dan tidak bisa menyembunyikannya karena masalah ini sudah tersebar di internet.Yasmin menatap Raymond yang terlihat kuyu setelah mereka tidak bertemu selama beberapa hari. Yasmin tahu kalau Raymond sedang mengkhawatirkan masalah ini.Lengan Raymond masih dibalut kain kasa, tapi sudah tidak menggantung dengan lehernya."Bagaimana dengan tanganmu?" tanya Yasmin."Baik-baik saja," kata Raymond. Saat Raymond melihat wajah cemas Yasmin, dia menenangkannya, "Nggak perlu khawatir. Aku bisa menyelesaikan masalah ini."Yasmin juga tidak tahu bagaimana dia bisa membantu Raymond."Setelah kamu pulang kemarin, Daniel nggak melakukan apa-apa padamu, 'kan?" tanya Raymond."Nggak." Yasmin menggelengkan kepalanya. Raymond sendiri sedang memiliki setump
Setelah Yasmin kembali ke kantor, dia membaca berbagai komentar di internet.Akademi Pinokio, rumah sakit, tidak ada yang selamat. Mereka semua dikutuk dengan kasar dan dicap sebagai "pengusaha berhati busuk".Apa dia perlu menelepon Raymond untuk bertanya bagaimana situasinya?Setelah Yasmin memikirkannya sejenak, dia mengurungkan niat.Walaupun dia menelepon Raymond, bantuan apa yang bisa diberikannya?Kalau nanti dia ketahuan oleh Daniel, itu hanya akan makin kacau.Sore hari, Yasmin akan pergi ke rumah sakit bersama manajer penjualan untuk mendiskusikan kerja sama dan kontrak.Saat perjalanan pulang, kebetulan mereka melewati rumah sakit yang terkena masalah itu."Ayo pergi ke rumah sakit itu untuk melihat-lihat," kata Yasmin."Sekarang? Menurutku, mereka sedang nggak niat." Manajer penjualan mempertimbangkannya sejenak. "Selain itu, kalau kita terlihat oleh orang lain, itu akan merugikan perusahaan.""Kita nggak boleh mundur karena sesuatu terjadi pada orang lain. Mari kita mencar
Beberapa menit kemudian, Yasmin turun. Dia melihat mobil Rolls Royce sedang parkir di alun-alun.Sebenarnya dilarang memarkir mobil di alun-alun.Namun, Daniel bersikeras ingin menghentikan mobil di sana.Maka itu, siapa pun yang masuk atau keluar gedung akan memperhatikan mobil Rolls Royce itu yang mewakili kekuatan.Yasmin merasa dia seperti orang jahat ketika dia naik mobil.Setelah Yasmin masuk ke dalam mobil, dia memprotes, "Bisakah kamu nggak menghentikan mobil di sini? Semua orang jadi tahu kamu datang untuk menjemputku."Aura berat langsung memenuhi ruang dalam mobil.Ekspresi Yasmin pun menjadi tegang, terutama saat matanya bertemu dengan mata gelap Daniel, dia mengira dia sudah salah bicara."Kamu takut siapa yang melihatmu?"Yasmin segera berpikir, lalu membalas, "Nggak, aku takut orang cemburu padaku."Tatapan mata Daniel menggelap sedikit. "Kemari."Tangan Yasmin ditarik, lalu dia langsung duduk di atas pangkuan Daniel. Yasmin merasa sedikit tertekan karena jaraknya dengan