Cinta tanpa kepercayaan bagaikan perahu yang berlayar tanpa nahkoda, terombang ambing tanpa tujuan, hanya menunggu waktu hingga kapal tersebut menyerah, karam.
Dua hari sebelum keberangkatannya ke Dubai, Ain mengunjungi makam ibunya, di pusara itu ia mengusap nisan ibunya, berkeluh kesah tentang hidupnya yang selama ini merasa sendirian.
“Ma, mama apa kabar disana? Pasti mama baik-baik saja kan. Maaf ya ma aku kesini cuma ngeluh terus sama mama. Sekarang juga gitu ma” Ain tersenyum sejenak. “Ma masalahku saat ini bukan lagi tentang susahnya cari uang, aku udah cukup untuk dibilang berhasil ma, sekarang perusahaanku sudah mau buka cabang di Singapura ma, yang mau aku tanyakan sebenarnya cinta itu butuh pengorbanan nggak sih ma?
Ma, selama ini aku memang jarang banget bahkan hampir ga pernah sama sekali membahas tentang wanita yang kusukai, karena memang dari dulu aku malu untuk cerita ma, sekarangpun aku masih malu sebenarnya. Ma aku suka sama seseorang.”
Ain diam sejenak, mengamati sekitar, matahari mulai tenggelam di kaki langit, lampu-lampu rumah dihidupkan, tapi tak kuasa mencapai pemakaman, beberapa kunang-kurang mulai bermunculan.
Ain menceritakan tentang semuanya, mulai dari tindakannya mengajak Bella jalan-jalan, apa aku salah? Memang aku belum sepenuhnya melupakan Alfi, tapi aku ga mau menghabiskan waktu untuk mengenang Alfi. Aku harus merelakannya. Sampai kepada cerita pada malam itu, saat ia berbohong bahwa sudah lamaran.
Selesai bercerita panjang lebar, beberapa kunang-kunang hinggap di nisan Ibunya, menyadarkannya bahwa hari sudah benar-benar gelap. Ain tidak sadar sudah berapa lama ia berada disana.
“Ma sudah dulu ya, aku janji tahun depan akan kembali lagi kesini, mudah-mudahan dengan orang yang akan menjadi takdirku, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku masih sangat mencintai Alfi, tapi dia mengecewakanku sebegitu dalam. Disisi lain, Bella sangat baik, memang aku tidak bisa mencintai Bella seperti cintaku kepada Alfi, tapi dia selalu dapat diandalkan dalam keadaan apapun, dan yang pasti mencintaiku apa adanya.
Dalam kondisiku seperti ini, aku sangat sulit untuk memilih mana wanita yang baik ma, aku ga tau wanita yang dekat denganku benar-benar menyukaiku atau hanya suka dengan uangku. Sudah ya ma, aku pamit, mama istirahat ya, selamat melanjutkan mimpi indah ya ma.”
…………
Setelah sampai Jakarta, Ain mengemasi barang yang akan dibawanya, tidak banyak, hanya beberapa pakaian untuk musim dingin, dan beberapa baju ganti. Ain memang sengaja tidak membawa barang banyak, karena ia sudah berencana untuk membeli perlengkapannya saat sampai Dubai.
Ain membuka ponselnya, mencari nomor Bella, setelah dering ke tiga, diujung sana Bella mengangkat telfon, “yaa?” Tanyanya manja.
“Penerbangan kita jam sepulum malam, kamu sekarang dimana?” Tanya Ain tanpa basa-basi.
Bella tersenyum gembira, ia sudah lama menunggu telepon itu, dan bosnya memang tipe orang yang tidak bisa basa-basi.
“Ini aku masih di padang, malam ini terbang ke jakarta” ujar Bella. Ia memang keturuan suku minang asli, itulah yang menyebabkan Bella memiliki kulit putih bersih, hidung mancung dan alis tebal. Sesuatu yang sangat diturunkan dari orang padang adalah tatapan matanya yang khas.
“Okee, besok aku jemput sore di apartemen kamu ya, kita cari makan abis itu langsung ke bandara, biar ga bolak balik.” Jelas Ain.
“Sempurna, sampai ketemu besok” ucap Bella mengakhiri percakapan.
“Safe flight ya” Ain menutup telepon.
Malam itu Ain tidak bisa menutup mata, tubuhnya di apartemen namun pikirannya entah kemana, seperti anak kecil yang tidak bisa tidur malam karena besoknya akan study tour. Seperti itulah yang Ain rasakan saat ini.
Apa yang dirasakan Ain tidak jauh berbeda dengan yang dirasakan Bella, dia gelisah, penerbangan yang seharusnya hanya memakan waktu tidak sampai dua jam, namun terasa lama sekali. Dia sudah tidak sabar untuk sampai jakarta, lebih tepatnya tidak sabar untuk menunggu hari esok.
………
Bella bangun kesiangan, ia kaget setelah melihat jam dinding yang menunjukkan angka sepuluh. Kepalanya agak sedikit pusing karena memang tadi malam dia sulit untuk tidur, badannya memang capek, tapi pikiran dan hatinya tidak bisa diajak kompromi untuk istirahat.
Bella kemudian membuat air panas, ‘mungkin secangkir kopi dapat meredakan sedikit rasa pusing’.
Setelah memesan makanan secara online, bella menghabiskan waktu menunggu sore hari dengan mengecek beberapa pekerjaannya, memastikan bahwa semuanya terkendali, dia tidak mau liburannya terganggu, apalagi karena pekerjaan. Bella membuka email, kandidat karyawan yang telah dipilih oleh Ain untuk memegang manajemen kantor pusat di Singapura.
“Oke, baiklah bos ternyata kamu lebih memilih Icha dibandingkan Gita.”
Bella memang selalu takjub dengan pilihan dan segala sesuatu yang dipilih oleh Ain, entah mengapa pilihan Ain selalu tepat. ‘Mungkin bos punya indra ke enam kali ya’, ia tersenyum kemudian menyeruput kopinya.
……..
“Hahahaha..” Bella tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa kamu ketawa?” Tanya Ain heran.
“Gimana ga ketawa coba, ini first date kita dan kamu jemput aku pakai taxi.” Bella belepotan terpingkal-pingkal sambil menutup mulutnya.
Supir taxi melirik ke belakang lewat kaca sopir, ikut tersenyum yang sebenarnya juga menahan tertawa mendengar ucapan Bella.
Mengetahui sebab Bella tertawa, Ain jadi salah tingkah. “Jangan keras-keras, ntar kedengeran pak sopir!” Ujar Ain sambil menutup mulut bella dengan lembut.
Apa yang dilakukan Ain diluar dugaannya, Bella senang sekaligus kaget, karena selama ini yang dia lihat hanya kepribadian Ain yang serba serius, selalu terlihat kalem dan ternyata, hanya beberapa saat mereka bersama, Ain menunjukkan sisi lain kepribadiannya. ‘Selama ini aku salah sangka, ini pasti akan menjadi perjalanan yang menyenangkan’.
“Oke-oke aku diam.” Kata Bella meskipun masih sambil menahan ketawa.
“Kita mau makan apa ini, jangan sampai jawab terserah.” Ain melontarkan pertanyaan lain.
“Eeemm, kita cari makanan cepat saji aja ya, soalnya jam segini macet-macetnya Jakarta.”
“Pak ke McD atau KFC yang paling dekat dengan bandara ya.” Perintah Ain langsung.
“Meluncur.” Sahut sopir taxi.
Dalam perjalanan mencari makan, mereka berdua ngobrol seru, perjalanan panjang yang memakan waktu lama akan terasa cepat oleh mereka yang sedang bahagia, apalagi bagi mereka yang sedang jatuh cinta.
Mereka berdua sepakat untuk tidak membahas masalah pekerjaan selama liburan, dan mereka berdua mengangguk cepat.
……….
Roda belakang pesawat mulai mengambang, meninggalkan tanah ibukota Jakarta, terbang semakin tinggi menuju langit. Gemerlap lampu ibukota menghiasi pemandangan di luar kaca pesawat, membuat suasana itu menjadi semakin romantis bagi mereka berdua.
Setelah pesawat selesai take off, beberapa pramugari memperagakan cara memakai pelampung, cara evakuasi dan standar protokol keselamatan lainnya.
Bella menarik selimut, menyandarkan kepalanya di bahu Ain. Ain menyambutnya dengan mengacak-ngacak rambut Bella yang lurus, ia tersenyum.
“Istirahat yuk, besok bakal jadi hari yang panjang.” Ujar Bella.
“Sepanjang apapun hari, kalo dihabiskan berdua sama kamu pasti terasa singkat.” Jawab Ain menggoda.
Bella tersenyum malu, pipinya memerah, menggemaskan sekali.
Ain mencubit pipinya lembut, “jangan tidur dulu, tadi habis makan banyak, ntar jadi cepet gemuk loh” godanya.
“Hahaha aku udah ga percaya sama lulusan sarjana kesehatan yang udah lama, ilmunya pasti sudah pada kecampur-campur sama yang lain, udah ga murni.” Godanya balik.
“Bisa aja si ibuk ni, yaudah ayuk istirahat.”
Mereka berdua terlelap dalam penerbangan panjang menuju Dubai, cuaca cerah mengiringi perjalan mereka berdua, alam merestuinya, sepasang insan yang sedang menumbuhkan cinta.
Sambil mengantuk dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, Alfi mencuci nasi untuk dimasak, ibunya masih solat subuh, pukul lima pagi. Beberapa persiapan harus setiap hari dilakukan seperti memasak, mencuci baju, dan membuat pesanan es buah untuk pelanggan. Selain bekerja menjaga toko, Alfi juga mempunyai sampingan jualan es, hasilnya sudah jelas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pagi itu Alfi mendapat kabar baik dari adiknya, Icha berhasil lolos seleksi berkas disebuah perusahaan besar, dan akan segera interview beberapa hari kedepan. Perusahaan itu cukup bagus, karena untuk kandidat yang lolos seleksi, akan dibiayai sepenuhnya untuk perjalanan ke Jakarta. Icha lolos seleksi dan hanya menyisakan tiga calon kandidat, peluang keterima besar, tapi masi harus seleksi tes terakhir dengan langsung pemilik perusahaan tersebut. Alfi bersyukur adiknya mendapat pekerjaan yang baik disebuah perusahaan properti di Jakarta, tidak seperti dirinya yang harus merelakan semua impiannya sejak
Sore itu cakra menyelesaikan repitisi tetakhirnya, menutupnya dengan lari treadmill sejauh 7 kilo. Cakra mengelap peluhnya yang mengalir dimuka, otot biceps yang kekar dan dada lebar dengan bulu-bulu tipis menyelimuti permukaan kulit membuatnya semakin menawan.Cakra seorang pekerja kantoran yang menghabiskan waktu weekend di gym, dia menjadi member tetap gym Central di Jakarta sejak 3 tahun yang lalu. Cakra selalu dilirik beberapa wanita musiman yang datang kengym cuma beberapa kali lalu berhenti, diujung ruangan wanita tersebut sedang memperhatikan Cakra sambil mengangkat barbel, Cakra tahu jika dia sedang menjadi pusat perhatian.Cakra tidak menghiraukan itu, dalam pikirannya hanya terpaku pada Bella, jarang sekali bahkan tidak pernah Bella menolak untuk diajak bertemu kencan, tapi saat ini Bella tiba-tiba pamit pergi dan tidak mengatakan pergi kemana.Cakra merasa gagal karena di telah menyiapkan surprise yang akan diberikan ke Bella, yaitu cincin pernikahan, Cakra berencana akan m
Setibanya di Dubai, Ain telah memesan hotel salah satu yang tertinggi di Dubai, yaitu Burj Al Arab, Ain memesan hotel dengan king bed, dengan pemandangan yang langsung mengarah pada pantai Jumeira, salah satu destinasi wisata yang akan mereka berdua kunjungi.“Hei, kamu udah bangun” guman Ain sambil matanya silau terkena sinar matahari pagi.Bella menyikap tirai.Bella mendekati Ain lalu mencium bibir Ain, tidak menjawab.“Minum kopi yuk, kopi bagus untuk menghilangkan bau mulut pagi hari” ucap Bella lembut.“Apa? Mulutku bau?” Tanya Ain sambil mencium bau mulutnya sendiri.Bella tertawa menggoda.“Oiya semalam ponsel kamu bunyi terus, memang siapa yang menghubungi?” Ucap Ain memulai percakapan.Bella menuangkan kopi, membuka cemilan yang dia bawa dari Jakarta dan beberapa roti kering, persiapan untuk sarapan mereka berdua.Bella diam.“Iya tadi udah aku cek, mama yang telvon semalam, mau nitip beberapa oleh-oleh, biasalah, ada aja titipa
Hubungan Bella dan Cakra mulai renggang saat Cakra ketahuan selingkuh dengan mantannya.“Aku mau kita udahan” ucap Bella sesenggukan.Cakra tidak menjawab, dia hanya diam karena sudah tidak bisa beralasan lagi, dia benar-benar tertangkap basah.“Tolong jangan Bel, aku janji ga akn ngulangin lagi” pinta Cakra.Sembari sesenggukan, suara bela lemah, dia sudah tidak kuasa lagi menumpahkan amarahnya, dia tidak menyangka orang yang selama ini dia sayangi menghianatinya, lebih parahnya kepergok tepat dihadapannya.Malam itu sebenarnya Bella sama sekali tidak berniat keluar, tubuhnya sudah capek bekerja seharian, tapi entah kenap dia ingin keluar sekedar mencari makan dan melepas penat.Bella melihat ponselnya, masih pukul 10 malam, belum terlalu larut untuk keluar cari makan dan mencari udara segar, juga tidak ada pesan dari Cakra, terkahir Cakra bilang badanya demam, jadi dia tidur duluan.Bella menghidupkan mesin motor matic, melewati jalan yang biasa ia
Orang asia tidak butuh berjemur, apalagi menghitamkan kulit, karena mereka dilahirkan di iklim tropis, yang kulit mereka kebanyakan berwarna sawo matang. Itulah yang terjadi pada Bella dan Ain, baru beberapa menit berjemur, mereka sudah meneduh kembali, ke restoran, memesan makanan dan beberapa cemilan khas Arab. Cuaca hari itu sangat cerah, Bella mengambil beberapa foto untuk di unggah dimedia sosial -tentunya tanpa menampilkan Ain disini, karena hubungan mereka masih backstret- viewnya sangat keren dan romantis, pemandangan langsung ke arah laut lepas. Disisi pantai yang membentang luas, dengan pasir putih halus, terdapat gedung menjulang tinggi dengan gaya separuh kubah tidak sempurna, itulah gedung Burj Al Arab, tempat Ain dan Bella menginap. Restoran tersebut menyajikan berbagai makanan dari seluruh penjuru dunia, pesan nasi goreng pun ada, tapi tidak tahu dengan kualitas rasanya. Mengingat koki dari restoran tersebut bukan asli dari Indonesia. Bella memesan pudding dengan ta
Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala Dubai, meninggalkan langit yang dihiasi semburat jingga keemasan. Dari balkon suite Burj Al Arab yang mewah, Bella dan Ain berdiri berdampingan, menikmati pemandangan laut yang begitu memukau. Angin malam yang sejuk menerpa wajah mereka, memberikan perasaan damai yang langka.Bella mengenakan gaun ringan berwarna pastel, sementara Ain masih dalam balutan kemeja putih dengan kancing atas yang sengaja dibiarkan terbuka. Malam itu, suasana terasa begitu santai, jauh dari tekanan pekerjaan atau konflik pribadi yang biasanya membebani mereka."Aku rasa, tempat ini benar-benar berbeda dari tempat manapun," ujar Bella sambil tersenyum kecil, matanya terpaku pada gemerlap lampu kota yang memantul di permukaan laut.Ain mengangguk pelan. "Ya. Kadang aku berpikir, di tempat seperti ini, segalanya terasa lebih sederhana. Masalah-masalah di luar sana seolah hanya bayangan yang memudar."Percakapan mereka malam itu penuh dengan kehangatan. Bella meras
Malam di Dubai terasa tenang. Langit gelap dihiasi bintang-bintang yang berkilauan, dan suara ombak dari pantai buatan di sekitar Burj Al Arab menambah kesan damai. Ain duduk di balkon kamar hotelnya, memandangi pemandangan kota yang berkilauan dalam diam. Bella sudah pergi tidur lebih awal setelah makan malam yang sedikit canggung karena insiden di mana Ain tidak sengaja menyebut nama Alfi. Meski Bella mencoba menutupi kekecewaannya dengan senyum kecil, Ain tahu bahwa hal itu telah melukai hati Bella.Sambil menghela napas berat, Ain mengangkat secangkir teh hangat yang telah mendingin di tangannya. Kenangan lama tentang Alfi mengisi pikirannya—cinta pertama yang ia korbankan demi rasa hutang budi. Ia tahu hidup harus terus berjalan, tetapi mengapa bayangan Alfi selalu menghantui dirinya?Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja kaca kecil. Ain mengerutkan dahi saat melihat nama yang muncul di layar. Sebuah nama yang tak ia sangka akan muncul lagi dalam hidupnya: Alfi. Tubuhnya memb
Pagi itu, Bella tengah duduk di ruang tamu apartemen Ain, memandangi secangkir kopi yang mulai dingin di tangannya. Ia mencoba menenangkan pikirannya yang terus bergulat dengan perasaan cemas sejak malam sebelumnya. Ain sedang keluar untuk sebuah janji bisnis, meninggalkan Bella sendirian.Sambil menghela napas, Bella meraih ponselnya, berharap menemukan sesuatu yang dapat mengalihkan pikirannya. Namun, apa yang ia temukan justru membuatnya semakin gelisah. Sebuah pesan dari Cakra, pria dari masa lalunya yang selama ini ia hindari, muncul di layar ponselnya.“Bella, kita perlu bicara. Ada hal penting yang harus kamu tahu.”Pesan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat hati Bella berdegup kencang. Nama Cakra membawa kenangan yang sudah lama ia kubur. Ia adalah bagian dari masa lalu Bella yang penuh liku, seseorang yang pernah membuatnya merasa dihargai sekaligus dikhianati.Bella menggigit bibirnya, mencoba memutuskan apakah ia harus membalas pesan itu atau mengabaikannya. Tapi pikiran
Ain berdiri tegak di tepi pantai, angin laut yang sejuk menerpa wajahnya. Langit sore itu begitu tenang, seperti mencoba menenangkan hati yang sedang terbelah. Ombak yang berdebur di ujung kaki pantai seakan menjadi suara yang menggema di dalam pikirannya, mengingatkannya pada semua yang telah terjadi. Pada Bella, pada Alfi, pada segala hal yang telah menghiasi hidupnya—dan kini, semuanya terasa hilang begitu saja.Dia menatap horizon yang tak berbatas, di mana langit bertemu dengan laut. Seperti halnya dirinya, tak tahu lagi harus kemana, tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Keseimbangannya goyah, seolah semua yang telah dia perjuangkan selama ini hancur dalam sekejap mata. Momen-momen indah bersama Bella dan Alfi seperti bayangan yang terus terulang di pikirannya, namun setiap kali ia meraihnya, ia merasa semakin jauh darinya. Kenangan itu sekarang hanyalah serpihan-sepihan yang menorehkan luka di hatinya—luka yang tak akan pernah sembuh.Ain menar
Kehidupan telah membawa Bella dan Ain melalui begitu banyak kejadian yang penuh teka-teki, pengorbanan, dan kehilangan. Mereka telah melewati jalan yang panjang dan berliku, dengan banyak kali terjatuh dan bangkit kembali. Namun, kali ini, di bawah langit yang sama, di tempat yang penuh dengan kenangan, mereka berdiri bersama, siap menghadapi kenyataan yang mereka takuti selama ini.Mereka telah mengalahkan Cakra, menghancurkan rencana balas dendam yang berbahaya. Namun, meskipun kemenangan itu membawa kedamaian sementara, keduanya tahu bahwa mereka harus menghadapi sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang telah mengikat mereka dengan masa lalu yang penuh kebingungan dan luka. Semua jalan mereka telah terjalin dalam satu kisah yang sama, kisah yang melibatkan Alfi, cinta yang hilang, dan semua pengorbanan yang telah mereka buat demi mencapai kedamaian.Bella dan Ain berdiri di tempat itu, di sebuah taman yang pernah menjadi saksi bisu dari banyak kenangan indah. Tam
Malam itu terasa lebih gelap dari biasanya, meskipun langit dipenuhi bintang. Bella dan Ain berdiri di tengah keheningan, perasaan mereka masih terombang-ambing oleh apa yang baru saja mereka temui—tulisan tangan Alfi, pesan yang mengungkapkan bahwa kebenaran yang selama ini mereka cari ternyata lebih rumit dan lebih berbahaya daripada yang mereka bayangkan. Di atas batu itu, di tempat yang penuh kenangan, mereka menyadari bahwa Cakra masih mengendalikan banyak hal, meski kini, ia hanya ada dalam bayang-bayang.“Cakra,” Bella berbisik, suaranya penuh kebingungan dan ketakutan. “Dia masih ada, Ain. Kita bisa saja terjebak dalam perangkapnya tanpa kita sadari.”Ain mengangguk pelan, hatinya dipenuhi dengan keresahan yang mendalam. Meskipun mereka telah menemukan begitu banyak petunjuk, meskipun mereka akhirnya mengerti bahwa Alfi masih hidup dan mungkin menyimpan kunci untuk menghentikan Cakra, rasa takut itu tak bisa hilang begitu saja. Cak
Langit malam terlihat lebih luas dari yang Bella ingat. Bintang-bintang berkelip cerah di langit yang gelap, seolah-olah menatapnya dengan tatapan penuh misteri. Tempat ini, sebuah taman kecil di pinggir kota, selalu menjadi tempat mereka bertemu di masa lalu—tempat yang penuh dengan kenangan manis, tawa, dan kebahagiaan yang tampaknya sudah lama hilang. Namun malam ini, suasana itu terasa berbeda. Udara yang biasanya menenangkan kini terasa berat, seolah menyimpan kegelisahan yang sama dalam dada mereka berdua.Bella berdiri di sana, di bawah pohon besar yang dulu sering mereka duduki bersama. Angin semilir menggerakkan dedaunan, dan bau tanah basah menguar di udara. Setiap langkah yang ia ambil menuju tempat itu terasa penuh keraguan, setiap detik semakin menambah ketegangan dalam dirinya. Begitu banyak yang telah terjadi sejak terakhir kali mereka bertemu. Begitu banyak kata yang tidak terucap, begitu banyak luka yang belum sembuh. Dan kini, di bawah bintang-bintang
Bella duduk di tepi tempat tidurnya, mata terpejam rapat, mencoba mencari kedamaian dalam kegelapan yang melingkupi malam. Suara detak jam yang berdetak pelan, seakan-akan menjadi satu-satunya pengingat bahwa waktu terus berjalan, meskipun hidupnya terasa terhenti. Sudah berhari-hari sejak kejadian yang mengubah segalanya—sejak perpisahannya dengan Ain. Setiap saat yang dilaluinya seakan diselimuti oleh bayangan wajah Ain, yang seakan terus menghantuinya, meski ia berusaha sekuat tenaga untuk melupakan.Malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara hujan, tidak ada angin yang berdesir, hanya kesunyian yang terasa begitu pekat. Bella menarik napas panjang, berusaha mengusir semua pikiran yang datang mengganggu. Ia harus melanjutkan hidup. Itu adalah keputusannya. Ia tidak bisa terus berada di tempat ini, terjebak dalam kenangan yang menyakitkan. Tidak bisa terus menghukum dirinya sendiri atas keputusan yang sudah ia buat.Namun, seiring dengan pemiki
Langkah Ain terasa semakin berat seiring semakin dekatnya ia dengan tempat itu. Jalan yang dilalui sudah begitu familiar, namun ada perasaan yang berbeda—sebuah rasa yang mencekam, seperti ada sesuatu yang tak terlihat mengikutinya, menunggu di balik setiap sudut. Hujan yang turun sejak tadi semakin deras, membasahi rambutnya, mengaburkan pandangannya, namun ia tidak peduli. Ini adalah perjalanan yang ia pilih untuk ditempuh. Perjalanan yang ia rasa tidak hanya akan mengungkapkan misteri Bella, tetapi juga dirinya sendiri.Taman itu—tempat yang pernah mereka kunjungi bertahun-tahun lalu—terletak di ujung jalan kecil, tersembunyi di balik pepohonan lebat dan pagar besi yang sudah mulai berkarat. Dulu, tempat ini adalah tempat yang tenang, penuh dengan kenangan indah, namun kini, setiap sudutnya terasa asing dan penuh dengan kesunyian yang menekan. Angin malam berdesir, membawa aroma tanah basah, dan suasana yang dulu nyaman kini terasa suram, seperti menyembu
Keheningan yang membungkus dunia mereka terasa asing. Meskipun Cakra telah berhasil mereka hadapi, meskipun Bella akhirnya bebas dari cengkeraman tangan jahatnya, masih ada ruang kosong yang tak bisa diisi—ruang antara mereka berdua. Ain dan Bella. Setelah semua yang terjadi, mereka harus melangkah jauh dari satu sama lain, meskipun untuk sementara, untuk memberi ruang bagi perasaan yang bergejolak.Bella berdiri di tepi jendela kamar, menatap hujan yang mulai turun dengan perlahan di luar. Setiap tetes air yang jatuh terasa seperti petir yang menghantam relung hatinya. Hatinya yang sebelumnya penuh dengan ketakutan dan kecemasan kini perlahan diselimuti oleh kebingungan yang lebih dalam. Apa yang sebenarnya terjadi antara Alfi dan Cakra? Kenapa semuanya harus terungkap dengan cara yang begitu menyakitkan?Ia menutup matanya sejenak, mencoba untuk menenangkan diri, namun bayangan Cakra yang terenggut dari kehidupannya baru saja menghilang, dan tempat itu kini ter
Setiap langkah terasa lebih berat daripada yang terakhir. Bella dan Ain berjalan menyusuri lorong gelap yang mengarah ke ruang bawah tanah, yang kini semakin terasa seperti labirin yang tak terpecahkan. Walau mereka merasa semakin dekat dengan solusi yang akan menghentikan Cakra, semakin mereka mendekat, semakin besar pula tekanan emosional yang mendera hati mereka. Rasanya seperti dunia mereka mengerut, seiring dengan semakin sedikitnya ruang untuk bernapas.Ain, yang berjalan di samping Bella, tidak bisa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya yang kini menampilkan koordinat yang harus mereka tuju. Jantungnya berdegup kencang, dan pikiran tentang Alfi yang terjebak dalam rencana Cakra terus berputar-putar di kepalanya. Tidak ada yang lebih menakutkan daripada memikirkan kenyataan bahwa orang yang mereka percayai mungkin sudah terperangkap dalam jaringan kebohongan yang begitu dalam, dan tidak ada cara yang mudah untuk menariknya keluar.Bella menatap ponsel di
Malam telah tiba dengan sunyi yang mencekam, dan langit di atas pelabuhan utara dipenuhi awan gelap yang menghalangi cahaya bulan. Di bawahnya, air laut bergelombang dengan suara gemuruh yang terdengar lebih keras daripada biasanya, seolah-olah angin malam ikut berbisik tentang rahasia yang tersembunyi di kedalaman. Bella dan Ain berdiri di ujung pelabuhan, menatap cahaya lampu yang redup di kejauhan. Tempat ini terasa asing, bahkan lebih asing dari yang mereka bayangkan.Mereka telah menempuh perjalanan jauh, mengikuti petunjuk yang ditemukan Ain di pesan tadi malam—pesan yang seolah menjadi jawaban dari seluruh kebingungan yang telah mereka alami. Namun, semakin dekat mereka dengan tujuan, semakin besar ketegangan yang terasa. Ada sesuatu yang tak bisa mereka ungkapkan, sebuah rasa yang merayap dalam setiap langkah mereka. Meskipun mereka berdua berusaha untuk tetap tenang, suasana malam itu membawa rasa cemas yang semakin membelenggu.“Apakah kita benar-