Share

Tiga Syarat

Author: Fei Adhista
last update Last Updated: 2025-03-24 21:42:03

Malam itu, Reina tak bisa memejamkan mata. Ia berguling ke sana kemari, memikirkan dua pilihan yang diberikan kepadanya—menerima hukuman atau menikah dengan Mayor Satya. Baginya, keduanya sama-sama tidak menyenangkan. Namun, saat mengingat keluarga Reihardi yang telah menerimanya, hatinya goyah. Ia harus membuat keputusan sebelum fajar.

Pagi datang lebih cepat dari yang ia harapkan. Setelah apel pagi, Reina melangkah dengan hati berat menuju kamar Satya. Ia memastikan tak ada orang yang melihat sebelum mengetuk pintu. Begitu pintu terbuka, ia langsung masuk tanpa menunggu undangan, membuat Satya sedikit terkejut.

"Kau mau apa?" Satya bertanya dengan suara dingin.

Reina menelan ludah, berdiri tegak di hadapan pria itu. "Aku setuju menikah denganmu. Tapi ada tiga syarat."

Alis Satya sedikit terangkat, tapi ia tetap mempertahankan ekspresinya yang datar. "Syarat?"

"Pertama, kau harus menjamin keselamatan keluarga Reihardi, dan aku tidak mau kamu memaksaku melayanimu secara... fisik," ujar Reina tegas.

Sejenak mereka terdiam, seketika suasana menjadi hening.

Lalu, yang tidak ia duga terjadi—Satya tersenyum. Bahkan, tak lama kemudian, ia tertawa kecil dan Reina menatapnya dengan penuh curiga.

"Apa yang lucu?"

Satya melipat tangannya di dada, menatapnya dengan sorot mata penuh misteri. "Kau pikir aku menginginkan tubuhmu? Tidak, Nona. Aku hanya membutuhkan surat nikah. Setelah semua yang kuinginkan tercapai, aku akan menceraikanmu."

Reina masih terdiam di tempatnya, mencerna kata-kata Satya. Ada sesuatu dalam caranya berbicara yang membuatnya merasa tak nyaman, seolah ia hanya alat dalam rencananya.

Satya berjalan melewatinya, lalu berhenti tepat di belakangnya. Suara beratnya terdengar di dekat telinganya, dingin namun penuh keyakinan.

“Aku hanya butuh pernikahan ini untuk kepentinganku, Rei. Tidak lebih.”

Reina mengepalkan tangan. Ia sudah menduganya, tapi mendengar langsung dari mulut Satya membuat dadanya sedikit sesak.

Ia menarik napas dalam, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil. “Baik. Tapi aku belum menyebutkan syarat kedua.”

Satya berbalik menatapnya. “Apa lagi?”

Reina menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke mata pria itu. “Aku ingin kebebasan. Aku tidak mau hidup seperti tahanan setelah menikah denganmu.”

Satya mengamati wajahnya sejenak sebelum tersenyum tipis. “Kebebasan, ya?”

“Ya,” jawab Reina mantap.

Lelaki itu mengangguk, lalu berjalan mendekatinya hingga jarak mereka hanya beberapa jengkal. Reina bisa merasakan hawa dingin yang selalu menyelimuti pria ini.

“Baik. Aku terima syarat keduamu. Lantas syarat terakhir apa?”

“Syarat ketiga akan kusampaikan nanti.” Satya pun mengangguk

Reina sempat terkejut karena Satya tidak banyak berdebat. Ia mengira pria itu akan menolaknya atau setidaknya memberikan syarat balasan.

“Tapi ingat satu hal, Rei,” lanjut Satya, nadanya terdengar lebih serius. “Meski kita menikah tanpa perasaan, begitu kau menyandang namaku, kau tetap istriku di mata dunia. Jangan pernah melakukan hal yang membuatku menyesali keputusanku. Lalu, ceritakan siapa dirimu?”

Reina menatapnya tajam, lalu mengangguk.

“Jangan khawatir, Mayor. Aku pun tidak ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu dari yang diperlukan.”

Satya menyunggingkan senyum tipis. “Bagus.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Reina hendak melangkah keluar, meninggalkan Satya yang masih berdiri di tempatnya. Hatinya terasa berat, tapi ia tahu ini adalah keputusan terbaik untuk saat ini.

Saat Reina hendak melangkah pergi, tiba-tiba Satya menarik pergelangan tangannya. Tatapan pria itu tajam, penuh selidik.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” katanya tenang. “Kamu belum memberitahuku siapa dirimu?”

Reina mengangkat dagunya sedikit, berusaha tetap tenang meskipun hatinya berdebar. “Namaku Reina Wardhani.”

“Asalmu?”

Sekilas, Reina ragu. Ia tak mungkin mengaku sebagai tentara perdamaian, apalagi di daerah konflik seperti ini. Akhirnya, ia memutuskan untuk tetap memakai identitas yang lebih aman.

“Aku tidak punya asal,” jawabnya. “Sejak kecil aku hanyalah seorang pengemis. Aku diselamatkan oleh keluarga Reihardi dan mereka merawatku, di sana aku menggunakan identitas anak perempuanya yang sudah meninggal.”

Satya menyipitkan mata, menatapnya dengan tajam. “Tidak punya identitas, ya?”

Reina mengangguk. “Bagaimana kita bisa mendapatkan surat nikah jika aku bahkan tidak memiliki dokumen resmi?”

Satya menyeringai, seolah itu bukan masalah besar baginya. Namun, sebelum pria itu sempat berbicara, Reina menambahkan sesuatu yang membuatnya terdiam.

“Tapi kalau kita menikah, aku ingin pernikahan ini dilakukan sesuai agamaku. Meskipun pernikahan kita hanyalah formalitas, dan sah di mata hukum tetap aku harus kaunikahi secara agama. Ijab Qabul”

Satya menatapnya dalam diam. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil, entah mengejek atau benar-benar tertarik dengan permintaan itu.

“Jadi kau ingin dinikahkan oleh seorang naib?” tanyanya.

Reina mengangguk tegas. “Ya.”

Tawa kecil lolos dari bibir Satya. “Aku pikir kau akan meminta sesuatu yang lebih sulit. Itu artinya kau akan benar – benar menjadi istriku baik di mata hukum atau agama.”

Reina mengerutkan kening, tidak mengerti kenapa pria itu tiba-tiba tersenyum seperti itu.

“Satu hal lagi, setelah kita menikah izinkan aku tetap di sini mengikuti pelatihan dan ikut ke perbatasan.”

“Apakah ini syarat ketiga?”

“Tidak.”

Satya menyandarkan tubuhnya ke dinding, menatapnya penuh arti. “Baiklah, Reina. Aku akan memenuhi permintaanmu.”

Meskipun nadanya ringan, ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang membuat Reina tahu—ini bukan hanya sekadar pernikahan palsu bagi Satya. Pria itu jelas punya rencana sendiri.

Dan ia harus siap menghadapinya.

Sudah dua hari berlalu sejak perjanjian pernikahan mereka, tetapi Satya sama sekali tak pernah menyapa Reina. Pria itu memperlakukannya seolah mereka adalah dua orang asing yang tak saling mengenal.

Reina sebenarnya tidak peduli. Ia tahu pernikahan ini hanya formalitas. Namun, tetap saja, sikap Satya yang seolah tak peduli membuatnya sedikit kesal.

Hari ini pun sama. Satya berlalu begitu saja tanpa kata, tanpa lirikan. Namun, sesuatu yang berbeda terjadi. Saat Reina sedang duduk sendirian di taman belakang asrama, tiba-tiba sebuah botol jus dingin diletakkan di sampingnya.

Tanpa suara.

Tanpa sepatah kata.

Reina melirik ke arah tangan yang meletakkan jus itu, lalu mendongak menatap pemiliknya. Satya.

Pria itu hanya berdiri di sana selama beberapa detik sebelum melengos pergi begitu saja. Diam-diam.

Reina menghela napas, menatap botol jus itu dengan bingung.

“Apa-apaan ini?” gumamnya.

Meski heran, ia tetap mengambil botolnya dan membuka tutupnya. Ia tak mau terlalu memikirkan maksud Satya. Lagipula, ia memang haus.

Tanpa ragu, Reina menenggak jus itu dalam beberapa tegukan. Rasa dingin segar langsung mengalir ke tenggorokannya.

Namun, hanya dalam hitungan menit, sesuatu terasa aneh.

Perutnya mual.

Kepalanya mulai berputar.

Tangan Reina bergetar saat memegang botol jus itu. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

“Ugh…”

Ia buru-buru berdiri, tetapi tubuhnya goyah. Dunia terasa berputar. Napasnya memburu, dan sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, pandangannya mulai kabur.

Suara panik dari orang-orang di sekitarnya terdengar samar.

Seseorang meraih tubuhnya yang hampir ambruk.

Lalu segalanya menjadi gelap.

Bisa dibuat jika fokus di pemeran pria alias Satya

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Antara Misi Dan Hati    Tak Terduga

    “Biar aku yang bawa,” suara Satya dingin dan tak terbantahkan. Sersan Hendra terkejut ketika Satya tiba-tiba mengulurkan tangan, mencegahnya membopong Reina.Hendra mengerutkan kening, ragu sejenak, tapi ia tak berani membantah. Dengan cekatan, Satya mengangkat Reina ke dalam gendongannya dan berjalan cepat menuju mobilnya.Perjalanan berlangsung dalam diam. Satya mengemudi tanpa ekspresi, sementara Reina yang masih setengah sadar hanya bisa menggeliat lemah.Namun, saat kesadarannya perlahan kembali, Reina merasakan sesuatu yang aneh. Bau antiseptik rumah sakit yang seharusnya tercium, tidak ada. Sebaliknya, ia merasakan aroma bunga dan udara yang lebih hangat.Matanya terbuka perlahan, dan yang pertama kali dilihatnya adalah langit-langit kayu berukir serta lampu gantung klasik.Ini… bukan rumah sakit.Dengan cepat, Reina mencoba bangkit, tapi tubuhnya masih terlalu lemah. Ia menoleh ke samping dan langsung terkejut melihat sosok Satya duduk di kursi, membaca dokumen dengan ekspresi

    Last Updated : 2025-03-25
  • Antara Misi Dan Hati    Rasa Penasaran

    Reina duduk di sofa hotel dengan gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya. Ia masih tidak percaya bahwa pernikahan itu benar-benar terjadi. Satya yang duduk di seberangnya tampak serius berbicara dengan Letnan Dito.Reina yang awalnya malas mendengarkan, tiba-tiba merasa penasaran. Perlahan, ia bangkit dan berusaha mendekat tanpa suara. Ia merapatkan tubuh ke tembok di dekat mereka, memasang telinga sebaik mungkin."Kau yakin ini keputusan yang tepat?" suara Dito terdengar serius."Aku tak punya pilihan lain. Ini harus dilakukan," jawab Satya tegas."Kalau begitu, aku akan mengurus dokumen-dokumennya."Reina semakin menajamkan pendengarannya. Apa yang harus dilakukan? Dokumen apa? Jangan-jangan Satya sedang merencanakan sesuatu yang buruk?Ia berjinjit lebih dekat, namun sialnya, tubuhnya kehilangan keseimbangan karena gaun pengantinnya dan...Bruk! Reina jatuh ke lantai dengan posisi tengkurap.Dito dan Satya langsung menoleh. Dito menahan tawa sementara Satya hanya menatapnya d

    Last Updated : 2025-03-26
  • Antara Misi Dan Hati    Bab 9

    Tengah malam, Reina yang baru saja berusaha memejamkan mata dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka pelan. Ia menoleh dan melihat Satya masuk ke dalam kamar tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dengan langkah tenang, pria itu langsung merebahkan diri di sisi tempat tidur, membelakangi Reina seolah kehadirannya bukan masalah besar.Reina yang masih dalam keadaan setengah mengantuk langsung terjaga sepenuhnya. Ia bangkit dan menatap Satya dengan tatapan tak percaya. “Hei, kau salah kamar!” bisiknya tajam.Tanpa mengubah posisi, Satya hanya menghela napas. “Tidur saja. Tak perlu cemas, aku tidak akan mengganggumu.”Mata Reina menyipit curiga. “Kau pikir aku akan percaya begitu saja?”“Sebagai siswa tentara, bukankah seharusnya kau lebih berani? Dan bukankah kamu di asrama terbiasa tidur dengan banyak pria,” balas Satya santai.Reina mendengus, tapi ia tidak bisa membantah. Benar, sebagai tentara, ia tidak boleh takut, apalagi hanya berbagi tempat tidur dengan pria yang—sialnya—sekarang ad

    Last Updated : 2025-03-27
  • Antara Misi Dan Hati    bab 10

    Reina berjalan-jalan untuk mencari cara agar bisa melarikan diri dari Satya dan kembali ke perbatasan. Namun, upayanya terasa sia-sia. Tidak ada celah untuk kabur, dan penjagaan di sekitar markas begitu ketat. Setiap sudut wilayah ini dijaga oleh tentara yang siap siaga, membuat Reina frustasi.Kesempatan datang ketika Letnan Dito menawarkan untuk menemaninya berjalan-jalan di sekitar markas. Dengan penuh perhitungan, Reina berusaha memanfaatkan situasi itu. Saat mereka sampai di tempat yang cukup sepi, Reina berpura-pura lelah dan meminta untuk meminjam ponsel Dito."Sebentar saja, aku hanya ingin mengecek sesuatu," katanya dengan wajah meyakinkan.Dito sempat ragu, tapi akhirnya menyerahkan ponselnya. Dengan cepat, Reina mengetik nomor Arian dan mencoba menghubunginya. Namun, setiap kali ia menelepon, panggilannya selalu gagal tersambung. Ia menghela napas panjang, lalu segera menghapus jejak panggilannya dari daftar riwayat."Tolong, jangan ber

    Last Updated : 2025-03-28
  • Antara Misi Dan Hati    Kejutan Tak Terduga

    Reina melangkah ringan di lorong rumah sakit, senyumnya tak bisa ditahan. Hari ini adalah hari yang sudah lama ia nantikan. Setelah berbulan-bulan bertugas di luar pulau akhirnya ia mendapat cuti, setelah tiga hari bertemu keluarga kini dia bisa bertemu dengan Vino, kekasihnya.Ia membayangkan ekspresi terkejut Vino saat melihatnya tiba-tiba muncul di ruangannya. Mungkin pria itu akan memeluknya erat atau sekadar tersenyum lebar seperti biasa. Namun, senyumnya perlahan pudar saat mendapati ruangan dokter itu kosong. Tak ada tanda-tanda keberadaan Vino. Rasa cemas mulai merayap di benaknya.“Permisi, Dokter Vino ada?” tanya Reina pada seorang perawat yang kebetulan lewat.Perawat itu tampak ragu sejenak, lalu menjawab dengan nada hati-hati, “Dokter Vino sudah tidak bertugas di sini lagi, Mbak.”Reina mengernyit. “Maksudnya?”Perawat itu menghela napas. “Dokter Vino sudah pergi ke Amerika minggu lalu. Dia melanjutkan pendidikannya di sana.”Dunia Reina seketika terasa hampa. Suara-suar

    Last Updated : 2025-03-05
  • Antara Misi Dan Hati    Pertemuan tak Terduga

    Asap mesiu masih menguar di udara saat suara derap kaki terdengar dari segala penjuru. Kapten Satya Yudha Pratama berdiri di tengah reruntuhan desa kecil, dikepung puluhan pemberontak bersenjata lengkap.Di sekelilingnya, para prajuritnya telah gugur atau tertangkap. Hanya dia seorang yang tersisa.Seorang pemberontak bertubuh besar melangkah mendekat, menyeringai puas. “Kapten besar dari Malaca jatuh ke perangkap kami seperti tikus bodoh.”Tawa mencemooh bergema.“Katanya kau legenda di medan perang. Nyatanya? Kau hanya manusia biasa.”Satya tetap diam, ekspresinya tak berubah. Matanya menyapu medan—reruntuhan, mayat bergelimpangan, senjata yang berserakan.Seorang pemberontak lain menodongkan senapan ke arahnya. “Menyerahlah. Pangeran Ardian pasti akan membayarmu mahal jika kami menyerahkanmu hidup-hidup.”Alih-alih takut, Satya tersenyum tipis. “Kalian pikir aku masuk perangkap?”Para pemberontak mengernyit. Saat itu juga—Satya bergerak.Dengan kecepatan luar biasa, ia merunduk, me

    Last Updated : 2025-03-05
  • Antara Misi Dan Hati    Tersesat di Tanah Asing

    Reina terbatuk, asap tebal masih membekas di tenggorokannya saat dia berjalan tertatih di antara pepohonan. Panas dari kebakaran semalam masih terasa di kulitnya, meski kini hanya ada kegelapan dan hawa lembab hutan yang menyelimutinya. Kakinya yang terluka berusaha melangkah stabil di atas tanah berlumpur. Tak ada tanda-tanda kehidupan, hanya suara serangga dan sesekali lolongan binatang buas yang menggema dari kejauhan.Dia tak tahu sudah berapa lama berjalan, mungkin berjam-jam, mungkin lebih. Yang dia tahu, dia harus terus bergerak. Berhenti berarti kematian, dan Reina bukan tipe orang yang menyerah begitu saja.Ketika sinar matahari mulai menembus celah dedaunan, Reina melihat sesuatu di kejauhan—gubuk-gubuk kayu yang berdiri di sepanjang sungai. Matanya menyipit, memperhatikan lebih jauh. Ada orang-orang di sana, sebagian berpakaian lusuh, sebagian bersenjata. Jantungnya berdegup lebih cepat saat dia menyadari bahwa dia telah tersesat di wilayah Ghana.Ini adalah daerah konflik.

    Last Updated : 2025-03-05
  • Antara Misi Dan Hati    Aku Mengenalnya

    Suasana lapangan akademi terasa menegangkan. Semua siswa berdiri tegap di bawah terik matahari, menunggu kedatangan instruktur baru yang kabarnya seorang veteran perang. Desas-desus menyebar bahwa pria ini bukan hanya sekadar tentara biasa—dia seseorang yang selamat dari neraka perang dan kembali dengan reputasi mengerikan.Reina berdiri di barisan tengah, berusaha tetap tenang seperti siswa lain. Namun, begitu seorang perwira memasuki lapangan dengan langkah tegap dan penuh wibawa, tubuhnya langsung menegang.Pria itu…Wajah yang selama tiga bulan ini ia kira sudah mati, kini berdiri di hadapannya dalam balutan seragam militer dengan pangkat Mayor Jantung Reina berdegup kencang. ‘Tidak mungkin….’ Ia mengira pria itu mati dalam kebakaran. Pria yang seharusnya sudah tiada, berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam yang menembus barisan para siswa. Reina menelan ludah.Mayor itu menatap sekeliling sebelum berbicara. “Nama saya Satya. Mulai hari ini, saya akan menjadi instruktur kali

    Last Updated : 2025-03-05

Latest chapter

  • Antara Misi Dan Hati    bab 10

    Reina berjalan-jalan untuk mencari cara agar bisa melarikan diri dari Satya dan kembali ke perbatasan. Namun, upayanya terasa sia-sia. Tidak ada celah untuk kabur, dan penjagaan di sekitar markas begitu ketat. Setiap sudut wilayah ini dijaga oleh tentara yang siap siaga, membuat Reina frustasi.Kesempatan datang ketika Letnan Dito menawarkan untuk menemaninya berjalan-jalan di sekitar markas. Dengan penuh perhitungan, Reina berusaha memanfaatkan situasi itu. Saat mereka sampai di tempat yang cukup sepi, Reina berpura-pura lelah dan meminta untuk meminjam ponsel Dito."Sebentar saja, aku hanya ingin mengecek sesuatu," katanya dengan wajah meyakinkan.Dito sempat ragu, tapi akhirnya menyerahkan ponselnya. Dengan cepat, Reina mengetik nomor Arian dan mencoba menghubunginya. Namun, setiap kali ia menelepon, panggilannya selalu gagal tersambung. Ia menghela napas panjang, lalu segera menghapus jejak panggilannya dari daftar riwayat."Tolong, jangan ber

  • Antara Misi Dan Hati    Bab 9

    Tengah malam, Reina yang baru saja berusaha memejamkan mata dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka pelan. Ia menoleh dan melihat Satya masuk ke dalam kamar tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dengan langkah tenang, pria itu langsung merebahkan diri di sisi tempat tidur, membelakangi Reina seolah kehadirannya bukan masalah besar.Reina yang masih dalam keadaan setengah mengantuk langsung terjaga sepenuhnya. Ia bangkit dan menatap Satya dengan tatapan tak percaya. “Hei, kau salah kamar!” bisiknya tajam.Tanpa mengubah posisi, Satya hanya menghela napas. “Tidur saja. Tak perlu cemas, aku tidak akan mengganggumu.”Mata Reina menyipit curiga. “Kau pikir aku akan percaya begitu saja?”“Sebagai siswa tentara, bukankah seharusnya kau lebih berani? Dan bukankah kamu di asrama terbiasa tidur dengan banyak pria,” balas Satya santai.Reina mendengus, tapi ia tidak bisa membantah. Benar, sebagai tentara, ia tidak boleh takut, apalagi hanya berbagi tempat tidur dengan pria yang—sialnya—sekarang ad

  • Antara Misi Dan Hati    Rasa Penasaran

    Reina duduk di sofa hotel dengan gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya. Ia masih tidak percaya bahwa pernikahan itu benar-benar terjadi. Satya yang duduk di seberangnya tampak serius berbicara dengan Letnan Dito.Reina yang awalnya malas mendengarkan, tiba-tiba merasa penasaran. Perlahan, ia bangkit dan berusaha mendekat tanpa suara. Ia merapatkan tubuh ke tembok di dekat mereka, memasang telinga sebaik mungkin."Kau yakin ini keputusan yang tepat?" suara Dito terdengar serius."Aku tak punya pilihan lain. Ini harus dilakukan," jawab Satya tegas."Kalau begitu, aku akan mengurus dokumen-dokumennya."Reina semakin menajamkan pendengarannya. Apa yang harus dilakukan? Dokumen apa? Jangan-jangan Satya sedang merencanakan sesuatu yang buruk?Ia berjinjit lebih dekat, namun sialnya, tubuhnya kehilangan keseimbangan karena gaun pengantinnya dan...Bruk! Reina jatuh ke lantai dengan posisi tengkurap.Dito dan Satya langsung menoleh. Dito menahan tawa sementara Satya hanya menatapnya d

  • Antara Misi Dan Hati    Tak Terduga

    “Biar aku yang bawa,” suara Satya dingin dan tak terbantahkan. Sersan Hendra terkejut ketika Satya tiba-tiba mengulurkan tangan, mencegahnya membopong Reina.Hendra mengerutkan kening, ragu sejenak, tapi ia tak berani membantah. Dengan cekatan, Satya mengangkat Reina ke dalam gendongannya dan berjalan cepat menuju mobilnya.Perjalanan berlangsung dalam diam. Satya mengemudi tanpa ekspresi, sementara Reina yang masih setengah sadar hanya bisa menggeliat lemah.Namun, saat kesadarannya perlahan kembali, Reina merasakan sesuatu yang aneh. Bau antiseptik rumah sakit yang seharusnya tercium, tidak ada. Sebaliknya, ia merasakan aroma bunga dan udara yang lebih hangat.Matanya terbuka perlahan, dan yang pertama kali dilihatnya adalah langit-langit kayu berukir serta lampu gantung klasik.Ini… bukan rumah sakit.Dengan cepat, Reina mencoba bangkit, tapi tubuhnya masih terlalu lemah. Ia menoleh ke samping dan langsung terkejut melihat sosok Satya duduk di kursi, membaca dokumen dengan ekspresi

  • Antara Misi Dan Hati    Tiga Syarat

    Malam itu, Reina tak bisa memejamkan mata. Ia berguling ke sana kemari, memikirkan dua pilihan yang diberikan kepadanya—menerima hukuman atau menikah dengan Mayor Satya. Baginya, keduanya sama-sama tidak menyenangkan. Namun, saat mengingat keluarga Reihardi yang telah menerimanya, hatinya goyah. Ia harus membuat keputusan sebelum fajar.Pagi datang lebih cepat dari yang ia harapkan. Setelah apel pagi, Reina melangkah dengan hati berat menuju kamar Satya. Ia memastikan tak ada orang yang melihat sebelum mengetuk pintu. Begitu pintu terbuka, ia langsung masuk tanpa menunggu undangan, membuat Satya sedikit terkejut."Kau mau apa?" Satya bertanya dengan suara dingin.Reina menelan ludah, berdiri tegak di hadapan pria itu. "Aku setuju menikah denganmu. Tapi ada tiga syarat."Alis Satya sedikit terangkat, tapi ia tetap mempertahankan ekspresinya yang datar. "Syarat?""Pertama, kau harus menjamin keselamatan keluarga Reihardi, dan aku tidak mau kamu memaksaku melayanimu secara... fisik," uja

  • Antara Misi Dan Hati    Hukuman Menikah

    Reina sudah merasa ada yang aneh sejak latihan pagi tadi.Sejak tiba di kamp pelatihan ini, ia telah berusaha menyamar dengan baik—mengenakan pakaian longgar, merendahkan suaranya, dan menahan diri agar tidak menunjukkan reaksi mencolok. Namun, entah kenapa, sejak pertemuan pertamanya dengan Satya, pria itu memperlakukannya dengan berbeda.Latihan fisik yang seharusnya biasa tiba-tiba menjadi lebih berat. Dan yang paling menyebalkan, setiap kali ia mulai kelelahan, Satya hanya akan menatapnya dengan ekspresi datar, seolah mengamati sesuatu yang tidak ia mengerti.Apa pria itu sengaja menyiksanya?Reina mendengus kesal. Ia telah berhasil menyusup ke berbagai tempat sebelumnya, jadi kenapa sekarang justru merasa seperti tikus percobaan di tangan dingin itu? Ketika akhirnya latihan berakhir, Reina merasa cukup.Ia menuju barak perwira, mengabaikan tatapan heran dari beberapa prajurit. Langkahnya cepat, penuh tekad, dan begitu ia sampai di depan kamar Satya, ia mengetuk pintu tanpa basa-

  • Antara Misi Dan Hati    Aku Mengenalnya

    Suasana lapangan akademi terasa menegangkan. Semua siswa berdiri tegap di bawah terik matahari, menunggu kedatangan instruktur baru yang kabarnya seorang veteran perang. Desas-desus menyebar bahwa pria ini bukan hanya sekadar tentara biasa—dia seseorang yang selamat dari neraka perang dan kembali dengan reputasi mengerikan.Reina berdiri di barisan tengah, berusaha tetap tenang seperti siswa lain. Namun, begitu seorang perwira memasuki lapangan dengan langkah tegap dan penuh wibawa, tubuhnya langsung menegang.Pria itu…Wajah yang selama tiga bulan ini ia kira sudah mati, kini berdiri di hadapannya dalam balutan seragam militer dengan pangkat Mayor Jantung Reina berdegup kencang. ‘Tidak mungkin….’ Ia mengira pria itu mati dalam kebakaran. Pria yang seharusnya sudah tiada, berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam yang menembus barisan para siswa. Reina menelan ludah.Mayor itu menatap sekeliling sebelum berbicara. “Nama saya Satya. Mulai hari ini, saya akan menjadi instruktur kali

  • Antara Misi Dan Hati    Tersesat di Tanah Asing

    Reina terbatuk, asap tebal masih membekas di tenggorokannya saat dia berjalan tertatih di antara pepohonan. Panas dari kebakaran semalam masih terasa di kulitnya, meski kini hanya ada kegelapan dan hawa lembab hutan yang menyelimutinya. Kakinya yang terluka berusaha melangkah stabil di atas tanah berlumpur. Tak ada tanda-tanda kehidupan, hanya suara serangga dan sesekali lolongan binatang buas yang menggema dari kejauhan.Dia tak tahu sudah berapa lama berjalan, mungkin berjam-jam, mungkin lebih. Yang dia tahu, dia harus terus bergerak. Berhenti berarti kematian, dan Reina bukan tipe orang yang menyerah begitu saja.Ketika sinar matahari mulai menembus celah dedaunan, Reina melihat sesuatu di kejauhan—gubuk-gubuk kayu yang berdiri di sepanjang sungai. Matanya menyipit, memperhatikan lebih jauh. Ada orang-orang di sana, sebagian berpakaian lusuh, sebagian bersenjata. Jantungnya berdegup lebih cepat saat dia menyadari bahwa dia telah tersesat di wilayah Ghana.Ini adalah daerah konflik.

  • Antara Misi Dan Hati    Pertemuan tak Terduga

    Asap mesiu masih menguar di udara saat suara derap kaki terdengar dari segala penjuru. Kapten Satya Yudha Pratama berdiri di tengah reruntuhan desa kecil, dikepung puluhan pemberontak bersenjata lengkap.Di sekelilingnya, para prajuritnya telah gugur atau tertangkap. Hanya dia seorang yang tersisa.Seorang pemberontak bertubuh besar melangkah mendekat, menyeringai puas. “Kapten besar dari Malaca jatuh ke perangkap kami seperti tikus bodoh.”Tawa mencemooh bergema.“Katanya kau legenda di medan perang. Nyatanya? Kau hanya manusia biasa.”Satya tetap diam, ekspresinya tak berubah. Matanya menyapu medan—reruntuhan, mayat bergelimpangan, senjata yang berserakan.Seorang pemberontak lain menodongkan senapan ke arahnya. “Menyerahlah. Pangeran Ardian pasti akan membayarmu mahal jika kami menyerahkanmu hidup-hidup.”Alih-alih takut, Satya tersenyum tipis. “Kalian pikir aku masuk perangkap?”Para pemberontak mengernyit. Saat itu juga—Satya bergerak.Dengan kecepatan luar biasa, ia merunduk, me

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status