Kulit buaya sangat tebal. Darah Samuel sendiri yang memuncrat ke wajahnya. Dia baru berhenti saat tangannya terasa lemas.Samuel berbaring di rerumputan dengan napas tersengal-sengal. Dia memandang langit yang biru, hatinya terasa sakit.Setelah beberapa saat, ponsel Samuel berdering. Dia menjawab panggilan telepon dengan tangan kiri, "Apa?""Rencana kedua sudah dijalankan dan berhasil," lapor informan.Samuel mencibir, lalu membalas, "Oke. Kirimkan alamat rumah sakitnya padaku."Setelah mengakhiri panggilan telepon, Samuel tertawa terbahak-bahak sambil memandang langit. Tawanya sangat menyeramkan sehingga membuat burung-burung di hutan kabur karena ketakutan.....Sementara itu, Naomi sedang bergegas ke rumah sakit. Dia baru ditelepon Tiara. Braden terluka parah. Saat mereka jalan-jalan di gunung, Braden tiba-tiba diserang.Sekarang pihak sekolah sudah melapor polisi dan Braden sudah dibawa ke rumah sakit terdekat. Naomi hampir pingsan setelah mendengar kabar ini.Saat ini, Naomi seda
Caden menghentikan langkahnya dan bertanya, "Kenapa?"Naomi menatap Caden seraya mengernyit, dia menghela napas. Caden adalah ayah kandung Braden. Jika pasien menerima darah dari sesama keluarga, takutnya bisa terjadi komplikasi transfusi darah. Ini adalah reaksi yang fatal dari transfusi darah. Itulah sebabnya pihak rumah sakit tidak menyarankan keluarga dekat melakukan transfusi darah. Hal ini sangat berbahaya!"Ada yang butuh darah Rh null, ya? Golongan darahku Rh null!" seru Samuel yang tiba-tiba muncul. Dia buru-buru menghampiri Naomi dan lainnya.Samuel berpura-pura kaget saat melihat Naomi dan bertanya, "Kenapa kalian ada di sini? Siapa yang dirawat di rumah sakit?"Naomi sangat emosional. Dia juga melupakan masalah di antara mereka sebelumnya. Naomi bertanya dengan suara serak, "Pak Samuel, golongan darahmu Rh null?"Samuel menyahut, "Iya, golongan darahku Rh null. Aku terluka, jadi aku datang ke rumah sakit untuk mengobati lukaku. Suster bilang ada pasien yang butuh darah Rh
Selesai bicara, Robbin langsung masuk ke ruang UGD. Tiara memandang Caden sambil mengernyit. Dia merasa kasihan pada Caden, jadi dia berucap, "Kamu harus percaya Naomi mencintaimu. Dia pasti punya alasan setiap membuat keputusan."Tiara meneruskan, "Sekarang Naomi sangat mencemaskan Braden sehingga dia nggak sempat menjelaskan kepadamu. Setelah kondisi Braden stabil, dia pasti akan membicarakannya denganmu."Tiara tahu alasan Naomi melarang Caden melakukan transfusi darah, tetapi dia tidak berani mengatakannya. Tiara merasa lebih baik Naomi yang memberi tahu Caden secara langsung.Caden melihat Tiara dan anak-anak sambil mengernyit, lalu berjalan ke ujung koridor. Dia ingin merokok.Beberapa jam kemudian, akhirnya kondisi Braden stabil. Dia sudah dipindahkan ke kamar biasa. Braden masih tertidur karena efek obat bius belum sepenuhnya menghilang.Kala ini, wajah Braden masih dirias seperti Jayden. Hari ini Braden dan Hayden merias wajah saat pergi berekreasi.Belakangan ini, Caden berpa
Melihat Caden kehilangan kendali, Rayden segera memanggilnya, "Papa!"Tiara ketakutan melihat ekspresi Caden sekarang. Dia mengingatkan dengan hati-hati, "Semuanya tenang. Braden lagi istirahat."Caden tidak bisa mengendalikan amarahnya. Dia ingin menarik kerah baju Samuel dan membawanya keluar untuk bicara berduaan. Namun, sebelum bertindak, Caden terdiam saat melihat tatapan Naomi kepadanya.Naomi tidak mengatakan apa pun. Dia hanya menatap Caden lekat-lekat. Caden langsung menciut.Naomi menatap Caden sejenak, lalu melihat Samuel dan berujar, "Pihak sekolah sudah lapor polisi. Pihak kepolisian akan menyelidikinya."Samuel mengangguk dan menimpali, "Kamu boleh cari aku kalau butuh bantuan. Kamu nggak usah sungkan kepadaku. Aku masih ada urusan, aku pergi dulu."Naomi berniat mengantar Samuel, tetapi Samuel menolak, "Nggak usah antar aku. Kamu temani Braden saja."Sikap Samuel sangat murah hati. Dia langsung pergi setelah selesai bicara. Siapa pun tidak akan mengira Samuel mengincar N
Caden tahu target Samuel adalah dirinya. Dia berjanji, "Naomi, percaya padaku. Ini terakhir kalinya masalah seperti ini terjadi. Aku nggak akan biarkan siapa pun menyakiti anak-anak."Naomi tidak berbicara. Dia menangis untuk waktu yang lama. Setelah meluapkan perasaannya, Naomi melepaskan diri dari pelukan Caden.Naomi menyeka air matanya dan berkata dengan suara serak, "Kamu keluar dulu. Aku mau berduaan dengan Braden."Caden merasa gugup. Dia berujar, "Naomi ...."Naomi menyela, "Aku ingin menenangkan diriku dan berduaan dengan Braden."Caden merasa sedih, tetapi dia tetap mengangguk dan menimpali, "Aku tunggu kamu di luar. Kalau ada apa-apa, kamu panggil aku saja."Naomi menggeleng, lalu membalas, "Kamu istirahat di rumah saja.""Aku nggak mau pulang," sahut Caden.Naomi tidak berbicara lagi. Dia hanya mengangguk. Caden berjalan keluar dari kamar dengan enggan. Dia membuka dan menutup pintu dengan pelan.Caden berdiri di koridor sambil memandang Naomi dari kaca jendela. Hati Caden
Naomi terlihat sangat lemah. Dia berkata, "Aku nggak tahu ...."Tiara mengernyit, sudah jelas orang itu ingin mengancam dan memperingatkan Naomi. Sebuah nomor asing mengirim pesan kepada Naomi.[ Terakhir kali Rayden, kali ini Braden, selanjutnya Hayden dan Jayden. Nggak mungkin setiap kali kamu begitu beruntung bisa menyelamatkan mereka, apa kamu mau mengambil risiko dengan anak-anakmu? Naomi, dengarkan saranku. Tinggalkan dia, keselamatanmu dan anak-anak terancam kalau kalian bersama. ]Tentu saja orang yang dimaksud adalah Caden. Tiara sangat memahami Naomi. Anak-anak adalah yang paling penting bagi Naomi. Orang itu mengancam Naomi dengan kelemahannya dan mendesaknya untuk meninggalkan Caden.Pantas saja, sikap Naomi pada Caden hari ini sangat aneh. Jika ada yang mengancam Naomi dengan anak-anaknya, mana mungkin Naomi berani bersama Caden lagi?Namun, Naomi sangat menyukai Caden dan tidak rela berpisah dengannya. Naomi dilema!Tiara merasa kasihan pada Naomi. Dia meletakkan ponsel d
Mana ada ibu tunggal yang begitu berani saat menghadapi ancaman seperti ini? Selain itu, anak Naomi memang terluka. Mana mungkin Naomi masih mementingkan diri sendiri dan lanjut berpacaran? Apalagi Naomi memang orang yang penakut.Tiara berkata, "Naomi, aku tahu kamu takut. Tapi, kamu harus melanjutkan hidupmu. Sekarang seharusnya kamu jaga dirimu baik-baik. Kalau nggak, Braden pasti sedih melihat kondisimu begini setelah bangun.""Tubuh Braden sudah terluka, kamu nggak mau hatinya juga terluka, 'kan? Dengarkan nasihatku, kamu jaga dirimu dulu baru pikirkan hal lain. Aku memang menyarankanmu supaya nggak putus dengan Caden karena masalah ini. Tapi, apa pun keputusanmu, aku dan anak-anak pasti mendukungmu," lanjut Tiara.Naomi menghela napas dan berucap, "Terima kasih, Tiara.""Aduh, kamu itu sahabatku. Nggak usah begitu sungkan," timpal Tiara. Kemudian, dia berbisik, "Sejujurnya, Cayden yang menyuruhku datang. Dia sangat kasihan padamu, kamu nggak lihat tampangnya yang menyedihkan."Ti
Caden yang gugup menyahut, "Oh, oke."Caden buru-buru mengikuti Naomi masuk ke kamar. Di dalam kamar terdapat meja kecil. Naomi menyajikan makanan dia atas meja, lalu memanggil Caden, "Sini, makan dulu."Caden terkejut. Dia terlihat seperti anak kecil yang berbuat salah. Caden mengamati ekspresi Naomi dan menghampirinya dengan hati-hati.Naomi sangat sedih saat melihat gerak-gerik Caden yang hati-hati. Dia ingin menghibur Caden, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa. Akhirnya, Naomi hanya terdiam.Naomi memberikan sendok kepada Caden, lalu Caden segera mengambil sendoknya. Naomi tidak berbicara dan Caden juga tidak berani bersuara.Setelah selesai makan, Caden berebutan untuk membereskan meja. Naomi juga tidak menghalanginya. Dia pergi ke kamar mandi sebentar, lalu merapikan kasur sesudah keluar.Kasur tunggal ini berukuran 1,2 meter. Caden baru menyuruh bawahannya membeli kasur ini tadi pagi. Selimutnya juga baru.Caden yang sudah selesai membereskan meja berdiri di samping sambil me
“Dari mana asal bau alkohol seberat ini? Kamu minum alkohol?” jerit Kevin begitu memasuki rumah.Camila bersembunyi di samping Dylan. Dia bahkan tidak berani bernapas sama sekali. Dahlia dan Keiza menutup hidung mereka. “Iya, bau sekali, pasti minumnya banyak.”Tiba-tiba Fakhri menyadari botol alkohol yang bergelinding di samping! Dia mengambil botol itu dan rasa syok seketika terlukis di wajahnya.“Astaga! Alkohol tahun 1935! Ini minuman koleksi kakekmu saat dia masih hidup. Dia bahkan nggak tega untuk meminumnya. Dylan malah meminumnya?”Omran juga menemukan beberapa botol kosong. Di bawah bantuan cahaya lilin, dia membaca, “Vodka Rosso Polo edisi terbaru, Han Emperor Maotai …. Astaga! Dylan, apa gara-gara kamu dipukul, kamu sampai nekat menghabiskan koleksi kakekmu?”Kedua mata Kevin terbelalak lebar ketika melihat botol kosong itu. Dia segera berlari ke depan altar ayahnya! Ternyata botol alkohol yang disimpan di balik papan sudah dihabiskan semuanya!Amarah di hati Kevin seketik
Ekspresi Kevin sangat masam. Sementara itu, para penjaga masih berjaga di luar aula leluhur. Mereka ketakutan saat melihat Kevin dan lainnya yang datang.Salah satu penjaga bergegas masuk ke aula leluhur untuk mengabari Camila. Kevin yang curiga langsung berteriak, "Berhenti!"Penjaga terdiam di tempat. Kevin menghampiri penjaga dan bertanya, "Kenapa kamu panik?"Penjaga gemetaran. Dia menunduk karena tidak berani melihat Kevin. Penjaga memanggil, "Pak Kevin."Tidak ada pintu belakang di aula leluhur, jadi Camila tidak bisa kabur. Tentu saja para penjaga panik.Kevin tidak mengizinkan siapa pun untuk melihat Dylan. Namun, mereka membiarkan Camila masuk. Itu berarti mereka melanggar perintah Kevin.Selain itu, mereka sudah berjanji kepada Camila untuk mengabarinya jika ada yang datang. Para penjaga merasa tidak berdaya.Kevin menyadari ada yang tidak beres. Dia membentak dengan ekspresi muram, "Cepat bilang! Apa yang dilakukan anak sialan itu di dalam aula leluhur?"Para penjaga tidak b
Dylan ingin menunjukkan tekadnya. Mungkin juga dia ingin memprovokasi Kevin dan Catherine. Dylan mengeluarkan ponsel, lalu menambahkan deskripsi di akunnya.[ Aku nggak akan menikah selamanya! Orang yang menikah bodoh! ]Setelah selesai, Dylan memamerkannya kepada Camila. Sementara itu, pandangan Camila agak kabur. Sesudah beberapa saat, dia baru bisa melihat dengan jelas. Camila mengacungkan jempol kepada Dylan dan memuji, "Kamu hebat!"Dylan bertanya, "Kamu mau tulis, nggak?"Camila masih bisa berpikir rasional. Dia menyahut, "Nggak mau. Aku ini artis, jadi aku harus memikirkan citraku. Tapi, aku pasti nggak akan menikah lagi. Aku sudah membuat keputusan.""Kalau salah satu dari kita menikah, itu berarti dia bodoh!" balas Dylan."Oke," sahut Camila.....Camila dan Dylan bersenang-senang di aula leluhur. Di sisi lain, Lyana yang berada di ruang tamu terus menangis. Dylan terluka parah dan tidak makan seharian.Selain itu, sekarang sudah malam. Namun, Kevin masih tidak mengizinkan Dyl
Camila ragu-ragu sejenak sebelum menghampiri papan nama kakek Dylan. Dia memberi hormat kepada kakek Dylan, lalu berkata, "Kakek, jangan salahkan aku, ya. Cucumu yang suruh aku ambil, aku cuma bantu dia. Kalau kamu marah, buat perhitungan dengan cucumu. Jangan cari aku."Selesai bicara, Camila baru berani bertindak. Dia mengambil 2 botol vodka dan 2 gelas. Setelah kembali ke sisi Dylan, Camila baru berani melihat vodkanya.Tangan Camila bergetar. Dia berseru, "Sialan! Vodka ini sangat mahal!"Camila melihat vodka, lalu memandang Dylan dan bertanya, "Kamu yakin mau minum ini?"Harga sebotol vodka ini setara dengan sebuah vila. Dylan menyahut dengan santai, "Tentu saja, cepat buka."Camila menelan ludah. Dia meletakkan botol vodka di samping, lalu mengambil makanan. Dia tidak melupakan tugasnya hari ini. Camila berucap, "Nggak bagus kalau kita minum vodka saat perut kosong. Kita makan dulu."Ketika mengambil makanan, Camila teringat dengan batu permata itu. Dia berujar, "Oh, iya. Ada uru
Camila menyahut, "Aku datang melihatmu."Dylan mengeluh, "Seharusnya kamu bilang dulu sebelum datang."Camila tertawa, lalu menimpali, "Kenapa? Apa kamu mau berdandan dulu?"Dylan mengatupkan bibirnya. Dia sudah terbiasa sok ganteng. Sekarang kondisinya sangat menyedihkan, jadi Dylan tidak ingin bertemu siapa pun. Apalagi bertemu wanita cantik.Camila memiringkan kepalanya dan melihat Dylan sambil menyipitkan matanya. Dylan merasa canggung dilihat Camila. Dia bertanya seraya mengernyit, "Kamu lihat apa?"Camila menilai, "Rambutmu acak-acakan, bajumu kotor dan robek, wajahmu juga dinodai abu. Dylan, penampilanmu sangat buruk!"Apalagi dibandingkan dengan penampilan Camila yang menawan, Dylan tampak seperti pengemis. Dylan memelotot. Dia sangat mementingkan penampilannya, bisa-bisanya Camila mengkritiknya!Dylan berpikir sejenak, lalu berujar, "Dipukul ayahku bukan hal yang memalukan. Hampir semua orang pernah dipukul waktu kecil!""Orang lain dipukul waktu kecil. Kamu sudah berusia 30 t
Caden mempunyai 5 anak, sedangkan putra mereka belum mempunyai keturunan. Para keluarga kaya tidak kekurangan uang. Tentu saja mereka berharap bisa mempunyai banyak keturunan. Mereka mampu membesarkan anak-anak itu.Keluarga Hermanto tidak berani berharap Dylan bisa mempunyai anak. Mereka sudah cukup bersyukur jika Dylan bersedia menikah. Namun, bagaimana kalau Camila dan Dylan benar-benar bersama? Kemungkinan tahun depan mereka juga mempunyai anak!Seluruh anggota Keluarga Hermanto pasti sangat gembira. Mungkin Kevin dan Lyana akan sibuk memberi tahu semua orang mereka sudah mempunyai cucu."Bu Camila, kamu parkir mobilmu di sini saja," ujar penjaga yang menunggu di pintu belakang. Dia sudah mendapatkan kabar sebelumnya. Begitu melihat Camila, penjaga sangat antusias.Camila memarkir mobil, lalu mematikan mesin. Penjaga dan pelayan Keluarga Hermanto menyapa Camila dengan ramah. Mereka juga membantu Camila membawa barang-barang. Bahkan, mereka juga mengingatkan Camila untuk berhati-hat
Mobil sport merah milik Camila berhenti di depan kediaman Keluarga Hermanto. Camila membunyikan klakson.Para penjaga kediaman Keluarga Hermanto terpana melihat kecantikan Camila. Mereka berebutan untuk menyapa Camila dengan ramah."Bu Camila, apa kamu datang untuk menjenguk Pak Dylan?""Pak Caden sudah memberi tahu kami. Kamu jalan terus, lalu belok ke pintu belakang kediaman Keluarga Hermanto.""Jarak dari sana ke aula leluhur lebih dekat dan nggak bisa ketahuan Pak Kevin. Ada orang yang tunggu kamu di sana. Dia akan bawa kamu ke aula leluhur."Camila mengangguk dan menyahut, "Oke, terima kasih.""Sama-sama," balas penjaga. Setelah Camila pergi, beberapa penjaga sibuk berkomentar."Entah apa yang dipikirkan Leon tolol itu. Dia malah nggak menghargai istri yang begitu cantik. Otaknya bermasalah!""Ibunya Leon juga tolol. Dia terus memfitnah Bu Camila di internet.""Jelas-jelas Bu Camila itu menantu yang membanggakan. Keluarga Leon benar-benar beruntung, tapi mereka malah menyia-nyiaka
Camila berbicara dengan tatapan dingin, "Sejujurnya, waktu dikurung selama 1 tahun olehmu, aku merasa kesakitan setiap hari. Bukan cuma itu, aku juga merasa putus asa. Aku dikurung pria yang kusukai dan dipermalukan pelakor. Aku sangat tersiksa!"Camila menambahkan, "Aku kira aku nggak bisa kabur lagi seumur hidup. Aku benar-benar putus asa ...."Sambil bicara, Camila menginjak jari Leon hingga putus. Dia membawa pisau, lalu membuka pintu kandang dan berjalan masuk.Leon sudah lama tidak makan, jadi dia tidak mampu melawan lagi. Leon mengangkat tangannya yang terluka parah dan berkata sembari memandang Camila dengan ekspresi panik, "Apa yang ingin kamu lakukan? Membunuh itu ... melanggar hukum ...."Camila berucap, "Kamu cuma merasa sedikit ketakutan, tapi kamu nggak merasakan keputusasaanku waktu itu! Kamu tahu aku nggak akan membunuhmu dan aku juga nggak bisa mengurungmu dalam waktu yang lama seperti yang kamu lakukan padaku. Jadi, kamu nggak merasa putus asa.""Kalau kamu nggak mera
Leon berucap dengan napas tersengal-sengal, "Berikan padaku!"Camila duduk di sofa, lalu meletakkan botol anggur dan gelas di atas meja. Dia menceletuk, "Apa kamu masih ingat arti dari anggur ini? Kalau kamu bisa jawab, aku akan memberimu segelas anggur."Leon mengernyit. Bibirnya bergerak, tetapi dia tidak bisa melontarkan sepatah kata pun. Camila menggeleng seraya mendesah, lalu menambahkan, "Kamu benar-benar pelupa. Kamu bahkan melupakan anggur ini."Camila meneruskan, "Ini anggur di resepsi pernikahan kita yang sengaja kita simpan. Kita sudah sepakat untuk menyimpannya. Nanti waktu salah satu dari kita hampir meninggal, kita baru buka anggurnya."Selesai bicara, Camila tidak memberi Leon kesempatan untuk mempertimbangkan. Dia mengambil botol anggur, lalu membukanya. Camila menuang anggur ke gelas dan langsung mencicipinya. Dia berkomentar, "Enak, ini anggur yang bagus!"Leon yang panik berkata, "Kamu ... mau bunuh aku? Jangan lupa, membunuh itu melanggar hukum. Banyak orang tahu ka