Caden dan Naomi terkejut. Walaupun sekarang Caden berhasrat, dia tidak berani menginap. Caden memandang Naomi untuk menunggu keputusannya.Setelah terdiam sejenak, Naomi menolak, "Nggak bisa. Tempat tidur kalian terlalu kecil, nanti kalian nggak bisa tidur kalau terlalu sempit. Biar dia tidur di rumahnya saja."Selesai bicara, Naomi melihat Caden lagi. Tatapan Caden yang berhasrat membuat Naomi gugup. Akan tetapi, Naomi tetap berujar, "Sudah waktunya anak-anak tidur. Kamu juga sudah boleh pulang."Caden tahu Naomi pasti tidak mengizinkannya menginap. Dia tidak menanggapi ucapan Naomi.Caden memandang anak-anak sembari berucap, "Besok aku harus bangun pagi-pagi, jadi nggak leluasa kalau aku tidur di sini. Tapi, aku bisa bacakan cerita untuk kalian sebelum pergi."Anak-anak langsung bersemangat begitu mendengar Caden akan membacakan cerita untuk mereka. Terutama Hayden dan Jayden."Kamu bisa baca cerita?" tanya Hayden."Iya. Mau dengar, nggak?" sahut Caden.Hayden membalas, "Kamu bisa ba
Waktu istirahat anak sangat teratur. Biasanya mereka akan tidur pada jam setengah sepuluh malam.Naomi tidak berencana mengusir Caden setelah anak-anak tidur. Dia merasa akan lebih aman jika mengusir Caden sebelum anak-anak tidur.Setelah mematikan televisi, Naomi berdiri, lalu berjalan ke kamar anak. Namun ketika Naomi mengangkat tangan hendak mengetuk pintu, dia malah kedengaran suara ramai di dalam ruangan, hatinya pun terasa luluh.Naomi mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu, lalu membalikkan tubuhnya berjalan kembali ke kamar.Setelah selesai membasuh tubuh, Caden masih belum pulang! Hati Naomi sungguh terasa penat. Apa Caden yakin dia sedang membaca cerita sebelum tidur? Kenapa ceritanya jadi sepanjang itu? Apa Caden bercerita dari masa kakek sampai masa cucunya? Naomi berjalan mondar-mandir di dalam ruang tamu, kemudian pergi ke ruang baca. Naomi ingin mencoba menenangkan dirinya dengan membaca buku. Namun, Naomi tidak bisa konsentrasi. Hanya ada Caden di dalam benaknya.En
Tenaga Caden terlalu kuat. Naomi pun tidak sanggup untuk menghalanginya. Apalagi Naomi sudah kehabisan oksigen. Dia juga tidak bisa berpikir lagi ….Ciuman ganas ini hampir saja merenggut nyawa Naomi! Dia bahkan tidak tahu sejak kapan dirinya dibawa ke sofa. Setahu Naomi, bibirnya tidak sedetik pun dilepaskan oleh Caden. Setelah memberi ciuman dalam, dia mulai mencium wajah Naomi, daun telinga, dagu, leher, lalu beralih ke bagian bawah. Caden mulai menempelkan bibirnya di tulang selangka si wanita ….Tubuh Naomi seketika terasa lemas. Hatinya juga mulai gemetar. Dia tidak melakukan perlawanan apa-apa, hanya meremas kedua sisi kemeja di bagian pinggang si pria. Dia membiarkan Caden untuk berbuat apa yang dia inginkan.Sepertinya Caden memang sedang “kelaparan”. Tidak peduli sudah berapa banyak yang dia “makan”, dia masih saja merasa lapar! Bagian bawah tubuh Caden yang menempel di bagian paha Naomi semakin membara dan keras saja, seolah-olah bisa meledak kapan saja!Caden sungguh merasa
Setelah Naomi selesai menidurkan Jayden, dia segera kembali ke kamarnya untuk membasuh tubuh. Pakaian dilepaskan. Saat melihat bekas merah di lehernya, Naomi pun merasa malu hingga wajahnya merona.Entah karena kebutuhan atau karena ada Caden di hatinya, jika bukan karena suara tangis Jayden, sepertinya Naomi sudah menyerahkan dirinya kepada Caden. Bahkan Naomi sendiri juga tidak menyangka, dirinya yang sudah lama tidak berhubungan itu kembali mengharapkannya.Saat Caden menciumnya, Naomi pun merasa gugup dan hatinya ikut berdebar ….Naomi refleks menelan air liurnya. Dia memejamkan matanya membiarkan air shower membasahi dirinya, berusaha untuk menenangkan dirinya.Setelah membasuh tubuh selama beberapa saat, Naomi baru berhasil menenangkan dirinya. Dia mengingatkan dirinya sendiri untuk mengendalikan hasratnya.Mereka berdua memang menyukai satu sama lain. Hanya saja, mereka masih belum memastikan hubungan, tidak boleh melakukan hal seperti itu ….Selesai mandi, Naomi pergi melihat a
Dulu Naomi tidak peduli dengan cara berpakaiannya. Hari ini, dia malah mengganti 3 jenis pakaian, lalu merias wajahnya.Ketika anak-anak bangun dan bertemu dengan Naomi, mereka semua pun merasa bingung.“Apa Mama mau keluar?”“Nggak. Hari ini kabutnya tebal sekali. Nggak cocok untuk keluar.”“Jadi kenapa Mama berdandan secantik ini?”Naomi mengedipkan matanya dengan sangat cepat. “Bukannya Mama selalu seperti ini? Apa dulu Mama nggak cantik?”“Cantik sih cantik, tapi ….”Biasanya ketika di rumah, Naomi hanya mengenakan pakaian santai, membiarkan rambutnya terurai panjang dan tidak merias wajahnya. Namun hari ini, dia malah mengenakan terusan panjang berwarna putih. Rambutnya tetap terurai panjang, tetapi kelihatan sekali sudah dicuci. Dia bahkan mengoles lipstik, mengenakan anting-anting dan kalung ….Keempat bocah cilik merasa syok ketika melihat Naomi.Naomi yang ditatap anak-anak pun merasa canggung. Dia bisa mengenakan pakaian kerah tinggi juga demi menutupi bekas di lehernya. Meng
“Benar … benarkah?”“Emm, kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tanya dia,” balas Samuel dengan sangat yakin.Usai berbicara, Samuel mengingatkan lagi, “Aku merasa masalah ini cukup berpengaruh terhadapmu. Kamu mesti berpikir bagaimana cara mengatasinya.”Kening Naomi berkerut. Dia kelihatan gelisah. Seandainya apa yang dikatakan Samuel itu benar, sepertinya masalah itu cukup berdampak terhadapnya!Tiba-tiba Samuel mengangkat tangan untuk mengusap kepalanya!Naomi merasa syok. Dia menatap Samuel dengan syok. Keningnya sedikit berkerut. “Kamu lagi ngapain?”Samuel terbengong sejenak. Dia menjelaskan dengan penuh hati-hati, “Tadi ada ulat di atas kepalamu. Aku khawatir kamu akan takut. Jadi, aku pun menepuknya.” Usai berbicara, Samuel menunjuk ulat di atas lantai. “Yang itu, baru saja jatuh dari atas pohon.”Naomi sungguh merasa canggung. “Maaf, nada bicaraku tadi agak ketus.”Samuel tersenyum. “Nggak masalah. Aku yang terlalu lancang.”Saat ini, hati Naomi terasa penat. Dia kepikiran deng
Caden menatap Naomi, lalu berkata, “Kalau emosimu sudah reda, bisa nggak kita bicara dengan tenang?”Naomi bergumam, “Jelas-jelas kamu duluan yang marah!”“Makanya aku minta maaf. Tadi aku terlalu gegabah. Sikapku nggak bagus. Emosiku langsung meluap ketika melihat kalian bersama. Jelas-jelas kamu mengingatkanku untuk menjauhinya.”“Aku juga sudah jelaskan. Aku ketemu dia di bawah juga murni kebetulan saja. Kamu sendiri yang nggak percaya sama aku!”Caden menggerakkan bibirnya. “Kamu jujur sama aku. Apa kamu suka sama Samuel?”Naomi sungguh kehabisan kata-kata. Betapa inginnya dia memarahi pria ini. Hanya saja, ketika melihat ekspresi serius Caden, Naomi pun menelan kembali ucapannya, kemudian bergumam, “Nggak suka! Sepertinya aku sudah bilang berkali-kali!”Caden diam-diam menghela napas lega. Akhirnya dia merasa tenang. Sebenarnya Caden masih keberatan lantaran Naomi berdandan secantik ini ketika bersama dengan Samuel. Hanya saja, untungnya dia tidak menyukai Samuel.Caden mengangkat
“Bukannya nggak boleh, tapi bukan sekarang saja. Tunggu beberapa saat lagi. Kamu … kamu beri aku sedikit waktu lagi, ya?”Setelah Naomi memastikan hubungannya dengan Caden, dia pasti akan memberi tahu masalah anak-anak kepada Caden. Namun, sekarang masih belum saatnya!Hubungan mereka berdua baru saja dimulai. Mereka baru saja memiliki sedikit rasa terhadap satu sama lain, tetapi masih belum memutuskan untuk bersama. Bahkan, tidak ada yang pernah memberi tahu bahwa sebenarnya ada rasa suka di hati mereka. Jadi, Naomi berencana untuk merahasiakan masalah anak-anak.Anak-anak sangatlah penting bagi Naomi. Sebelum semuanya dipastikan, Naomi pasti tidak akan mengatakannya. Masih terlihat raut muram di wajah tampan Caden. “Kalau kamu butuh waktu, aku bisa beri kamu waktu. Tapi kamu mesti beri tahu aku alasannya. Kenapa kamu nggak izinkan aku pindah dalam waktu dekat?”“Alasannya … aku akan kasih tahu alasannya nanti.”“Jadi, aku perlu menunggu berapa lama lagi?”“Aku sendiri juga nggak jel
Camila menyahut, "Aku datang melihatmu."Dylan mengeluh, "Seharusnya kamu bilang dulu sebelum datang."Camila tertawa, lalu menimpali, "Kenapa? Apa kamu mau berdandan dulu?"Dylan mengatupkan bibirnya. Dia sudah terbiasa sok ganteng. Sekarang kondisinya sangat menyedihkan, jadi Dylan tidak ingin bertemu siapa pun. Apalagi bertemu wanita cantik.Camila memiringkan kepalanya dan melihat Dylan sambil menyipitkan matanya. Dylan merasa canggung dilihat Camila. Dia bertanya seraya mengernyit, "Kamu lihat apa?"Camila menilai, "Rambutmu acak-acakan, bajumu kotor dan robek, wajahmu juga dinodai abu. Dylan, penampilanmu sangat buruk!"Apalagi dibandingkan dengan penampilan Camila yang menawan, Dylan tampak seperti pengemis. Dylan memelotot. Dia sangat mementingkan penampilannya, bisa-bisanya Camila mengkritiknya!Dylan berpikir sejenak, lalu berujar, "Dipukul ayahku bukan hal yang memalukan. Hampir semua orang pernah dipukul waktu kecil!""Orang lain dipukul waktu kecil. Kamu sudah berusia 30 t
Caden mempunyai 5 anak, sedangkan putra mereka belum mempunyai keturunan. Para keluarga kaya tidak kekurangan uang. Tentu saja mereka berharap bisa mempunyai banyak keturunan. Mereka mampu membesarkan anak-anak itu.Keluarga Hermanto tidak berani berharap Dylan bisa mempunyai anak. Mereka sudah cukup bersyukur jika Dylan bersedia menikah. Namun, bagaimana kalau Camila dan Dylan benar-benar bersama? Kemungkinan tahun depan mereka juga mempunyai anak!Seluruh anggota Keluarga Hermanto pasti sangat gembira. Mungkin Kevin dan Lyana akan sibuk memberi tahu semua orang mereka sudah mempunyai cucu."Bu Camila, kamu parkir mobilmu di sini saja," ujar penjaga yang menunggu di pintu belakang. Dia sudah mendapatkan kabar sebelumnya. Begitu melihat Camila, penjaga sangat antusias.Camila memarkir mobil, lalu mematikan mesin. Penjaga dan pelayan Keluarga Hermanto menyapa Camila dengan ramah. Mereka juga membantu Camila membawa barang-barang. Bahkan, mereka juga mengingatkan Camila untuk berhati-hat
Mobil sport merah milik Camila berhenti di depan kediaman Keluarga Hermanto. Camila membunyikan klakson.Para penjaga kediaman Keluarga Hermanto terpana melihat kecantikan Camila. Mereka berebutan untuk menyapa Camila dengan ramah."Bu Camila, apa kamu datang untuk menjenguk Pak Dylan?""Pak Caden sudah memberi tahu kami. Kamu jalan terus, lalu belok ke pintu belakang kediaman Keluarga Hermanto.""Jarak dari sana ke aula leluhur lebih dekat dan nggak bisa ketahuan Pak Kevin. Ada orang yang tunggu kamu di sana. Dia akan bawa kamu ke aula leluhur."Camila mengangguk dan menyahut, "Oke, terima kasih.""Sama-sama," balas penjaga. Setelah Camila pergi, beberapa penjaga sibuk berkomentar."Entah apa yang dipikirkan Leon tolol itu. Dia malah nggak menghargai istri yang begitu cantik. Otaknya bermasalah!""Ibunya Leon juga tolol. Dia terus memfitnah Bu Camila di internet.""Jelas-jelas Bu Camila itu menantu yang membanggakan. Keluarga Leon benar-benar beruntung, tapi mereka malah menyia-nyiaka
Camila berbicara dengan tatapan dingin, "Sejujurnya, waktu dikurung selama 1 tahun olehmu, aku merasa kesakitan setiap hari. Bukan cuma itu, aku juga merasa putus asa. Aku dikurung pria yang kusukai dan dipermalukan pelakor. Aku sangat tersiksa!"Camila menambahkan, "Aku kira aku nggak bisa kabur lagi seumur hidup. Aku benar-benar putus asa ...."Sambil bicara, Camila menginjak jari Leon hingga putus. Dia membawa pisau, lalu membuka pintu kandang dan berjalan masuk.Leon sudah lama tidak makan, jadi dia tidak mampu melawan lagi. Leon mengangkat tangannya yang terluka parah dan berkata sembari memandang Camila dengan ekspresi panik, "Apa yang ingin kamu lakukan? Membunuh itu ... melanggar hukum ...."Camila berucap, "Kamu cuma merasa sedikit ketakutan, tapi kamu nggak merasakan keputusasaanku waktu itu! Kamu tahu aku nggak akan membunuhmu dan aku juga nggak bisa mengurungmu dalam waktu yang lama seperti yang kamu lakukan padaku. Jadi, kamu nggak merasa putus asa.""Kalau kamu nggak mera
Leon berucap dengan napas tersengal-sengal, "Berikan padaku!"Camila duduk di sofa, lalu meletakkan botol anggur dan gelas di atas meja. Dia menceletuk, "Apa kamu masih ingat arti dari anggur ini? Kalau kamu bisa jawab, aku akan memberimu segelas anggur."Leon mengernyit. Bibirnya bergerak, tetapi dia tidak bisa melontarkan sepatah kata pun. Camila menggeleng seraya mendesah, lalu menambahkan, "Kamu benar-benar pelupa. Kamu bahkan melupakan anggur ini."Camila meneruskan, "Ini anggur di resepsi pernikahan kita yang sengaja kita simpan. Kita sudah sepakat untuk menyimpannya. Nanti waktu salah satu dari kita hampir meninggal, kita baru buka anggurnya."Selesai bicara, Camila tidak memberi Leon kesempatan untuk mempertimbangkan. Dia mengambil botol anggur, lalu membukanya. Camila menuang anggur ke gelas dan langsung mencicipinya. Dia berkomentar, "Enak, ini anggur yang bagus!"Leon yang panik berkata, "Kamu ... mau bunuh aku? Jangan lupa, membunuh itu melanggar hukum. Banyak orang tahu ka
Naomi berkomentar sembari mengernyit, "Dulu aku terlalu meremehkan Leon berengsek itu. Dia memanfaatkan kekuasaan Keluarga Nandara untuk mengembangkan koneksinya. Sekarang dia cukup hebat. Kata Caden, Perusahaan Farmasi Sehat juga miliknya."Camila mengernyit. Walaupun belakangan ini Camila sudah membalas dendam kepada Leon, dia tetap marah begitu mengingat masalah bisnis. Leon sudah menguras harta Keluarga Nandara.Uang Keluarga Nandara dan uang Camila yang dihasilkan dari berakting hanya tersisa sedikit. Semuanya sudah dialihkan oleh Leon. Setelah mereka bercerai, Leon memang tidak mengambil uang sepeser pun. Namun, Leon sama sekali tidak terpengaruh.Caden menyela, "Kami bisa bantu kamu rebut kembali uang Keluarga Nandara yang digelapkan Leon. Kamu nggak usah khawatir. Kalau kamu masih mau mengurung Leon untuk beberapa waktu lagi, kami juga bisa membantu."Camila sangat berterima kasih kepada Caden. Leon menggelapkan uang hasil jerih payah ayah Camila. Tentu saja Camila berharap bis
Selanjutnya, Naomi terus membujuk Lyana dan Kevin. Camila tidak mengatakan apa pun.Naomi menyadari ada yang tidak beres dengan Camila. Begitu meninggalkan kediaman Keluarga Hermanto, Naomi langsung bertanya, "Camila, kamu kenapa? Kamu nggak bilang apa-apa lagi setelah Catherine pergi."Naomi bertanya balik, "Apa pendapatmu tentang Catherine?"Naomi berpikir sejenak, lalu menjawab, "Aku nggak memahami Catherine, jadi sulit untuk menilainya."Camila menimpali, "Catherine menyukai Dylan.""Ha? Bagaimana caranya kamu bisa tahu?" tanya Naomi.Camila menjelaskan, "Catherine bukan cuma ingin menikah dengan Dylan. Dia juga ingin membuat Dylan menyukainya. Kalau seorang wanita bukan cuma mau minta status pada seorang pria dan ingin memenangkan hatinya, seharusnya ini perasaan suka, 'kan?"Naomi tertegun. Setelah beberapa saat, dia baru bertanya, "Kamu curiga hari ini dia memang sengaja mengancam mau bunuh diri untuk memaksa orang tuanya berhenti meminta pertanggungjawaban?""Semuanya sudah jel
Caden berkata, “Kamu kira semua orang menikah demi mendapat kebahagiaan? Dalam pernikahan keluarga kaya, kebanyakan dari mereka lebih mementingkan keuntungan. Kalau Catherine bersama dengan Dylan, nggak peduli Catherine bahagia atau nggak, Keluarga Suryadi juga akan kecipratan rezeki.”Baru saja Caden menyelesaikan omongannya, dia menggandeng tangan Naomi. Dia merasa sungguh beruntung bisa menemukan cinta sejatinya.Kening Naomi berkerut. “Kalau benar semua ini permainan Keluarga Suryadi, apa masalah ini bisa diatasi?”“Bisa, tapi persyaratannya Dylan mesti terus terang dan membela diri sendiri.”Bahkan Dylan saja menyerah untuk melakukan perlawanan dan mengakui kesalahannya, siapa lagi yang bisa menyelamatkan Dylan?Naomi sungguh tidak habis pikir. “Sebenarnya kenapa Dylan bersikeras untuk mengakui kesalahannya?“Coba kita lihat kondisi Catherine dulu.”…Saat mereka berdua tiba di ruang tamu, Catherine sedang meletakkan pisau di atas lehernya sembari menjerit kepada orang tuanya, “Ka
Camila juga tidak bodoh. Saat mendengar nada bicara Caden, dia tahu Caden sedang cemburu. Camila sungguh bingung. Kenapa seorang presdir malah gampang cemburu?Pria ini jarang berpacaran. Ketika berpacaran, dia malah begitu menakutkan, cemburu terhadap segala hal!Ketika kepikiran Camila yang mengajak Naomi untuk melihat video bersama, Camila segera berkata, “Naomi, aku temani Bibi Lyana dulu, ya. Kamu jalannya yang pelan. Jangan buru-buru.”Baru saja Camila menyelesaikan omongannya, dia yang mengenakan sepatu hak tinggi segera berlari ke sisi Lyana untuk bersembunyi sejauh mungkin.Naomi tidak mengejar Camila, melainkan bertanya pada Caden, “Apa kamu belum melihat?”Raut wajah Caden kelihatan muram. Dia bagai telah dihadapkan oleh masalah besar saja. “Belum!”Kali ini, Naomi dapat merasakan ada yang aneh dengan suasana hati Caden. Dia mengejapkan matanya dengan bingung. “Belum ya belum, kenapa kamu kelihatan kesal sekali? Kalau kamu ingin lihat, kamu bisa minta sama Paman Kevin.”“Aku