“Aku nggak tahu,” jawab Braden.“Bagaimana dengan mamanya Rayden? Setelah dia bawa Rayden pergi, mamanya Rayden ke mana?”“Aku juga nggak tahu.”“Kamu nggak tahu atau dia nggak tahu?”“Dia cuma perhatikan Rayden, nggak perhatikan mamanya Rayden.”“Dengan kata lain, setelah bawa Rayden pergi, dia nggak melukai mamanya Rayden?”“Emm.”Setelah mendengar jawaban itu, Caden baru mengembuskan napas lega. Dia sangat khawatir orang berpakaian hitam itu akan membunuh ibunya Rayden. Berhubung orang itu tidak peduli pada ibunya Rayden, kemungkinan ibunya Rayden masih hidup sangat besar.Braden memicingkan matanya. Saat melihat Caden terlihat sangat peduli pada ibunya, dia pun bertanya, “Rayden bilang, kamu bukan tulus menyukai mamanya. Kamu hanya merasa bersalah dan ingin mencarinya karena mau bertanggung jawab.”Caden mengesampingkan pemikirannya, lalu menatap Braden dalam diam untuk beberapa saat sebelum tiba-tiba bertanya, “Apa kalian mau aku jadi papa kalian?”Braden menjawab dengan dingin, “
Caden menjawab dengan santai, “Ini cuma transaksi yang adil.”Braden memelototinya dan berseru, “Apanya yang adil!”Caden menjawab dengan sangat tenang, “Kamu juga boleh pilih untuk menolak. Kamu punya hak untuk memilih.”Begitu mendengar ucapan itu, Braden hampir pingsan saking marahnya. Dia berseru, “Aku boleh menolak? Apa aku boleh menolak! Apa aku punya hak untuk memilih!”Ayah berengsek ini mau bekerja sama dengannya, juga bilang akan memberi tahu rahasia mereka kepada ibu mereka jika dia menolak untuk bekerja sama. Ini benar-benar adalah ancaman besar! Braden bahkan tidak berani membayangkan bagaimana reaksi ibunya yang polos itu setelah mengetahui rahasia mereka. Mungkin saja ibu mereka akan langsung mati terkejut!Bagaimana jika Naomi mengetahui Braden sangat pintar menghasilkan uang dan memiliki tabungan sebesar ratusan triliun? Bagaimana jika Naomi tahu Hayden bukan hanya jago berkelahi, tetapi juga ahli merakit bom dan berbagai macam senjata teknologi tinggi? Bagaimana jika
Setelah kembali tenang, Braden menatap Caden dengan penuh arti. Kali ini, giliran Caden yang merasa bingung. Kenapa anak ini tiba-tiba kembali tenang? Tadi, dia jelas-jelas sangat marah. Kenapa semua amarahnya tiba-tiba hilang? Apa dia terlalu marah hingga menjadi idiot?Caden mengelus kepala Braden, tetapi Braden malah menepis tangannya dengan kesal dan berkata, “Jangan pegang aku!”Caden tidak marah. Dia hanya bertanya dengan heran, “Kenapa kamu begitu takut mamamu tahu kemampuan kalian? Bagi orang tua, ini adalah hal yang membanggakan. Lagian, Naomi juga begitu mata duitan. Kalau tahu putranya begitu kaya, dia pasti merasa sangat gembira.”Naomi tidak akan gembira, hanya akan ketakutan!Braden menjawab dengan dingin, “Ini masalahku dengan Mama. Hal ini nggak ada hubungannya denganmu. Biarpun bodoh, kami ini juga tetap kebanggaan Mama!”“Aku setuju untuk berbagi informasi denganmu. Begitu tahu lokasi dan identitas orang misterius itu, aku akan langsung kasih tahu kamu. Tapi, dengan
“Oke! Aku akan tanya padanya kalau dia online lagi,” jawab Rayden.Setelah mengobrol untuk sesaat, beberapa bocah itu pun bubar dan pergi tidur. Namun, Rayden tidak bisa tidur. Dia melepaskan headsetnya, lalu menatap ke langit di luar jendela dengan kening berkerut. Dia mengkhawatirkan ayahnya. Meskipun masih belum bisa memastikan apa sebenarnya tujuan orang misterius itu, sangat jelas bahwa ayahnya adalah salah satu musuh orang itu.Setengah jam kemudian, Caden tiba di rumah. Dia menebak Rayden seharusnya masih belum tidur. Jadi, dia pun masuk ke kamar Rayden. Rayden masih duduk di depan jendela. Saat melihat Caden, kerutan di keningnya pun bertambah dalam. Caden berjalan ke sisi Rayden, lalu mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, dia duduk dan bertanya, “Nggak bisa tidur?”Rayden menatap Caden dengan khawatir dan menjawab, “Emm.”“Kamu mengkhawatirkan Papa?”Rayden mengerutkan keningnya dan menjawab, “Dia mau membunuhmu.”Caden tersenyum hangat dan berkata, “Sel
Rayden tidak ingin mendengar ucapan Caden ini. Dia sangat pusing. Siapa yang menginginkan ayahnya yang bodoh ini? Silakan dibawa pergi!Caden masih lanjut berbicara dengan serius, “Kamu suruh Braden dan Hayden membantumu cari mamamu pasti karena kamu rindu sama dia. Bagaimana kalau dia tiba-tiba kembali setelah aku bersama Naomi?”Rayden bertanya balik, “Bagaimana kalau waktu kamu menemukannya, dia sudah bersama pria lain?”Caden mengerutkan keningnya dan menjawab, “Kalau begitu, aku hanya bisa menebus kesalahanku dengan cara lain.”Rayden berkata, “Situasinya sama kok. Kalau sebelum dia kembali kamu sudah bersama Naomi, kamu juga bisa menebus kesalahanmu dengan cara lain. Jangan selalu jadikan dia sebagai alasan. Hubunganmu dan Naomi nggak ada hubungannya dengan orang lain! Itu cuma urusan kalian berdua!”Seusai berbicara, Rayden mengerutkan keningnya dan bertanya, “Apa Papa sama sekali nggak mau coba? Aku nggak paksa Papa, cuma mau Papa coba dulu.”Dalam hati, Caden menjawab, ‘Nggak
“Papa, Mama sudah kesakitan karena terantuk. Memangnya kamu nggak bisa bersikap lebih perhatian padanya?” seru Rayden dengan nada menyalahkan.Caden menoleh ke arah putranya dan bergumam dalam hati, ‘Orang yang bodoh punya keberuntungannya sendiri.’Itu adalah kesan yang bisa langsung didapatkan Caden dari Naomi. Naomi sangat bodoh, tetapi malah memiliki 3 putra yang begitu berbakat dan menyayanginya. Bahkan Rayden juga sangat menyayanginya. Naomi bagaikan seorang gadis bodoh yang dimanjakan para tokoh hebat. Meskipun bodoh dan ceroboh, dia juga sangat beruntung. Caden tidak ingin putranya marah. Jadi, dia mengelus kepala Rayden sambil menghibur, “Tadi, aku cuma bercanda. Setelah dia keluar nanti, aku akan periksa keadaannya. Kalau parah, aku akan bantu dia oles obat.”Setelah mendengar jawaban itu, Rayden baru merasa puas. Dia menekankan lagi, “Papa, kamu harus usaha dikit supaya bisa dapatkan Mama secepat mungkin!”Caden tidak menyahut. Dia tidak mungkin mengejar Naomi. Dia pun meng
“Aku nggak jual rumah ini,” jawab Caden. Ini adalah rumah peninggalan Wanda. Meskipun benar-benar bangkrut, dia juga tidak tega menjual rumah ini.“Nggak? Jadi, dari mana kamu dapatkan uang sebanyak ini?”Caden malas menjelaskan lagi dan hanya bertanya, “Kamu mau atau nggak?”“Mau! Tapi ... ini bukan uang ilegal, ‘kan?”Caden menarik kembali tangannya, lalu hendak menyimpan kartu itu. Dia sudah berubah pikiran.Namun, Naomi langsung merebut kartu itu sambil berseru, “Aku sudah bilang aku mau!”Kemudian, Naomi menggenggam kartu itu erat-erat, bagaikan seekor anjing kecil yang melindungi makanannya.Caden menatapnya dengan penuh ejekan dan berkata, “Kata sandinya 000000.”Naomi menatap kartu di tangannya dengan penuh semangat hingga tangannya gemetar. Dia bergumam, “Di ... di dalam sini benar-benar ada 2 miliar? Kamu nggak bohong? Ya Tuhan, 2 miliar! A ... aku ... sudah kaya? Aku bukan lagi mimpi, ‘kan?”Seusai berbicara, Naomi juga mencubit Caden dengan kuat. Caden yang kesakitan memelo
Caden mengeluh dalam hati sambil melepaskan jas, dasi, dan jam tangannya. Kemudian, dia berjalan masuk ke dapur sambil menggulung lengan kemejanya.Suara kentang diiris menarik perhatian Naomi dari kartu debit berisi 2 miliar itu. Dia menyimpan kartu itu, lalu berjalan ke sisi Caden dan bertanya, “Butuh bantuanku?”Caden menjawab tanpa meliriknya, “Nggak perlu.”Meskipun hanya sebuah jari Naomi yang terluka, Caden sudah tidak tahu harus bagaimana mempertanggungjawabkannya pada Rayden. Apabila mengetahui Naomi membantunya dalam keadaan terluka, Rayden pasti akan murka. Jadi, Caden langsung menolak.Hanya saja, saat keluar untuk sarapan dan melihat jari Naomi terluka, Rayden tetap menatap Caden dengan tatapan kesal. Seusai sarapan, Naomi meminta izin untuk membawa Rayden pergi menemani ketiga putranya di Kompleks Futuria. Caden tidak menolak. Berhubung hari ini Caden memiliki urusan lain, dia menyuruh Steven untuk datang mengantar Naomi dan Rayden.Steven merasa sangat gembira. Sepanjan
Caden membalas dengan rendah hati, "Pak Joseph nggak usah sungkan. Kami langsung bertemu Keluarga Howie begitu sampai di Kota Haidi. Kelihatannya, kami dan Keluarga Howie memang berjodoh."Joseph mengangguk dan menanggapi, "Benar, kita memang berjodoh. Nanti kamu pasti tahu setelah lihat istriku. Bagian mata Naomi dan anak-anak sangat mirip dengannya."Ketiga kakak Maria juga mengangguk. Ravindra menimpali, "Memang sangat mirip. Paras Naomi berbeda dengan adik kami. Tapi, begitu bertemu Naomi, kami merasa seperti melihat adik kami waktu dia berusia 20-an tahun."Caden membatin, 'Tentu saja mirip. Naomi memang putri kandung Maria.'Caden melirik istrinya lagi. Melihat Naomi tidak berbicara, Caden juga terdiam.Joseph mendesah dan mengeluh, "Hanya saja, sekarang kondisi keluargaku agak kacau. Banyak yang cari masalah. Aku membuat Naomi terlibat."Joseph tahu Keluarga Khoman mencari masalah dengan Naomi dan anaknya bukan hanya karena masalah Lisa makan kotoran kucing. Alasan utamanya adal
Keluarga Khoman tidak bisa berkata-kata saat melihat sikap Caden yang sopan pada Joseph. Apa Joseph pantas diperlakukan seperti ini?Naomi sangat puas melihat sikap Caden. Katanya, sikap menantu pada ayah mertua bisa menunjukkan sikap suami pada istrinya. Caden sangat mencintai istrinya, jadi dia pasti mencintai orang tua istrinya.Naomi bertanya, "Kenapa kamu nggak kabari aku dulu sebelum datang? Tadi pagi kamu bilang hari ini belum tentu bisa datang.""Urusanku sudah selesai. Jadi, aku langsung cari kalian," sahut Caden. Awalnya, dia memang tidak berencana datang hari ini.Namun, sekarang orang misterius sudah tahu Caden berada di Kota Haidi. Jadi, dia tidak perlu bersembunyi lagi.Caden melihat Joseph dan berkata, "Tadi pagi Hayden hilang. Untung saja Pak Joseph bantu aku jaga dia. Terima kasih, Pak Joseph."Steven segera maju dengan membawa hadiah. Dia menunjukkan ketulusan Caden kepada Joseph. Steven menjelaskan, "Pak Joseph, ini hadiah yang dipilih bos kami khusus untukmu. Semoga
Sewaktu melihat Braden dan Hayden, mereka hanya merasa bagian mata kedua anak ini mirip dengan Maria. Ravindra, Danendra, dan Joseph lupa bagian wajah mereka yang lain sangat mirip dengan Caden. Kedua anak ini adalah darah daging Caden.Selain itu, Naomi juga bukan wanita dari keluarga biasa. Dia adalah istri Caden yang berstatus tinggi.Caden sudah menggendong kedua anaknya dan mendekati Naomi. Sementara itu, Naomi tidak berbicara setelah melihat Caden. Matanya memerah.Caden mengernyit. Dia menurunkan Braden dan Hayden, lalu mengamati Naomi seraya berucap, "Sayang, kamu pasti sedih, ya?"Air mata Naomi langsung mengalir. Dia tidak memedulikan orang-orang di sekeliling dan menghambur ke pelukan Caden. Dia menangis tersedu-sedu. Hati Naomi sangat sakit.Namun, Naomi juga sangat antusias begitu melihat Caden. Mereka memang baru berpisah setengah hari, tetapi Naomi merasa seperti berpisah untuk waktu yang lama.Banyak hal yang terjadi selama setengah hari ini. Naomi ingin bercerita pada
Semua orang melihat ke arah suara. Tampak seorang pria yang memakai setelan jas. Dia sangat tampan dan karismatik. Sudah jelas dia bukan orang biasa.Pria itu memakai setelan jas berwarna gelap, dasi, bros, dan jam tangan. Rambutnya juga disisir dengan rapi. Penampilannya sangat formal.Di belakang pria itu, ada seorang pria ramah yang membawa banyak hadiah. Mereka terlihat seperti majikan dan bawahan yang datang bertamu.Ketiga kakak Maria mengenal pria itu. Ravindra berseru, "Ini ... orang terkaya di Kota Jawhar, Caden!"Joseph menceletuk, "Caden? Kenapa dia tiba-tiba datang?"Anggota Keluarga Khoman memelotot. Mereka terkejut dan juga bingung.Yugo berujar, "Ayah, ini ... Caden? Orang terkaya di negara ini? Kenapa dia datang ke kediaman Keluarga Howie? Apa hubungan dia dengan Keluarga Howie?"Abian membalas, "Nggak mungkin! Kalau Joseph punya hubungan dengan Caden, kabar ini pasti sudah tersebar!"Yugo menimpali, "Jadi, kenapa Caden datang? Dia datang pada saat-saat seperti ini, apa
Namun, Naomi juga takut. Dia tidak tahu profesi Ravindra dan kedua saudaranya. Dilihat dari situasinya, jika Keluarga Cempaka memaksa untuk mengurus masalah ini, mereka akan terlibat masalah.Jelas-jelas orang-orang yang bersalah adalah Lisa dan Keenan. Kenapa orang baik malah tersakiti saat membalas dendam? Ini tidak adil! Kalau begitu, lebih baik Keluarga Cempaka tidak ikut campur."Kalian jaga Nenek. Aku turun dulu," ucap Naomi. Dia buru-buru turun ke lantai bawah.Hayden segera mengikuti Naomi seraya berujar, "Aku temani Mama."Braden berpesan pada Jayden, "Jayden, kita nggak boleh tinggalkan Nenek sendirian. Kamu temani Nenek. Aku juga ikut ke lantai bawah."Jayden menimpali, "Lindungi Kakek Joseph dan ketiga kakaknya Nenek Maria.""Oke," sahut Braden. Dia bergegas turun ke lantai bawah.Di lantai bawah, Keluarga Cempaka terkejut saat melihat Naomi dan kedua anaknya. Biarpun Naomi merias wajahnya, bagian matanya sangat mirip dengan Maria. Surendra mengamati Braden dan Hayden, seol
Joseph menyalahkan diri sendiri, begitu pula ketiga kakak Maria. Saat melihat Keluarga Khoman, hati mereka dipenuhi kebencian. Mereka ingin menghabisi Keluarga Khoman!Apabila Lisa tidak disokong Keluarga Khoman, dia tidak akan mampu menyogok bawahan di kediaman Keluarga Howie. Lisa adalah dalangnya, Keenan dan para bawahan adalah kaki tangan Lisa, dan Keluarga Khoman adalah penyokong Lisa.Ravindra berucap, "Keenan memang menyiksa adikku. Biarpun leluhur Keluarga Khoman datang, jangan harap kalian bisa selamatkan Keenan!"Yugo sangat ketakutan begitu melihat ketiga kakak Maria. Setelah dihajar mereka dulu, Yugo menjadi trauma. Dia tidak berani bicara lagi dan bersembunyi di belakang Abian.Abian mengernyit. Dia tahu ketiga kakak Maria sangat membenci Keluarga Khoman. Abian mengancam, "Aku memang nggak tahu profesi kalian, tapi aku tahu kalian bertiga itu pakar siber. Pasti ada hubungannya dengan keamanan siber."Abian melanjutkan, "Kalau kalian berani mencari masalah dengan Keluarga K
Keluarga Cempaka menyerahkan Maria pada Joseph. Namun, Joseph malah tidak menjaga Maria dengan baik. Joseph memang bersalah.Joseph menyahut, "Maria ada di lantai atas. Sekarang dia lagi tidur. Naomi dan anak-anaknya bantu aku jaga dia. Aku ... bersalah pada Maria dan Keluarga Cempaka ...."Ravindra menyela, "Nanti kita baru bicarakan masalah keluarga kita."Kemudian, ketiga kakak Maria melihat anggota Keluarga Khoman. Tatapan mereka sangat dingin.Naomi dan ketiga anaknya sangat antusias. Hayden berseru sambil mengepalkan tangannya, "Mereka memang kakaknya Nenek Maria!"Jayden melompat dan menimpali, "Mereka hebat sekali! Mereka mau membantu Nenek Maria balas dendam!"Mata Braden berbinar-binar. Akhirnya, anggota Keluarga Cempaka datang. Mata Naomi memerah. Ketiga pria ini adalah pamannya!Sementara itu, ekspresi anggota Keluarga Khoman menjadi muram begitu melihat Keluarga Cempaka. Ketiga pria ini adalah saudara kembar. Nama mereka Ravindra, Danendra, dan Surendra.Kemudian, ibu mere
Yugo yang teringat sesuatu terbelalak dan berujar, "Aduh! Joseph, kamu bahkan melindungi Naomi dan anak-anaknya. Apa kamu menganggap Naomi putrimu karena dia mirip dengan Celine?"Yugo tertawa, lalu melanjutkan, "Kamu nggak usah berharap lagi. Kalau Naomi itu putrimu, aku akan jadi pembantumu dan ikut margamu!"Joseph membalas dengan geram, "Keluarga Howie nggak terima orang sepertimu!"Yugo menimpali, "Putrimu sudah mati. Dia nggak akan kembali lagi. Kamu nggak usah berkhayal!""Kamu nggak berhak mengomentari putriku!" tegur Joseph. Dia tidak ingin membicarakan masalah putrinya lagi. Joseph menyindir, "Pria seperti Keenan memang susah dicari. Jadi, sebaiknya kamu segera umumkan Keenan itu menantumu supaya nggak direbut orang lain."Yugo menegaskan, "Aku akan umumkan hari ini agar semua orang tahu anak yang kamu besarkan panggil aku 'ayah'."Abian mengetuk tongkatnya dan membentak, "Diam kamu!"Selama ini, Abian tidak menyukai Keenan. Dia memang tampan, berpendidikan tinggi, dan cukup
Jangankan orang lain, bahkan Abian juga memandang rendah putranya! Yugo tidak pernah serius bekerja dan hanya tahu bersenang-senang setiap hari.Yugo seumuran dengan Joseph, tetapi dia sama sekali tidak bisa menandingi Joseph. Yugo benar-benar anak yang tidak berguna! Bahkan Lisa lebih pintar dari Yugo. Jika Yugo bukan anak sulung, Abian pasti langsung mendepaknya!Saat Abian hendak bicara, Yugo tiba-tiba berlutut di depan Joseph. Abian dan Joseph terkejut. Abian yang merasa malu memukul Yugo dengan tongkat dan bertanya, "Apa yang kamu lakukan?"Yugo yang bingung segera berdiri. Alhasil, dia malah berlutut lagi. Bahkan, kali ini dia bersujud kepada Joseph.Ekspresi Joseph sangat muram. Dia mengamati Yugo dengan ekspresi curiga. Joseph tidak tahu apa yang dilakukan Yugo.Abian yang marah langsung memukul Yugo dengan tongkat seraya menegur, "Seharusnya kamu berlutut kepada orang tuamu, kenapa kamu berlutut pada Joseph? Memalukan sekali! Cepat berdiri!"Yugo menanggapi, "Bukan, Ayah. Aku