Share

Bab 3. Tuduhan

Author: Eka Sa'diyah
last update Last Updated: 2023-06-30 20:48:58

Tuduhan atas warisan membuat Fatma sakit hati. Tak ada niatan sedikitpun datang menemani ibunya demi warisan seperti yang dituduhkan. Hanya kesehatan Faridah yang selalu ada di setiap doanya, selain itu Fatma tak menginginkannya.

"Nggak usah sok baik deh, Fat. Kamu sengaja kan demi warisan ibu!"

"Hentikan ucapanmu, Weni! Kamu sudah sangat keterlaluan!" Faridah akhirnya angkat bicara karena ucapan Weni.

"Ibu selalu bela dia," Weni melipat tangannya di dada tanpa melihat Keynan sama sekali. Perlahan kedua mata Keynan mengerjab, bibirnya tersenyum ketika melihat ibunya sudah berada di depannya.

"Mama," Weni hanya melihatnya saja tanpa menghampiri atau memberikan pelukan untuk Keynan.

"Mama," Keynan berharap Weni menghampirinya. Keynan sangat merindukan ibunya sendiri.

"Kamu juga, anak bisanya nyusahin aja! Pakai sakit lagi!"

"Astagfirullah!" Gumam Fatma dan Faridah bersamaan.

Harapan mendapat pelukan dari ibunya hancur sudah ketika ucapan menyakitkan keluar dari mulut ibunya. Keynan hanya bisa menunduk tanpa mau melihat wajah ibunya lagi. Fatma gegas menghampiri Keynan yang tengah kecewa pada ibunya sendiri.

"Jangan dekat-dekat anaku, nanti ketularan mandul kayak kamu!" Hinaan selalu saja didapatkan Fatma jika berhadapan dengan Weni. Air mata luruh seketika, bibir hanya bisa mengucapkan istighfar.

"Mama jahat!" Kebencian terpancar setelah melihat ibunya merendahkan bibinya.

"Oh, jadi ini yang diajarkan nenek padamu? Mama membawa Nenekmu ke kota supaya bisa mengasuhmu menjadi anak baik. Bukan pembangkang seperti ini!"

"Kamu sangat keterlaluan, Weni. Ibu gagal mendidikmu!"

"Yang gagal kan ibu, bukan Weni!"

Weni berlalu begitu saja meninggalkan adik, ibu dan juga anaknya. Fatma sesenggukan di pelukan Faridah, sungguh tak pantas bagi Weni menghina keadaan Fatma. Semua sudah digariskan dan tak ada yang bisa merubahnya.

"Bibi, maafkan Mama Keynan ya?" Fatma menghapus air mata dan menghampiri Keynan. Diusapnya ràmbut Keynan layaknya anak sendiri.

"Sudahlah, Sayang. Bibi tidak apa-apa," Fatma tersenyum mendengar Keynan. Fatma begitu sayang dengan Keynan begitu juga dengan Faridah.

"Keynan suka dibelai seperti ini. Andai Mama seperti Bibi, pasti Keynan bahagia," mendengar harapan Keynan, Faridah hanya bisa mendoakan perubahan sikap Weni.

"Tenang saja, jika bertemu lagi, bibi akan membelai Keynan sampai puas!" Senyum manis dari bibir mungil Keynan menandakan hatinya perlahan bahagia meski sebelumnya kecewa dengan sikap ibunya.

"Nek, Keynan tinggal sama bibi di kampung ya?" Fatma dan Faridah diam sejenak. Sungguh pilihan sulit karena Weni pasti akan melarangnya tinggal di kampung. Weni tak suka jika ada yang mengetahui bahwa dirinya berasal dari kampung.

Weni melajukan mobilnya ke sebuah cafe tempat arisan bersama kaum sosialitanya. Arisan berlian yang selalu dibanggakannya. Terlihat pakaian serba mewah yang dikenakan teman-temannya. Tas dan sepatu serba mahal dan bermerk.

"Kalau aku yang dapat arisan, aku traktir kalian makan sepuasnya!" Stella, istri pengusaha batu bara selalu menjadi saingan Weni. Weni sangat membenci Stella karena kekayaannya.

Semua fokus pada nama yang akan keluar. Weni berharap namanya keluar karena bisa digunakan untuk pamer ke beberapa teman-temannya. Ternyata harapan Weni salah, Stella yang memenangkan arisan kali ini. Sungguh hati Weni meradang gagal mendapat berlian yang diinginkannya kali ini.

"Bagus banget!" Kalung berlian begitu mewah dan cantik saat dipakai Stella. Semua saling memuji kecuali Weni yang sibuk bermain ponsel. Cukup jengah melihat teman-temannya merayakan kebahagiaannya.

"Aku harus bisa mendapatkan uang dari penjualan rumah dan membeli berlian itu. Weni tidak boleh kalah dengan mereka!" Weni berpamitan dan pulang terlebih dahulu. Weni pulang dan menyusun rencana supaya Faridah mau menjual rumah peninggalan ayahnya dan memberikan hasil penjualan tanpa dibagi dengan Fatma.

"Bagaimana cara aku meminta ibu untuk menjual rumah itu?" Terlintas ide di pikiran Weni supaya Faridah mau menjual rumah peninggalan ayahnya.

Keesokan harinya Keynan diperbolehkan pulang karena keadaanya cukup membaik meski harus tetap kontrol dua kali satu minggu. Faridah dan Fatma terkejut ketika Weni sudah menunggunya di depan rumah. Bukan hanya Fatma dan Faridah yang terkejut melainkan Keynan juga tersenyum melihat ibunya menunggu kepulangannya.

"Mama," Keynan berjalan ke arah Weni dan memeluknya. Weni juga membalas pelukan Keynan meski hati tak ingin.

"Syukurlah kamu sudah sembuh!" Ucapan Weni terdengar melunak. Hari ini sengaja Weni tak berangkat bekerja demi bisa melancarkan aksinya.

"Bu, Weni mau bicara!" Fatma mengambil alih Keynan dan membiarkan Kakaknya dan ibunya bicara berdua. Dari kejauhan Fatma melihat gerak gerik Weni cukup aneh, terlihat ada rencana yang sedang dilakukan.

"Ada apa, Wen?"

"Bu, aku ingin rumah warisan Ayah!" Cukup tercengang saat Weni membahas soal warisan apalagi meminta rumah kenangan suaminya. Ternyata inilah alasannya Weni terlihat baik pagi ini.

"Wen, rumah itu tak akan ibu jual. Ayahmu melarang rumah ini dijual karena sebagai tempat berkumpul ketika hari raya," Weni cemberut mendengar penolakan ibunya. Segera Weni mencari cara supaya ibunya mau menyetujui permintaannya.

"Buat apa sih, Bu. Lagian ibu sudah menumpang disini. Buat apa lagi rumah itu, daripada rusak mending dijual!" Weni bersikukuh supaya Faridah menjual rumah warisan ayahnya.

"Bukan karena itu, Wen. Rumah itu penuh kenangan saat kita masih bersama. Ibu tidak ingin menjualnya, tapi jika direnovasi ibu mengijinkan!" Weni merasa gagal mendapatkan rumah warisan berlalu begitu saja. Tak ada keinginan menawari ibu dan adiknya sarapan.

Faridah beristighfar berkali-kali atas ucapan anaknya. Fatma segera menghampiri Faridah yang terlihat gelisah.

"Maafkan hambamu Ya Allah, hamba gagal mendidik anak hambamu ini!" Gumam Faridah dalam hati.

"Bu, Mbak Weni kenapa?" Faridah hanya menggeleng dengan bibir yang dipaksakan tersenyum supaya Fatma tidak risau.

"Ibu jangan bohong!" Faridah hanya mengangguk dan tersenyum sembari mengusap pundak Fatma. Tak lama, sebuah motor bebek sudah berada di halaman rumah Weni. Ridho menjemput istrinya yang sudah tiga hari mendampingi keponakannya di rumah sakit.

"Bu, Fatma dan Mas Ridho pamit!" Setelah mencium punggung telapak tangan Faridah, motor bebek yang dikendarai Ridho melaju dengan kecepatan sedang. Kini tinggal dirinya bersama Keynan di teras.

"Nek, Keynan lapar!" Gegas Faridah mengajak Keynan ke kamarnya kemudian menyiapkan makanan untuk Keynan. Tak ada makanan sama sekali di meja makan, hanya ada dua piring kotor bekas sarapan yang diletakkan begitu saja tanpa mau mencucinya.

"Masak ini juga, Bu!"

Weni meletakkan beberapa sayur dan daging di meja makan saat Faridah sedang menyiapkan makanan Keynan. Tak ada rasa kasihan kepada ibunya sendiri yang sudah rela menjaga anaknya ketika sedang sakit. Tak ada rasa kasihan atau perhatian kepada Faridah.

"Ibu lelah, Wen. Tiga hari ibu kurang tidur!" Faridah merasa begitu lelah tiga hari kurang tidur hingga terasa cukup lemas.

"Ibu itu numpang disini dan tak ada yang gratis. Jadi ibu harus masak ini semua!" Weni berlalu begitu saja membiarkan ibunya berkutat dengan masakan.

Keynan kasihan melihat tugas Neneknya yang cukup berat. Badannya belum istirahat total sudah disuruh ibunya.

"Biar Keynan bantu, Nek!" Faridah tersenyum mendengar perhatian Keynan.

"Nenek bisa kok, Sayang. Keynan di kamar saja!" Keynan terpaksa menurut ucapan Faridah dan kembali ke kamarnya.

Related chapters

  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 4. Kecewa

    Sampai menjelang siang, Faridah baru selesai menyiapkan makanan yang diminta Weni. Rendang daging, sop daging dan perkedel Faridah siapkan sendirian. Tak ada niatan bagi Weni untuk membantu ibunya yang berkutata seorang diri di dapur."Alhamdulillah selesai," gumam Faridah sambil mengusap peluh usai memasak. Gegas Faridah mandi sebelum melakukan kewajiban shalat dhuhur. Bibir tersenyum ketika melihat Keynan tengah tidur siang setelah makan. Di setiap sujudnya, Faridah tak hentinya mendoakan kebaikan untuk keluarga anak-anaknya.PrankFaridah dikejutkan dengan suara pecahan gelas yang berasa dari dapur. Faridah gegas keluar dari kamar dan melihat yang terjadi. Di sana telah berdiri mertua Weni bernama Meli yang tak lain adalah besannya sendiri. "Lihatlah, Bu Besan! Gelas ini sangat licin sehingga mudah jatuh. Bagaimana anda mencuci gelas ini, bahkan minyak masih menempel di gelas?" Siang ini benar-benar belum bisa istirahat. Besannya datang dan membuat kejutan untuknya. Terlihat besan

    Last Updated : 2023-06-30
  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 5. Pengakuan Mengejutkan

    "Astagfirullah, aku bangun terlambat. Harusnya aku tidur dua jam saja kenapa malah sampai tiga jam? Bagaimana kalau Weni marah?" Faridah gelagapan takut Weni akan memarahinya. Faridah gegas menyiapkan makan malam, sedangkan Keynan bermain sendiri di kamar. Keynan tak pernah mengganggu pekerjaan neneknya.Weni juga tertidur akibat meminum obat pereda nyeri. Faridah bersyukur karena Weni tak sampai memarahinya karena terlambat bangun. Diambilnya beberapa bahan makanan yang akan digunakan untuk menu makan malam. Tak berapa lama menu makan malam selesai, kini Faridah harus memandikan Keynan dan menyuapi setelah mandi. "Cucu nenek sudah ganteng!" Senyum Keynan mengembang karena Faridah selalu memberikan perhatian dan kasih sayang kepada Keynan. Meski lelah namun melihat Keynan tersenyum, sudah cukup membuatnya bahagia."Bu!" Teriakan Weni menggema di penjuru ruangan. Gegas Faridah segera menghampiri Weni setelah mengurus Keynan."Ada apa, Wen?" Wajah Weni memperlihatkan amarah yang besar,

    Last Updated : 2023-06-30
  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 6. Kecewa

    Tanpa dikomando, air mata yang ditahan sedari tadi akhirnya jatuh juga. Weni sama sekali tak kasihan kepada ibu kandungnya yang dipermalukan di depan teman ibu mertuanya."Ya sudah, kembali masuk kedalam, Faridah!" Faridah gegas ke dapur. Ratna geram melihat majikan serta menantunya tak memiliki hati sama sekali. Tega sekali menghina Faridah tanpa mau tahu perasaannya.Ratna memergoki Faridah menangis di teras belakang. Ratna memahami saat ini hati Faridah benar-benar hancur."Bu, apakah tidak ada lagi keluarga ibu yang lain?" Faridah merasakan pelukan hangat dari perempuan muda seusia Fatma."Ibu sebenarnya punya satu anak lagi namun ibu tidak mau merepotkan mereka."Teringat kehidupan Fatma serba pas pasan namun tak pernah sama sekali mengeluh atau meminta bantuan kepada ibunya sendiri. Fatma hanya berbelanja sesuai kebutuhan, kebutuhan sayur dan beberapa bumbu sengaja ditanam sendiri di halaman belakang rumahnya. "Ratna kesal melihat Bu Faridah dihina terus seperti ini, andai Bu F

    Last Updated : 2023-07-12
  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 7. Hasutan Meli

    "Ibu nggak perlu mengada-ngada deh, apa Ibu mau hidup merepotkan Fatma yang penghasilan suaminya aja kurang!" Sengaja Weni mengintimidasi Faridah supaya mau menyetujui permintaannya. "Tapi itu kenangan ayahmu!" Faridah mencoba memberi pengertian pada Weni. Weni tak melanjutkan perdebatan dan pergi bekerja begitu saja. Faridah terisak, Weni begitu keras kepala tanpa memahami perasaanya. Disinilah Faridah mulai bimbang, ucapan Weni benar-benar menguji pendirian Faridah. Tidak mungkin dirinya tinggal di kampung dan merepotkan Fatma. Tinggal sendirian di rumah peninggalan suaminya seorang diri pun tak akan mungkin. Fatma pasti akan tahu keadaanya dan membawanya tinggal bersamanya.Hanya istigfar yang bisa diucapkan. Tak berselang lama, Meli datang ke rumah Weni seakan seperti rumahnya sendiri."Faridah, belanjakan bahan untuk membuat tongseng dong! Sekalian kamu masak juga!" Meli tanpa basa basi memberikan sejumlah uang kepada Faridah."Bu, maaf! Saya repot mengasuh Keynan, jadi.."Oh! K

    Last Updated : 2023-07-12
  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 8. Membujuk Faridah

    "Nek, Keynan mau sosis," Keynan tergiur saat Meli begitu lahap menikmati sosis bersama telur dan beberapa lauk lain sedangkan dirinya hanya mendapat jatah satu telur ceplok."Tidak usah, anak kecil jangan makan banyak-banyak!" Terlihat rakus sekali saat Meli makan. Keynan terpaksa menahan air liur saat makanan kesukaannya dilahap habis oleh Omanya. Sangat berbeda dengan Faridah, Faridah akan selalu mengedepankan cucunya daripada dirinya. Tak berapa lama terdengar deru mobil Weni memasuki halaman rumah. "Heh, Bocah. Kamu masuk ke kamar sekarang! Makan di kamar sekalian!" Keynan terpaksa membawa piringnya ke kamar atas perintah oma nya. Terlihat sekali wajah Weni begitu muram saat pulang kerja."Ma, maaf ya sudah merepotkan mama menjaga Keynan. Emang dasar wanita tak berguna, mengasuh cucunya saja tidak mau!" Weni emosi ketika pulang kerja. Kini dirinya harus mencari Day Care untuk Keynan jika ibunya tak mau kembali. Untuk itu, Weni harus membayar lebih jika Keynan harus dititipkan k

    Last Updated : 2023-07-12
  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 9. Ide Licik

    Faridah berpikir sejenak, ada rasa ingin kembali ke kota demi Keynan dan ada rasa ragu ketika harus bersama dengan menantunya."Bu, tolonglah Weni. Keynan tak ada yang menjaga, Bu!" Weni mulai bersandiwara memperlihatkan wajah memelas. Fatma malah mencebik ke arah Weni yang pasang wajah memelas."Kalau Keynan dibawa ke kampung saja bagaimana, Mbak? Disini Keynan bisa belajar mengaji, daripada di kota cuma diem aja di rumah!" Andai tidak sedang bersandiwara, ingin sekali Weni menampar mulut Fatma. "Jangan dong! Masa cucuku mau dibawa ke kampung!" Meli terdengar sewot dengan ucapan Fatma. "Disana juga nggak ada yang jaga, lebih baik di kampung saja!" Ucapan Fatma lagi-lagi memancing emosi Weni dan Meli. Dua wanita beda generasi tersebut saling melirik karena kesal dengan ucapan Fatma."Tidak bisa, Keynan tetap tinggal di kota!" Akhirnya Weni memutuskan jika Keynan tetap di kota. Fatma kembali menyimak ucapan Weni dan Meli."Berikan wantu untuk ibu dulu, Nak. Ibu ingin tinggal di kampu

    Last Updated : 2023-07-12
  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 10. Sakit Keras

    Teriakan Keynan membuat Weni semakin geram. Bagaimana tidak, Keynan memutuskan tinggal bersama Faridah. "Dengar tuh, Bu. Keynan minta tetap bersama Neneknya tapi Weni tidak setuju kalau tinggal di kampung. Ibu harus kembali tinggal disini!" "Supaya bisa jadi babu gratisan? Ingat, Mbak! Nggak seharusnya Mbak Weni kayak gitu pada ibu!" Fatma angkat bicara membela ibunya. Weni berjalan ke arah Fatma dan tiba-tiba mendorongnya hingga Fatma mundur beberapa langkah ke belakang."Jangan pernah ikut campur urusanku lagi! Tau apa kamu susahnya hidup di kota?" "Aku tak akan ikut campur selama ibu bahagia. Kalau kamu memperlakukan ibu seperti pembantu, aku akan tetap ikut campur!" Fatma mendorong balik Weni. Tenaga Fatma tak kalah besar dari Weni meski postur tubuh Fatma hampir sama dengan Weni."Sudah kalian jangan bertengkar! Ibu akan bawa Keynan ke kampung!" Keputusan Faridah saat itu juga. Meli seakan kebakaran jenggot karena Keynan lebih memilih neneknya dari kampung daripada dirinya. M

    Last Updated : 2023-07-12
  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 11. Balasan Fatma

    Faridah senang sekali masih ada rejeki untuk membayar biaya rumah sakit Keynan. Tak ada perhatian sedikitpun dari Weni selama anaknya di rawat. Hanya Faridah yang selalu menemani Keynan. Fatma sesekali datang membawa baju ganti dan membawa makanan untuk Faridah."Nenek pijit ya," Faridah memijit pelan kaki Keynan, tak lupa dilantunkannya sholawat. Sholawat yang selalu Faridah lantunkan menjadi candu bagi Keynan.Seminggu sudah Keynan dirawat dan keadaan mulai membaik. Faridah memutuskan membawa Keynan pulang ke kampung. Melihat sikap dan rasa tidak peduli semakin membuat Faridah mantap membawa dan merawat Keynan ke kampung."Nanti kalau di kampung, Keynan bisa ikut Paman Ridho mengaji ya?" Keynan tersenyum sambil mengangguk cepat. Keynan bersemangat sekali belajar mengaji. Saat Faridah masih mengasuhnya, Faridah selalu mengaji di samping Keynan membuat Keynan ingin bisa mengaji seperti Faridah."Nek, bagus banget ya?" Faridah tersenyum melihat Keynan penuh semangat melihat pemandangan

    Last Updated : 2023-07-12

Latest chapter

  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 44. Selamat Tinggal (End)

    Semalaman Aris tidak pulang ke rumah demi menunggu Weni di depan apartemennya. Tidak masalah harus menunggu lama demi bisa bertemu mantan istrinya.Drrt drrtPonsel berdering panggilan dari salah satu perawat yang merawat Meli. Dengan tangan gemetar, Aris berharap mendapat kabar baik dari perawat. Aris takut jika harus mendapatkan kabar buruk setelah kehilangan Marisa dan juga Weni."Halo, Sus!" Keringat dingin karena kekhawatiran yang cukup besar kini berangsur hilang. Meli sadar dari masa kritisnya selama satu bulan. Aris gegas ke rumah sakit untuk menemui Ibunya.Sesampai di sana, terlihat Meli sudah bisa diajak bicara oleh suster meski tenaganya masih lemah. Aris melihat pemandangan yang sangat membahagiakan. Setidaknya bisa mengobati rasa gundah di hatinya saat ini."Mama," Aris memeluk Meli saat itu juga."Anakku!" Keduanya benar-benar larut dalam kebahagiaan. Aris belum berani mengatakan jika Marisa sudah meninggal dunia dalam keadaan tragis. Aris takut jika nanti Meli akan te

  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 43. Sadar

    Aris tidak melihat Marisa sama sekali seharian ini. Bahkan sampai larut malam Marisa belum juga pulang. Kepala Aris tiba-tiba pusing tanpa sebab. Terlintas wajah Weni di pelupuk matanya."Weni, dimana kamu?" Ada rasa rindu kepada Weni."Kenapa akhir-akhir ini aku tidak bertemu dengannya?" Aris merasa ada yang aneh. Biasanya dirinya selalu bertemu Weni sepulang kerja."Apakah dia marah padaku?" Aris merebahkan kembali bobot tubuhnya di ranjang tanpa Marisa malam ini. Aris mencoba menghubunginya namun tidak ada jawaban dari Marisa. Ponselnya bahkan tidak aktif.Aris benar-benar tidak tahu yang dilakukan Marisa di belakangnya. Apalagi dirinya merasa takut dengan ancaman Marisa akhir-akhir ini. Aris mencoba mencari nomor ponsel Weni. Hanya saja nomor ponsel Weni sudah tidak ada di ponselnya. "Bagaimana cara aku menghubungi Weni?" Aris frustasi malam ini. Weni dan Marisa sama-sama tidak bisa dihubungi.Di rumah sakit, Weni mulai bisa tidur dengan nyenyak. Faridah membacakan surat Alfatih

  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 42. Sihir

    Weni memberanikan keluar dari apartemen sekedar mencari udara segar. Namun baru saja keluar dari lift yang membawanya ke lantai dasar, Weni sudah ditemukan dalam keadaan pingsan. Pihak pengelola apartemen segera membawa Weni ke rumah sakit. Pihak rumah sakit juga merasakan ada yang aneh dengan tubuh Weni, begitu berat saat dipindahkan ke brankar rumah sakit, padahal tubuhnya kurus. Menjelang tengah malam, Weni mengeluh tubuhnya kepanasan. Padahal, setiap diperiksa perawat, suhu tubuhnya normal. Salah satu perawat di rumah sakit adalah seseorang yang berasal dari kampung yang sama dengan Weni. Sehingga perawat tersebut segera mengabari Fatma selaku adik Weni."Astaghfirullah, Mbak Weni sakit!" Faridah yang saat itu sedang menyuapi Keynan terkejut mendengar ucapan Fatma. Ada rasa khawatir yang cukup besar ketika mendapati kabar buruk tentang saudaranya di kota. "Weni sakit apa, Fat?" "Biar nanti Fatma ceritakan sama Ibu. Kita tunggu Keynan tidur!" Usai menyuapi Keynan, Fatma lantas d

  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 41. Pikiran Kacau

    Weni merasa ada yang aneh dengan dirinya. Dulu sangat membenci Ibunya sendiri, namun ketika sudah diabaikan keberadaanya oleh Faridah, Weni merasa tidak tenang. "Kenapa aku jadi dilema begini?" Teringat jelas saat Faridah sama sekali tidak mau menatap wajahnya padahal sangat jelas jika dirinya tepat di hadapan Ibunya.Selama perjalanan, Weni sama sekali tidak konsentrasi. Semua terasa kacau baginya usai bertemu Ibunya. "Sialan!" Hampir saja Weni menabrak pembatas jalan. Weni gegas mengatur perasaa gelisah dan kembali melajukan mobilnya.Weni mulai berhati-hati dalam perjalanan menuju ke apartemen miliknya. Ada rasa tenang ketika sudah sampai lokasi. Weni merebahkan bobot tubuhnya usai meminum segelas air supaya lebih tenang."Ada apa denganku?" Weni memukul kepalanya dengan tangan kanannya. Sikap angkuh kini mendadak tidak berguna.Weni berusaha memejamkan mata supaya bisa menghilangkan ingatan saat diabaikan Faridah. Berkali-kali Weni mencoba tidur siang hasilnya tetap nihil. Bahka

  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 40. Cuek

    "Kenapa Faridah?" Fatimah melihat Faridah seperti tidak percaya dengan yang ada di depannya."Ah, tidak ada apa-apa, Nyonya. Hanya saja saya heran, semua menikmati sarapan di satu meja makan yang sama," Fatimah tersenyum mendengar pengakuan Faridah."Kita disini keluarga. Kamu juga termasuk menjadi bagian dari keluarga ini. Biasakanlah dirimu dengan kehidupan di rumah ini!" Faridah kembali menikmati makanannya seperti asisten yang lain. Tidak ada rasa canggung sama sekali pada mereka. Usai sarapan bersama, mereka kembali pada pekerjaan masing-masing. Fatimah berkutat dengan komputernya memeriksa beberapa laporan yang masuk. Meski usianya tidak lagi muda, namun Fatimah lihai menggunakan komputer untuk menjalankan bisnisnya. Faridah tertegun dengan sikap majikan yang baru ditemuinya. Begitu mandiri meski rumah tidak ada siapapun kecuali asisten rumah tangga."Sibuk, Nyonya?" Faridah meletakkan secangkir teh di meja kerja Fatimah."Ya, beginilah orang tua. Masih harus bekerja di masa tu

  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 39. Majikan Baru

    Pagi ini Fatma terpaksa mengijinkan Faridah ke kota untuk mencari alamat Weni. Fatma ingin mendampingi namun Faridah berharap Fatma tetap menjaga Keynan di rumah.Kini Faridah berada di depan rumah Weni. Rumah yang sudah menjadi jaminan atas hutang Aris tanpa sepengetahuan Weni. Kenangan pahit muncul begitu saja hingga tak terasa air mata menetes begitu saja."Bu Faridah," sapa salah seorang tetangga. Lebih tepatnya seorang istri dari ketua RT yang dikenal dengan nama Murti."I-iya, Bu RT. Bagaimana kabarnya?" Faridah berjabat tangan dengan Murti."Alhamdulillah, Bu. Bu Faridah bagaimana kabarnya?" "Alhamdulillah. Bu Murti, saya mau tanya." Murti menatap Faridah begitu lekat seakan tahu apa yang akan ditanyakan."Weni sekarang tinggal di apartemen, Bu. Saya tahu alamatnya, nanti saya antar kesana," kedua mata Faridah berbinar mendengar Murti akan membantunya mempertemukan dirinya dengan Weni.Murti mempersilahkan Faridah terlebih dahulu untuk beristirahat di rumahnya. Rumah yang cuku

  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 38. Rencana Lancar

    Pagi ini Fatma melihat Faridah sedang duduk melamun di pekarangan rumah. Tatapannya kosong seperti memikirkan beban teramat berat. Fatma menghentikan pekerjaanya dan menghampiri Faridah."Ibu," Faridah terkejut melihat Fatma sudah di sampingnya."Fa-Fatma!" "Ibu sedang memikirkan apa?" Fatma mencoba bertanya kepada Faridah. "Tidak ada apa-apa. Fat, Ibu mau bertanya padamu." Fatma mengernyitkan dahinya. Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Faridah."Apa Ibu salah jika ingin mencari keberadaan Kakak kamu? Ibu merasa Kakak kamu sedang berada di dalam lembah hitam. Ibu khawatir jika Kakakmu salah jalan." Andai jika diijinkan, Fatma ingin mengatakan untuk tidak mengijinkan Ibunya ke kota sendirian, apalagi sudah dipastikan akan mendapatkan hinaan dari Weni maupun orang yang kenal dengannya. Namun, Fatma sama sekali tidak punya hak atas keinginan Ibunya terhadap Weni."I-Ibu tidak salah. Hanya saja Fatma takut jika Mbak Weni menyakiti hati Ibu ketika bertemu," Fatma terpaksa mengungkapk

  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 37. Modus

    Meli kesal melihat gelang baru milik Weni. Gelang yang pernah diinginkan. Bahkan sampai sekarang, hanya saja Weni ternyata lebih dulu mendapatkan gelang yang diimpikan."Kok bisa dia punya gelang itu. Gelang itu harganya sangat mahal. Mustahil jika Weni bisa memilikinya!" Meli tidak hentinya menggerutu menuju ke meja. Tanpa disengaja Meli melihat menantu dan anaknya sedang makan siang. Bibir seketika tersenyum, ada niat tersembunyi saat ini. Kebetulan sekali Meli ingin gelang yang lebih cetaf dari yang dimiliki Weni."Halo, anak dan menantuku!" Kedatangan Meli yang tidak disengaja mengejutkab mereja berdua. Termasuk Aris saat ini. Sedangkan Marisa terlihat biasa saja saat Meli kini berada di depannya."Mama pesan dulu gih!" Tanpa pikir panjang, Meli memesan sesuai permintaan Marisa. Sesekali Meli berpikir untuk merangkai kata yang akan digunakan membujuk Marisa. Meli benar-benar tidak ingin kalah saing dari Weni."Marisa, bagaimana kandunganmu? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan. Mis

  • Aku Ibumu, Nak!   Bab 36. Keadaan membaik

    Suhu tubuh Keynan semakin tinggi membuat Keynan mengigau. Fatma, Ridho dan juga Faridah bergantian menenangkan Keynan. Hingga menjelang dini hari, Keynan barulah merasa tenang."Alhamdulillah, sudah lebih tenang daripada tadi!" Gumam Fatma sedikit lebih lega melihat perubahan keadaan Keynan. Begitu pula dengan Faridah, cukup tenang melihat Keynan sudah kembali tenang. Tidak lagi memanggil Ibunya yang tidak pernah ingin menemuinya."Fat, istirahatlah! Biar Ibu saja yang menjaga Keynan!" Fatma duduk bersandar di sebuah kursi sedangkan Faridah duduk di samping brankar Keynan. Keduanha begitu lelah hingga dengan cepat kedua mata mereka terpejam.Ridho berjaga di depan ruang rawat inap Keynan memastikan jika terjadi apa-apa di dalam ruangan. Keesokan harinya, Fatma berpamitan untuk menjual gelang sebagai biaya untuk pengobatan Keynan. Meski tidak besar namun cukup untuk membayar tagihan rumah sakit. Faridah bersyukur sekali masih ada salah satu anaknya yang selalu ikhlas menolongnya tanp

DMCA.com Protection Status