Home / Zaman Kuno / Aku Dan Tuan Duke / 4. Kontrak Pernikahan

Share

4. Kontrak Pernikahan

Author: cyllachan
last update Huling Na-update: 2024-03-16 10:59:24

"Me-Menikah?!" pekikku hingga menarik tubuh.

'Dengan monster sepertimu?!'

"Aku mengundangmu ... bukan hanya karena akan membeli aset dan membebaskan dirimu dari utang. Tapi ... karena aku ingat namamu, Anya Levitski."

Wajahku terkejut. Aku masih belum percaya pada apa yang barusan dia ucapkan.

Menikah dengannya?! Yang benar saja! Laki-laki itu bisa memotong-motongku hingga tiga puluh bagian dan menyimpan cuilan-cuilannya di perkakas rumah. Apa dia tidak dengar putusan pengadilan tadi?! Kau menganiaya Putri Sofia, kawan!

"Kau tidak ingat padaku?" tanya Lord Korzakov.

Alisku mengerut. Aku meraba ke sudut kepalaku yang paling dalam. Aku tidak mungkin pernah bertemu orang ini. Pria seeksklusif Lord Korzakov, mana mungkin bangsawan kelas rendah sepertiku pernah bertemu dengannya.

Kepalaku hanya bisa menggeleng pelan.

"Kita bertemu di Debyutanka, dua belas tahun lalu. Di istana kekaisaran. Gaun itu ... kau memakainya juga," ia menunjuk gaun zamrudku yang kuno. "Aku tidak mengira akan melihatnya lagi."

'Dua belas ... tahun? Dia masih ingat?'

"I-ini ...," aku terbata saking tidak percaya. "Saya memperbaiki baju ini beberapa kali," lirihku dengan malu. Mungkin kedua kulit pipiku telah memerah. "Jadi masih muat." Yah. Dengan tambalan di bagian dalam.

"Kau tak ingat padaku?" tanyanya mengulang.

Aku menggeleng pelan. "Maaf ... saya tidak ingat."

"Tentu saja. Semua laki-laki mengerumunimu, menanti giliran untuk berdansa denganmu. Sedangkan aku telah bertunangan dengan Sofia. Setelah pesta, para ksatria dan putra-putra bangsawan membicarakanmu. Anya Levitski, gadis idaman semua orang. Sampai-sampai ... aku cukup lelah mendengar nama itu."

Aku tak tahu bagaimana. Tapi ada sedikit perasaan menyanjung dalam hatiku. Aku bahkan tak tahu kalau jadi bahan obrolan para ksatria. Aku pernah ada di posisi seperti itu? Luar biasa.

"Kudengar ayahmu juga menolak-nolak setiap pemuda yang melamar. Mungkin dia terlalu ambisius ingin mendapatkan menantu berstatus tinggi."

"Itu benar ...," kataku pelan.

"Setelahnya kau tidak pernah muncul lagi di Debyutanka. Seperti lenyap ditelan bumi. Apa yang terjadi?"

Aku menarik nafas lesu. "Setelah ayah sakit, saya harus mengurus pabrik. Saya ... tidak punya waktu untuk pesta dan hal-hal semacam itu, my lord," ucapku pelan. "Saat itu saya juga punya adik perempuan yang masih kecil."

Selanjutnya ... kami tak bicara lagi. Kami berdua cuma memandangi langit yang mulai gelap di luar jendela. Hatiku semakin kelu. Seva adikku yang kuserahkan pada orang asing untuk dinikahi. Aku bahkan tidak sempat bertanya bagaimana perasaannya.

"Bagaimana? Kau mau?" pria itu menggugahku dari lamunan. Aku kembali beralih padanya. "Menikah denganku?" tawarnya

Dengan sebuah tarikan nafas, aku menolaknya. "Ti-."

"Aku tidak pernah memukuli Sofia. Dan aku ingin membuktikannya," potong pria itu. Hingga suaranya berhasil menenggelamkan jawabanku. "Aku tidak pernah memukul istriku. Aku difitnah!" tepisnya dengan keras.

Sebelah alisku telah naik.

"Hanya itu? Hanya untuk membuktikan tuduhan itu? Lebih baik Anda mengajak wanita lain saja."

Tubuh pria itu mencondong padaku.

"Apa kau pikir ... dengan kondisiku sekarang ini, akan ada wanita yang mau menikah denganku?"

Tanpa menjawab sepatah katapun, aku memandangnya enggan. Harusnya dia paham.

"My lord," aku menegakkan tubuh. "Pernikahan bukanlah hal main-main. Lagi pula, jika Anda sudah pernah menikah dan bercerai, lalu Anda menikah lagi, Anda akan dianggap berzina seumur hidup!" ceramahku. Sedikit menaikkan nada bicaraku seharusnya bisa membantu keluar dari masalah ini.

Aku bisa melihat mata birunya melirik ke samping. Bibir tipis pria itu terbuka sedikit. "Aku tidak akan dianggap berzina kalau ...," ia kembali memandangku. Tubuhnya mendekat di hadapanku, kemudian setengah berbisik. "Anya ... kau masih perawan?"

"Akh!" yang keluar hanya sebuah desisan lirih. Wajah Lord Korzakov kini tertengok karenaku.

Sekilas aku memasang wajah jengkel dan jijik bersamaan. Tapi itu semua segera larut. Sebuah cap tangan merah tercetak di pipi putih His Grace Lord Alexey Korzakov, The Duke of Korzakov! Jantungku rasanya mau copot! Apa yang sudah kulakukan?! Anya bodoh!

Sedetik yang lalu aku telah melayangkan sebuah tamparan hebat seumur hidupku. Kini, kedua tanganku menutupi mulut yang menganga. Mataku menatapnya dengan takut. Sedang Lord Korzakov memasang wajah buas yang ingin melumatku hidup-hidup.

Jiwaku seperti tersedot oleh kedua mata birunya. Tubuhku lemas dan tenggelam pada sandaran kursi kereta kuda.

"Ma ... Maaf! Maafkan saya!"

Aku tak bisa menyembunyikan jemariku yang gemetar.

Tangan Lord Korzakov menggenggam pergelanganku. Pergelangan tangan kanan yang telah memukul wajah bangsawannya.

"M-My lord ... Ser ... maafkan s-saya ...," suaraku bergetar hebat. Air mata mengalir dari pelupuk mataku. Aku bisa merasakannya jatuh ke kulit pipi yang telah dingin. "Tolong ... jangan potong tangan saya ...," rintihku padanya.

Jantungku sudah lepas saat pria itu merebut lenganku. Kupikir, ia akan mengeluarkan sebuah belati dari sakunya dan memutus benda itu. Lalu membuangnya lewat jendela.

Kuremas kelopak mataku rapat-rapat hingga tertutup seluruhnya. Aku takut.

Sesaat kemudian, aku merasa menyentuh sesuatu yang lembut dan hangat. Ketika kubuka mata, Lord Korzakov menangkupkan tanganku pada pipinya, bekas tamparan dariku.

Aku ... menyentuh wajah pria ini. Kulitnya lembut, tapi aku bisa merasakan tulang pipi yang pejal. Sebuah kehangatan asing terpancar darinya. Tatapannya padaku begitu datar. Aku nyaris tak percaya jika amarahnya sudah lenyap entah kemana. Sementara aku yakin dia bisa merasakan jemariku yang masih gemetaran.

"Pendeta akan memeriksa darah di sprei setelah malam pengantin. Jika kau berdarah di malam pengantin, maka pernikahan kita dinyatakan suci. Aku tak akan dianggap berzina. Tapi ... jika tak ada darah ...," ia menjeda. Pandangannya kembali menghunus padaku.

Jika aku tak berdarah ... apa yang akan terjadi? Apa ... dia akan membunuhku? Apa dia akan menikam jantungku setelah menikah? Apa? Apa?!

Semua pikiranku tentangnya adalah mimpi buruk.

"... aku akan pakai darah siapapun untuk mengelabui pendeta."

Aku menelan seluruh ludah di tenggorokanku. Bulu kudukku merinding saat ia mengatakannya. Orang ini ... jelmaan iblis Lucifer mungkin.

Pria itu telah melepas lengan kurusku. Aku masih bisa merasakan genggamannya yang kuat menjalar di kulit yang tipis.

"Bagaimana jawabanmu, Levitski?"

"S-Saya ...."

Apa aku harus menjawab pertanyaan tidak sopan dan merendahkan itu?

"Kau mau menikah denganku?" tanyanya lagi.

Seharusnya ini adalah sebuah lamaran. Tapi ... pria itu menanyakannya dengan wajah dingin dan datar. Seperti bukan apa-apa baginya.

"Saya ...."

"Tidak hanya menutup isu itu. Aku juga butuh penerus," sambungnya.

Penerus? Maksudnya ... aku harus melahirkan anak untuknya?

Sekilas ... aku berpikir Tuhan sedang membalas perbuatanku pada Seva dulu. Aku membuatnya menikah supaya dia bisa keluar dari kemiskinan kami. Aku membuatnya menikah dengan bangsawan kaya hanya untuk memberi seorang pewaris. Lalu ... aku akan menelan kalimat-kalimatku sendiri yang kuucapkan pada Seva lima tahun lalu.

Ini juga terjadi padaku?

Apa aku seputus asa ini sampai-sampai harus menikahi pria iblis sepertinya?

"Apa kau tidak ingin menikah, Levitski?" Lord Korzakov memecah lamunanku.

'Menikah ... ya?'

Oh tentu aku menginginkannya. Dulu. Dulu sekali. Aku cuma bisa membayangkan cerminan diriku dalam gaun pernikahan. Seperti apa laki-laki yang akan bersamaku. Semua itu cuma angan-angan.

Aku tersenyum miris.

"Pernikahan ... adalah hal yang sangat mewah bagi saya, Your Grace. Saya telah mengubur dalam-dalam mimpi untuk menikah. Bagi saya... pesta ... pernikahan ... cinta ... itu hanya untuk anak kecil," ucapku sendu.

"Benar. Cinta hanya untuk anak kecil. Aku sudah tidak membutuhkannya. Kau pun sama. Baguslah kalau kita punya pandangan yang sama."

Sungguh. Dari semua perkataan yang keluar dari mulut iblis orang ini, hanya kalimat itu yang kusetujui.

"Kalau begitu, kau mau menikah denganku?" tanyanya kesekian kali. "Kulunasi semua hutang dan asetmu. Kau boleh memakai semua uang atas namaku. Sebaliknya, aku ingin kau menjaga reputasiku dan memberiku pewaris."

Jelas aku menyiratkan keraguan yang besar. Kepalaku masih dipenuhi oleh tuduhan dan gosip soal orang ini. Apalah arti gunungan harta jika aku dipukuli setiap hari olehnya? Lalu aku harus berpura-pura baik-baik saja di depan orang lain? Lebih baik aku bekerja sampai mati di pabrik orang dan pulang ke gubuk kecilku setiap hari.

"Aku tidak akan melukai sehelai rambutmu. Jika itu terjadi ... kau boleh menceraikanku dan aku akan berikan seratus ribu keping Lyrac padamu," jaminnya.

Kepalaku mendongak seketika. "Bahkan aku akan tetap memberimu seratus ribu keping Lyrac meski kau memfitnahku dengan keji seperti Sofia."

'Fitnah?'

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Aku Dan Tuan Duke   123. Seteru

    Bunda Suci telah memberiku tanda-tanda, dan aku mengabaikannya. Tanda di malam itu, di pesta debutante dimana aku menemukan sakit hatiku yang pertama. Sofia Romanov ... iblis itu akan terus mengikutiku hingga ke liang kubur. Dia akan melakukan segalanya untuk membuatku celaka. Tapi ... kali ini aku tak akan menyingkirkan apa yang telah Bunda Suci berikan kepadaku.Tanda-tanda. Ini adalah kehendak-Nya.Aku ingat malam itu di penginapan Rob. Setelah kumelihat siluet perempuan misterius itu, Anya Levitski, aku berdoa sungguh-sungguh kepada Bunda Suci. Aku bersumpah kepadanya, jika aku bertemu dengan Anya Levitski sekali lagi, maka jadilah ini kesempatanku yang kedua, kesempatanku untuk mengulang hidup sekali lagi.Aku tidak akan menolak takdir ini. Aku akan mengusahakannya.

  • Aku Dan Tuan Duke   122. Sidang

    "Maaf? Maksud Anda?""Setelah semuanya kubeli dan kulunasi, apa yang akan kau lakukan?""Sa-saya ... mungkin akan bekerja di desa dan membeli rumah kecil."Aku lengang beberapa saat. Sedikit kekagetan, kekaguman, dan ketidakpercayaan bercampur jadi satu. Perempuan bangsawan begini ... dia mau melakukan itu? Maksudku, ayolah, perempuan bangsawan mana yang mau kerja di desa kecil pelosok di rumah kecil?!"Apa kau sudah menikah? Apa ada laki-laki yang dekat denganmu?"Kini Anya Levitski dengan wajah putih cantiknya yang asing tertunduk.Ia mengulum bibirnya dan melirih. "Tidak, my lord,"Jantungku bertambah debarannya. Mengapa? Mengapa aku malah sesenang ini dengan kemalangannya?Mulutku hendak terbuka. Aku ingin mengatakan sesuatu yang lain, sesuatu yang mengikuti hasratku selama ini. Sesuatu yang mengganjaliku sejak aku pertama bertemu dengannya di pesta debutante dua belas tahun lalu."My lord, Vadim di sini."Igo

  • Aku Dan Tuan Duke   121. Jerat

    Kutarik tali kekang kuda hingga mengikik.Kemudian aku berusaha mati-matian menyembunyikan kegugupan ini. Tapi memang aku dasarnya tolol saja. Tadinya aku ingin berkata, 'Hai apa kabar?'. Namun yang keluar dari mulut adalah sesuatu yang lain."Igor! Siapa ini?!" Igor malah jadi sasaran semburanku pagi-pagi."My lord, beliau adalah Lady Levitski.""Levitski?"Aku memastikan sekali lagi. Kali ini aku betul-betul mengucapkan namanya. Dan ia berada di hadapanku! Jantungku kian tidak beres. Dia tak kunjung tenang. Dadaku berdebar tidak karuan saat sadar bahwa ini semua bukanlah mimpi."Sergei! Ambil alih! Berikan mereka makan dan latihan satu jam lagi!""Baik my lord! Hiya!" Sergei memyahut cekatan. Pasukan berkudaku mengikuti pria itu masuk ke pelataran kastil. Kaki-kaki kuda mereka bergemuruh. Seakan gempa sekecil itu pun bisa membuat wanita kecil nan menggemaskan ini runtuh.Ia terlihat takut pada laju kuda-kuda pasukanku.

  • Aku Dan Tuan Duke   120. Kedatangan

    Malam hari tiba, besok kami akan langsung kembali ke Kota Balazmir. Sebelum tidur, aku dan Sergei memutuskan untuk sedikit minum-minum di kedai lantai bawah."Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah kau ingin bertemu dengan wanita itu?"Sergei telah menanggalkan segala formalitasnya. Saat kami cuma berdua, ia berubah menjadi seorang kawan baik. Sahabatku.Aku menyesap bir dingin yang baru disajikan oleh Ela. Kami duduk di meja panjang kedai. Ela kembali mengelapi gelas-gelas."Tidak juga."Sergei mengernyit di bawah rambut hitamnya yang ikal."Apa maksudmu? Bukankah kita jauh-jauh kemari supaya kau bisa bertemu dengannya?"Aku merenung.Aku pun tak yakin mengapa aku melakukan ini semua. Bermil-mil jauhnya dari rumah hanya untuk melihat sekilas sosok itu. Lalu pulang tanpa berbincang dan bahkan menyapanya."Aku sudah mengiriminya surat. Jika dia memang mau menjual asetnya, dia bisa datang ke tempat kita. Tapi ... sepertinya

  • Aku Dan Tuan Duke   119. Wastu Negeri Dongeng

    "My lord, apa benar ini jalannya?" tanya Sergei."Kurasa begitu."Kami menyusuri jalanan desa dengan kuda. Aku dan Sergei bersama dua orang pengawal lagi telah tiba di wilayah Barony Levitski. Ternyata perjalanan cukup melelahkan dan butuh berhari-hari. Kami tidak pernah menjejakkan kaki di wilayah ini. Ini adalah wilayah selatan yang tidak begitu terjamah oleh pembangunan. Namun berbeda dengan wilayah timur yang sulit ditanami pangan, wilayah selatan jauh lebih subur. Tak dapat pembangunan besar pun wilayah ini lebih bisa menghidupi diri mereka sendiri. Industri lokal juga seharusnya berkembang.Berjalan-jalan di desa begini serasa mengarungi waktu. Desa ini terasa kuno. Mungkin terlambat sepuluh tahun dari daerah-daerah di kota."Kita cari penginapan," perintahku.Tak butuh waktu lama bagi kami untuk tiba di salah satu bangunan dua lantai yang seperti penginapan. Ada seorang pria yang sedari tadi bersandar di dekat daun pintu. Sergei segera

  • Aku Dan Tuan Duke   118. Proposal

    Rumah tanggaku telah berakhir. Aku resmi menjadi seorang duda. Tentu agak alot dan sukar, namun aku berhasil meyakinkan pengadilan dan gereja agar bisa mempermudah perceraian kami.Sofia, si perempuan tidak tahu diri itu meminta Kastil Marie sebagai syarat untuk bercerai. Seorang pria bernama Vadim, dia orang yang serba bisa kini menjadi asistenku. Ia begitu piawai membelaku di pengadilan. Hingga aku hanya perlu membayar satu juta keping Lyrac kepada Sofia sebagai kompensasi perceraian. Sofia menuduhku tak menafkahinya. Namun itu terpatahkan oleh semua bukti pengiriman uang dari bank. Dan ia tak bisa meminta Kastil Marie karena itu masih dalam nama Ibu. Segalanya berjalan lancar. Meski sekarang timbul gosip dan isu miring tentangku. Berbagai fitnah bermunculan. Alexey Korzakov si penjagal, Alexey Korzakov si tukang main perempuan, dan lain-lain. Aku tahu siapa yang menyebarkan dan menciptakan fitnah-fitnah keji itu. Mungkin di kalangan bangsawan kelas atas, gosip menyebar tanpa ampun.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status