Share

Bab 5

Penulis: Mr. Crawford
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-13 09:53:14

Dua penjaga keamanan itu lalu menarik Minah ke belakang. Tegar dengan sigap menangkap ibunya agar tidak terjatuh. 

Sementara itu, Anisa langsung terbatuk-batuk setelah terlepas dari cekikan Minah. 

"Ibu, berhati-hatilah dalam bertindak! Jaga sikap Ibu! Ini rumah sakit dan dilarang membuat keributan di sini. Satu lagi, perilaku Ibu barusan bisa membahayakan nyawa pasien dan Ibu bisa dipidanakan!" ujar penjaga keamanan pada Minah. 

Minah melotot pada penjaga keamanan, "Kau bilang aku bisa dipidanakan? Lalu bagaimana dengan dia? Apakah dia bisa dipidanakan juga? Dia telah membunuh cucuku! Aku ingin dia mendapat hukuman!"

"Maaf Ibu, kami tidak tau apa yang telah terjadi. Tapi apapun alasannya, Anda tetap tidak boleh membuat keributan di sini. Itu bisa mengganggu ketenangan pasien yang lain. Dan meskipun yang Anda katakan itu benar, Anda juga tidak boleh main hakim sendiri. Negara kita merupakan negara hukum, jadi Anda tidak boleh menentukan hukum Anda sendiri," jelas salah satu penjaga keamanan, mencoba menenangkan situasi. 

"Heh, lalu kenapa memangnya kalau aku mau menentukan hukumku sendiri? Hukum di negara ini terlalu lemah! Jadi, memang aku sendiri harus menghukum wanita ini!" Minah maju lagi dengan tidak sabar, namun langsung dihalangi oleh dua penjaga keamanan itu. 

"Minggir! Jangan menghalangiku!" Minah melotot. 

"Maaf, tapi jika Ibu tidak bisa tenang. Dengan terpaksa, kami akan menyeret Ibu keluar!" tegas penjaga keamanan. 

"Kalian... Berani kalian melakukan itu padaku? Coba saja lakukan kalau berani!" bentak Minah, terlihat semakin emosi. 

Salah satu penjaga keamanan lalu menatap Tegar, "Pak, tolong bawa Ibu Anda keluar! Jika tidak, kami akan mengeluarkannya secara paksa!" 

Tegar mengerutkan dahi dan menatap tajam pada penjaga keamanan barusan, "Kalian... Berani kalian mengeluarkan Ibuku dengan paksa? Apa kalian sudah bosan bekerja di rumah sakit ini? Aku bisa membuat kalian berdua dipecat, saat ini juga!"

Minah tersenyum sinis dan mengangguk, "Benar! Ayo, Tegar. Hubungi pemilik rumah sakit ini, untuk memintanya memecat dua satpam tak tau diri ini!"

"Maaf Pak, bukan masalah kami sudah bosan atau tidak bekerja di rumah sakit ini. Tapi kami hanya melakukan yang seharusnya kami lakukan. Ibu Anda telah membuat keributan, dan itu membuat pasien lain terganggu. Jika ini terus berlanjut, kami juga yang akan menerima teguran dari atasan. Jadi mohon kerja samanya," jelas penjaga keamanan, berusaha untuk tetap tenang. 

Tegar diam beberapa saat untuk berpikir, sebelum dia menghela nafas dan menghembuskannya, "Huh, baiklah. Kita keluar sekarang!"

Minah tentu terkejut dengan keputusan Tegar yang tiba-tiba itu. Dia lalu menatapnya tak percaya, "Hei, apa maksudmu bicara seperti itu? Apa kita akan mengalah di sini? Tidak, aku tidak mau!" Minah menggelengkan kepalanya. 

"Ish, Ibu kita keluar dulu. Nanti aku jelaskan setelah kita di luar. Sekarang, kita harus keluar," jawab Tegar. 

"Tapi Tegar, aku tidak bisa..."

"Ayo, keluar dulu!" potong Tegar, yang langsung menyeret Minah keluar. 

Minah yang tak berdaya, hanya bisa mengikuti putranya ke luar dari ruangan tersebut. Dinda tentu selalu mengikuti mereka. 

"Tegar, sekarang jelaskan! Kenapa kita harus mengalah? Kenapa hanya dua satpam saja sudah membuatmu takut? Bukankah kau mengenal pemilik rumah sakit ini? Jika mereka berani macam-macam pada kita, tinggal kau bilang saja pada pemilik rumah sakit untuk memecat dua satpam bodoh itu," ujar Minah begitu mereka tiba di luar. 

"Ibu, dengarkan aku! Apa Ibu lupa? Ini rumah sakit, Ibu. Banyak kamera pengawas di sini. Dan jika kita melampiaskan kekesalan kita pada Anisa di sini, itu sama saja kita cari mati. Aku tidak takut dengan dua satpam itu, tapi akan lebih baik kalau kita cari aman. Kita biarkan Anisa menafas lega dulu untuk sekarang. Nanti, kita bisa lampiaskan semua amarah kita saat wanita itu sudah pulang! Saat itu, aku tidak akan menghalangimu lagi, mau perlakuan Anisa seperti apa," jelas Tegar. 

Masih bingung dengan yang dikatakan Tegar, Minah menatapnya dan bertanya, "Hah, kamu masih mau biarkan wanita bodoh itu kembali ke keluarga kita?"

"Ya, itu tidak masalah jika kita bisa melampiaskan semua amarah kita padanya. Lagi pula, dia telah membuat anakku meninggal. Jadi dia harus menerima hukuman langsung dariku!" jawab Tegar, tegas. 

Minah mengangguk, "Kau benar. Dia telah membunuh cucuku, jadi aku juga harus menghukumnya langsung!"

***

Widia masuk ke ruang perawatan Anisa. Dia merasa iba, saat menatap wanita yang baru mendapatkan musibah itu, namun suami dan Ibu mertuanya malah memperlakukan dia dengan sangat buruk. 

Anisa menatap Widia dengan air mata mengalir di pipinya, "Katakan padaku, Dok! Apakah benar, bayiku tidak bisa diselamatkan?"

Dengan perasaan menyesal, Widia menjawab, "Kami benar-benar minta maaf. Kami sudah berusaha keras untuk menyelamatkan bayi Anda, namun takdir berkata lain. Bersabarlah... Anda masih muda, saya yakin Anda pasti akan bisa mendapatkan bayi-bayi yang lucu lagi di masa depan." Widia tentu mencoba menguatkan. 

Air mata Anisa mengalir semakin deras, "Kamu mungkin benar, Dok. Tapi tetap saja. Bagaimana bisa seorang Ibu tidak merasa sedih, saat bayi yang dikandungnya selama hampir 9 bulan harus pergi meninggalkannya untuk selamanya? Jika bisa, aku lebih memilih untuk menggantikan anakku, Dok."

"Iya, memang begitulah pengorbanan seorang Ibu. Dia akan rela kehilangan segalanya, termasuk nyawanya sendiri demi anak. Namun kita sebagai manusia juga tidak bisa melawan takdir. Ibu ikhlaskan dulu saja kepergian anak Ibu dengan lapang dada. Di balik suatu musibah, pasti akan ada hikmahnya. Masa depan Ibu juga masih panjang, jadi bersabarlah untuk sekarang, dan tetaplah kuat. Saya yakin Ibu bisa melalui ujian ini dengan baik," jelas Widia, sambil tersenyum. 

Anisa mengangguk sambil menahan isak tangisnya, "Terima kasih Dok, atas nasihatnya. Saya akan mencoba untuk bersabar dan mengikhlaskan semuanya."

Widia tersenyum lembut, "Sama-sama, Bu. Jika butuh bantuan apapun, jangan ragu untuk bicara pada kami. Kami akan selalu ada di sini untuk membantu. Sekarang, istirahatlah! Jangan terlalu banyak berpikir, supaya bisa cepat pulih."

Anisa mengangguk dan mencoba memejamkan kedua matanya. Meskipun itu terasa sangat sulit, namun akhirnya dia bisa benar-benar tertidur setelah sekitar setengah jam memejamkan mata. 

Widia juga sudah pergi dari ruangan Anisa, saat wanita ini benar-benar tertidur. Karena dia harus membantu mengurus seluruh biaya administrasi mantan pacar kakaknya ini. 

Sudah siang ketika Anisa terbangun dari tidurnya, dan dia terkejut saat melihat bajunya di bagian dada telah basah oleh cairan hangat yang agak lengket. 

Melihat ke seorang perawat yang sedang ada di ruangannya, Anisa berkata, "Sus, apa yang terjadi padaku? Kenapa bajuku bisa basah?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 1

    Jam dinding di sebuah kamar menunjukkan pukul 10 malam ketika terdengar teriakan, "Nisa! Pergi ke Alfamart depan dan belikan aku mie instan!"Seorang wanita setengah baya, membuka pintu kamar Anisa dan melemparkan uang kertas 5 ribu rupiah. Dia kembali lagi dan melemparkan uang kertas 2 ribu rupiah, "Sekalian belikan adikmu susu saset di sana!"Dengan lemas, Anisa yang memang sedang hamil tua berkata, "Ibu, sebentar... Ini sudah terlalu malam Bu, lagian di luar juga hujan. Kata Bidan, Ibu hamil tidak boleh keluar malam apalagi hujan-hujanan."Wanita setengah baya itu bernama Minah, dan dia adalah Ibu dari suami Anisa, Tegar. Mendengar yang dikatakan Anisa, Minah berbalik dan menatap tajam padanya. "Hei, Nisa. Dengar, bukan cuma kau yang pernah hamil! Jangan karena hamil kau jadi punya alasan untuk bermalas-malasan, ya! Sudah, sana berangkat! Aku sudah lapar dan adikmu juga sudah gak sabar mau minum susu. Jangan kelamaan, nanti keburu dia tidur."Setelah mengatakan itu, Minah langsun

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-10
  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 2

    Dokter itu mengerutkan dahinya dan tidak dapat mengerti dengan yang ada di pikiran Tegar. 'Jelas-jelas istrinya juga sedang dalam kondisi kritis, tapi dia hanya peduli dengan anaknya saja? Memang tidak masalah seseorang terlalu mengkhawatirkan anaknya. Namun seharusnya dia juga menghawatirkan istrinya, kan? Karena bagaimanapun, sekarang bukan cuma anaknya yang sedang dalam keadaan kritis, tapi istrinya juga,' pikir dokter dalam hati. Setelah menghela nafas, dokter menjawab, "Kami akan melakukan yang terbaik untuk keduanya. Sejauh ini, kondisi ibu dan janinnya masih dalam perjuangan. Kami butuh beberapa saat lagi untuk mengevaluasi situasinya. Mohon bersabar dan berikan do'a yang terbaik."Tepat setelah dokter selesai bicara, seorang perawat wanita keluar dari ruang gawat darurat. "Gawat Dok, keadaan semakin kritis. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kita harus melakukan pembedahan sekarang. Bagaimanapun kita harus memutuskan, apakah akan menyelamatkan bayi atau Ibunya," jelas

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-11
  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 3

    Berbalik, Widia dikejutkan dengan orang yang sangat dikenalnya ada di sana. "Kakak, apa yang kau... Apa? Darahmu Ab negatif? Sial, kenapa tidak terpikirkan olehku, jika satu keluarga kita golongan darahnya Ab negatif? Huh, jika tau begini, aku saja yang mendonorkannya sejak awal. Tidak perlu repot-repot mencari darah ke mana-mana."Menghembuskan nafasnya cepat, Safak berkata, "Sudahlah, cepat bawa aku ke tempat pendonoran darah. Kita tidak punya banyak waktu. Anisa butuh darah ini secepatnya."Widia terkejut mendengar kakaknya mengetahui nama pasien, "Kak, kamu mengenal wanita itu?""Kau ini, jangan banyak tanya! Ceritanya lain kali saja. Sekarang yang paling penting selamatkan Anisa!" Safak berkata dengan tidak sabar. Widia terkekeh, "He he, iya iya... Ya sudah, ayo ikut aku!" Widia lalu membawa Safak ke ruang donor darah di dekat sana. Setelah melakukan prosedur pemeriksaan kesehatan singkat, Safak diminta naik ke tempat tidur yang tersedia untuk melakukan pendonoran darah."Aku a

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-12
  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 4

    Para perawat di sana segera mengikuti intruksi Widia. Bergegas mempersiapkan segala sesuatu untuk melakukan operasi kecil. Namun saat operasi akan dilakukan, bayi itu sudah tidak mengejang lagi. Lebih tepatnya dia sudah tidak bergerak, detak jantungnya hilang dan tidak bernafas. "Innalillahi..." Seorang perawat menatap Widia, "Dok?"Widia menghela nafas, "Mau bagaimana lagi? Kita sudah berusaha untuk menyelamatkannya, tapi takdir berkata lain." Dia lalu mendekat dan mengelus kepala bayi yang sudah tak bernyawa itu, "Kasihan sekali kamu, Nak. Tapi takdirmu hanya sampai di sini saja."Widia menatap salah satu perawat dan memerintahkan, "Beri tau Ayah bayi ini pelan-pelan! Sepertinya dia sangat berharap pada anak ini. Aku cuma khawatir, kalau dia tidak akan mampu menerima kenyataan."Perawat mengangguk, "Baik, Dok. Saya akan coba bicara perlahan."Perawat itu lalu keluar dari ruangan dan langsung berhadapan dengan Tegar. "Sus, bagaimana anakku? Dia baik-baik saja kan?" tanya Tegar. B

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-12

Bab terbaru

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 5

    Dua penjaga keamanan itu lalu menarik Minah ke belakang. Tegar dengan sigap menangkap ibunya agar tidak terjatuh. Sementara itu, Anisa langsung terbatuk-batuk setelah terlepas dari cekikan Minah. "Ibu, berhati-hatilah dalam bertindak! Jaga sikap Ibu! Ini rumah sakit dan dilarang membuat keributan di sini. Satu lagi, perilaku Ibu barusan bisa membahayakan nyawa pasien dan Ibu bisa dipidanakan!" ujar penjaga keamanan pada Minah. Minah melotot pada penjaga keamanan, "Kau bilang aku bisa dipidanakan? Lalu bagaimana dengan dia? Apakah dia bisa dipidanakan juga? Dia telah membunuh cucuku! Aku ingin dia mendapat hukuman!""Maaf Ibu, kami tidak tau apa yang telah terjadi. Tapi apapun alasannya, Anda tetap tidak boleh membuat keributan di sini. Itu bisa mengganggu ketenangan pasien yang lain. Dan meskipun yang Anda katakan itu benar, Anda juga tidak boleh main hakim sendiri. Negara kita merupakan negara hukum, jadi Anda tidak boleh menentukan hukum Anda sendiri," jelas salah satu penjaga ke

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 4

    Para perawat di sana segera mengikuti intruksi Widia. Bergegas mempersiapkan segala sesuatu untuk melakukan operasi kecil. Namun saat operasi akan dilakukan, bayi itu sudah tidak mengejang lagi. Lebih tepatnya dia sudah tidak bergerak, detak jantungnya hilang dan tidak bernafas. "Innalillahi..." Seorang perawat menatap Widia, "Dok?"Widia menghela nafas, "Mau bagaimana lagi? Kita sudah berusaha untuk menyelamatkannya, tapi takdir berkata lain." Dia lalu mendekat dan mengelus kepala bayi yang sudah tak bernyawa itu, "Kasihan sekali kamu, Nak. Tapi takdirmu hanya sampai di sini saja."Widia menatap salah satu perawat dan memerintahkan, "Beri tau Ayah bayi ini pelan-pelan! Sepertinya dia sangat berharap pada anak ini. Aku cuma khawatir, kalau dia tidak akan mampu menerima kenyataan."Perawat mengangguk, "Baik, Dok. Saya akan coba bicara perlahan."Perawat itu lalu keluar dari ruangan dan langsung berhadapan dengan Tegar. "Sus, bagaimana anakku? Dia baik-baik saja kan?" tanya Tegar. B

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 3

    Berbalik, Widia dikejutkan dengan orang yang sangat dikenalnya ada di sana. "Kakak, apa yang kau... Apa? Darahmu Ab negatif? Sial, kenapa tidak terpikirkan olehku, jika satu keluarga kita golongan darahnya Ab negatif? Huh, jika tau begini, aku saja yang mendonorkannya sejak awal. Tidak perlu repot-repot mencari darah ke mana-mana."Menghembuskan nafasnya cepat, Safak berkata, "Sudahlah, cepat bawa aku ke tempat pendonoran darah. Kita tidak punya banyak waktu. Anisa butuh darah ini secepatnya."Widia terkejut mendengar kakaknya mengetahui nama pasien, "Kak, kamu mengenal wanita itu?""Kau ini, jangan banyak tanya! Ceritanya lain kali saja. Sekarang yang paling penting selamatkan Anisa!" Safak berkata dengan tidak sabar. Widia terkekeh, "He he, iya iya... Ya sudah, ayo ikut aku!" Widia lalu membawa Safak ke ruang donor darah di dekat sana. Setelah melakukan prosedur pemeriksaan kesehatan singkat, Safak diminta naik ke tempat tidur yang tersedia untuk melakukan pendonoran darah."Aku a

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 2

    Dokter itu mengerutkan dahinya dan tidak dapat mengerti dengan yang ada di pikiran Tegar. 'Jelas-jelas istrinya juga sedang dalam kondisi kritis, tapi dia hanya peduli dengan anaknya saja? Memang tidak masalah seseorang terlalu mengkhawatirkan anaknya. Namun seharusnya dia juga menghawatirkan istrinya, kan? Karena bagaimanapun, sekarang bukan cuma anaknya yang sedang dalam keadaan kritis, tapi istrinya juga,' pikir dokter dalam hati. Setelah menghela nafas, dokter menjawab, "Kami akan melakukan yang terbaik untuk keduanya. Sejauh ini, kondisi ibu dan janinnya masih dalam perjuangan. Kami butuh beberapa saat lagi untuk mengevaluasi situasinya. Mohon bersabar dan berikan do'a yang terbaik."Tepat setelah dokter selesai bicara, seorang perawat wanita keluar dari ruang gawat darurat. "Gawat Dok, keadaan semakin kritis. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kita harus melakukan pembedahan sekarang. Bagaimanapun kita harus memutuskan, apakah akan menyelamatkan bayi atau Ibunya," jelas

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 1

    Jam dinding di sebuah kamar menunjukkan pukul 10 malam ketika terdengar teriakan, "Nisa! Pergi ke Alfamart depan dan belikan aku mie instan!"Seorang wanita setengah baya, membuka pintu kamar Anisa dan melemparkan uang kertas 5 ribu rupiah. Dia kembali lagi dan melemparkan uang kertas 2 ribu rupiah, "Sekalian belikan adikmu susu saset di sana!"Dengan lemas, Anisa yang memang sedang hamil tua berkata, "Ibu, sebentar... Ini sudah terlalu malam Bu, lagian di luar juga hujan. Kata Bidan, Ibu hamil tidak boleh keluar malam apalagi hujan-hujanan."Wanita setengah baya itu bernama Minah, dan dia adalah Ibu dari suami Anisa, Tegar. Mendengar yang dikatakan Anisa, Minah berbalik dan menatap tajam padanya. "Hei, Nisa. Dengar, bukan cuma kau yang pernah hamil! Jangan karena hamil kau jadi punya alasan untuk bermalas-malasan, ya! Sudah, sana berangkat! Aku sudah lapar dan adikmu juga sudah gak sabar mau minum susu. Jangan kelamaan, nanti keburu dia tidur."Setelah mengatakan itu, Minah langsun

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status