Share

Part 51

Penulis: MarniHL
last update Terakhir Diperbarui: 2024-02-10 20:57:33

"Enak ya, baksonya," ucap Vian.

Bella hanya mengangguk.

Kebetulan saat mereka mengobrol di depan ada abang tukang bakso yang lewat. Dan Vian pun memutuskan untuk membeli karena lapar. Bella tidak mau, tapi Vian memaksa.

"Abang udah berapa lama jualan?" Vian tiba-tiba bertanya pada penjual bakso tersebut.

"Belum terlalu lama, mas. Baru setahun."

"Sering jualan di kompleks sini?"

"Baru seminggu ini sih, mas."

Bella hanya menatap keduanya yang sibuk bertanya jawab. Bella hanya seperti penonton.

"Enak banget nih makan bakso." Baron menghampiri mereka.

"Bang Baron mau?" Vian menawari.

"Boleh deh."

"Bang, baksonya tambah satu, ya."

"Kenapa lo liatin gue kayak gitu? Kesel karena gue ganggu?" Baron tersenyum jahil.

Bella memutar bola matanya malas. "Gak jelas."

"Emang ya, ngedate itu bukan diliat dari tempatnya, tapi sama siapa orangnya. Iya gak, Yan?"

Vian hanya tersenyum.

"Bawel lo," ketus Bella.

***

Vian tersenyum menatap Bella yang sedang berada di lapangan. Karena guru tidak masuk, dia
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • ARABELLA   Part 52

    “Alan?” Bella terdiam sesaat. Yang dia takutkan terjadi. Cowok yang sangat ingin Bella hindari tiba-tiba muncul di hadapannya dengan senyuman yang lebar. Seolah melupakan apa yang telah dia lakukan terhadap Bella. “Bell, aku niat ke sini mau minta maaf sama kamu. Aku benar-benar nyesal udah buat kamu sakit hati. Aku pengin perbaiki semua itu dan aku berharap kamu mau terima aku lagi.” Bella menggelengkan kepalanya menatap Alan tidak percaya. Setelah menghancurkan hatinya, dengan seenaknya muncul lalu memintanya untuk memberikan kesempatan kedua? “Jangan pernah muncul lagi di hadapan gue,” ucap Bella dingin. Terlihat jelas mata Bella yang menaruh rasa benci pada Alan. “Please, maafin aku. Aku nyesal. Aku janji gak bakal kayak gitu lagi.” Alan meraih tangan Bella. “Lepasin.” Bella berontak agar Alan melepas tangannya. Alan menggeleng. “Aku gak bakal lepasin sebelum kamu mau maafin aku. Aku jauh-jauh ke sini nyusulin kamu biar bisa kembali sama kamu. Aku gak mau sia-siakan kamu.”

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-11
  • ARABELLA   Part 53

    Vian menatap Bella yang sedang membaca buku. Vian diam-diam mengikuti Bella yang pergi ke taman sekolah. Dia tidak ingin ketahuan Bella, karena pasti Bella akan marah dan mengusirnya pergi."Gue tahu lo di sana. Gak usah sembunyi," ucap Bella dengan tatapan masih fokus pada bukunya.Karena sudah ketahuan mau tidak mau Vian keluar dari tempat persembunyiannya."Hai." Vian menyapa, namun karena tidak dibalas oleh Bella membuat suasana malah canggung."Gue boleh duduk?" Vian bertanya meminta izin.Bella masih tidak menjawab. Akhirnya Vian pun duduk."Sorry, ya soal pertanyaan gue kemarin. Gue gak bermaksud kepo kok." Vian meminta maaf."Lupain aja." Lagipula Bella sudah tidak mau mengingatnya. Apalagi berhubungan dengan Alan."Makasih ya, Bell. Gue kira lo bakal marah. Jadi lega gue.""Vian." Bella menutup bukunya.Vian menoleh. "Iya?""Jadi pacar gue mau gak?"Vian cukup tercengang dengan pertanyaan Bella. Apa ini serius? Bella menembaknya? Mungkinkah dia sedang bermimpi?"Pacar bohonga

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-13
  • ARABELLA   Part 54

    "Yan, Bell." Sani yang hendak ke kelas Vian bertemu mereka.Vian menepuk pundak Sani. "Gue duluan, ya.""Loh? Yan!" Sani segera menghampiri Regan dan Beno."Vian mau ke mana? Bukannya dia bakal ke rumah gue bareng kalian?" Sani bertanya karena dia bingung Vian yang pergi begitu saja tanpa bilang apapun padanya."Tadi Vian suruh kita ngomong sama lo kalau hari ini dia gak bisa ke rumah lo dulu. Karena dia ada urusan penting. Kayaknya sih berhubungan sama Bella. Soalnya waktu Bella ke sini dan ngomong sama Vian mereka langsung buru-buru pergi." Regan menjelaskan."Tapi dia udah janji kalau dia bakal ke rumah gue hari ini," lirih Sani."Gak papa, San. Mungkin Vian benar-benar gak bisa. Dia gak bermaksud ingkar janji kok. Lagian kan masih bisa hari lain. Kita berdua tetap ikut kok. Jadi lo jangan marah, ya."Sani tidak terima. Padahal Vian sudah berjanji padanya. Kenapa Vian selalu mementingkan Bella dibanding dirinya? ***"Ngapain lo ke sini lagi? Gue kan udah bilang jangan pernah ke si

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-13
  • ARABELLA   Part 55

    "Tante."Vian segera menyalim tangan Lani diikuti Alan.Lani menatap Alan lama. Tentunya Lani terkejut karena Alan tiba-tiba datang ke Jakarta bahkan bisa sampai di sini. "Darimana kamu tahu rumah saya?" Lani bertanya."Alan tanya sama orang-orang, tan.""Kalau kamu ke sini mencari Bella, tante mohon maaf tapi tidak bisa.""Alan janji gak bakal lama kok, tan. Alan cuma mau minta maaf sama Bella.""Tidak bisa. Bella lagi belajar dan dia gak mau diganggu. Tante harap ini kali terakhir kamu datang ke sini." Lani lalu beralih menatap Vian. "Vian, ayo masuk."Vian tersenyum miring pada Alan merasa menang. "Makasih tan." Pintu pun tertutup. Alan berdecak kesal. "Gue gak akan nyerah."***"Ma, tadi ada yang ketuk pintu siapa yang datang?" Baron bertanya."Vian, katanya mau ketemu Bella. ""Ngapain dia mau ketemu aku?"Lani mengendikan bahu. "Udah sana samperin. Kasihan nunggu lama.""Cie, yang diapelin cowok." Baron menggoda Bella.Bella menatapnya tajam. "Apaan sih lo?! Gak jelas."Bella b

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-14
  • ARABELLA   Part 56

    Bella berdecak pelan. "Kak Baron di mana, sih? Katanya mau nyusul kok gak sampe-sampe?"Semalam Baron mengajak Bella untuk jogging dan Bella menyetujuinya. Tadi pagi sebelum Bella pergi, dia sudah sempat membangunkan Baron, tapi Bella malah disuruh pergi duluan karena nanti dia akan menyusul. Sudah setengah jam menunggu, belum juga ada tanda-tanda kemunculan Baron. Bella jadi curiga kalau Baron sebenarnya masih tidur. Kalau sampai dugaannya benar, Bella akan marah besar pada Baron. Karena sudah mengingkari janjinya."Kak Bell." Bella menoleh kemudian tersenyum."Tata.""Kak Bella mau jogging juga, ya?" "Iya nih, tapi masih nunggu kak Baron. Belum nyampe daritadi.""Ya udah, sambil nunggu kak Baron jogging sama aku aja dulu.""Boleh deh."Mereka pun memutuskan untuk jogging berdua sembari menunggu Baron.***Bella dan Tata sudah sampai di taman kompleks perumahan mereka, namun Baron belum juga kelihatan. Bella tidak membawa ponsel jadi tidak bisa menghubunginya."Kak Bell, aku beli m

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-15
  • ARABELLA   Part 57

    "Bagus ya lo gue tungguin daritadi gak datang-datang. Lain kali kalau mau ngajak yang niat." Bella mengomel."Sorry, gue ngantuk banget. Begadang soalnya. Oh iya, tadi Vian telfon gue. Katanya lo ketemu Alan di taman, ya?"Bella mengernyitkan keningnya. "Dia tahu darimana?" Karena tadi Vian tidak ada di sana."Katanya tadi Tata liat lo sama cowok terus dia bilang sama Vian. Makanya Vian mikirnya cowok itu Alan."Bella terdiam sejenak. Benar juga tadi dia pergi bersama Tata. Bisa-bisanya dia melupakan Tata. Bella merasa jadi tidak enak."Dia bilang apa sama lo?" Baron bertanya."Seperti biasa dia minta balikan, tapi gue nolak. Gue udah capek hadapin dia.""Makanya lo harusnya lebih mesra lagi sama Vian biar dia percaya kalau lo beneran sama Vian dan dia gak ganggu lo lagi.""Saran lo gak pernah benar.""Sayang banget gue gak ke sana. Kalau aja gue ketemu dia tadi, gue gebukin lagi sampe kapok.""Percuma kak. Mau lo gebukin dia kayak gimana pun kalau dia nekat ya dia gak bakal berhenti.

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-16
  • ARABELLA   Part 58

    Bella menatap heran kerumunan murid cewek yang berdiri di depan kelasnya. Ada kejadian apa pagi-pagi begini yang membuat kelasnya ramai? Tumben sekali."Bell, gawat." Bella menoleh pada Sita dengan kening mengerut. "Gawat kenapa? Ini kenapa kelas kita jadi banyak orang?""Mantan lo.""Alan? Kenapa?""Dia pindah ke sekolah kita."Bella terkejut. Alan pindah ke sekolahnya? Apa yang harus dia lakukan sekarang?"Dan lebih parahnya lagi dia pindah ke kelas kita."Kaki Bella seketika lemas. Bella tahu kalau Alan memang nekat, tapi Bella tidak tahu kalau Bella senekat ini hingga harus pindah ke sekolahnya, bahkan sekelas dengannya. "Gue udah duga dia pasti bakal rencanain sesuatu, tapi gue gak nyangka sama rencananya."Sita mengusap pundak Bella. "Lo tenang dulu, ya, Bell. Pokoknya kita harus cari cara biar dia gak betah di sekolah ini."***"Yan, kayaknya lo bakal ada saingan."Vian mengernyitkan keningnya. "Saingan? Saingan apa?""Saingan cowok ganteng. Ada murid pindahan cowok. Pindah k

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-17
  • ARABELLA   Part 59

    Baron mengepalkan tangannya. "Jadi dia pindah ke sekolah lo?"Bella mengangguk.Sepulang sekolah tadi Bella langsung memberitahu Baron. Karena dia tidak bisa menyimpan hal tersebut dari Baron. Kecuali dari kedua orangtuanya karena Bella tidak mau mereka ikut khawatir padanya. "Apa gue harus ke sekolah lo tiap hari buat ngawasin dia?"Bella menggeleng. "Gak usah, kak. Urus aja kuliah lo. Gue bisa urus dia sendiri.""Kalian lagi ngobrolin apa sih? Kok keliatannya serius banget?" Lani menghampiri mereka."Ini ma, masa kak Baron minta aku buat kenalin dia sama teman sekolah aku.""Kuliah aja belum benar udah ngurus cewek."Baron menatap Bella tidak terima. Baron tahu Bella berbohong agar mama mereka tidak curiga, tapi jangan menjatuhkan dia juga."Oh iya, Bell, Alan ada hubungi kamu gak?" Lani bertanya."Enggak kok, ma. Emangnya kenapa?" Bella berbohong."Cuma nanya doang. Mama gak mau dia ganggu kamu lagi.""Mama tenang aja. Dia gak bakal hubungi aku kok. Aku kan udah ganti nomor.""Syu

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-18

Bab terbaru

  • ARABELLA   Epilog

    "VIAN!"Vian terkesiap dia langsung bangun dari tidurnya. "Ada apa Bell? Lo kenapa?" tanya Vian yang masih mencoba mengumpulkan kesadarannya.Bella tak segan menimpuk Vian dengan buku yang sedang dipegangnya. Membuat Vian meringis."Lo tuh ya gue kan suruh lo kerjain soal. Kenapa lo malah tidur?""Sorry, Bell. Gue ngantuk banget. Soalnya semalam nobar bola bareng Regan sama Beno.""Oh, jadi semalam lo suruh gue tidur duluan biar lo bisa begadang gitu? Pantes aja waktu gue chat lagi langsung centang satu. Lo sengaja matiin hp biar gue gak ganggu lo, kan?"Vian segera menggeleng. "Gak gitu, Bell. Lo salah paham. Gue bisa jelasin.""Gue gak butuh penjelasan lo. Lo sadar gak sih kita itu udah kelas dua belas. Udah waktunya buat belajar persiapan ujian. Emang lo mau nilai lo jelek terus gak keterima di kampus impian lo?""Enggak. Sorry, Bell, gue janji gak akan kayak gitu lagi.""Gue udah males dengar janji-janji lo. Sekarang lo kerjain soal-soal ini waktu lo cuma tiga jam. Awas aja kalau

  • ARABELLA   Part 120

    "Akhirnya tuan putri yang ditunggu-tunggu turun juga," ucap Vian ketika Bella menghampirinya.Bella sudah berpakaian rapi, tapi wajahnya terlihat jelas baru bangun tidur. Bahkan Bella beberapa kali menguap."Lo ngapain pagi-pagi ngajak gue pergi sih? Gue kan masih ngantuk. Masih pengin tidur.""Semalam kan gue udah sempat chat lo kalau kita mau jalan pagi.""Iya, tapi gue gak liat hp soalnya gue semalam begadang sama Sita sama Sani.""Ya udah, kalau lo gak mau pergi gak papa deh. Cancel aja.""Lah? Kok dibatalin sih? Kan gue udah siap-siap.""Iya, tapi lo kayak gak mau pergi gitu. Daripada nanti mood lo gak bagus mendingan gak usah aja." "Gue bukannya gak mau, Yan, tapi gue ngerasa kepagian aja perginya. Kan bisa kita keluarnya siang atau sore.""Gue ngajak pergi pagi karena gak mau kita kena macet, tapi kalau emang lo masih ngantuk ya udah tidur lagi aja.""Gimana sih lo? Gue kan udah siap-siap. Walaupun gue ngantuk, tapi kan gue mau pergi.""Percuma lo mau pergi kalau mood lo aja g

  • ARABELLA   Part 119

    "Kalian yang semangat belajarnya, ya. Apalagi udah naik kelas dua belas. Harus lebih fokus biar nilainya bagus dan bisa masuk kampus impian kalian." Alan berpesan sebelum dia pergi.Saat ini mereka sedang berada di bandara untuk mengantarkan Alan pulang ke Surabaya. "Lo juga semangat. Semoga bisa cepat dapat cewek baru ya biar gak gangguin Bella lagi," ucap Vian yang langsung mendapat tatapan tajam dari Bella."Safe flight ya, Lan. Kalau udah sampe kabarin kita," ujar Sita.Alan mengangguk lalu beralih menatap Sani. "San, kalau yang lain gue minta buat rajin belajar gue minta lo istirahat yang banyak, ya."Sani mengernyitkan keningnya. "Kenapa? Lo mau nilai gue jelek? Lo gak suka gue kalau gue masuk kampus bagus?"Alan segera menggeleng tidak mau membuat Sani salah paham. "Gak gitu. Gue cuma pengin lo bisa atur waktu buat kapan belajar dan kapan istrirahat. Jangan lo gunakan semua waktu lo buat belajar. Manusia juga butuh istirahat. Emang lo mau drop lagi kayak kemarin-kemarin? Sekar

  • ARABELLA   Part 118

    Vian mendekati Sani yang kebetulan sedang duduk di depan kelas. "San, gue minta maaf soal kemarin. Niat gue cuma mau nolongin lo.""San, kok lo diam aja?" Sani mengembuskan napas beralih menatap Vian. Beberapa detik kemudian dia tersenyum. "Gue maafin kok.""Beneran?" Sani mengangguk. "Gue takut banget lo jadi benci sama gue karena kejadian kemarin. Terus bokap lo gimana? Marah sama lo gak?""Awalnya marah, tapi gue mutusin buat ungkapin semua yang selama ini gue pendam ke bokap gue. Karena gue capek selalu diam dan ikutin semua kemauan bokap gue. Syukurnya bokap gue sadar dan minta maaf ke gue. Bahkan hubungan kita udah jauh lebih baik."Vian tersenyum lega. Usahanya berhasil. "Syukur deh. Gue lega dengarnya. Soalnya dari kemarin Bella gak tenang banget.""Bella? Gak tenang gimana?""Ya dia takut lo malah diamuk sama bokap lo. Makanya dia jadi kepikiran terus.""Thanks ya, udah mau bantuin gue. Emang sih gue marah karena tindakan lo yang bisa dibilang lumayan membahayakan gue, tap

  • ARABELLA   Part 117

    "Lo berdua ngapain ke sini?" Sani terlihat tidak senang ketika Vian dan Bella datang ke rumahnya.Mungkin kalau tidak ada mamanya Sani sudah mengusir mereka. Karena saat ini dia sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun."Gue mau ketemu bokap lo."Sani mengerutkan keningnya. "Mau ngapain?" Tentu saja Sani heran karena tidak biasanya Vian ingin bertemu dengan papanya. "Mau kasih oleh-oleh dari bokap gue.""Harus banget nunggu bokap gue? Gak bisa dititipin ke gue?"Vian menggeleng. "Bokap gue udah kasih amanah buat gue untuk kasih langsung ke bokap lo tanpa perantara.""Tapi bokap gue baliknya malam. Lo mau nunggu lama?""Gak papa kok. Lagian kita juga gak ada urusan mendadak sih. Jadi kita bisa nunggu lama. Iya kan, Bell?"Bella hanya mengangguk.Sani mengembuskan napas kasar. Terlihat jelas dia tidak suka, tapi dia tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan mereka.***"Loh, ada Vian." Irvan, papa Sani yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang. Untungnya mereka tidak dibuat menun

  • ARABELLA   Part 116

    "Kenapa lo baru bilang kalau lo mau balik ke Surabaya? Kenapa lo cuma ngomong ke Bella? Kenapa gue enggak? Emang teman lo Bella doang?" Pertanyaan beruntun diberikan Sita pada Alan saat Alan memberitahunya kalau dia akan kembali ke Surabaya."Makanya sekarang gue bilang ke lo kan.""Tapi kenapa baru sekarang? Kenapa gak dari lama? Bella udah tahu duluan. Lo gak anggap gue teman lo, ya? Iya, gue tahu emang gue jarang ngobrol sama lo, tapi kan setidaknya gue juga harus tahu." Ekspresi Sita terlihat kesal.Alan mengembuskan napasnya sejenak. "Oke, gue salah. Gue minta maaf karena baru ngomongnya sekarang. Lo mau kan maafin gue? Gue traktir apapun yang lo mau sebelum gue balik."Sita menatap Alan sinis. "Lo pikir gue bisa disuap sama makanan?""Gak gitu, Ta. Gue cuma pengin lo maafin gue aja. Kalau lo gak mau gue traktir terus lo mau gue gimana biar bisa lo maafin?"Sita terdiam cukup lama sembari sibuk dengan ponselnya. "Gue mau lo hari ini beliin semua yang gue mau. Nih listnya." Sita m

  • ARABELLA   Part 115

    "Bella!" Sita berlari menghampiri Bella lalu memeluknya erat. "Gue bangga banget sama lo, Bell. Lo emang terbaik. Gue tahu lo emang hebat. Dengan kayak gini lo bisa nutup mulut orang-orang yang selalu beranggapan kalau lo itu gak ada apa-apanya dibanding Sani," ujar Sita sembari melirik sinis beberapa siswa yang lewat. Sita ingat betul kalau siswa-siswa tersebut adalah orang yang pernah meremehkan Bella karena Bella berhasil meraih peringkat pertama saat ujian tengah semester mengalahkan Sani.Bella mengembangkan senyumnya. "Makasih Ta, tapi kayaknya lo agak berlebihan deh mujinya. Gue biasa-biasa aja kok. Gak sehebat itu.""Udah deh gak usah merendah gitu. Gue tahu lo paling hebat. Sorry ya kemarin gue gak ngucapin."Bella mengangguk. "Iya, gak papa kok. Kan lo sakit. Masa gue mau marah sama lo yang lagi sakit.""Btw, gue belum liat Sani. Ke mana ya dia?"Bella menatap Sita sedikit heran. Tidak biasanya Sita menanyakan Sani. Apa mungkin Sita sudah tidak marah lagi dengan Sani?"Belum

  • ARABELLA   Part 114

    "Yan, daftar peringkat nilai UAS udah keluar. Lo gak mau liat?" tanya Regan."Nanti aja." "Loh? Kenapa? Bukannya lo nunggu dari kemarin?""Emang, tapi gue gak siap. Gue takut gak sesuai sama harapan gue. Gue takut ngecewain Bella.""Lo kan udah usaha, Yan. Bella juga pasti ngerti kok."Vian menggeleng. "Syarat gue baikan sama dia kan peringkat gue harus bagus. Gue gak yakin kalau gue bisa masuk sepuluh besar.""Mungkin Bella ngomong kayak gitu biar lo lebih rajin belajar. Percaya sama gue Bella pasti bakal bangga sama lo apalagi ngeliat usaha lo yang belajar mati-matian.""Gan! Regan!" "Apasih Ben? Teriak-teriak emang gue budek.""Lo udah liat peringkat lo belum? Gila, lo di peringkat sebelas, bro! Gak nyangka gue. Keren juga lo," ucap Beno yang begitu antusias.Regan tersenyum bangga. "Iya lah, emang lo peringkat lima puluh."Beno menatap Regan sinis. "Sombong amat!" Beno beralih menatap Vian. "Lo gak mau ngecek peringkat lo? Tadinya mau gue foto, tapi keburu rame jadinya gak sempa

  • ARABELLA   Part 113

    "Kenapa?"Terdengar helaan napas lega dari seberang sana ketika Bella menjawab telepon masuk. 'Akhirnya lo angkat juga. Gue telfon daritadi hp lo gak aktif.'"Sengaja gue matiin biar fokus belajar."'Masih belajar gak? Takutnya gue ganggu.'"Kenapa?" Bella kembali bertanya karena belum mendapatkan jawaban.'Gue cuma mau bilang kalau lo jangan salah paham ya soal yang lo liat tadi. Gue tadi cuma berusaha buat nenangin Sani.'"Oke." Setelahnya Bella langsung memutuskan sambungan panggilan begitu saja. Bella kembali mematikan ponselnya karena dia tahu Vian pasti akan kembali menghubunginya dan dia sedang tidak ingin diganggu.Bella mengerti kalau Vian memang mencoba untuk menenangkan Sani. Hanya saja sebagai pacar Vian tentu Bella merasa cemburu, tapi tidak mungkin dia memperpanjang masalah karena Bella malas ribut di hari-hari yang penting ini. Yang ada malah membuat dia tidak fokus belajar dan akan mempengaruhi nilai ujiannya. Lagipula Vian juga sudah berusaha untuk menjelaskan padanya

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status