Share

ANILA - Kutukan Angin
ANILA - Kutukan Angin
Author: Asya Ns

Eps 1. Kado

Author: Asya Ns
last update Last Updated: 2021-08-31 10:44:48

 Ketegangan terjadi di sebuah padang salju. 

"Bodoh sekali dia, mau menuruti semua omonganku," gumam Aurora.

"Apa lagi?" tanya seorang remaja pria padanya.

"Cium dan cintai aku! Lupakan bahwa kau punya hati untuk orang lain. Hapus semua rasa cintamu kepada siapapun," pinta Aurora.

Pria itu tidak menolak, ia langsung saja mengambil langkah mencium erat bibir gadis di hadapannya.

Seorang gadis sebaya dengan pria itu tersimpuh rapuh memohon-mohon.

"Jangan lakukan itu, aku mohon jangan cium dia!" pekiknya tak berdaya.

Pria itu tidak menghirau sedikit pun. Ia benar-benar melupakan seluruh cinta dalam dirinya, dan secara rakus menikmati kejadian itu.

Gadis yang tersimpuh itu beberapa kali mengerang semakin kesakitan saat pria itu semakin asyik dengan Aurora.

Setelah beberapa waktu, Aurora melepaskan ciumannya. Memastikan tidak ada lagi cinta di dalam hati pria itu.

Aurora membekukan tubuh sang pria itu, lantas berkata, "Bodoh! Pria egois bernafsu sepertimu harus dihukum!" teriak Aurora.

"Pria yang dengan bangga baru saja menghianati kekasihnya demi keegoisan! Lihatlah apa yang kau hasilkan? Hukuman harus di jatuhkan terhadap sebuah kesalahan," jelasnya.

"Tidaak! Jangan hukum dia.... Dia pangeranku," ucap gadis itu sambil terus menahan sakit di jantungnya.

Pria itu tadinya benar-benar kehilangan rasa cinta. Sampai Aurora melancarkan kekuatannya mengutuk pria itu.

Pria tampan dengan pakaian hangat bermotif buku itu terlempar ke udara. Jiwanya mulai sadar dan berkata,

"Maafkan aku, aku terlalu egois untuk benar-benar bisa mencintaimu, maaf–"

"Tidaaak!!"

Gadis itu berteriak begitu kencang melihat orang yang dia cintai harus kembali dikutuk di hadapannya dan dia tidak dapat berbuat apa-apa.

"Mereyaaa!!" pekiknya mengudara. Tubuh gadis itu perlahan mulai lenyap, menghilang menjadi sebuah hembusan angin.

Deg!

"TIDAKKK!!" teriak Anila ketakutan. Napasnya tersengal-sengal. 

Malam itu sungguh berlalu dengan buruk baginya. 

Gadis bernama Anila itu kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Berusaha menenangkan pikirannya yang kacau. 

"Syukurlah hanya mimpi, mungkin diriku terlalu banyak menonton film fantasy semalam," Anila menghela napas lega.

Mimpinya barusan membuatnya melupakan suatu hal.

"Oiya! akukan hari ini ulang tahun," kata gadis  itu terperanjat bangun. Dia melempar selimutnya dan bergegas membuka pintu.

"Selamat ulang tahun, Anila..." sahut Kakak, Adik dan Ibunya yang mengejutkannya di depan pintu. Kakaknya membopong kue ulang tahun tertancap lilin 17.

"Happy birthday, kak Anila..." ucap adiknya yang berusia 8 tahun itu.

Suasana haru tercipta. Iringan lagu ulang tahun bersama-sama dilantunkan sembari Anila memotong kue.

"Terimakasih banyak ya..." ucap Anila tersenyum haru.

"Eits, jangan senang dulu...  masih ada kejutan lagi," potong kakaknya Anala.

"Masuk kamar sekarang, lihat meja belajarmu," lanjutnya.

Anila menyeringai tak percaya, senyumnya lebih mengembang lagi melihat tumpukan hadiah.

"Makasih, Kak. Makasih, Bu, bener-bener makasih semuanya... hadiah sebanyak ini dari siapa aja, Bu?"

"Dari kita, dan dari..." Ibunya menjawab dengan tersenyum menggoda.

"Sudahlah, kan ada namanya. Baca sendiri aja. Dadah" kakaknya melambai keluar kamar "Ayo bu kita keluar,"

"Kak... " Anila berteriak.

"Baca sendiri!" sahut kakaknya juga ikut berteriak.

Anila hanya menggeleng senang. Menatap setiap kado yang diberikan. Memilih beberapa kado yang akan dibukanya lebih dulu.

"'Wah, yang ini bagus yah," simpulnya. 

Anila melihat sebuah kotak dibungkus kertas kado berwarna emas. Di atasnya terdapat pita hijau yang ditalikan rapi. 

Anila membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah buku diary, seakan yang memberikan itu tahu, bahwa buku diary milik Anila telah habis beberapa waktu lalu. 

"Ini sangat indah," pujinya.

Buku dengan tebal 140 lembar halaman, bersampul warna biru langit malam. Ada sebuah gambar seorang lelaki. Berdiri menggunakan jaket di sebuah padang salju dengan rembulan di atasnya bertuliskan 'Mereya' pada sampul depan.

Dibelakang sampulnya bertuliskan 

'Setiap tulisan adalah mantra. Setiap mantra dapat membuat sebuah keajaiban.'

Anila merasa begitu heran ketika membalik dan membaca tulisan di belakangnya. Terdiam sejenak. Lantas, Ia berlari ke dapur. 

"Ibu, ini dari siapa?" tanyanya menunjukkan buku di tangannya.

Ibunya yang sedang memotong bumbu, mengamati sebentar kemudian hanya mengangkat bahu.

"Ibu, yang benar saja. Ini dari siapa?" tanya Anila lagi memastikan. 

"Benar, Ibu tidak tahu. Setahu Ibu tidak ada yang memberikanmu buku."

"Lah?" Anila semakin penasaran, dia berlari ke kamar kakaknya. 

"Kak ini dari kakak?," kembali mengangkat tangannya, menunjukkan buku itu.

"Bukan,"  jawab kakaknya singkat, melanjutkan menyisir rambutnya.

"Ayolah, Kak. Gak usah bohong deh, Ini ulang tahun Anila..." 

"Bohong bagaimana? Seisi rumah  aja Kakak semua yang bungkus kadonya, dan  memang gak ada yang ngasih kado kamu buku, Nay," - Anala berpikir sebentar - "Eh, gatau deng kalau Gata yang ngasih, soalnya semeja itu sebenernya yang ngasih kado kamu cuma, Aku, Ibu, Ayar, sama Gata doang. Hahaha...." 

"Oke" Anila pergi.

Anila bertekat menanyakannya pada Gata besok. Di sekolah.

* * 彡* *

Awan putih berjalan berdampingan di pagi yang cerah, pepohonan ikut berjalan bersamaan dengan laju motor Anila menuju ke sekolah. 

Gadis sederhana dengan pakaian rapi dan tas digendong lekat di punggung. Jilbabnya menjulur menutupi seluruh bagian tubuhnya. Anila bukan termasuk gadis yang cantik dan suka mengikuti perkembangan dunia modern seperti teman-temannya.

Dirinya adalah gadis yang periang. Namun, karena kejadian beberapa tahun lalu. Saat Anila terjatuh, pipinya terluka. Hal  itu menimbulkan bekas yang tidak bisa hilang.

Berbagai cara telah dicoba. Namun, hasilnya tetap nihil. Kini di pipinya terdapat sebuah keloid yang membuatnya nampak buruk di beberapa anak. Hingga, tidak ada yang mau lagi berteman dengannya di kelas.

Hari itu, sekolah masih sangat lenggang.

Anila selalu berangkat pagi-pagi sekali. Bahkan, lebih pagi sebelum satpam sekolah membuka pintu gerbang. Tidak perduli seberapa banyak masalah yang menimpa. Senyumnya selalu mewarnai isi dunia ketika pagi hari tiba. 

 Anila duduk sendirian menunggu petugas sekolah membuka gerbang masuk. Sudah lebih dari sepuluh menit Ia menyibukkan dirinya dengan bernyanyi-nyanyi sendiri. Namun, tidak juga gembok itu diberikan pasangannya. 

Krieet! 

"Nah, Alhamdulillah. Selamat pagi Pak Wan, kok tumben si lama banget buka pintu gerbangnya, biasanya kan jam enam-an udah dibuka," tanya Anila pada Pak Wandi, penjaga sekolahan. 

"Udah Anila, kamu ini. Udah besok kamu aja lah yang bawa kuncinya. Bapak tadi kesiangan. Semalam Bapak harus lembur keliling sekolahan buat jaga," jawab Pak Wandi membuka gerbang. 

"Hehe, maaf Pak... mari pak...,"

Anila berjalan menunduk melewati pak Wandi, lantas beranjak mencari kelas.

Sekolah cepat sekali ramai. Sedari tadi, Anila mencari Gata untuk menanyakan tentang buku itu. Sampai sekarang, dirinya tidak juga melihat tanda-tanda kedatangan Gata. 

Anila menunggu lama di taman sekolah.

Bayangkan! Anila menunggu dari gerbang belum dibuka, hingga bel kini berdering.

Jadwal pelajaran hari ini adalah olahraga. Sebuah pelajaran yang tidak terlalu penting tetapi sangat menyusahkan umat manusia.

Apalagi manusianya seperti Anila, Ia sangat membencinya, sebab tak ahli dalam bidang itu. Lebih baik dia disuruh menghafal 45 nama Kerajaan di Indonesia beserta Rajanya pun. Tidak apa-apa.

"Ayo anak-anak segera keluar," perintah pak Malik menyuruh siswa kelas Anila segera bergegas kelapangan.

Seluruh siswa sedang sibuk sendiri-sendiri berganti pakaian. Beberapa anak lain sudah bersemangat keluar lebih dulu.

"Ayo guys.... Gass ke lapangan voli," ajak Erika pada ke tiga temannya. Ilona, Maya, dan Dasha.

Mereka bergaya jumawa, sudah merasa anak orang kaya dan paling cantik di antara yang lainnya. Berjalan mendorong Anila dari bingkai pintu. Anila barusan datang dari kamar mandi mengganti baju.

"Minggir, Nenek reot!," ucap Erika.

Anila hanya menerima apa pun hinaan teman-temannya. Itu sudah biasa baginya.

Kelas sudah kosong. Tidak ada satupun anak di sana. Anila sudah mengantri sejak awal, tetapi selalu kalah, di marah oleh anak-anak lain. Jadi, tiba gilirannya yang paling terakhir. 

Anila yang menyadari dirinya telah tertinggal. Berlari terburu-buru memasuki gerbang aula lapangan voli.

Semua anak telah siap dengan kelompoknya masing-masing. Seketika semuanya tiba-tiba hening, menatap Anila yang datang terlambat.

"Kenapa kok bisa terlambat Anila?," tanya pak Malik.

"Maaf pak tadi saya..."

"Sudah tidak perlu dijelaskan. Tadinya seperti biasa, ketua kelaslah yang mengambil bola. Berhubung hari ini kamu terlambat, jadi satu bulan ke depan kamu yang akan membawa semua bola dan peralatan untuk jam olahraga. Termasuk hari ini. Ambil semua peralatan voli sekarang di gudang!" bentak Pak Malik. 

Anila menunduk.

Related chapters

  • ANILA - Kutukan Angin   Eps 2. Buku

    Anila tidak menjawab pertanyaan Pak Malik, dirinya hanya terdiam menunduk. Erika dan teman-temannya menyeringai senang. "Lihatlah si Nenek reot itu, bukankah bodoh sekali dia?" ucap Erika tertawa sinis diikutitawa teman-temannya. Anila mulai melangkah pergi. "Oh iya, jangan lupa bawa kan bola kesayangan bapak di atas meja guru!" Anila berbalik sebentar, pandangannya tetap menunduk."Dan satu lagi, Anila, tidak boleh ada yang membantu. Kamu harus membawa semua itu sendiri karena ini adalah hukuman," tambah Pak Malik. Anila hanya mengangguk mengiyakan. Kakinya berjalan menuju ke gudang sekolah, pikirannya berkecamuk "Mengapa aku dihukum? Padahal aku hanya telat beberapa menit. Sedang kemarin, Erika dan teman-temannya bahkan membolos untuk tidak mengikuti pelajaran olahraga tetapi mereka?" Muka Anila tampak sedih, "Ah sudahlah" Ia menangkis pikiran buruknya."Sadar diri saja Anila, kau ini siapa

    Last Updated : 2021-08-31
  • ANILA - Kutukan Angin   Eps 3. Gata

    Anak-anak berlarian keluar kelas, bel sekolah berdering tiga kali. Menandakan istirahat telah tiba. Ibu guru mengakhiri penjelasannya. Menutup buku, membawanya pergi kembali ke kantor. "Yee... Istirahat..." Anak-anak berkejaran menuju kantin sekolah. Beberapa yang lain besiap untuk makan bekalnya. "Hey Stevanus! Bawa sini loh," teriak Ilona, salah satu teman Erika. Ia mengejar sebuah barang yang dibawa lari Stevanus. "Bawa sini, jangan dibawa keluar," Stevanus malah langsung membawanya keluar. "Ini.... Ambil aja, cepet," ujar Stevanus. "Stevanus!" Ilona kembali berkejaran di teras sekolah, berteriak-teriak memperingatkan Stevanus yang tetap tak hirau. Berbolak-balik sedari tadi. "Stevanus, bawa sini! Kembalikan," kata Ilona tidak memperhatikan arah larinya. Tak beberapa lama, mereka berkejaran.Kaki Ilona tersandung kotak sampah besi.Ilona terjatuh, giginya me

    Last Updated : 2021-08-31
  • ANILA - Kutukan Angin   Eps 4. Menembus

    Telah menjadi kebiasaan Anila mencurahkan semua keluh-kesahnya pada sebuah buku. Bukan karena tidak percaya pada orang lain, tetapi memang orang lain lah yang enggan membagi telinganya untuk mendengarkan Anila.Telinga terbaiknya kini telah pergi. Satu-satunya orang yang berbaik hati menyumbangkan seluruh panca indranya hanya untuknya. ~•~ [GATA] Anila mulai menulis sebuah puisi di buku diary aneh, yang tiba di kamarnya kemarin. [Setega itu dirimu hadir,dan setega itu pula dirimu menyingkir.] Tangannya masih terus menggores tinta, bahkan tinta dari matanya pun ikut keluar. [Bersuka ria kita hardik waktu bersama-samabisa-bisanya kau pergi hanya sebab ku pinta.] Otaknya mulai berantakan. Tidak mau berhenti memikirkan kejahatannya tidak mendengarkan penjelasan Gata kemarin. [Bukankah kamu temanku?atau dirimu sama seperti mereka yang hanya mema

    Last Updated : 2021-08-31
  • ANILA - Kutukan Angin   Eps 5. Penjelasan

    Mereka membawa Anila pergi ke sebuah rumah. Rumah itu dibangun atas susunan beberapa buku sebagai batanya. Atapnya juga buku yang dibuka, beberapa tali penanda buku pada batanya keluar rumah.Ada sebuah teras kecil dari kayu dan tingkat kecil dari buku-buku kecil. Seorang wanita tua duduk di halaman rumah. Ia sedang membaca buku. Di hadapannya terdapat meja dengan tumpukan buku yang tingginya sekitar satu meter. Anila lagi-lagi dibuat heran dan takjub, yang dia tahu buku, ya hanya buku diary. Anila tidak pernah menyangka ada alam yang benar-benar menjaga buku. "Nenek," sapa kedua anak kembar itu. "Oh cucuku, kemarilah, Nak," hatur sang Nenek tua yang kulitnya telah keriput dan rambutnya yang panjang telah memutih. Anila melangkah."Siapa yang bersama kalian?," tanya sang nenek. "Maafkan kami nek," ujar salah satu dari mereka. "Ada apa, Cucuku?" "Semua ini salah Takbaku, Nek," tuduh salah sa

    Last Updated : 2021-08-31
  • ANILA - Kutukan Angin   Eps 6. Comeback

    Terpaksa malam itu, anila harus makan dua kali. Walaupun, perutnya benar-benar menolak. Tetap saja dia harus makan. Akibatnya, selama 12 tahun dia bersekolah. Pagi ini Anila mencetak rekor pertamanya terlambat datang ke sekolah. "Hey, Anila kok bisa terlambat, biasanya kan jam enaman udah minta dibuka,–" tanya Pak Wandi "–Apa semalam kamu harus lembur juga keliling sekolahan gantiin bapak buat jaga? Hahaha," goda Pak Wandi terpaksa membuka ulang gerbang. Anila terburu-buru hanya menaikkan dagunya cemberut. Lantas berlari menuju kelas. * * 彡* * Hari ini diadakan ulangan harian. Anila yang menduduki absen termasuk abjad atas, membuatnya pindah menjadi barisan bangku paling depan. Kemarin lusa, Bu Guru meminta agar duduknya disusun menurut absen. Hari-hari Anila kini tampak sangat berat serta sulit tanpa kehadiran Gat

    Last Updated : 2021-09-05
  • ANILA - Kutukan Angin   Eps 7. Benih Ditanam

    Anila kembali datang ke sekolah pagi ini dengan ceria, kemarin Baku dan Takbaku telah membuatnya berkeliling alam buku, melupakan beberapa masalahnya. Anila berjalan santai, hendak masuk ke dalam kelas. "Heh, Nenek reot, baca tuh tulisan di mading. Semoga nggak kena mental ya..." kata Erika yang dengan sengaja menabrak pundak Anila, menatap Anila sinis. Anila masih tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Erika barusan. Dia langsung saja bergegas berdiri di hadapan sebuah papan majalah dinding sekolah. "Lomba video content creator bersama ayah ini wajib diikuti oleh seluruh siswa kelas 12 sebagai syarat kelulusan." Anila melongo, mengerutkan dahinya, tidak menyangka ada sebuah kewajiban gila. "Ini pasti ulah Erika, mentang-mentang Ayahnya kepala sekolah, terus bisa seenaknya," batin Anila menarik dagunya ke atas. Anila masih terpaku di hadapan papan, membaca, memastikan tulisan di hadapannya itu ada dispensasi untuk tidak ikut.

    Last Updated : 2021-09-11
  • ANILA - Kutukan Angin   Eps 8. Akarnya Tumbuh

    Seperti biasa, sebelum berangkat ke sekolah Anila, Ayar dan Anala duduk rapi tinggal menyantap sarapan di meja makan. Anila masih merasa sedikit sebal atas jawaban Ibunya kemarin, tetapi sifat ibunya sudah kembali normal. Bagaimanapun dan se-benci apapun seorang Ibu kepada anaknya, rasa sayangnya akan melebihi itu semua. Ayar berpamitan berangkat sekolah lebih dulu, karena temannya sudah menunggunya sejak awal dia sarapan, sehingga makan pun dia terburu-buru. Anala sudah tidak bersekolah, santai. Anala berhenti bersekolah sejak SMP. Namun, baginya sekolah itu tidak penting, yang penting adalah mampu memiliki pengalaman. Jadi, Dia berpikir memutuskan untuk mencari pengalaman dalam hidup daripada terpaku urusan sekolah. Prinsipnya tidak melulu benar, begitu juga dengan sikapnya. Sikapnya yang terkesan egois namun memikirkan orang lain setelahnya.Seringkali dia merasa bahwa dirinya selalu benar dan mengerti segalanya.Sudah sejak lama Anila sudah

    Last Updated : 2021-09-14
  • ANILA - Kutukan Angin   Eps 9. Tunas Kecil

    Anila tidak hirau. "Ayo Ayar! Kita pergi aja dari sini, tidak usah bantu, tidak usah panggil, tidak usah bicara, pada orang yang bukan lagi siapa-siapa." Anila menggeret tangan Ayar dan pergi dari kamar kakaknya. Anala memang seperti itu, sering berkata tanpa berpikir lebih dahulu. Perkataannya kerap kali melukai hati orang yang mendengarkan, tetapi itu menurutnya hal biasa. Karena itu hanya sebuah perkataan 'doang'. Seringkali, setelah Anala menyadari bahwa dirinya lumayan salah. Iya, lumayan. Anala tidak pernah menyadari bahwa dirinya benar-benar salah. Mungkin dia hanya memulai untuk bicara, tetapi tidak untuk meminta maaf. Entah apa yang terjadi atas perbedaan sikap mereka bertiga, kadang-kadang mereka sangat akrab. Terkadang ya seperti itu, berantem tanpa hirau satu sama lain, wajah dan kepribadian mereka bertiga sangat berbeda. Mereka saudara, tetapi Anila merasa aneh. Hatinya selalu merasakan kesedihan yang luar biasa ketika adikn

    Last Updated : 2021-09-14

Latest chapter

  • ANILA - Kutukan Angin   -`, Menemukan Cara || 70࿐

    Aurora tidak pernah main-main dengan apa yang ia hendak lakukan. Malam itu juga, setelah kepergian Ratu Neoma dia langsung terbang menuju kota buku. Tempat di mana kerajaan Ratu Angin berada.Dahulu dia pernah dibesarkan di kota itu. Rumah-rumah buku, tanaman penghasil pengetahuan dan sungai aliran yang melukis keindahan alam penuh kecerdasan itu. Aurora jelas menyukai tinggal di sana penuh ramai, daripada Istana megahnya yang tetap membuatnya kesepian.“Guk! Guk!”Seekor anjing yang berjalan bersama Aurora menggonggong.“Diamlah, Ed. Ini tengah malam. Jangan membangunkan mereka. Kita akan mengunjungi keluargamu.” Aurora berjongkok, mengelus kepala Anjing bernama Ed. Anjing itu seakan mengerti dan bergonggong kecil. Kemudian kembali berjalan mengikuti tali pada leher yang ditariknya.Aurora dan anjingnya berhenti pada sebuah lubang besar. Seperti sebuah kanal, namun di dalamnya tidak terdapat air. Itu adalah tempat kematian terburuk di alam buku.“Kau berasal dari sana. Aku menghidupk

  • ANILA - Kutukan Angin   -`, Bersekutu || 69࿐

    “Ini milikku?”“Buku itulah yang membuat kami yakin Anila adalah seseorang yang tepat untuk memimpin alam buku. Mungkin dari buku itu juga kita bisa mencari jalan keluar untuk membebaskan Anila.”“Dari mana kalian mendapatkannya?”“Aku menemukannya di dekat tubuh manusia egois itu saat terluka.”Mereya dengan perlahan dan teramat hati-hati mencoba menyentuhnya. Begitu jemari indah itu bersentuhan. Seketika saja ribuan saraf ingatan lampau milik mereya kembali hidup. Cepat sekali seperti gulungan kaset yan tersusun rapi. Mereya melihat jelas gambaran seorang pria dan wanita mengenakan seragam sekolah, mengambilkan bola. Gambaran seorang gadis tersenyum kepadanya. Gambaran pria dan wanita itu, duduk bercerita, pulang bersama. Semuanya melintas cepat."Hah!” Mata Mereya membelalak.“Apakah laki-laki itu aku?” gumamnya, meyakinkan jika seseorang yang dilihatnya tadi benar-benar dirinya sendiri.“Ada apa pangeran apakah ada cara menyelamatkannya?”“Siapa gadis itu sebenarnya? Jika dia manu

  • ANILA - Kutukan Angin   -`, Buku Diary Perjodohan || 68࿐

    “TIDAK!!!”Halw memekik. Tangannya terulur, namun dia tidak bisa kembali keluar dari tabir itu dan membuat segala rencana juga pengorbanan sia-sia.Suara lencana jatuh menggelinding di lantai, menyadarkannya bahwa dia harus bergerak cepat sebelum ratu datang.Dengan napas tersengal, Halw mendekati Pangeran mereya yang terbaring. Memasangkan Lencana itu pada dada Pangeran.“Sadarlah Pangeran, Sadarlah!! Aku mohon cepat sadarlah sahabatku! Cepat!”buru Halw tidak sabar. Keringat dingin membasahi wajah dan rambut panjangnya yang diikat rapi dalam wujud manusia biasa.Ribuan cahaya berburu menuju ke saraf otak pangeran.Tabir gaib telah dihancurkan. Ratu mendarat di balkon penuh amarah.“Kau terlambat!”“Halw telah menghianati kerajaan. Meski pakaiannya biasa, dia telah menipu ratu di kawasan istana.”“Arrghh! Hentikan!!” Jutaan sel-sel yang membentuk manusia milik halw berkelit pada tubuhnya, seakan menyayat-nyayat organ dalam miliknya. Sangat sakit.Gadis malang itu terus mengerang kesaki

  • ANILA - Kutukan Angin   -`, Aksi Team || 67࿐

    Halw menoleh pada Aldrich, indranya langsung aktif menyimak.“Ya, aku tidak berbohong. Kita masih punya harapan. Tania sempat menguping pembicaraan saat keluar mengantarakan makanan, dia mendengar bahwa pangeran akan kembali sadar jika lencana itu dikembalikan.”Layaknya lentera yang baru saja diisi minyak, mata halw kembali penuh akan harapan.“Apa selanjutnya?”“Tania akan membantu kita. Bangunlah Makhlor! Ada tugas penting untukmu! Kita harus bersiap untuk hari esok!”Aldrich berdiri, menampar tubuh makhlor tanpa dosa. Senyumnya tidak berhenti merekah.“Kerja bagus, Al.” Halw langsung menghambur memeluk tubuh Aldrich erat, “Aku tahu sejak awal. Kau bukan sekadar manusia. Di mataku kau selalu luar biasa,” puji Halw dengan amat bahagia.Aldrich canggung sendiri. Ingin membalas pelukan itu atau tidak sama-sama takut disalahartikan.“Ayo, Makhlor. Aku akan siapkan makanan untuk kalian.”Halw beranjak lebih dulu meninggalkan laboratorium.“Sejak kapan kucing bisa memasak?”“Miawww!!”Aldr

  • ANILA - Kutukan Angin   -`, Harapan Terakhir || 66࿐

    Setelah usai mempersiapkan penyamarannya, Alrich kembali menuju istana, dengan idenya yang banyak, juga pengalamannya selama ini. Tidak sulit baginya mengelabui keluarga kerajaan juga para prajurit. Ia berhasil lolos beberapa tes keabsahan, sempat khawatir di beberapa tes, namun dia sudah belajar banyak kemampuan dari Halw, yang latihannya tidak jauh berbeda dari latihan para prajurit asli karena Halw memang panglimanya.Dengan seragam lengkap dan penutup kepala khusus; lambang kerajaan lunar. Aldrich mengikuti deretan prajurit yang mendapatkan tugas mengamankan sidang.“Apakah wanita itu sungguh akan disidang hari ini? Dari bukti yang sudah aku bantu kumpulkan, seharusnya, pelaku mendapatkan hukuman keji atas perbuatannya,” batin Aldrich sambil terus berarakan, berbaris mengitari area persidangan.Pada jalan utama, Al meninjau sekilas, cermat, wanita yang ditolongnya kemarin.Suara wasit sidang terdengar nyaring membuka acara, semua orang yang bersangkutan juga bukti yang diperlukan

  • ANILA - Kutukan Angin   -`, Team Penyelamatan || 65࿐

    Arak-arakkan prajurit mulai menghambur ke seluruh Kerajaan Lunar. Buku-buku informasi, juga koran-koran kabar menginformasikan tentang gagalnya pertunangan pangeran pun pencarian seorang pencuri lencana, terserta foto Aldrich pada beritanya. “Siapa pun yang bertemu dengan pencuri lencana itu, kemudian menangkap dan menyerahkannya pada kerajaan Lunar. Maka mereka akan diberikan imbalan yang besar!” “Ayo! Ayo!” Gemuruh bisik-bisik riuh terdengar ketika pengumuman dan penggeledahan Aldrich terus berlanjut. Dua orang pemuda menghadang gerombolan prajurit. “Jangan menghalangi jalan kami! Pergi dari sana! Katakan apa keperluan kalian!” teriak ketua prajurit pencarian. “Kami tahu di mana manusia itu.” Prajurit lain menyambangi ketua, membisikkan beberapa kata, kemudian kembali pada tempatnya. “Kami tidak mempercayai kalian. Kalian adalah mantan prajurit penjaga malam kerajaan bukan, kalian berdua dikeluarkan atas tuduhan pelecehan seksual. Jangan harap kalian bisa merayu kami dengan info

  • ANILA - Kutukan Angin   -`, Penangkapan Aldrich || 64࿐

    Halw kemudian kembali mengubah wujudnya sebagai seorang gadis. Aldrich terkejut, namun hati dan wajahnya sedang tidak memiliki sisi lain. Hanya wujud datar itu yang ia tampilkan. Sebuah senyuman setidaknya dia berhasil mengalihkan perhatian Aldrich dari melukai dirinya sendiri. “Halw? ... Manis?” “Benar. Kemarikan tanganmu.” Halw menarik lengan baju Al, melakukan hal sama. “Aku tahu ini sakit sekali,” sambung Halw yang terus bermonolog tanpa jawaban dari Aldrich. “Tidak seberapa,” jawab Aldrich singkat. Dengan lihai tangan lentik itu merawat luka, cekatan tanpa takut. “Aw!” “Duh, sakit?” Aldrich menatap Halw sejenak. Laki-laki itu menggeleng. “Boleh aku meminta sesuatu?” Dahi Halw berkerut, menandakan jika ia ingin mengetahuinya meski tanpa menjawab. “Apa kau bisa mengobati luka dalamku juga? Itu terasa lebih menyakitkan daripada yang coba kau obati,” ungkap Aldich. Halw seketika terdiam, melihat sejenak Anila yang tertawa bersama Pangeran Mereya. Betapa beruntungnya menjad

  • ANILA - Kutukan Angin   -`, Menyadarkan Pangeran || 63࿐

    Aurora masih berusaha menyadarkan dirinya dan meyakinkan bahwa yang dilihatnya itu benar-benar terjadi. Pangeran Mereya menghentikan tindakan Aldrich dengan menyambar tangan Anila. Saat kedua kulit itu bersentuhan, sebuah cahaya timbul dan bunga-bunga sakura hitam jatuh berguguran di sekitar. Tak berselang lama dari sentuh sejenak itu, akhirnya Anila dapat membuka mata dengan sempurna. Gadis itu terkejut. Berusaha sesegera mungkin memahami situasi. Tubuhnya terasa memilih dengan cepat. Sentuhan singkat tadi meningkatkan kekuatan keduanya. Anila melepas genggaman Aldrich. Matanya berkaca-kaca dan berlari memeluk Pangeran dengan erat. “Gata, selama ini aku mencarimu ....” Gadis itu mendadak menangis. “Kau kemana saja, Gata? Apakah kamu tidak tahu betapa kesepiannya aku tanpa dirimu? Betapa hampanya segala kehidupanku, sekolahku dan aku tidak peduli, tidak membutuhkan semua itu jika tanpa dirimu. Kemana saja kamu selama ini, hah? Kemana saja, Gata? Jawab aku. Huft, huft!” Air mat

  • ANILA - Kutukan Angin   -`, Mengingat Masalalu || 64࿐

    "Bagus, Sayangku! Berikan!” Tangan Aurora terulur memberikan guci transparan itu pada sang ratu. “Lepaskan dia Aurora!” Ini pertama kalinya markhlor berseru sekencang itu. Seluruh yang hadir pada ruang pertemuan menutup telinga, bangunan megah itu bergetar. Putri pemilik kekuatan salju itu menoleh. Matanya dengan pahit menatap Markhlor penuh ambisi. “Kenapa?” “Sekali lagi ... anggap ini permintaan, jangan berikan guci itu pada Ratu.” Markhlor merendahkan suaranya. "Jadi kau peduli pada guci ini? Atau sesuatu yang berada di dalamnya?” “Aurora, tolong ....” “Kenapa aku harus menolongmu, bahkan jika itu untuk permintaan terakhir, aku bahkan tidak peduli. Bukankah demikian yang kau lakukan kepadaku empat belas tahun yang lalu?” “Situasinya berbeda Aurora, kamu harus memahami hal itu.” “Apa? Paham? Kenapa aku harus selalu memahami semua orang, sedang tidak ada yang mau berusaha memahamiku?” “Kau tidak bisa menikah dengannya Aurora, untuk apa kau mencoba menyakiti nyawa yang tida

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status