Share

12. Wanita Penggoda

Author: bunnylovely
last update Last Updated: 2021-11-04 00:03:31
‘Bajingan! Kalian benar-benar ingin mengibarkan bendera perang denganku!’ Geram Cherry seraya melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar yang ia yakini sebagai kamar dari tante Alice. Tak perlu buta arah, bahkan Cherry terlalu paham dengan tata ruang rumah ini.

Cherry menghela nafasnya sejenak sebelum memegang knop pintu. Mencoba bersikap tenang meskipun pikirannya berkecamuk kemana-mana.

Wanita muda itu berdecih ketika mendapati pemandangan apa yang terpampang nyata dihadapannya. Bertepatan dengan pintu terbuka lebar, bertepatan dengan itulah kedua orang yang begitu hanyut dalam ciuman panas pun mulai melepaskan diri masing-masing.

"C-Cherry?" pekik Alice saat ia melihat keponakan sekaligus saingan beratnya itu tengah berada di depan kamar sembari menatap jijik ke arahnya.

"Oh, apa aku menganggu waktu panas kalian?" Tanya Cherry sembari melipatkan kedua tangannya di depan dada. Bersandar pada daun pintu, wanita itu terlihat tenang. Namun dapat dilihat dengan jelas jika matanya mengkila
Locked Chapter
Continue Reading on GoodNovel
Scan code to download App

Related chapters

  • 200 Hari Menjerat Pebinor   13. Tak Ingin Menyerah

    "Sudah cukup, kau bisa tumbang jika tak berhenti minum!" seru seorang pria tampan yang kini tampak merasa heran melihat sahabat wanitanya itu tak bisa berhenti menuangkan wine ke dalam gelasnya.Cherry menggelengkan kepalanya, lalu mencoba meraih botol wine yang dirampas begitu saja oleh Jack. "Tidak! Aku masih belum puas, berikan padaku Jack!" seru Cherry yang sedikit terhuyung karena wanita memang sudah setengah mabuk. Jika Jack tidak cekatan menangkapnya mungkin Cherry sudah berakhir memalukan di lantai kelab. Jack benar-benar kebingungan melihat sahabatnya itu seperti ini. Biasanya Cherry hanya akan mabuk ketika dirinya sedang dalam kondisi hati yang sangat buruk. "Katakan padaku apa yang membuatmu hingga seperti ini, Cherry Naomi?" ujar Jack setelah membantu Cherry duduk dengan benar kembali. Gadis cantik itu tampak terkekeh kecil. Matanya sudah terasa cukup berat untuk terbuka, kepalanya juga mulai berdenyut nyeri karena 2 botol wine yang ia teguk malam ini. "Hanya masalah

    Last Updated : 2021-11-21
  • 200 Hari Menjerat Pebinor   14. Biar Aku Saja Yang Menggantikanmu

    Sesuai apa yang pria berahang tegas itu katakan, jika dirinya yang akan mengembalikan mobil milik tunangannya itu sendiri. Terbukti saat ini ia sudah berada di halaman mansion mewah yang sudah cukup lama tak Jenaro kunjungi itu. Setelah Jenaro turun ia sudah disambut oleh seorang pelayan. "Di mana Cherry Naomi?" ujar Jenaro tanpa berbasa-basi setelah pelayan itu menunduk hormat padanya. "Nona Cherry ada di kamarnya, Tuan. Nona baru saja datang bersama Tuan Jack," ujar pelayan itu yang entah kenapa membuat Jenaro mengurungkan niatnya menghubungi Jemian untuk menjemputnya. Pria itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana kainnya. “Apa sejak semalam dia tidak pulang?” ujar Jenaro tiba-tiba saja. Enah mengapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir tipisnya yang memiliki tahi lalat di bawah bibir merah mudanya itu. Pelayan itu pun menggelengkan kepalanya.“Tidak, Tuan. Nona baru saja pulang beberapa saat yang lalu sejak semalam.” Mendengar jawaban itu entah mengapa d

    Last Updated : 2021-11-26
  • 200 Hari Menjerat Pebinor   15. Dan Aku Tunanganmu, Cherry!

    Cherry sangat terkejut dengan kedatangan Jenaro yang begitu tiba-tiba itu baginya. Wanita itu meneguk salivanya susah payah. Sejak kapan pria itu sudah ada di sana dan mengawasinya? Apakah ia mendengar semua pembicaraannya bersama Valerie yang begitu banyak mengumpati pria itu? Tapi memang pria macam Jenaro cocok untuk diumpati, sih.Namun bukan hanya itu yang menjadi rasa penasaran Cherry. Tapi bagaimana Jenaro bisa mengetahui kamarnya ada di lantai berapa. "Bagaimana kau bisa tahu di mana letak kamarku?" ujar Cherry dengan waut wajah yang terkesan datar. Tak seperti Cherry biasanya yang langsung memberikan senyum manisnya pada Jenaro di saat mereka tengah bertemu.Wanita itu mencoba membatasi dirinya saat ini, meskipun tak bisa dipungkiri betapa senangnya wanita itu ketika pria yang dikaguminya itu berkunjung ke kamarnya. Dan ini adalah pertama kalinya. Jenaro tampak menarik sudut bibirnya."Apa itu penting saat ini?" "Tentu saja, kau harus izin dulu padaku." Balas Cherry dengan c

    Last Updated : 2021-11-28
  • 200 Hari Menjerat Pebinor   16. Masih Sepuluh Persen

    Hari sudah cukup larut, namun tampaknya Cherry Naomi belum bisa terlelap dengan benar malam ini. Bagaimana bisa ia bisa tertidur lelap jika saat ini jantung tak henti-hentinya berdebar keras karena ulah seseorang yang kini tengah mendekapnya dengan erat. Pria itu, si beruang kutubnya tengah memeluknya saat ini. Meminjam pakaian rumahan milik sang calon mertua, Jenaro benar-benar membuktikan ucapannya dengan menginap di rumah tunangannya itu bahkan tidur di kamar wanita yang kerap kali membuatnya kesal itu. Mereka benar-benar tidur bersama dalam artian saling memejamkan mata, bukan tidur dengan berbagi peluh dan menghabiskan malam panas bersama. Jenaro tampak tenang memejamkan matanya, berbeda dengan Cherry yang sedari tadi tampak gelisah dalam dekapan pria itu. Cherry sama sekali tak membayangkan malam yang seperti ini akan hadir dalam hidupnya. Mengingat bagaimana sensitifnya pria itu saat bertemu dengannya. "Jey?" ucap Cherry berujar lirih. Sedikit mengigit bibir bawahnya sedikit

    Last Updated : 2021-11-30
  • 200 Hari Menjerat Pebinor   17. Jangan Kesal Lagi

    “Bangunlah pemalas!” ujar seorang pria yang kini sudah terlihat rapi dengan balutan jas mahalnya. Pria itu tampak menggerang kesal ketika tahu jika nyatanya tunangan ini sangat sulit sekali untuk bangun pagi. Ini sudah ke sepuluh kalinya Jenaro mencoba membangunkan Cherry. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Yang artinya satu jam lagi ia sudah harus berangkat ke kantor. Hari ini ada rapat yang harus di undur karena ulah tunangannya yang tidak hadir kemarin. Akhirnya perjuangan Jenaro membuahkan hasil, wanita itu mulai membuka matanya. “Morning,” sapa seorang wanita dengan cengiran lebarnya. Ia masih tidak menyangka jika paginya akan seindah ini. Pemandangan terindah pertama kali dalam hidup Cherry ketika ia bangun tidur. Oh, apakah Cherry sudah mengakui jika dirinya terjebak dalam pesona Jenaro begitu dalam? Sepertinya memang begitu, mengingat betapa keras kepalanya ia untuk mendapatkan hati kulkas dua pintunya ini. “Berhentilah memasang senyum konyolmu itu, Cherry. Dan cepatlah

    Last Updated : 2021-12-27
  • 200 Hari Menjerat Pebinor   18. Do You Love Him?

    Sejak masuk keluar ruangan rapat, Cherry tak bisa menyembunyikan senyum senang di wajah cantiknya itu. Dengan deretan gigi kelinci dan pipi tembam bulat gadis itu menambah kadar kecantikannya berkali-kali lipat. Ia tampak senang saat ini, bahkan senyum konyolnya masih berlanjut ketika sampai di ruangan tunangan itu. "Bisakah kau berhenti memandangku seperti itu? Kau terlihat bodoh," ucap Jenaro yang merasa risih karena Cherry terus mengekornya sejak tadi. Bahkan gadis itu tak henti-hentinya memandangi dirinya. Jenaro tahu jika dirinya tampan luar biasa, namun bisakah gadis itu tak menatapnya seperti itu. Bahkan ia harus fokus pada pekerjaannya saat ini. Cherry mengerucutkan bibirnya ketika Jenaro kembali mengatainya lagi. Bagaimana pria ini tampannya bagai dewa, tapi mulutnya pedas seperti samyang? Cherry mendengus, ia bukan tipe penyabar. Namun jika itu Jenaro, bisa dibicarakan baik-baik, sih. "Bagaimana menurutmu, Jey?" ujar Cherry sembari mencondongkan tubuhnya yang saat ini t

    Last Updated : 2021-12-31
  • 200 Hari Menjerat Pebinor   19. Pembalap Baru

    Cherry Naomi, gadis itu beberapa kali mengeluarkan umpatan ketika lagi-lagi panggilannya tak ada jawaban dari seseorang yang rasanya ingin ia cekik malam ini. Cherry sudah datang sejak 20 menit yang lalu di arena balap, namun ia tak melihat adanya Jemian di sana. Sebenarnya ketika berada di area balap ini Cherry sangat bergantung pada Jemian. Bisa dikatakan jika pria itu adalah teman satu-satunya yang Cherry punya di sini. Cherry adalah tipe orang yang tak suka bergaul dengan banyak orang. Hanya orang-orang yang bisa dipercaya yang bisa dekat dengannya. “Yak! Kau di mana, sialan!” umpat Cherry dengan nada tingginya setelah panggilan kelimanya diangkat oleh seorang pria di seberang sana. “Sweetie, maafkan aku.Aku ingin benar-benar ingin datang. Tapi pria dinginmu itu nyaris membuatku gila malam ini!” pekik Jemian terdengar frustasi di telinga Cherry. Sontak rasa marah Cherry, berganti menjadi heran ketika pria kulkasnya disebut dalam pembicaraan mereka. “Ada apa dengan Jenaro?” “P

    Last Updated : 2022-01-13
  • 200 Hari Menjerat Pebinor   20. Her Ex Boyfriend

    Cherry terkejut bukan main melihat dengan jelas, siapa di balik kemudi yang menantangnya itu. Ia masih sangat tak percaya jika seseorang yang sudah beberapa tahun tak ia temui itu kini berdiri dengan senyum kotaknya ke arahnya. "D-Deon?" ujar Cherry sedikit terbata-bata. Pria dengan rahang tegas dan bahu lebar terlihat kokoh itupun tersenyum lebar. "Long time no see, Sweetheart.” Balasnya dengan senyum mengembang yang tak bisa lepas dari wajah rupawannya. Bahkan kini pria itu hanya menggunaka kaos berwarna hitam bermerek ‘Celine’ dan celana pendek berwarna army. Namun dengan pakaian casualnya itu tak mengurangi wajah tampannya sama sekali. Cherry berdecak mendengarnya, ngomong-ngomong ia selalu menyukai panggilan manis yang pria itu sematkan padanya. Pria dengan rambut hitam sedikit acak itu memasang wajah murungnya, melihat respon Cherry yang menatapnya kesal. Oh, bahkan ia sangat rindu dengan gadisnya ini. "Kenapa kau masih saja diam, sayang? Tak rindu pada mantan kekasihmu ini

    Last Updated : 2022-01-16

Latest chapter

  • 200 Hari Menjerat Pebinor   37. Unchanged [END]

    "Aku bisa memesan taksi online, ataupun meminta jemput pada supir. Kenapa kau harus repot–repot untuk mengantarku, Jey? Kau sudah sangat terlambat," ujar wanita manis itu sembari memasang sabuk pengamannya.Raut wajah Cherry justru terlihat lebih panik daripada Jenaro. Bahkan wanita itu langsung melompat turun dari pangkuan sang tunangan saat mendengar pekikan suara Jemian dari dalam ponsel Jenaro.Ia dapat mendengar jelas, karena memang Jemian memekik kencang sekali. Pria itu terdengar marah lantaran ada pertemuan pentin bernilai jutaan dollar yang harus Jenaro hadiri, namun pria itu justru belum sampai di kantornya.Cherry sudah menawarkan diri untuk tidak diantar pulang oleh Jenaro, karena jarak Arosoft dan rumahnya cukup memakan waktu sekitar 15 menit. Namun siapa sangka, jika pria ini dengan sangat keras kepala tetap ingin mengantarnya untuk pulang. "Kau ingin aku di cap sebagai tunangan yang jahat?" ujar Jenaro tanpa menatap ke arah Cherry. Matanya yang tajam dan rahangnya yang

  • 200 Hari Menjerat Pebinor   36. JANGAN PROTES

    "Ganti bajumu," ujarnya pertama kali, yang bukannya segera mengiyakan ajakan Cherry karena mengejar waktu, namun pria tampan itu justru tampak tak suka dengan pilihan baju yang ia gunakan. "What? Memangnya ada apa dengan baju ini?" sahut wanita itu yang begitu terkejut. Rahang Jenaro tampak menggeras."Celanamu terlalu pendek, Cherry Naomi!" ujarnya dengan tajam, bahkan tatapan dinginnya begitu kentara. Mendesah kesal, lantas Cherry membalas, "Tapi kau bilang aku bebas memilih sesuai seleraku!" ujarnya tak mau kalah. Oh, ayolah! Pakaian casual dan nyaman seperti ini adalah seleranya. Bukan Jenaro Rafandra namanya jika ia mengalah begitu saja. "Cepat ganti atau aku akan menguncimu di sini?" balas pria itu dengan tegas, membuat wanita sukses merosotkan rahangnya. Tak ingin berdebat, mau tak mau ia menuruti apa yang pria itu katakan. Membalik tubuhnya dengan jengkel, dan kembali menuju walk in closet pria itu. Hampir empat puluh menit waktu berlalu, namun apa yang terjadi? Sama! Pr

  • 200 Hari Menjerat Pebinor   35. Trippin' Over Butterflies

    "Apakah milik Tante Alice?" Saat ini degup jantung Cherry berdetak sangat cepat, ia berusaha mengendalikan dirinya apabila memang jawaban pria itu akan kembali melukai hatinya. Seharusnya ia tak perlu bertanya bukan? Karena jawaban pria itu sudah pasti, jika pakaian wanita yang ada di walk in closetnya adalah milik Tante Alice, kekasihnya. "Ia bahkan tidak tahu bahwa aku pemilik penthouse ini," ujar Jenaro tampak tenang saat mengatakannya. Berbeda dengan Cherry yang menatapnya seakan tak percaya. "Tidak mungkin!" Bantah wanita cantik itu dengan cepat. "M-Maksudku, kalian sudah berpacaran lama, tidak mungkin jika Tante Alice tak mengetahui tempat ini!""Kau wanita pertama yang ku ajak ke sini, Cherry Naomi." Balas Jenaro tampak datar dan tak merasa terganggu, jelas sekali jika pria ini memang tak berbohong sama sekali. "What?" Pungkas Cherry sembari merosotkan rahangnya. Di sela-sela rasa terkejutnya dalam hati wanita itu ia tersenyum lebar. Ada perasaan lega yang luar biasa saat m

  • 200 Hari Menjerat Pebinor   34. Raspberry Pancake

    Sinar mentari yang cukup terang membuat seseorang terbangun mengerjap dari tidur nyenyaknya. Jenaro Rafandra, pria itu tampak terbangun lebih dulu. Mengerjapkan matanya perlahan hingga menemukan seorang wanita yang masih tampak lelap menyelami mimpinya.Seulas senyum tak dapat ia tahan manakala melihat wajah cantik itu meskipun dalam keadaan memejamkan mata dan wajah dengan sia-sia riasannya. Benar, mana mungkin Cherry Naomi sempat membersihkan riasannya karena semalam wanita itu langsung terlelap setelah dua ronde percintaan mereka. Tangan Jenaro terulur, menyelipkan anak-anak rambut yang sedikit menutupi paras ayu itu. Senyumnya tak bisa pudar manakala mengingat bahwa ia adalah pria yang pertama untuk wanita ini, entah mengapa rasanya sangat bahagia sekali.Ada rasa bangga dalam diri Jenaro karena berhasil menjadi yang pertama untuk Cherry Naomi. "Kau berhasil menghancurkan pertahananku, sweetie." Bisiknya lembut sembari menatap wanitanya. Pria itu tampak tersenyum masam, ingatan

  • 200 Hari Menjerat Pebinor   33. Don't Stop

    Attention — [cw // mature content, harsh word, dirty talks, kissing, and more. Minor atau yang tidak suka bacaan vulgar, mohon di skip]——— happy reading. "Bukankah kau merasa risih jika aku terlalu sering menempel denganmu?" Pungkas wanita cantik itu, dan sukses membuat Jenaro mendengus tak suka. Wanita ini selalu saja membalikkan keadaan dengan membandingkan pada dirinya. Perlakuannya pada wanita itu. "Meskipun begitu bukan berarti kau bisa mengabaikanku seenaknya, Cherry Naomi!" Balas pria itu kembali tak suka jika wanita ini mengabaikannya. Banyak wanita yang mengagumi bahkan memuja sosok Jenaro Rafandra. Wanita-wanita itu selalu saja berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatiannya. Bahkan di pesta kali ini, tak sedikit wanita dengan tingkah jalangnya terang-terangan menggoda dirinya.Termasuk kebiasaan Cherry Naomi sebelumnya, wanita itu selalu mengusiknya. Dan kini, Jenaro merasa marah saat wanita itu tak lagi mengusiknya, bahkan mengabaikannya seperti ia sama sekali tak nampak

  • 200 Hari Menjerat Pebinor   32. Seperti Wanita Miskin

    "Aku mengajak kau kemari bukan untuk membuatmu mengagumi setiap sudut isi rumahku, Cherry Naomi." Terdengar suara berat dan setengah menggeram itu dibalik punggung wanita cantik yang sedari tadi tampak sibuk mengabadikan setiap inci penthouse mewah ini. Cherry yang sibuk dengan ponselnya pun tampak acuh dengan ucapan pria itu yang tak lain adalah Jenaro Rafandra, si tuan rumah. Wanita manis itu tampak sibuk dengan ponselnya, mengambil gambar di beberapa sudut rumah pria itu lalu ingin memamerkannya pada sahabat-sahabatnya, terlebih Valerie. Gadis itu pasti akan merasa iri padanya karena bisa masuk ke dalam penthouse 'The Castle'. "Jey, sebentar! Aku harus merekam ini, lalu mengirimkan pada Valerie agar wanita itu semakin menangis melihat benda-benda canggih ini. Lalu aku juga akan mengirimkannya pada Felix dan juga Jack, mereka pasti–," ucapan wanita itu terpotong, manakala ponsel pintarnya direbut dengan paksa oleh seseorang yang tiba-tiba mendekat pada dirinya. "Jey! What are y

  • 200 Hari Menjerat Pebinor   31. The Castle

    Setelah berhasil menghindar dari pesta membosankan itu, kini Cherry Naomi tampak duduk dengan hati sedikit gelisah di dalam Porsche Panamera berwarna hitam itu. Tentu saja bagaimana ia bisa duduk nyaman jika sedari tadi tangan kiri milik pria itu tak beralih sedikit pun dari pahanya yang terbuka jelas. Bahkan dengan sengaja, sesekali Jenaro Rafandra mengusapkan ibu jarinya dengan lembut di kulit halus paha Cherry Naomi. Membuat gadis itu merasakan gelisah akan setiap sentuhan yang pria itu berikan.Menggigit bibirnya sesekali karena merasa gila atas perlakuan pria ini. Malam ini ia melihat Jenaro bukan seperti pria itu biasanya. Fuck!Pria sialan!Umpat Cherry berkali-kali. Mengantar pria itu untuk pulang sepertinya memang kesalahan besar namun tak bisa dipungkiri apabila dalam hatinya yang paling dalam ia menyukai hal ini. Tak begitu ada sifat menyebalkan yang selalu pria itu tunjukkan. Kini pria itu tampak seperti singa yang tengah bersikap posesif pada pasangannya. Semakin lama

  • 200 Hari Menjerat Pebinor   30. Kita Terlalu Dekat

    "Kau meragukan kesungguhanku, dude?"Ucapan Jenaro terdengar rendah dan datar. Pria sialan ini sangat meremehkannya. Ia menatap marah dengan mata yang memicing, seakan siap menghunuskan pedangnya untuk memotong lidah pria itu menjadi bagian-bagian kecil. Deon yang mendapat tatapan mematikan itu justru mematri senyumnya. "Syukurlah jika kau bersungguh-sungguh. Aku tidak akan tinggal diam jika siapapun itu menyakiti wanita kesayanganku," balasnya dengan begitu tenang. Sepertinya pria itu tidak tahu jika dirinya tengah berhadapan dengan dewa kematian. Mendapat aura permusuhan yang menguar itu sana sekali tak membuat Deon Harris merasa gentar. Pria itu justru berjalan lebih dekat dengan Jenaro. Mencondongkan tubuhnya pada pria itu sembari berkata rendah, "Jaga dia baik-baik, atau aku bisa saja mengambilnya kembali.""Deon!" Pekik Cherry sembari berdiri. Mereka yang tampak ingin berperang, Cherry yang merasa cemas dan gelisah. Oh, apakah dua orang ini tidak tahu? Jika sedari tadi kedu

  • 200 Hari Menjerat Pebinor   29. Gadis Manisku

    Cherry Naomi, gadis itu sebenarnya tengah berusaha menahan mati-matian rasa cemburunya pada sang ibu. Melalui ekor matanya ia selalu memperhatikan bagaimana sang ibu tampak begitu asik berbincang dengan pria yang disukainya. Shit! Seharusnya ia yang ada di sana, meneguk Champagne keluaran terbatas itu dengan Jenaro Rafandra, si pria tampannya. Bukan justru wanita tua itu yang melakukannya, geram Cherry dalam hatinya. Sepanjang ia melangkahkan kaki memasukkan gedung ini, Cherry benar-benar berusaha menahan diri untuk tidak bersikap agresif seperti biasanya. Melihat Jenaro dari kejauhan saja sudah membuatnya pening.Benar, jika dirinya berjalan angkuh melewati pria itu. Namun aroma maskulin yang berasal dari parfum pria itu masih terus saja mengusik indra penciuman dan pikirannya. Jika dirinya tak sedang berusaha mempertahankan harga diri, dapat dipastikan ia akan menarik pria itu untuk memesan kamar saja. Mendekap dada bidang itu hingga pagi. Menjauhkan pria itu dari tatapan-tatapa

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status