Kuharap Kamu Tak Selamat Hari Itu
Saat berusia sembilan tahun, aku terkena gelombang kejut dari ledakan saat menyelamatkan Andre Yunandi, dan sejak itu aku memakai alat bantu dengar.
Dia merasa sangat bersalah.
Dia berinisiatif melamarku, bersumpah dengan mata merah, “Dik Tasya, aku akan melindungimu seumur hidupku.”
Tetapi di tahun saat kami berusia delapan belas tahun.
Demi lulus tes di depan gadis idaman sekolah, Andre sendiri melepas alat bantu dengarku. Di depan gadis idaman sekolah itu dan teman-teman sekelasku, dia berkata dengan nada jijik, “Si Beban, aku sudah muak denganmu sejak lama.”
“Tahun itu, saat kamu berusia sembilan tahun, aku benar-benar berharap kamu tidak diselamatkan dan justru meninggal.”
Aku menggenggam laporan pemulihan telingaku, tak mengucapkan sepatah kata pun.
Sesampainya di rumah, aku diam-diam mengubah pilihan seleksi nasional berdasarkan tes-ku. Setelah itu, aku pergi bersama orang tuaku ke rumah Andre untuk membatalkan pertunangan.
Andre, mulai sekarang, pertemuan kita berakhir di sini.
Aku dan kamu, tak perlu lagi bertemu.