Tanpa Ayah di Hari Terakhir
Suamiku … seorang komandan resimen yang telah menikah denganku selama sepuluh tahun, kutahan di luar ruang duka anak kami.
Bukan tanpa alasan.
Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, anakku meninggalkan tiga permintaan terakhir.
Permintaan pertama …
Untuk sementara waktu, jangan beri tahu ayah tentang kematiannya. Dia takut ayahnya akan bersedih.
Permintaan kedua ….
Masakkan makanan kesukaan ayah, lalu mintalah ayah menemaninya merayakan ulang tahunnya yang terakhir.
Dan permintaan ketiga ….
Jika ayah tak datang, maka pastikan, benar-benar pastikan, jangan pernah biarkan pria itu muncul lagi di depan makamnya.
Jadi, setelah anakku tiada ….
Meski hujan deras mengguyur di luar aula duka.
Meski pria itu berdiri dengan mata merah dan tubuh gemetar.
Meski tangisnya pecah histeris di balik pintu ruang duka ….
Aku tetap tak membiarkannya mendekati anakku.
Bahkan selangkah pun tidak.
Tiga hari lalu, Yuda Saloka menghabiskan semalaman bersama cinta pertamanya. Bersama anak perempuan itu, mereka menyalakan kembang api.
Saat pulang, dia membawa sebuah tas sekolah baru.
Katanya … sebagai pengganti karena telah melewatkan ulang tahun anak kami.
Tapi dia mengerutkan kening, tak mengerti alasan air mata di sudut mataku.
“Cuma ulang tahun saja, ‘kan? Nanti juga bisa dirayakan lagi.”
Saat itu, dia belum tahu …
Anak kami … yang baru berusia lima tahun … telah meninggal karena asma.
Dan takkan pernah lagi punya kesempatan menyambut hari pertamanya bersekolah.