Home / Romansa / Ayo Menikah, Mas Duda! / Chapter 21 - Chapter 30

All Chapters of Ayo Menikah, Mas Duda!: Chapter 21 - Chapter 30

36 Chapters

Bab 21: Nasi Padang Rasa Cinta

Galih membuka pintu ruang kerjanya dengan wajah tersenyum. Hatinya kembali seperti remaja yang tengah jatuh cinta. Semua anggota timnya bahkan terheran-heran dengan tingkahnya pagi itu.Fariz mengetuk pintu ruangannya tak lama kemudian. Lelaki itu meletakkan dokumen ke mejanya. “Kayaknya Bos lagi seneng banget pagi ini,” kata Fariz.Galih tersenyum, “keliatan banget ya, Riz?” tanyanya.Fariz mengangguk. “Bos lagi jatuh cinta ya?”Galih tertawa. “Pengalaman memang nggak bisa bohong ya? Kamu ngerti banget, Riz.”“Ya karena aku juga hari ini ngeliat keponakanku sama kayak Bos. Wajahnya berseri-seri, banyak senyum padahal dia nggak habis gajian. Pas aku tanya, dia katanya punya pacar. Ya meskipun aku belum pernah ketemu sama pacarnya sih,” kata Fariz.Galih mengangguk-angguk menyimak cerita Fariz. “Karena kamu kemarin berhasil bikin Danial invest di perusahaan kita, jadi misi kita kali ini aku percayain
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

Bab 22: Kerja di Luar Kota

Galih mengecup kening Jason sebelum melangkah menuju jalur masuk penumpang. Di sisi Jason, Dea bersama Evan turut melambaikan tangan. “Hati-hati ya, Mas Galih. Jangan lupa kasih kabar,” katanya.Galih mengangguk. “Aku titip Jason ya, Dek,” katanya.Dea mengangguk. Evan di sisinya tak lepas merangkul pinggang perempuan yang sudah menjadi istrinya itu.“Aku titip Jason, Van,” kata Galih, sambil memeluk Evan sesaat.“Tenang aja, Mas. Meskipun aku sama Jason sering berantem, istriku sabar kok ngadepin Jason,” sahut Evan sekenanya.Galih mengusap rambut anak semata wayangnya itu. “Papa masuk dulu ya, Boy. Biar nggak ketinggalan pesawat,” kata Galih.“Iya, Pa.” Jason melambaikan tangan ke arahnya.“Dadah Pa … cepet pulang, ya! Aku bakalan kangen,” katanya.Galih melambaikan tangan sambil tersenyum. Lelaki itu lalu melangkah masuk menuju ruang tunggu penumpang yang hendak terbang
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more

Bab 23: Proyek Secure K*****

Galih menghubungi kontak bernama pacar di ponselnya lewat telepon video. Seorang gadis cantik menjawab panggilan itu pada dering ketiga. Galih tersenyum, melambaikan tangannya ke arah kamera.“Halo, Sayang,” katanya memulai obrolan.Galih sengaja berbaring di tempat tidur, mengenakan kaus distro harga di bawah seratus ribuan berwarna hitam sebagai baju tidurnya. Dia tak membuka kausnya, agar gadis itu tak terkejut dengan kebiasaan tidurnya yang buruk bagi sebagian orang.“Kang Jamal, udah selesai kerjanya?” tanya gadis itu.“Udah, Neng. Semuanya lancar,” katanya.Jam digital di ponsel Galih menunjuk angka 22.00, tetapi dia sama sekali tak bisa tidur sebelum melihat wajah cantik kekasihnya itu. Gadis itu mengarahkan ponsel ke arah kamarnya.“Ini kamar kosan aku, Kang. Biasa aja sih, tapi aku nyaman di sini. Soalnya aku nggak mau ngerepotin Om sama Tante terus,” kata gadis itu.“Kalau kit
last updateLast Updated : 2025-03-21
Read more

Bab 24: Makan Siang Keluarga

Galih membuka pintu mobil yang sengaja diparkir di halaman depan Percetakan Gemilang. Iwan melongo karena Galih dengan Jason terlihat seperti anak kembar meski beda usianya terpaut jauh.“Ini Pak Galih yang awet muda apa saya yang tua ya?” lelaki berambut keriting itu tertawa.Evan mempersilakan Galih dengan Jason untuk masuk melalui pintu staf, tetapi Galih menolak.“Aku cuma mau nitip parkir mobil aja. Soalnya kita mau jalan-jalan sama pacarku. Iya ‘kan, Boy?”Jason mengangguk-angguk. “Om Evan semangat kerjanya!” kata bocah lelaki itu sambil tertawa.Jason dengan Galih mengayun langkah menuju gedung Perpustakaan Kampus Metropolitan. Sambil tertawa-tawa, keduanya menaiki anak tangga satu persatu menuju lantai tiga.Ketika melihat Aster sedang fokus ke layar komputer kerjanya, Galih sengaja menekan bel di meja gadis itu. Membuat gadis itu segera merespon dengan mengucapkan kalimat yang sudah dihafaln
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 25: Adegan Romantis

Pagi itu Galih dibangunkan oleh Jason yang menyelinap masuk ke selimutnya. Dia melenguh, mengumpulkan kesadarannya yang masih belum penuh, lalu mengucapkan selamat pagi pada anak semata wayangnya itu.“Kamu kok tumben tidur di kamar Papa begini? Biasanya nggak mau?”“Soalnya semalem aku takut, Pa. Aku mimpi buruk.”“Mimpi apa emangnya? Biasanya kamu nggak takut, kok.”“Tapi semalem itu serem banget. Aku mimpi ada orang yang ditembak di depanku. Serem banget, Pa.”“Kayaknya itu karena kamu kebanyakan main game, deh. Coba dikurangi main game yang ada kekerasan kayak gitu. Kayaknya nggak akan mimpi buruk kayak gitu, Boy.”Jason terdiam. Galih meninggalkan bocah lelaki itu, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia membasahi tubuhnya dengan air hangat. Galih segera kembali ke kamar dengan mengenakan handuk piyamanya.“Ini, Tante. Papa baru selesai mandi,” kata Jason, mengarahkan ponse
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 26: Malam Sempurna

Kamera bergerak mendekat, menyorot lilin di atas meja makan. Gerakan kamera kemudian menampilkan sisi medium shot, seorang lelaki tampan dengan setelan jas duduk berhadapan dengan seorang perempuan cantik dengan midi dress berwarna hitam perpaduan tile dengan brokat mewah yang menambahkan kesan elegan. Keduanya saling menatap, tangan mereka tertaut sambil tersenyum.Galih fokus menatap layar di sisinya, sekaligus menikmati ketika kamera mengarahkan fokus ke wajah pasangan modelnya. Dia merasa bangga karena bisa menampilkan debut perempuan cantik itu sebagai model di video iklan garapan perusahaan mereka.“Oke, cut!” seru KingDee.Juru kamera berhenti merekam, menata kembali kameranya sambil menunggu instruksi selanjutnya dari sutradara muda itu. KingDee menepuk bahu Galih, mengarahkan telunjuknya di layar hasil pengambilan gambar itu.“Gimana, Pak Galih?” tanyanya.“Saya suka. Sesuai dengan storyboard kami,” kata Galih sambil mengangguk-a
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 27: Scene yang Membuatku Ingin

Galih mengambil alih berondong jagung berukuran large beserta soda dari tangan Aster. “Biar aku aja yang bawa, Neng, Malam ini Neng cukup duduk manis sambil nonton,” katanya.Aster cemberut, sambil mencubit lengan Galih pelan. “Curang ah! Katanya giliran aku yang traktir, malah Kang Jamal juga yang bayarin malem ini,” kata Aster.“Kok dicubit lagi sih, Neng? Nggak apa-apa ah, aku pengen traktir pacar aku sendiri masak nggak boleh?” Galih tetap membela diri.“Ya udah, tapi lain kali aku beneran mau traktir.”“Iya …” Galih mengalah agar melihat senyum gadis itu.Keduanya masuk ke studio tempat pemutaran film sesuai tiket yang dipesan mereka. Aster duduk bersisian dengan Galih. Beberapa pengunjung terus menempati kursi di sekitar Aster dengan Galih. Bahkan malam itu semua kursi studio pemutaran film itu hampir terisi.Film mulai diputar. Galih mulai menikmati ketika tangan Aster menyuapi berondong jagun
last updateLast Updated : 2025-03-25
Read more

Bab 28: Cinta Pertama

Memberikan kejutan tanpa memikirkan momen ternyata cukup menyenangkan. Bagi Galih, melihat senyum Aster adalah dunianya saat itu. Hari itu dia sengaja membuat janji dengan kekasihnya untuk pergi ke toko buku yang terletak di Mall kawasan Metropolitan.Aster menyetujui rencana itu. Keduanya bertemu di depan Percetakan Gemilang, tempat Galih memerankan Jamal dan bekerja sebagai pegawai percetakan di sana. Sebagai seorang perfeksionis, Galih membenci kesalahan-kesalahan kecil di hidupnya. Namun, dia senang membuat kesalahan di depan Aster, membuat gadisnya itu melayangkan cubitan kecil di lengannya. Dan hal itu membuat Galih melihat sisi imut dari seorang Aster.Galih melambaikan tangan ketika gadis itu menyebrangi jalan untuk mendekatinya. Dia mengenakan kaus berwarna denim dengan celana spandeks model jogger berwarna abu. Tas pinggang kecil menempati bahu sisi kanannya.“Kang Jamal udah lama nunggunya?” tanya Aster.“Nggak, kok. Belum lam
last updateLast Updated : 2025-03-26
Read more

Bab 29: Dengarkan Dulu Penjelasanku!

Tanpa berpamitan dengan Galih, Aster segera meninggalkan Toko Buku itu setelah membayar buku-buku yang dibelinya. Dia lalu segera menghentikan sebuah angkutan umum yang mengantarnya ke rumah kontrakan yang ditinggalinya selama memutuskan tinggal sendiri.Rasanya marah, sekaligus sedih melihat lelaki yang menjadi kekasihnya itu sedang bermesraan dengan perempuan lain. Terlebih lagi, perempuan itu terlihat jauh lebih seksi dari dirinya.“Nyebelin! apa bener semua cowok sama aja, ya?”Aster kembali menyembunyikan wajahnya di balik lutut. “Padahal aku udah yakin kalau Kang Jamal beda sama cowok lain, nggak gampang tergoda. Apalagi mantan istrinya juga udah meninggal lama banget dan dia belum nikah lagi ‘kan? Ternyata sama aja.”Tak lama berselang, pintu rumah kontrakannya itu diketuk. Suara lelaki yang terdengar familiar di telinganya itu membuat Aster buru-buru berdiri. Dia melangkah menuju jendela, membuka tirai untuk melihat ses
last updateLast Updated : 2025-03-27
Read more

Bab 30: Ibu Sakit

Galih setengah berlari menuju ruangan bertuliskan IGD di Rumah Sehat Mentari itu. Dia melihat Evan dengan Dea tengah duduk di bangku tunggu. Ayahnya berada di sisi pasangan itu dengan memegang tongkat jalannya.“Van, gimana keadaan Ibu?” tanya Galih.“Masih di dalem, Mas. Kita belum boleh masuk karena dokter masih fokus biar Ibu ngelewatin masa kritisnya,” sahut Evan.Galih berjalan melongok ke kaca ruangan itu, tetapi dia tak bisa melihat apapun. Dia berjalan gontai lalu menyandarkan tubuhnya di sisi ayahnya.“Gimana ceritanya Ibu bisa tiba-tiba pingsan, Yah?” tanya Galih pada lelaki yang rambutnya mulai berwarna perak di sisinya.“Tadi lagi cuci baju di kamar mandi, terus Ayah denger teriakan ibu kamu. Pas Ayah ke kamar mandi posisi ibu kamu udah jatuh. Ayah nggak tahu karena tiba-tiba aja ibumu pingsan, dipanggil nggak nyahut,” katanya.Tak lama kemudian, lelaki berjubah dokter membuka pintu ruang
last updateLast Updated : 2025-03-28
Read more
PREV
1234
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status