All Chapters of Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic: Chapter 11 - Chapter 20

41 Chapters

Bab, 11.

"Rin, aku tak nyaman, biar kamu saja yang mengantarkanku," ujarku terasa enggan untuk naik."Baik lah, tunggu sebentar." Dengan cepat Rini menyambar switer rajut di kursi lalu mengenakannya, tak lupa dia membawa payung."Kamu di tengah biar aku di belakang Pegang payung, ayo Bang cepat!" pekiknya lalu aku dengan cepat duduk di tengah sambil menggendong Doni.Kami bonceng tiga dalam satu motor. Deru mesin motor menyala lalu membelah jalan gang menuju jalan besar aspal, di tengah-tengah hujan aku terus merasakan tubuh Doni semakin kaku. Air mata terus membanjiri walaupun tidak ada suara dalam tangisku."Cepat, Bang kok lelet amat jalannya!" sentak Rini walaupun suaranya kalah dengan desiran air hujan masih dapat di dengar, seraya terus mencubit perut suaminya."Ini, udah ngebut sayang! Ngebut macam mana lagi pula!" Dimas tak kalah paniknya sembari terus membawa motor dalam kecepatan tinggi.Setelah cukup lama akhrinya, motor telah sampai di gang perumahan yang elit, motor terparkir tep
last updateLast Updated : 2025-02-08
Read more

Bab, 12.

Tepat pukul enam pagi, para tetangga termasuk para laki-laki sudah berkumpul di rumah, yang membuat hatiku terasasesak, bapak-bapak yang bersiap untuk menggali makam meminta bayaran terlebih dahulu."Sebelum menggali makam, uangnya dulu dulu, dong," celetuk salah satu bapak-bapak bertubuh cungkring.Aku mendadak panik mengingat diriku tidak ada simpanan uang, meminta pada Mas Seno dari semalam belum menampakkan batang hidungnya."Biar, kami saja yang bayar, nih ambil, gali makam secepatnya," kelakar Rini seraya memberi Bapak itu beberapa lembaran uang.Aku terasa tak nyaman pada Rini, sudah menolongku sekian kalinya."Kalau aku ada uang nanti aku bayar, ya, Rin," timpalku menunduk wajah malu karena dilihat banyak para tetangga."Tidak, apa-apa, aku sudah mengganggap kau sebagai saudaraku sendiri."Hatiku terenyuh mendengar penuturan sahabatku Rini, yang dengan tulus menolongku. Lamunan kami terbuyar tarkala ibu mertuaku, beserta antek-anteknya yang aku benci termasuk si bangsat suami
last updateLast Updated : 2025-02-09
Read more

Bab, 13.

"Pergi, ke rumah ibuku, sekarang, hari ini lagi ada acara rewang, untuk menyambut calon mempelai, Cantika," ujar Mas Seno datang ke rumah, langsung pada intinya, yang pastinya menyuruhku membantu memasak"Apa, kau buta, aku ini lagi masih berduka, baru kemarin anakkmu meninggal," sahutku dengan suara serak, wajahku masam, tak menoleh ke arahnya."Alah! Gitu aja kamu berlebihan, awas kalau kamu nggak datang!" Suara Mas Seno meninggi mengancamku sambil jari telunjuknya menunjuk ke arahku lalu pergi kembali.Aku hanya menghela napas kasar lalu beranjak ke kamar untuk berganti baju. Kutelisik di dalam kotak kardus untuk tempat pakaianku tidak ada baju gamis untuk aku kenakan, baju lengan panjang serta rok mini lusuh, jilbab berwarna putih yang tampak sudah menguning dan ada bintik-bintik hitam melekat, sedangkan untuk Bagas dan Mona tidak ada yang layak aku kenakan.Dengan berat hati kulangkahkan kaki menuju rumah ibu mertuaku, Mona sejak tadi tantrum tidak mau ikut. Dia tetap ingin berad
last updateLast Updated : 2025-02-10
Read more

Bab, 14.

Tanganku menjambak jilbab ibu mertuaku dengan brutal sehingga rambutnya nampak, tak berhenti di situ saja, kuali di atas tungku yang berisi minyak menggoreng ayam dengan api yang masih menyala, kuambil menggunakan cangkir plastik lalu menyiramnya ke wajah ibu mertuaku tanpa segan."Kurang ajar! Menantu gila!" Suaranya melengking nyaring sehingga orang-orang termasuk tamu yang paling penting ikut datang menghampiri dapur.Ibu mertuaku terus mengusap-ngusap wajahnya yang terlihat merah setelah di siram minyak panas olehku. Mas Seno, Cantika tampak panik dengan ibunya, sedangkan bapak mertuaku tampak tersenyum di bibirnya."Seno! Itu istrimu kurang ajar! Dia mau membunuhku!" teriak ibu mertuaku lagi, jarinya terus menunjuk aku supaya Mas Seno tersulut emosi."Beri dia pelajaran, Bang, perempuan gila, seperti dia harus diberi jera," celetuk Cantika berapi-api lalu diikuti anggukan yang lain termasuk Winda."Sudah! Cukup Seno! Kembali ke depan! Jangan cari perkara lagi, bawa ibumu ke kama
last updateLast Updated : 2025-02-11
Read more

Bab, 15.

Mas Seno bertelanjang dada, hanya memakai celana boxer, sedangkan Winda memakai baju sexi hingga selutut, apa yang mereka lakukan dalam keadaan kamar remang-remang berdua lagi kalau tidak melakukan hubungan zina, aku berusaha tetap tegar di hadapan mereka, tidak aku tidak cemburu, aku berusaha tidak menggebrek mereka.Pikiranku cuma satu mencari keberadaan Mona, biarkan saja mereka bersenang-senang aku tak peduli, ku simpan dalam-dalam rasa sakit hati yang membuncah di dada ini, ada saatnya aku akan bercerai padamu Mas Seno."Mana, Mona? Kata, Bagas, tadi kamu bawa, Mona ke kamar?" tanyaku langsung pada intinya sembari melipat tangan di dada, tidak ada raut wajah kecewa aku tunjukan, malah menatap mereka dengan jijik."Entah, aku tak tahu," sahut Winda dengan menatap wajahku dengan bola mata malas.Teriakan Bagas membuat aku terjingkat dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Bergegas aku melangkah ke pintu bagian belakang. Kepalakku mendongak ke arah tepi bagian kanan lahan kosong,
last updateLast Updated : 2025-02-12
Read more

Bab 16.

"Astagfirullah! Dinda lihat, Din!" teriakan Rini membuatku tersentak kaget lalu bergegas cepat mendekati di mana dia dekat dengan jenazah Mona yang akan dikafani. "Ada, apa Rin?" tanyaku sembari dahi bertaut heran menatap wajahnya panik. "Ini, coba kau lihat, ada yang janggal, nggak, sih? Fix ini, bukan kecekakan normal, ini, sengaja ada yang dorong anakmu ke dalam kobangan air itu," jawab Rini serius sembari kepala menggeleng. Mataku terbelalak menatap pergelangan tangan anakku membiru, kuku-kukunya ada yang patah, apa mungkin sebelum anakku meregang nyawa, melakukan perlawanan. "Kalau kau mau pelakunya di tangkap, anakmu perlu di otopsi terlebih dahulu, Din. Apa kamu setuju?" tanya Rini yang tahu sedikit dengan ahli forensik, dulu dia pernah bekerja di sebuah rumah sakit. Aku terdiam sejenak berpikir berulang kali, di satu sisi aku mau anakku di otopsi di rumah sakit dan di selediki secara lebih lanjut apa motif kematiannya apa betul dia tenggelam, di sisi lain aku sama sekali
last updateLast Updated : 2025-02-13
Read more

Bab, 17.

Pov Seno.Namaku Seno, setelah cukup lama merantau di kota akhirnya, aku menikah dengan seorang perempuan bernama Dinda yang tinggal di panti asuhan, merasa dia sebatang kara aku bawa ke kampung halaman. Namun, pernikahan itu membuat ibuku tak merestui hubungan kami walaupun Dinda sudah aku buat hamil duluan."Kamu itu anak kesayangan pertama ibu satu-satunya! Kamu itu bukannya harus menikah dengan wanita miskin, seperti dia, Ibu nggak mau tahu, ya, kamu harus bawa dia tinggal di rumah ibu yang lama! Tak sudi aku tinggal serumah dengan wanita itu," ucap ibuku kala itu di saat aku pertama kali membawa Dinda ke rumah."Ingat! Kamu tidak boleh memberi dia uang walaupun sedikit, dia pasti keenakkan, kasih beras satu liter seminggu saja sudah cukup!" Ibuku kembali mengingatkan diriku agar gajiku selama bekerja menjadi mandor di PT Abadi diberikan seperlunya pada ibuku.Kehidupan setelah itu kami jalani sampai melahirkan anak ketiga, Dinda selama menikah denganku selalu nurut walaupun aku j
last updateLast Updated : 2025-02-14
Read more

Bab, 18.

Seminggu kemudian aku sudah bekerja bersama Rini dan suaminya di PT sawit Abadi, aku mengajak Bagas untuk ikut bersamaku agar dia tidak merasa bosan. Aku dan Rini bekerja sebagai penebas sawit piringan sedangkan Dimas sebagai pemanen sawit.Setelah jam istrirahat, kami duduk di bawah pohon sawit sembari menyantap makan siang. Ini saatnya aku memberitahu Rini tentang kelakuan Mas Seno yang bermain api d, ,i belakangku."Tuh, 'kan apa aku bilang benar, aku tak salah, sudah Din tinggalkan saja suami, seperti itu, jahatnya nggak ketulungan," sahut Rini berapi-api sambil menyantap nasi berlauk ayam sambal."Hus! Dek, kok begitu dengan teman nggak boleh tau menyuruh bercerai," timpal Dimas pada istrinya seketika membuat Rini menghentikan makannya."Dengar, ya Bang! Untuk apa dipertahankan suami macam itu, jahat sama istri, kau bayangkan, ya, Bang, dia dengan istri Rahmat lembut berbicara mendayu-dayu, kalau dengan Dinda kasarnya minta ampun sama sifatnya dengan Marni," sentak Rini membusun
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

Bab, 19.

Seorang pria paruh baya memakai kaca mata hitam, lengkap dengan pakaian jas berwarna hitam, rambut kepalanya terlihat sudah memutih, keluar dari mobil berwarna hitam.Kakinya berayun melangkah kemari, tangannya menarik jas ke depan terlihat sangat berwibawa. Matanya terus memandang ke arahku."Ada, apa kalian ribut-ribut?" tanyanya sembari melepas kaca mata, terlihat lah wajahnya yang sangat mirip dengan Bagas, mungkin kebetulan saja."Ini, Pak Gibran. Mandor ini berkelahi pada salah satu karyawan sawit kita," celetuk Riko."Heh! Jelas kamu yang mulai duluan!" bentak Mas Seno pada Riko sembari mengacungkan jari."Sudah! Sudah! Cukup! Apa alasan kamu marah-marah pada karyawan di sini Seno?" tanya Pak Gibran melirik pandangannya ke kami semua."Dia marah, istrinya bekerja di sini, Pak." Rini menjawab ucapan Pak Gibran sembari menunduk."Hmm, ternyata itu duduk perkaranya, saya harap selesaikan baik-baik perkara rumah tangga kamu dulu Seno! Jangan membuat keonaran di tempat ini. Jamal sa
last updateLast Updated : 2025-02-16
Read more

Bab, 20

Ririn menghela napas kasar lalu baru mulai mengeluarkan suara. Manik matanya terus menatap mataku, aku mengangguk agar dia cepat berbicara."Mona ... Me--meninggal karena ulah suamimu sendiri, Din." Ririn berbicara gagap, tapi masih bisa aku mengerti.Sontak aku terkejut mendengar penuturan itu, tak dapat aku pungkiri, berarti lebam di lengan Mona itu dapat kekerasan dari ayahnya, yang jadi pertanyaanku kenapa dengan tega Mas Seno membunuh darah dagingnya sendiri, terbuat dari apa hatinya Ya Allah."Bangsat! Kenapa dia membunuh anaknya sendiri, tunggu kau Seno, ku bunuh juga kau nanti!" Aku memekik kencang tangisku terdengar nyaring dan pilu.Biarkan semua orang di sini menganggap aku gila, hatiku sangat rapuh mengingat Mona meninggal secara, seperti itu, tidak ada di dunia ini seorang ibu rela anaknya meninggal di tangan seorang kepala keluarganya sendiri."Dari mana, Mbak tahu?" Riko ternyata penasaran setelah membantu Ririn menenangkanmu.Bagas terus menangis tersedu-sedu memeluk t
last updateLast Updated : 2025-02-17
Read more
PREV
12345
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status