Home / Romansa / Terikat Cinta Setelah Akad / Chapter 31 - Chapter 40

All Chapters of Terikat Cinta Setelah Akad: Chapter 31 - Chapter 40

48 Chapters

Bab 31 Penjelasan

Di dalam rumah. Pukul 8 malam. "Mandinya udah?" tanya Bian melihat Laras yang sudah rapi menuruni anak tangga. Laras pun mengangguk lirih. Ia berjalan menuju dapur, mengecek apakah ada bahan baku yang bisa ia masak untuk makan malam nanti. Sedangkan sang suami yang sedang duduk di ruang tamu dengan televisi menyala pun ikut berjalan ke arah dapur. "Mau masak?" Lagi, lagi Bian bertanya. Laras tanpa mengeluarkan kalimat hanya bisa mengangguk seperti biasa. Wanita itu mengeluarkan sayur, telur juga mi instan. Ia berniat memasak mi pedas. "Mas mau makan mi?" tawar Laras biar sekalian ia buatkan. FYI, Bi Sri sedari siang sudah pulang lebih dulu karena sang anak jatuh sakit. Itu sebabnya tidak ada makan malam hari ini. Bian pun ikut mengecek bahan baku di dalam kulkas. "Saya lagi kepengen makan nasi goreng ayam suir. Kamu bisa buatkan?" Tangannya berhenti di dekat kompor. Air sudah ia rebus. Mi juga sudah dibuka. Kenapa tiba-tiba pria itu request menu makanan yang biasanya tinggal m
last updateLast Updated : 2024-12-26
Read more

Bab 32 Sedang Mengusahakan

Satu bulan berlalu. Semenjak kejadian di mana Laras marah besar kepada Bian karena pria itu telah membantu Jelita sang mantan pacar untuk tinggal sementara waktu di apartemennya, saat ini kedua pasangan suami istri itu bak orang asing yang tinggal satu rumah. Awalnya Laras sengaja mendiamkan Bian supaya pria itu berpikir. Namun, Bian malah ikut membisu sepanjang ia puasa berbicara pada suaminya. Laras pikir, Bian akan membujuknya. Pria itu berusaha agar ia tidak marah lagi. Sayangnya, yang dilakukan Bian justru berbanding terbalik. Tidak ada sapaan hangat. Hanya keasingan yang Laras rasakan sebulan belakang ini. "Kamu belum juga baikan sama Bian, Ras?" tanya Sarah. Saat ini Laras sedang bermain ke rumah sahabatnya itu. Menjenguk sang ponakan. "Aku nggak tau harus mulai dari mana." Laras menghadap ke arah Sarah. "Menurut kamu, mungkin nggak Mas Bian balik lagi sama Jelita?""Tadinya aku nggak mau berpikir ke sana, tapi akhir-akhir ini Mas Bian sering pulang malam. Bukan sekali dua
last updateLast Updated : 2024-12-27
Read more

Bab 33 Kepergok Laura

Rumah orang tua Laras. Wanita sengaja bermain ke sana karena ingin merilekskan pikiran. Setelah kejadian kemarin, pikirannya seakan penuh. Ia tidak mampu mencerna apa pun dalam waktu singkat. Bahkan ia masih menggunakan setelan kantor. Belum pulang ke rumahnya. "Kamu udah makan?" tanya sang Ibu. Laras mengangguk pelan. "Papa ke mana, Ma?" "Ada di halaman belakang. Lagi liat-liat burung sama Robi, anaknya Pak RT yang baru pulang dari Jerman itu.""Robi yang dulu culun pake kacamata itu, Ma?" tanya Laras ikut memastikan. "Iya, tapi jangan sangka kamu. Robi yang sekarang dia banyak berubah, kulitnya juga makin putih. Kaya bule-bule Jerman gitu," kompor Ibunya. Laras mencoba membayangkan bagaimana rupa Robi yang sekarang, sebab mungkin sudah 5 tahun setelah pria itu memutuskan pergi ke Jerman ia tidak pernah melihat dan tahu kabarnya bahkan di sosial media pun mereka tidak berteman. "Oh, iya, kamu kenapa ke sini? Belum pulang ke rumah." Ibunya tersadar. Laras langsung gelapan send
last updateLast Updated : 2024-12-28
Read more

Bab 34 Masalah

Setibanya di rumah orang tua Laras. Laura turun dari mobil Bian dengan muka ditekuk dan tidak memanyunkan bibirnya bak bebek. Gadis itu berjalan dengan cukup cepat, tetapi masih bisa dikejar oleh Bian. "Di dalam, kamu jangan ngomong yang macem-macem, ya," kata Bian sedikit mengancam. Laura melirik sinis kemudian melanjutkan langkahnya makin cepat. Ia membuka pintu dan langsung masuk ke dalam rumah dengan mood yang buruk. "Laura pulang," ujar gadis itu terdengar lemah. Sang Ibu pun langsung membalas, "Tumben lemes gitu. Biasanya teriak-teriak."Laura tidak menjawab, biarlah kedatangan Bian yang menjawab semuanya. Seolah Tuhan maha mengetahui isi hati manusia, tidak lama kemudian Bian pun muncul dengan postur tubuh gagahnya. Namun, Laura justru malah berdecak sebal. Seakan ia memiliki dendam kepada pria itu. "Loh, ada Bian juga. Kalian datang barengan?" tanya sang Ibu keheranan karena waktu yang berdekatan. Bian tersenyum hangat. "Iya, Bu. Tadi saya ketemu Laura di jalan, jadi bi
last updateLast Updated : 2024-12-29
Read more

Bab 35 Masalah

Tiba-tiba seseorang menyahut dari belakang. "Siapa yang selingkuh?" "M-mama .... " Laura mematung di tempat. Dari sorot matanya tidak bisa disembunyikan kalau ia merasa terkejut sekaligus takut dalam waktu bersamaan. Sedangkan Laras berusaha bersikap biasa saja. Walau di dalam hatinya ia juga merasa was-was, takut sang Ibu mendengar percakapannya dengan Laura. "Kalian kenapa langsung kompak diem gini? Mama nggak salah dengarkan tadi, siapa yang selingkuh?" tanyanya kebingungan. Laras dengan gerakan cepat mengambil jalan pintas. Masa bodo dengan harga dirinya. Yang penting kali ini ia selamat. "Mas Bian!" panggil Laras. Setelahnya menoleh dan menebarkan senyum paksa kepada sang Ibu seolah mengalihkan isu selingkuh tadi. Bian pun dengan wajah tegas menghampiri mereka dan berdiri di samping Laras. Sedikit heran dengan wanita itu, bukankah tadi ia sedang marah? "Kita pamit pulang dulu, ya, Ma." Laras pun menarik tangan Bian agar pria itu ikut pergi dengannya. Bian menahan. Tidak b
last updateLast Updated : 2024-12-30
Read more

Bab 36 Dibuat Bingung

Pagi hari di kantor. Saat ini Laras sudah kembali dengan aktivitas ngantornya. Ia sedang berjalan di lorong kantor menuju ruang kerjanya. Melupakan masalah kemarin dengan kesibukan. Bukankah sehancur apa pun kamu, di esok harinya harus tetap melanjutkan hidup seperti biasa kan? "Pagi, Pak," sapa Laras yang tidak sengaja bertemu Hendra, atasannya. Laras hendak melanjutkan langkahnya, kemudian diberhentikan oleh ucapan sang atasan. Membuatnya mau tidak mau menoleh dan membalikan badan. "Ada yang mau saya bicarakan sama kamu." "Ada apa, ya, Pak?" tanya Laras was-was sendiri. "Kita bicara di ruangan saya."Laras pun mengangguk patuh. Menaiki lift yang sama dengan Hendra. Selama di dalam lift ia sudah merasa panas dingin. Menerka-nerka apa salahnya, sebab raut wajah pria itu terlihat sangat serius. Pasalnya Hendra baru pulang dari perjalanan dinas. Kalau tidak salah perjalanan dinas itu berjalan 1 Minggu. Itu adalah project yang ia tangani juga. Apakah ada kendala soal dana?Menginga
last updateLast Updated : 2024-12-31
Read more

Bab 37 Penjelasan Jelita

Pukul 5 sore. Di waktu senja ini, Laras menunggu seseorang yang tadi siang mengirimkan surat padanya. Menatap langit yang sudah berganti warna itu dengan perasaan tenang sekaligus khawatir. Ia terlalu menyanggupi kalimat di dalam surat tersebut. Sehingga lokasinya saat ini ada di panti asuhan. "Selamat sore, Bu," sapa Laras kepada pemilik panti asuhan, mungkin? "Oh, sore. Ini pasti Bu Laras, ya?" tanya wanita berhijab itu. Laras pun mengangguk kaku. Meski ia bingung dari mana wanita di depannya bisa tahu namanya. "Masuk, Bu. Mari saya antar," ucapnya mengajak Laras ke dalam panti. "Saya senang sekali Ibu berkunjung ke sini. Waktu itu saya juga hadir di pernikahan Bu Laras dan Pak Bian. Pak Bian ini, salah satu donatur di panti asuhan kami."Meski sedikit terkejut, tetapi Laras tersenyum pada wanita itu dan mengangguk kaku. Bingung harus menjawab apa, terlebih ia baru tahu Bian salah satu donatur di panti asuhan ini. "Anak-anak pasti senang ketemu teman baru," ucap Ibu Panti. L
last updateLast Updated : 2025-01-01
Read more

Bab 38 Rasa Khawatir Bian

Sesampainya di rumah sakit tempat di mana Bian dirawat, Laras buru-buru melangkahkan kaki menuju ruangan sang suami. Berharap pria itu baik-baik saja, tidak ada hal yang serius begitupun yang membuatnya makin khawatir. Ia berjalan menghampiri Fahmi—sekretaris Bian yang terlihat sedang mengobrol dengan Dokter rumah sakit. Setelah sampai di hadapan Fahmi, sang dokter pun pergi dengan memberikan senyum kepada Laras. Wanita itu sontak langsung menatap Fahmi dengan tatapan penuh penjelasan. "Gimana ceritanya, Fahmi? Kenapa suami saya bisa masuk rumah sakit?"Begitupun Fahmi, ia kurang paham apa yang terjadi dengan sang atasan. Dirinya dihubungi oleh rumah sakit sendiri karena panggilan terakhir di ponsel Bian, yaitu nama Fahmi. Kemudian matanya melirik ke arah Bian yang tengah terbaring lemah di ranjang putih dengan selang infus di tangannya. Hal itu cukup membuat Fahmi pilu. "Saya nggak tau apa yang terjadi sama Pak Bian, Bu. Pihak rumah sakit hubungi saya bahwa Pak Bian mengalami kece
last updateLast Updated : 2025-01-02
Read more

Bab 39 Kehangatan

Usai kejadian di rumah sakit tadi sore, saat ini Laras dan Bian sudah kembali ke rumah. Bian tidak dirawat inap karena lukanya tergolong ringan, ia diperbolehkan pulang dengan tangan yang mengharuskan di gips. "Saya ke atas dulu, mau ganti baju," ujar Bian tidak biasanya izin. Laras tidak mengangguk juga mengiyakan. Bian sudah lebih dulu berlalu sebelum mendapat jawaban dari si lawan bicara. Yang bisa Laras lakukan hanya diam menatap pria itu menaiki tangga dengan tangan kanan yang cedera. Tersadar, ia pun ikut naik ke atas. Tidak mungkin Bian mampu mengganti pakaiannya sendiri dengan kondisi tangan seperti itu, pasti akan terasa sulit dan juga sakit jika salah pergerakan. Laras pun memasuki kamar. "Biar aku bantu, Mas."Kakinya berjalan menuju lemari putih tersebut, lalu mengambil kaos berwarna hitam di dalam. Hampir, hampir semua isi lemari pria itu berwarna gelap semua. Setelah dapat, ia pun mendekati Bian dengan perasaan gugup. Rasanya seperti adu adrenalin. Tiba-tiba merasa g
last updateLast Updated : 2025-01-03
Read more

Bab 40 Mulai Membaik

"Morning," kecup Bian di kening sang istri. Laras justru menggeliat geli, wanita itu membuka matanya secara perlahan. Di sampingnya sudah ada Bian yang tengah tersenyum hangat dengan posisi dada masih telanjang. Rasa lelah selepas tempur kemarin terasa membekas pagi ini, Laras seakan malas beranjak dari tempat tidur. "Kenapa tidur lagi, kamu nggak kerja?" tanya Bian melihat Laras memejamkan matanya. Wanita itu membalas, "Masih ngantuk, Mas.""Ya udah nggak usah kerja. Kamu di rumah aja istirahat, pasti capek karena semalam, ya?" goda Bian sengaja. Laras mendengus sebal. Pagi-pagi gini masih saja membahas soal semalam. Lagipula, siapa yang tidak capek melayani orang gila macam Bian? Ia bahkan baru bisa tidur di jam 2 pagi. Melelahkan memang. "Mas mandi duluan sana, aku mau tidur 15 menitan lagi," ujar Laras. Bian makin mendekatkan wajahnya. "Mandi bareng aja, gimana?""Mas!" kesal Laras langsung mendorong pria itu menjauh. Ia pun mengganti posisinya menjadi duduk dengan selimut y
last updateLast Updated : 2025-01-04
Read more
PREV
12345
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status