Semua Bab Terikat Cinta Setelah Akad: Bab 11 - Bab 20

48 Bab

Bab 11 Kontrak Pernikahan

Pagi hari pun tiba. Laras membuka matanya perlahan. Menyadari hanya tersisa dirinya yang tidur di atas ranjang. Dengan setengah sadar, matanya mengedar ke arah lain mencari keberadaan suaminya. Nihil. Ia tidak menemukan Bian di dalam kamar. Lantas, ke mana pria itu pergi? Ia pun memutuskan turun dari ranjang. Membuka pintu kamar, lalu menuju ke ruangan lain, siapa tau Bian ada di sana. Akhirnya langkah Laras berhenti di dapur. Ia mendudukkan pantatnya di atas kursi meja makan karena di sana sudah tersedia sarapan pagi, nasi goreng. "Mas masak?" tanya Laras menatap nasi goreng yang tersaji di depannya. Lalu pandangannya tidak sengaja melihat kertas putih di atas meja, tepat di samping kanan sebelah nasi goreng. Ia menatap Bian kebingungan. "Itu kontrak pernikahan selama 1 tahun, seperti yang dulu kita sepakati," jelas Bian. Laras pikir, Bian lupa akan kesepakatan waktu itu. Laras pikir, mereka menikah atas dasar suka sama suka. Ternyata wanita itu salah, ekspektasinya ketinggian.
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-04
Baca selengkapnya

Bab 12 Malam yang Dingin

"Laura, antar makanan ke rumah Kakakmu sana," teriak sang Ibu. Laura menuruni anak tangga dengan ponsel di tangannya. "Emang Kak Laras udah pindah?" "Udah. Makanya kamu jangan di kamar terus. Kerjaannya main HP terus. Sesekali bantu Mama beres-beres, ngepel, cuci piring atau apalah yang bisa kamu kerjain," omel wanita di depannya itu. Laura mengerucutkan bibirnya sebal. "Mana sini makanannya?""Jangan dibuang, loh," ancam sang Ibu. "Siapa juga yang mau buang makanan, Ma. Mubazir yang ada," jawab Laura. "Kamu ini. Udah sana berangkat, titip salam buat Kakak kamu, ya."Hal itu hanya dibalas anggukan oleh Laura. Ia bergegas pergi keluar dengan tangan yang menenteng makanan untuk sang Kakak. Usai menyeberangi jalan, Laura masuk ke dalam rumah tersebut untungnya gerbang tidak dikunci. Entah ke mana satpam yang jaga. Ia pun menekan bel hingga tiga kali. Menunggu pintu dua tersebut terbuka. "Laura, ngapain kamu ke sini?" Laras langsung salah fokus ke bawaan adiknya. "Bawain makanan?"
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-06
Baca selengkapnya

Bab 13 Perasaan yang Diabaikan

Hari itu, Jelita datang menemui Bian untuk yang pertama kalinya setelah ia menikah dengan Pandu. Entah punya keberanian dari mana, wanita tersebut meminta Bian untuk tidak menikah dengan Laras. Hal yang membuat hati Bian hampir goyah dibuatnya. *Flashback. "Kenapa, Li?" tanya Bian usai mendatangi wanita itu. Awalnya Jelita hanya terdiam. Mata wanita itu sembab, terlihat seperti orang yang habis menangis. Tentu hal tersebut menarik perhatian Bian. "Kamu habis nangis?" tanya Bian lagi. Jelita dengan mata yang kembali berair pun menatap Bian cukup prihatin. Sedangkan yang ditatap malah kebingungan sendiri. "Oke, nggak apa-apa kalau kamu belum mau cerita. Tapi, bisa kamu kasih tau aku kenapa kamu nyuruh aku ke sini?" tanya Bian. Ia mencoba menulusuri apa yang sebenarnya terjadi dengan Jelita. "Aku hamil, Mas." Tiga kata itu yang membuat Bian terdiam. Ia terus menerka-nerka maksud dari ucapan yang wanita di depannya lontarkan barusan. "Mas Pandu menikahi aku bukan karena cinta, ta
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-07
Baca selengkapnya

Bab 14 Memilukan

Usai kejadian tadi malam, Laras belum berani mengucapkan satu kalimat pun. Ia tidak lagi membahas ke mana perginya pria itu, sebab pagi ini mereka sarapan dengan keheningan. Laras menyudahi sarapan paginya, lalu bangkit dan berjalan menghampiri pembantunya. "Bi, liat botol minum saya yang tadi ditaruh di meja makan nggak?" tanya Laras. Bi Sri pun menjawab, "Liat, Bu. Udah Bibi isikan air minum juga. Tadi Bibi taruh di kulkas."Buru-buru Bi Sri menuju kulkas dan memberikan botol tersebut ke majikannya. "Makasih, ya, Bi," ujar Laras setelah menerima botol minumnya yang sudah terisi penuh. "Ibu mau berangkat kerja, ya? Udah sarapan atau mau dibuatkan bekal sama Bibi?"Laras menggeleng. "Nggak usah, Bi. Tadi udah sarapan, kok.""Ya udah, semangat kerjanya, Bu. Hati-hati di jalan juga," ucap Bi Sri. Kemudian wanita itu mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban. Setelahnya kembali ke meja makan, niatnya pamitan dengan sang suami. "Aku berangkat kerja dulu, Mas," kata Laras seraya meng
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-08
Baca selengkapnya

Bab 15 Diambang Kecewa

Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa Pandu secepat itu berpaling dari Laras? Bahkan pria itu sampai berakhir menikah dengan Jelita. Pertanyaan yang belum menemukan titik terangnya. Pandu masih mencintai Laras, itu sudah pasti. Namun, karena saat ini ia sudah memiliki Jelita, perasaan itu kian lama terbawa arus, lenyap. Pandu mencoba menerima wanita lain di hidupnya selain Laras, sebab semasa hidupnya 5 tahun ia habiskan dengan sang mantan kekasih. Pada dasarnya, kala itu Pandu hampir mengkhianati Laras. Mungkin sudah hanya saja pria itu mengelaknya. Saat Jelita masuk dan resmi magang di kantornya, Pandu lah yang membimbing wanita itu. Terhitung ia dan Laras masih menjalin hubungan. Namun, kurun waktu 1 bulan berjalan, beberapa orang menyaksikan bahwa kedekatan Pandu dan Jelita di luar batas wajar. Laras pun menyadarinya. Hingga puncaknya mereka bertengkar dan Pandu lah yang mengakhiri hubungan itu lebih dulu. "Beberapa hari ini, hubungan aku dan Jelita memburuk, Ras," ungkap Pandu
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-09
Baca selengkapnya

Bab 16 Perkara Resign

Beberapa orang mungkin menyalahkan keadaan Bian yang tidak bisa memilih antara Laras atau Jelita. Menganggap pria itu salah karena kurang baik memperlakukan istrinya. Juga terlalu ikut campur mengenai hubungan rumah tangga mantan kekasihnya. Hingga beberapa anggapan lain yang dianggap mengecewakan. Namun, beberapa orang itu tidak mengerti perasaan Bian. Perasaan yang masih diambang dilema. Perasaan yang terus berputar tanpa henti. Memikirkan langkah mana yang harus ia ambil, sehingga tidak ada orang yang merasa tersakiti ketika ia mengambil langkah. Justru, saat ini Bian sedang berperang dengan isi pikirannya sendiri. Bian mengajak Laras berbicara di atas rooftop. Ia tahu istrinya itu butuh penjelasan. Juga tidak ingin ada kesalahpahaman yang berkelanjutan. "Jelita hamil," ungkap Bian menatap Laras cukup dalam. "Dia hamil sebelum nikah.""Bukan hamil anak Mas Bian, 'kan?" tanya Laras ketakutan sendiri. Pria itu menggelengkan kepalanya. Hal tersebut membuat Laras bernapas lega. Set
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-10
Baca selengkapnya

Bab 17 Overthinking

Laras mengetuk pintu kamar Bian. Ia hendak izin berangkat kerja lebih dulu karena pagi ini ada meeting dadakan dengan sang atasan. "Mas, kamu udah siap belum?" tanya Laras. Pria itu datang membukakan pintu. "Saya lagi pasang dasi. Kenapa buru-buru banget, udah sarapan?""Aku sarapan di kantor aja. Kalau Mas mau sarapan di meja makan udah aku siapin," balas Laras. "Baru setengah tujuh, apa nggak kepagian kamu berangkat kerja?" tanya Bian seraya melihat arlojinya. "Pagi ini divisi-ku ada rapat, Mas.""Tunggu sebentar," ucap Bian langsung masuk ke dalam kamar. Tidak menunggu lama, pria itu kembali lagi dengan pakaian yang sudah rapi, juga tas kerja di tangannya. Tunggu, jangan bilang ia berniat mengantar Laras? "Ayo, saya antar," ajak Bian tiba-tiba mengejutkan Laras. "Nggak usah, Mas. Aku bisa berangkat sendiri. Lagipula jarak kantor Mas Bian sama kantor aku berlawanan arah," jawab Laras tetap tidak mau. "Kamu buru-buru kan? Ayo, nanti telat."Laras yang merasa terancam sendiri
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-11
Baca selengkapnya

Bab 18 Perubahan Sikap

Sore ini, pada saat di mana Laras pulang dari penatnya bekerja. Ia menyempatkan diri mampir ke rumah orang tuanya. "Gimana kerjanya, Sayang?" tanya sang Ibu."Baik, Ma. Cuma lumayan capek aja karena beberapa kali meeting bahas anggaran buat proyek bulan depan," balas Laras meneguk satu gelar air putih. Ibunya mengangguk-angguk seolah paham. Ia memberikan beberapa buah untuk sang anak. "Kalau suami kamu gimana? Bian baik 'kan?" tanyanya. Laras langsung menghentikan aktivitas memakan buah anggur. Jika ditanya baik, Bian cukup baik. Namun, ia tidak bisa lebih jujur pada Ibunya. Tentang rahasia pernikahan yang ia dan Bian jalani. "Mama!" teriak Laura dari arah belakang dengan seragam SMA-nya. Hal tersebut membuat Laras lupa akan pertanyaan Ibunya. "Baru pulang kamu?" tanya Laras kepada sang adik. "Kalau masih pakai seragam lengkap sore gini ya berarti baru pulang Kak Laras," balas Laura dengan menekan kalimatnya di akhir. "Mandi dulu sana, baju kamu basah gitu," perintah Ibunya,
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-12
Baca selengkapnya

Bab 19 Penolakan Laras

Bian tidak bermaksud membuat Laras menunggu hingga mengabaikan makan malamnya. Ia memang betul lupa kasih kabar ditambah ponselnya yang kehabisan baterai. "Saya temani kamu makan," ujar Bian seakan paham dengan diamnya Laras. Wanita itu tetapi tidak merespon. "Ayo?" tarik Bian. Namun, dengan tatapan yang terlibat kecewa itu Laras melepaskan cekalan tersebut dan menggeleng keras. "Mas bersih-bersih aja. Habis itu istirahat. Pasti capek kan? Aku bisa makan sendiri, kok." Bian terdiam. Pria itu kemudian berjalan ke arah meja makan, awalnya merasa tidak enak melihat beberapa menu makan yang belum tersentuh masih setia nangkring di sana. "Saya tunggu sampai kamu selesai makan," ujar Bian setelah duduk di meja makan. Laras dari kejauhan menatap suaminya dengan perasaan kecewa. Bukan ini yang ia inginkan. Tidak bisakah Bian mencicipi masakan di depannya itu barang sedikit pun? "Aku siapkan air hangat buat Mas Bian mandi," ujar Laras. Detik selanjutnya ia menambahkan. "Izin masuk ke
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-13
Baca selengkapnya

Bab 20 Kisah Masa Lalu

Pada waktu itu, hubungan Laras dan Pandu terbilang stabil bahkan satu kantor pun menjuluki keduanya sebagai couple goals. Jika bisa dibilang, Pandu lah sosok yang ada di saat jatuh bangunnya Laras saat berkarier. Hingga titik di mana mereka mengakhiri hubungan 5 tahun tersebut, semuanya merasa patah hati. Tidak menyangka hubungan selama itu harus kandas di tengah jalan. "Aku nggak bisa lanjutin hubungan ini," ujar Pandu membuka suara. Laras sudah bisa menebak bahwa Pandu memang mengajaknya pergi hanya untuk membahas perpisahan. Meski begitu hati Laras merasa terluka. "Kamu tau selama ini hubungan kita lagi nggak baik, aku coba perbaiki, tapi tetep nggak bisa. Aku nggak menemukan titik kecocokan lagi antara kamu dan aku," terang Pandu dengan jujur. Pria itu menambahkan. "Aku dan Jelita nggak ada hubungan apa-apa. Aku memang tertarik sama dia, tapi cuma sekedar itu aja. Nggak lebih." Laras masih terdiam. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan Pandu katakan. "Aku minta maaf sama ka
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-14
Baca selengkapnya
Sebelumnya
12345
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status