Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa Pandu secepat itu berpaling dari Laras? Bahkan pria itu sampai berakhir menikah dengan Jelita. Pertanyaan yang belum menemukan titik terangnya. Pandu masih mencintai Laras, itu sudah pasti. Namun, karena saat ini ia sudah memiliki Jelita, perasaan itu kian lama terbawa arus, lenyap. Pandu mencoba menerima wanita lain di hidupnya selain Laras, sebab semasa hidupnya 5 tahun ia habiskan dengan sang mantan kekasih. Pada dasarnya, kala itu Pandu hampir mengkhianati Laras. Mungkin sudah hanya saja pria itu mengelaknya. Saat Jelita masuk dan resmi magang di kantornya, Pandu lah yang membimbing wanita itu. Terhitung ia dan Laras masih menjalin hubungan. Namun, kurun waktu 1 bulan berjalan, beberapa orang menyaksikan bahwa kedekatan Pandu dan Jelita di luar batas wajar. Laras pun menyadarinya. Hingga puncaknya mereka bertengkar dan Pandu lah yang mengakhiri hubungan itu lebih dulu. "Beberapa hari ini, hubungan aku dan Jelita memburuk, Ras," ungkap Pandu
Beberapa orang mungkin menyalahkan keadaan Bian yang tidak bisa memilih antara Laras atau Jelita. Menganggap pria itu salah karena kurang baik memperlakukan istrinya. Juga terlalu ikut campur mengenai hubungan rumah tangga mantan kekasihnya. Hingga beberapa anggapan lain yang dianggap mengecewakan. Namun, beberapa orang itu tidak mengerti perasaan Bian. Perasaan yang masih diambang dilema. Perasaan yang terus berputar tanpa henti. Memikirkan langkah mana yang harus ia ambil, sehingga tidak ada orang yang merasa tersakiti ketika ia mengambil langkah. Justru, saat ini Bian sedang berperang dengan isi pikirannya sendiri. Bian mengajak Laras berbicara di atas rooftop. Ia tahu istrinya itu butuh penjelasan. Juga tidak ingin ada kesalahpahaman yang berkelanjutan. "Jelita hamil," ungkap Bian menatap Laras cukup dalam. "Dia hamil sebelum nikah.""Bukan hamil anak Mas Bian, 'kan?" tanya Laras ketakutan sendiri. Pria itu menggelengkan kepalanya. Hal tersebut membuat Laras bernapas lega. Set
Laras mengetuk pintu kamar Bian. Ia hendak izin berangkat kerja lebih dulu karena pagi ini ada meeting dadakan dengan sang atasan. "Mas, kamu udah siap belum?" tanya Laras. Pria itu datang membukakan pintu. "Saya lagi pasang dasi. Kenapa buru-buru banget, udah sarapan?""Aku sarapan di kantor aja. Kalau Mas mau sarapan di meja makan udah aku siapin," balas Laras. "Baru setengah tujuh, apa nggak kepagian kamu berangkat kerja?" tanya Bian seraya melihat arlojinya. "Pagi ini divisi-ku ada rapat, Mas.""Tunggu sebentar," ucap Bian langsung masuk ke dalam kamar. Tidak menunggu lama, pria itu kembali lagi dengan pakaian yang sudah rapi, juga tas kerja di tangannya. Tunggu, jangan bilang ia berniat mengantar Laras? "Ayo, saya antar," ajak Bian tiba-tiba mengejutkan Laras. "Nggak usah, Mas. Aku bisa berangkat sendiri. Lagipula jarak kantor Mas Bian sama kantor aku berlawanan arah," jawab Laras tetap tidak mau. "Kamu buru-buru kan? Ayo, nanti telat."Laras yang merasa terancam sendiri
Sore ini, pada saat di mana Laras pulang dari penatnya bekerja. Ia menyempatkan diri mampir ke rumah orang tuanya. "Gimana kerjanya, Sayang?" tanya sang Ibu."Baik, Ma. Cuma lumayan capek aja karena beberapa kali meeting bahas anggaran buat proyek bulan depan," balas Laras meneguk satu gelar air putih. Ibunya mengangguk-angguk seolah paham. Ia memberikan beberapa buah untuk sang anak. "Kalau suami kamu gimana? Bian baik 'kan?" tanyanya. Laras langsung menghentikan aktivitas memakan buah anggur. Jika ditanya baik, Bian cukup baik. Namun, ia tidak bisa lebih jujur pada Ibunya. Tentang rahasia pernikahan yang ia dan Bian jalani. "Mama!" teriak Laura dari arah belakang dengan seragam SMA-nya. Hal tersebut membuat Laras lupa akan pertanyaan Ibunya. "Baru pulang kamu?" tanya Laras kepada sang adik. "Kalau masih pakai seragam lengkap sore gini ya berarti baru pulang Kak Laras," balas Laura dengan menekan kalimatnya di akhir. "Mandi dulu sana, baju kamu basah gitu," perintah Ibunya,
Bian tidak bermaksud membuat Laras menunggu hingga mengabaikan makan malamnya. Ia memang betul lupa kasih kabar ditambah ponselnya yang kehabisan baterai. "Saya temani kamu makan," ujar Bian seakan paham dengan diamnya Laras. Wanita itu tetapi tidak merespon. "Ayo?" tarik Bian. Namun, dengan tatapan yang terlibat kecewa itu Laras melepaskan cekalan tersebut dan menggeleng keras. "Mas bersih-bersih aja. Habis itu istirahat. Pasti capek kan? Aku bisa makan sendiri, kok." Bian terdiam. Pria itu kemudian berjalan ke arah meja makan, awalnya merasa tidak enak melihat beberapa menu makan yang belum tersentuh masih setia nangkring di sana. "Saya tunggu sampai kamu selesai makan," ujar Bian setelah duduk di meja makan. Laras dari kejauhan menatap suaminya dengan perasaan kecewa. Bukan ini yang ia inginkan. Tidak bisakah Bian mencicipi masakan di depannya itu barang sedikit pun? "Aku siapkan air hangat buat Mas Bian mandi," ujar Laras. Detik selanjutnya ia menambahkan. "Izin masuk ke
Pada waktu itu, hubungan Laras dan Pandu terbilang stabil bahkan satu kantor pun menjuluki keduanya sebagai couple goals. Jika bisa dibilang, Pandu lah sosok yang ada di saat jatuh bangunnya Laras saat berkarier. Hingga titik di mana mereka mengakhiri hubungan 5 tahun tersebut, semuanya merasa patah hati. Tidak menyangka hubungan selama itu harus kandas di tengah jalan. "Aku nggak bisa lanjutin hubungan ini," ujar Pandu membuka suara. Laras sudah bisa menebak bahwa Pandu memang mengajaknya pergi hanya untuk membahas perpisahan. Meski begitu hati Laras merasa terluka. "Kamu tau selama ini hubungan kita lagi nggak baik, aku coba perbaiki, tapi tetep nggak bisa. Aku nggak menemukan titik kecocokan lagi antara kamu dan aku," terang Pandu dengan jujur. Pria itu menambahkan. "Aku dan Jelita nggak ada hubungan apa-apa. Aku memang tertarik sama dia, tapi cuma sekedar itu aja. Nggak lebih." Laras masih terdiam. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan Pandu katakan. "Aku minta maaf sama ka
Jam istirahat. "Ras, dicariin Pandu, tuh," panggil Bima langsung pergi begitu saja. Laras melirik ke arah Sarah yang berada di sampingnya. Seolah bertanya, kenapa Pandu mencarinya? "Udah, samperin dulu, siapa tau penting," ujar Sarah. Ia pun mengangguk pelan. Lalu melangkah pergi mencari keberadaan Pandu. "Sarah?" panggil seseorang dari arah belakang. Wanita itu menoleh, kemudian memasang wajah terkejut. Ia tidak salah lihat bukan? Bian. Suaminya Laras ada di sini. Juga tidak lama dari itu Hendra muncul dari belakang. "Iya, kenapa Pak?" jawab Sarah terdengar sopan. "Kamu liat Laras?"Lirikan mata Sarah ke arah di mana barusan Laras meninggalkan lokasi. Ia ragu sendiri antara jujur atau berbohong. "Laras, ya, Pak?" ulang Sarah gelagapan sendiri. "Iya. Kamu temannya istri saya kan?" Dengan pelan Sarah mengangguk. Melirik Hendra yang sedari tadi menatapnya dengan tajam. "Kamu biasanya sama Laras terus, apalagi jam istirahat gini. Gosip di kantin," celetuk Hendra seolah tahu k
Usai kejadian itu, kini hari sudah memasuki Minggu. Sudah dua hari Laras dan Bian tidak saling bicara. Mereka sama-sama membisu. Bertarung dengan isi kepalanya sendiri. "Mau sampai kapan Mas diemin aku kaya gini?" tanya Laras saat sang suami berhasil menuruni anak tangga. Keduanya saling berhadapan. "Saya ada urusan," ujar Bian. "Urusan apa? Kantor?" tanya Laras dengan nada sewot. Bian memalingkan wajahnya. Menarik napas di sana. Entah kenapa, Laras yang melihat itu muak sendiri. Bian, benar-benar berubah. Pria itu banyak menghindar. "Saya ada urusan kantor yang nggak bisa ditinggal," balasnya berusaha menjelaskan. Laras membuka mulutnya, "Di hari Minggu?""Laras .... " Ia pun memalingkan wajahnya ke arah lain. Kesal. Bian sungguh tidak mengerti. Pria itu terlalu mementingkan pekerjaan bahkan di hari libur sekalipun. Tiba-tiba suara bel terdengar nyaring di segala penjuru ruangan, Bi Sri dengan cepat berjalan ke luar melihat siang tamu di pagi hari. "Maaf Pak/Bu, di luar ada
Jam makan siang."Laras!" panggil Lolita karena masih tidak terima bahwa surat penguduran dirinya tidak kunjung dapat persetujuan.Sarah yang melihat Lolita memanggil sahabatnya itu sontak menatap Laras seakan meminta jawaban."Kenapa, Ras?" tanya Sarah.Yang ditanya malah menggeleng pelan. Ia juga sebenarnya kurang tahu kenapa Lolita memanggilnya dengan nada cukup keras tersebut. "Yang bener aja kamu, Ras. Masa resign nggak ada omongan sama sekali ke aku," ujar Lolita masih tidak terima. Sarah yang mendengar seperti itu langsung menyahut, "Kamu resign, Ras?""Siapa yang resign?" Kali ini suara Bima yang muncul.Lolita menatap Laras dengan kesal. "Laras. Gara-gara dia surat resign saya batal di acc sama Pak Hendra.""Itu si nasib Bu Lolita." Bima memegang kopi dengan laptop di tangannya. "Pak Hendra mana mungkin lepasin sekretaris kesayangannya." "Diam kamu, Bima," balas Lolita tajam.Sebenarnya Lolita tidak marah, hanya saja kesal karena ia sudah menunggu-nunggu hari tersebut. Ia
—Beberapa bulan kemudian. "Mas ... Mas Bian bangun." Laras menepuk-nepuk pipi suaminya pelan.Tidak lama pria itu membuka matanya usai mendapat satu kecupan di pipi. Mungkin itu jimat ketika Bian susah dibangunkan."Mas aku berangkat duluan, ya? Hari ini ada meeting," ujar Laras di jam 8 pagi.Bian yang masih tertidur di atas ranjang pun sontak terbangun. Ini masih pagi, kenapa sang istri sudah mau berangkat kerja?"Cium dulu," balas Bian setengah sadar.Laras memandang malas. Ia sudah mau telat, tetapi Bian malah meminta hal aneh yang pasti berujung memakan waktu lama.Cup! Ciuman itu mendarat di pipi untuk yang kedua kalinya."Udah. Aku berangkat, ya."Namun, baru saja hendak bangkit tangan Laras dicekal oleh Bian sehingga wanita itu kembali jatuh ke ranjang."Mas," gerutu Laras.Sayangnya Bian tidak peduli, pria itu malah menunjuk bibirnya dengan ibu jari. Menyodorkan pada sang istri seolah meminta lebih."Aku udah mau telat, Mas. Nanti aja, ya?"Akhirnya aksi tawar-menawaran Lara
"Dari bibir kamu lebih manis," goda Bian.Laras refleks memukul tubuh sang suami. "Mas Bian!"Sayangnya pria itu justru terkekeh geli. Seolah hal yang paling menyenangkan adalah menganggu dan membuat istrinya marah."Muka kamu lucu," celetuk Bian. Laras pun merenggut. "Jangan kaya gitu lagi.""Kenapa?" Bian kembali mengikis jarak dengan sang istri. "Di sini aman. Mau nyoba lagi?"Tiba-tiba kedua orang tua Bian datang membuat keduanya berdiri dengan posisi normal. Laras merasa lega karena merasa diselamatkan."Kalian masih mau di sini atau ikut pulang bareng kami?" tanya Ibu Bian.Laras melirik ke arah Bian. Kemudian memamerkan senyum tipisnya. "Kita juga mau pulang, Bu. Takut hujan."Kedua orang tua Bian mengangguk lirih, berjalan lebih dulu meninggalkan kedua pasutri yang tengah berlibur tersebut. Entah sejak kapan Bian menjadi pria yang hangat dan romantis. Namun yang jelas Laras tidak henti tersenyum. Seperti saat ini, pria itu berjalan seraya menautkan jari-jemarinya dengan mili
Usai berganti pakaian kedua pasangan suami istri tersebut menuruni anak tangga dengan senyum rekah di bibirnya. "Gibran?" panggil Laras saat sampai di bawah."Ibu sama ayah di mana?" tanyanya."Oh ... ibu sama ayah kayanya pergi ke kebun," balas Gibran.Tentu saja Laras kebingungan sendiri. Bukankah kesibukan kedua orang tua Bian adalah mengurus perusahaan mereka? Karena selama tinggal satu komplek yang ia tahu Bian ini dari keluarga berada. Ayahnya saja pemilik perusahaan tempat pria itu bekerja. "Ibu sama ayah saya memang urus perkebunan di sini, lebih tepatnya ibu. Karena hobinya berkebun," jelas Bian.Kemudian Gibran kembali membuka suara. "Kata ibu, Kak Bian disuruh ajak Kak Laras jalan-jalan. Jangan di rumah terus.""Makasih Gibran. Kamu pengertian, deh," celetuk Laras.Bian pun melirik ke samping. "Memangnya kamu nggak capek?""Stamina tubuh aku itu kuat, Mas. Jangan diragukan. Gimana kalau kita susul ibu sama ayah. Aku pengen liat-liat," ucap Laras tampak bersemangat. Gibra
Setelah beberapa hari menghabiskan waktu di Bali, kini Laras dan Bian sudah berada di Taxi usai menempuh perjalanan pulang dari Bali—Bandung yang menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih. "Mas, udah hubungi Ibu kalau kita udah perjalanan ke rumah?" tanya Laras di dalam mobil. Bian pun mengangguk. "Udah. Kenapa, kamu kok keliatannya seneng banget?""Aku nggak sabar ketemu orang tua Mas Bian. Apalagi ini pertama kalinya aku diajak berkunjung langsung setelah kita nikah," jujur Laras tidak lupa menebarkan senyum.Bian ikut senang karena sang istri terlihat bahagia dengan hal-hal kecil yang akan ia jumpai setelah. Ia tidak hentinya tersenyum. Kemudian tangan lembut itu mengusap rambut Laras dengan sayang. "Laras ...."Laras menoleh lalu membalas, "Kenapa, Mas?""Nggak apa-apa. Saya seneng aja liat kamu senyum lebar kaya gini," ungkapnya."Emang selama ini aku jarang senyum?" tanya Laras kebingungan. Lagi lagi Bian menggeleng lirih. Istrinya itu selalu saja membuat gemas. Tidak ayal
Beberapa hari berlalu. Kini, Laras dan Bian sedang berkunjung ke salah satu pantai yang menyediakan penginapan dengan nuansa pantai pasir putih yang terletak di kota Denpasar, Bali. Kedua pasangan suami istri itu sedang bersiap-siap karena sebentar lagi langit akan berganti warna jingga. "Kamu beneran honeymoon ke Bali, Ras?" tanya Sarah dari balik telepon. Laras pun mengangguk dengan wajah menghadap ke cermin hias. Memoles tipis riasan agar wajahnya tidak terlalu pucat. "Aku kangen pantai, Sar. Kebetulan kita mau berkunjung ke rumah mertua, jadi biar sekalian aja pulang dari Bali ke Bandung," balas Laras. "Astaga, Ras. Kamu istrinya Direktur, loh, minta honeymoon ke Eropa, kek. Jangan nanggung-nanggung, mau keliling dunianya juga Bian duitnya nggak bakalan abis," celetuk Sarah sengaja. "Perjalanan jauh yang bikin capek, Sar. Mending yang deket-deket aja lebih menghemat tenaga," jelas Laras apa adanya. "Padahal kapan lagi jalan-jalan jauh sebelum punya anak, nanti kalo udah ada
Laras mendatangi Bian dengan langkah tergesa. Pria itu tidak kenal kerja kali, ya? Bahkan di jam harus bergulat dengan komputer pun malah pria itu mengganggunya. "Astaga Mas Bian ... ngapain ke sini?" tanya Laras menghampiri sang suami. Pria itu mengangkat kedua tangannya, menunjukkan plastik yang ia tenteng tersebut. Senyum manisnya justru membuat Laras ingin sekali menghajarnya. "Ngapain bawa makanan sebanyak itu?" ucap Laras dengan nada sedikit tidak suka. Bian menurunkan kedua tangannya dengan lesu. "Kamu kan belum sarapan tadi pagi. Ini saya belikan sekalian sama temen-temen kamu juga.""Tapi ini berlebihan Mas Bian."Pria itu seakan tidak peduli, lalu memindahkan kedua kantong plastik itu hingga beralih tangan kepada Laras. "Kalau nggak habis bisa dimakan lagi nanti siang. Terima, ya? Apa mau saya pesankan yang lain?"Mendengar itu Laras refleks menggeleng kuat. "Cukup. Ini aja udah banyak, Mas.""Ya udah sini," ucapnya cukup ambigu. Sedangkan Laras menatap heran. Sini mak
"Laras!"Dengan kepanikan yang ada ia terus berjalan menuju lift, menekan tombol tersebut dengan tergesa berharap pintu lift cepat terbuka. Sungguh, ia tidak ingin bertemu dengan Pandu . Pria yang terus mengejarnya itu merupakan suami Jelita. "Laras," cegah Pandu berhasil menarik tangan Laras sehingga wanita itu tidak jadi masuk lift. Sayangnya Laras menepis cekalan itu dengan kasar. Menatap Pandu dengan tatapan tajam. Di dalam sorot matanya terlihat aura kebencian muncul di sana. Apakah benar pria di depannya itu Pandu yang ia kenal? Pandu yang tidak pernah menaikan nada bicara apalagi sampai bermain fisik. Apakah yang berdiri di hadapannya itu sosok Pandu yang berhati lembut? "Tolong jangan ganggu aku," tegas Laras. Kembali Pandu mencekal lengan wanita itu, menghentikan pergerakan Laras. Menatapnya cukup dalam"Ras," lirih Pandu. "Aku nggak mau berurusan lagi sama kamu, Mas," tekan Laras. Pandu menatap tidak percaya atas apa yang barusan wanita itu ucapkan. Bukankah dulu baik-
"Morning," kecup Bian di kening sang istri. Laras justru menggeliat geli, wanita itu membuka matanya secara perlahan. Di sampingnya sudah ada Bian yang tengah tersenyum hangat dengan posisi dada masih telanjang. Rasa lelah selepas tempur kemarin terasa membekas pagi ini, Laras seakan malas beranjak dari tempat tidur. "Kenapa tidur lagi, kamu nggak kerja?" tanya Bian melihat Laras memejamkan matanya. Wanita itu membalas, "Masih ngantuk, Mas.""Ya udah nggak usah kerja. Kamu di rumah aja istirahat, pasti capek karena semalam, ya?" goda Bian sengaja. Laras mendengus sebal. Pagi-pagi gini masih saja membahas soal semalam. Lagipula, siapa yang tidak capek melayani orang gila macam Bian? Ia bahkan baru bisa tidur di jam 2 pagi. Melelahkan memang. "Mas mandi duluan sana, aku mau tidur 15 menitan lagi," ujar Laras. Bian makin mendekatkan wajahnya. "Mandi bareng aja, gimana?""Mas!" kesal Laras langsung mendorong pria itu menjauh. Ia pun mengganti posisinya menjadi duduk dengan selimut y