Semua Bab ISTRI YANG TAK DIAKUI: Bab 81 - Bab 90

111 Bab

Jebakan untuk Diego

Diego yang sedang bersembunyi di balik menara mendengar suara senjata api yang diarahkan padanya. Tubuhnya menegang, dan dia perlahan menoleh ke arah asal suara tersebut."Jangan bergerak," perintah suara berat pria bersenjata yang kini berdiri di belakangnya, ujung laras pistol mengarah tepat ke kepala Diego.Diego menelan ludah, mencoba berpikir cepat. "Tunggu, aku hanya tersesat. Aku tidak tahu apa-apa!" katanya, suaranya bergetar namun tetap mencoba tenang.Pria itu tidak menjawab. Dalam sekejap, dia menghantam tengkuk Diego dengan gagang pistolnya.Buk!Diego jatuh tersungkur ke tanah, tak sadarkan diri. Pria bersenjata itu memandang tubuh Diego yang terkapar, lalu menunduk untuk memastikan Diego benar-benar pingsan."Angkat dia," katanya kepada rekannya.Tanpa banyak bicara, mereka mengangkat tubuh Diego dan membawanya ke dalam bangunan tua yang suram. Suara langkah sepatu mereka bergema di sepanjang koridor gelap, sementara lampu berkedip-kedip memberikan nuansa menakutkan."Ik
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-16
Baca selengkapnya

Penyesalan Renzo

Pintu jeruji besi terbuka, seorang pria berpakaian serba hitam dengan senjata laras panjang dan dua pria lainnya berdiri di belakangnya, siap mengawal."Ayo, ikut kami!" perintah pria itu dengan nada keras."Mau dibawa ke mana kami?!" tanya Diego, nada suaranya penuh curiga."Jangan cerewet! Ayo jalan!" bentak pria itu, sambil menodongkan senjatanya ke arah mereka.Diego dan Renzo saling bertukar pandang, mereka tak punya pilihan lain, selain mengikuti mereka. Di bawah ancaman senjata, mereka berjalan melewati lorong panjang. Setibanya di sebuah ruangan besar, mereka menuruni tangga dan menuju ruangan lain yang lebih gelap.Diego dan Renzo dibawa ke sebuah ruangan besar yang penuh dengan hawa tegang. Di sana, mereka akhirnya bertemu dengan Kelvin dan Miko."Papa!" Kelvin berlari dan langsung memeluk Renzo dengan erat, begitu pula Miko yang menghampiri Diego sambil menangis.Renzo menatap putranya sejenak sebelum pandangannya beralih ke arah Yoona, yang berdiri dengan santai di samping
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-16
Baca selengkapnya

Persiapan perang 1

Eliza dan Antonio bekerja tanpa kenal lelah, memutar otak siang dan malam untuk menyusun rencana penyelamatan yang matang. Meski hatinya dihantui rasa cemas yang tak henti-henti, Eliza berusaha menekan emosinya dan tetap fokus. Setiap detik terasa berharga, sementara ancaman Victor terus bergulir tanpa ampun.Rasa sakit yang ia rasakan semakin menjadi-jadi ketika video baru dari Victor dikirimkan ke ponselnya. Dalam video itu, Diego dan Renzo diperlakukan dengan kejam-wajah mereka lebam, tubuh mereka penuh luka akibat pukulan bertubi-tubi. Namun, yang paling menghancurkan hati Eliza adalah melihat Kelvin dan Miko. Kedua anak itu dipaksa menghadapi ancaman dan kekerasan psikologis dari Yoona dan Isabel. Jeritan mereka yang memohon belas kasihan menggema di benak Eliza, seolah menancapkan duri tajam ke dalam hatinya.Eliza mengepalkan tangan hingga buku-bukunya memutih, kukunya hampir menembus kulit telapak tangannya. Tubuhnya bergetar oleh amarah yang memuncak, namun ia tahu bahwa meny
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-16
Baca selengkapnya

Persiapan perang 2

Keesokan paginya, suasana markas penuh dengan kesibukan. Eliza dan Antonio memimpin tim mereka dengan tekad yang bulat. Meja di ruang briefing dipenuhi peta, skema bangunan, dan laporan intelijen.Eliza memeriksa senjatanya dengan teliti, memastikan setiap peluru, pisau, dan alat komunikasi dalam kondisi sempurna. Wajahnya menunjukkan ketenangan, meskipun di dalam hatinya masih ada kekhawatiran terhadap Diego, Renzo, dan anak-anak.Antonio, di sisi lain, sibuk menginstruksikan pasukannya. Ia memeriksa perlengkapan mereka, memastikan semua siap untuk pertempuran besar malam itu. "Pastikan senjata kalian terisi penuh. Tidak ada kesalahan. Kita hanya punya satu kesempatan," ucapnya tegas.Daniel memasuki ruangan dengan peta baru di tangannya. "Aku baru saja mendapat informasi tambahan. Mereka memperkuat keamanan di area selatan. Itu berarti markas Victor kemungkinan besar memiliki jalur masuk yang tersembunyi di sisi utara," katanya sambil menunjuk lokasi di peta.Antonio mengangguk samb
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-16
Baca selengkapnya

Penyesalan

Diego dan Renzo, dua pria yang pernah menjadi pilar kekuatan dalam kehidupan Eliza, kini terlihat seperti dua pecundang yang kehilangan semua harga dirinya. Di hadapan Yoona dan Isabel, mereka tak berdaya, tubuh mereka lebam akibat pukulan bertubi-tubi dari anak buah Victor."Mungkin, aku akan mengampunimu, Renzo," kata Isabel dengan nada lembut yang penuh tipu daya, berjalan mendekati pria itu dengan senyum manipulatif. "Asal kau mau bekerja sama dengan papaku, dan menikahlah denganku. Tinggalkan semua prinsip bodohmu itu, dan hiduplah dengan cara kami. Kau dan aku bisa menguasai segalanya," lanjutnya, menekankan setiap kata seperti racun yang menyusup ke dalam pikiran.Renzo mengangkat wajahnya, meski bibirnya pecah dan darah mengalir dari sudut mulutnya, ia tetap menatap Isabel dengan tatapan penuh kebencian. "Aku menyesal... aku menyesal tidak percaya dengan Eliza sejak awal. Kau benar-benar wanita kejam!"Raut wajah Isabel berubah, matanya membara penuh amarah. la mendekat dengan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-16
Baca selengkapnya

Kerjasama yang bagus

Hari itu, suasana di bawah tanah terasa berbeda dari biasanya.Ruangan yang gelap dan pengap kini sunyi, jauh dari hiruk-pikuk yang biasa terjadi. Tidak ada anak buah Victor yang berlalu-lalang seperti biasanya. Renzo dan Diego, yang masih terikat rantai besi di sudut ruangan, saling pandang dengan rasa curiga yang sama."Kemana mereka semua?" Renzo akhirnya bertanya, suaranya pelan, nyaris berbisik.Diego menggeleng. "Aku tidak tahu."Renzo terdiam, menatap lantai beton dingin di bawahnya. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, mencari ide untuk melarikan diri. Waktu berlalu dalam keheningan, hingga Diego tiba-tiba mengangkat wajahnya, matanya berbinar seperti baru menemukan ide brilian."Aku ada ide!" ucap Diego dengan semangat.Renzo menoleh cepat. "Apa itu?" tanyanya, penasaran.Diego mencondongkan tubuhnya ke arah Renzo, menarik bahunya mendekat. Dengan suara nyaris tak terdengar, ia berbisik di telinga Renzo, menjelaskan rencana yang ada di pikirannya.Setelah selesai m
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-21
Baca selengkapnya

Bom waktu

Diego dan Renzo masing-masing menggendong anak mereka di punggung, berlari sekuat tenaga menuju pintu besar yang tampak terbuka lebar di ujung lorong. Nafas mereka memburu, namun tekad untuk menyelamatkan Kelvin dan Miko membuat mereka terus melangkah tanpa ragu."Ayo cepat, Diego!" seru Renzo, suaranya terdengar tegas namun penuh kekhawatiran. Ia tidak menoleh ke belakang, memastikan fokusnya tertuju pada pintu dan jalan keluar.Renzo lebih dulu melewati pintu, diikuti oleh Diego beberapa detik kemudian. Namun, saat langkah mereka berhasil melewati pintu.Bang!Pintu itu tertutup dengan sendirinya, mengunci mereka di dalam ruangan besar yang terang benderang. Diego dan Renzo berhenti serentak, tubuh mereka berbalik untuk menatap pintu yang kini tertutup rapat. Napas mereka tertahan, insting mereka mengatakan ada sesuatu yang salah.Suara tepuk tangan yang perlahan-lahan semakin keras menarik perhatian mereka.Plok. Plok. Plok.Mereka menoleh, dan di hadapan mereka berdiri empat orang
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-21
Baca selengkapnya

Serangan pertama

Sementara Eliza berada di sekitar markas Victor, ia memperhatikan dua mobil melaju keluar dari gerbang utama. Matanya menyipit, memastikan bahwa target utamanya masih berada di dalam. la menghela napas panjang, memantapkan tekadnya. Kelvin dan Miko harus diselamatkan, tidak peduli berapa nyawa yang harus ia hancurkan untuk itu.Dengan cepat, Eliza membuka tasnya, memeriksa peralatan yang telah ia siapkan. Beberapa granat, senjata api, dan peluru cadangan tertata rapi. Di sisi lain markas, Antonio bersama anak buahnya sudah mulai melaksanakan tugasnya.Duar! Duar!Suara ledakan menggema dari arah gudang senjata dan menara pengawas. Api menjalar dengan cepat, menghancurkan bangunan yang menjadi pusat kekuatan Victor. Langit malam berubah menjadi merah terang, diiringi suara jeritan dan kekacauan yang melanda markas.Eliza tidak membuang waktu. Dengan langkah gesit, ia menyelinap melewati penjaga yang panik, memanfaatkan kekacauan sebagai peluang untuk masuk lebih dalam. Aroma daging ter
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-21
Baca selengkapnya

Serangan kedua

Eliza melangkah cepat keluar dari ruangan bersama kedua anaknya, Kelvin dan Miko, hanya untuk bertemu dengan Antonio di koridor sempit yang dipenuhi bau mesiu dan darah."Bawa anakku pulang. Aku akan melindungimu," kata Eliza, suaranya tegas dan penuh otoritas.Antonio menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Aku akan memastikan mereka aman. Hati-hati, Eliza."Eliza membuka tas yang sejak tadi tergantung di pundaknya. la mengeluarkan dua senjata api, memastikan magazin terisi penuh. Suara langkah kaki mendekat dari arah belakang membuatnya semakin waspada.Antonio segera menggendong Miko dan menggenggam tangan Kelvin erat, membawa mereka menjauh dari situasi berbahaya. Eliza mengikutinya dengan pandangan tajam, memastikan tidak ada musuh yang bisa mendekat.Dor! Dor!Dua peluru dilepaskan dengan presisi, mengenai dua pria yang mencoba menghadang dari sudut koridor. Tubuh mereka jatuh terkapar di lantai tanpa sempat melepaskan tembakan balasan.Eliza terus bergerak, menembak setiap musuh
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-21
Baca selengkapnya

Hancur lebur

Bak iblis yang mengamuk, Eliza melangkah ke luar ruangan dengan penuh keberanian, disertai oleh anak buah Antonio yang siap mengikuti perintahnya. Eliza melepaskan tembakan dengan brutal ke arah musuh yang berdatangan.Dor! Dor! Dor!Suara berdesing memekakkan telinga, peluru yang berseliweran. Menghancurkan yang ada di depan. Satu persatu musuh berjatuhan, terkapar bersimbah darah. Tubuh Eliza penuh luka goresan, kulitnya yang putih berubah menjadi merah darah."Ledakkan semua tempat, jangan ada yang tersisa!" teriak Eliza kepada anak buah Antonio, yang setia mengikuti setiap perintahnya. Mereka berlari, melompati tubuh-tubuh tak bernyawa, dan terus melaju menuju jantung markas Victor.Duar!Suara ledakan mengguncang seluruh markas, memekakkan telinga. Eliza tidak ragu-ragu lagi. la melepaskan granat ke arah gudang senjata yang penuh dengan bahan peledak. Api menyala besar, menyebar dengan cepat dan melalap seluruh ruangan."Semua harus hancur!" teriak Eliza, wajahnya dipenuhi oleh k
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-21
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
789101112
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status