Home / Romansa / Milyader, Mari Bercerai / Chapter 301 - Chapter 310

All Chapters of Milyader, Mari Bercerai: Chapter 301 - Chapter 310

343 Chapters

Bab 301

Kemudian pemimpin tim melangkah maju. "Masih memungkinkan untuk mendapatkan rekaman itu, Pak." Dia meyakinkanku. "Ini nggak akan mudah, tapi bukan berarti nggak mungkin. Kami punya rencana untuk melacak rekaman itu, menyisir arsip, dan menyusun kembali potongan-potongannya. Akan memakan waktu dan tenaga, tapi kami yakin bisa melakukannya."Aku mengangguk."Apa kalian bisa mendapatkannya hari ini?" tanya detektif itu sambil mengamati ruangan.Pemimpin tim itu sekilas menatap timnya yang masih sibuk mencoba mengambil rekaman, lalu menoleh kembali pada detektif dan mengangguk. "Akan memakan waktu sekitar satu atau dua jam, tapi bisa didapatkan hari ini."Meskipun aku bertanya-tanya apa yang akan dilakukan polisi di sini selama berjam-jam jika mereka menolak pergi sampai mendapatkan rekaman itu, perasaan lega perlahan menyelimuti diriku. Setidaknya, aku tidak lagi terlihat seperti mencoba menyembunyikan sesuatu."Baiklah, ayo kita kerjakan," kataku, bersyukur atas komitmen mereka.Saat mer
Read more

Bab 302

Sudut pandang Aiden:Aku menatap donat dengan taburan sayuran di atasnya dan mengangguk, sedikit terkesan.Para juri mengambil giliran mereka mencicipi camilan itu. Kemudian, tiba giliranku.Aku mengambilnya, bersiap untuk menggigit. Namun, aku tiba-tiba terhenti ketika mendengar teriakan, "Jangan!"Aku langsung mengenali suara itu, dan aku menoleh ke arahnya dengan jantung berdegup kencang.Apakah sesuatu terjadi padanya? Apakah dia terjatuh? Apakah dia terluka?Berbagai asumsi dan bayangan menyakitkan tentang Ana yang terluka berkelebat di pikiranku sebelum pandanganku benar-benar menangkap sosoknya.Aku menemukan tatapannya yang lebar dan ketakutan tertuju padaku. Pertanyaan refleksku, "Kamu baik-baik saja?" Langsung tertelan di kerongkongan.Dia menatapku seperti baru saja melihat hantu. Begitu mata kami bertemu, dia buru-buru menunduk, tampak malu.Dia melirik sekelilingnya, lalu menunjuk ke arahku dengan canggung. "Dia alergi wijen."Pikiran pertama yang seharusnya muncul di bena
Read more

Bab 303

Aku menoleh ke pria yang sekarang aku duga adalah Martin. "Uhh ...."Pengelola penginapan menepuk bahuku dengan keras. "Aiden, temanku, kenalkan, ini anakku, Martin."Martin menoleh kepadaku, pengakuan dalam matanya kini semakin jelas. "Oh, jadi kamu Aiden." Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, meskipun masih membawa beberapa kotak.Aku menjabat tangannya. "Senang bertemu denganmu, Martin." Sekarang setelah aku melihatnya lagi, aku mengerti mengapa wajahnya terlihat familier. Dia sangat mirip dengan ayahnya.Setelah bertukar sapaan, aku melanjutkan perjalananku menuju kamar Ana.Aku memastikan tanaman dalam genggamanku aman sebelum mengetuk pintu.Keningku kini berkerut dalam saat aku mengetuk untuk ketiga kalinya dan masih tidak mendapat respons."Ana!" aku memanggil, tak peduli siapa yang mungkin mendengar."Anastasia!" Aku mengetuk pintu lebih keras. "Kamu ada di dalam?"Pertanyaanku hanya disambut dengan keheningan.Saat aku hendak memanggil namanya lagi, aku mendengar
Read more

Bab 304

Sudut pandang Anastasia:Di kamarnya? Aku terpana menatapnya. Apakah dia sadar dengan apa yang dia katakan? Kenapa, dari semua kamar, aku harus memilih kamarnya?"Nggak, terima kasih," ucapku spontan sebelum sempat berpikir.Sekilas aku melihat luka di matanya sebelum dia menyembunyikannya dengan senyuman. Rasa bersalah menyelimutiku. Aku tak seharusnya menolak tawarannya sekeras itu.Aku hendak menjelaskan saat dia berkata, "Aku ngerti, tapi aku benar-benar nggak keberatan. Lagi pula ...." Kemudian, dia menambahkan dengan alis terangkat, "Aku nggak berniat tinggal di kamarku kalau kamu menginap di sana.""Oh." Aku terpaku. "Aku nggak tahu kalau kamu nggak akan tidur di kamarmu.""Tentu saja nggak," ujarnya seolah hal itu sangat jelas. "Aku nggak ingin membuatmu merasa nggak nyaman."Aku tersentuh. Itu mengingatkanku pada Aiden yang dulu kukenal. Tinggal di kamarnya sendirian terasa jauh lebih baik daripada sekamar dengan orang yang akan membombardirku dengan pertanyaan. Namun, di mana
Read more

Bab 305

Aku memucat. Kenapa pikiran itu tiba-tiba muncul?Aku menggeleng, mencoba mengusir setiap pikiran yang ada tentang Aiden. Kenapa aku berpikiran seperti itu? Aku bahkan berada di kamarnya sekarang.Akhirnya, aku pun berpindah untuk duduk di ranjang dan saat itulah aku menyadari bahwa sejak Aiden membawaku ke ruangan ini, sementara dia membereskan barang-barangnya, aku tetap berdiri di tempat yang sama.Aku menutup mata dan mengerang. Tidak heran dia tampak seperti tidak sabar untuk meninggalkan ruangan itu. Pasti aku membuatnya merasa sangat tidak nyaman.Tenggelam dalam keempukan kasur saat aku berbaring, aku mengagumi ruangan itu. Tampaknya desain interior semua ruangan serupa.Tak lama kemudian, aku menanggalkan pakaianku dan menyeret diriku ke kamar mandi, di mana aku mandi dengan lama sambil memeriksa beberapa produk perawatan kulit miliknya. Produk-produk itu beraroma enak seperti biasanya, tetapi berbeda dari yang biasa dia gunakan.Aku sangat tergoda untuk mencoba beberapa di an
Read more

Bab 306

Sudut pandang Aiden:Ketika aku bergerak di ruangan itu, aku merasakan tatapannya mengikuti setiap langkahku. Entah mengapa, hal itu membuatku tersenyum. Hatiku terasa hangat karena dia menatapku, bukan mengabaikanku begitu saja.Saat aku menutup laci dan mulai berjalan menuju pintu, tiba-tiba suaranya menghentikanku. "Kamu bisa tidur di sini."Hatiku langsung berdetak kencang, seolah sedang mengikuti lomba maraton. Apa aku tidak salah dengar? Aku menoleh padanya. Ada sesuatu dalam mata indahnya yang menatapku. Rasa bersalah? Rasa iba? Aku tidak bisa memastikan.Ana duduk di tengah ranjang, dengan selimut melilit bagian bawah tubuhnya. Meski belum tidur, rambutnya sudah berantakan dengan cara yang memesona. Pasti dia sudah mandi, pikirku. Dia tampak lebih bersih dan segar dibanding saat aku meninggalkan ruangan dan rambutnya tak lagi terikat dengan kuncir kuda kendur sejak tantangan memasak.Mungkin dia menyadari aku terlalu menatapnya, dia memalingkan pandangannya, lalu kembali menata
Read more

Bab 307

Sudut pandang Anastasia:Aku membuka mata dan menatap langit-langit sangat lama. "Gimana aku bisa lupa?" gumamku pelan.Aku melirik jam dinding yang tergantung di atas pintu. Sudah tengah malam dan aku tidak bisa tidur.Saat tiduran, terdengar suara dengkuran rendah, hampir seperti raungan serak seekor binatang buas yang mendekati mangsanya. Namun, itu hanyalah Aiden.Dengan telapak tangan yang kusatukan dan diletakkan di bawah pipiku, aku menoleh ke arah Aiden. Mulutnya terbuka lebar, mengeluarkan dengkuran keras.Tanpa sengaja, kenangan pun membanjiri pikiranku. Satu kenangan khusus begitu menonjol .... Hari pertama aku menginap di tempatnya, kira-kira sebulan setelah pertama kali bertemu. Aku merasa ngeri saat menyadari bahwa pria setampan dia bisa bersuara seperti itu ketika tidur.Ketika aku meluapkan kekesalan keesokan harinya karena tidak bisa tidur, dia tertawa dan berkata bahwa aku akan terbiasa.Aku terkesan karena hal itu tidak membuatnya merasa kurang percaya diri, meski ak
Read more

Bab 308

Sudut pandang Dennis:"Putar kembali," kataku kepada pemuda itu. Saat dia melakukannya, aku tanpa berpikir mendorongnya hingga dia bangun dari kursinya, kemudian aku duduk.Aku mengusap wajah dengan telapak tanganku sambil mulai menonton rekaman itu kembali.Rekaman kini menampilkan Clara. Aku terdiam sambil menyipitkan mata, berharap aku salah mengenali seseorang, tetapi ternyata itu benar-benar Clara.Clara turun dari taksi sendirian. Setelah taksi itu melaju pergi, dia berlama-lama di trotoar. Saat dia hanya berdiri di sana, aku sempat tergoda untuk memajukan rekaman itu, tetapi aku khawatir akan melewatkan detail penting, sehingga aku menontonnya sambil menguap, meskipun rasa penasaranku sangat besar.Dia beberapa kali menatap jalan di depannya, tampak semakin tidak sabar seiring waktu berlalu. Tak lama kemudian, dia berjalan ke sisi bar dan bersandar pada dinding dengan kepala terangkat ke belakang.Hampir dua menit kemudian, sebuah taksi lain tiba. Seseorang turun, mengeluarkan p
Read more

Bab 309

Bagaimana aku bisa lupa, jika aku pertama kali mendengarnya dari Clara, lalu dari Anastasia saat akhirnya dia menerimaku dalam hidupnya?Aku periksa tanggal pada video itu dan benar. Sekitar waktu itulah Clara menceritakan dengan suara penuh kemarahan dan kebencian bahwa Aiden adalah bajingan yang telah menyakiti temannya."Kamu nggak akan percaya, dia mengkhianatinya pada hari yang sama ketika dia tahu Anastasia akan kembali dari perjalanannya dan meninggalkan semua bukti untuk dilihatnya," jelas Clara sambil menatap kerumunan dengan rahang mengencang. "Itulah yang membuatku muak."Aku terkejut luar biasa. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa terkejutnya aku.Clara? Kadang, kasih sayang dan perhatian Clara terhadap Anastasia selalu membuatku terpesona, hingga aku bertanya-tanya apakah aku benar-benar cukup mencintai Ana untuk mendapatkan kesempatan bersamanya.Clara selalu ada untuknya, selalu mendengarkan, menangkapnya saat terjatuh, turun tangan setiap kali Anastasia butuh
Read more

Bab 310

Sudut pandang Clara:Aku masih ingat hari yang menentukan itu seolah baru terjadi kemarin. Aku sedang menggulir aplikasi kencan tanpa tujuan, dengan pikiran penuh tentang tugas panjang yang harus kuselesaikan.Secara kebetulan, aku menemukan profilnya di aplikasi itu. Namun entah kenapa, aku tidak percaya kalau itu murni kebetulan. Aku yakin bahwa pertemuan itu sudah ditakdirkan sejak awal.Aiden dan aku sepertinya memang ditakdirkan untuk bersama.Aku memberanikan diri dan mengirim pesan padanya. Foto profilnya begitu tampan dan menggoda sehingga aku tidak menyangka dia akan membalas sapaan "Hai, Ganteng" yang kukirim. Aku sempat merasa aneh dengan sapaan itu dan berpikir, seseorang setampan dia pasti dikelilingi oleh deretan gadis yang terus menerus membanjiri pesannya.Dia pasti memiliki banyak sekali pilihan untuk bercinta dan memilih siapa yang benar-benar pantas dicintai. Jadi, kenapa dia mau membalas gadis yang mengirim pesan aneh itu? Mungkin dia bahkan tidak akan pernah meliha
Read more
PREV
1
...
2930313233
...
35
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status