All Chapters of Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas: Chapter 131 - Chapter 140

182 Chapters

Bab 131. Dituduh Mata-mata

"Saya bisa memberikan bukti yang Sang Prabu minta," berkata Arya."Bisa ditanyakan pada beberapa orang prajurit istana kecil yang sempat saya telanjangi di sungai!"Paras Patih Samba Dirga dan Panglima Suta Soma jadi berubah, para Pendeta tundukkan kepala, beberapa di antaranya senyum-senyum."Cukup!" Sri Baginda berdiri dari duduknya."Kau tidak bisa memberikan bukti, Malah bicara ngawur!" Arya jadi jengkel."Sang Prabu, kewajiban saya hanya melapor. Karena saya merasa Kerajaan Kediri ini dalam bahaya. Bukan tugas saya memberikan bukti-bukti, itu adalah tugas orang-orang Kerajaan Kediri sendiri untuk menyelidiki kebenarannya. Saya bicara apa adanya, jika saya berkata dusta saya bersedia dihukum!""Orang muda!" bentak Suta Soma."Kau tidak layak mengajari Sang Prabu!" Arya menatap wajah Panglima Kerajaan Kediri itu sesaat lalu berkata,"Saya yang tolol mana berani mengajari Raja, jika tidak dipercaya sebaiknya saya pergi saja dari sini." Arya memutar tubuhnya."Kau ku tuduh memberi ke
last updateLast Updated : 2025-02-17
Read more

Bab 132. Dewi Sasanti

Arya lalu ulurkan kedua tangannya, seorang prajurit cepat membelenggu kedua pergelangan tangan Arya dengan belenggu besi, sementara beberapa orang prajurit lainnya sibuk menolong 5 kawan mereka yang cidera."Bawa tawanan ini ke penjara di tembok Timur Istana. Jangan lepaskan belenggunya, dua orang harus selalu mengawal pintu penjara siang malam." kata Panglima Suta Soma pada bawahannya, beberapa prajurit segera menggiring Arya meninggalkan ruangan itu.Sebelum melangkah pergi Pendekar Rajawali Dari Andalas berhenti di depan Suta Soma, dia keluarkan suara bersiul lalu berkata,"Terima kasih atas perlakuan yang sangat mengesankan ini, saya merasa sebagai tahanan terhormat. Bukan maling bukan pencuri juga bukan perampok, Kau tak usah kuatir saya akan melarikan diri. Karena itu saya tidak memerlukan belenggu besi ini!" Arya salurkan tenaga dalam, kedua tangannya bergetar.“Traakk!” belenggu itu terbelah dua.Selagi semua orang terkesiap menyaksikan kejadian itu, Arya berpaling ke arah San
last updateLast Updated : 2025-02-18
Read more

Bab 133. Pergi Tanpa Dikawal

"Tadinya Ananda sengaja merahasiakan apa yang telah terjadi sekitar beberapa hari lalu, tapi saat ini Ananda harus memutuskan untuk rnenceritakannya agar Ayahanda bersedia memenuhi permintaan Ananda membebaskan pemuda itu."Lalu Raden Ayu Dewi Sasanti menuturkan suatu peristiwa yang selama ini tidak diketahui oleh Sang Prabu maupun Permaisuri.Pagi itu ketika seorang pengasuh di Istana memberi tahu bahwa dua orang pengawal yang biasa melatihnya menunggang kuda siap menunggu, puteri bungsu Sang Prabu mengatakan bahwa dirinya kurang sehat, latihan hari itu ditunda saja sampai besok.Sebenarnya Dewi Sasanti punya rencana sendiri yang sudah sejak lama ingin dilakukannya di sebuah hutan kecil di Timur Laut Kerajaan Kediri itu, tak berapa jauh dari Gunung Kawi sejak lama diketahui orang banyak terdapat kupu-kupu dari berbagai jenis ukuran dan bentuk.Warnanya juga macam-macam dan sangat menarik hati, Raden Ayu Dewi Sasanti ingin sekali pergi ke sana untuk melihat dan menangkap binatang-bina
last updateLast Updated : 2025-02-20
Read more

Bab 134. Berkelahi Dengan Harimau

Harimau besar itu mengaum dahsyat, tubuhnya menerkam ke depan. Dua kaki depannya siap menekan ke arah dada, sedang mulutnya yang terbuka lebar mencari sasaran di leher Dewi Sasanti. Hanya sesaat lagi binatang buas itu akan melahap mangsanya, tiba-tiba dari balik sebatang pohon menderu satu sambaran angin yang sangat deras.Angin itu menghantam tubuh harimau itu hingga terpental beberapa tombak, terkapar di tanah, bangun terhuyung-huyung. Kepalanya di geleng-gelengkan lalu terdengar aumannya yang menggetarkan rimba belantara itu, untuk beberapa saat lamanya binatang itu hanya mengaum saja.Rupanya hantaman angin keras tadi walau tidak mendatangkan cidera tapi cukup membuatnya nanar, saat itu Dewi Sasanti terduduk di tanah dengan muka pucat. Dia tidak mampu lagi berteriak, apalagi beranjak menyelamatkan diri.Di saat Dewi Sasanti seperti pasrah menerima kematian di tangan harimau, tiba-tiba sesosok tubuh berkelebat di depannya. Gadis itu melihat seorang pemuda berambut gondrong berpakai
last updateLast Updated : 2025-02-21
Read more

Bab 135. Dewi Sasanti Dihukum

"Saya akan mengantarkanmu sampai ke tepi hutan sana." ujar Arya."Kau baik sekali, tapi kita tidak bisa menunggangi kuda ini berdua.""Asal kau tidak memacu binatang itu secepat kau memacunya sewaktu dikejar harimau tadi, saya pasti dapat mengikutimu," kata Arya pula.Dewi Sasanti tertawa lepas lalu ditepuknya pinggang Drigo, kuda itu mulai bergerak. Mula-mula perlahan dan Arya berlari mengikutinya dari belakang sambil sekali-sekali memberi tahu arah mana yang harus diambil, jika hendak ke luar dari hutan itu.Dewi Sasanti mempercepat lari kudanya sambil sesekali melirik ke belakang, setiap dia berpaling dilihatnya Arya tetap berada dalam jarak yang sama dari kudanya. Dicobanya lebih mempercepat lari Drigo lalu dia melirik lagi, tetap saja Arya dilihatnya berada dalam jarak yang sama.“Pemuda ini bukan orang sembarangan, dia pasti sosok pendekar yang memiliki ilmu kesaktian yang mempuni. Ah, kalau dia mau membaktikan diri di Istana Kerajaan Kediri, niscaya Ayahanda mau memberikan jab
last updateLast Updated : 2025-02-22
Read more

Bab 136. Orang Berkerudung

"Saya ingat pada kisah yang ditulis dalam sebuah kitab kuno, seekor kancil yang lari ketakutan di tengah hutan ditangkap oleh Penguasa Rimba karena dituduh mencuri makanan. Ternyata tuduhan itu kemudian tidak pernah terbukti, karena tidak pernah diperiksa apa yang sebenarnya menyebabkan si kancil melarikan diri, padahal dia melarikan diri karena ketakutan dikejar babi hutan dan srigala yang berlomba hendak memangsanya. Seorang pemuda yang tidak diketahui kesalahannya ditangkap, dijebloskan ke dalam penjara. Mengapa tidak seorangpun yang memikirkan untuk menyelidiki Adipati Gadra dan Adipati Seto Wirya? Saya tidak memerlukan jawaban karena saya tahu semua orang yang ada di sini adalah orang-orang pandai yang tidak layak diajari…" tutur Dewi Sasanti."Sasanti!" hardik Sang Prabu dengan muka merah padam dan marah sekali."Keluar kau dari ruangan ini!" sambungnya.Putri Sang Prabu haturkan sembah lalu membalik dan berlalu dari ambang pintu dengan cepat, Pendeta Durpala menarik nafas lalu
last updateLast Updated : 2025-02-22
Read more

Bab 137. Perkelahian Sengit

"Keparat bermulut besar! Biar hari ini aku Welung Pati merobek mulutmu!" teriak Welung Pati marah sekali.Tangan kanannya berkelebat, Lima jari tangannya menyambar ke mulut Arya. Murid Nyi Konde Perak itu terkejut dan juga heran ketika menyaksikan gerakan lawan yang sangat cepat, padahal dulu ketika pertama kali berhadapan meskipun kepandaiannya tidak rendah tapi gerakan Welung Pati termasuk lamban.Arya tentu saja tidak tinggal diam, dari gerak bahu lawan dia sudah dapat membaca apa yang hendak dilakukan orang itu. Dia menggeser kaki ke kiri sambil memiringkan kepala, bersamaan dengan itu tinju kanannya dihantamkan ke arah muka lawan dalam kecepatan luar biasa.Welung Pati menyadari bahwa serangan Arya akan mengenai kepalanya sebelum dia sempat merobek mulut lawannya itu, dengan cepat dia tarik pulang serangannya lalu melompat mundur dua langkah. Dari tempat dia berdiri dengan kuda-kuda baru Welung Pati lepaskan satu pukulan tangan kosong yang mengeluarkan angin kuat.Selagi angin pu
last updateLast Updated : 2025-02-23
Read more

Bab 138. Munculnya Dewa Pesing

Setelah terdesak hebat terus menerus, murid Nyi Konde Perak itu kerahkan ilmu meringankan tubuhnya, merubah gerakan-gerakan ilmu silatnya dan dia sengaja berkelebat lebih cepat. Sampai dua jurus di muka Arya sepertinya kini sanggup mengimbangi serangan lawan dan mulai melancarkan serangan-serangan balasan. Namun dua jurus selanjutnya didahului oleh satu bentakan keras Welung Pati merubah total permainan goloknya dan kini Arya kembali terdesak hebat.Dalam satu gebrakan keras menegangkan golok di tangan Welung Pati berkiblat membuat silangan-silangan aneh.“Breettt… brettt… brettt!”Pakaian Arya robek di tiga tempat di makan ujung golok Welung Pati, kalau Arya sempat keluarkan seruan tertahan dan tengkuknya menjadi dingin, maka Dewi Sasanti tak dapat lagi menahan kecemasannya, gadis itu terpekik.Habis memekik baru dia sadar dan cepat-cepat menekap mulutnya, tapi suaranya sudah kepalang terdengar oleh Welung Pati. Ketua Padepokan Gagak Timur itu melintangkan goloknya di depan dada dan
last updateLast Updated : 2025-02-23
Read more

Bab 139. Pertarungan Berlanjut

Kalau menurutkan kemarahannya mau rasanya Welung Pati menyerang si gendut di atas kuda kurus dengan goloknya saat itu juga, namun dia berlaku cerdik mengapa menambah musuh baru sedangkan urusan dengan Arya belum terselesaikan? Di samping itu Welung Pati merasa bahwa si gendut ini tidak berada di pihaknya.Dugaan Welung Pati tidak salah karena saat itu didengarnya si gendut berkata pada Arya."Sobat muda, aku gembira bisa ketemu kau lagi! Ha.., ha… ha …!""Dewa Pesing, aku juga gembira!" sahut Arya."Cuma sayang aku sedang ada urusan dengan pemuda pemberontak ini!" tambah Arya."Ah, dia pemberontak rupanya! Ha… ha… ha…!" Dewa Pesing lalu berpaling pada Welung Pati."Masih bau kencur sudah berani memberontak, Hai anak muda! Kau minum dulu kencingku! Kalau sudah mampu minum kencingku baru boleh memberontak! Ha… ha… ha…!" rahang Welung Pati menggembung tanda amarahnya menggelegak.Tapi dia pandai membaca keadaan, apalagi tadi dia mendengar Arya menyebut nama si gendut itu.”Siapa tidak k
last updateLast Updated : 2025-02-25
Read more

Bab 140. Keris Nagasinga

Di saat itu pula ketika merasa datangnya tekanan tenaga dalam lawan, Welung Pati kerahkan seluruh tenaga dalamnya pula. Justru disinilah kesalahannya, tenaga dalamnya terhimpit telak di bawah tenaga dalam Arya.Begitu dua kekuatan tenaga dalam saling bentrok, tubuh Welung Pati tampak terpuntir keras seperti ditabrak angin tornado, lalu terpental sampai beberapa langkah golok di tangannya pun terlepas dan jatuh."Jahanam! Bangsat ini harus segera kubunuh! Dia bukan saja akan menghalang rencanaku mengadu domba Adipati Garda dan Sang Prabu Kerajaan Kediri! Tapi juga membalaskan dendam Kakang Sandaka!" maki Welung Pati dalam hati.Ketua Padepokan Gagak Timur itu cepat berdiri, namun dadanya terasa sakit sekali. Gerakannya yang sudah setengah berdiri jatuh kembali, dia jatuh berlutut sambil pegangi dadanya. Marah dan sangat penasaran membuat pemuda ini berusaha bangkit kembali, karena dipaksakan sedang tubuh di bagian dalam terluka parah, dia pun jadi terbatuk-batuk beberapa kali dan tiba-
last updateLast Updated : 2025-02-25
Read more
PREV
1
...
1213141516
...
19
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status