"Keparat bermulut besar! Biar hari ini aku Welung Pati merobek mulutmu!" teriak Welung Pati marah sekali.Tangan kanannya berkelebat, Lima jari tangannya menyambar ke mulut Arya. Murid Nyi Konde Perak itu terkejut dan juga heran ketika menyaksikan gerakan lawan yang sangat cepat, padahal dulu ketika pertama kali berhadapan meskipun kepandaiannya tidak rendah tapi gerakan Welung Pati termasuk lamban.Arya tentu saja tidak tinggal diam, dari gerak bahu lawan dia sudah dapat membaca apa yang hendak dilakukan orang itu. Dia menggeser kaki ke kiri sambil memiringkan kepala, bersamaan dengan itu tinju kanannya dihantamkan ke arah muka lawan dalam kecepatan luar biasa.Welung Pati menyadari bahwa serangan Arya akan mengenai kepalanya sebelum dia sempat merobek mulut lawannya itu, dengan cepat dia tarik pulang serangannya lalu melompat mundur dua langkah. Dari tempat dia berdiri dengan kuda-kuda baru Welung Pati lepaskan satu pukulan tangan kosong yang mengeluarkan angin kuat.Selagi angin pu
Setelah terdesak hebat terus menerus, murid Nyi Konde Perak itu kerahkan ilmu meringankan tubuhnya, merubah gerakan-gerakan ilmu silatnya dan dia sengaja berkelebat lebih cepat. Sampai dua jurus di muka Arya sepertinya kini sanggup mengimbangi serangan lawan dan mulai melancarkan serangan-serangan balasan. Namun dua jurus selanjutnya didahului oleh satu bentakan keras Welung Pati merubah total permainan goloknya dan kini Arya kembali terdesak hebat.Dalam satu gebrakan keras menegangkan golok di tangan Welung Pati berkiblat membuat silangan-silangan aneh.“Breettt… brettt… brettt!”Pakaian Arya robek di tiga tempat di makan ujung golok Welung Pati, kalau Arya sempat keluarkan seruan tertahan dan tengkuknya menjadi dingin, maka Dewi Sasanti tak dapat lagi menahan kecemasannya, gadis itu terpekik.Habis memekik baru dia sadar dan cepat-cepat menekap mulutnya, tapi suaranya sudah kepalang terdengar oleh Welung Pati. Ketua Padepokan Gagak Timur itu melintangkan goloknya di depan dada dan
Kalau menurutkan kemarahannya mau rasanya Welung Pati menyerang si gendut di atas kuda kurus dengan goloknya saat itu juga, namun dia berlaku cerdik mengapa menambah musuh baru sedangkan urusan dengan Arya belum terselesaikan? Di samping itu Welung Pati merasa bahwa si gendut ini tidak berada di pihaknya.Dugaan Welung Pati tidak salah karena saat itu didengarnya si gendut berkata pada Arya."Sobat muda, aku gembira bisa ketemu kau lagi! Ha.., ha… ha …!""Dewa Pesing, aku juga gembira!" sahut Arya."Cuma sayang aku sedang ada urusan dengan pemuda pemberontak ini!" tambah Arya."Ah, dia pemberontak rupanya! Ha… ha… ha…!" Dewa Pesing lalu berpaling pada Welung Pati."Masih bau kencur sudah berani memberontak, Hai anak muda! Kau minum dulu kencingku! Kalau sudah mampu minum kencingku baru boleh memberontak! Ha… ha… ha…!" rahang Welung Pati menggembung tanda amarahnya menggelegak.Tapi dia pandai membaca keadaan, apalagi tadi dia mendengar Arya menyebut nama si gendut itu.”Siapa tidak k
Di saat itu pula ketika merasa datangnya tekanan tenaga dalam lawan, Welung Pati kerahkan seluruh tenaga dalamnya pula. Justru disinilah kesalahannya, tenaga dalamnya terhimpit telak di bawah tenaga dalam Arya.Begitu dua kekuatan tenaga dalam saling bentrok, tubuh Welung Pati tampak terpuntir keras seperti ditabrak angin tornado, lalu terpental sampai beberapa langkah golok di tangannya pun terlepas dan jatuh."Jahanam! Bangsat ini harus segera kubunuh! Dia bukan saja akan menghalang rencanaku mengadu domba Adipati Garda dan Sang Prabu Kerajaan Kediri! Tapi juga membalaskan dendam Kakang Sandaka!" maki Welung Pati dalam hati.Ketua Padepokan Gagak Timur itu cepat berdiri, namun dadanya terasa sakit sekali. Gerakannya yang sudah setengah berdiri jatuh kembali, dia jatuh berlutut sambil pegangi dadanya. Marah dan sangat penasaran membuat pemuda ini berusaha bangkit kembali, karena dipaksakan sedang tubuh di bagian dalam terluka parah, dia pun jadi terbatuk-batuk beberapa kali dan tiba-
Welung Pati meludah ke tanah sekali lagi, dia lalu berputar seperti hendak meninggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba dia membalik, tangan kanannya bergerak lima buah benda hitam yang merupakan senjata rahasia berupa paku-paku kecil halus beracun melesat di udara, menyambar ke arah Arya."Laknat keparat!" teriak Arya marah.Tangan kanannya bergerak cepat kembali menghantamkan pukulan Topan Gunung Sumbing, segulung angin dahsyat menyambar membuat semua senjata rahasia yang dilepaskan Welung Pati itu mencelat mental.Pukulan sakti itu selanjutnya menerpa ke arah Welung Pati, namun Ketua Padepokan Gagak Timur itu sudah lebih dahulu berkelebat ke balik sebatang pohon besar lalu menghilang ditelan kegelapan malam.“Braakkk!” batang pohon kayu berderak keras dilanda pukulan sakti yang dilepaskan Arya." Arya! Kau tak apa-apa?!" terdengar Dewi Sasanti berseru, lalu gadis itu setengah berlari menghampiri sang pendekar."Saya tak kurang suatu apapun jua, terima kasih," jawab Arya."Seharusnya Ra
“Kami adalah orang suruhan dari Welung Pati.”“Tidak mungkin, Welung Pati baru saja mengadakan pertemuan di pinggiran sungai ini beberapa hari yang lalu. Dan sekarang dia pasti berada di Demak bersama Adipati Seto Wirya,” bantah salah salah seorang prajurit Adipati Gadra itu.Meskipun Danar mengenal mereka karena pada saat Welung Pati bertemu dengan Adipati Gadra dia berada di sana, akan tetapi pada waktu itu dia menyamar menjadi Adipati Seto Wirya hingga para prajurit istana kecil itu tak mengenalnya.“Kisanak, kami berkata yang sebenarnya bahwa kami memang di utus oleh Ketua Welung Pati.”“Ketua kalian?!” para prajurit istana kecil terkejut.“Ya benar Kisanak, dia adalah pemimpin kami di padepokan yang berdiri di seberang sungai sana. Padepokan itu bernama Padepokan Gagak Timur, dan sekarang Ketua tengah terluka parah akibat bertarung dengan seseorang. Beliau ingin meminta tolong pada Adipati Garda untuk memberi ramuan penyembuh luka dalam yang ia derita itu,” ujar Danar.“Apa kata-
“Saya akan beritahukan ini pada Ayahanda,” tegas Dewi Sasanti.“Jangan sekarang Raden Ayu, Sang Prabu akan bingung dan semakin tak mempercayai kita. Biar saya saja yang akan menyelidiki ini semua, hingga saya mendapatkan bukti yang dapat dipercayai Baginda Prabu nantinya. Sekarang lebih baik Raden Ayu segera kembali ke istana, sebelum ada prajurit Kerajaan yang melihat keberadaan kita di tempat ini,” cegah Arya kemudian meminta Dewi Sasanti untuk kembali ke istana.“Tapi Arya...!” belum sempat putri bungsu Prabu Kerajaan Kediri itu melanjutkan ucapannya, Arya pun telah berkelebat pergi dari tempat itu.“Ih, benar-benar menyebalkan seenaknya saja dia pergi!” gerutu Dewi Sasanti, ia kemudian melompat ke punggung Grido lalu meneruskan perjalanannya menuju istana.****Hampir malam menjelang Danar dan Bari juga Adipati Gadra berserta beberapa orang prajuritnya tiba di Padepokan Gagak Timur, tak menunggu waktu lama lagi mereka langsung menemui Welung Pati di kediamannya.Ramuan buatan Dewa
“Maafkan saya Baginda, saya telah melakukan kesalahan besar dengan membawa secara diam-diam keris Narasinga dari istana. Saya menyesal telah melakukan semua itu, Baginda akan lebih marah lagi jika mengetahui jika keris Narasinga kini berada di tangan Welung Pati si keparat itu..!” ronta Adipati Seto Wirya dalam ruangan penjara di istana kecil itu.Beberapa penjaga di depan penjara itu hanya menoleh sejenak lalu mereka tak mengacuhkannya, padahal sebelumnya mereka merupakan prajurit dari Adipati itu sendiri. Akan tetapi sejak kepemimpinan istana kecil itu beralih ke tangan Pawala, para prajurit di sana beralih tunduk pada pimpinan yang baru begitulah ketentuannya baik di Kerajaan besar maupun Kerajaan kecil atau cabang Kerajaan Kediri itu.****Istana kecil hanyalah sebutan saja, sementara bangunan itu cukup besar dan didiami sekitar 1.500 orang prajurit. Istana itu juga memiliki halaman yang luas serta pintu gerbang dengan pengawalan yang cukup ketat dari penjaga di sana, dari kegelap
Seorang pria berbadan kekar berparas cukup tampan mengenakan pakaian coklat berjalan santai menuju Lembah Neraka, pria itu datang dari arah selatan dan mulai memasuki kawasan yang saat ini diawasi oleh para mata-mata dan para anggota yang dipilih Padepokan Neraka yang di pimpin Pangeran Durjana itu.Baru saja menjejakan kaki masuk di kawasan itu, seorang mata-mata padepokan datang menghadang yang diikuti beberapa orang bersenjata golok dan tombak.“Berhenti..! Kau memasuki kawasan padepokan kami, kau siapa dan ada keperluan apa masuk ke sini?” tanya mata-mata padepokan.“Hemmm, saya hendak bertemu dengan Ketua kalian Pangeran Durjana,” jawab pria berpakaian coklat itu.“Katakan dulu kau siapa dan ada perlu apa menemui Ketua kami..!”“Kalau berkenaan dengan keperluan apanya saya menemui Ketua kalian itu rahasia dan tak perlu juga kalian ketahui, jika saya tidak diperbolehkan ke padepokan kalian tidak apa saya tunggu saja di sini. Yang pasti katakan pada Ketua kalian itu bahwa saya Seta
Sembari menunggu matahari agak condong ke barat, tengah hari itu mereka manfaatkan untuk beristirahat dan makan siang bersama. Dari arah barat tampak pula 3 orang yang tengah berjalan santai meniti pematang sawah menuju dangau tempat beberapa petani sedang makan siang bersama itu, mereka terdiri dari satu orang wanita dan dua orang pria.Para petani di dangau sempat arahkan pandangan ke arah ketiga orang yang tengah meniti pematang itu, mereka saling pandang seperti bertanya apakah ada di antara mereka yang mengenal tiga orang yang berjalan di pematang sawah menuju ke arah dangau mereka itu.Keseluruh para petani itu menampakan raut wajah yang bingung pertanda tak ada satupun di antara mereka yang mengenali tiga orang yang saat itu telah dekat dengan dangau tempat mereka duduk makan siang bersama, dua orang di antara petani itu hentikan makan lalu berdiri dari duduknya berjalan menghampiri ketiga orang yang telah tiba di depan dangau itu.“Maaf, jika kehadiran kami telah mengganggu is
Bayangan hitam yang sangat besar tiba-tiba saja muncul tepat di depan Setan Tanduk Neraka duduk bersila melakukan semedi, saking besarnya puncak kepalanya menyentuh langit-langit goa padahal dia juga memposisikan tubuhnya duduk di atas batu besar di depan Guru Pangeran Durjana itu.Makin lama bayangan itu semakin jelas wujudnya yang tak kalah menyeramkan dengan wujud Setan Tanduk Neraka, kehadirannya di sana membuat dinding-dinding goa bergetar hebat seakan mau runtuh.“Ha.. ha.. ha..! Ada gerangan apa kau memanggilku ke sini, Setan Tanduk Neraka..?!” kembali dinding-dinding goa itu bergetar hebat, Setan Tanduk Neraka membuka matanya.“Terimalah sembahku yang mulia Raja Setan Sejagad,” ucap Setan Tanduk Neraka memberi sembah, sosok raksasa di depannya itu hanya anggukan kepala.“Maafkan saya yang mulia jika saya lancang memanggil yang mulia Raja datang ke sini, adapun tujuannya hendak meminta bantuan menyempurnakan ilmu tanduk neraka yang mulia sematkan di kepala saya. Yang mulia berk
Para anggota atau anak buah Pangeran Durjana yang mendiami padepokan itu telah mencapai 2.000 orang, itu semua karena Padepokan Neraka memang memiliki daya tarik kuat untuk bergabung menjadi anggota sebab merasa terjamin kehidupan mereka di sana dengan berlimpah ruahnya upeti yang mereka terima dari berbagai Kerajaan dan padepokan yang telah mereka taklukan.Namun begitu Pangeran Durjana yang serakah itu masih belum puas dengan menguasai kawasan timur Pulau Jawa itu saja, ia ingin dapat menguasai seluruh Pulau Jawa dari timur hingga kawasan barat seperti yang dikehendaki Gurunya Si Setan Tanduk Neraka itu.Kedatangan Pangeran Durjana di halaman padepokan di sambut oleh Dipo Geni sebagai tangan kanannya atau di Kerajaan sebagai Panglima, melihat raut wajah junjungannya tidak terlihat gembira Dipo Geni tak berani bertanya selain mengiringi junjungannya itu hingga ke dalam ruangan kebesaran Padepokan Neraka itu.“Dipo Geni, selama saya pergi meninggalkan padepokan ini apakah ada Kerajaan
Tanpa menunggu waktu lama lagi Pangeran Durjana segera meninggalkan goa itu, ia menuju ke arah timur itu artinya di akan kembali ke padepokannya di Lembah Neraka di kawasan Gunung Merapi.Setan Tanduk Neraka sebenarnya sosok mahkluk astral sejenis jin yang sebelum dimasuki roh Sura Brambang sosok bertubuh empat kali lipat manusia biasa itu tidak pernah bisa dilihat dan dia pun tak bisa juga menunjukan dirinya setiap saat kepada manusia.Roh Sura Brambang yang selalu gentayangan berupa arwah penasaran itu, takan pernah merasa senang jika Tanah Jawa belum mengalami kehancuran karena memang semasa hidupnya dulu merupakan dedengkot tokoh golongan hitam. Melalui raga halus mahkluk astral yang mengerikan itulah, ia dapat berkomunikasi dan bisa dilihat oleh Pangeran Durjana sebagai murid sekaligus jalan mewujudkan keinginan jahatnya itu yang ingin melihat kehancuran di muka bumi terutama Pulau Jawa.Sosok Setan Tanduk Neraka bukan saja berwujud mengerikan tapi juga memiliki ilmu yang luar bia
Dari sisi kiri depan mulut goa tampak berkelebat sebuah bayangan merah, sosok itu seperti berlari-lari meniti dinding goa lalu salto di udara beberapa kali sebelum akhirnya ia duduk bersila pula di atas batu besar berhadap-hadapan dengan mahkluk aneh dan menyeramkan itu.“Ha.. ha.. ha..! Sudah lama kau tak datang mengunjungiku di sini bocah bejad..!” terdengar suara dan tawa dari makhluk mengerikan itu menggelegar memekakan telinga.“Maafkan saya Guru, saya baru sempat datang saat ini karena sebelumnya sibuk dengan rencana yang pernah saya sampaikan membuat sebuah padepokan dan sekarang semua itu telah terwujud. Bukan hanya itu saja Guru, saya juga telah berhasil menguasai kawasan timur Pulau Jawa ini,” tutur sosok yang baru masuk ke dalam goa itu, seorang pria berbadan kekar mengenakan pakaian serba merah.“Ha.. ha.. ha..! Ternyata selama ini kau hanya dapat menguasai kawasan timur saja, murid bodoh kenapa tidak seluruh Pulau Jawa ini?!” seru mahkluk aneh yang di panggil dengan sebut
“Dia merasa sangat tertekan dan merasa terhina sekali di bawah kendali Pangeran Durjana, sebagai seorang raja dia tak memiliki harga diri lagi. Dia mengajak kerja sama untuk melawan Pangeran Durjana itu, sebagai imbalannya Satrio Mandalu bersedia menyerahkan beberapa daerah kekuasaannya pada kami di perbatasan utara sana. Saya sebenarnya sangat kasihan dan sama sekali tak menginginkan daerah itu kalaupun kami bersedia membantunya, hanya saja sampai saat ini saya belum memberi keputusan karena saya masih disibukan untuk mengurus Kesultanan dan daerah-daerah kekuasan di Demak ini,” jelas Sultan Demak.“Mungkin ada baiknya kami nanti akan ke Kerajaan Mandalu itu bertemu dengannya, tentu dia tahu persis kediaman Pangeran Durjana dan para anak buahnya itu.”“Benar Dezo, saya juga hendak mengusulkan itu padamu. Pangeran Durjana memang telah keterlaluan beberapa tahun ini terkesan memperbudak Kerajaan-kerajaan dan padepokan di kawasan timur itu,” ujar raja Kesultanan Demak itu.“Saya juga pe
“Jangan panggil saya dengan sebutan seperti itu Mas Tapa, panggil saja saya Arya,” ujar murid Nyi Konde Perak itu yang merasa risih dipanggil Tuan Pendekar.“Baik Arya apakah benar pria pengacau itu tidak akan datang kembali ke desa kami ini?” tanya Tapa Diwo.“Saya kenal dengan pria itu, dia adalah Pangeran Durjana musuh bebuyutan saya dan kami pernah bertarung dulunya sebelum saya dikabarkan tewas,” jelas Arya memastikan.“Oh, kalau begitu kami ucapkan terima kasih dan kami sudah tak merasa kuatir lagi akan kemunculannya di kawasan desa kami ini,” ucap Tapa Diwo.“Sama-sama Mas Tapa, sekarang kami mohon diri untuk kembali ke istana Kesultanan Demak, jika ada hal-hal yang mencurigakan atau apa saja itu yang menguatirkan warga di sini segera laporkan pada pihak istana,” tutur Arya sembari berpamitan.“Baik Arya,” Tapa Diwo dan para warga Desa Damai yang berada di sana lambaikan tangan saat Arya dan rombongan kembali ke istana Kesultanan Demak.Memang tidak ada luka dalam yang di derit
“Jahanam..! Saya yang akan bertarung denganmu..!”Panglima Kerajaan Demak maju menerjang, pria bertopeng hanya mengelak beberapa langkah ke samping lalu dengan santai ia memasukan pedang di tangannya ke dalam sarung yang ia sandang dipunggungnya.“Hemmm, ternyata kau punya nyali juga Panglima. Baik saya akan melayanimu dengan tangan kosong pula,” ujar pria bertopeng.Terjadilah pertarungan yang cukup seru dan menegangkan, jual beli pukulan tangan kosong pun terlihat.“Buuuuuuuuk..!”Sebuah tendangan keras tak terduga bersarang di dada Panglima hingga membuatnya terguling-guling beberapa kali di tanah, pria bertopeng sepertinya hendak menghabisi Panglima Kerajaan Demak itu terlihat dirinya melesat ke udara lalu menghujamkan kepalan tinjunya ke arah perut Panglima.Angin pukulan bertenaga dalam tinggi menderu hebat mengarah tubuh Panglima yang tergeletak mendekap dadanya yang nyeri, beberapa jangkauan lagi kepalan tangan itu akan menghantam dan bisa saja membuat perut Panglima itu meled