All Chapters of Terjerat Pesona Kakak Tiriku: Chapter 71 - Chapter 80

94 Chapters

Chapter 71 (Filosofi laut?!)

Akhirnya Axcel melepaskan cekikannya di leher Erika, setelah gadis itu mengatakan sesuatu yang kembali membuatnya bimbang. Kata-kata Erika tadi seperti belati yang menusuk langsung ke jantungnya, membuatnya kehilangan kendali atas amarahnya."Uhuk uhuk uhukkkk," Erika memegang lehernya yang terasa sakit, bekas cekikan Axcel membekas merah di sana. Ia terbatuk-batuk, berusaha mengisi paru-parunya dengan udara sebanyak mungkin. Matanya menatap Axcel dengan campuran rasa takut dan kemenangan.Sedangkan Axcel, ia segera melangkah pergi dari tempat itu, membawa pikirannya yang kalut untuk menenangkan diri. Ia merasa seperti berada di labirin yang gelap, tidak tahu jalan keluar. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa yang bermain-main dengannya.Sedangkan Axcel, ia segera melangkah pergi dari tempat itu, membawa pikirannya yang kalut untuk menenangkan diri. Ia merasa seperti berada di labirin yang gelap, tidak tahu jalan keluar. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarny
last updateLast Updated : 2025-02-26
Read more

Chapter 72 (Andai)

"Masuklah, besok saya akan menjemput kamu!" ucap Revan ketika mobil yang ia kendarai telah berhenti di pelataran rumah mewah milik keluarga Hansel. Malam telah larut, dan Revan ingin memastikan Adnessa sampai rumah dengan selamat.Adnessa mengerutkan keningnya, "Saya bisa berangkat sendiri, Pak. Tidak perlu merepotkan Anda!" tolaknya halus, merasa tidak enak merepotkan Revan.Revan yang duduk di belakang kemudi menghela napas, ia memposisikan dirinya dan menoleh ke arah Adnessa yang telah berdiri di depan pintu mobil miliknya. "Dengan keadaan kamu yang seperti ini, saya tidak yakin kamu bisa baik-baik saja sampai di kampus," ucap Revan sedikit khawatir, mengingat suasana hati Adnessa yang sedang tidak baik-baik saja. Ia takut Adnessa melamun dan tidak fokus di jalan."Anda meragukan saya, Pak?!" tanya Adnessa dengan nada sedikit menantang, berusaha menyembunyikan kesedihannya.Revan mengedikkan bahunya, "Yang penting besok saya akan menjemput kamu. Ingat, besok kamu ada wawancara maga
last updateLast Updated : 2025-02-27
Read more

Chapter 73 (Pria tidak bercerita, tiba-tiba melamar!)

Hening, seketika suasana di ruang makan berubah. Axcel menatap Ayahnya dengan tatapan tidak percaya, "Papa serius?" tanyanya dengan suara bergetar, berusaha mencari kepastian.Jonathan menghela napas, menatap putranya dengan tatapan kecewa. "Ya, Papa serius," jawabnya tegas. "Papa sudah melihat sendiri bagaimana Revan memperlakukan Adnessa. Dia pria yang baik, bertanggung jawab, dan sangat menyayangi Adnessa. Papa yakin, dia bisa membahagiakan Adnessa."Axcel mengepalkan tangannya, menahan amarah dan cemburu yang membara di dadanya. Ia merasa seperti kehilangan segalanya, 'Tidak adil, ini tidak adil. Apakah semesta benar-benar tidak merestui kita bersama, Ness?!' Axcel yang diam-diam mencoba untuk mencari cara agar terbebas dari jeratan Erika seketika putus asa, mendengar bahwa ayahnya justru akan menjodohkan Adnessa dengan Revan, sahabatnya sendiri."Tapi, Pa, Axcel sangat mencintai Adnessa!" ucapnya dengan nada putus asa, berusaha mengingatkan Ayahnya."Cinta?" Jonathan menatap putr
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Chapter 74 (Perjudian ternekat)

'Bagaimana kalau kalian nanti sekalian bertunangan?'Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinga Adnessa. Bahkan, selama di perjalanan gadis itu terlihat murung. Membuat Revan yang melihat ekspresi itu bertanya-tanya."Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Revan, matanya tetap terfokus pada jalanan di depannya. Ia merasa khawatir melihat Adnessa yang diam dan murung.Adnessa menggeleng, terlihat sekali jika suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. 'Entahlah, aku sendiri juga bingung dengan diriku,' batinnya, matanya menatap keluar jendela, menatap kosong ke arah jalanan yang mereka lalui.Revan sangat tidak tenang melihat sikap Adnessa seperti ini. Perlahan, ia menepikan mobil yang ia kendarai agar dapat leluasa untuk menatap Adnessa. Dengan lembut, Revan menyentuh tangan Adnessa. Membuat gadis yang tengah terhanyut dalam lamunan itu terkejut.Adnessa tersentak, ia menoleh ke arah Revan dengan tatapan penuh tanya. "Ada apa, Pak?!" tanyanya bingung, menyadari mobil yang ia
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Chapter 75 (Syarat?!)

Adnessa mengangguk, "Hmmm. Kenapa? Apa Pak Revan ingin berubah pikiran?!" tanya Adnessa menyelidik, ia sedikit ragu melihat ekspresi Revan saat ini. Hanya mendengar kalimat 'syarat', apa dia sudah akan mundur?! Memang pria tidak bisa diandalkan."Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Revan melihat bagaimana ekspresi wajah Adnessa ketika menatapnya. Ia merasa bersalah jika telah membuat Adnessa salah paham.Adnessa menghela napas, "Katanya tadi tidak menyesal memilih saya, Pak. Tapi ini... Bapak sudah terlihat bimbang setelah saya mengajukan syarat.""Bukan begitu maksud saya, Ness. Kamu salah paham dengan saya!" raut kecemasan yang terlihat di wajah dokter tampan itu seketika berubah menjadi panik. "Saya sama sekali tidak pernah bimbang dalam hal yang menyangkut kamu dan hubungan kita. Hanya saja, khawatir jika nanti syarat yang kamu ajukan sangat menyulitkan saya!"Menyulitkan? Apa maksud Pak Revan? Adnessa semakin tidak mengerti dengan maksud Revan, "Apa Anda takut saya akan menjadi
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

Chapter 76 (Mahasiswi cantik kesayangan dosen killer)

"Dosen killer?!" Revan sedikit terkejut ketika Adnessa memilih untuk menyematkan panggilan itu sebagai panggilan kesayangannya kepada Revan."Pfffftttttt," Adnessa mengangguk, gadis itu tertawa hingga matanya menyipit, pipinya merona merah. Membuat Revan yang melihat tawa lepas itu ikut bahagia, hatinya menghangat."Jadi konsepnya... Mahasiswi cantik milik dosen killer?!" tanya Revan, seraya memarkir mobilnya di area kampus. Ia merasa panggilan itu unik dan menggelitik.Tawa Adnessa seketika terhenti, 'Kenapa justru terdengar sangat intim?!' batin Adnessa sedikit salah tingkah, jantungnya berdebar tak karuan. Ia menoleh ke arah luar jendela untuk menyembunyikan rona di wajahnya yang semakin memerah. Namun, ia justru dibuat terkejut dengan pemandangan area kampus yang ramai dengan mahasiswa."LOH, PAK?!" teriak Adnessa membuat Revan tersentak mendengar suara melengking Adnessa."Ada apa?!" tanya Revan khawatir, menoleh ke arah Adnessa, matanya menelisik mencari sesuatu yang salah."Ken
last updateLast Updated : 2025-03-03
Read more

Chapter 77 (Sesi wawancara)

"Denger-denger, hari ini penguji yang datang adalah CEO Wijaya Group sendiri!" ucap Laluna, matanya membulat penuh antusias, seolah sedang membicarakan bintang film terkenal."Yang benar?" tanya Fransisca tidak percaya, alisnya terangkat, menandakan keraguan yang besar."Beneran, anak-anak yang mendaftar di perusahaan itu banyak yang cabut. Katanya CEO itu terkenal galak!" Laluna mengangguk-angguk, memperkuat ucapannya dengan nada meyakinkan."Tapi katanya CEO-nya muda, ya?" tanya Fransisca lagi, penasaran, membayangkan sosok CEO muda yang karismatik.Laluna mengangguk, "Hmmm.""Yang penting ganteng, gak, sih?!" sahut Fransisca yang justru menjawab dengan sebuah candaan, tawanya terdengar renyah, mencairkan suasana tegang."Biar pun ganteng, tapi... Mau dibawa ke mana-mana tetep gantengan Pak Revan!" sahut Laluna, matanya berbinar-binar, membayangkan ketampanan dosen favorit mereka."Kalian sedang ngomongin apa?!" tanya Adnessa yang baru saja menyusul langkah sahabatnya, akibat Revan
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

Chapter 78 (Keterpaksaan)

Debaran yang tadinya sudah mulai normal, kembali tidak beraturan setelah mendengar suara Aldynata yang menghentikannya. Apa aku membuat kesalahan? Batin Adnessa bimbang."Makan dengan saya," ucap Aldynata seolah tidak menerima penolakan, suaranya terdengar datar namun tegas, "setelah itu, kamu baru boleh pergi!"Adnessa terdiam, menatap Aldynata dengan tatapan bingung. Ia merasa aneh dengan permintaan Aldynata. Mengapa CEO perusahaan sebesar Wijaya Group mengajaknya makan siang?"Tapi, Pak..." Adnessa mencoba menolak dengan halus, suaranya terdengar ragu. Ia merasa tidak nyaman dengan ajakan Aldynata."Tidak ada tapi-tapian," potong Aldynata, suaranya terdengar dingin. "Saya sudah memutuskan, kamu akan makan siang dengan saya."Adnessa menelan ludah, merasa terintimidasi dengan sikap Aldynata. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa terjebak dalam situasi yang tidak nyaman."Kalau kamu bersedia, maka saya akan memberi satu nilai plus. Bukannya itu sangat baik? Cukup membantu penila
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

Chapter 79 (Memulai semuanya dengan benar)

Setelah perdebatan panjang antara Revan dan Aldynata yang berebut untuk mengajak Adnessa makan siang. Adnessa yang tidak sanggup melihat betapa hebohnya dua pria dewasa di depannya ini, akhirnya memutuskan untuk menerima ajakan mereka berdua. Ia merasa pusing dengan perdebatan mereka, dan ia ingin segera makan.Kehebohan Revan dan juga Aldynata ternyata tidak hanya sampai di situ. Ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti di basement salah satu pusat perbelanjaan dan pertokoan elit di kota itu. CEO dan dosen tampan itu kembali berebut untuk membukakan pintu untuk Adnessa."Biar saya saja, Dy," ucap Revan, suaranya terdengar tegas. Ia merasa sebagai orang yang lebih dekat dengan Adnessa, lebih tepatnya sebagai kekasih gadis itu, ia merasa lebih pantas membukakan pintu untuk Adnessa."Tidak, saya yang akan membukakan pintu untuknya," balas Aldynata, suaranya terdengar dingin. Ia merasa sebagai CEO perusahaan tempat Adnessa magang, ia berhak memperlakukannya dengan baik."Ckkkk." Adness
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

Chapter 80 (Ada apa dengan Erika?!)

"Adnessa?!" Revan sangat terkejut. Suaranya terdengar cukup keras melihat Adnessa yang terjatuh setelah bertabrakan dengan seseorang. Ia merasakan jantungnya berdebar kencang, khawatir dengan keadaan Adnessa.Begitu pun dengan Aldynata. Walaupun tidak seheboh Revan, ia juga khawatir dengan keadaan Adnessa. Matanya menatap Adnessa dengan tatapan cemas, dan ia tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak segera berlari ke arah Adnessa. Memastikan jika gadis itu baik-baik saja.Melihat kejadian itu, Aldynata dan Revan segera berlari menghampiri Adnessa. Ingin memastikan keadaan Adnessa. Mereka berdua sama-sama khawatir dan ingin melindungi Adnessa.Sedangkan Adnessa, gadis itu masih terdiam melihat kehadiran Erika di sana. Ternyata, gadis yang bertabrakan dengannya tadi adalah Erika. Adnessa merasa terkejut dan tidak nyaman dengan kehadiran Erika.Namun, semua rasa ketidanyamananya teraihkan setelah melihat Axcel juga berada disana. Entah dari mana, pria itu berasal yang pasti, Axcel melang
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more
PREV
1
...
5678910
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status