Home / Romansa / Balas Dendam Berbalut Sutra / Chapter 21 - Chapter 30

All Chapters of Balas Dendam Berbalut Sutra: Chapter 21 - Chapter 30

33 Chapters

Bab 20

Malam harinya, aku dan River menonton pertandingan bola di televisi. Kedua tubuh kami terbungkus selimut tipis berwarna putih. Dia bersandar pada sandaran sofa, sementara aku bersandar pada dadanya, merasakan tangan kirinya melingkar melintasi punggungku.Aku menggeser tubuh untuk semakin menempel pada River ketika melihat Evan turun dari lantai atas. Tangan kiri River naik ke kepalaku, mengusap-usapnya dengan lembut dan—tampak—penuh kasih sayang. Dari ekor mataku terlihat Evan berjalan melewati ruang televisi, tapi aku sengaja tidak menatapnya sama sekali dan berpura-pura fokus menonton televisi.“Apakah normalnya orang menonton bola sambil berpelukan dan bergelung di dalam selimut seperti ini?” gumam River setelah beberapa saat, yakin bahwa Evan sudah tidak berada dalam jarak dengar.&ldquo
last updateLast Updated : 2024-12-03
Read more

Bab 21

“Kau yakin ingin melakukan ini?” tanya River, kuharap untuk yang terakhir kalinya. Aku yakin dia tidak benar-benar berharap aku akan berpikir ketika dia menanyakan itu dengan bibirnya yang masih menggesek ujung bibirku. Dan dari betapa kerasnya tonjolan yang kurasakan di bawah pantatku, River jelas menginginkan ini berakhir seperti keinginan Sharon.Rasa panas di tubuhku terasa makin menyiksa. Tanganku berhenti bergerak di kancing kemejanya dengan putus asa. “Kita berdua akan mati jika tidak melakukannya,” jawabku, kemudian menyambut bibir River kembali.Tanganku dengan cepat melepas kemejanya, membuat ciuman kami harus terjeda dan dimanfaatkan River untuk menarik lepas pula baju hangatku. Bibirnya mengarah ke leherku, sementara tangannya dengan mudah melepaskan braku dan melemparnya sembarangan ke lantai.
last updateLast Updated : 2024-12-03
Read more

Bab 22

River mencabut penisnya, membiarkanku melepas penat selama beberapa detik. Tatapannya masih penuh dengan kabut gairah, mengamatiku yang tengah bernapas tersengal-sengal.“Kau masih keras,” ucapku lesu.River mengangguk sama lesunya denganku. Ia kemudian menundukkan kepala, menelisik leherku sebelum mendaratkan ciuman di sana. "Biarkan aku melakukan apa yang kuinginkan.""Silakan," bisikku, menariknya lebih dekat untuk mencium kembali bibir Inggris itu. Tak butuh waktu lama bagi River untuk membangkitkan gairahku lagi.Tangan River menelusuri kedua tanganku, kemudian menggabungkannya jadi satu lalu menekannya hingga terikat di kepala tempat tidur. Bibir River turun ke daguku, memberi kecupan ringan di sana, kemudian turun ke dadaku. Wajahnya mendongak selama s
last updateLast Updated : 2024-12-04
Read more

Bab 23

Pagi itu adalah mandi paling menyengsarakan yang pernah kualami selama hidupku. Setiap kali aku menyentuh setiap inci tubuhku, aku juga seolah-olah bisa merasakan sentuhan River di sana, seperti tadi malam ketika tangan dan bibirnya menyapu sekujur tubuhku. Setiap kali aku memejamkan mata ketika pancuran air menerpa wajahku, visual River juga selalu muncul di kepalaku.Saat keluar dari kamar mandi, aku melilitkan handuk ke tubuhku dan menuju ke walk-in closet untuk berpakaian. Aku tidak bisa tidak bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan oleh River. Apakah kami sudah melewati batas? Apakah ini hanya terjadi sekali saja, atau apakah ini akan mengubah dinamika di antara kami?Aku menemukan River di dapur, sedang menuangkan secangkir kopi untuk dirinya sendiri. Dia mendongak ketika mendengar kedatanganku dan memberiku senyuman kecil.
last updateLast Updated : 2024-12-04
Read more

Bab 24

“Orang-orang ramai berkomentar mengenai River Lynch di media sosial kita,” kata Cody dari meja kerjanya. Aku langsung menoleh padanya, tertarik dengan apa yang dia katakan.Lukas pun kelihatannya juga begitu karena dia langsung meninggalkan rak pakaian dan mendekati Cody tanpa basa-basi. “Coba aku lihat!” katanya, melongokkan kepala untuk ikut menengok layar ponsel Cody, yang cukup lama digulir ke bawah, keduanya tampak sedang membaca komentar-komentar—mungkin pada postingan mengenai peluncuran Majalah Pamela Edisi November tahun ini. “Gadis-gadis itu sangat mengerikan.” Lukas bergidik, tapi terus melanjutkan membaca.Karena penasaran, aku ikut membuka akun media sosial Pamela Magazine, membaca komentar-komentar pada postingan terakhir.Aku tidak menyangka parfum favorit
last updateLast Updated : 2024-12-05
Read more

Bab 25

“Aku penasaran bagaimana kondisi dapur di rumahmu.” River tiba-tiba berkata tanpa melihat ke arahku.Aku duduk di kursi bar, bersandar pada mejanya dan memandangi River yang sedang menyiapkan ravioli. Dia memakai kaus putih polos yang cukup tipis, membuat tulang belikatnya terlihat menyembul ketika tangannya melakukan gerakan tertentu. Celemek berwarna hitam memeluk tubuhnya dari depan.“Sangat rapi, tentu saja.” Karena hampir tak pernah ada aktivitas apa pun di sana … jika kau tidak menghitung melakukan hubungan seks adalah salah satu aktivitas yang wajar dilakukan di dapur.“Aku akan mengeceknya sendiri kapan-kapan,” ucapnya, yang kemudian gerakan tangannya berhenti sesaat. Aku yakin dia sendiri tidak berharap kata-kata itu akan keluar dari mulutnya.
last updateLast Updated : 2024-12-05
Read more

Bab 26

“Mia,” panggilnya lagi sambil menguraikan pelukan, mengisi jarak di antara kami dengan embusan angin malam. Mata River yang sendu menatapku yang tiba-tiba merana. “Sebesar apa pun keinginanku untuk menghajar bokongnya, anak itu tetap putra dari mendiang saudara kembarku. Dan aku tidak bisa memungkiri bahwa aku juga menyayanginya.”“Jangan membelanya,” sahutku dengan kesal. Dia kemudian tersenyum lembut, begitu lembut hingga membuatku makin merana. Tatapannya berhasil mengunciku untuk tidak bergerak sama sekali. “Kesepakatan yang kita lakukan … aku melakukannya sebagai paman Evan. Namun, di sisi lain, sisi River Lynch yang berdiri sendiri, aku ingin bersikap egois karena menginginkanmu.”Aku terlalu terkejut untuk berkata-kata. Mataku terpejam ketika tangan hangatnya mengusap lembut pipiku. “River ….”Napas River makin terasa dingin ketika ia makin menyisihkan jarak di antara kami. “Mia … izinkan aku untuk menginginkanmu.”“River … kau mabuk …,” gumamku, mencoba menyadarkannya walaupu
last updateLast Updated : 2024-12-07
Read more

Bab 27

Aku menyandarkan kepalaku ke sandaran sofa sambil terengah-engah, melihat dia melepaskan semua pakaiannya dan kemudian meraih tubuhku lagi. Dia mengangkat tubuhku dan membalikkannya, memosisikanku di atas pangkuannya sementara dia sudah duduk di sofa.Jantungku berdegup kencang saat merasakan paha keras River menekan pangkal pahaku yang sudah basah, tangannya memandu tanganku menuju ereksinya. Aku terkesiap, mataku membelalak saat dia dengan lembut membimbing tanganku, menunjukkan padaku apa yang harus kulakukan. Dengan ragu-ragu aku melingkarkan jari-jariku di sekelilingnya, pipiku memerah karena merasakan kekerasannya di tanganku.Dia tersenyum, matanya tidak pernah lepas dari mataku saat dia mendorong tanganku lebih jauh, menuntunku untuk mengelusnya. Aku menggerakkan tanganku ke atas dan ke bawah, perlahan-lahan pada awalnya, kemudian meningkatkan kecepatan saat aku merasakan nafasnya semakin cepat dan matanya penuh dengan gairah.“Kau tidak tahu betapa aku sangat menginginkan ini
last updateLast Updated : 2024-12-09
Read more

Bab 28

Mataku terbuka saat merasakan tubuh River menempel di tubuhku. Pemandangan pertama yang kulihat adalah dada bidang River, dan kurasakan lengannya melingkari pinggangku dengan erat. Beberapa titik di tubuhku terasa nyeri, dan pipiku langsung memerah saat aku mengingat kegiatan kami yang menguras tenaga semalam.“Wake up, sleepyhead,” bisiknya, bibirnya menempel di telingaku.Aku menguap dan meregangkan tubuh, merasakan lengannya mengencang di sekelilingku saat tubuhku bereaksi terhadap sentuhannya. “Jam berapa sekarang?” Aku bergumam, meringkuk lebih dekat dengannya.River tertawa pelan dan mengecup leherku. “Ini jam kau-akan-terlambat,” jawabnya.“Apa?” Kesadaran menyergapku seketika. Dengan gerakan cepat, aku bangkit dan melihat sekeliling untuk mencari benda apa saja yang bisa menunjukkan waktu. Dan tatapanku tertuju pada jam persegi di atas meja kecil di samping tempat tidur. “Kenapa kau tidak membangunkanku dari tadi?” Mataku tertuju pada angka 8.42 yang berkedip-kedip futuristik
last updateLast Updated : 2024-12-10
Read more

Bab 29

Aku tak tahu lagi mengenai nasib perjanjian yang kusepakati dengan River. Apakah sekarang perjanjian itu batal karena hubungan kami tak lagi pura-pura? Tunggu, aku bahkan jadi bingung mengenai status hubungan kami yang sebenarnya. Apakah hubungan kami masih berlandaskan simbiosis mutualisme? Apakah kami jadi pasangan sesungguhnya seperti orang normal lainnya? Hubungan berlandaskan perasaan? Memang apa perasaanku padanya? River juga tak pernah menyebut-nyebut tentang perasaannya padaku.  Dia hanya bilang menginginkanku, beberapa saat sebelum kami berhubungan seks. Barangkali River hanya merujuk pada keinginan biologisnya untuk bercinta denganku.“Hei!” Sebuah kibasan tangan di depan wajahku tiba-tiba menyadarkanku di mana aku sedang berada. Aku berada di dalam mobil River yang sudah terparkir di basement gedung Pamela Magazine. Saat sarapan tadi, River meminta untuk mengantarku bekerja lagi
last updateLast Updated : 2024-12-11
Read more
PREV
1234
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status