Semua Bab Simpanan Nyonya CEO: Bab 181 - Bab 190

194 Bab

Bab 181. Ada Apa Dengan Alice?

“Kurang lebih 2 tahun,” jawab Roy.“Dia pastinya sangat cantik hingga kamu begitu sayang padanya,” ujar Alice dari nada bicaranya terkesan ada rasa cemburu.“Bagiku dia bukan cantik semata, tapi juga baik dan pengertian serta mau menerimaku apa adanya,” ulas Roy.“Menerimamu apa adanya, maksudnya gimana?” tanya Alice tak faham.“Begini, aku ini hanya seorang karyawan biasa saja sementara dia adalah CEO sekaligus atasanku di perusahaan pariwisata itu,” jawab Roy jujur apa adanya.“Apa?! Kekasihmu itu atasanmu sendiri?” Alice terkejut, Roy menanggapinya dengan mengangguk dan tersenyum.“Kok bisa? Lalu bagaimana ceritanya hingga terjalin hubungan di antara kalian berdua?” Alice penasaran.“Aku juga nggak menyangka dan hal itu terjalin begitu saja seiring dengan waktu,” jawab Roy berusaha untuk terlihat bahagia tanpa beban yang saat ini tengah mengusik hati dan pikirannya.“Sebenarnya aku tak pantas untuk ia jadikan kekasih,” sambung Roy dan hal itu membuat Alice nampak kerutkan keningnya
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-07
Baca selengkapnya

Bab 182. Rehan Ke Bali

“Ya, sebaiknya kamu segera memberi tahu kedua orang tuamu agar mereka nggak cemas karena mereka tentunya tahu kamu akan berlibur di sini selama 3 hari aja,” ujar Roy.“Iya Roy, secepatnya aku akan kasih tahu mereka.” ulas Alice sembari menatap Roy.Tatapan bule cantik berambut pirang itu pada Roy seperti mengandung arti yang tentu saja hanya dia sendiri yang tahu, apakah karena dia merasa peluang besar untuk menaklukan Roy? Atau ada perasaan lain yang tiba-tiba hadir di lubuk hatinya?Setelah selesai makan dan duduk sejenak melanjutkan obrolan mereka, Roy pun mengantar Alice kembali ke hotel tempat bule muda cantik itu menginap karena waktu istirahat siang telah habis dan Roy harus kembali bekerja.Meskipun waktu kebersamaan mereka siang itu hanya kurang lebih 1 jam, namun bagi Alice hal itu sangat menyenangkan. Begitu tiba di kamarnya Alice langsung rebahkan tubuhnya di atas ranjang, seulas senyuman yang menyiratkan kegembiraan tampak di bibirnya.“Roy memang sangat berbeda dengan pr
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-08
Baca selengkapnya

Bab 183. Melihat Viola Di Restoran

“Belum pernah Pak, makanya pada kesempatan ini aku dan keluarga memutuskan untuk berlibur ke sini dan kebetulan juga sahabatku ini bersedia menemani kami sekalian mengujungi Bapak dan Ibu serta Viola di sini.” Jawab Pak Hamid.“Oh begitu, tapi maaf sebelumnya jika rumah kami ini nggak semewah hotel-hotel yang ada di Pulau Bali ini.” ucap Opa Viola merendah.“Ah, siapa bilang Pak. Rumah ini nggak kalah mewah dengan hotel-hotel di sepanjang jalan yang tadi sempat kami lihat ketika menuju ke sini,” ujar Pak Hamid sembari mengitari pandangannya ke seluruh ruangan di dalam rumah itu.“Iya Pak, di samping rumah ini cukup megah hawanya pun sangat sejuk. Sangat jauh sekali bedanya bila di bandingkan di tempat kami,” kali ini Bu Qoira yang bicara.“Hemmm, tentu aja bedalah Qoira. Qatar kan nggak jauh beda dengan Arab Saudi yang hawanya sangat panas,” Bu Astrid yang menanggapi, Opa dan Oma Viola hanya senyum-senyum saja.“Benar juga, padahal saat ini tengah hari jika di Qatar hawanya pasti lagi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-10
Baca selengkapnya

Bab 184. Tidak Enak Dan Kuatir

Dengan berjalan agak cepat pengemudi mobil yang merupakan seorang pria muda berwajah tampan masuk ke dalam restoran itu, ia berdiri sejenak sembari melayangkan pandangannya ke seluruh meja di ruangan restoran itu, karena tak melihat sosok yang dicari pria itupun langsung naik ke lantai 2.Di lantai 2 restoran mewah itu tak kalah ramainya di bandingkan lantai 1, hingga pria itu kembali melayangkan pandangan tanpa terlebih dahulu memilih meja untuk duduk.“Nah itu dia. Wah, ternyata ia ke sini nggak sendiri melainkan dengan beberapa orang dan memilih meja panjang. Siapa mereka?” kembali pria itu bergumam.Karena merasa ragu dan tak nyaman berdiri terlalu lama, ia memutuskan untuk memilih satu meja dan duduk di sana. Di lantai 2 itu bukan hanya tersedia meja panjang untuk beberapa orang, melainkan juga ada meja yang disediakan untuk 2 hingga 4 orang saja.Sambil terus mengarahkan pandangannya pada sosok yang ia cari, pria itupun menyambil memesan menu pada salah seorang pelayan di lantai
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-11
Baca selengkapnya

Bab 185. Dugaan Dan Tanda Tanya

“Emang kamu belum makan siang?” tanya Roy.“Rencananya ntar lagi, tapi karena kamu akan ke cafe dan di sana juga ada menu makan siang aku gabung kamu aja ya?” Alice berharap.“Ya udah, aku akan jemput kamu sekarang,” ulas Roy.“Oke, aku akan tunggu kamu di sini,” ujar Alice gembira dan kemudian obrolan mereka melalui sambungan ponsel itupun diakhiri.Sekitar 15 menit kemudian Roy pun telah tiba di hotel tempat Alice menginap, tanpa menunggu waktu lama karena Alice telah menunggu di depan lobi hotel, Roy pun membawanya ke sebuah cafe yang tadi hendak disinggahinya.Setibanya di cafe, Alice memesan menu berupa nasi goreng dan segelas jus jeruk sedangkan Roy hanya memesan segelas jus buah naga saja karena dia merasa sudah lumayan kenyang meskipun tadi makannya terkesan terburu-buru di restoran tempat ia bertemu dengan Viola itu.“Hemmm, ternyata menu ini cukup lezat juga ya Roy?” Alice membuka obrolan sembari menyantap menu yang tadi dipilih Roy untuknya.“Itu namanya Nasi Goreng, emangn
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-12
Baca selengkapnya

Bab 186. Jalan Dengan Rehan

Setelah selesai makan siang bersama, dari restoran itu Viola dan rombongan kembali ke rumah Opa dan Oma nya. Setiba di rumah baik Rehan dan kedua orang tuanya maupun Pak Husein dan Bu Astrid langsung beristirahat di kamar masing-masing, sementara Viola sendiri yang juga pamit ke kamar memang merebahkan tubuhnya di ranjang akan tetapi ia tak tidur siang melainkan melakukan panggilan melalui ponsel ke nomor kontak Roy.“Hallo Viola,” sapa Roy mengangkat panggilan dari kekasihnya itu.“Mas lagi di mana?” tanya Viola.“Nih lagi di perjalanan kembali ke lapangan,” jawab Roy, yang memang saat itu di perjalanan menuju tempat kerjanya setelah mengantar Alice kembali ke hotelnya.“Loh, bukannya dari restoran tadi Mas menuju lapangan kok sekarang masih di jalan?” tanya Viola heran.“Hemmm, dari restoran tadi aku singgah di cafe dulu karena waktu istirahat siang masih lama,” jawab Roy diiringi senyumnya.“Oh gitu, maaf ya Mas atas kejadian tadi hingga Mas Roy musti terburu-buru makan siang dan p
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-14
Baca selengkapnya

Bab 187. Hati Rehan Gundah

“Ya, di Qatar memang tempat wisata yang disuguhkan kebanyakan merupakan bangunan-bangunan yang dibuat megah begitu pula pemandangan di sekitar kawasan itu. Sedangkan di sini meskipun bangunan perhotelan, cafe dan juga Vila dibangun cukup megah pula akan tetapi pemandangan alamnya benar-benar alami seperti tempat ini,” jelas Viola.“Kamu benar Viola, kawasan di sini memang sangat menyenangkan bagi para wisatawan dan hal itu juga tentunya yang menjadi faktor utama pendapatan dari perusahaan pariwisata yang kamu kelola sekarang kan?” ujar Rehan sembari menebak.“Ya, di Pulau Bali ini boleh dikatakan mata pencarian masyarakat di sini adalah jasa dan usaha yang berkaitan erat dengan pariwisata.” Tutur Viola.“Oh ya Viola apa benar penduduk di sini mayoritas beragama Hindhu?” tanya Rehan.“Benar, lebih dari 85% penduduk di sini beragama Hindhu. Yang beragama Islam lebih kurang 10% sisanya agama lainnya, meskipun begitu di sini dan di seluruh kawasan pulau di Indonesia toleransi antar umat
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-16
Baca selengkapnya

Bab 188. Bersandar Ke Bahu Roy

“Hemmm, mungkin itu karena kamu emang baru pertama kali ke sini makanya begitu.” ulas Roy.“Emang setiap orang yang baru pertama kali berkunjung ke sini akan merasakan hal yang sama ya, seperti hal aku merasa betah dan ingin di sini lebih lama lagi?” tanya Alice.“Ya nggak tahu sih, aku hanya nebak aja. Tapi emang kebanyakan dari para pengunjung yang baru datang ke sini akan merasa betah dan ingin kembali ke sini lagi,” jawab Roy.Setelah makan malam Roy dan Alice memang ke luar dari dalam restoran itu, akan tetapi Alice masih ingin menikmati panorama laut dari atas perbukitan itu, makanya mereka memutuskan untuk tetap berada di sana yang kali ini mereka duduk lebih dekat ke tebing bukit di mana di sana juga tersedia tempat duduk untuk bersantai.Alice benar-benar takjub akan pemandangan pantai di kala malam dilihat dari atas perbukitan itu, meskipun malam bukan berarti tak dapat memandang lepas ke tengah lautan, di sana banyak sekali terlihat pancaran lampu dari kapal kecil dan perah
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

Bab 189. Dalam Lingkaran Birahi

Makanya sampai saat ini sosok Viola sangat berarti dalam hidupnya, CEO muda berparas sangat cantik itu juga mampu menghadirkan rasa cinta di hatinya yang selama ini seakan mati rasa dan tak pernah percaya akan cinta dari seorang wanita.Dalam lamunannya itu juga hadir sosok Rehan yang saat ini tentu masih bersama kekasihnya itu, hal itu membuat ia tiba-tiba saja terlihat cemberut karena siapapun prianya pasti tidak akan rela jika ada pria lain yang saat ini sedang mendekati kekasihnya terlebih pria itu menjadi pilihan kedua orang tua kekasihnya untuk mereka jodohkan.“Roy, kamu kenapa diam aja?” tanya Alice membuat Roy tersentak dari lamunannya.“Oh, nggak kenapa-kenapa kok,” jawab Roy.“Kalau kamu udah mulai bosan di sini, yuk kita jalan lagi!” ajak Alice.“Oke, yuk.” Ulas Roy yang tak ingin kembali mengingat masalah Rehan yang sekarang bersama Viola di rumah Opa.Beberapa menit berkeliling di seputar kawasan tempat wisata malam hari di Pulau Bali itu, Alice kembali mengajak Roy ke n
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya

Bab 190. Viola Masuk Kantor

“Sebaiknya mulai saat ini aku nggak lagi menerima ajakan Alice, jangankan menemaninya jalan bertemu pun kalau bisa jangan sampai terjadi lagi.” gumam Roy yang membuat keputusan tidak akan jalan bahkan bertemu dengan bule cantik berambut pirang itu.Sementara siang itu setelah Viola dan kedua orang tuanya mengantar Rehan sekeluarga ke bandara untuk kembali ke Qatar lebih dulu, Viola yang tiba di rumah pamit pada Papi dan Maminya untuk ke kantor karena sudah dua hari ini ia tidak masuk demi menghormati Rehan dan kedua orang tuanya.“Loh, kan sekarang udah siang dan sebentar lagi waktunya istirahat kerja. Apa nggak sebaiknya besok pagi aja kamu ke kantornya?” ujar Bu Astrid.“Udah dua hari aku nggak masuk Mi, aku rasa di kantor udah banyak kerjaan yang menumpuk yang musti aku tangani.” Tutur Viola.“Oh ya udah kalau gitu, berangkatlah tapi hati-hati di jalan nggak usah terburu-buru!” ujar Bu Astrid, Viola menggangguk dan setelah mencium tangan kedua orang tuanya itu, Viola pun menuju ke
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-20
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
151617181920
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status