Semua Bab Pembalasan Istri Kumal: Bab 251 - Bab 260

296 Bab

tak tau diri

Yuliana gemetar, kakinya sempat lemas saat langkahnya semakin dekat ke arah pintu. Bunyi gedoran bersama namanya di panggil membuat dia mau tak mau tetap memutuskan membukanya.Klek!"Daun pintu terbuka, beberapa pasang mata menatapnya bersamaan, membuat jantung wanita paruh baya itu berdegup kencang."Bu Yuliana." Mustofa ketua RT tempatnya tinggal menyebut nama wanita itu."Iya pak Mus, ada apa ya?" Yuliana mencoba tetap tenang."Kita bicara di dalam saja bu, boleh kami masuk?" Mustofa kembali bicara."Oh, boleh pak, mari masuk!" Ucap Yuliana, meski suaranya parau ia berusaha agar terdengar normal."Bu Yuliana, bisa minya tolong?" Tanya seorang lelaki berjaket hitam membuat kaki Yuliana gemetar."Oh, bisa pak, ada apa?" Tanyanya pelan."Bisa tolong nyalakan lampunya?"Yuliane tertegun lalu melihat ke sekitar, ia baru menyadari bila lampu ruang tamu belum di nyalakan. "Ah, maaf pak saya kaget sampai lupa nyalakan lampu." Ucapnya berlari masuk menekan sekelar lampu.Wajah-wajah seram
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-05-16
Baca selengkapnya

Wajah

Sementara di rumah, Amran tak bisa tidur nyenyak, bayang wajah Jani dan mayat yang belum teridentifikasi itu terus menghantui. Terlebih ketika Lusi mendiamkannya setelah perdebatan tadi siang, wanita itu memilih tidur sendiri di dalam kamar sementara Amran.di biarkan sendiri di ruang tengah.Berkali-kali ia mencari posisi yang nyaman, namu tetap saja hatinya tak menemukan ketenangan. Terlebih ia ingat bagaimana kejadian mistis ia alami du malam sebelum pernikahannya, dia jelas di ganggu sesuatu yang memindahnya ke luar kota."Benarkah wanita itu telah mati?" Tanyannya sendiri.Jika di runtut memang terlalu mustahil, dirinya berada di kota lain saat tersadar sementara dia merasa tak pernah mengendarai mobil hingga ke luar kota."Apa ada yang ingin mempermainkan aku? Tapi siapa?" Ucapnya penuh tanya.Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, saat sebuah mobil berhenti di depan rumah Amran, lelaki itu jelas mendengar deru mesin dari depan dan berdiri mengintip dari balik jendela.Dua lelak
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-05-17
Baca selengkapnya

Lupa

Malam itu Amran tak dapat memejamkan matanya, ia tak tau mengapa gelisah membuatnya begitu tak nyaman, berkali-kali ia menilah wajah Lusi sanh kekasih dan bertanya bagaimana bila Jani masih hidup sekarang."Harusnya ku bunuh saja dia saat itu!" Ucapnya kesal pada keputusannya membiarkan saja Jani tetap hidup.Amran bangun dari ranjang, memakai kembali bajunya yabg berserakan di lantai kamar, ia keluar dari kamar dan duduk di teras rumahnya. Beberapa lampu masih menyala, membuat halaman yang tertutup tenda itu tak terlalu gelap sekarang.Amran menyalakan sebatang rokok, mengingat kembali wajah wanita yang di lihatnya siang tadi, ia begitu yakin itu Jani, meskit baginya cukup mustahil wanita besar itu bisa berjalan keluar dari hutan terlarang."Atau mungkinkah itu hantu Jani? Ia datang untuk membuatku tak tenang?" Ucapnya dalam hati, membuat bulu kuduknya meremang membayangkan."Ah bukan, mungkin saja itu hanyalah seseorang yang mirip, wanita itu jauh berbeda dengan Jani yang kukenal, d
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-05-18
Baca selengkapnya

Lanjutkan

Sepanjang perjalanan, Amran dan Lusi saling diam, mereka sedang ada dalam pikiran masing-masing, hingga mobil Amran memasuki pelataran rumahnya.Lusi turun tanpa bicara, membanting pintu dengan kasar dan berjalan kesal masuk ke dalam rumah. Melihat hal itu Amran hanya diam, batinnya sesak terlebih bila mengingat kebodohan yang baru saja ia lakukan, dadanya terasa semakin bergemuruh.Sementara suaminya berdiam diri di mobil, Lusi masuk dan mendapati ibu mertua dan iparnya duduk di ruang tengah dengan wajah tak bersahabat."Mana Amran?" Tanya Yuliana"Di mobilnya!" Ucap Lusi singkat, ia lalu berjalan menuju pintu kamar."Cucian di belakang tu sudah segunung, kamu nggak ada niat buat nyuci?" Ibu mertuanya kembali bicara, sudah berhari-hari ia biarkan cucian baju di dalam ember besar, bukannya berkurang, Lusi justeru menambah lagi dengan tumpukan baju kerjanya.Lusi berbalik menatap ibu mertuanya. "Memang siapa yang biasa cuci baju di rumah ini?" Tanyanya heran, selama tinggal di sini ia
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-05-20
Baca selengkapnya

Pencarian

"Sial!" Kila berteriak kencang setelah menyadari bahwa Fani sudah menipunya, dirinya benar-benar merasa bodoh percaya begitu saja dengan wanita yang bahkan tega menipu Saudaranya sendiri, bagaimana bisa kemudian dia berpikir Fani akan jadi wanita yang baik.Kila meremas kesal pesan singkat yang di tinggalkan Fani di dalam kopernya yang kosong, wanita itu bahkan mengambil perhiasan yang memang di miliki Kila sebelum kembali bertemu Fandi."Harus aku apakan wanita itu!" Ucapnya geram, menatap ke sekitar lalu kembali menghela napas"Aku akan mencarimu wanita sialan!" Umpatnya marah, baginya apa yang sudah di lakukan Fani sangat keterlaluan.Kila kembali menatap ke langit luar yang biru, tak selaras dengan hatinya yang bahkan menggantung kelabu kini. Bayang kembali dengan kebanggan justeru membuat dirinya kehilangan banyak hal besar sekarang.Kila berdiri dengan tatapan kosong, kembali me arik kopernya ke jalan, tak ada lagi tempat tujuan, bahkan sekedar mengisi perut yang kosong dirinya
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-05-21
Baca selengkapnya

Kedatangan Sri

Mobil mewah mereka lalu tiba dI sebuah hotel, Sri turun lebih dulu lalu di susul Satria berjalan tak jauh darinya. Mereka memesan kamar persiden Suite untuk bermalam, sementara Arman dan beberapa orangnya sudah memastikan keadaan aman sebelum ikut juga beristirahat melepaskan lelah.Satria duduk di balkon kamar, menatap lekat wajah istrinya yang termenung setelah mereka makan malam bersama."Apakah ini keputusan yang benar?" Satria bertanya pada Sri, dia tau wanitanya sedang merasa gundah sekarang.Sri menatap manik mata teduh di depannya, dirinya tau krmana arah ucapan Satria."Entahlah, aku hanya merasa Lusi membutuhkan bantuan."Satria lalu menatap ke arah bawah, di mana lampu gemerlap menampakkn cahaya yang membuatnya merasa takjub."Mutia mungkin akan memilih ibu kandungnya nanti, apakah kamu tak apa2?"Pertanyaan Satria membuat wajah Sri berubah dingin, sejak tadi ketakutan itu yang membuat dirinya terdiam, Mutia adalah obat setelah kepergian Lala, lantas bisakah dia tetap bahag
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-05-22
Baca selengkapnya

lupa

Teringat kejadian beberapa tahun lalu, ketika Haryati masih menjadi ibu mertua Sri, saat itu mereka sedang memasak untuk pengajian 7 bulanan Lia. Sri di bairkan sendirian di dapur rumah mertuanya. meninggalkan Lala bermain sendiri luar sementara dirinya di perlakukan bagai pembantu di rumah ibu mertuanya sendiri."Jangan sampai gosong Sri, itu ayam punyamu kalau sampai gosong!" Teriak Haryati saar melihat ayam bakar dalam perapian sedikit berwarna gelap.Sri terkejut, pandang matanya sayu saat itu, ia merasakan tak enak. adan sejak bangun tidur, namun mau tak mau dirinya tetap menjalankan tugas sebagai seorang menantu.Setelah memastikan semua makanan keluar dengan menu yang komplit untuk kenduri, Sri masih harus berjibaku dengan tumpukan dandang, panci dan banyaknya piring kotor bekas memasak. di gosoknya pantat panci dengan abu dan sedikit sabun colek. Membersihkan kerak yang menempel karena terpanggang diatas tungku perapian. Sejak kemarin Sri yang mengurus segalanya. belanja di p
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-05-23
Baca selengkapnya

BERSAMA ORANG BAIK

Leon melihat pintu ruang oprasi di buka, Jani keluar dengan wajah terbalut perban, dia masih tak sadar kan diri. Mereka membawa Jani ke ruangan, memindahkan wanita itu ke atas ranjang perawatan dan memastikan dia nyaman sebelum petugas keluar untuk memberi keluarga waktu untuk merawat dan menunggu."Mau bibi ambilkan air?" Bi Marni menawari, sejak tadi tuan mudanya tak menyentuh makan dan minum.Leon tak menjawab, matanya tak berpaling menatap ke arah Jani. Ada rasa sakit dalam hatinya saat melihat wanita yang dia cintai rela merasakan kesakitan hanya untuk membalaskan dendam sementara dirinya menerima segala kekurangan tanpa meminta lebih pada Jani."Minum dulu, tak baik orang berdiri tanpa minum dalam waktu yang lama." Bi Marni membawakan sebotol mineral dan membuka tutupnya untuk Leon.Leon menerima minuman itu lalu meneguk habis setengahnya, dia merasa lebih baik setelah."Terimakasih bi, mungkin aku akan sangat kesulitan tanpa bibi di sini." Ucap nya tulus, dia memang lebih dekat
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-05-24
Baca selengkapnya

Pertemuan Sri

Sri kembali bertanya, namun Satria justeru berdiri dari tempatnya duduk dan menatap foto pernikahan di dinding ruang tamu rumah itu. Foto itu lama tersimpan, namun Yulia memutuskan memasangnya kembali setelah banyak cibiran tetangga dia dapatkan di hari pemakaman Jani."Apakah ini Lusi?" Satria menatap foto dalam bingkai kayu di depannya, foto seorang wanita yang berdiri di sisi lelaki yang terbaring di atas ranjang."Itu mbak Jani, dia sudah meninggal dan hari ini adalah tujuh hari kepergiannya." Ucap Sari, setelah itu Yulia mencubit lengan gadis itu, ia di nilai terlalu lancang bicara panjang lebar.Setelah mendengar penjelasan Sari, Satria justeru merasa sangat terkejut."Dia meninggal, wanita dalam foto itu meninggal?" Satria kembali meminta penjelasan."Betul pak dia sudah meinggal." Ucap Yulia lalu melihat Satria terkejut dan duduk kembali di sisi istrinya."Jika dia Jani, lantas siapa Lusi itu?" Tanya Sri heran sebab apa yang dia temui tak bisa lagi di benarkan, bahkan antara ce
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-05-26
Baca selengkapnya

Mencari kebenaran

Leon menatap wajah berbalut perban itu dengan lekat, mata yang terpejam itu membuka perlahan, air mata keluar dari manik matanya yang bening, Jani menatap wajah sendu di depanya dengsn lekat."Jangan menatapku begitu." Ucap Jani dalam hati, dirinya merasa getaran yanh bahkan tak pernah di rasakannya saat bersama Amran dulu."Bagaimana keadaan mu?" Leon bertanya dengan lembut, dia merada khawatir apakah Jani merasakan sakit teramat sekarang."Aku tau kamu sulit menjawab, tapi apapun itu aku berterimakasih atas perjuanganmu." Ucapnya lagi dan membuat air mata Jani kembali luruh."Jangan menangis, harus nya kamu bahagia, bukankah keinginanmu terwujud setelah ini?"Mendengar kalimat Leon entah kenap hati Jani terasa sakit. Dia begitu ingin menjawab setiap tanya Leon, namun tak bisa sekarang."Aku tak akan meninggalkan mu Jani, ah aku lupa sekarang kamu adalah nona Shena."Jani menggerakkan tangnanya, menepuk pelan lengn Leon dan menahan senyumnya sendiri."Jangan menangis lagi, setelah in
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-05-27
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
2425262728
...
30
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status