Home / Romansa / Pembalasan Istri Kumal / Chapter 231 - Chapter 240

All Chapters of Pembalasan Istri Kumal: Chapter 231 - Chapter 240

296 Chapters

Kehidupan yang menyiksa batin

Aku berdandan rapi dengan baju terbaik yang kumiliki, gamis kuning berbunga merah, yang kubeli di pasar desa lebaran dua bulan lalu. Gamis yang kata Sari lebih mirip gorden karena warna dan besarnya, namun inilah baju terbaik yang ku punya.Kupakai bedak tabur Vi*a shaset yang juga, kubeli beberapa bulan lalu masih banyak tersisa, kuikat dengan karet gelang berwarna merah, semoga bisa sedikit menyamarkan wajahku yang kusam karena tak pernah terawat.Lisptik satu-satunya yang kumiliki, pemberian kawan juga beberapa bulan lalu. Dia bilang warnaya sudah tak lagi tren, memang tak bisa lagi diputar, isinya sudah habis hingga menjorok ke dalam. Tapi aku tak hilang akal, aku ambil Cuttonbud dan menyolek bagian dalamnya keluar, ku usap pada bibirku tipis, kini warnanya merah jadi jambu.Aku tau ini bukan penampilan terbaik, namun hanya ini yang kumiliki. Gamis ini juga bukan seleraku, aku membelinya karena memang ini yang paling murah dan cukup bila ku pakai. Gamis dengan ukuranku yang lain,
last updateLast Updated : 2023-04-30
Read more

Kewalahan

Yuliana memasak sendiri ikan lele yang baru di belinya, lama tak menyentuh semua peralatan dapur, wanita paruh baya itu merasa waktu begitu lama berlalu."Nih goreng!" Ucap Yuliana pada anak gadisnya, sejak tadi Sari hanya duduk di dekat pintu sambil memainkan ponsel, gadis itu merasa mual setiap kali ada darah keluar dari tubuh ikan saat di bersihkan."Ihh, nggak mau buk!" Gadis itu melompat, menjauh dari baskom berisi lele hitam yang telah di bumbui."Kok hitam begitu lelenya buk, aku nggak mau pengang!" Ucap Sari mengeliat jijik melihat lendir-lendir masih keluar."Jijik bagaimana to, ini ikan yang sering kamu makan pakai sambal terasi!" Umpat Yauliana kesal, ia sudah capek memukul dan membersihkan ikan itu, kini bahkan baunya begitu anyir."Ya tapi itu tinggal makan, ini masih mentah bentuknya begini ibuk!" Sari merengek kesal, jika bisa ia memilih pergi keluar rumah saja, namun Yuliana pasti tak akan memberinya izin."Nggak usah banyak ngeluh kamu, dari tadi ibu yang cuci, yang b
last updateLast Updated : 2023-04-30
Read more

Pertengkaran di rumah

Lusi membekap mulutnya yang lancang, ia juga tak ingin ada orang lain mendengarnya mengatakan itu, bagaimanpun dirinya juga tak mau semuanya berantakan."Ibu salahkan saja Sari, dia yang mulai ingin menyingkirkan aku!" Ucapnya kesal dan berjalan ke dapur, urung niatnya membagi makanan pada mertua dan iparnya.Sari yang baru mendengar kebenaran itu menatap ke arah ibunya menuntut penjelasa. "Apa maksud ucapan mbak Lusi bu?""Lupakan Sari dan jangan ceritakan itu pada siapapun dan anggap saja kamu tak mendengarnya!" Yuliana terlihat gugup, ia mencoba tenang meski tangannya sedikit gemetar."Bu, aku nggak mungkin bisa melupakan ini begitu saja, aku tak buta dan tuli, aku bisa mendengar jelas mbak Lusi bilang itu. Katakan bu, apa maksudnya!"Gadis itu tetap meminta penjelasan, meski Yuliana memintanya melupakan itu, Sari terlalu penasaran untuk tak ikut campur.Yuliana menghela napas, ia meletakkan piringnya di lantai dan menatap anak gadisnya. "Makanlah, setelah ini ibu akan cerita.""Ak
last updateLast Updated : 2023-04-30
Read more

Kenangan masa kecil

Setelah bertemu dokter Richat, Leon mengajak Jani pulang ke rumah. Di dalam mobik mereka masih saling diam, Jani tak bicara apapun, ia terus memikirkan apakah ia bisa pergi jauh sekarang."Apa yabg kamu pikirkan?" Leon bertanya setelah cukup lama mereka saling diam.Jani menatap Leon sebentar lalu pandangannya kembali ke depan. "Bisakah aku bertanya sesuatu Leon?""Ya, katakan!""Apa alasanmu membantuku, maksudku kita tak saling kenal dan kamu membantu begitu banyak, adakah alasan kenapa kamu melakukannya?"Leon terdiam, jika saja dia bisa menjawab, tentu akan ada banyak alasan kenapa dirinya membantu Jani begitu banyak. Namun sekarang alasan itu tak akan cukup bisa membuat Jani percaya."Aku pernah punya seseorang, dia baik dan periang Jani, namun takdir membuatnya jadi menyedihkan karena aku terlambat membantunya.Jani menatap mata Leon, ia bisa melihat ketulusan di sana namun Jani tak menyadari bahwa itu adalah dirinya."Lalu di mana orang itu?"Leon menggelengkan kepala, ia tak ta
last updateLast Updated : 2023-04-30
Read more

Identitas baru Jani

Sementara di rumah, Amran tak bisa tidur nyenyak, bayang wajah Jani dan mayat yang belum teridentifikasi itu terus menghantui. Terlebih ketika Lusi mendiamkannya setelah perdebatan tadi siang, wanita itu memilih tidur sendiri di dalam kamar sementara Amran.di biarkan sendiri di ruang tengah.Berkali-kali ia mencari posisi yang nyaman, namu tetap saja hatinya tak menemukan ketenangan. Terlebih ia ingat bagaimana kejadian mistis ia alami du malam sebelum pernikahannya, dia jelas di ganggu sesuatu yang memindahnya ke luar kota."Benarkah wanita itu telah mati?" Tanyannya sendiri.Jika di runtut memang terlalu mustahil, dirinya berada di kota lain saat tersadar sementara dia merasa tak pernah mengendarai mobil hingga ke luar kota."Apa ada yang ingin mempermainkan aku? Tapi siapa?" Ucapnya penuh tanya.Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, saat sebuah mobil berhenti di depan rumah Amran, lelaki itu jelas mendengar deru mesin dari depan dan berdiri mengintip dari balik jendela.Dua lelak
last updateLast Updated : 2023-04-30
Read more

Si pecundang

Yuliana gemetar, kakinya sempat lemas saat langkahnya semakin dekat ke arah pintu. Bunyi gedoran bersama namanya di panggil membuat dia mau tak mau tetap memutuskan membukanya.Klek!"Daun pintu terbuka, beberapa pasang mata menatapnya bersamaan, membuat jantung wanita paruh baya itu berdegup kencang."Bu Yuliana." Mustofa ketua RT tempatnya tinggal menyebut nama wanita itu."Iya pak Mus, ada apa ya?" Yuliana mencoba tetap tenang."Kita bicara di dalam saja bu, boleh kami masuk?" Mustofa kembali bicara."Oh, boleh pak, mari masuk!" Ucap Yuliana, meski suaranya parau ia berusaha agar terdengar normal."Bu Yuliana, bisa minya tolong?" Tanya seorang lelaki berjaket hitam membuat kaki Yuliana gemetar."Oh, bisa pak, ada apa?" Tanyanya pelan."Bisa tolong nyalakan lampunya?"Yuliane tertegun lalu melihat ke sekitar, ia baru menyadari bila lampu ruang tamu belum di nyalakan. "Ah, maaf pak saya kaget sampai lupa nyalakan lampu." Ucapnya berlari masuk menekan sekelar lampu.Wajah-wajah seram
last updateLast Updated : 2023-04-30
Read more

Amran

Yuliana meminta Amran mandi lebih dulu, ia mengguyur tubuh sang anak seperti bayi yang belum bisa mengurus dirinya sendiri. Tak ada kalimat apapun terucao, ia sadar banyak pasang mata dan telingga menunggu mendapat berita untuk di gibahkan di luar bilik mandinya.Hanya membersihkan tubuh Amran tak butuh waktu lama, Amran yang masih diam manut saja ketika ibunya membawanya masuk ke dalam rumah.Lusi tertegun mematap sang mertua menggandeng tangan suaminya yang terlihat basah, ia memang marah semalam, namun melihat Amran yang seperti orang linglung, Lusi juga merasa khawatir."Ada apa ini buk?" Tanyanya yang tak keluar kamar sejak pagi tadi, bahkan Lusi tak tau ada banyak orang yang sudah sibuk mengatur pemakaman Jani."Urus suamimu ini Lusi, gantikan bajunya dengan kemeja bersih, ibu akan ambilka minuman hangat." Ucap Yuliana lalu keluar meninggalkan kamar Lusi dan Amran."Mas, ada aoa sih?" Tanyanya duduk di sisi Amram, namun Amran hanya menatapnya sebentar dan membuang lagi pandanga
last updateLast Updated : 2023-04-30
Read more

Ibu yang membela anaknya

Yuliana bersiap, ia lalu kembali masuk ke kamar Amran, melihat Lusi dan anaknya sudah berganti baju Yuliana berjalan mendekat."Ibu mau bicara!" Ucapnya pelan lalu duduk bersama di tengah mereka berdua.Amran hanya diam, namun melihat ke arah ibunya sebentar. Yuliana bisa merasakan ketakutan sang anak menggengam tangan Amran dengan erat." Sekarang sudah bukan waktunya lagi ibu menyalahkanmu Mram, semalam ibu bilang pada polisi bahwa Jani pamit kerumah orang tuanya setelah kalian bertengkar.""Ibu bilang kami bertengkar?" Lusi bertanya pada mertuanya."Ya, mau bagaimana lagi, beberapa orang jelas melihat Amran menyeret tubuh Jani malam itu!"Mereka saling pandang, tentu saja terkejut, Amramln merasa tak ada yang melihat, namun ternyata ia salah duga."Mereka pasti akan menanyai kalian nanti, jawab saja sama seperti yang ibu katakan!" Ucap Yuliana lagi lalu menatap anak dan menantunya."Bagaimana jika mereka memenjarakan aku bu?""Apa kamu membunuh Jani?" Yuliana bertanya pada Amran da
last updateLast Updated : 2023-04-30
Read more

Amarah Jani

Amran duduk dengan Lusi, menatap seorang lelaki yang terus mencecarnya dengan pertanyaan yang sama, cukup lama mereka duduk di sana, hingga kesal sendiri.Satu jam lebih Yuliana berada di depsn rumah sakiy, hingga ia di bantu warga berembuk untuke membawa pulang jenazah beridentitas Jani lebih dulu."Mari bu, kita pulang dulu." Yuliana di minta lebih dulu mengurus pemakaman menantunya.Sementara hatinya bimbang, ingin dirinya pergi menyusul Amran yang entah di bawa ke mana oleh dua lelaki bersragam itu.Mau tak mau Yuliana ikut pulang, memakamkan jasad yang di sebut menantunya itu lebih penting sekarang, ia tak ingin terlihat semakin tak perduli dengan Jami meskipun sudah tiada."Anak dan menantu ibu masih di periksa, sebaiknya kita kubur dulu menantu ibu." Seorang warga memberi tahu Yuliana, namu kalimat yang ia lontarkan justeru tedengar lucu."Menantu-menantu terus, yang jelas lah kalau bicara!" Ucap satu warga lagi, beberapa warga memang datang dengan mobil berbeda bersama rombon
last updateLast Updated : 2023-04-30
Read more

Ketakutan

Yuliana masuk dengan katakutan, matanya kosong dan terrus bergidik kala melihat peti itu di bawa masuk ke dalam rumahnnya. Ia tak mau dekat-dekat dengan jenazah itu lagi, orang-orang membawanya masuk ke kamar, dia masibjgemetar saat di dudukan di sisi ranjang."mbak Yul, ada apa, mbak Yul nggak apa-apa?"Seorang tetangga bertanya karena melihat Yuliana gemetar dan menatap kosong ke depan."Aku ambilkan minum dulu mbk, mbak Nur nggak apa-apa kan nunggu si sini dulu?" Seorang tetangga lain bertanya, sebab hanya mereka berdua yang membanyu Yuliana masuk ke dalam kamar."iya, nggak apa-apa mbak, ambilkan mbak Yul teh hangat kalau ada." Ucapnya meminta lalu dia di tinggal sendiri bersama Yuliana"Jangan dekat-dekat, nanti dia datang!" Bisik Yuliana pada tetangga yang membantunya ke kamar."Dia? Dia siapa mbak yang datang?""itu, hantu Jani datang, baunya wangi sekali lalu petinya bergerak kencang, jasadnya mungkin mau keluar membalas dendam!" Ucapnya membuat bulu kuduk meremang."mbak, jang
last updateLast Updated : 2023-05-03
Read more
PREV
1
...
2223242526
...
30
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status