Home / Romansa / Istri Belian / Chapter 71 - Chapter 80

All Chapters of Istri Belian: Chapter 71 - Chapter 80

102 Chapters

Bab 71|Pesan Terakhir

Aku tidak percaya melihat keadaan Kakek yang mendadak serapuh itu. Dia berbaring lemah tidak berdaya di tempat tidur dengan banyak selang dan kabel di badannya. Kami baru saja bicara sehari yang lalu melalui panggilan video dan Kakek sangat ceria, sehat, dan penuh semangat hidup. Dia sudah tidak sabar untuk mengalahkan Melvin dalam permainan catur mereka. Siapa yang tega membuat Kakek jadi begini? Aku sampai tidak berani mendekat, apalagi menyentuh tangannya. Aku khawatir sentuhanku justru akan membuat keadaannya semakin parah. Aku melihat Ben yang berdiri di sisiku. Wajahnya datar tanpa emosi. Kami pulang tanpa insiden. Keluarga Ben hanya diam menatap kepergian kami. Melihat ada suster jaga di nurse station, aku akhirnya mengerti mengapa mereka bersikap tenang. Saat di dalam mobil, kami juga hanya diam saja sepanjang perjalanan menuju apartemen. Usai membersihkan diri di kamar mandi, aku menemukan Ben sedang duduk di tepi tempat tidur kami. Hadiah dari Kakek ada di pangkuannya. Dia
last updateLast Updated : 2022-07-19
Read more

Bab 72|Kakek Satu-satunya

Papa dan Mama sama-sama sudah yatim piatu saat mereka menikah. Aku tidak pernah merasakan punya kakek atau nenek sejak masih kecil. Mikha punya kakek dan nenek yang masih hidup, tetapi aku tidak pernah dekat dengan mereka. Lagi pula mereka hidup di desa, bukan di kota. Jadi, Kakek Sebastian adalah satu-satunya kakek yang pernah aku miliki. Aku belum puas merasakan kasih sayangnya, dia sudah pergi untuk selamanya. Kalau saja aku tahu kebersamaan kami akan sesingkat ini, aku akan lebih sering menemuinya. Bila perlu, aku mengundurkan diri dari pekerjaan dan fokus menemani Kakek. Namun selama ini dia sehat dan tidak pernah mengeluhkan pertemuan kami yang hanya satu kali seminggu. Bahkan Kakek yang menyuruh kami pulang lebih cepat pada hari Minggu lalu agar bisa merayakan ulang bulan pernikahan kami. Kalau saja aku tahu ada yang berniat jahat kepada Kakek. “Delima? Apa yang terjadi? Mengapa kamu memakai baju hitam lagi?” tanya Dhini yang bingung melihat kedatanganku. Ben meminta aku untu
last updateLast Updated : 2022-07-19
Read more

Bab 73|Penghormatan Terakhir

~Benedict~ Keadaan di depan rumah Kakek sudah ramai dengan wartawan yang haus berita. Petugas keamanan membukakan pagar dan bersiap menghalangi mereka untuk masuk ke pekarangan rumah. Danu segera berlari keluar rumah menyambut aku. Gandhi juga sudah berdiri di depan pintu. “Ada apa? Mengapa kalian malah berdiri saja di sini?” tanyaku bingung. Dia menutup pintu kembali, lalu berjalan di sisiku menuju pintu depan. “Kami tidak tahu harus melakukan apa, Tuan. Tuan Roman maupun Nyonya Kinasih belum datang,” katanya melaporkan. Aku menghela napas panjang menenangkan diri. Apa yang sedang mereka pikirkan? Aku tidak boleh terlibat dalam urusan persiapan pemakaman Kakek, tetapi untuk mempersiapkan rumah duka saja mereka tidak becus. Aku memasuki rumah dan melihat peti di mana Kakek berada ada di tengah aula depan. Tidak ada karpet, bunga, atau fotonya sebagai hiasan. “Panggil semua pelayan segera. Aku akan beri instruksi sekarang. Kita harus cepat, karena tamu pasti akan berdatangan sesaat
last updateLast Updated : 2022-07-19
Read more

Bab 74|Wasiat yang Aneh

“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Delima yang memberikan segelas air kepadaku. “Terima kasih. Aku baik-baik saja.” Aku meminum air tersebut sebelum meletakkan gelas di atas nakas. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah dan menenangkan diri sesaat, menjauh dari kota dan pekerjaan. Delima segera setuju dan dia tidak terlihat canggung tidur bersamaku di kamarku. “Pembacaan surat wasiat yang aneh,” ucap Delima yang duduk di sisiku. “Walaupun Kakek orang yang keras, aku tidak percaya bahwa Kakek adalah orang yang pelit.” “Aku tidak percaya itu isi surat wasiat Kakek yang asli,” gumamku pelan. Delima menyilangkan kedua kakinya dan menatap aku dengan serius. Aku tersenyum melihatnya. “Ada yang mengganti isinya atau membuat surat wasiat baru dan mengakuinya sebagai wasiat Kakek.” “Kalau itu masuk akal. Masa semua harta, tabungan, bahkan saham diberikan kepada Ken? Kakek tidak akan melakukan itu. Bahkan Danu tidak mendapatkan sepeser pun. Itu tidak mungkin.” Dia menggeleng pelan. Keningnya ber
last updateLast Updated : 2022-07-20
Read more

Bab 75|Kenangan Terbaik

~Delima~ Ben masih tidur pulas menjelang makan malam. Aku tidak mau membangunkan dia, jadi aku turun dari tempat tidur sesenyap mungkin. Aku keluar menuju balkon dan duduk di salah satu kursi. Dua kematian dalam waktu yang berdekatan benar-benar menguras emosiku. Aku sedikit merasa bersalah, karena aku tidak merasakan sesedih ini ketika suamiku meninggal. Apa pertengkaran yang terjadi hampir setiap hari itu yang membuat aku mati rasa? Kami memang nyaris tidak bisa bertahan hidup setiap bulannya, karena uang yang pas-pasan. Aku yang lebih banyak berkorban daripada dia. Aku bangun setiap pagi untuk memasak bekal makan siang kami. Semua peralatan elektronik yang dihadiahkan teman-teman pada hari pernikahan kami tidak bisa aku gunakan demi menghemat listrik. Aku mencuci pakaian secara manual, belanja setiap hari agar tidak menggunakan kulkas, hanya pakaian kerja yang disetrika, bahkan sekadar menghibur diri dengan menonton televisi pun tidak bisa. Aku berhemat habis-habisan. Bakti hany
last updateLast Updated : 2022-07-20
Read more

Bab 76|Perubahan Sikap

Baru dilantik satu hari sebagai direktur utama saja sudah sombong begitu. Bagaimana kalau sudah satu minggu nanti? Ben yang lebih lama duduk di kursi dirut saja tidak pernah bersikap arogan. Aku semakin percaya kepada Ben. Surat wasiat itu memang palsu. Mereka mengubah wasiat yang asli supaya Kenneth bisa jadi pengganti Ayah Mertua dengan mulus. Ben juga tidak mau menuntut surat wasiat palsu itu. Dia membiarkan keputusan itu diambil oleh om dan tantenya. Aku mengerti bahwa dia tidak mau ribut dengan keluarganya. Tetapi ini mengenai peninggalan Kakek yang sangat berharga. Bagaimana kalau perusahaan itu bangkrut seperti yang diucapkan oleh salah satu omnya? Kerja keras Kakek akan berakhir dengan sia-sia. “Selamat pagi, Bu,” sapa salah satu rekan kerjaku yang biasanya mengejek aku. Sejak kapan dia memanggil aku dengan sebutan ibu? “Selamat pagi, Bu,” sapa rekanku yang lain. Aku akhirnya mengerti. Mereka melakukan ini karena mereka sudah tahu bahwa aku adalah istri Ben. “Ng, jangan pan
last updateLast Updated : 2022-07-20
Read more

Bab 77|Berani Tampil

Ben tertawa terbahak-bahak ketika aku menceritakan mengenai pertemuan tidak sengaja antara aku dengan Tante Haryani dan Tulus. Nelson telah melakukan hal yang tepat dengan menunjuk kedua pengawal untuk menjaga aku dan Ben ke mana pun kami pergi. Aku tidak perlu khawatir lagi setiap kali bertemu dengan mantan ibu mertuaku itu. Setelah mendengar ceritaku, Ben menyampaikan banyaknya undangan makan siang untuk beberapa hari ke depan dari rekan bisnisnya. Mereka bahkan membujuk dia untuk hadir pada undangan di akhir pekan. Selama ini dia memang selalu mendapat undangan dari para koleganya, tetapi Ben tidak pernah datang. Mereka kini sudah mengerti alasannya. Tetapi mereka tidak peduli dengan itu dan mengharapkan kehadirannya. “Semua yang kamu katakan benar. Tidak semua orang akan memandang rendah kepadaku begitu mereka melihat keadaanku yang sebenarnya.” Dia memegang tanganku dengan senyum yang tidak berhenti menghiasi wajahnya. “Terima kasih banyak, Ima. Aku tidak akan pernah mengalami s
last updateLast Updated : 2022-07-21
Read more

Bab 78|Perhatian Wanita Lain

~Benedict~ Aku bebas! Aku merasa sangat bebas setelah menunjukkan diriku kepada semua orang! Aku tidak lagi bersembunyi saat melakukan panggilan video. Rapat dadakan dewan direksi yang dilaksanakan pada hari Rabu lalu, karena aku tidak masuk kerja pada hari Senin, pun aku hadiri langsung. Aku tidak lagi memanfaatkan Nelson untuk bersembunyi dari tatapan semua direktur. Mereka awalnya canggung bertemu langsung denganku, tetapi tidak ada yang memandang rendah, jijik, atau kasihan kepadaku. Mereka justru bersikap segan dan hormat kepadaku, sama seperti sikap mereka saat datang memberi penghormatan terakhir kepada Kakek. Aku mengajak Delima ke taman pun untuk menguji keberanianku. Bertemu dengan orang-orang yang sudah mengenal aku tidak terlalu menakutkan, tetapi berada di tengah-tengah orang yang tidak tahu siapa aku membuka semua kenangan yang dahulu aku alami. Mereka menatap aku seolah melihat sesuatu yang aneh. Mereka berbisik terhadap satu sama lain saat melihat ke arahku. Bahkan
last updateLast Updated : 2022-07-21
Read more

Bab 79|Terbakar Cemburu

“Tidak!” jawabku dan Delima serentak ketika Nelson menyampaikan maksudnya. “Mengapa tidak? Ibu Delima sudah punya pengalaman selama lima tahun menjadi sekretaris Pak Luis, jadi Ibu adalah pilihan yang tepat, Pak. Dan, Bu, saya hanya butuh tujuh hari saja. Dua hari Ibu belajar bersama saya, lalu lima hari Ibu mendampingi Pak Ben. Saya mohon,” ucap Nelson memelas. “Kamu sudah tahu sejauh apa hubungan kami saat ini, aku yakin atasanmu menceritakan segalanya kepadamu. Aku tidak akan konsentrasi bekerja bersama suamiku dalam ruangan yang sama,” ucap Delima menjelaskan. “Jawabanku tetap tidak.” “Kalau begitu, apa Ibu tidak keberatan bila saya meminta tolong pada salah satu sekretaris direktur yang lain? Ibu tidak akan memarahi saya menempatkan sekretaris wanita di sisi Pak Ben, ‘kan?” kata Nelson berpura-pura lugu. Dasar asisten licik. Dia tahu di mana kelemahan Delima. “Tidak boleh. Apa tidak ada asisten atau sekretaris pria lainnya di perusahaan ini?” tanya Delima mulai goyah. “Aku per
last updateLast Updated : 2022-07-21
Read more

Bab 80|Demi Uang

~Delima~ Aku menahan diri untuk tidak memarahi sekretaris genit itu yang menatap Ben dari balik bulu mata panjang palsunya. Dia juga tidak segan-segan menggunakan kalimat mesum untuk menggoda Ben dan tertawa sendiri atas gurauannya yang tidak lucu. Ben berusaha untuk bersikap sopan, tetapi aku tidak mau dia bersikap begitu. Aku mau dia marah dan mengingatkan perempuan itu supaya bersikap sesuai pada tempat dan posisinya di ruang makan ini. Tetapi merasa kesal kepada Ben juga tidak tepat. Ini pasti pengalaman pertamanya menerima perlakuan begitu. Denganku saja dia masih lugu, apalagi dengan orang lain. Jadi, aku tidak tahu mengapa aku menciumnya di ruang kerjanya setelah kami kembali dari acara makan siang. Mungkin aku hanya tidak mau dia memikirkan perempuan itu selama hari ini, karena ulahnya yang genit itu. Entahlah. Yang pasti aku bahagia merasakan dia membalas ciumanku. Itu artinya aku masih menjadi bagian penting dalam hidupnya dan wanita itu bukan siapa-siapa. Satu kejadian p
last updateLast Updated : 2022-07-22
Read more
PREV
1
...
67891011
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status