Home / Pendekar / PENDEKAR MACAN KUMBANG / Chapter 21 - Chapter 30

All Chapters of PENDEKAR MACAN KUMBANG: Chapter 21 - Chapter 30

98 Chapters

PENDEKAR RAJAWALI PUTIH

BRAKK!  Tubuh Adyaksa terpental ke belakang beberapa depa dari tempat pertarungan. Adyaksa terkapar di tanah dengan tubuh penuh darah. Baju serba putih yang dia pakai kini sudah tak terlihat saking kotornya. Membuat tubuh sang pemuda itu berlumuran darah, dia sudah tak bisa berdiri. Tangan kirinya sudah tak bisa digerakkan akibat serangan pertamanya, membuatnya meringis.  Ditambah kaki kanan yang sudah robek oleh sabetan pedang, sehingga nyawanya di ujung tanduk. Sekali saja Jeladeri melayangkan pedang miliknya, maka nyawa Adyaksa akan melayang.  "Apa yang harus aku lakukan?" tanya Angga kepada dirinya sendiri. Melihat kondisi Adyaksa yang berada di ujung tanduk. Jiwa ingin menolong jelas menggelora dari si pemuda Ada risiko yang harus dia terima dengan pilihan yang dipilih. Angga harus menimbang baik buruknya keputusan yang harus dia pilih.  Angga ingat perjanjian dengan Tuan Putri agar tidak mengeluarkan kemampuannya. Nam
last updateLast Updated : 2022-01-11
Read more

KONSEKUENSI BERTARUNG

"Aku hanya roh yang penasaran, tak senang melihat orang membunuh tanpa alasan," ucap Angga sambil tersenyum sinis. "Bedebah. Kau akan menyusul kawanmu itu," ucap Jeladeri sambil melompat ke atas, lalu akan menghantamkan pedang miliknya. Angga melihat kondisi Adyaksa sudah tak sadarkan diri tampak khawatir. Sehingga memutuskan untuk menggunakan jurus pamungkas yang dimilikinya. Jurus itu dinamakan dengan "Kilat Bayangan Macan Kumbang". Sebuah kedigdayaan yang membuat Angga dapat bergerak sangat cepat hingga menjadi bayangan yang terlihat berwarna hitam. Tubuhnya seperti seekor Macan Kumbang yang siap menerjang mangsanya. Bergerak seperti kilat cahaya yang berpindah sangat cepat. KRASS! KRASS! KRASS! Sebuah cakaran menghantam tubuh Iblis Janggut Putih puluhan berapa kali. Teriakan kesakitan dari sosok berpakaian hitam itu terdengar keras. Tubuhnya terjungkal dengan luka cakaran dimana-mana. Pedang sakti miliknya te
last updateLast Updated : 2022-01-11
Read more

MENJADI SAHABAT

“Aduh! Kenapa bisa lupa segala. Setan apa yang masuk ke tubuhku?” tanya Angga pada dirinya sendiri. Menggerutu di depan Adyaksa yang malah tertawa melihat kebodohan Angga. “Terus dengan kondisi seperti ini, apa kita tetap pergi ke Gunung Kubang?” tanya Adyaksa. “Sepertinya kita harus tetap ke sana, kondisiku terkadang tak menentu. Kamu juga masih terluka, yang aku lakukan tadi hanya pengobatan sementara,” ucap Angga. Macan Kumbang sadar jika kondisi dirinya adalah ulah seseorang, meskipun tak tahu siapa. Juga luka Adyaksa perlu disembuhkan sebelum obat sementara, sudah tidak mujarab lagi. “Tunggu apa lagi, ayo kita ke sana? Hari sudah sangat siang, sedangkan perjalanan masih jauh?” tanya Adyaksa. “Ayo. Tetapi kita makan dulu, lapar!” seru Angga sambil menyantap daging ayam hutan yang dipanggangnya. “Kau mau menghabiskannya sendirian, tidak m
last updateLast Updated : 2022-01-11
Read more

SARANG PERAMPOK

KRASS! Sekali sabetan pedang, tiga orang anak buah begal langsung terkapar. Tidak tanggung-tanggung badannya putus sekali tebasan itu, hal tersebut sangat mengerikan. "Pedang Tanpa Bayangan?" ucap gadis berpakaian hijau mengenali senjata tersebut. Melihat apa yang terjadi dengan anak buahnya yang sudah kehilangan nyawa. Kini hanya tertinggal pimpinan begal semata yang ketakutan setengah mati. Apalagi ketika melihat senjata yang dibawa oleh Angga, jelas membuat dia tak sanggup menahan pipis. "Sudah tua malah mengompol, bagaimana bisa kau berperilaku seperti tadi?" tanya perempuan tersebut mengejek pimpinan begal. "Ampun Tuan, ampunilah selembar nyawaku ini. Jika kalian memerlukan harta, silakan ambil semua di markas. Asalkan aku masih diizinkan untuk hidup?" tanya pimpinan begal. Mencoba segala cara agar ketiga orang di hadapannya mau mengampuni dirinya. "Prana Sinta. apa kau membutuhkan harta itu?" tanya A
last updateLast Updated : 2022-01-11
Read more

TABIB CADAR PUTIH

Keduanya kemudian menjelaskan apa yang akan dilakukan, Prana Sinta terpaksa menyanggupi. Karena rasa penasaran ingin tahu kenapa Angga bisa selamat dari kematian ketika diburu oleh tokoh golongan Putih dan pihak pemerintahan. Angga, Adyaksa dan Prana Sinta sepakat untuk menjalankan rencana ke depannya. Yaitu dengan mengikuti Sayembara di Paladu dan berjanji akan memenangkan pertandingan. Sedangkan Adyaksa dan Angga akan kembali ke keseharian mereka di Paladu. Angga akan kembali menjadi ajudan Tuan Putri Lintang Ayu. Namun sebelum kembali ke Paladu, ketiganya sepakat untuk ke Gunung Kubang menemui Tabib Cadar Putih. ***Kediaman Tabib Cadar Putih berada di Kota Raja Kubanggiri, ibukota Gunung Kubang Jayagiri. Tak perlu waktu lama untuk menemukan lokasi tersebut karena Prana Sinta adalah murid sang tabib. Selain membuka praktik penyembuhan bagi orang yang terkena penyakit aneh. Namun juga mendirikan perguruan untu
last updateLast Updated : 2022-01-11
Read more

PEDANG TANPA BAYANGAN

"Mudah-mudahan dewi," ucap Angga pelan. "Satu lagi, sepertinya pedang itu yang mampu mengendalikan dirimu ketika terkena ilmu hitam. Senjata itu akan berguna untuk melindungi dirimu," ucap Tabib Cadar Putih lagi. Angga hanya mengangguk pelan, ada ikatan yang sulit dimengerti tentang senjata tersebut. Namun Angga merasa jika senjata itu yang diceritakan gurunya, saat dia akan pergi mengembara. ***"Kamu yakin akan melanjutkan penyamaran di Paladu?" tanya Prana Sinta yang mendekati Angga yang sedang melamun di dekat jendela kediaman Tabib Cadar Putih. Perguruan itu memang sedang dalam kondisi paceklik, serba kekurangan. Bahkan usaha Tabib Cadar Putih dalam penyembuhan tidak mampu menutupi kebutuhan Perguruan. Hal itu yang membuat murid pertamanya, Prana Sinta untuk mencari dana bantuan. "Tentu saja yakin, apa kamu tidak setuju?" tanya Angga lagi. "Bukannya tidak setuju, tetapi di sana banyak orang ber
last updateLast Updated : 2022-01-11
Read more

KLAN WASTU KENCANA

"Kalau aku terlibat kenapa memberi tahu kalian?" tanya Adyaksa lagi, tampak kesal dia malah dicurigai. Angga hanya garuk-garuk kepala, tanda dia mengiyakan ucapan sahabatnya. Ketiganya kemudian bersepakat untuk pergi ke Paladu secepatnya karena Sayembara semakin dekat. Akan ada banyak tokoh kedigdayaan menuju Paladu. Sehingga situasi di tempat tersebut akan lebih berbahaya dari sebelumnya. "Sebelum pergi, ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu, Angga!" seru Tabib Cadar Putih menghalangi jalan ketiganya ketika akan meninggalkan Kubanggiri. "Ada apa Dewi?""Apa pun yang terjadi, tolong lindungi Putri Lintang Ayu. Dia adalah kunci dari semua kejadian di Paladu," jawab Tabib Cadar Putih. "Kenapa Dewi bisa tahu hal itu?" tanya Angga lagi penasaran. "Tentu saja, semua orang tahu hal itu. Semenjak kematian misterius Gusti Permaisuri dan Putra Mahkota. Hanya Putri Lintang Ayu yang keturunan asli Wastu Ken
last updateLast Updated : 2022-01-11
Read more

JURUS SIMPANAN

"Saya Gara Codet, ajudan Tuan Putri Lintang Ayu Kencana. Saya datang ke sini membawa berita khusus yang harus disampaikan kepada Ki Pramana," ucap Angga berbohong kepada penjaga. Si Codet tak punya pilihan lain demi bisa masuk ke kediaman Ki Pramana yang disatroni sosok serba hitam. "Kamu jangan bohong, mana ada ajudan Tuan Putri berpenampilan seperti kamu?" tanya penjaga tersebut malah tidak percaya. Hal itu sangat wajar ketika melihat perawakan Angga yang menyedihkan.  "Katakan saja pada Ki Pramana, dia pasti mengenalku," ucap Angga kembali mencoba meyakinkan.  "Apa kau tidak berdusta?" tanya penjaga tersebut masih ragu.  "Kalau dia tak mengenalku, kamu bisa mengusirku. Tetapi jika kalian menolak titah Tuan Putri, kalian pasti dihukum berat," ancam Angga karena situasi sedang dalam bahaya.  "Baiklah. Tunggu sebentar," ucap penjaga, salah satu dari mereka masuk ke rumah Ki Pramana.  ARRRGGGHHH!  N
last updateLast Updated : 2022-01-13
Read more

PENGEMIS TUA EDAN

 "Melawan orang yang tak punya ilmu kedigdayaan sama sekali, sangat mudah buat kami," ucap sosok yang membuat Angga kalah pada pertarungan sebelumnya. Lelaki itu memberi isyarat kepada kawannya untuk menghadapi Angga. Setelah menganggukkan kepala, sosok serba hitam langsung menyerang. Tujuannya hanya satu, menyingkirkan pemuda aneh itu secepatnya. Namun betapa terkejutnya ketika sosok serba hitam menyerang, lawannya bisa menahan serangan dengan mudah. Lebih aneh dia menggunakan gerakan acak yang tak bisa ditebak oleh sosok serba hitam. Gerakan Angga mirip seperti orang gila yang sedang mabuk daun kecubung. Sehingga dia bergerak luwes tanpa bisa mengendalikan dirinya sendiri. Alhasil serangan keduanya tidak berkesinambungan, lebih sering sosok serba hitam malah memukul angin. Sosok serba hitam malah sulit mengantisipasi serangan lawannya yang tak terduga. Angga bertarung seperti orang yang tak bisa bertarung. Menye
last updateLast Updated : 2022-01-14
Read more

PEDANG PEMBELAH KAYU

"Untung saja kamu bisa menyadari jika ada bahaya di tempat ini," ucap Ki Pramana mendengar penjelasan Angga ketika berada di bukit di atas Lembah Hijau. Angga hanya garuk-garuk kepala, bingung mau bicara apa, malah takut ketahuan jika dia Pendekar Macan Kumbang. Jika itu terjadi, tamatlah penyamarannya saat ini. "Anak muda. Kenapa kau membawa Pedang Tanpa Bayangan?" tanya Ki Pramana lagi. Sebagai sosok yang kenyang pengalaman dia dapat mengenali pusaka dunia kedigdayaan yang maha sakti itu. Mendengar hal itu Angga tampak bingung mau menjawab apa. Namun otaknya tetap berpikir apa yang harus diucapkan. "Ini punya Tuan Adyaksa, saya yang membawakan untuknya," ucap Angga berbohong. "Kenapa pemuda itu bisa memiliki senjata Pusaka?" tanya Ki Pramana lagi.  "Dia berhasil merebutnya dari Tokoh Golongan Hitam bergelar Iblis Janggut Putih,""Aneh sekali, pemuda itu belum mencapai kedigdayaan tingkat langit. Tetap
last updateLast Updated : 2022-01-14
Read more
PREV
123456
...
10
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status