‘Hai Adit, aku tahu hari ini adalah hari terberatmu.
Jangan bersedih tentang Putri, suatu saat pasti kamu akan mengetahui sebenarnya yang terjadi, dan dari perempuan yang kamu temui hari ini, ingatlah dia dan belajarlah dari dia.’
Tunggu, bagaimana bisa si pengirim surat ini tahu tentang Putri dan mengetahui bahwa aku bertemu dengan seorang perempuan hari ini?. Dari paragraph pertama yang kubaca aku sempat berfikir siapa dan apakah ada seseorang yang menguntitku dari belakang hari ini, aku pun tak melanjutkan membacanya dan kupilih untuk menyimpannya saja di atas laci karena aku terlalu lelah untuk memikirkan hal-hal yang tidak ingin aku fikirkan sekarang.
Keesokan hari seperti biasanya aku bersiap untuk berangkat kerja namun sebelum itu aku harus mengantar Toni untuk pergi ke sekolah.
Tiba-tiba Nenek menghampiriku dan berkata “Dit, nanti kalo udah pulang kerja bisa antar Nenek kerumah Pak Andre?”
“Bisa Nek, insya Allah nanti Adit usahain biar bisa pulang cepet.” jawabku
“Gausah buru-buru kerjanya, kamu pulang kaya waktu biasanya juga gapapa.” Sahut Nenek padaku.
“Baiklah Nek, Adit berangkat dulu ya,” pamitku pada Nenek
“Iya hati-hati di jalan, jangan lupa baca doa.”
“Iya Nek, siap. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam” sahut Nenek.
Setelah mengantar Toni kesekolah akupun melanjutkan perjalanan ketempat kerjaku, aku bekerja di Toserba di Semarang dan sudah sekitar 3 tahun aku bekerja disini. Aku juga bekerja dengan teman sekolahku dulu, namanya Doni dia anak yang baik dan teman yang setia dan dia sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri.
Jam sudah menunjukkan waktu untuk istirahat, aku mengajak beberapa temanku untuk makan siang bersama di rumah makan dekat sini.
“Sal, kamu bulan depan ambil sift siang apa malem nih?” tanyaku pada Faisal yang sedang mengaduk secangkir teh panas
“Aku kayaknya siang deh, Dit, soalnya kalo malem buat private anak-anak.” Jawab Faisal tanpa bimbang.
“Kalo kamu Dit? Mau ambil siang apa malem?” Tanya Faisal balik padaku
“Aku sih kayaknya siang juga, ya nunggu keputusan enaknya gimana”
“Keputusan dari siapa Dit?” Tanya Doni padaku
“Biasa Don, kan kalo ada job buat jadi kuli bangunan aku ambil yang malem aja.” Terangku pada Doni
Setelah sedikit perbincangan antara kami bertiga akhirnya kami pun memutuskan utuk kembali ketempat kami bekerja.
Aku selalu mengingatkan diriku sendirir bahwa alasan terbesarku untuk bekerja adalah Putri, benar saja aku masih belum bisa melupakan apa yang Putri lakukan padaku kemarin. Benar-benar membuatku kacau dan ingin ku akhiri semua ini namu apalah daya aku tidak boleh menyerah, harus tangguh dan tidak boleh lemah untuk keluarga kecilku. Mulai saat ini aku pun harus menjadi diriku sendiri, ‘seorang Adit tanpa Putri’ aku menarik nafas panjang berharap secepatnya aku bisa bangkit dan bisa semangat kembali. Aku harus percaya everything will be okay.
“Dit, katanya kemarin kamu putus ya sama Putri?” Tanya Doni yang tiba-tiba mengagetkanku.
“Kata siapa kamu, Don?” selidikku
“Iya aku kemarin lihat story whatsApp Putri yang intinya untuk hubungan kamu sama dia tuh udah berakhir gitu deh.” jelas Doni
“Hubungan berakhir? Coba liat mana storynya.” Pintaku
“Emang kamu ga lihat?” Tanya Doni
“Engga, aku ngga liat story apapun dari Putri” Jawabku masih bingung
“Apa storynya dia kecualikan khusus buat kamu ya, Dit?” jawab Doni dengan curiga
Tanpa berfikir panjang aku pun langsung merebut hp Doni untuk melihat apa yang Putri tulis setelah kejadian kemaren.
‘Hari bersamamu adalah hari yang indah, terimakasih untuk semuanya. Aku percaya kok setelah perpisahan ada kebahagiaan diantara kita (maksudnya aku dan kamu). Terima kasih telah menemaniku sampai saat ini. Goodbye’
Aku benar-benar terkejut, selama aku kenal Putri dia yang sekarang benar-benar telah berubah tak seperti Putri yang ku kenal dulu. Putri yang ku kenal adalah seorang gadis yang selalu berhati-hati dalam menguntai kata. Tapi kini ku menyaksikan dia benar-benar tak hanya menyakitiku dengan sikap beserta ucapannya, tulisannya pun membuat lukaku bertambah.
Putri, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Apakah ada yang menyakitimu sehingga kau melampiaskan semuanya padaku? Atau apakah aku telah menyakitimu sehingga kamu membalasnya sekarang? Aku tak bisa berfikir jernih Put, katakana apa yang kamu rasakan apa yang kamu hadapi, jika dengan membuangku dari hidupmu membuatmu bahagia, baiklah.
Berbagai pertanyaan muncul dikepalaku, untuk sekarang aku pusing. Terlalu pusing.
Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 yang berarti pergantian sift selanjutnya.
Aku segera bergegas untuk pulang karena Nenek memintaku untuk mengantarnya pergi.
Sesampainya di rumah hal yang seperti biasanya Toni lakukan adalah menyambut kepulanganku dengan ceria, aku pun menuju kebelakang rumah karena Nenek biasanya sedang duduk disana sambil memberi makan ayam-ayam yang Nenek pelihara.
“Nek, gimana mau jadi ke rumahnya Pak Andre ngga?” tanyaku sambil mendekati tempat Nenek duduk sendirian
“Eh kamu sudah pulang, ayok sekarang. Nenek siap-siap dulu ya.” Jawab Nenek setelah melihat kedatanganku
“Iya Nek” jawabku sambil tersenyum
“Dit” tiba-tiba terdengar suara perempuan entah dari mana
“Adit” suara itu semakin dekat namun aku belum melihat siapakah pemilik suara itu
“Adit, kamu dipanggil ko ngga nyaut sih” Teriak seorang perempuan yang adalah Dinda
“Eh Dinda, tadi aku denger suara kamu tapi aku gatau kamu ada dimana, eh ternyata ada dibelakangku toh” jawabku sambil ketawa
Dinda adalah sepupuku, dia tinggal di desa sebelah. Jadi kita jarang ketemu.
“Eh tumben Din, ada apa kesini? Cari Nenek ya?” tanyaku sambil menjabat tanganya
“Dih kamu gimana sih, Dit, aku baru datang bukanya ditanya kabar malah tanya apa tujuan kesini bla bla bla” jawab Dinda sambil menggumam
“Haha iya iya, kamu apa kabar Dinda? Lama udah ngga ketemu udah jadi gadis aja” jawabku sambil meledeknya
“Apasih Dit, telat udah, gausah basa-basi” jawabnya ketus
“Ih jangan marah dong, masa kaya gitu aja marah” ledekku kembali
Tiba-tiba Nenek memanggilku dari dalam rumah
“Adit..”
“Iya nek,” jawabku
“Itu siapa yang ngobrol sama kamu?” tanya Nenek
“Ini Nek, ada Dinda baru dateng,” jawabku sambil menoleh kearah Dinda
Aku pun mengajak Dinda masuk kedalam rumah untuk menyapa Nenek dan adik-adikku.
“Mba Dinda” sapa Toni dengan penuh senyuman
“Eh Toni, apa kabar?” sapa Dinda dengan ramah
“Baik dong, mba Dinda apa kabar?”
“Baik juga dong, sama kaya Toni hehe.” jawab Dinda sembari mengusap kepala Toni dengan lembut.
“Eh ada ndo cantik, kesini sama siapa?” sapa Nenek pada Dinda dengan ramah
“Sendirian Nek, hehe. Nenek apa kabar?” tanya Dinda sembari mencium tangan Nenek.
“Alhamdulillah baik ndo cantik, udah makan belum ini?” tanya Nenek sembari mempersilahkan Dinda duduk
“Udah ko Nek, sebelum kesini Dinda udah makan dulu hehe” jawab Dinda dengan senyum polosnya.
“Ini rencana dari rumah apa dari mana ya?” tanyaku pada Dinda
“Tadi abis dari rumah Bu Tina, nganter pesenan baju jadi sekalian pulangnya mampir kesini” jelas Dinda
“Lho Nenek udah rapi, mau pergi kemana to?” tanya Dinda
“Ini mau kerumah Pak Andre sebentar. Oiya, kamu disini dulu ya nemenin Toni” Sahut Nenek
Dinda pun mengangguk tanda mengiyakan permintaan Nenek.
“Yeyy, mba Dinda ayo mainan mobil-mobilan bareng sama Toni” pinta Toni dengan wajah yang lugu.
Aku pun pamit pergi meninggalkan mereka.
Ditengah perjalanan menuju rumah Pak Andre, Nenek bertanya mengenai kabar Putri.
“Putri gimana kabarnya? Kapan-kapan suruh main kesini, udah lama Nenek ngga ketemu sama Putri, jadi kangen.” Ucap Nenek memulai pembicaraan
“Ba-baik nek, Putri kabarnya baik” jawabku sambil terbata-bata.
Aku tak mengira Nenek akan menanyai tentang Putri saat ini.
“Hubungan kamu dengan dia baik-baik sajakan?” selidik Nenek
Aku diam sejenak, mengambil nafas pajang, kemudian hening.
“Yang namanya hubungan ya ada kalanya pasang ada kalanya surut, sama kayak rezeki. Kamu ngga usah khawatir kalo jodoh ya nanti bakal tetep bersatu,” tiba-tiba Nenek mengatakan seperti itu, mungkin Nenek mengerti apa yang sedang aku rasakan saat ini.
“Apapun masalahnya selesaikanlah dengan kepala dingin, jangan mengambil keputusaan saat kalian marah.” Begitulah saran dari Nenek yang membuatku semakin diam.
Kami pun melanjutkan perjalanan kerumah Pak Andre tanpa sepatah kata pun setelah itu.
Setibanya dirumah Pak Andre kami langsung disambut ramah dan hangat, Pak Andre adalah seorang yang terpandang di desa kami, beliau adalah seorang pemuka agama yang yang dikenal dengan ketawadhuannya.
Kami pun dipersilahkan masuk kedalam rumah beliau dan kami dipersilahkan untuk duduk.
Kulihat ornament rumah yang bergaya timur tengah berada diruang beliau, terpampang sangat jelas gambar Ka’bah yang begitu besar tepat berada di tengah-tengah ruangan ini, sehingga setiap mata yang memandang pasti juga akan merasakan takjub.
“Ini silahkan diminum dulu, maaf adanya seperti ini” sambut Bu Rifa istri Pak Andre sembari menyodorkan teh dan makanan kecil kepada kami
“Tak perlu repot-repot bu,” ucap Nenek dan dibarengi denganku
“Engga ngrepotin ko, anggap saja seperti rumah sendiri.” jawab Bu Rifa dengan Tersenyum
Sembari menunggu Pak Andre yang sedang mengambilkan sesuatu, Bu Rifa pun mengajak kami untuk mengobrol ringan, keluarga ini benar-benar sangat ramah.
Setelah beberapa saat kami berbincng dengan Bu Fifa, Pak Andre pun datang dengan membawa secarik dokumen yang terlihat seperti dokumen penting.
Nenek pun mengambil dokumen itu dari tangan Pak Andre, dan aku tidak tahu apa isi dari dokumen itu.
Setelah Nenek mengobrol dengan Pak Andre, kami pun memutuskan untuk pamit karena Dinda mungkin sudah lama menunggu kami pulang.
“Permisi dulu ya Pak, Assalamualaikum.” Ucap Nenek sembari berpamitan dengan Pak Andre
“Waalaikumsalam, iya bu, hati-hati di jalan.” Sahut Pak Andre dengan senyuman.
Setelah berpamitan dengan Pak Andre aku dan Nenek memutuskan untuk pulang kerumah.
Sesampainya dirumah aku melihat Dinda masih bermain bersama Toni, namun ada pemandangan yang tidak biasa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri.
“Nek, itu siapa? Dinda mengajak pacarnya?” tanyaku pada Nenek saat memasuki rumah
“Mana? Siapa? Itu Dinda sendirian kok, lagi bermain sama Toni,” jawab Nenek pasti
Karena terlihat sama aku pun menghampiri Toni dan Dinda untuk memastikan apakah mereka memang berdua atau ada orang lain, dan ternyata mereka memang hanya bedua, tadi aku benar-benar melihat ada orang lain. Dia seorang lelaki dengan baju batik dan celana coklat namun setelah aku dekati kok tidak ada siapa-siapa? Aku langsung merasakan merinding disekujur tubuhku.
Toni menghampiriku dan berkata “Mas Adit tadi ada yang nyariin,”
“Siapa yang nyariin Mas, dek?” tanyaku pada Toni
“Ngga tau mas, terus nitipin sesuatu” ucap Toni sembari menyodorkan sebuah kotak kecil
“Apa ini?” tanyaku curiga
Aku pun perlahan membuka kotak tersebut dengan hati-hati, dan didalamnya terdapat secarik surat. Aku mulai curiga dengan isi surat tersebut, apakah surat ini dari lelaki yang barusan ku lihat dan menghilang dengan sekejap. Aku membuka surat tersebut dengan hati-hati kemudian kubaca perlahan, seperti pesan singkat namun ini benar-benar membuatku takut.
Sebenarnya setelah pulang dari rumah Pak Andre, Nenek berencana untuk mampir sebentar kerumah Bu Ningsih, akan tetapi Nenek memutuskan untuk lain waktu saja karena ada Dinda yang menunggu kami dirumah.“Mas Adit, tadi ada orang yang nyariin mas terus dia menitipkan sesuatu untuk mas” jelas Toni padaku“Siapa yang nyariin Mas, dek? Terus dia nitip sesuatu apa dek?” tanyaku bingungKemudian Toni menyodorkan sebuah kotak kecil yang tampak asing bagiku, benar-benar kecil sehingga aku penasaran untuk membuka dan melihat isi dari kotak tersebut. Kutemukan secarik kertas dan kubaca perlahan dalam hati.‘Kenapa surat yang kemarin tidak kamu baca sampai selesai, Dit.’ Aku benar-benar langsung bingung sekaligus merinding setelah membaca apa yang tertulis dari surat itu.Aku pun berlari menuju kamar untuk mencari surat misterius kemarin. Aku mencari disisi manapun surat itu di kamarku tapi aku tidak dapat menemukannya, yang aku ingat setelah membaca surat itu adal
Setelah sampai didepan rumah aku langsung berlari memasuki rumahku dan mengahampiri Nenek, kulihat banyak sekali barang yang ada di ruang tamu.“Ada apa ini Din?” tanyaku srius pada Dinda yang ternyata ada dirumahkuDinda diam seribu bahasa dengan raut muka yang begitu sedih sekaligus terkejut.“Nek ada apa ini? Kenapa banyak sekali barang disini?” tanyaku pada NenekNenek pun masih sama terkejutnya dengan Dinda, dan tidak menjawab pertanyaanku satu pun. Jari Nenek menunjuk ke kursi mengisyaratkanku untuk duduk, tanpa banyak tanya aku menuruti perintah Nenek.Suasana semakin tegang ditambah dengan gelegar petir menyambar mengisyarakatkan akan turunnya hujan.“Nenek kan sudah bilang” ucap Nenek memecah keheningan“Kalo kamu punya masalah, dislesaikan baik-baik kan bisa.” LanjutnyaAku semakin bingung apa yang sudah terjadi disini.“Tadi Putri datang kesini dengan kedua orang tuanya.” Ucap Nenek pelan“Mereka memutuskan untuk
Aku berlari mendekati tempat dimana kecelakaan itu terjadi, terlihat seorang perempuan pengendara mobil itu tidaklah asing, seorang perempuan yang cantik dan menawan itu adalah perempuan yang pernah kutemui di halte saat hujan lebat waktu itu, kulihat raut wajahnya yang menahan kesakitan, dari jauh ku berdiri, tanpa sadar langkah kaki ini semakin penasaran dan mendekati perempuan tersebut kutatap matanya dengan tenang berharap semoga dia segera melihatku. Saat perempuan itu menoleh dia juga menatapku lama sekali, seolah dia memberitahuku sesuatu lewat tatapannya.“Bagaimana kalo kita segera panggil ambulan?” ucap salah seorang warga“Iya benar, takut nanti tambah parah ini.” Sahut warga yang lainSemua orang semakin ramai dan bergerombol untuk melihat kecelakaan ini. Tiba tiba terdengar suaraWiuung wiuuungTak lama kemudian mobil ambulan datang untuk membawa perempuan itu dan korban yang terluka parah. Meskipun ambulan sudah sampai perempuan itu masih
“Move on dulu aja, Dit” saran Doni sambil memainkan HPnya“Iya Don, ini lagi aku coba, semoga aja aku bisa benar-benar lupa sama Putri.” Jawabku dengan seriusDoni pun merespon dengan tersenyum kearahku.Jam sudah menunjukkan angka 17.00 sedangkan Doni masihlah menemaniku“Pulang sana, udah sore nanti dicariin Mama kamu lho,” kataku pada Doni“Yaelah, dikira aku masih SD apa, kalo udah sore dicariin.” Jawab Doni“Ya kan ga baik bujang jam segini masih belum pulang, haha” jawabku dengan tertawa“Prawan kali dicariin!” jawab Doni dengan kesalAkhirnya Doni pun berpamitan pada Nenek untuk pulang.“Besok ngga ada alasan buat ga berangkat kerja kamu ya” ucap Doni sembari menyalakan motornya“Haha terserah aku dong mau berangkat atau tidak bukan urusanmu yee” jawabku pada Doni“Terserah!” jawab Doni dengan sinis“Ciee marah nih haha” jawabku“Jijik banget sumpah” jawab Doni sembari melototiku
Pagi telah datang membawa sedikit harapan untukku, menjujung tinggi mimpi yang telah lama ku pendam sendiri. Aku harus tetap berjuang dan terus berjuang, meskipun tanpa kamu, Putri.“Dit” sapa Doni dari ujung pintu di tempatku bekerja“Tumben nyapa, kayaknya lagi bahagia banget deh” jawabku“Eh tau ngga?” tanya Doni“Ya nggaklah Bambang” jawabku dengan heran“Ehem jadi gini,” ucap Doni“Iya kenapa?” tanyaku padanya“Hari ini gue diajak Icha kondangan ketemennya” jawab Doni dengan cengengesan“Menurut lu gua nrima apa nolak nih?” lanjutnya“Yaelah gitu aja tanya. Ya trimalah, lu juga jomblo kan?” jawabku“Lagian emang lu ngga kasihan kalo nolak tawaran dia? Lu juga jomblo sih, ngapain bingung mikir gituan” lanjutku“Widih gila, bahasanya udah di upgrade nih jadi lu gue sekarang? Haha” ledek Doni“Emangnya ngga boleh ya? Gue ngomong kayak gini?” tanyaku kembali“Ya boleh sih, tapi kurang cocok buat kar
Kuputuskan untuk segera pulang setelah mendengar kabar pernikahan Putri dari Dinda. Kupacu sepeda motorku dengan pelan menikmati awan yang semakin gelap berharap hujan kembali turun dan membasahiku seperti saat itu.Awan sudah menghitam dan angin kembali menyerbu dengan membawa dedaunan kering melintasi jalanan,
"Mas ini ada undangan" ucap Fika diujung pintu kamarku"Dari siapa Fik?" tanyaku padanya"Dari Mba.." jawab Fika kemudian terdiam
27 November 20181 tahun kemudian setelah pernikahan Putri.Sekarang aku sudah bisa merasakan lebih baik pada diriku sendiri, mengenai hal-hal yang ku lalui tahun lalu memanglah berat tapi pada ken
Aku bingung ada apa sebenarnya Dinda tiba-tiba mengirim chat seperti ini?Me : Iya din,Setelah beberapa saat Dinda membalas
____
"Mas mau dianterin ngga?" tanya seorang perempuan itu padaku"Ah, ndak usah ngrepotin mba. Ini saja udah ngrepotin banget" jawabku ngga enak"Lumayan jauh lho mas, nanti kalo kenapa-kenapa di jalan gimana?" jawab perempuan itu padaku
"Mas.. Mas, bangun mas" ucap seseorang di telingaku.Ku buka mata perlahan menatap ke langit-langit."Alhamdulillah udah sadar.." ucap seseorang
Melihat sepasang mata yang penuh kebingungan dan kesedihan dihadapanku sekarang ini membuatku merasa tak baik-baik saja."Udah kamu nanti coba ketemu dulu sama pacar kamu, kamu ceritain semuanya tentang perjodohan ini. Nanti respon pacar kamu kayak gimana itulah jadi patokan langkah kaki kamu selanjutnya Din." ucapku menenangkan Dinda yang masih bercucuran air mata.
Mentari kali ini bersinar dengan sangat cerah, layaknya sebuah sinar bohlam dimalam hari kala ku kecil dulu.Tiba-tiba aku teringat ucapan Bapak kala itu."Le, benda apa yang tidak bisa dimusnahkan oleh api?" tanya
Ku berjalan menelusuri kembali setiap jengkal tempat yang tak asing untukku sekarang, sudah terlalu lama aku tak menginjakkan kakiku kesini.Di tempat terakhir Mama dan Bapak istirahat, alangkah malunya aku sebagai anak yang paling berat menanggung keluarga justru tak pernah sedikitpun menjenguk mereka.
27 November 20181 tahun kemudian setelah pernikahan Putri.Sekarang aku sudah bisa merasakan lebih baik pada diriku sendiri, mengenai hal-hal yang ku lalui tahun lalu memanglah berat tapi pada ken
"Mas ini ada undangan" ucap Fika diujung pintu kamarku"Dari siapa Fik?" tanyaku padanya"Dari Mba.." jawab Fika kemudian terdiam