Share

Bab 54. Don't Worry, Trust Me

last update Last Updated: 2024-04-24 22:20:54
"Jodi itu ..." Gio menunda kalimatnya. Pembacaan mereka mengapa tidak nyaman? "Hahh ... aku tidak suka membicarakan orang."

Gio maju selangkah dan menatap Veronica dalam-dalam. Roman mukanya berubah lagi, menjadi teduh.

"I am sorry. Aku mungkin membuat kamu kaget. Tapi-"

"Katakan saja sama aku. Kak Gio yang mengenal Pak Jodi, atau siapapun nanti yang akan bekerja sama denganku. Kasih tahu aku, biar aku ga salah melangkah," kata Veronica.

"Kita ke dalam? Waktuku tidak banyak. Tadi ada meeting di lokasi tidak jauh dari sini, makanya aku belok. Kangen melihatmu," ujar Gio.

Hati Veronica meletup mendengar itu. Ternyata Gio memikirkan dan merindukannya. Meskipun dia tidak bisa membalas pesan, itu bukan karena tidak peduli. Gio memang sibuk. Buktinya, begitu dia ada waktu, langsung menemui Veronica.

"Oke. Minuman dingin mungkin bagus buat Kak Gio. Biar sedikit hilang ketegangan." Veronica tersenyum manis.

Mereka masuk ke dalam distro, naik ke lantai paling atas. Keduanya duduk berdamp
Locked Chapter
Continue Reading on GoodNovel
Scan code to download App

Related chapters

  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 55. Pulang

    "Kamu sudah kenalan belum? Itu Kak Felipe, Kak Maureen, dan ini yang lagi jadi tukang cukur ini Kak Reggy." Randy mengenalkan tiga bersaudara itu ke Sandy. "Hai, Kak ..." Sandy melambai menyapa Maureen dan Reggy. "Kamu cantik." Maureen tersenyum. "Terima kasih." jawab Sandy. "Oke, beres. Selesai." Reggy selesai dengan rambut Randy. Dia melepas kain yang menutupi Randy dari leher sampai badannya. "Gimana?" Randy melihat tampilan barunya di cermin yang dipegangnya. "Wah, keren juga. Aku jadi beda banget," ujar Randy. "Ya, bagus, kalau cocok modelnya," kata Reggy. "Bagus ga, San?" Randy melihat Sandy meminta pendapatnya. "Kakak cakep kalau gini." Sandy tersenyum. Yang lain malah sudah tertawa mendengar komentar Sandy. "Kayaknya aku pakai style gini aja ya, buat rambutku. Baru kali ini sih, model gini. Thanks, Re." Randy tersenyum. "Santai, Bro." Reggy mengacungkan jempolnya. Kemudian dia membereskan peralatan cukur. Sedang Maureen membersihkan rambut Randy yang telah tergunting

    Last Updated : 2024-04-25
  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 56. Antara Ayah dan Anak

    Santoko memahami apa yang Gio pikirkan. "Mari, Pak Hendrick, kita bicara di ruang kerja saya." Kedua pria dewasa itu pindah ke ruang kerja yang ada di bagian lebih dalam dari rumah besar ini. "HHhuuffhhh ..." Randy menghembuskan nafas lega. "Kamu baik-baik?" tanya Reggy, memperhatikan roman muka Randy. "Tidak. Sangat tidak baik," ujar Randy. "Tenanglah. Kamu pasti bisa hadapi ini. Bagaimanapun dia papa kamu," hibur Reggy. "Kak, aku takut. Kalau Kakak pulang ke mama nanti papa pasti marah sama aku," kata Sandy. Tatapan gadis kecil itu tidak tenang. "Kasih tahu Kakak kalau dia marah. Aku akan bawa kamu tinggal sama Kakak saja." Randy menenangkan Sandy. "Hei! Kalian pulang juga? Masih ingat rumah ini?" Seorang wanita muda muncul dan bicara sinis pada mereka. Dia cukup cantik, dengan tubuh yang memang bagus sebagai wanita dewasa. Tapi gayanya terlihat pongah. "Kenapa? Sebelum kamu ke sini ini rumah kami. Aku bahkan lahir di sini. Aku tetap anak papaku, sampai kapanpun," k

    Last Updated : 2024-04-25
  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 57. Hati Semakin Yakin

    Pulang kuliah siang itu, Reggy langsung ke distro. Dia sudah ada janji bertemu Veronica membicarakan recana pernikahan Gio dan Veronica. Sampai distro, Veronica sudah menunggu Reggy. Mereka bicara di lantai atas. Veronica sama seperti Gio, tidak mau acara macam-macam. Yang sederhana saja, tapi dia setuju dilakukan acara outdoor.Selesai bicara soal pernikahan, Veronica mengajak Reggy makan siang bersama. Veronica lumayan pandai memasak. Reggy makan lahap sekali selain nikmat dia memang juga lapar."Tante, masakannya enak sekali. Coba sering-sering," kata Reggy setelah puas makan."Nanti tiap hari aku masak buat kamu." Veronica tersenyum."Iya. Ga sabar Tante tinggal bareng di rumah." Reggy ikut tersenyum."Re, kamu anak sulung di rumahmu. Pasti kamu yang paling ingat mama kalian. Seperti apa mama kamu?" tanya Veronica.Reggy mengurungkan tangannya yang hampir mengambil lagi sup di mangkuk. Dia tidak menduga akan mendapat pertanyaan itu dari Veronica.“Kalau kamu tidak ingin menjawab t

    Last Updated : 2024-04-25
  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 58. Di Lampu Merah

    "Aku, aku belum cerita soal ini sama kamu." Veronica memandang Gio. "Aku sebenarnya punya masalah dengan rahimku. Aku selalu bermasalah ketika mengandung. Sebelum aku punya Ana, dua kali aku mengalami keguguran."Gio mendengar dengan serius. Veronica melanjutkan. "Selama mengandung Ana, aku harus bedrest. Perjuangan sangat berat buat aku dan Ana bisa sama-sama selamat. Lalu, tiga tahun setelah itu, aku harus melakukan operasi pengangkatan rahim karena kondisi yang semakin bermasalah."Wajah Veronica semakin terlihat sedih. "Itulah kenapa aku sangat hancur saat kehilangan putriku. Aku mencintai Leon. Dia sangat sayang padaku, dan sangat mengerti kondisiku. Aku bersyukur Tuhan pernah menghadirkan suami sebaik dia dalam hidupku. Dan Ana, mutiara istimewa yang perlu perjuangan panjang untuk aku dapat. Marah, penuh tanya, dan sangat kecewa saat Tuhan ambil dia kembali. Karena aku tidak mungkin punya anak lagi."Gio merapatkan duduknya mendekati Veronica. Dia memegang kedua bahu Veronica."

    Last Updated : 2024-04-25
  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 57. Malam Mengesalkan

    Klakson keras membuyarkan suasana. Veronica gelagapan dan segera fokus lagi dengan jalanan. Lampu telah berubah hijau, Veronica harus segera maju atau dia akan mengganggu lalu lintas yang kembali bergerak. Sepanjang jalan pulang, Veronica terus teringat pria dan wanita yang ada di depan rumah makan tadi. Veronica sangat yakin, jika pria itu adalah Gio. Lalu si wanita yang bersamanya, Veronica hampir yakin, wanita yang bertemu dan bicara dengan Gio pada saat mereka mengikuti pertemuan di Surabaya. Kala itu, Gio bersikap dingin dan cuek. Gio menjawab datar dan tidak terlalu memperhatikan. Tetapi yang Veronica lihat tadi, berbeda sekali. Gio tersenyum di samping wanita itu. Apakah mereka memang ada pertemuan bisnis? Tapi kenapa hanya berdua? Lalu pada jam makan malam juga? Sebenarnya ada apa? Hati Veronica mulai tidak tenang. Jangan-jangan Gio dan wanita itu …. “Vero, apa yang kamu pikirkan?” Ada suara keras bertanya di hati Veronica. “Jangan terlalu jauh. Kamu harus percaya pada Gio.

    Last Updated : 2024-04-26
  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 60. Jangan Menolakku, Pak

    Jantung Gio berdetak cepat. Shiany tepat ada di depannya hanya beberapa senti saja. Tangan wanita itu kuat memeluk leher Gio. “Bu Shiany, jaga sikap Anda,” ucap Gio tegas. Dia melepaskan tangan Shiany dan berdiri dengan cepat. Gio ternyata memang tidak bisa sedikitpun memberi peluang pada wanita muda yang berani itu. Kejadian kecelakaan kecil membuka pintu Shiany menggoda Gio. Shiany sigap juga. Pelukannya berhasil lepas, tetapi tangannya menarik lengan Gio. “Pak Gio, aku yakin Pak Gio tahu aku suka sama Bapak.” Gio makin terkejut mendengar kalimat itu. Shiany sama sekali tidak menahan diri, terang-terangan dia mengungkapkan perasaannya. “Bu Shiany-“ “Pak Gio pernah bilang, kalau di kantor jaga sikapku. Urusan kerja oke, aku harus tahu diri.” Shiany memandang Gio lekat-lekat. “Ini tidak di kantor. Ini juga ga ada urusan kerja. Jangan menolakku, Pak.” Gio makin kesal dan hilang respect pada Shiany. Dia wanita muda yang cerdas dan mampu menunjukkan potensinya dalam karir.

    Last Updated : 2024-04-26
  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 61. Kejutan

    Veronica hampir memulai sarapan, terdengar bel nyaring berbunyi. Aneh. Pagi-pagi belum jam tujuh, siapa yang datang? Apa Titin atau Lusi memesan makanan online? "Pagi, Mbak!" Titin nongol menyapa Veronica yang masih mengoles selai pada roti di depannya. "Hai? Ada yang bisa dibantu?" balas Veronica ramah. "Ada yang nyari." Titin bicara dengan mata menatap Veronica. "Tamu buatku? Pagi gini?" Veronica menaikkan kedua alisnya. "Iya. Mbak turun saja, deh," ujar Titin. "Siapa, Tin?" tanya Veronica heran. "Hmm, aku mau dong roti selainya. Suka aku yang pakai selai kacang." Titin mengalihkan pembicaraan. "Ya udah, makan ini. Nanti aku buat lagi." Veronica berdiri dan turun ke lantai dasar. Veronica mencoba menerka siapa yang datang. Apa ada yang mengantar barang atau ... "Kak Gio?" Betapa terkejut Veronica melihat Gio berdiri di depannya. Gio mengenakan kaos hitam ketat, membentuk tubuhnya yang bagus meskipun sudah mendekati lima puluh tahun. Senyumnya lebar seraya dia memandang V

    Last Updated : 2024-04-27
  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 62. Ibu Rindu Ayah?  

    Rumah di ujung jalan itu tampak sepi. Tapi suasananya lebih segar dan rapi. Taman kecil di depannya lebih terurus. Saat Felipe dan Wuri sampai, tampak seorang wanita sedang menyirami tanaman yang ada di teras. “Hai! Kalian sudah pulang?” Senyum ramah muncul di bibir wanita itu, menyambut Wuri dan Felipe. “Iya, Bu. Semua list belanja ada, lengkap.” Wuri menaruh belanjaan di meja di teras. Ratu mematikan kran air, lalu mendekati Wuri dan Felipe. Dia ikut melihat dan mengecek belanjaan yang Wuri bawa. “Hmm, salad buah. Yuk, kita santap langsung. Ini segar sekali.” Ratu mengeluarkan salad buah dan langsung membukan penutupnya. “Mau, dong, Bu. Aku suka anggur sama pir,” kata Felipe. Tidak pakai malu, dia segera menusuk potongan anggur dan pir, lalu memasukkan dalam mulutnya. “Aku bawa belanjaan masuk.” Wuri mengangkat lagi tas belanjaannya. “Sini, aku bantu.” Felipe bergerak sigap. Dia meminta tas belanjaan dari Wuri. Keduanya masuk ke dalam rumah. Felipe sudah beberapa ka

    Last Updated : 2024-04-27

Latest chapter

  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 111. Tidak Akan Berubah

    Veronica mendorong Gio agar menjauh. Dengan cepat Veronica bangun dan turun dari ranjang besar itu. Veronica merapikan rambut dan baju yang dia kenakan. “Papa!!” Terdengar lagi teriakan Maureen. “Ah, aku salah strategi. Kenapa aku suruh mereka nyusul ke sini sekarang?” Kesal, Gio berkata. Veronica tersenyum mendengar kalimat itu. Dia mendekati Gio, mengecup pipinya, lalu cepat bergerak menuju ke pintu dan membukanya. Di depan pintu, Maureen berdiri memandang dengan cemas. Di belakangnya Felipe dan Reggy berdiri sama cemasnya, menatap Veronica. “Mama. Mama ga apa-apa?” Maureen mencermati Veronica dengan mata bergerak cepat melihat dari atas ke bawah. “Nggak apa-apa,” kata Veronica. “Papa mana?” tanya Felipe. “Ada di dalam. Masuklah,” jawab Veronica sambil membuka lebih lebar pintu kamar itu. Ketiga anak itu semakin bingung. Veronica terlihat baik-baik saja. Dia tampak tenang dan tidak ada lagi marah meluap seperti yang dia tunjukkan saat masih di rumah. Veronica mendah

  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 110. Di-prank?

    Gio mengepalkan tangannya menatap dengan marah pada Veronica. “Oh, kamu mencurigaiku?! Oke! Sekarang, kamu ikut aku. Biar kamu tahu sekalian apa yang aku lakukan tadi malam. Biar kamu puas!” Gio berkata lebih keras dengan wajah juga memerah. “Buat apa? Kamu mau kenalkan aku sama wanita itu? Buat apa!?” sentak Veronica. Geram makin melambung di dadanya yang terasa panas membara. Gio menarik lengan Veronica, tidak memberi kesempatan istrinya menolak. Sekalipun Veronica mencoba melepaskan tangan, Gio tidak melonggarkan pegangan tangannya. “Papa!” Maureen memanggil Gio dengan hati porak poranda. Dia marah, sangat marah papanya bertindak kasar pada Veronica yang tidk lain dan tidak bukan adalah istrinya. Reggy dan Felipe pun bergerak maju dua langkah karena sangat terkejut mendapati orang tuanya sampai ribut di depan mereka. “Kalian juga mau tahu!? Silakan menyusul. Aku akan share lokasinya. Jelas?” Gio melihat pada ketiga anaknya yang melotot dengan pandangan bingung bercampur

  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 109. Gio Makin Menakutkan

    “Hmm …” Veronica tersenyum tipis. Ya, kejutan luar biasa! Gio ada main hati dengan wanita lain di belakang Veronica. “Mungkin. Mama belum tahu.”Veronica berusaha tersenyum dengan tatapan tenang, meskipun hatinya terasa pilu.“Tepat banget lagi, Mama ultah di hari Sabtu. Semua ada di rumah,” kata Maureen dengan senyum lebar. “Ah, aku mau masak yang spesial buat Mama, deh, buat sarapan.”“Wah, terima kasih banyak. Tapi Mama mau pergi belanja. Di kulkas tinggal sedikit bahan makanan,” ujar Veronica. Rencananya ingin menenangkan diri harus dia lakukan.“Oke. Pas Mama balik, sarapan sudah siap.” Maureen berucap dengan dua jempol terangkat.Veronica melempar senyum kecil, lalu meninggalkan rumah. Veronica sengaja berjalan saja menuju ke swalayan yang ada di dekat distro. Dia akan ambil waktu di sana menenangkan diri sebelum nanti kembali ke rumah.Lantao 3 di distro memang jadi tempat para karyawan Veronica tinggal sejak Veronica menikah dan tinggal dengan Gio serta anak-anaknya. Ruangan m

  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 108. Dikhianati

    Veronica menoleh ke jam dinding di kamar, hampir setengah sepuluh malam. Gio belum juga pulang. Ke mana sebenarnya pria itu? Biasanya, dia akan memberitahu dengan jelas ke mana pergi, ada urusan apa, dan dengan siapa. Tapi kali itu, dia bukan hanya bersikap dingin, tetapi juga tidak mau bicara apapun pada Veronica. Bagi Veronica, sikap Gio itu kembali menjadi CEO tampan sedingin kulkas.Sekali lagi Veronica mengirimkan pesan pada Gio. Tentu saja berharap Gio akan membalasnya.- Kak, belum bisa pulang? Aku tunggu atau aku tidur lebiih dulu?Gio akhirnya membalas pesan itu, setelah hampir sepuluh menit berlalu.- terserahJawaban itu membuat Veronica kesal. Sedang sibuk apa, sih, sampai membalas pesan saja tidak bisa dengan kata-kata yang melegakan? Tidak sabar, Veronica menelpon suaminya. Beberapa kali mencoba, Gio pun menerima panggilan itu.“Kenapa?” tanya Gio datar.“Kakak ada apa? Beritahu aku yang jelas. Aku bingung dengan sikap Kak Gio,” kata Veronica tanpa basa-basi.“Jangan leb

  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 107. Apa Salahku?

    Hari hampir malam saat Gio tiba di rumah. Empat hari di luar kota, sangat melelahkan. Dia ingin sekali segera istirahat, bertemu keluarga, dan menikmati waktu untuk menyegarkan penat dirinya. Maureen menyambut Gio di depan pintu. Dengan senyum lebar dia memeluk kuat Gio. Meskipun sudah menjadi gadis dewasa, Maureen tetap saja manja. “Senang Papa pulang. Kak Reggy juga sudah di rumah. Lengkap keluarga kita,” kata Maureen masih bergelayut manja pada ayahnya. “Gimana Reggy? Dia baik?” tanya Gio sambil berjalan menuju ke kamarnya. “Baik. Lagi keluar sama Kak Sita. Biasalah, kangen-kangenan, hee … abis LDR,” jawab Maureen. “Reen masak apa buat makan malam? Papa lapar.” Gio meletakkan koper di dekat lemari pakaiannya. “Ada, udah siap. Tapi mama belum pulang,” kata Maureen. “Ga apa-apa. Ga usah tunggu, keburu sakit perut,” ujar Gio. “Oya, Pa, tiga hari lagi mama ultah. Mau bikin acara, ga?” tanya Maureen. “Oya?” Gio menatap Maureen. Bagaimana bisa dia tidak ingat? “Yaa … Papa sama

  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 106. Memandangmu, Memelukmu

    Pasak melangkah menjauh, Randy dan Maureen menuju motor. Tak lama mereka sudah di jalanan yang cukup ramai. Randy mengantar Maureen pulang. Di jalan dia cerita tentang Pasak. Dia pembalap yang sangat lihai dan tajam menyerang lawan. Kayak pasak menghujam tanah dengan dalam. Karena itu dia dipanggil Pasak. Satu lagi Maureen bertemu teman lama Randy. Dan dia mengatakan sesuatu yang memang Randy akui pada Maureen. Randy dulu suka balapan liar tapi dia sudah berhenti. Maureen tersenyum. Dia makin yakin, Randy sungguh-sungguh mau mengubah hidupnya. "Senangnya Kakak di rumah lagi. Kangen banget aku." Maureen memeluk Reggy yang baru masuk rumah. "Aku juga lega akhirnya kembali ke rumah. Kangen masakan kamu sama mama," ucap Reggy dengan senyum. khasnya. "Udah, Reggy istirahat dulu, nanti aja ceritanya," kata Veronica. "Bawa oleh-oleh ga, Kak?" tanya Maureen mengikuti Reggy ke kamarnya. "Ada. Pasti aku bawa buat adikku yang cantik ini." Reggy mengusap kepala Maureen. "Biar aku belum pern

  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 105. Kesempatan Berdua Lagi

    Mobil merah keren itu masuk halaman rumah keluarga Hendrick. Randy memarkir mobil dan turun dari mobil. Maureen juga keluar dari mobil itu. Lalu mengeluarkan beberapa belanjaannya dari bagasi. Randy membantu membawakan juga. Mereka masuk dalam ruang tamu, menaruh tas belanjaan di sana. "Terima kasih buat hari ini," kata Randy. Dia tersenyum, hatinya sangat lega. "Aku minta maaf." Maureen melihat Randy. "Untuk apa? Aku seharusnya yang minta maaf karena kejadian tadi." Randy memandang heran pada Maureen. "Aku sengaja minta yang aneh-aneh sama kamu." Maureen melihat tas-tas belanjaan yang tergelak di sofa. "Aku hanya ingin melihat bagaimana sikapmu kalau menghadapi perempuan bawel dan banyak maunya." "Jadi ..." Randy mengerutkan keningnya. Maureen tersenyum lebih lebar. "Aku bukan tipe perempuan yang suka shopping banget. Apalagi yang ga dibutuhkan. Tapi, aku akan jaga baik-baik barang-barang ini. Janji." "Aku lulus tes?" tanya Randy. Maureen lagi melebarkan bibirnya. Dia menga

  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 104. Hati Terdalam Randy

    Randy memandang Maureen. Rasanya Randy seperti sedang dikuliti. "Ga ada," jawab Randy. "Setelah papa mama cerai, lalu papa menikah dengan wanita itu, aku mulai malas dengan perempuan. Maksudku, aku menilai perempuan lebih negatif. Hanya memanfaatkan pria untuk kesenangannya. Tentu kecuali mamaku. Makanya aku ga dekat sama siapapun, hampir setahun ini." "Kebiasaan yang lain?" Maureen ingin semua dia tahu, tanpa ada yang Randy sembunyikan. "Tinggal merokok. Meski makin jarang. Sejak kecelakaan, mama tegas bilang ga mau aku celaka. Dan balapan sangat beresiko. Aku ga melakukannya lagi. Minum, sudah lama aku ga lakukan. Pernah Sandy tahu dan dia sangat marah. Dia ga suka kakaknya jadi kayak orang gila. Karena aku sampai mabuk waktu itu." Randy menjawab panjang lebar. Mulai nyaman mengatakan semuanya, walaupun Maureen sangat mungkin akan memilih mundur setelah itu. "Apa yang kamu pikirkan ketika ingin mendekati aku? Jalan dengan cara seperti dengan semua mantan kamu itu?" Tajam dan sin

  • Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas   Bab 103. Masa Lalu yang Mengikuti

    "Omongan Nesti ga usah didengarin, Reen. Cewek tomboy ini rada sableng emang." Randy melotot karena jengkel."Hati-hati, Reen! Dia suka makan cewek, hehe ..." Nesti makin jadi."Sudah sana jauh-jauh, hari sial aku ketemu kamu." Randy mendorong Nesti agar pergi dari situ."Bye, Maureen! Bye, ex babe, hee ... hee ..." Masih sempat juga Nesti berceloteh.Maureen makin masam mukanya. Hatinya tidak karuan melihat pemandangan tak terduga di depannya."Reen ..." panggil Randy. Randy bisa membaca tatapan Maupun yang berubah tidak secerah tadi."Oo ... iya. Kita masuk?" kata Maureen. Dia langsung melangkah duluan ke gedung bioskop mencari tempat duduknya.Randy mengikuti dan duduk di sisi Maureen. Dia menaruh popcorn di antara mereka. Dia beli satu tapi yang jumbo.Maureen tidak lagi konsentrasi dengan situasi. Tidak juga bisa memperhatikan film yang mulai ditayangkan. Dia memikirkan Nesti dan kata-katanya. Yang Maureen tangkap, Randy biasa bebas dengan cewek. Entah kenapa perasaannya jadi kur

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status