Mata indah berlensa biru itu menatap tajam tapi manja dan penuh harap pada Gio. Sementara tangan Shiany menggelayut erat di leher Gio. Posisi seperti itu, tak bisa dipungkiri, sisi kejantanan Gio bangkit. Meskipun sekian lama dia tidak menyentuh wanita, dia masih normal dan punya hasrat.
"Malam ini akan jadi spesial banget. I promise." Shiany memandangi lebih lekat pada Gio.Gio sangat kaget dengan keberanian Shiany. Selama bekerja sama dalam event yang baru mereka sukseskan, sikap Shiany wajar-wajar saja. Tetapi memang tatapan kekaguman sekali waktu Gio lihat jelas dari Shiany."Bu Shiany, ini di kantor. Jaga sikap Anda." Gio makin memasang wajah dingin. Dia pegang dua tangan Shiany dan menurunkannya."Pak Gio, aku hanya mau membuat Bapak happy. Aku mau happy sama Pak Gio." Tangan Shiany kembali terulur ingin memegang lengan Gio.Gio mundur dua langkah. Wanita cantik ini ternyata lebih dari berani. Usianya masih tergolong muda jika dibandingkan Gio yang tak lama lagi akan masuk kepala lima. Tetapi tidak ada rasa canggung saat Shiany merayu Gio."Sekali lagi, Bu Shiany. Jaga sikap Anda," kata Gio. Kembali dia tegaskan jika dia tidak suka dengan cara Shiany."Ini di kantor, oke. So, jika di luar kantor tidak masalah, kan? Baik, Pak, aku akan ingat itu." Shiany tersungging seraya menarik rok pendeknya yang sedikit terangkat memperlihatkan kaki bagian atas yang putih dan mulus.Gio membalikkan badan hendak kembali ke mejanya. Sebenarnya lebih karena tidak mau melihat pemandangan aduhai di depannya."Kita ke resto bareng saja. Jam berapa kita berangkat?" Shiany kembali pada pembicaraan soal perayaan yang akan mereka lakukan."Hmm ..." Gio masih berpikir bagaimana menolak Shiany. Karena dia yakin di luar kantor, wanita itu akan makin menjadi."Tempatnya tidak terlalu jauh, Pak. Kalau jam-"Tuttt!!! Tuttt!! Tuttt!!!Dering ponsel Gio terdengar. Gio tidak lagi mendengar Shiany. Dia menengok ke mejanya dan segera mengambil benda pipih yang tergeletak di sana."Haloo! Kenapa, Maureen?" Gio bicara di telpon genggamnya."Papa!! Kak Felipe!! Tolong, Pa!!"Gio melotot mendengar suara keras bicara sambil menangis."Hei, ada apa? Felipe kenapa?" Dengan rasa heran dan penuh tanya Gio menjawab."Kak Felipe kecelakaan, Pa!! Aku ga mau dia mati!!" Suara gadis remaja di telpon itu makin keras dibarengi tangisnya yang juga makin menjadi."Ya Tuhan!" Gio langsung panik. Ini kabar mengerikan di siang hari di saat dia mendapat keberhasilan dalam bisnis."Oke, aku ke sana. Kasih alamatnya, cepat!" Gio bergegas ke belakang mejanya, mematikan komputer dan mengambil tas kerjanya.Shiany terlihat bingung dengan tingkah Gio. Pria itu tiba-tiba cemas dan wajahnya tampak tidak tenang."Pak Gio Hendrick, ada apa?" tanya Shiany penasaran.Gio tidak langsung menjawab. Dia memastikan mejanya beres lalu bergegas berjalan menuju pintu."Bu Shiany, aku harus pergi. Silakan keluar, aku akan kunci pintu." Gio berhenti di depan pintu, meminta Shiany meninggalkan ruangannya."Kenapa, Pak Gio? Siapa yang menelpon?" Shiany masih belum lega karena Gio tidak memberi jawaban yang dia harapkan.Gio tidak juga menjawab. Justru dia menelpon orang lain lagi, bicara soal kerjaan dan entah apa, sambil dia berjalan cepat menuju ke tempat parkir. Shiany mengikuti Gio karena heran dan ingin tahu apa yang terjadi.Selesai menelpon Gio membuka pintu mobil. Shiany maju mendekat dan menahan tangan Gio."Ada apa, Pak?""Ada masalah yang harus aku urus," jawab Gio cepat."Bagaimana acara kita nanti malam?" Rasa kuatir menyusup cepat di dada Shiany. Jangan sampai rencananya gagal mendapatkan duda tampan mempesona itu."Aku sudah menghubungi sekretarisku. Dia mungkin akan datang. Jika tidak, dia akan minta seseorang menggantikan aku. Terima kasih untuk kerja sama yang baik selama ini, Bu Shiany. Selamat siang," jawab Gio.Pria itu langsung masuk ke dalam mobilnya dan segera si roda empat meluncur meninggalkan kantor. Shiany terdiam di tempatnya berdiri. Sepertinya harus dia akui, julukan duda tampan sedingin kulkas itu memang tepat disematkan pada Gio Hendrick.*****Gio berlari kencang di lorong rumah sakit. Dia tidak boleh lambat sedikitpun. Putra keduanya, Felipe Isacus Prafasta Hendrick sedang berjuang antara hidup dan mati. Dia harus ada di sana, memastikan anaknya akan mendapat pertolongan terbaik dan selamat.Ruang IGD beberapa meter di depan Gio. Jantungnya makin meletup. Apa yang akan dia temui di sana? Apakah Felipe masih bertahan? Kalau selamat, apakah dia akan normal, tidak catat? Jika dia hilang ingatan, bagaimana? Semua pikiran itu berkecamuk di kepalanya.Langkah Gio terhenti. Di depan ruangan itu tampak gadis berseragam SMP duduk dengan kepala tertunduk. Rambutnya yang hampir sepunggung tergerai. Sebagian menutupi mukanya."Maureen!" panggil Gio.Gadis itu mengangkat kepalanya memandang Gio. Kedua pipinya basah, wajahnya merah dan sedikit sembab."Papa!!" Seketika gadis itu berdiri dan berlari menghambur ke dada Gio. Tangisnya tak dia tahan lagi. Meledak begitu saja seolah-olah ingin dia luapkan sampai tuntas."Maafkan aku, Pa! Maafkan aku!! Ini semua, semua ... gara-gara aku. Huu-uhuuukkk ...." Maureen mendekap punggung papanya kuat-kuat sambil jemarinya meremas kemeja biru gelap yang Gio kenakan.Gio masih bingung apa yang sebenarnya terjadi. Maureen bicara tidak ada ujung pangkal, semua seperti puzzle yang berantakan."Kalau aku ga marah-marah .... kalau aku mau pulang ... Kak Felipe, Kak Felipe ga akan ... kecelakaan. Aku ga mau dia mati, huuaahhhh!!!" Makin keras saja gadis itu menangis dengan perasaan takut dan sesal yang berkecamuk di hatinya.Cemas makin merajai hati Gio. Dia tidak tahu kondisi Felipe seperti apa. Dokter masih menanganinya di dalam ruangan. Tangis Maureen yang menjadi-jadi menambah rasa kuatir bahwa Felipe memang sedang kritis.Gio tetap memeluk Maureen, sambil dia mengajak gadis itu duduk di kursi tunggu. Maureen masih berusaha menghentikan tangis. Sesekali dia berkata-kata menceritakan apa yang terjadi hingga Felipe mengalami kecelakaan."Maafkan aku, Pa. Semua gara-gara aku egois ... Aku menyesal, Pa ..." Tangis Maureen sedikit mereda, tapi terdengar pilu."Reen, ini kecelakaan. Tidak ada yang tahu akan terjadi. Kita tunggu saja dokter selesai menangani Felipe. Kita berdoa, Tuhan tolong Felipe." Meskipun rasa cemas menghujam, Gio harus bisa membuat Maureen lebih tenang dan tidak dikejar rasa bersalah.Dalam dekapan Gio, Maureen mengangguk-angguk. Isakan gadis itu masih terdengar.Dalam situasi berat ini yang muncul di kepala Gio adalah Victoria Margaretha, mendiang istrinya tercinta. Dia butuh wanita istimewa itu di sampingnya. Anak-anak mereka butuh sang ibu menguatkan dan menjaga mereka."Vicky, maafkan aku." Lembut di hati Gio kalimat itu terucap. "Aku tidak bisa menjaga anak-anak kita. Felipe sedang berjuang agar tetap hidup. Kalau kamu di sini, mungkin hari ini tidak akan ada kecelakaan. Felipe akan baik-baik saja."Muncul wajah ayu dan lembut mendiang istrinya. Senyumnya terurai memberi keteduhan. Seandainya, seandainya saja Victoria masih ada.Pintu ruangan terbuka, seorang perawat muncul di sana memanggil keluarga Felipe. Dada Gio langsung berdegup kencang.Gio melangkah masuk ke dalam ruangan IGD menuju ranjang di mana anak keduanya berbaring. Di sampingnya, Maureen memegang lengannya dengan kuat. Gadis itu sangat gugup dan juga dipenuhi rasa takut bercampur rasa bersalah.Tinggal beberapa langkah dari ranjang mereka berhenti. Di depan mereka Felipe terbaring lemah di atas kasur. Kepalanya dibalut perban putih. Ada memar dan luka di wajahnya. Kedua tangan dan kakinya juga banyak luka-luka akibat yang dia alami. Tangan kirinya diinfus, entah obat apa yang dia perlukan.Mata Felipe memandang lurus pada Gio dan Maureen. Tetapi tatapan Felipe terlihat aneh. Dia memandang ke sekelilingnya seolah-olah mencoba memahami apa yang terjadi."Hai, Fel. Apa yang kamu rasa?" Gio maju lagi dua langkah. Maureen terus memegang kuat lengan Gio."Aku? Aku, kenapa?" Pandangan Felipe tampak bingung."Fel!""Kak?!" Gio dan Maureen berseru bareng. Pertanyaan Felipe membuat mereka kaget."Kak, beneran kamu ga ingat apa yang terjadi?" Maureen maju selangkah, t
"Aku bawakan sarapan, Pak. Masih hangat." Shiany menyodorkan kotak berwarna coklat di depan Gio. Gio mengusap-usap mata dan wajahnya. Dia masih harus memaksa dirinya segera dapat kesadaran lagi. Ya, dia tidak sedang bermimpi. Shiany memang datang menemuinya di rumah sakit. "Dari mana kamu tahu aku di sini?" Gio tidak bisa basa-basi. Dia tidak menerima kotak yang masih terulur di depannya. Dia menatap Shiany dengan pandangan tidak suka. "Itu gampang sekali, Pak Gio. Media sosial bisa menjawab apapun yang kita tanya dan menunjukkan apapun yang kita perlu," jawab Shiany. Ya, kenapa tidak terpikir oleh Gio? Anak-anaknya bisa saja meng-up load yang terjadi pada Felipe. Mudah saja mencari jejak digital.Dia duduk di samping Gio sambil memegang kotak yang ditolak Gio. Gio berdiri, mendekati Felipe. Anak muda itu masih lelap dengan posisi kepalanya miring. Perlahan-lahan Gio membetulkan posisinya agar lebih nyaman. "Hhmmm ..." Felipe bergumam. Sepertinya dia merasa ada yang mengganggu ti
Gio harus menjelaskan pada anak-anaknya kalau dia dan Shiany memang tidak ada apa-apa. Dia harus memilih kata-kata yang tepat agar tidak akan ada lagi pertanyaan dan kecurigaan dari mereka kalau Gio tidak ada hubungan lebih dari rekan kerja dengan wanita itu. Reggy dan Felipe memandang pada sang ayah, menunggu penjelasan. Maureen masih pura-pura sibuk meskipun telinganya siap menerima jawaban. "Bu Shiany itu utusan dari perusahaan lain untuk bekerja sama dengan event di kota. Lebih dua bulan kami bersama-sama mengurus semuanya. Baru tuntas kemarin. Papa juga tidak mengira dia punya perhatian lebih. Serius, Papa bahkan tidak mengatakan kalau anak Papa sedang kena musibah. Dia mendapat kabar dari yang lain." Ketiga anak Gio memperhatikannya. Mereka mau mendengar semuanya, sejelas-jelasnya. "Papa sudah janji akan fokus dengan keluarga. Papa masih sayang mama kalian. Buat Papa tujuan hidup Papa melihat kalian berhasil meraih cita-cita, itu saja." Gio tidak mau menceritakan lebih jauh y
Gio merasa deru jantungnya melaju begitu cepat. Hasrat rindunya meningkat. Victoria tiba-tiba ada di depannya. Mata mereka bertemu, tangan pun saling menggenggam. Gio tak akan menyia-nyiakan waktu kebersamaan itu."Vicky, Vicky ...""Mas Gio, kamu yang aku kuatirkan." Victoria mengulang kata-katanya."Aku sangat rindu sama kamu," kata Gio tanpa berkedip, terus memandang wajah cantik wanita paling dia cintai."Mas, kamu harus bahagia," ucap Victoria lembut. Tangannya naik menyentuh pipi Gio. Ada ketulusan dari tatapan mata Victoria."Kamu bahagiaku, Vicky. Kamu tahu itu," ucap Gio. Makin menderu rasa di dadanya. "Kamu pun bahagiaku. Ketiga buah hati kita bukti kebahagiaan kita. Tapi kamu, Mas, kamu harus bahagia ..." Tuttt!!! Tutttt!!!Keras dering telpon terdengar. Gio melonjak dan segera bangun."Astaga ... Aku ketiduran. Dan, Vicky??" Gio benar-benar bermimpi bertemu mendiang istrinya.Tutttt!! Tuttt!! Lagi dering ponsel membahana di ruang kamar itu.Masih belum mendarat, masih te
Pagi datang. Veronica bersemangat memulai hari. Dengan dua karyawatinya tinggal di ruko, di lantai 2, dia tidak lagi merasa kesepian. Veronica sendiri memilih lantai 3 menjadi tempat dia tinggal. Lebih privasi dan tenang.“Mbak, jadi belanja?” Seorang wanita muda menghampiri Veronica yang baru turun dari lantai atas ke distro.“Eih, Tina. Iya. Ada beberapa yang harus aku beli buat besok.” Veronica menjawab dengan senyum ceria di bibirnya.“Perlu aku temani, Mbak?” Tina menawarkan diri.“Hmm …” Veronica berpikir. “Ga usah, deh. Ga banyak juga yang dibeli. Kamu bantu di sini aja, biar semua segera beres.”"Siap!" Tina menyahut dengan mantap."Kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi saja. Aku harap yang aku cari ga susah dapatnya, jadi aku bisa cepat balik." Veronica merapatkan jaket tipis yang dia kenakan."Iya, Mbak. Hati-hati di jalan." Tina mengangguk.Veronica keluar distro. Taksi online yang di pesan sudah datang. Dengan cepat Veronica masuk ke dalam kendaraan berwarna putih itu,
Kaget juga Maureen dengan kedatangan cowok spesial di hatinya itu. Ternyata Natan berani datang juga ke rumah, padahal Maureen sudah mengancam jangan sampai nongol di rumahnya. Natan memang menyukai Maureen. Dia bahkan menulis surat cinta yang diselipkan dalam lukisan yang dia buat untuk Maureen, saat gadis itu berulang tahun. Lukisan itu yang menjadi biang keladi keributan Maureen dan Felipe.Gara-gara lukisan hadiah dari Natan, keusilan Felipe merajalela. Hingga puncaknya siang itu sepulang sekolah. Karena terlalu kesal Maureen mengancam kabur dan menyeberang jalan, menuju arah berlawanan dengan jalan mereka pulang.Panik, Felipe mengejar Maureen, begitu saja menyeberang jalan, hingga sebuah motor tak bsia menghindar dan menabrak Felipe."Ah, iya, masuklah." Maureen mundur beberapa langkah dari pintu."Kok kamu bisa sama-sama Yerry?" tanya Maureen. Natan melangkah masuk. "Iya, kan dari sekolah barengan," jawab Natan. "Kamu kenal baik sama Yerry?" tanya Maureen lagi. Mereka menuju
Melihat ekspresi Maureen, Natan tahu Maureen tidak senang dengan ucapannya.“Maaf, aku ga enak nih, tanya kayak gitu,” kata Natan. Tatapan aneh Maureen membuat Natan sadar, dia salah bicara. “Sampai sekarang papa ga pernah bicara soal nikah. Lagian aku ga mau la, punya ibu tiri,” ujar Maureen tegas. Natan tersenyum melihat Maureen manyun. Tapi dia bisa paham mengapa Maureen berpikiran seperti itu. Natan akan ingat baik-baik, Maureen cukup sensitif bicara soal ini. Lebih baik dia tidak mengungkit mengenai ini lagi. "Sorry, Reen. Really sorry," ucap Natan."Dahlah, ga apa-apa." Maureen melempar senyum tapi terlihat kecut.Mereka melanjutkan mengerjakan PR. Lumayan, Natan datang membuat dia lebih semangat belajar. Waktu berlalu, hingga jam lima sore, Yerry dan Natan pulang. ***** Semenjak pembicaraan di teras samping dengan Natan, pikiran Maureen jadi sering tertuju pada papanya. Apa benar papa tidak ingin menikah? Memang papa tidak muda banget, tapi papa masih belum tua juga. Misal
Reggy menoleh pada Resita, tidak memperhatikan yang Maureen katakan. "Kak Reggy!? Dengar aku, kan?" Lagi teriakan Maureen terdengar. "Ya, oke. Kirim saja list-nya. Aku pulang sekalian belanjain," jawab Reggy. "Makasih, Kakakku yang paling baik. Aku tunggu ya ... Ga pakai lama!" Klik. Panggilan Maureen selesai. Resita masih memandang Reggy. Serius, gadis itu merasa lucu dengan kejadian barusan. "Nama kamu bukannya Ardani?" tanya Resita. "Reggy panggilanku di rumah. Sorry, adikku memang cerewet." Reggy melepas senyum tipis. "Seru kedengarannya. Aku malah ga punya adik," ujar Resita. "Oh ... anak tunggal?" tanya Reggy sambil menyimpan ponsel di tasnya. Dia bersiap akan pulang. "Ada kakak laki-laki. Tapi kakak angkat." Resita menjawab sambil ikut merapikan tasnya. "I see ..." Reggy mengangguk. "Baiklah, aku harus pulang juga. Sampai besok, Re ... ah, ga apa-apa aku panggil Reggy?" "Ya, tentu." Reggy kembali tersenyum.Mereka berpisah di tempat parkir. Masing-masing dengan moto
Veronica mendorong Gio agar menjauh. Dengan cepat Veronica bangun dan turun dari ranjang besar itu. Veronica merapikan rambut dan baju yang dia kenakan. “Papa!!” Terdengar lagi teriakan Maureen. “Ah, aku salah strategi. Kenapa aku suruh mereka nyusul ke sini sekarang?” Kesal, Gio berkata. Veronica tersenyum mendengar kalimat itu. Dia mendekati Gio, mengecup pipinya, lalu cepat bergerak menuju ke pintu dan membukanya. Di depan pintu, Maureen berdiri memandang dengan cemas. Di belakangnya Felipe dan Reggy berdiri sama cemasnya, menatap Veronica. “Mama. Mama ga apa-apa?” Maureen mencermati Veronica dengan mata bergerak cepat melihat dari atas ke bawah. “Nggak apa-apa,” kata Veronica. “Papa mana?” tanya Felipe. “Ada di dalam. Masuklah,” jawab Veronica sambil membuka lebih lebar pintu kamar itu. Ketiga anak itu semakin bingung. Veronica terlihat baik-baik saja. Dia tampak tenang dan tidak ada lagi marah meluap seperti yang dia tunjukkan saat masih di rumah. Veronica mendah
Gio mengepalkan tangannya menatap dengan marah pada Veronica. “Oh, kamu mencurigaiku?! Oke! Sekarang, kamu ikut aku. Biar kamu tahu sekalian apa yang aku lakukan tadi malam. Biar kamu puas!” Gio berkata lebih keras dengan wajah juga memerah. “Buat apa? Kamu mau kenalkan aku sama wanita itu? Buat apa!?” sentak Veronica. Geram makin melambung di dadanya yang terasa panas membara. Gio menarik lengan Veronica, tidak memberi kesempatan istrinya menolak. Sekalipun Veronica mencoba melepaskan tangan, Gio tidak melonggarkan pegangan tangannya. “Papa!” Maureen memanggil Gio dengan hati porak poranda. Dia marah, sangat marah papanya bertindak kasar pada Veronica yang tidk lain dan tidak bukan adalah istrinya. Reggy dan Felipe pun bergerak maju dua langkah karena sangat terkejut mendapati orang tuanya sampai ribut di depan mereka. “Kalian juga mau tahu!? Silakan menyusul. Aku akan share lokasinya. Jelas?” Gio melihat pada ketiga anaknya yang melotot dengan pandangan bingung bercampur
“Hmm …” Veronica tersenyum tipis. Ya, kejutan luar biasa! Gio ada main hati dengan wanita lain di belakang Veronica. “Mungkin. Mama belum tahu.”Veronica berusaha tersenyum dengan tatapan tenang, meskipun hatinya terasa pilu.“Tepat banget lagi, Mama ultah di hari Sabtu. Semua ada di rumah,” kata Maureen dengan senyum lebar. “Ah, aku mau masak yang spesial buat Mama, deh, buat sarapan.”“Wah, terima kasih banyak. Tapi Mama mau pergi belanja. Di kulkas tinggal sedikit bahan makanan,” ujar Veronica. Rencananya ingin menenangkan diri harus dia lakukan.“Oke. Pas Mama balik, sarapan sudah siap.” Maureen berucap dengan dua jempol terangkat.Veronica melempar senyum kecil, lalu meninggalkan rumah. Veronica sengaja berjalan saja menuju ke swalayan yang ada di dekat distro. Dia akan ambil waktu di sana menenangkan diri sebelum nanti kembali ke rumah.Lantao 3 di distro memang jadi tempat para karyawan Veronica tinggal sejak Veronica menikah dan tinggal dengan Gio serta anak-anaknya. Ruangan m
Veronica menoleh ke jam dinding di kamar, hampir setengah sepuluh malam. Gio belum juga pulang. Ke mana sebenarnya pria itu? Biasanya, dia akan memberitahu dengan jelas ke mana pergi, ada urusan apa, dan dengan siapa. Tapi kali itu, dia bukan hanya bersikap dingin, tetapi juga tidak mau bicara apapun pada Veronica. Bagi Veronica, sikap Gio itu kembali menjadi CEO tampan sedingin kulkas.Sekali lagi Veronica mengirimkan pesan pada Gio. Tentu saja berharap Gio akan membalasnya.- Kak, belum bisa pulang? Aku tunggu atau aku tidur lebiih dulu?Gio akhirnya membalas pesan itu, setelah hampir sepuluh menit berlalu.- terserahJawaban itu membuat Veronica kesal. Sedang sibuk apa, sih, sampai membalas pesan saja tidak bisa dengan kata-kata yang melegakan? Tidak sabar, Veronica menelpon suaminya. Beberapa kali mencoba, Gio pun menerima panggilan itu.“Kenapa?” tanya Gio datar.“Kakak ada apa? Beritahu aku yang jelas. Aku bingung dengan sikap Kak Gio,” kata Veronica tanpa basa-basi.“Jangan leb
Hari hampir malam saat Gio tiba di rumah. Empat hari di luar kota, sangat melelahkan. Dia ingin sekali segera istirahat, bertemu keluarga, dan menikmati waktu untuk menyegarkan penat dirinya. Maureen menyambut Gio di depan pintu. Dengan senyum lebar dia memeluk kuat Gio. Meskipun sudah menjadi gadis dewasa, Maureen tetap saja manja. “Senang Papa pulang. Kak Reggy juga sudah di rumah. Lengkap keluarga kita,” kata Maureen masih bergelayut manja pada ayahnya. “Gimana Reggy? Dia baik?” tanya Gio sambil berjalan menuju ke kamarnya. “Baik. Lagi keluar sama Kak Sita. Biasalah, kangen-kangenan, hee … abis LDR,” jawab Maureen. “Reen masak apa buat makan malam? Papa lapar.” Gio meletakkan koper di dekat lemari pakaiannya. “Ada, udah siap. Tapi mama belum pulang,” kata Maureen. “Ga apa-apa. Ga usah tunggu, keburu sakit perut,” ujar Gio. “Oya, Pa, tiga hari lagi mama ultah. Mau bikin acara, ga?” tanya Maureen. “Oya?” Gio menatap Maureen. Bagaimana bisa dia tidak ingat? “Yaa … Papa sama
Pasak melangkah menjauh, Randy dan Maureen menuju motor. Tak lama mereka sudah di jalanan yang cukup ramai. Randy mengantar Maureen pulang. Di jalan dia cerita tentang Pasak. Dia pembalap yang sangat lihai dan tajam menyerang lawan. Kayak pasak menghujam tanah dengan dalam. Karena itu dia dipanggil Pasak. Satu lagi Maureen bertemu teman lama Randy. Dan dia mengatakan sesuatu yang memang Randy akui pada Maureen. Randy dulu suka balapan liar tapi dia sudah berhenti. Maureen tersenyum. Dia makin yakin, Randy sungguh-sungguh mau mengubah hidupnya. "Senangnya Kakak di rumah lagi. Kangen banget aku." Maureen memeluk Reggy yang baru masuk rumah. "Aku juga lega akhirnya kembali ke rumah. Kangen masakan kamu sama mama," ucap Reggy dengan senyum. khasnya. "Udah, Reggy istirahat dulu, nanti aja ceritanya," kata Veronica. "Bawa oleh-oleh ga, Kak?" tanya Maureen mengikuti Reggy ke kamarnya. "Ada. Pasti aku bawa buat adikku yang cantik ini." Reggy mengusap kepala Maureen. "Biar aku belum pern
Mobil merah keren itu masuk halaman rumah keluarga Hendrick. Randy memarkir mobil dan turun dari mobil. Maureen juga keluar dari mobil itu. Lalu mengeluarkan beberapa belanjaannya dari bagasi. Randy membantu membawakan juga. Mereka masuk dalam ruang tamu, menaruh tas belanjaan di sana. "Terima kasih buat hari ini," kata Randy. Dia tersenyum, hatinya sangat lega. "Aku minta maaf." Maureen melihat Randy. "Untuk apa? Aku seharusnya yang minta maaf karena kejadian tadi." Randy memandang heran pada Maureen. "Aku sengaja minta yang aneh-aneh sama kamu." Maureen melihat tas-tas belanjaan yang tergelak di sofa. "Aku hanya ingin melihat bagaimana sikapmu kalau menghadapi perempuan bawel dan banyak maunya." "Jadi ..." Randy mengerutkan keningnya. Maureen tersenyum lebih lebar. "Aku bukan tipe perempuan yang suka shopping banget. Apalagi yang ga dibutuhkan. Tapi, aku akan jaga baik-baik barang-barang ini. Janji." "Aku lulus tes?" tanya Randy. Maureen lagi melebarkan bibirnya. Dia menga
Randy memandang Maureen. Rasanya Randy seperti sedang dikuliti. "Ga ada," jawab Randy. "Setelah papa mama cerai, lalu papa menikah dengan wanita itu, aku mulai malas dengan perempuan. Maksudku, aku menilai perempuan lebih negatif. Hanya memanfaatkan pria untuk kesenangannya. Tentu kecuali mamaku. Makanya aku ga dekat sama siapapun, hampir setahun ini." "Kebiasaan yang lain?" Maureen ingin semua dia tahu, tanpa ada yang Randy sembunyikan. "Tinggal merokok. Meski makin jarang. Sejak kecelakaan, mama tegas bilang ga mau aku celaka. Dan balapan sangat beresiko. Aku ga melakukannya lagi. Minum, sudah lama aku ga lakukan. Pernah Sandy tahu dan dia sangat marah. Dia ga suka kakaknya jadi kayak orang gila. Karena aku sampai mabuk waktu itu." Randy menjawab panjang lebar. Mulai nyaman mengatakan semuanya, walaupun Maureen sangat mungkin akan memilih mundur setelah itu. "Apa yang kamu pikirkan ketika ingin mendekati aku? Jalan dengan cara seperti dengan semua mantan kamu itu?" Tajam dan sin
"Omongan Nesti ga usah didengarin, Reen. Cewek tomboy ini rada sableng emang." Randy melotot karena jengkel."Hati-hati, Reen! Dia suka makan cewek, hehe ..." Nesti makin jadi."Sudah sana jauh-jauh, hari sial aku ketemu kamu." Randy mendorong Nesti agar pergi dari situ."Bye, Maureen! Bye, ex babe, hee ... hee ..." Masih sempat juga Nesti berceloteh.Maureen makin masam mukanya. Hatinya tidak karuan melihat pemandangan tak terduga di depannya."Reen ..." panggil Randy. Randy bisa membaca tatapan Maupun yang berubah tidak secerah tadi."Oo ... iya. Kita masuk?" kata Maureen. Dia langsung melangkah duluan ke gedung bioskop mencari tempat duduknya.Randy mengikuti dan duduk di sisi Maureen. Dia menaruh popcorn di antara mereka. Dia beli satu tapi yang jumbo.Maureen tidak lagi konsentrasi dengan situasi. Tidak juga bisa memperhatikan film yang mulai ditayangkan. Dia memikirkan Nesti dan kata-katanya. Yang Maureen tangkap, Randy biasa bebas dengan cewek. Entah kenapa perasaannya jadi kur