“Ini kamar saya,” tegas Lydia.Lydia masih berdiri di depan kamarnya, tak mau memberikan jalan untuk Adel masuk. Sementara itu, Adel terlihat emosi.Tepat saat itulah Marcell pulang dan menyadari ada keributan di antara dua wanita itu.“Apa yang terjadi?” tanya Marcell.“Aku ingin tidur berdua denganmu di kamarmu! Tapi dia nggak memperbolehkan aku masuk!” adu Adel sambil menunjuk Lydia.Sebelum Marcell angkat bicara, Lydia lebih dulu berujar,“Bukan kamu yang masuk ke sini, karena ini kamar saya. Kalau kamu mau tidur berdua dengan Marcell, maka Marcell yang harus keluar dari kamar ini dan masuk ke kamarmu, bukan saya yang pergi,” jelas Lydia.Tentu saja, Lydia tak mau diusir dari wilayahnya. Dia tak mau pindah ke kamar lain, sebaiknya Marcell saja yang pindah.“Sayang … bagaimana ini?” tanya Adel kepada Marcell dengan tampang sok sedih.“Biar aku yang ke kamarmu,” kata Marcell menenangkan.Lydia mendengkus. Malas melihat drama di hadapannya, dia masuk ke kamar lantas menutup pintu.Un
Damian menarik Lydia ke sofa, dia beranjak duduk di sana lantas mendudukkan Lydia ke atas pangkuannya.Lydia sempat terbelalak, tapi dia tak menolak.“Duduk saja di sini.”Lydia memalingkan wajahnya, malu sejenak. “Kamu belum pakai celana.”Damian tersenyum tipis. Meraih sejumput rambut Lydia lantas memainkannya sambil tak berhenti menatap lekat Lydia yang terlihat menggemaskan kalau sedang malu.“Kan sudah ditutupi kain,” ucap Damian.Lydia diam, dia bingung hendak bicara apa lagi. Dan tiba-tiba, Damian kembali meraihnya ke dalam pelukan pria itu.Lydia berdebar hebat ketika pipinya menempel di dada bidang Damian yang telanjang. Tentu saja Damian dalam keadaan shirtless.Namun, semakin lama, Lydia merasa nyaman dan tenang, apalagi Damian mengelus punggungnya, ditambah dia mencium wangi tubuh Damian yang memabukkan.Lydia menggesekkan pipinya ke kulit Damian, rasanya semakin nyaman hingga dia mengantuk.“Sekarang sudah lebih tenang?” tanya Damian.Damian menunduk, menatap Lydia yang s
“Ya?” tanya Lydia.Apa Lydia tak salah dengar? Damian memujinya cantik di tempat terbuka seperti ini, dan terlihat serius, sepertinya tidak sedang bercanda.Dan, Lydia pikir, Damian akan menyangkal atau mengubah topik pembicaraan saat ditanya. Namun, Damian malah mengangguk seraya beranjak dari duduk dan menghampiri Lydia.Diraihnya tangan Lydia lantas dia genggam sambil mata birunya yang memancar indah menatap wajah Lydia dengan lekat.“Aku nggak bohong, kamu cantik.”Lydia mengulum senyum, menahan debaran di dada agar tak menggila. Dia baru pertama kali merasakan keanehan seperti ini. Saat dengan Marcell, mau itu pertunangan atau pernikahan, terasa biasa saja, malah dia ingin kabur.Tapi, bersama Damian, meskipun hanya pura-pura, entah mengapa … terasa nyata.‘Aku nggak boleh terbawa suasana. Jangan terhanyut. Damian hanya bicara jujur, jangan baper,’ batin Lydia, memperingati diri
“Aku belum ingat. Ini sungguh membuatku frustasi,” ujar Melanie dengan tampang kesal.“Nggak masalah, Sayang. Kamu bisa mengingat pelan-pelan, setelah itu kita cari tahu bersama. Barangkali ada hal buruk dari tunangan Damian yang bisa kita temukan dan gunakan untuk menjatuhkan Damian.”Alex tampak bersemangat. Tentu saja, dia tak terima posisi Presdir yang seharusnya miliknya malah diambil oleh Damian. Dialah yang seharusnya berada di sana!Maka, bagaimanapun juga, Alex harus mencari cara untuk menyingkirkan Damian dari posisi Presdir.Kabar Damian yang bertunangan pun membuat Alex tak senang. Padahal, dia bahagia kalau Damian memutuskan tak menikah dan posisi Presdir jatuh padanya, warisan seperti saham juga jatuh mayoritas padanya dan anaknya. Itulah yang dia impikan.Acara pertunangan selesai, Lydia berpamitan kepada keluarga besar Damian.“Apa aku boleh menumpang ganti baju?” tanya Lydia kepada Damian sebelum benar-benar pergi.Kini Lydia sedang berjalan bersama memasuki rumah den
“Kenapa, Sayang?” tanya Adel, memeluk lengan Marcell, bergelayut manja.Adel heran melihat Marcell yang tak berhenti menatap kepergian Lydia. Selain itu, dia juga merasa cemburu.“Bukan apa-apa,” jawab Marcell.Marcell tersenyum kepada Adel lalu kembali mengajak sang selingkuhan ke kamar.Sementara itu, di dalam kamarnya, Lydia duduk di depan meja rias, sedang menghapus make upnya. Dari pantulan cermin, dia menatap cincin berlian indah yang terkena cahaya lampu kamar.“Cantik banget cincinnya,” gumam Lydia, tanpa sadar mengulas senyum.Lydia kembali teringat saat Damian memasangkan cincin ini ke jari manisnya, dia sampai berdebar-debar seperti baru pertama kali mengalaminya. Padahal dulu dengan Marcell, dia tak merasa begitu.Tunggu, Marcell?!Lydia baru ingat, dia tak mengenakan cincin pernikahannya! Marcell tidak menyadarinya kan?“Sepertinya lebih baik aku pakai dua cincin,” ujar Lydia.Terpaksa, meskipun dia kurang suka karena jarinya merasa terganggu.Namun, entah mengapa, anehny
Usai mengenakan pakaiannya, meskipun dengan terburu-buru, tapi tak lama setelahnya Damian kembali seperti biasa. Tetap berwajah datar dan tak ada raut panik sama sekali.Dia mendekati Lydia, menyentuh pundak wanita itu.“Tetaplah tenang, Lydia,” ucap Damian karena Lydia terlihat panik sejak tadi, tak berhenti bergerak gelisah.Lydia menoleh, menatap Damian yang tampak santai. Padahal ini gawat!“Bagaimana bisa aku bisa tetap tenang di saat seperti ini? Ada Marcell di luar! Aku harus menyembunyikan kamu di mana? Nggak mungkin di bawah kasur, terlalu sempit.”Lydia menatap kasur kecil yang tak mungkin muat jika tubuh besar Damian bersembunyi di bawahnya. Tapi tak ada tempat lain lagi, lemari besar yang kosong pun tak ada di sini.“Aku nggak harus bersembunyi, kamu bisa bicara dengan Marcell tanpa harus membuka pintu kan?” ujar Damian.“Benar juga.”Lydia mulai lebih tenang.“Lydia! Bukan pintunya! Sedang apa sampai lama sekali?” tanya Marcell dari luar.Untunglah tadi Lydia sudah sempat
“Kamu bilang apa barusan? Saya nggak dengar jelas,” ujar mama Marcell.Lydia melirik Marcell yang sedang menatapnya tajam seolah mengode padanya untuk diam. Lydia hanya balas tersenyum tipis.“Bukan apa-apa, Ma. Hanya membicarakan makanannya enak,” dusta Lydia.Mama Marcell masih penasaran, karena sepertinya tadi Lydia bukan membicarakan soal itu. Tapi ya sudahlah, kembali ke topik utama.“Cukup pembahasan soal anak, Ma. Biar nanti aku dan Lydia memeriksakan kesehatan reproduksi kami ke rumah sakit,” ujar Marcell. Dia khawatir Lydia membocorkan soal Adel, jadi dia harus membela Lydia di sini kan?“Oke, mama tunggu kabar baiknya,” ujar mama Marcell.“Apa itu hal penting yang mau kalian bicarakan denganku?” tanya Marcell.“Bukan, nanti kita bicara berdua,” kata Papa Marcell.Lydia melirik sang papa mertua dengan sorot penasaran, apa hal pentingnya sampai mereka hanya akan bicara berdua? Sepertinya dia tak boleh tahu.Setelah makan malam bersama, Lydia tertahan di sofa, diajak mengobrol
“Kenapa kamu bertanya begitu? Kamu mencurigaiku?” tebak Marcell tepat sasaran.Lydia nyaris panik, tapi untungnya dia bisa mengontrol ekspresinya dengan cepat.“Bukan begitu, Marcell. Aku hanya nggak mau kamu terlibat dan aku juga turut terseret, aku ingin kehidupanku tetap tenang.”Marcell membuang pandangan, dia menegak winenya cukup banyak.“Kamu tenang aja, aku nggak akan mengusik kehidupanmu di tempat kerja.”Setelah mengatakan itu, Marcell beranjak pergi dari sisi Lydia.Lydia diam, mengamati kepergian Marcell dengan rasa penasaran. Baginya, Marcell seperti menggantung jawaban, tak memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan inti tadi. Kalau begini, dia malah curiga.“Nanti aku harus ceritakan ini ke Damian.”Lydia bergegas masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu agar tak ada yang masuk. Dia menelepon Damian, berniat memberi tahu tentang obrolannya dengan Marcell. Tapi, Damian tak mengangkat panggilannya.Lydia mencoba lagi, dan masih belum diangkat. Mungkin Damian sibuk?Ak
"Apa ada hal baik yang terjadi?” tanya Marcell.Pagi ini, Marcell sedang sarapan bersama Lydia dan Adel. Namun, fokusnya terus tertuju pada Lydia yang tak berhenti tersenyum, bahkan entah kerasukan apa, wanita yang masih berstatus istrinya itu menyapanya dan Adel dengan ramah.Padahal, biasanya Lydia hanya diam dengan tampang dingin.“Hm?” sahut Lydia, diam sejenak.Pikirin Lydia masih dipenuhi oleh Damian yang semalam. Senyum pria itu, tatapannya, genggaman tangannya, dan tentu saja ciuman mereka sebagai pasangan.“Ah, hal baik. Ya, tentu saja ada,” jawab Lydia.“Tentang lukisanmu?”Lydia mengangguk, berbohong. Entah akan sekaget apa Marcell kalau tahu hal baik yang dia maksud adalah jadian dengan Damian.“Aku sudah selesai,” ujar Lydia lalu beranjak dari kursinya, dia lantas menatap Adel dengan senyum elegan. “Makanlah yang banyak, agar bayimu nggak kekurangan gizi.”Adel menggenggam alat makan erat-erat. Dia kesal mendengar kalimat Lydia yang entah mengapa seperti ejekan baginya, d
Suasana di dalam ruangan mendadak sunyi. Lydia menatap Damian dengan perasaan campur aduk. Dia merasa terkejut, tak percaya, dan jantungnya berdebar begitu cepat hingga dia khawatir Damian bisa mendengarnya.“Damian …” Lydia mengerjapkan mata. “Apa kamu serius?”Damian tidak menjawab dengan kata-kata, hanya menatap Lydia dengan intens.Tatapan itu … Lydia tak bisa mengabaikannya. Ada sesuatu yang berbeda di sana, bukan sekadar ketertarikan, tapi lebih dalam dari itu.Damian menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangannya masih memegang segelas wine yang berisi sisa minuman yang belum disentuhnya lagi. Dia tidak main-main dengan ucapannya barusan.“Aku serius, Lydia. Aku ingin menambahkan satu poin dalam kontrak kita. Aku ingin ada kemungkinan bagi kita untuk memiliki hubungan romantis sungguhan, bukan sekadar akting.”Lydia merasa tubuhnya melemas. Ini terlalu mendadak. Dia bahkan masih memproses fakta bahwa Damian menyukainya.“Tapi …” Lydia terdiam sejenak. “Ini terlalu mendadak buatku. A
Damian tampak terguncang setelah meresapi perkataan Felix. Dia bahkan membuat Felix khawatir ketika akan pamit pulang.“Anda mau saya antar?” tawar Felix yang merasa tak tega.“Nggak,” tolak Damian.Di dalam mobil, Damian mengusap wajahnya dengan kasar.DIa tidak menyukai perasaan tidak pasti seperti ini. Selama ini, segala sesuatu dalam hidupnya berjalan sesuai rencana, terkontrol, logis, terstruktur. Dan mayoritas berkaitan dengan pekerjaan.Tapi, sosok Lydia… bagi Damian seperti badai. Masuk ke dalam hidupnya tanpa aba-aba, mengguncang segalanya, dan membuatnya merasa tidak menentu seperti sekarang.Di tempat tidurnya, apakah Damian bisa tidur nyenyak setelah mendapatkan pencerahan dari Felix? Oh, tentu saja, tidak. Dia malah semakin sulit tidur. Terjaga terus-menerus dan makin memikirkan Lydia.Damian menatap jam dindingnya, sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ini gila!Akhirnya, dia bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju dapur, dan menuangkan segelas whiskey. Dia menyesapn
Damian menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Seharusnya dia bisa tidur nyenyak setelah menghabiskan malam panas yang luar biasa dengan Lydia, tapi justru sebaliknya. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.Lydia. Wanita itulah penyebabnya.Nama Lydia terus berputar di benaknya dan di pikirannya. Wajahnya. Senyumnya. Cara dia bicara, cara dia melukis, cara dia menatapnya dengan raut serius. Dan tubuhnya yang terasa begitu pas di dalam pelukannya.Damian menghela napas, menatap tangannya. Dia masih teringat bagaimana rasanya menyentuh kulit Lydia. Hangat. Lembut. Menyebabkan kecanduan.Sialan!Dia bukan tipe pria yang terobsesi pada wanita. Tapi Lydia... wanita itu berbeda. Namun, mengapa harus istri Marcell?“Sepertinya aku mulai gila!” geram Damian pada dirinya sendiri.Tadi di pagi harinya usai ikut sarapan bersama Lydia, dia langsung pamit pulang. Dia tak sanggup berlama-lama lagi dengan Lydia, dia khawatir perasaan aneh ini berkembang semakin besar.Damian merasa bahwa
Hujan masih turun rintik-rintik ketika Damian dan Lydia berbaring di atas kasur dengan napas terengah usai pertempuran panas selama dua ronde.Angin dingin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan sisa hujan yang menenangkan.Lydia terbaring di samping Damian, tubuhnya dibalut selimut. Dia menatap wajah pria itu dalam keheningan. Rambut Damian berantakan, matanya setengah terpejam, tapi tatapan mata birunya masih terfokus pada Lydia seakan ingin menghafal setiap detail wajahnya.Jemari Damian terangkat, menyentuh wajah Lydia dengan lembut. Ibu jarinya mengusap pipi wanita itu, turun ke sepanjang rahang, lalu berhenti di dagunya."You’re so pretty, Lydia," suara Damian terdengar rendah dan penuh kelembutan. "Saya masih nggak nyangka wanita sempurna sepertimu diselingkuhi."Lydia hanya diam. Tapi, dia merasa dadanya kembali berdebar hebat usai mendengar kalimat Damian yang seperti pujian baginya. Atau, itu memang benar pujian yang tulus?Astaga, rasanya pipi Lydia memanas. Dia sala
Damian mencium Lydia dengan tenang, tak terburu-buru, seakan menikmati setiap detik yang ada.Satu tangan Damian berada di pipi Lydia, sedangkan tangannya yang lain melingkar di pinggang wanita itu, menariknya lebih dekat.Lydia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam cumbuan Damian yang memabukkan. Ditambah suasana yang sungguh mendukung dengan suara rintik hujan.Lydia mengerang saat Damian memperdalam ciuman. Napas Damian yang bercampur dengan wangi khas tubuh pria itu tercium, rasa bibir Damian yang bergerak semakin intens membuat Lydia berdebar hebat.Damian menjeda ciuman, menjauhkan bibirnya dari bibir Lydia, menarik diri sejenak. Dia menatap Lydia yang masih terpejam dengan napas memburu."Lydia," bisiknya pelan, suaranya terdengar serak.Lydia membuka matanya perlahan, tatapan mereka bertemu dalam keheningan hujan.“Aku … nggak bisa berhenti,” ujar Damian.Lydia belum sempat menyahut, dan Damian sudah lebih dulu menciumnya. Lebih dalam, dan lebih dalam lagi.Lydia
“Kenapa kamu bertanya begitu? Kamu mencurigaiku?” tebak Marcell tepat sasaran.Lydia nyaris panik, tapi untungnya dia bisa mengontrol ekspresinya dengan cepat.“Bukan begitu, Marcell. Aku hanya nggak mau kamu terlibat dan aku juga turut terseret, aku ingin kehidupanku tetap tenang.”Marcell membuang pandangan, dia menegak winenya cukup banyak.“Kamu tenang aja, aku nggak akan mengusik kehidupanmu di tempat kerja.”Setelah mengatakan itu, Marcell beranjak pergi dari sisi Lydia.Lydia diam, mengamati kepergian Marcell dengan rasa penasaran. Baginya, Marcell seperti menggantung jawaban, tak memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan inti tadi. Kalau begini, dia malah curiga.“Nanti aku harus ceritakan ini ke Damian.”Lydia bergegas masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu agar tak ada yang masuk. Dia menelepon Damian, berniat memberi tahu tentang obrolannya dengan Marcell. Tapi, Damian tak mengangkat panggilannya.Lydia mencoba lagi, dan masih belum diangkat. Mungkin Damian sibuk?Ak
“Kamu bilang apa barusan? Saya nggak dengar jelas,” ujar mama Marcell.Lydia melirik Marcell yang sedang menatapnya tajam seolah mengode padanya untuk diam. Lydia hanya balas tersenyum tipis.“Bukan apa-apa, Ma. Hanya membicarakan makanannya enak,” dusta Lydia.Mama Marcell masih penasaran, karena sepertinya tadi Lydia bukan membicarakan soal itu. Tapi ya sudahlah, kembali ke topik utama.“Cukup pembahasan soal anak, Ma. Biar nanti aku dan Lydia memeriksakan kesehatan reproduksi kami ke rumah sakit,” ujar Marcell. Dia khawatir Lydia membocorkan soal Adel, jadi dia harus membela Lydia di sini kan?“Oke, mama tunggu kabar baiknya,” ujar mama Marcell.“Apa itu hal penting yang mau kalian bicarakan denganku?” tanya Marcell.“Bukan, nanti kita bicara berdua,” kata Papa Marcell.Lydia melirik sang papa mertua dengan sorot penasaran, apa hal pentingnya sampai mereka hanya akan bicara berdua? Sepertinya dia tak boleh tahu.Setelah makan malam bersama, Lydia tertahan di sofa, diajak mengobrol
Usai mengenakan pakaiannya, meskipun dengan terburu-buru, tapi tak lama setelahnya Damian kembali seperti biasa. Tetap berwajah datar dan tak ada raut panik sama sekali.Dia mendekati Lydia, menyentuh pundak wanita itu.“Tetaplah tenang, Lydia,” ucap Damian karena Lydia terlihat panik sejak tadi, tak berhenti bergerak gelisah.Lydia menoleh, menatap Damian yang tampak santai. Padahal ini gawat!“Bagaimana bisa aku bisa tetap tenang di saat seperti ini? Ada Marcell di luar! Aku harus menyembunyikan kamu di mana? Nggak mungkin di bawah kasur, terlalu sempit.”Lydia menatap kasur kecil yang tak mungkin muat jika tubuh besar Damian bersembunyi di bawahnya. Tapi tak ada tempat lain lagi, lemari besar yang kosong pun tak ada di sini.“Aku nggak harus bersembunyi, kamu bisa bicara dengan Marcell tanpa harus membuka pintu kan?” ujar Damian.“Benar juga.”Lydia mulai lebih tenang.“Lydia! Bukan pintunya! Sedang apa sampai lama sekali?” tanya Marcell dari luar.Untunglah tadi Lydia sudah sempat