Reaksi Charlotte Shimon kali ini tidak dibuat-buat karena dia telah minum obat.Dia berbohong tadi, pil putih itu bukan obat pencegah kehamilan, tetapi obat perangsang.Sekarang dia sama sekali tidak ingin berhubungan intim dengan Lucas Hank. Tetapi Lucas Hank bersikeras, jadi dia hanya bisa minum obat ini.Kali ini dosisnya agak tinggi dan sekarang seluruh tubuhnya terbakar. Tangannya bergerak ke bawah dan menarik sabuk piyama di pinggangnya dengan gelisah.Namun, dia tidak bisa melepaskannya.Lucas Hank memandang gadis itu. Wajahnya memerah dan keningnya berkeringat, dia sangat menginginkannya.Lucas Hank tersenyum, "Pelan-pelan, mengapa terburu-buru?"Charlotte Shimon yang tidak bisa melepaskan sabuknya, hampir menangis. Dia mencium wajah tampannya berkali-kali dan berkata dengan lembut, "Lucas Hank, inginkan aku!"...Setelah beberapa saat, Lucas Hank membawa Charlotte Shimon keluar dari kamar mandi dan meletakkannya di tempat tidur besar yang empuk.Charlotte Shimon memejamkan mat
Lucas Hank memandang Walter, putranya yang sangat pintar. "Apakah kau benar-benar berencana pergi ke Hollinswood?"Walter mengangguk, "Ya."Lucas Hank berjalan ke jendela dan menatap sinar matahari di luar. Setelah beberapa saat, dia berkata, "Walter Hank, ada beberapa hal yang tidak akan aku beritahukan padamu, untuk melindungimu.""Ayah, aku sudah mengatakan bahwa kau dapat memilih untuk tidak memberitahuku, tetapi aku akan mencari tahu sendiri jadi kita tidak akan bertentangan."Lucas Hank mendengus, lalu memandang Walter sekilas. "Ibumu meninggalkanku tiga tahun lalu dan kabur dengan pria lain."Walter berkata, "Tidak heran, aku juga sudah muak dengan wajah Ayah yang muram tiga tahun terakhir ini.""Ibumu juga melahirkan seorang anak dengan pria itu. Mereka ada di Hollinswood. Kalian adalah saudara tiri."Walter mengerutkan alisnya ketika mendengar ini. Dia tidak pernah berpikir memiliki saudara tiri di dunia ini.Lucas Hank tidak berencana memberitahu Walter Hank tentang hal ini
Patricia kecil mengangkat kepalanya, Paman di hadapannya sangat tinggi, seperti pohon yang menjulang tinggi, dia harus mengangkat lehernya dengan sekuat tenaga untuk bisa melihat wajah Paman. Akhirnya, dia melihat wajah tampan Lucas Hank.Wow, Paman yang tampan.Patricia selalu berpikir bahwa Ibunya adalah orang paling cantik di dunia dan ternyata Paman ini juga sangat tampan.Patricia menabrak paha Lucas Hank.Lucas Hank berpisah dengan Walter. Begitu dia keluar, anak kecil ini menabraknya. Dia memandang Patricia kecil dan terlena untuk sesaat. Karena wajah Patricia kecil sangat mirip dengan Charlotte Shimon.Patricia kecil menyeka air mata, lalu berkata, "Paman, apakah kau melihat Kakakku?"Lucas Hank sadar kembali, dia pikir anak ini mungkin terpisah dari keluarganya. Dia melihat ke sekeliling, lalu menggelengkan kepala. "Aku tidak melihatnya."Begitu Patricia mendengar ini, dia langsung menangis dengan lebih kencang, dia berteriak, "Waa, waa ... Aku ingin Kakak, aku ingin Ibu ..."
Wallace kecil mengerutkan bibirnya dan tersenyum sinis. "Ini benar-benar suatu kehormatan bagiku.""Kakak," Patricia kecil berlari dan meraih Wallace kecil, dan menjelaskan, "Kakak, kau salah paham. Paman ini adalah orang baik, dia baru saja memakaikan sepatu dan membeli permen lolipop untukku."Baru pada saat itulah Wallace kecil mengetahui dia salah paham. Dia segera menyimpan pistol mainannya dan memasukkannya kembali ke saku dengan rapi dan cepat. Dia mendongak pada Lucas Hank. "Paman, ternyata salah paham, aku minta maaf."Lucas Hank melihat Wallace kecil seusia dengan Patricia Kecil, seharusnya mereka adalah anak kembar. Dia mengangguk, "Tidak apa-apa."Saat itu, Bibi Bloom bergegas. "Tuan Kecil, Nona Kecil, mengapa kalian berkeliaran di bandara? Ayo, pulang bersamaku. Aku takut kehilangan kalian tadi."Wallace kecil meraih tangan Patricia. "Adik, ayo kita pulang. Paman, selamat tinggal."Patricia kecil memandang Lucas Hank dengan enggan. "Selamat tinggal Paman."Bibi Bloom
Walter Kecil merasa puas dengan resume Lucas Hank, Paman ini terlihat cukup hebat.“Kakak, bagaimana? Apakah kau bisa menghubungi Paman yang tampan itu? Aku benar-benar ingin dia menjadi Ayahku,” kata Patricia Kecil."Adik, jangan khawatir, aku akan menghubungi Paman yang tampan itu sekarang. Jika ingin Paman tampan menjadi Ayah kita, pertama-tama kita harus mengatur Paman untuk kencan buta dengan Ibu kita."“Kencan buta?” Patricia kecil tidak mengerti arti dari dua kata ini.Walter kecil menjelaskan. "Kencan buta adalah membiarkan Paman Tampan ini bertemu dengan Ibu kita, kemudian membiarkan Paman Tampan itu menyukai Ibu kita."“Paman Tampan itu pasti akan menyukai Ibu kita. Ibu sangat cantik dan menyenangkan. Aku paling suka Ibu.” Patricia kecil berkata dengan bangga.Wallace mengangguk. "Tentu saja, jika Paman tampan ini memiliki selera yang bagus dan menyukai Ibu, maka dia benar-benar beruntung karena beli satu gratis dua!"Wallace berhasil melacak alamat IP Lucas Hank. Angka-ang
Lucas Hank tidak merasa heran. Walter Hank mengaktifkan sistem antipelacakan, peretas di sana seharusnya langsung menyadarinya.Lucas Hank tidak berbicara, Walter Hank melanjutkan, "Kalian tidak perlu mengkhawatirkan anak ini, serahkan saja padaku."Setelah berbicara, Walter Hank menutup telepon.Mendengarkan nada sibuk, Lucas Hank, "..."Dua orang di dunia ini yang berani memutuskan telponnya hanya Walter Hank dan ibunya!Selain itu, seorang anak kecil yang muncul di bandara hari ini memintanya untuk mengangkat tangan!Lucas Hank menyipitkan matanya dan wajah Patricia muncul di kepalanya. Anak itu adalah versi miniatur Charlotte Shimon. Siapakah sebenarnya kedua anak itu?Lucas Hank sudah dapat menebaknya.Saat ini, Eric berjalan dengan tergesa-gesa dan melaporkan dengan serius. "Tuan Muda, ada kabar terbaru."Lucas Hank, "Katakan.""Putri dari Negara Lantana akan datang ke Hollinswood untuk membahas urusan pernikahan dengan Ryan Hill, Raja Nedderton dari Hollinswood."Dalam beberapa
Patricia kecil memandang Wallace dengan penasaran. "Kakak, siapa yang menelponmu?"Wallace, "Kakakku!""..." Patricia kecil sama sekali tidak mengerti. "Kakak, bagaimana kabar Paman Tampan itu, apakah dia sudah berjanji untuk menjadi Ayah kita?"Wallace mengusap kepala Patricia. "Jangan khawatir, aku akan mengurus masalah ini."Patricia merasa lega, tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi kakaknya.Wallace untuk sementara membawa Bibi Bloom dan Patricia melarikan diri, dia berpikir bahwa dia harus pergi menemui kakaknya!“Tuan Kecil, Nona Kecil, aku menerima kabar bahwa Tuan Putri telah tiba di Hollinswood. Apakah kita sebaiknya menemui Tuan Putri?” Bibi Bloom bertanya.Wallace melambaikan tangannya. "Jangan dulu, masih ada urusan penting yang aku selesaikan.""Tapi..."“Bibi Bloom, bagaimana pesan Paman Steve Turner ketika dia pergi? Kau harus mendengarkan semua perkataanku,” Wallace mengingatkan....Keesokan harinya, Putri Negara Lantana tiba di Hollinswood dan seluruh pendud
Setiap orang di istana menyimpan niat jahat.Sekarang sepasang putra dan putri selir kesayangan Herman Hill ada di sini, Ryan Hill dan Michele Hill. Michele Hill, sebagai putri tercantik di Hollinswood, tentu saja akan dibandingkan dengan Charlotte Shimon.Semua wanita ingin menjadi yang tercantik. Michele Hill menatap sosok di kendaraan hias, menantikan untuk bersaing dengannya.Ryan Hill juga sangat tampan, tetapi penampilannya agak dingin. Mungkin karena menyukai wanita cantik, matanya memandang dengan liar. Melihat tangan Charlotte Shimon yang mulus terjulur, dia tersenyum sinis. Putri dari Negara Lantana ini suatu hari akan menjadi miliknya!Ryan Hill mengulurkan telapak tangannya untuk meraih tangan Charlotte Shimon, lalu menuntunnya berjalan keluar dari kendaraan hias.Para penonton tertegun ketika melihat Charlotte Shimon.Charlotte Shimon mengenakan gaun putih dengan pita di bagian leher, memperlihatkan lehernya yang jenjang, dan rambut hitamnya dikepang sehingga wajahnya yang
Bella melihatnya tidak bicara dan mendadak merasa sedikit tidak yakin. Pertama dia tidak tahu apakah Hugh percaya atau tidak, kedua dia tidak tahu apakah Hugh bersedia bertanggung jawab. Bella mengenakan pakaiannya dengan cepat dan mengejar lelaki itu.“Kak Hugh, sekarang aku milikmu, kamu tahu sendiri perasaanku padamu. Aku menyukaimu dan hanya ingin menikah denganmu saja. Sekarang kesucianku sudah kuberikan padamu, kalau kamu nggak mau tanggung jawab, aku akan … aku akan bunuh diri!”Bella terisak hebat sedangkan Hugh hanya diam tidak berbicara.“Kak Hugh, kalau gitu akan mau mati saja,” kata Bella sambil berbalik untuk membanting dirinya ke tembok.Tiba-tiba Hugh mengulurkan tangannya dan menarik perempuan itu sambil berkata, “Bella, kamu ngapain? Aku nggak bilang nggak mau tanggung jawab!”Bella terlonjak dalam hati. Maksudnya lelaki itu mau bertanggung jawab pada dirinya?“Kak Hugh, aku tahu Kakak ada perasaan padaku,” ujar Bella dan langsung memeluk pinggang lelaki itu. Wajahnya
Sakit sekali. Kedua mata Bella berair karena rasa sakit yang luar biasa menyiksanya. Bella mendongak dan menatap lelaki yang ada di atas kasur dengan memelas dan merengek, “Bos.”Hugh berbalik dan kembali memunggungi perempuan itu. Detik itu juga Bella curiga jangan-jangan Hugh sengaja melakukan hal ini. Lelaki itu sengaja mempermainkannya dan menendangnya hingga jatuh. Sebagai seorang perempuan, ditendang hingga jatuh dari kasur merupakan sesuatu yang begitu memalukan.Bella merangkak naik lagi ke sisi Hugh dan melihat lelaki itu yang kedua matanya masih terpejam. Napasnya tampak teratur dan terlihat memang tertidur karena mabuk.“Bos, Bos,” panggil Bella beberapa kali.Hugh tidak ada reaksi dan tetap tidur. Bella merasa sedikit aneh, jangan-jangan dia yang terlalu banyak berpikir yang aneh-aneh? Lelaki ini pasti sudah mabuk karena sudah menghabiskan begitu banyak alkohol. Dia mendorong pintu kamar mandi dan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.Setelah itu dia mengenakan bathrobe p
“Bos, kenapa minum sendirian? Sini, biar aku temani.”Bella menuangkan satu gelas alkohol untuk dirinya sendiri dan menghabiskannya dalam sekali tegukan. Hugh tidak melihat perempuan itu, tetapi dia tidak menjauhkannya juga. Setelah Bella menghabiskan satu gelas alkohol, Hugh juga ikut menghabiskan satu gelas lagi.Bella melihat ada harapan karena dulu Hugh pasti akan mengabaikannya. Ternyata kepergian Brenda membuatnya memiliki tempat di sisi lelaki itu. Semua usahanya akhirnya terbayarkan.“Bos, Bos terlihat nggak senang karena Brenda? Dia benar-benar nggak tahu bersyukur, mungkin karena terlalu sering dimanja. Brenda nggak bisa jadi istri yang baik, tapi juga nggak bisa jadi ibu yang baik. Dia nggak bisa menyayangimu. Hidup dengan perempuan itu pasti sangat melelahkan. Bos, lupakan saja dia.”Bella menuangkan satu gelas alkohol lagi untuk Hugh. Lelaki itu hanya diam saja dan menerima alkohol dari Bella serta menghabiskannya. Perempuan itu lanjut menuangkan alkohol pada Hugh dan deng
Mendengar Brenda memanggilnya dengan sebutan “Suami” membuat Hugh langsung melayangkan kecupan dalam di bibir perempuan itu.***Bella terlihat sangat panik karena dia selalu menunggu saat-saat di mana Hugh dan Brenda akan cerai. Dengan begitu dia akan mudah untuk kembali dengan Hugh. Teman baiknya yang bernama Jenny berlari ke arahnya. Jenny merupakan orang yang menggantikan vitamin kalsium menjadi obat penggugur janin dan memberikannya pada Brenda. Dengan bahagia dia berkata, “Bella, aku kasih tahu sebuah kabar baik!”“Kabar baik apa?”“Bos sama Brenda sedang ribut. Brenda sampai pindah keluar.”“Benarkah?” tanya Bella dengan kedua mata berbinar.“Tentu saja beneran! Kamu boleh lihat sendiri, ada banyak orang yang lagi tahan dia. Aku juga baru dari sana dan langsung kasih tahu kamu kabar baik ini.”“Kalau gitu buruan kita ke sana!”Bella bergegas berlari ke tempat Hugh dan ternyata di sana sudah ada banyak orang. Kedua suami istri itu sudah saling melempar seruan dengan wajah memerah
Kenapa bahas tentang ini lagi? Hugh khawatir Brenda akan marah dan ngambek lagi. Dengan cepat dia memeluk Brenda dan dengan memelas berkata, “Sudahlah Brenda, kamu maafkan aku saja. Aku juga nggak ingin bunga-bunga jelek itu.”Brenda memeluk pinggul lelaki itu dan bertanya, “Lalu apa rencana kamu untuk memberikan Bella pelajaran?”Hugh berpikir sesaat kemudian membisikkan idenya pada Brenda dan disambut dengan anggukan kepala oleh perempuan itu. Dia merasa ide lelaki itu sangat cemerlang.“Kalau gitu kita jalankan! Nggak perlu takut Bella tunjuk wujud aslinya.”“Iya.”“Kamu buruan bangun, Joan sudah mau pulang.”Hugh mengusap wajah cantik perempuan itu dan mengecupnya sambil berkata, “Masih ada sedikit waktu, aku masih mau sama kamu.”Brenda merasa hatinya dipenuhi dengan bunga-bunga. Kedua tangannya melingkari leher lelaki itu dan membalas kecupannya. Sesaat kemudian Brenda merasakan tangan lelaki itu sudah sampai di kancing bajunya. Dengan cepat dia menghentikan Hugh dan berbisik, “N
Ciuman tersebut membuat keduanya tidak rela untuk menyudahinya. Saat ciumannya terhenti, Hugh masih memeluk tubuh perempuan itu dengan erat.“Brenda, aku nggak berani melepaskan peganganku karena semuanya terlalu indah. Seperti aku sedang bermimpi! Aku takut begitu aku melepaskanmu, aku akan tersadar dari mimpi ini.”Brenda menggigit sudut bibir lelaki itu pelan dan membuat Hugh merintih dan membuka matanya. Bola mata jernih Brenda menatap lelaki itu dengan dalam dan penuh arti sambil bertanya, “Sekarang kamu masih merasa sedang bermimpi?”“Nggak, semua ini nyata! Kamu ada di depanku!” kata Hugh sambil tersenyum lebar.Brenda menenggelamkan dirinya dalam lelaki itu lagi dan membuka hatinya dengan semakin lebar. Hugh mengelus rambut Brenda dan berkata, "Brenda, kita berempat harus bersama dan hidup bahagia. Kamu nggak boleh apa-apain lagi anak di perutmu ini ya?” Tangan Hugh berada di perut rata Brenda.“Kapan aku pernah apa-apain anak di perutku ini? Meski aku dulu benci denganmu, aku
Brenda ingin mendorongnya menjauh tetapi lelaki itu tidak berpindah sama sekali. Mungkin karena dia memang sudah memakai hati dan jatuh cinta pada lelaki itu. Hugh membopong tubuh perempuan itu dan membawa ke mobil kemudian pulang ke rumah.***Brenda sedang baring di kasur untuk istirahat. Lengan Hugh melingkari tubuhnya dari belakang dan memeluknya dengan erat. Saat ini mereka berdua hanya diam dan tidak berbicara, tetapi hati kedua orang tersebut seakan sedang saling terhubung dan berdekatan.Perempuan itu masih memunggungi Hugh dan hanya dibatasi dengan selembar kain tipis. Meski begitu, Brenda masih bisa merasakan detakan jantung lelaki di belakangnya. Hugh mengecup rambut lembut perempuan itu dan berkata,“Brenda, aku tahu kalau aku sudah melakukan banyak kesalahan dulu. Oleh karena itu aku nggak berani berpikir kalau kamu akan jatuh cinta padaku suatu hari nanti. Harapan paling besar dari diri aku adalah kamu bisa selalu berada di sampingku dan menerima cintaku serta menjadi ist
Terlihat seseorang yang berbaring di aspal karena telah ditabrak oleh mobil. Di sekitarnya ada jejak darah yang tampak begitu banyak.Karena ada beberapa orang yang berdiri di depannya, Brenda masih belum bisa melihat wajah korban kecelakaan dengan jelas. Akan tetapi kedua kakinya sudah melemas dan pikirannya mendadak menjadi kosong. Apakah orang itu adalah Hugh? Tadi lelaki itu bilang mau mengambil barang dan sampai sekarang masih belum kembali.Kedua bola mata Brenda perlahan memerah dan tampak berkaca-kaca. Satu kedipan saja sudah berhasil membuat tetesan air matanya luruh membasahi pipi mulusnya. Brenda menangis karena merasa takut. Dia takut kalau orang itu ternyata adalah Hugh.“Permisi! Tolong kasih jalan!”Mobil ambulans telah datang dan para petugas akan mengangkat korban kecelakaan tersebut untuk dibawa ke rumah sakit. Brenda melihat wajah korban tersebut dengan jelas dan ternyata bukan Hugh.“Brenda!”Terdengar sebuah suara dari balik tubuhnya. Dengan cepat Brenda membalikka
Joan sudah pulang ke rumah dan mereka juga sudah makan malam bersama. Hingga tiba waktunya untuk tidur, Hugh ternyata ikut tidur di kasur dengan Brenda dan Joan. Dia kekeh ingin tidur di dalam kamar dan enggan keluar meski sudah diusir oleh Brenda.“Hugh, kamu minggir!” kata Brenda dan hendak mendorong lelaki itu.Akan tetapi tubuh besar Hugh tidak bergeser sedikit pun. Bahkan bergerak saja tidak! Lelaki itu justru mengulurkan tangannya dan memeluk Brenda sambil berkata, “Katanya perempuan itu suka ngomong yang sebaliknya. Di mulut memang ngomong nggak mau, tapi dalam hati justru mau. Aku tahu kamu ingin aku tidur denganmu.”Joan terkekeh bahagia dan berkata, “Benar! Kita itu memang suka ngomong yang kebalikannya. Lain kali Papi harus tidur bersama dengan kami.”Brenda hanya terdiam pasrah. Setelah dia menidurkan Joan, Brenda tidak ingin bergerak lagi. Karena sedari tadi sibuk berontak, sekarang dia merasa tidak ada sisa kekuatan lagi dan sedikit capek. Perempuan yang ada dalam pelukan