Home / Romansa / Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi! / Bab 7. Pertemuan Tak Terduga

Share

Bab 7. Pertemuan Tak Terduga

Author: Solana
last update Last Updated: 2025-03-29 21:42:58

Primrose terpaku menatap pria yang berdiri di hadapannya. Ia mengerjapkan mata, memastikan bahwa ia tidak salah lihat. 

“Matthias?” suaranya bergetar, nyaris tidak percaya. Sudah beberapa tahun sejak terakhir kali mereka bertemu.

Pria itu tersenyum lebar. “Hai.”

Primrose masih terkejut. “Kau… kenapa ada di sini? Bukankah seharusnya kau di luar negeri?”

Matthias melangkah mendekat, menyingkap sebagian wajahnya yang sempat tertutup bayangan. 

“Aku sudah pulang beberapa hari yang lalu.”

“Oh…” 

Hanya itu yang bisa Primrose ucapkan. 

Matthias mengamati Primrose dalam diam. Tatapannya menyapu wajah pucatnya, mata sayu yang dipenuhi kelelahan, serta tubuhnya yang gemetar menahan dingin. 

Itu membuat Primrose merasa sedikit tidak nyaman. Ia tahu betapa mengenaskan penampilannya sekarang.

“Kau baik-baik saja?” Matthias bertanya pelan.

Primrose menegang sesaat, lalu mengangguk kecil. “Aku tidak apa-apa.”

Matthias tampak tidak yakin. Tanpa banyak bicara, ia melepas jasnya dan menyodorkannya ke arah Primrose. 

Wanita itu sontak menggeleng cepat. “Tidak perlu, aku—”

“Jangan menolak,” potong Matthias dengan nada lembut namun tegas. “Aku tidak bisa membiarkanmu kedinginan seperti ini.”

Primrose membuka mulut untuk menolak lagi, tetapi napasnya yang memburu dan tubuhnya yang menggigil semakin parah membuatnya tak punya pilihan. 

Dengan enggan, ia menerima jas itu dan membungkus tubuhnya di dalam kehangatan kain tebalnya.

Matthias menghela napas. “Apa yang kau lakukan di sini, Primrose? Kau sakit?”

Primrose menundukkan kepala, menyembunyikan ekspresi di wajahnya. “Seharusnya aku yang bertanya,” katanya, berusaha mengalihkan. “Kenapa kau ada di sini?”

Matthias menatapnya sejenak sebelum menjawab. “Aku baru saja menemui seorang teman yang bekerja di rumah sakit ini.”

Lalu, seolah baru teringat sesuatu, pria itu tampak ragu. Ia menelan ludah sebelum akhirnya berkata dengan hati-hati, “Aku turut berduka… atas kepergian Daisy.”

Seketika itu juga, dunia Primrose terasa berhenti. Ia mengeratkan genggamannya pada jas Matthias. Hanya mendengar nama itu saja sudah cukup untuk mengguncang pertahanannya.

Namun, ia berusaha tersenyum. Senyum yang tidak benar-benar sampai ke matanya. 

“Terima kasih…,” katanya lemah, suaranya hampir tak terdengar.

Matthias hanya mengamati Primrose dengan saksama, tidak bertanya di mana Aiden, atau kenapa Primrose sendirian di sini.

“Kau ingin aku mengantarmu pulang?” tawarnya.

Primrose menegang.

Pulang? Apa dia ingin pulang ke tempat itu? Ke rumah yang hanya dipenuhi kesedihan, rumah di mana tidak ada seorang pun yang menginginkannya?

Melihat keraguan di mata Primrose, Matthias lalu menambahkan, “Atau kau ingin pergi ke suatu tempat?”

Primrose menolak halus. “Tidak. Aku—” 

Ucapannya terhenti saat bunyi memalukan dari perutnya terdengar nyaring.

Matthias tersenyum. “Ayo, kita cari sesuatu untuk dimakan,” katanya.

Primrose menggigit bibir bawahnya, benar-benar malu.

“Tunggu sebentar di sini. Aku akan mengambil mobilku,” kata Matthias sebelum meninggalkan Primrose.

Beberapa menit kemudian, Matthias turun dari mobil dengan payung di tangannya. Ia membukakan payung dan berjalan mendekati Primrose. 

Dengan sigap, ia memayungi Primrose, memastikan wanita itu tidak basah oleh rintik hujan.

“Masuklah,” katanya lembut sambil membimbing Primrose ke dalam mobil.

Perhatian kecil itu membuat dadanya terasa aneh—hangat, tapi juga asing. Tidak ada yang pernah memperlakukannya seperti ini sebelumnya.

Di dalam mobil, Primrose duduk di kursi penumpang. Matthias mulai menjalankan mobil, mengendarainya dengan tenang di bawah hujan.

Sepanjang perjalanan, Primrose sesekali melirik ke arahnya. Matthias tampak begitu fokus menyetir, sorot matanya serius, tapi tetap ada ketenangan dalam ekspresinya.

“Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan saja,” ucap Matthias tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. “Jangan hanya menatapku seperti itu.”

Primrose terkejut. Ia tidak sadar bahwa dirinya sudah terlalu lama memandang Matthias. 

“Aku tidak menatapmu,” elaknya pelan.

Matthias tertawa kecil, suaranya renyah. “Tentu saja tidak.”

Primrose melirik ke arahnya dengan ekspresi jengkel, tapi Matthias masih saja tertawa, seolah menikmati reaksinya. 

Pria ini sangat berbeda dari Aiden. Tidak dingin, tidak menusuk dengan kata-kata tajam. Bersama Matthias, Primrose tidak merasa tegang. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, ia merasa… lega.

Matthias menoleh sekilas. “Apa kau masih kedinginan?”

“Aku baik-baik saja.”

Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat sebelum akhirnya Primrose kembali membuka suara.

“Terima kasih.”

Matthias meliriknya. “Untuk apa?”

Primrose menggeleng pelan. Ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Matthias hadir di saat yang tepat, di saat ia tidak tahu harus bagaimana. Tapi ia tidak mengatakan itu.

Matthias tidak bertanya lebih lanjut. Seolah ia mengerti tanpa perlu mendengar banyak penjelasan.

**

Setelah selesai makan malam, Matthias akhirnya mengantar Primrose pulang. 

Perjalanan pulang terasa begitu singkat bagi Primrose. Entah karena pikirannya terlalu penuh atau karena kehadiran Matthias di sisinya yang membuat waktu berlalu lebih cepat.

Sesampainya di halaman rumah, Matthias mematikan mesin mobil, tapi Primrose tetap diam.

Matthias menoleh, menatapnya dengan tatapan geli. “Apa aku harus membukakan pintu untukmu?” tanyanya, nada suaranya penuh canda.

Primrose tersentak. Ia buru-buru menggeleng dan tergagap, “Ti-tidak perlu! Aku bisa sendiri.”

Matthias tertawa kecil, terlihat menikmati reaksinya.

Dengan cepat, Primrose melepas seatbelt dan mengalihkan pandangannya. Rasanya ia baru saja mempermalukan dirinya sendiri.

Primrose menghela napas dan memberanikan diri untuk menatap Matthias. 

“Terima kasih, Matthias. Dan... maaf sudah merepotkanmu malam-malam begini.”

Matthias mengangkat bahu, seolah itu bukan masalah besar. “Aku senang bisa membantu.”

Mereka lantas turun dari mobil. Hujan sudah lama berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang menyelimuti udara malam.

Matthias memasukkan tangannya ke dalam saku celana, menatap Primrose dengan sorot mata serius. 

“Kalau kau membutuhkan sesuatu, kau bisa datang kepadaku.”

Primrose menatapnya dengan mata yang sedikit melebar.

Kata-kata itu, sesederhana apapun, terasa begitu menusuk. Sudah lama sekali tidak ada yang mengatakan hal seperti itu padanya. 

Primrose menunduk, menggigit bibirnya sebelum akhirnya berkata pelan, “Terima kasih, Matthias. Aku sangat menghargainya.”

Ia tidak tahu apakah suatu hari nanti ia benar-benar akan datang pada Matthias, tapi setidaknya, ucapan pria itu memberinya sedikit kehangatan.

Tepat saat ia hendak melangkah masuk ke dalam rumah, suara deru mesin mobil yang familiar memenuhi telinganya.

Mobil hitam itu melaju perlahan memasuki pekarangan. Hatinya mencelos saat melihat siapa yang turun dari dalam mobil.

Aiden.

Pria itu berdiri di sana, tubuh tegapnya dibingkai oleh cahaya lampu depan mobilnya. Tatapannya tajam, dingin, penuh dengan sesuatu yang sulit diartikan. 

Tapi yang paling mencolok adalah caranya memandang Primrose. Lebih tepatnya, caranya menatap jas kebesaran yang melingkupi tubuhnya.

Aiden tidak mengatakan apapun.

Namun, hanya dengan tatapan itu saja, tubuh Primrose seketika gemetar. Ia merasa pijakan kakinya mulai goyah, seolah tenaganya baru saja terhisap dan ia tidak bisa berdiri dengan tenang.

“Kau juga di sini.” 

Suara tenang Matthias memecah keheningan yang memerangkap Aiden dan Primrose, membuat Aiden kini menoleh ke arahnya.

Lalu, dengan penuh ketenangan, Matthias maju selangkah sembari melemparkan sebuah senyum simpul pada Aiden. 

“Apa kabar, Sepupu?”[]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 8. Lebih Dalam dari Amarah

    Keheningan yang terjadi begitu pekat, menciptakan ketegangan di antara mereka.Ekspresi Aiden tampak keras, dengan rahang yang mengatup rapat. Sepasang mata tajamnya menatap Matthias seakan mampu menembus lapisan-lapisan dalam dirinya.Dulu, mereka adalah dua cucu yang bersaing di bawah bayang-bayang kakek mereka, Anthon Reeves.Sebagai cucu pertama, Aiden selalu merasa bahwa posisi pewaris sejati ada di tangannya. Namun, Matthias dengan mudah mendapatkan perhatian dan kasih sayang sang kakek. Sifatnya yang ramah, periang, dan bisa membawa diri dengan baik membuatnya lebih disukai.Itu selalu membuat Aiden kesal. Padahal menurutnya, ia jauh lebih kompeten dibanding Matthias.Dan ketika sang kakek men

    Last Updated : 2025-03-30
  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 9. Dokumen Rahasia

    Keesokan harinya, suara gaduh dari luar kamar membangunkan Primrose dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata, mencoba mengenali di mana dirinya berada.Ternyata ia ketiduran di kamar anaknya—satu-satunya ruang di rumah ini yang memberinya rasa aman.Dengan tubuh yang masih terasa lemah, Primrose bangkit dari kasur dan berjalan ke luar kamar.Namun, saat melihat apa yang terjadi di lorong rumah itu, matanya seketika membelalak.Dua pelayan sibuk memasukkan barang-barang yang dikenalinya ke dalam pastik dan kotak kardus besar. Itu adalah barang-barang dari ruang bermain Daisy.“Apa yang kalian lakukan?” Suara Primrose bergetar saat bertanya. Ia menatap ke arah kedua pelayan yang masih sibu

    Last Updated : 2025-03-31
  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 10. Sama-sama Tidak Berguna

    Aiden menatap ibunya lekat, matanya tampak menyipit penuh selidik.Amber, yang masih menggenggam map cokelat itu, mengerjap cepat. Namun, ia dengan segera menguasai diri, menampilkan senyum anggun yang sudah ia latih selama bertahun-tahun.“Bukan apa-apa, Sayang. Ibu hanya berbincang dengan teman.”Tatapan Aiden tidak berpindah. “Bukti apa yang tadi Ibu sebutkan?”“Ah, itu,” Amber tertawa kecil, pura-pura geli. “Gosip bodoh dari temanku. Dia mengaku punya bukti kalau suaminya berselingkuh. Tapi itu tidak penting, hanya dugaan tidak berdasar.”Aiden menimbang-nimbang jawaban itu, tapi akhirnya tidak mendesak lebih jauh. Jika memang hanya gosip tidak penting, t

    Last Updated : 2025-04-01
  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 11. Undangan untuk Primrose

    Setelah Amber pergi, Primrose baru saja ingin beranjak dari sana ketika suara tawa lembut terdengar hingga ke telinganya.Suara Celine.Primrose tak ingin tahu lebih jauh, tetapi kakinya seolah tercanang di lantai saat mendengar betapa akrabnya Amber dan Celine berbincang.“Wah, kau datang di saat yang tepat, Sayang,” Amber menyambut Celine dengan penuh kehangatan, sesuatu yang tak pernah Primrose dengar dari wanita itu.“Aku kangen mengobrol dengan Ibu,” sahut Celine terdengar ceria, seolah ia adalah menantu yang paling dicintai. “Aku tahu Ibu pasti lelah mengurus banyak hal sendirian, jadi aku datang untuk menemani.”“Oh, kau benar-benar anak yang baik. Tidak sep

    Last Updated : 2025-04-01
  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 1. Kehilangan Buah Hati

    Primrose duduk di ruang tamu seorang diri. Kesunyian yang melingkupi rumah besar itu terasa membekukan. Tidak ada lagi suara tawa atau celotehan ringan sang putri yang biasanya membuat rumah itu terasa hangat. Ditatapnya nanar bingkai foto mendiang Daisy yang cemberut saat pertama kali masuk TK.Kala itu, suaminya tak hadir, sehingga Primrose terpaksa berbohong dan mengatakan pada putrinya jika sang ayah harus menyelamatkan banyak nyawa di perusahaannya.“Mama, Papa tidak suka Daisy, ya?” tanya Daisy saat itu. Wajahnya tampak sedih, bahkan hampir menangis. Semua murid didampingi oleh ayah dan ibu mereka, kecuali Daisy. Sepasang matanya yang polos menatap seorang anak seumuran dirinya yang digendong dan tertawa bersama sang ayah.Hati Primrose mencelos mendengar pertanyaan itu. “Bukan begitu, Sayang. Papa hanya sedang sibuk. Daisy tahu kan, Papa bekerja keras untuk kita?” “Jadi kapan Papa tidak sibuk, Mama? Daisy mau main sama Papa.”Senyum getir terbit di wajah Primrose. “Sabar y

    Last Updated : 2025-03-10
  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 2. Dilukai Lebih Dalam

    Primrose tertegun. Jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar ucapan pria di hadapannya itu. Aiden menatap Primrose lekat. Semburat sedih yang sekilas mewarnai wajahnya sesaat lalu telah lenyap, menyisakan tatapan tajam dan ekspresi dingin yang membuat Primrose membeku.“Daisy bukan anakku.”“Apa maksudmu, Aiden?” Primrose akhirnya menemukan suaranya yang sempat hilang.“Kau tahu apa maksudku,” sahut Aiden dingin, seolah ia tidak baru saja melukainya dengan tega.Primrose tahu selama ini Aiden tidak pernah peduli pada Daisy, tapi ia tidak menyangka bahwa pria itu benar-benar tidak menganggap Daisy sebagai anaknya. Darah dagingnya.“Kau—”Ucapan Primrose terhenti karena ponsel Aiden berdering. Pria itu segera mengangkatnya.“Ya?” suara Aiden terdengar dingin dan jauh. “Aku akan segera datang,” lanjutnya.Primrose merasa seluruh tubuhnya kebas. Hatinya pedih mendengar suara Celine di ujung telepon itu. Celine—wanita yang Aiden prioritaskan di atas segalanya, termasuk anak mereka ya

    Last Updated : 2025-03-10
  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 3. Mari Kita Akhiri

    Primrose terdiam seribu bahasa. Semua kata-kata yang dilontarkan ibu mertuanya seolah mematahkan semangat hidupnya yang sudah nyaris hilang.“Cukup,” kata Primrose dengan suara pelan. “Kalau aku memang bukan siapa-siapa di mata Aiden dan keluarga ini, aku akan pergi. Aku tidak akan tinggal di sini untuk mendengar hinaan kalian lagi.”Amber tersenyum puas mendengarnya, seolah-olah semua usaha untuk menghancurkan semangat Primrose akhirnya membuahkan hasil. “Baiklah, kalau itu yang kau mau,” Amber berkata ringan, lalu melangkah ke arah pintu. “Pergilah. Kau bisa tinggal di tempat lain kalau kau merasa tidak dihargai di sini. Aiden juga tidak akan peduli. Dia sudah punya hidupnya sendiri.”Amber meninggalkan Primrose dalam keheningan. Suasana di rumah itu terasa begitu berat, seolah udara menjadi lebih pekat, lebih sulit untuk dihirup. Primrose hanya berdiri diam di sana, tak tahu harus berbuat apa. Kata-kata Amber berputar-putar di kepala, seperti siulan yang terus bergema, menambah d

    Last Updated : 2025-03-10
  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 4. Daisy, Mama Datang...

    Gerimis turun ketika Primrose berdiri di depan pusara kecil yang dingin dan sunyi. Ia meletakkan sebuket bunga daisy di dekat batu nisan berwarna putih itu. Nama Daisy Eleanor Reeves terukir di sana, diiringi tanggal lahir dan wafatnya yang terlalu singkat. Primrose berlutut, jemarinya yang kurus menelusuri ukiran itu seakan ingin menyentuh anaknya sekali lagi.Tapi Daisy tidak ada. Daisy sudah pergi. Dan dia tidak akan kembali.Air mata menggenang di pelupuk mata Primrose, mengaburkan penglihatannya.“Kenapa… kenapa kamu meninggalkan Mama secepat ini, Nak?” Suaranya bergetar, hampir tak terdengar di antara rintik hujan.Dada Primrose terasa kosong, seperti ada lubang menganga yang menelan semua yang tersisa dari dirinya.Ia merenggut tanah basah di depannya, menggenggamnya erat seolah memohon agar Daisy kembali.Tanpa Daisy, dunia terasa begitu gelap dan menakutkan.“Mama sudah berusaha, Sayang. Mama sudah mencoba bertahan... tapi sekarang Mama sendirian. Tidak ada yang peduli. Ti

    Last Updated : 2025-03-10

Latest chapter

  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 11. Undangan untuk Primrose

    Setelah Amber pergi, Primrose baru saja ingin beranjak dari sana ketika suara tawa lembut terdengar hingga ke telinganya.Suara Celine.Primrose tak ingin tahu lebih jauh, tetapi kakinya seolah tercanang di lantai saat mendengar betapa akrabnya Amber dan Celine berbincang.“Wah, kau datang di saat yang tepat, Sayang,” Amber menyambut Celine dengan penuh kehangatan, sesuatu yang tak pernah Primrose dengar dari wanita itu.“Aku kangen mengobrol dengan Ibu,” sahut Celine terdengar ceria, seolah ia adalah menantu yang paling dicintai. “Aku tahu Ibu pasti lelah mengurus banyak hal sendirian, jadi aku datang untuk menemani.”“Oh, kau benar-benar anak yang baik. Tidak sep

  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 10. Sama-sama Tidak Berguna

    Aiden menatap ibunya lekat, matanya tampak menyipit penuh selidik.Amber, yang masih menggenggam map cokelat itu, mengerjap cepat. Namun, ia dengan segera menguasai diri, menampilkan senyum anggun yang sudah ia latih selama bertahun-tahun.“Bukan apa-apa, Sayang. Ibu hanya berbincang dengan teman.”Tatapan Aiden tidak berpindah. “Bukti apa yang tadi Ibu sebutkan?”“Ah, itu,” Amber tertawa kecil, pura-pura geli. “Gosip bodoh dari temanku. Dia mengaku punya bukti kalau suaminya berselingkuh. Tapi itu tidak penting, hanya dugaan tidak berdasar.”Aiden menimbang-nimbang jawaban itu, tapi akhirnya tidak mendesak lebih jauh. Jika memang hanya gosip tidak penting, t

  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 9. Dokumen Rahasia

    Keesokan harinya, suara gaduh dari luar kamar membangunkan Primrose dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata, mencoba mengenali di mana dirinya berada.Ternyata ia ketiduran di kamar anaknya—satu-satunya ruang di rumah ini yang memberinya rasa aman.Dengan tubuh yang masih terasa lemah, Primrose bangkit dari kasur dan berjalan ke luar kamar.Namun, saat melihat apa yang terjadi di lorong rumah itu, matanya seketika membelalak.Dua pelayan sibuk memasukkan barang-barang yang dikenalinya ke dalam pastik dan kotak kardus besar. Itu adalah barang-barang dari ruang bermain Daisy.“Apa yang kalian lakukan?” Suara Primrose bergetar saat bertanya. Ia menatap ke arah kedua pelayan yang masih sibu

  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 8. Lebih Dalam dari Amarah

    Keheningan yang terjadi begitu pekat, menciptakan ketegangan di antara mereka.Ekspresi Aiden tampak keras, dengan rahang yang mengatup rapat. Sepasang mata tajamnya menatap Matthias seakan mampu menembus lapisan-lapisan dalam dirinya.Dulu, mereka adalah dua cucu yang bersaing di bawah bayang-bayang kakek mereka, Anthon Reeves.Sebagai cucu pertama, Aiden selalu merasa bahwa posisi pewaris sejati ada di tangannya. Namun, Matthias dengan mudah mendapatkan perhatian dan kasih sayang sang kakek. Sifatnya yang ramah, periang, dan bisa membawa diri dengan baik membuatnya lebih disukai.Itu selalu membuat Aiden kesal. Padahal menurutnya, ia jauh lebih kompeten dibanding Matthias.Dan ketika sang kakek men

  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 7. Pertemuan Tak Terduga

    Primrose terpaku menatap pria yang berdiri di hadapannya. Ia mengerjapkan mata, memastikan bahwa ia tidak salah lihat. “Matthias?” suaranya bergetar, nyaris tidak percaya. Sudah beberapa tahun sejak terakhir kali mereka bertemu.Pria itu tersenyum lebar. “Hai.”Primrose masih terkejut. “Kau… kenapa ada di sini? Bukankah seharusnya kau di luar negeri?”Matthias melangkah mendekat, menyingkap sebagian wajahnya yang sempat tertutup bayangan. “Aku sudah pulang beberapa hari yang lalu.”“Oh…” Hanya itu yang bisa Primrose ucapkan. Matthias mengamati Primrose dalam diam. Tatapannya menyapu wajah pucatnya, mata sayu yang dipenuhi kelelahan, serta tubuhnya yang gemetar menahan dingin. Itu membuat Primrose merasa sedikit tidak nyaman. Ia tahu betapa mengenaskan penampilannya sekarang.“Kau baik-baik saja?” Matthias bertanya pelan.Primrose menegang sesaat, lalu mengangguk kecil. “Aku tidak apa-apa.”Matthias tampak tidak yakin. Tanpa banyak bicara, ia melepas jasnya dan menyodorkannya ke a

  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 6. Seperti Sampah yang Dibuang

    Hari-hari berlalu, dan Primrose masih terjebak di tempat yang sama. Aiden tidak pernah datang lagi setelah malam itu. Seolah ia menghilang ditelan bumi. Tapi Primrose tak lagi peduli. Ia sudah terlalu lelah untuk berharap.Matanya menatap kosong ke luar jendela, melihat langit yang mulai menggelap. Senja menjatuhkan cahaya keemasan ke dalam kamarnya, tetapi itu tidak membawa kehangatan sedikit pun. Dalam hening, Primrose hanya bisa bertanya-tanya, apa lagi yang tersisa untuknya? Untuk apa ia berada di sini?Pintu kamar tiba-tiba terbuka, membuyarkan lamunannya. Primrose menoleh, dan sejenak jantungnya berdebar. Apakah Aiden akhirnya datang? Namun, harapannya segera pupus saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu. Amber Reeves.Tatapan wanita itu dingin dan penuh ketidaksabaran saat melangkah masuk. “Jadi, kau masih di sini juga,” katanya, suara sinisnya memenuhi ruangan.Primrose tidak menjawab. Ia terlalu lelah untuk bertengkar, tetapi Amber tidak membutuhkan jawaban untu

  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 5. Seharusnya Sudah Berakhir

    Cahaya lampu putih yang dingin menerangi koridor rumah sakit, menciptakan bayangan samar di lantai. Di kursi tunggu, Aiden duduk dengan punggung menegang, tangannya saling bertaut di atas lutut.Tatapannya terpaku pada dinding putih di hadapannya, tapi pikirannya berkelana entah ke mana.Primrose sudah melewati masa kritis. Itu yang dikatakan dokter beberapa saat lalu. Mereka berhasil menyelamatkannya, tapi sampai sekarang, wanita itu belum juga sadar.Aiden menghela napas, mengangkat tangan dan mengusap wajahnya kasar. Bodoh. Benar-benar bodoh!Kenapa wanita itu melakukan hal seperti ini?Saat ia menemukan Primrose beberapa jam yang lalu, tubuhnya sudah lunglai di sofa, napasnya lemah, dan wajahnya pucat pasi. Jika ia terlambat beberapa menit saja, Primrose pasti sudah mati.Pikiran itu membuat dadanya seolah terhimpit oleh sesuatu yang berat. Tapi Aiden buru-buru mengusirnya. ‘Apa peduliku?’ Wanita itu bukan siapa-siapa baginya. Ia menegaskan hal itu berkali-kali dalam pikiranny

  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 4. Daisy, Mama Datang...

    Gerimis turun ketika Primrose berdiri di depan pusara kecil yang dingin dan sunyi. Ia meletakkan sebuket bunga daisy di dekat batu nisan berwarna putih itu. Nama Daisy Eleanor Reeves terukir di sana, diiringi tanggal lahir dan wafatnya yang terlalu singkat. Primrose berlutut, jemarinya yang kurus menelusuri ukiran itu seakan ingin menyentuh anaknya sekali lagi.Tapi Daisy tidak ada. Daisy sudah pergi. Dan dia tidak akan kembali.Air mata menggenang di pelupuk mata Primrose, mengaburkan penglihatannya.“Kenapa… kenapa kamu meninggalkan Mama secepat ini, Nak?” Suaranya bergetar, hampir tak terdengar di antara rintik hujan.Dada Primrose terasa kosong, seperti ada lubang menganga yang menelan semua yang tersisa dari dirinya.Ia merenggut tanah basah di depannya, menggenggamnya erat seolah memohon agar Daisy kembali.Tanpa Daisy, dunia terasa begitu gelap dan menakutkan.“Mama sudah berusaha, Sayang. Mama sudah mencoba bertahan... tapi sekarang Mama sendirian. Tidak ada yang peduli. Ti

  • Tuan Pewaris, Jangan Kejar Aku Lagi!   Bab 3. Mari Kita Akhiri

    Primrose terdiam seribu bahasa. Semua kata-kata yang dilontarkan ibu mertuanya seolah mematahkan semangat hidupnya yang sudah nyaris hilang.“Cukup,” kata Primrose dengan suara pelan. “Kalau aku memang bukan siapa-siapa di mata Aiden dan keluarga ini, aku akan pergi. Aku tidak akan tinggal di sini untuk mendengar hinaan kalian lagi.”Amber tersenyum puas mendengarnya, seolah-olah semua usaha untuk menghancurkan semangat Primrose akhirnya membuahkan hasil. “Baiklah, kalau itu yang kau mau,” Amber berkata ringan, lalu melangkah ke arah pintu. “Pergilah. Kau bisa tinggal di tempat lain kalau kau merasa tidak dihargai di sini. Aiden juga tidak akan peduli. Dia sudah punya hidupnya sendiri.”Amber meninggalkan Primrose dalam keheningan. Suasana di rumah itu terasa begitu berat, seolah udara menjadi lebih pekat, lebih sulit untuk dihirup. Primrose hanya berdiri diam di sana, tak tahu harus berbuat apa. Kata-kata Amber berputar-putar di kepala, seperti siulan yang terus bergema, menambah d

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status