Pria bernama Dean itu pun duduk bersama dengan Nara dan Jaden. Wajah Jaden di sana sudah menunjukan jika dirinya sangat tidak nyaman melihat ada Dean."Nara, dia siapa?" tanya Dean yang melihat Jaden dengan tatapan bersahabat meskipun Jaden melihatnya dingin."Em ... Kak Dean, ini Tuan Jaden Luther dan aku bekerja menjadi pelayan di rumahnya saat ini," jelas Nara dengan ragu-ragu."Apa?" Ekspresi wajah Dean pun seketika menunjukan keterkejutannya. "Kak, apa Kakak masih suka makan ice cream mochi? Aku akan traktir, ya!" seru Nara seketika.Jaden melihat terkejut pada Nara yang tiba-tiba malah menawarkan mentraktir ice cream, padahal di sini Jaden sedang mentraktirnya."Nara, di sini aku tidak menjual ice cream mochi." Pria bernama Dean itu pun seketika terkekeh kecil."Hah? Maksud Kak Dean? Kakak di sini tidak menjual ice cream mochi?" Nara heran pada kalimat itu.""Ini cafe milikku, Nara, aku baru saja membeli cafe ini dari seseorang yang ingin menutupnya karena dulunya cafe ini meng
Nara sudah duduk tepat di depan Dean. Mereka berdua sedang berada di sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari kediaman Jaden Luther dan Nara di sana sedang menceritakan semuanya, kenapa dirinya bisa menjadi pelayan pria lumpuh bernama Jaden Luther itu."Nara, ini semua salahku, kenapa aku malah menghilang meratapi semua yang sedang terjadi pada keluargaku, sedangkan kamu dan keponakanku sedang dalam keadaan yang sedang membutuhkan aku," ucap Dean dengan tertunduk sedih."Kak, Kak Dean jangan menyalahkan diri sendiri karena semua ini sudah takdir yang harus aku jalani. Mas Abi juga menginginkan aku dan putra menyembunyikan identitas kita karena dia tidak mau aku dan Nio disakiti oleh orang yang dulu mengincarnya," terang Nara merasa sedih teringat tentang pesan terakhir mendiang suaminya."Jadi, sekarang Nio ada di London dengan ibumu? Dia sedang menjalani perawatan karena penyakit kankernya? Kasihan sekali keponakanku itu. Nara, aku akan menemui dia di sana. Aku kangen ingin meli
"Tidakkk!" "Nara, kamu mimpi buruk lagi?" tanya wanita paruh baya yang ada di samping Nara. Wajah pucat dan peluh yang membasahi dahi wanita bernama Nara itu tampak sangat jelas, bahkan napas naik turun juga terlihat pada dadanya. "Iya, Bu. Aku bermimpi lagi tentang pria itu," ucapnya dengan bibir bergetar. Seketika wanita yang dipanggil ibu oleh Nara memberikan segelas air minum dan dengan cepat Nara menghabiskannya. "Kamu sebaiknya tenang dulu. Coba tarik napas dalam dan embuskan perlahan." Nara pun mengikuti apa yang ibunya sarankan, dan tentu saja hal itu berhasil membuat Nara sedikit tenang. "Bu, aku minta tolong agar Ibu menjaga Nio di sini selama aku menjalankan rencanaku nanti. Apa Ibu bisa membantuku?"Tangan yang tampak keriputan itu mengusap lembut pucuk kepala putrinya. "Kamu tenang saja, ibu akan menjaga Nio dengan baik di sini, kamu lakukan saja rencanamu itu, Nara." "Terima kasih, Bu, karena selama ini selalu mendukung apa yang aku lakukan, dan maaf jika selama
Nenek Miranti membawa Nara ke kamar Jaden, dan saat pintu dibuka, Nara melihat seorang pria dengan kursi rodanya duduk membelakanginya, dia sedang melihat ke arah luar jendela kamarnya."Jaden, nenek ingin bicara denganmu.""Nek, aku sudah katakan jika aku tidak membutuhkan seorang pelayan untuk merawatku! Kenapa Nenek menganggap aku pria lumpuh yang tidak bisa apa-apa?" Pria bernama Jaden itu bicara tanpa melihat pada lawan bicaranya."Jaden, nenek mencarikan kamu seorang pelayan bukan karena nenek menganggap kamu tidak bisa apa-apa, tapi agar kamu ada yang memperhatikan lebih baik di sini.""Tidak perlu ada yang memperhatikanku, Nek, aku bisa mengurus hidupku sendiri." "Bagaimana kamu bisa mengurus dirimu sendiri? Kamu sendiri saja duduk di kursi roda," ucap Nara tegas.Nenek Miranti yang mendengar hal itu seketika menoleh pada Nara yang berdiri tepat di sampingnya. Wajah Nara menunjukkan aura dinginnya."Siapa kamu berani mengatakan hal itu padaku?" Jaden seketika memutar kursi ro
Nara sudah berada di depan pintu kamar lelaki yang tadi mengusirnya dengan kasar. Dia sekali lagi menarik napasnya dalam sebelum akhirnya tangannya mengetuk pintu itu. Satu ketukan, Nara tidak mendapat jawaban. Nara kembali mengetuk pintu kamar itu hingga tiga kali ketukan. "Aku tidak mau diganggu!" seru suara Jaden terdengar begitu jelas di telinga Nara. "Tuan Muda Jaden, waktunya makan siang dan minum obatmu," Nara akhirnya memberanikan diri mengatakan sesuatu. "Sudah aku bilang, aku tidak mau diganggu. Kamu pergi dari sini!" bentaknya marah. Nenek dan Reno yang melihat hal itu tampak cemas. "Ren, Jaden kenapa hari ini terlihat begitu marah?" "Sebenarnya tadi Tuan Jaden melihat berita di sosial media jika Nona Kalista akan pergi ke Barcelona untuk pemotretan dan di sana Nona Kalista juga mengatakan akan sekalian liburan. Barcelona, kan, tempat yang sangat ingin didatangi oleh Nona Kalista jika nanti menikah dengan Tuan Jaden. Jadi, Tuan Jaden mungkin merasa kecewa karena dia
Nara menemui Nenek dan Reno yang ada di luar kamar Jaden. Nenek dapat melihat wajah Nara yang sepertinya baru saja menangis.Iya! Nara tadi sempat menitikkan air mata karena perlakuan Jaden di dalam kamar tadi."Nara, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Nenek Miranti dengan wajah khawatirnya. "Nek, aku tidak apa-apa.""Nona Nara, tadi aku sempat mendengar suara piring pecah. Apa Tuan Jaden sudah menyakitimu?" Gantian Reno yang wajahnya cemas. "Tuan Muda Jaden tadi melempar piring makanannya saat aku menyuapinya.""Sudah aku duga, dia memang sering sekali seperti itu saat para pelayan yang aku tunjuk untuk merawatnya sedang membawakan dia makanan."Reno melihat warna merah pada kulit pipi Nara dan Reno tahu jika selain melempar piring makannya, bosnya itu juga menyakiti Nara."Apa Tuan Jaden juga menyakiti Nona Nara?" Telunjuk Reno menunjuk pada wajah Nara."Ya Tuhan! Cucuku benar-benar keterlaluan! Nara aku minta maaf karena cucuku sudah kasar sama kamu.""Nenek tidak perlu khawatir. O
Hari itu juga Nenek Miranti menyiapkan banyak sekali keperluan untuk dibawa ke rumah kenangan.Nara malam ini juga tidur di rumah Jaden, dia meninggalkan rumah lamanya dengan membawa beberapa barang yang dia butuhkan. Malam itu, Jaden yang terbangun dan ingin mengambil air minum, tapi dia melihat gelas airnya tidak ada isinya."Pelayan di sini benar-benar tidak bisa bekerja dengan benar. Sebaiknya aku berhentikan saja mereka semua," umpatnya kesal.Jaden mencoba bangkit dari tempat tidurnya dan meraih kursi rodanya, tapi yang ada dia malah terjatuh."Tuan Muda Jaden!" suara yang Jaden kenali tiba-tiba ada di dalam kamarnya.Nara mencoba membantu, tapi pria itu terkejut melihat Nara ada di dalam kamarnya. Jaden malah mendorong tubuh Nara hingga Nara terjatuh dengan duduk dan tangannya menabrak pada kursi roda Jaden."Aduh!" Nara memegang sikutnya yang ternyata berdarah terkena tepi kursi roda Jaden."Kenapa kamu ada di sini?""Saya memang tinggal di sini sekarang, Tuan JL." Nara tetap
Pagi itu Nara sudah bangun dan segera menyiapkan makan pagi untuk Jaden. Nenek yang berada di dalam dapur sedikit terkejut melihat ada Nara di sana. "Kamu sedang apa di sini, Nara?" "Pagi, Nek, aku sedang membuat makan pagi untuk tuan JL." Tangan Nara sembari mengaduk sesuatu di dalam panci berukuran sedang. "Tuan JL?" Nenek melihat bingung pada Nara. "Tuan JL itu ya cucu Nenek." "Kenapa kamu memanggil cucuku dengan sebutan Tuan JL?" "Tuan Jaden Luther dan aku singkat Tuan JL saja." "Hm! Kamu ini bisa-bisa mendapat masalah memanggil cucuku seperti itu. Dia itu orang yang tidak suka dikatai aneh-aneh." "Itu bukan aneh, Nek, tapi itu inisial nama saja. Dia kalau mau marah ya aku biarkan saja, kan memang dia suka sekali marah-marah." "Cucuku itu dulu memang orang yang tegas dan kaku, tapi dia selalu menunjukan rasa sayangnya padaku, Nara, tapi sejak kejadian itu dia bahkan sama sekali tidak pernah memeluk neneknya ini, padahal aku sangat merindukan dia memanggilku wanita tua ca
Nara sudah duduk tepat di depan Dean. Mereka berdua sedang berada di sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari kediaman Jaden Luther dan Nara di sana sedang menceritakan semuanya, kenapa dirinya bisa menjadi pelayan pria lumpuh bernama Jaden Luther itu."Nara, ini semua salahku, kenapa aku malah menghilang meratapi semua yang sedang terjadi pada keluargaku, sedangkan kamu dan keponakanku sedang dalam keadaan yang sedang membutuhkan aku," ucap Dean dengan tertunduk sedih."Kak, Kak Dean jangan menyalahkan diri sendiri karena semua ini sudah takdir yang harus aku jalani. Mas Abi juga menginginkan aku dan putra menyembunyikan identitas kita karena dia tidak mau aku dan Nio disakiti oleh orang yang dulu mengincarnya," terang Nara merasa sedih teringat tentang pesan terakhir mendiang suaminya."Jadi, sekarang Nio ada di London dengan ibumu? Dia sedang menjalani perawatan karena penyakit kankernya? Kasihan sekali keponakanku itu. Nara, aku akan menemui dia di sana. Aku kangen ingin meli
Pria bernama Dean itu pun duduk bersama dengan Nara dan Jaden. Wajah Jaden di sana sudah menunjukan jika dirinya sangat tidak nyaman melihat ada Dean."Nara, dia siapa?" tanya Dean yang melihat Jaden dengan tatapan bersahabat meskipun Jaden melihatnya dingin."Em ... Kak Dean, ini Tuan Jaden Luther dan aku bekerja menjadi pelayan di rumahnya saat ini," jelas Nara dengan ragu-ragu."Apa?" Ekspresi wajah Dean pun seketika menunjukan keterkejutannya. "Kak, apa Kakak masih suka makan ice cream mochi? Aku akan traktir, ya!" seru Nara seketika.Jaden melihat terkejut pada Nara yang tiba-tiba malah menawarkan mentraktir ice cream, padahal di sini Jaden sedang mentraktirnya."Nara, di sini aku tidak menjual ice cream mochi." Pria bernama Dean itu pun seketika terkekeh kecil."Hah? Maksud Kak Dean? Kakak di sini tidak menjual ice cream mochi?" Nara heran pada kalimat itu.""Ini cafe milikku, Nara, aku baru saja membeli cafe ini dari seseorang yang ingin menutupnya karena dulunya cafe ini meng
Jaden sudah selesai melakukan terapi hari ini. Dokter mengatakan jika belum terlihat perkembangan yang signifikan dari keadaan Jaden, tapi Nara selalu meyakinkan jika hal itu tidak perlu dipikirkan karena Nara akan selalu membantu Jaden supaya kesehatannya berangsur membaik, dan Nara tidak akan pernah meninggalkan Jaden.Di dalam mobil, dua orang yang duduk saling bersebelahan itu tampak terdiam. Nara masih dengan pikirannya yang dari tadi mengganggunya, yaitu, tentang kaki Jaden yang tidak ada perkembangan mungkin disebabkan karena obat yang selama ini diberikan oleh Andrew. Sedangkan pria lumpuh di sebelah Nara merasa sedikit down atas pernyataan dokternya. Jaden takut jika suatu hari Nara akan meninggalkannya meskipun Nara sudah mengatakan jika dirinya akan terus bersama dengannya menjalani pengobatan untuk kakinya."Nara, awas!" Pekik Jaden yang akhirnya membuat Nara langsung membanting stir. Suara ban berdecit dan mereka hampir saja menabrak sepeda motor yang tiba-tiba melawan
Nara terpaksa mengikuti apa yang diinginkan oleh andrew untuk keluar dari kamar Jaden karena Jaden juga yang menyuruh Nara untuk segera tidur di kamarnya."Aku benar-benar tidak tenang sebelum si jahat itu keluar dari kamar tuan JL." Nara tampak mondar mandir di dalam kamarnya memikirkan tentang Jaden.Nara kemudian memutuskan keluar dari kamarnya karena jujur saja di dalam hatinya dia benar-benar tidak tenang, apalagi obat Jaden tidak dia bawa, Nara takut jika Andrew akan mengganti obatnya lagi."Aduh!" Pekik Nara."Aduh! Sakit!" Omel seseorang yang tidak sengaja ditabrak oleh Nara."Nyonya Alexa?" Nara mendelik melihat siapa yang dia tabrak."Dasar pelayan bodoh! Apa kamu buta?" Alexa memijit pundaknya yang terbentur karena ditabrak oleh Nara."Saya tidak buta, Nyonya. Maaf, saya tadi terburu-buru sehingga tidak sengaja menabrak Nyonya Alexa." Nara melihat kesal karena dia dikatai bodoh. "Dasar pelayan kurang ajar! Berani sekali kamu menjawabku. Bagaimana bisa ibuku menyuruh kmu m
Semua sudah duduk di meja makan dengan kursi utama di tempati oleh Nenek Miranti. Reno dan Nara pun diajak untuk sarapan pagi bersama di satu meja makan."Nara, apa kamu yang memasak semua ini?" tanya Jaden sembari melihat ke arah wanitanya itu.Nara pun mengangguk. "Apa ada yang kurang dari rasa masakannya, Tuan JL?" tanya Nara penasaran.Jaden pun tersenyum kecil. "Tidak ada, aku sudah terbiasa dengan rasa masakan kamu ini, bahkan aku sampai lupa rasa masakan nenekku." Jaden pun melihat ke arah wanita tua yang juga sedang tersenyum padanya."Nenek itu sempat khawatir jika kamu akan tidak cocok dengan masakan Nara saat awal Nara membawa kamu ke sini."Nara pun melihat ke arah tuan lumpuhnya itu. "Semua itu penuh perjuangan dan cerita, Nek," sahut Nara."Jangan dibahas lagi masalah itu, Nara," jawab Jaden tegas yang tidak mau diingatkan akan bagaiman sikap dirinya dulu dengan Nara.Mereka tidak sadar jika dua pasang mata yang memperhatikan dan mendengarkan percakapan hangat mereka di
Andrew masih berdiri di tempatnya dan menatap heran pada wanita yang dia sebut pelayan kurang ajar itu."Maksud dia apa tadi? Apa dia sebenarnya mengetahui tentang obat ini?" Andrew pun menggenggam erat obat ditangannya. "Sebaiknya aku segera bicarakan hal ini dengan mama." Dia pun berjalan pergi dari sana."Ren, kamu lihat apa? Kenapa dari tadi serius sekali melihat ke arah luar jendela kamarku? Apa kamu melihat ada hantu di sana?" celetuk Jaden sembari kembali melanjutkan membaca dokumen yang tadi dibawakan oleh Reno."Apa tadi yang sedang Nara dan tuan muda Andrew bicarakan? Kenapa Nara aku lihat melemparkan sesuatu?" Reno berdialog dalam hatinya saat dia memang tadi sempat melihat Nara dan Andrew di luar."Ren, Minggu depan aku akan mulai kembali bekerja di kantor. Tolong kamu bersihkan semua barang-barang yang ada kaitannya dengan Kalista karena aku tidak ingin mengingat kembali semua masa laluku dengannya." Jaden melirik Reno yang di mana, Reno malah melamun memikirkan tentang N
Nara sedang berada di dalam kamar tuan lumpuhnya, seperti biasa Nara memberikan obat untuk Jaden minum setiap hari."Selamat malam, Tuan JL," tutur Nara lembut sembari menyelimuti kaki pria yang tengah duduk bersandar pada tepi tempat tidurnya."Nara, tunggu!" Tangan pria itu menggenggam lembut tangan wanita yang baru saja menjalin hubungan dengannya."Ada apa? Apa Tuan tidak bisa tidur lagi? Tapi aku sangat lelah hari ini, perjalanan di dalam pesawat sangat tidak mengenakan," Nara pun mengeluh."Nara, aku ingin kamu berjanji kalau tidak akan pernah meninggalkan aku dengan alasan apapun," ujar Jaden terdengar serius."Maksud Tuan JL?""Nara, aku tau sikap mamaku padamu terlihat jika dia tidak bisa menerimu menjadi kekasihku, tapi aku mohon kamu jangan memilih pergi karena hal itu. Apa yang terjadi dalam hidup kita nantinya, kita yang akan menjalani semuanya." Nara pun mengangguk. "Aku tidak akan memikirkan hal itu, Tuan, karena bagiku itu adalah dari Tuan JL sendiri. Kalau suatu hari
Nara mendorong kursi roda Jaden menuju ke dalam rumah kenangan. Mereka berdua sudah tidak sabar ingin bertemu nenek Miranti. Reno yang berjalan di belakang keduanya pun masih tidak percaya jika Nara dan Tuan mudanya sudah menjalin hubungan, meskipun di dalam hatinya dia merasa sangat senang. "Halo, Jaden Sayang." Saat sudah memasuki rumah kenangan itu, tiba-tiba seorang wanita berjalan mendekat dan langsung memeluk Jaden. "Mama? Mama kapan datang?" tanya Jaden yang terlihat sedikit terkejut."Halo, Kak, apa kamu merindukan kamu?" Seorang laki-laki juga mendekat dan gantian memeluk Jaden.Nara yang berdiri tepat di belakang Jaden pun memperhatikan satu persatu dua orang yang Nara bisa menebak jika mereka adalah mama dan adik tiri tuan lumpuhnya."Kamu tadi pagi juga baru mendarat, saat di rumah mengetahui kamu sekarang tinggal di rumah kenangan, mama mengajak adikmu ke sini, sayang," ucap wanita paruh baya dengan wajah terlihat angkuhnya.Andrew adik tiri Jaden yang ada di sana mel
Jaden tidak mau memaksa Nara menerima lamaran pernikahannya. Dia akan menjalani dulu kisah asmaranya dengan wanita yang sekarang menempati hatinya. "Nara, apa benar kamu besok akan kembali ke rumah keluarga Luther?" tanya sang ibu dan Nara pun menganggukkan kepalanya. "Kamu jangan lupa terus memberi kabar pada ibumu." "Iya, Bu, Ibu sudah punya nomorku yang baru, kan? Bu, tolong titip Nio. Aku juga sudah mentransfer sejumlah uang yang nenek Miranti berikan untuk pengobatan Nio, padahal aku tidak mau menerimabuangnya karena masih ada uang dari pria itu, tapi Nenek memaksa. Aku berikan saja semua pada Ibu karena aku pun tidak membutuhkan apapun." Nara pun mengusap lembut kepala putranya. "Ibu baik-baik di sini bersama Nio, ya?" Nara pun memeluk ibunya. Setelah tadi Jaden tidur pulas di kamar hotelnya, seperti biasa Nara langsung pergi ke rumah sakit untuk berpamitan pada ibu dan anaknya. Namun, kali ini Nara lebih berhati-hati karena kejadian dengan Kalista waktu itu. Nara pun senga