“Data wanita itu sudah ditemukan, Tuan.” Doni memberikan map biru kepada Rangga. Ini cukup mudah menyelidiki latar belakang Tasya karena suami wanita itu adalah teman sendiri. Hanya saja, Doni tidak memberitahu Juna tentang keinginan atasannya. “Dia sempat melamar sebagai office girl di kantor kita.”
Rangga membuka map itu, lalu membacanya. Dilihat dari foto setengah badannya, memang dialah wanita yang ia cari. Sudah berkali-kali bertemu dan menghabiskan malam bersama, lalu kenapa Rangga tidak menjadikan wanita ini sebagai miliknya saja. “Terima dia, tapi tugaskan wanita itu hanya di lantai ini saja. Dia hanya boleh melayaniku,” ucap Rangga. “Baik, Tuan. Saya akan menghubunginya.” “Kau bilang dia punya suami, kan? Apa pekerjaan suaminya?” Sebenarnya Doni tidak mau memberitahu, tetapi jujur lebih baik daripada berbohong. “Suaminya bernama Juna dan dia teman sekolahku.” “Kau mengenalnya, Don?” Tidak ada yang perlu Doni sembunyikan, ia mengangguk. “Juna pernah menyelamatkan saya ketika naik gunung. Kami berteman hanya sekadar saling balas budi saja.” “Lalu kenapa pria itu menjual istrinya?” “Dia memang dari dulu problematik. Dia menjual istrinya karena punya hutang.” Rangga tertawa mendengarnya. “Ini menarik. Besok, wanita itu harus berada di kantorku ini. Lalu suaminya itu, aku tahu apa yang harus dilakukan.” Ini tidak benar karena Rangga mulai tertarik pada kehidupan rumah tangga orang lain. Doni tahu atasannya ini memang sedikit gila, tetapi tidak pernah Rangga sampai menginginkan wanita pria lain. Entah apa yang dipikirkannya. Yang jelas, Rangga tengah mencoba permainan baru. Bagian personalia menghubungi Tasya jika ia telah diterima sebagai karyawan perusahaan Urban Haven Corp sebagai tukang bersih-bersih. Mendapati kabar tersebut, membuat Tasya senang bukan main. Ia jadi tidak menganggur lagi. Ada kegiatan yang dikerjakan daripada harus berdiam di rumah dan terus mendengar cibiran tetangga. Juna kembali tidak pulang. Dihubungi saja sulit, padahal Tasya ingin memberitahu jika ia sudah diterima kerja. Pergi mengantar barang saja begitu lama. Suaminya itu tidak betah di rumah, dan hal ini menjadi nyinyiran dari tetangga. Suaminya memang pergi mengantar barang lagi, tetapi setelah itu bukan pulang ke rumah, melainkan singgah ke tempat hiburan. Bermain judi, slot, dan wanita. Padahal Tasya begitu menantikan kehadiran Juna. Ya, kehidupan luar memang lebih menarik perhatian pria itu. Keesokan paginya, Tasya mengunjungi perusahaan Urban Haven Corp. Resepsionis yang baik hati itu mengantar Tasya ke ruang personalia untuk diwawancara lagi sekaligus menandatangani dokumen perjanjian sebagai karyawan kontrak. “Kontraknya untuk tiga bulan. Kalau kerjamu bagus, maka bisa diperpanjang 3 bulan lagi, lalu setahun. Kau akan ditempatkan di lantai paling atas. Khusus sebagai pelayan dari pemimpin perusahaan kita.” “Baik, Bu. Saya akan bekerja dengan giat.” Tasya mengatakan itu tanpa berpikir hal aneh lainnya. “Sekarang kau boleh mulai. Aku akan mengantarmu.” Wanita ini beranjak dari duduknya, begitu pula Tasya. Keduanya keluar dari ruangan dan langsung menuju lift. Lantai 20 inilah tempat Tasya bekerja. Di sini hanya ada sedikit karyawan. Kebanyakan wanita karena merupakan sekretaris pembantu. Mereka yang melihat kedatangan OB baru, bertanya-tanya. “Aku ingin memberitahu kalian. Dia office girl baru khusus lantai ini. Dia akan bekerja mulai sekarang. Perkenalkan namamu.” Tasya mengangguk. “Halo, Semua. Namaku, Tasya. Mohon bantuannya.” Yang lain hanya mengiakan dan kembali melanjutkan pekerjaannya saja. Seorang office girl tidak layak diperhatikan oleh mereka. Kastanya berbeda dari seorang sekretaris lantai atas. “Kau bisa langsung membersihkan ruangan itu. Ingat ini, berhati-hatilah. Jangan sampai kau ceroboh.” Tasya berjanji jika ia tidak akan pernah melakukan kesalahan. Ia sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini. Keahliannya jelas di atas rata-rata. Tasya segera menuju pantry yang ada di lantai ini, mengambil penyedot debu, lap, kemoceng, serta semprotan pembersih. Dimulai dari ruangan yang besar itu. Saat Tasya masuk, memang ruangan ini begitu besar, bahkan kamarnya saja salah. Ia mulai dengan membersihkan lantai. Menyedot debu di mana saja yang menempel. Sementara pemilik dari perusahaan ini tengah berada dalam lift. “Dia sudah ada di lantai atas, Tuan,” ucap Doni. “Biarkan saja dia.” Rangga menurunkan dasinya, ia bersiul, tidak sabar dengan permainan yang sebentar lagi akan dimulai. Tiba di lantainya, Rangga segera menuju ruangan tanpa Tasya tahu. Pintu didorong, Rangga melangkah masuk bertepatan dengan Tasya yang sadar akan kehadirannya. Semprotan pembersih yang ada di tangan, jatuh begitu saja. Tasya melangkah mundur, sedangkan Rangga melangkah masuk. “Kau siapa?” tanya Rangga. “Ma-Maafkan saya, Pak.” Tasya segera mengambil semprotan yang jatuh. Jantungnya berdegup kencang. Pria ini, dia adalah lelaki yang telah membelinya. “Kau belum menjawab pertanyaanku.” “Tasya, office girl baru di sini.” Ia menundukkan kepalanya. “Lanjutkan pekerjaanmu. Kau belum selesai berberes, kan?” Tasya mengangguk, ia memerhatikan Rangga yang langsung duduk di mejanya. Baru Tasya sadari jika papan nama di meja itu memang bertuliskan nama Rangga Saputra. Ini aneh, apa pria ini tidak mengenalnya? Mungkin saja, dan itu malah bagus. Hanya beberapa jam saja, lelaki ini pasti sudah melupakan wanita yang ia beli. “Bersihkan kacanya sampai mengkilap,” ucap Rangga memerintah. “Iya, Pak.” Syukurlah, Tasya bisa kembali bekerja dengan santai. Tanpa sadar atasannya ini mulai mendekat. “Kau menikmatinya?” bisik Rangga.Tasya terperanjat kaget, bahkan lap dan semprotan pembersih kaca terlepas begitu saja. Jantungnya berdegup kencang. “A-Apa?” tanyanya, ia takut untuk menoleh karena merasakan pria ini terlalu dekat dengannya.“Maksudku, kau menikmati pekerjaannya?” Rangga mengambil lap dan pembersih itu, lalu mengulurkannya kepada Tasya. “Milikmu.”“Te-Terima kasih.” Tangan Tasya bergetar, ia tidak berani menatap Rangga.“Buatkan aku kopi hitam tanpa gula.”Tasya mengangguk, lalu lekas pergi. Ia melirik pria itu karena merasakan keanehan. Tidak mungkin Rangga mengingat dirinya, Tasya terlalu banyak berpikir. Sebaiknya ia lekas keluar dari ruangan ini.Rangga tersenyum penuh arti. “Kelinci yang penakut ternyata saat menggoda. Aku jadi menginginkannya lagi.” Ide jahat Rangga mulai memberitahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya.Tidak lama, Tasya kembali dengan membawa secangkir kopi hitam untuk Rangga. Ia meletakkan minuman itu di samping pria yang tengah fokus menatap layar laptop.“Saya permisi, Pak
Keringat meleleh dari kening, turun ke pipi serta dagu. Tasya meneguk ludah, kedua matanya ini tidak bisa mengalihkan pandangan dari dua anak manusia yang tengah memadu kasih di atas ranjang. Suara berat keduanya membuat tubuh Tasya semakin panas sekaligus takut. Ia tidak boleh bergerak, membuat suara apalagi. Hidupnya bisa bahaya bila sampai ketahuan.Tasya mohon agar permainan mereka cepat selesai. Kakinya keram, ia mulai gelisah. Jika lebih lama lagi, Tasya yakin ia akan mati lemas dalam lemari. Kedua tangannya mengepal. Napasnya megap-megap.Suara Rangga terdengar puas. Pria itu menarik dirinya, lalu berbaring di sisi tempat tidur yang kosong. Sedangkan Bella, turun dari ranjang, lalu masuk kamar mandi. Tasya hanya perlu menunggu sedikit lagi sampai mereka semua selesai membersihkan diri. Ia mengintip dari celah lemari. Rangga yang baru saja berbaring, tiba-tiba bangun, lalu berjalan ke arah lemari tanpa sehelai pakaian pun.Tasya menutup bibir agar ia tidak berteriak. Jaraknya su
Tengah menyantap makanan, dering ponsel Bella terdengar. Wanita ini mengambil telepon genggamnya itu dengan sangat hati-hati agar Rangga tidak marah. "Angkat saja," ucap Rangga. Tidak perlu berpura-pura karena ia tahu jika kekasihnya ini sangat sibuk. Banyak orang yang ingin meneleponnya. Bella tersenyum tidak enak, ia mengiakan ucapan Rangga, lalu mengangkat panggilan itu. "Aku sedang makan siang bersama tunanganku. Kenapa kalian selalu menganggu?" Bella mendengarkan apa yang diucapkan oleh si penelepon. "Ada masalah dengan kontraknya? Baiklah ... aku segera ke kantor." "Ada apa?" tanya Rangga. "Ada masalah di kantor. Kontrak salah satu talent bermasalah. Aku harus menyelesaikannya." "Mau kuantar?" "Aku tidak mau merepotkanmu. Kau juga sibuk. Sayang, maaf karena tidak selalu hadir di sisimu. Padahal aku ingin menghabiskan waktu siang ini denganmu." Wajah Bella memelas. Terlihat jika ia sangat menyesal. "Kau juga sibuk. Aku tahu itu. Panggil sopirmu biar dia jemput ke restoran
Hari yang melelahkan telah Tasya lewati. Ia kembali ke rumah dan mendapati Juna. Syukurlah, paling tidak ia bisa bersandar di pelukan suaminya itu.“Wajahmu kusut. Apa ada masalah?” tanya Juna.Tasya menggeleng. “Ini hari pertama kerja dan aku cukup sibuk. Kamu belum makan, kan? Kita beli aja, ya? Aku capek buat masak.”“Pakai uangmu dulu. Atasan belum membayar komisiku."“Uangmu habis?” tanya Tasya.“Kan semua uangku kukasih kamu.” Juna berkata begini karena Tasya tahunya gaji suaminya ini hanya 3 juta saja.“Ya, udah. Sama beliin air mineral.” Tasya memberi beberapa lembar uang kepada Juna.“Aku pergi beli dulu.”Sebenarnya Tasya punya sedikit trauma pada Juna yang sempat melarikan uang serta perhiasan miliknya. Itu sebabnya, ia sangat sensitif bila suaminya itu membahas soal uang. Seakan-akan Juna akan mengambil kembali hak yang bukan miliknya.Pikiran Tasya teralih pada kejadian di kantor. Besok, ia tidak ingin bekerja. Ia juga ragu membicarakan ini kepada Juna. Apa kata suaminya
Rangga menarik tangan Tasya hingga tubuh keduanya saling membentur. "Mengundurkan diri? Kau ini sedang bermimpi, hah?""Lepas. Kau tidak berhak berbuat seperti ini padaku. Aku akan melaporkanmu ke pihak berwajib." "Silakan karena kau sendiri yang setuju menjadi simpananku.""Apa maksudmu?" Rangga menarik diri, bila Tasya tidak bisa menjaga keseimbangan, ia mungkin sudah jatuh. "Baca ini." Rangga menyodorkan selembar kertas, lalu Tasya menerimanya. "Kau secara sadar telah menandatanganinya." Kata demi kata Tasya baca, dan cermati. Matanya melotot, jantung Tasya berdegup kencang setelah mengetahui isi dari lembar putih yang ia pegang ini."Kau mencoba melakukan tipuan apa? Aku tidak pernah berniat menjadi partner ranjangmu." Tasya merobek kertas itu. "Orang sepertimu tahunya menindas wanita. Apa kau masih waras? Aku ini wanita bersuami." "Memangnya kenapa? Aku tidak peduli. Kau sudah menandatangani surat itu dan mulai hari hingga seterusnya, kau milikku." "Hanya dalam mimpimu. Ke
Tasya terbatuk-batuk karena wanita itu kembali menendangnya hanya karena sepotong roti. Jika dia ingin memakannya, makan saja. Tasya harap roti itu beracun saking ia benci terhadap teman satu selnya.Ia kembali menahan lapar untuk pagi ini. Sampai makan siang tiba, Tasya diberi setengah makanan miliknya. Semua dikuasai oleh wanita rakus itu. Setidaknya dia masih berbaik hati dengan memberi setengah makanan.Bukan hanya makanan yang Tasya harapkan, tetapi ia perlu menghubungi suaminya. Ia perlu memberitahu Juna agar bisa membebaskannya dari sini. Untuk itu, ia butuh telepon.Tasya mengguncang sel penjara sekuat tenaga agar penjaga datang menghampirinya. Tidak peduli wanita tua itu kembali marah. Ini sudah sehari, kapan ia akan dibebaskan? Ia hanya melaporkan ketidakadilan, tidak mungkin ditahan sampai berbulan-bulan.“Hei! Bantu aku!” teriak Tasya. Berkali-kali sampai penjaga akhirnya muncul juga.“Kau bisa diam tidak?!” ucap sipir wanita, dengan wajah marahnya.“Mau sampai kapan kalia
Mobil memasuki kediaman pribadi Rangga di jalan Mercer. Ini disebut rumah kecil karena yang mendiaminya hanya Rangga serta beberapa pelayan sekaligus tempat untuk setiap permainan pria ini.Tasya dipersilakan masuk, meski wanita ini terkesan menolak. Tapi, dia tidak bisa apa-apa selain menuruti perintah Rangga Saputra. Pria ini bisa saja menyakitinya lagi, bahkan menjebloskannya dalam penjara kembali. Tasya patuh mengikuti dua pelayan wanita yang mengiringinya masuk ke sebuah kamar nan luas.“Nona mandi dulu. 15 menit lagi, kami kembali,” ucap salah satu pelayan. Mereka langsung pergi. Di tempat tidur ada kimono serta pakaian dalam yang baru. Untuk yang satu ini, tanpa disuruh pun Tasya akan pergi mandi. Menginap di penjara sekaligus siksaan dari wanita paruh baya itu, ia harus membersihkan dirinya.15 menit kemudian, dua pelayan tadi kembali ke kamar dan kali ini membawa beberapa pakaian untuk Tasya pakai. Keduanya menyuruh Tasya duduk di meja rias, mereka membantu mengeringkan rambu
Juna mengumpat karena mendapat telepon bernada ancaman dari istrinya. Bisa-bisanya Tasya meminta cerai bila ia tidak pulang sekarang. Padahal ia masih ingin bersenang-senang karena malam ini tidak ada pengantaran barang. Juna juga harus melepaskan pelukannya dari Mira, wanita yang kini menjadi pacarnya.“Hei, kau baru main sekali. Kenapa malah pulang?” tanya seorang pria yang merupakan teman judi Juna.“Benar, Sayang. Kau bilang ingin bersenang-senang di sini,” kata Mira seraya membelai pipi kekasihnya.“Aduh, Sayang. Aku juga ingin bermain denganmu, tapi istriku menyuruhku pulang.”“Kau begitu patuh padanya.” Mira cemberut karena Juna lebih memilih istrinya.“Jangan marah, Sayangku. Malam ini saja. Besok malam, kita senang-senang lagi.”“Aku marah.” Mira menjauh dari Juna. Melihat kekasih gelapnya yang tidak senang hati, Juna memberikan uangnya. “Aku tidak butuh.” Mira menolak.“Ambil saja buat kau pergi belanja. Besok, aku akan menghabiskan waktu bersamamu. Kau harus mengerti, Mira.
"Apa kau mendengar sesuatu di dalam kamar mandi sana?" tanya pelayan pada rekannya. Temannya ini berdeham. Suara helaan napas dan teriakan terdengar dari dalam kamar mandi. Rangga dan Tasya ada di sana. Sudah pasti keduanya tengah melakukan hal-hal nikmat. "Cepat bersihkan kamar ini. Bisa jadi Tuan akan membawa wanita itu ke tempat tidur." "Pikiranmu sama sepertiku." Bergegas keduanya membereskan kamar ini termasuk mengganti seprainya secepat mungkin. Setelah itu, mereka keluar. Di dalam kamar mandi, Tasya tertunduk-tunduk karena ulah Rangga. Pria ini menarik rambutnya, mencengkeram leher dengan napas yang menderu."Kau tahu alasan kenapa aku tertarik padamu? Itu karena kau selalu berpura-pura berakting polos. Kau itu munafik. Tadinya kau menolak, tapi lihatlah dirimu sekarang. Lihat di cermin itu, kau menikmatinya." "Lakukan sepuasmu," ucap Tasya. "Dengan senang hati, Sayang. Setelah mandi bersama, kita lanjutkan di tempat tidur." Air dingin membasahi seluruh tubuh Tasya dan
Tanpa bisa menolak, Tasya mengikuti keinginan Rangga yang membawanya ke rumah itu lagi. Di mana Tasya dapat melihat dua pelayan yang sama kemarin lalu.Kali ini pun keduanya masih diperintahkan melayani seorang wanita yang dicap sebagai simpanan. Pakaian ini dilucuti, dibuang, digantikan dengan baju-baju dari merek ternama sesuai selera Rangga, pria yang pikirannya hanya pada aktivitas ranjang saja. Selain baju yang dipakai hari-hari, Tasya juga mendapat pakaian untuk dikenakan pada malam harinya. Gaun-gaun tipis yang bisa langsung sobek harus dipakai setiap malamnya. "Nona Tasya sudah selesai mandinya?" tanya pelayan. "Aku lapar." Karena ini memang sudah malam dan Tasya belum makan malam. "Biar saya ambilkan, Nona. Barusan Tuan Rangga pergi lagi. Dia akan kembali secepatnya." "Aku tidak boleh keluar?" tanya Tasya. "Lebih baik di dalam kamar saja." "Kalian pikir aku bisa lari ke mana dari dia?" Tasya jadi kesal. "Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan perintah saja." Pelay
Tubuh ini terasa berat, seperti ada yang menindih. Perlahan Tasya membuka matanya, dan betapa kagetnya ia mendapati Rangga sudah berada di atas tubuh ini.“Menyingkir! Kau mau apa?” Tasya berusaha bangkit dari tidurnya, tetapi tangannya ini terikat. Sejak kapan? Tasya sungguh tidak sadar, dan apa-apaan ini? Bajunya tersingkap, lalu celananya juga sudah melorot ke bawah. “Minggir!” teriak Tasya.“Waktu pertama kali, kau begitu pasrah. Kedua kalinya kau tidak sadarkan diri karena pengaruh obat. Sekarang, kau harusnya tidak perlu malu lagi. Aku sudah melihat dan merasakan tubuhmu berulang kali. Kenapa tidak kita nikmati saja siang ini, Sayang?” Rangga membelai wajah simpanannya ini.“Aku terpaksa melakukannya. Sama sekali aku tidak berniat menjual diriku padamu. Mengertilah.”“Kau di sini karena kesalahanmu sendiri dan suamimu juga mengizinkan. Sudah kubilang, kan, kalau kau tidak mau berada di bawahku, maka berikan aku uang 10 miliar.”“Kau memeras seorang wanita yang tidak tahu apa-apa
“Anda berdua, silakan ikut kami.” Dua orang penjaga mempersilakan Juna dan Tasya mengikuti mereka.“Aku sudah bilang kalau mereka tidak bisa berkutik,” ucap Juna, “jika atasanmu macam-macam, kita tinggal sebarkan videonya. Aku akan merekam setiap tindakannya itu. Kau tenang saja, Sayang. Tidak akan terjadi apa-apa padamu.”Tasya mengangguk. “Aku hanya ingin lepas dari dia.”“Kita lihat saja nanti.” Ini kesempatan, Juna akan meminta uang sebagai kompensasi kepada atasan perusahan ini karena telah berani menganggu istrinya.Penjaga mempersilakan keduanya masuk lift, lalu lantai yang familiar bagi Tasya ditekan. Jantung wanita itu berdetak kencang. Ada rasa takut serta gagal karena tahu jika Rangga bukan orang yang mudah dikalahkan.“Kau harus tenang,” ucap Juna seraya memegang tangan istrinya. Bersama Juna, barulah Tasya dapat merasakan ketenangan. Ia yakin setelah ini, Rangga tidak akan menganggunya lagi.Denting lift berbunyi, mereka keluar setelah pintu terbuka. Juna dan Tasya diarah
Juna mengumpat karena mendapat telepon bernada ancaman dari istrinya. Bisa-bisanya Tasya meminta cerai bila ia tidak pulang sekarang. Padahal ia masih ingin bersenang-senang karena malam ini tidak ada pengantaran barang. Juna juga harus melepaskan pelukannya dari Mira, wanita yang kini menjadi pacarnya.“Hei, kau baru main sekali. Kenapa malah pulang?” tanya seorang pria yang merupakan teman judi Juna.“Benar, Sayang. Kau bilang ingin bersenang-senang di sini,” kata Mira seraya membelai pipi kekasihnya.“Aduh, Sayang. Aku juga ingin bermain denganmu, tapi istriku menyuruhku pulang.”“Kau begitu patuh padanya.” Mira cemberut karena Juna lebih memilih istrinya.“Jangan marah, Sayangku. Malam ini saja. Besok malam, kita senang-senang lagi.”“Aku marah.” Mira menjauh dari Juna. Melihat kekasih gelapnya yang tidak senang hati, Juna memberikan uangnya. “Aku tidak butuh.” Mira menolak.“Ambil saja buat kau pergi belanja. Besok, aku akan menghabiskan waktu bersamamu. Kau harus mengerti, Mira.
Mobil memasuki kediaman pribadi Rangga di jalan Mercer. Ini disebut rumah kecil karena yang mendiaminya hanya Rangga serta beberapa pelayan sekaligus tempat untuk setiap permainan pria ini.Tasya dipersilakan masuk, meski wanita ini terkesan menolak. Tapi, dia tidak bisa apa-apa selain menuruti perintah Rangga Saputra. Pria ini bisa saja menyakitinya lagi, bahkan menjebloskannya dalam penjara kembali. Tasya patuh mengikuti dua pelayan wanita yang mengiringinya masuk ke sebuah kamar nan luas.“Nona mandi dulu. 15 menit lagi, kami kembali,” ucap salah satu pelayan. Mereka langsung pergi. Di tempat tidur ada kimono serta pakaian dalam yang baru. Untuk yang satu ini, tanpa disuruh pun Tasya akan pergi mandi. Menginap di penjara sekaligus siksaan dari wanita paruh baya itu, ia harus membersihkan dirinya.15 menit kemudian, dua pelayan tadi kembali ke kamar dan kali ini membawa beberapa pakaian untuk Tasya pakai. Keduanya menyuruh Tasya duduk di meja rias, mereka membantu mengeringkan rambu
Tasya terbatuk-batuk karena wanita itu kembali menendangnya hanya karena sepotong roti. Jika dia ingin memakannya, makan saja. Tasya harap roti itu beracun saking ia benci terhadap teman satu selnya.Ia kembali menahan lapar untuk pagi ini. Sampai makan siang tiba, Tasya diberi setengah makanan miliknya. Semua dikuasai oleh wanita rakus itu. Setidaknya dia masih berbaik hati dengan memberi setengah makanan.Bukan hanya makanan yang Tasya harapkan, tetapi ia perlu menghubungi suaminya. Ia perlu memberitahu Juna agar bisa membebaskannya dari sini. Untuk itu, ia butuh telepon.Tasya mengguncang sel penjara sekuat tenaga agar penjaga datang menghampirinya. Tidak peduli wanita tua itu kembali marah. Ini sudah sehari, kapan ia akan dibebaskan? Ia hanya melaporkan ketidakadilan, tidak mungkin ditahan sampai berbulan-bulan.“Hei! Bantu aku!” teriak Tasya. Berkali-kali sampai penjaga akhirnya muncul juga.“Kau bisa diam tidak?!” ucap sipir wanita, dengan wajah marahnya.“Mau sampai kapan kalia
Rangga menarik tangan Tasya hingga tubuh keduanya saling membentur. "Mengundurkan diri? Kau ini sedang bermimpi, hah?""Lepas. Kau tidak berhak berbuat seperti ini padaku. Aku akan melaporkanmu ke pihak berwajib." "Silakan karena kau sendiri yang setuju menjadi simpananku.""Apa maksudmu?" Rangga menarik diri, bila Tasya tidak bisa menjaga keseimbangan, ia mungkin sudah jatuh. "Baca ini." Rangga menyodorkan selembar kertas, lalu Tasya menerimanya. "Kau secara sadar telah menandatanganinya." Kata demi kata Tasya baca, dan cermati. Matanya melotot, jantung Tasya berdegup kencang setelah mengetahui isi dari lembar putih yang ia pegang ini."Kau mencoba melakukan tipuan apa? Aku tidak pernah berniat menjadi partner ranjangmu." Tasya merobek kertas itu. "Orang sepertimu tahunya menindas wanita. Apa kau masih waras? Aku ini wanita bersuami." "Memangnya kenapa? Aku tidak peduli. Kau sudah menandatangani surat itu dan mulai hari hingga seterusnya, kau milikku." "Hanya dalam mimpimu. Ke
Hari yang melelahkan telah Tasya lewati. Ia kembali ke rumah dan mendapati Juna. Syukurlah, paling tidak ia bisa bersandar di pelukan suaminya itu.“Wajahmu kusut. Apa ada masalah?” tanya Juna.Tasya menggeleng. “Ini hari pertama kerja dan aku cukup sibuk. Kamu belum makan, kan? Kita beli aja, ya? Aku capek buat masak.”“Pakai uangmu dulu. Atasan belum membayar komisiku."“Uangmu habis?” tanya Tasya.“Kan semua uangku kukasih kamu.” Juna berkata begini karena Tasya tahunya gaji suaminya ini hanya 3 juta saja.“Ya, udah. Sama beliin air mineral.” Tasya memberi beberapa lembar uang kepada Juna.“Aku pergi beli dulu.”Sebenarnya Tasya punya sedikit trauma pada Juna yang sempat melarikan uang serta perhiasan miliknya. Itu sebabnya, ia sangat sensitif bila suaminya itu membahas soal uang. Seakan-akan Juna akan mengambil kembali hak yang bukan miliknya.Pikiran Tasya teralih pada kejadian di kantor. Besok, ia tidak ingin bekerja. Ia juga ragu membicarakan ini kepada Juna. Apa kata suaminya